Selamat datang di ...

01 November 2009

Pertama kali ke Pemalang, saya ingat ada dua koran daerah yang secara khusus mengambil segmen pembaca di wilayah eks Karesidenan Pekalongan. Yang pertama Radar Tegal milik Jawa Pos Group, dan yang kedua Nirmala Post milik seorang pengusaha ternama di Tegal. Eh, waktu saya menikah bulan Agustus lalu, Nirmala Post sudah lenyap dari peredaran. Tinggallah Radar Tegal sendirian sebagai koran lokal di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

'Mati'-nya Nirmala Post ini menjadi kabar buruk bagi saya. Pasalnya saya sempat berencana magang di koran tersebut, dan syukur-syukur bisa kecantol jadi wartawan tetap. Tapi apa daya, koran yang memang dimaksudkan untuk menyaingi Radar Tegal itu harus mundur dari persaingan di tahun ketiganya.

Setelah menikah dan berbulan madu (*halah*), saya kembali mendapati berita tentang menghilangnya satu koran di Jogja. Ya, Koran Merapi, koran kuning alias koran yang banyak memuat berita kriminal dan mistis itu diberhentikan peredarannya oleh Kedaulatan Rakyat Group sejak 1 September 2009. Sebagai gantinya, PT BP Kedaulatan Rakyat menerbitkan koran baru; KR Bisnis.

Jauh sebelum berhenti-beredarnya Koran Merapi, mingguan Malioboro Ekspres tempat saya pertama kali mengawali jalan sebagai jurnalis sudah lebih dulu gulung tikar. Tidak berlanjutnya Malioboro Ekspres jadi semakin tragis karena koran ini terbit mingguan dan baru berusia kurang dari enam bulan. Saya di sana sekitar 3 bulan, lalu pindah untuk magang di Harian Jogja selama dua bulan satu minggu. Sekeluarnya saya dari Harian Jogja, Pemred Malioboro Ekspres memberi kabar kalau koran itu tidak lagi terbit.

Berjatuhannya media cetak sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak pengamat. Kian mahalnya harga kertas serta semakin majunya dunia Teknologi Informasi membuat media cetak susah bersaing dengan media elektronik, dan belakangan dengan media internet. Dengan segala keterbatasannya, media cetak tidak bisa mengejar kecepatan gerak media internet dan juga media elektronik. Bagaimana bisa bersaing? Media cetak menyajikan berita kemarin, sedangkan media elektronik menyajikan berita-berita yang terjadi hari ini juga. Media internet bahkan selalu di-update setiap saat dengan berita-berita terbaru. Alhasil, hanya media cetak yang benar-benar memiliki konsumen loyal dalam jumlah besar saja yang mampu bersaing.

Fenomena ini sebenarnya juga pernah disampaikan seorang rekan yang jurnalis senior dalam beberapa kesempatan berbincang dengan saya. Waktu itu saya masih getol-getolnya ingin jadi jurnalis media cetak dan mengabaikan ajakannya untuk mengembangkan sebuah situs berita lokal. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri keambrukan Nirmala Post dan Koran Merapi, saya jadi berubah pikiran.

Hmmm, jadi merancang-rancang nih, kira-kira daerah mana ya yang punya potensi besar untuk saya garap jadi situs berita lokal? Teman-teman bisa memberi masukan?

NB: Gambar dari http://playyess.blogspot.com/2008/09/bermain-kembali-bareng-koran-merapi.html

Pertama kali ke Pemalang, saya ingat ada dua koran daerah yang secara khusus mengambil segmen pembaca di wilayah eks Karesidenan Pekalongan. Yang pertama Radar Tegal milik Jawa Pos Group, dan yang kedua Nirmala Post milik seorang pengusaha ternama di Tegal. Eh, waktu saya menikah bulan Agustus lalu, Nirmala Post sudah lenyap dari peredaran. Tinggallah Radar Tegal sendirian sebagai koran lokal di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

'Mati'-nya Nirmala Post ini menjadi kabar buruk bagi saya. Pasalnya saya sempat berencana magang di koran tersebut, dan syukur-syukur bisa kecantol jadi wartawan tetap. Tapi apa daya, koran yang memang dimaksudkan untuk menyaingi Radar Tegal itu harus mundur dari persaingan di tahun ketiganya.

Setelah menikah dan berbulan madu (*halah*), saya kembali mendapati berita tentang menghilangnya satu koran di Jogja. Ya, Koran Merapi, koran kuning alias koran yang banyak memuat berita kriminal dan mistis itu diberhentikan peredarannya oleh Kedaulatan Rakyat Group sejak 1 September 2009. Sebagai gantinya, PT BP Kedaulatan Rakyat menerbitkan koran baru; KR Bisnis.

Jauh sebelum berhenti-beredarnya Koran Merapi, mingguan Malioboro Ekspres tempat saya pertama kali mengawali jalan sebagai jurnalis sudah lebih dulu gulung tikar. Tidak berlanjutnya Malioboro Ekspres jadi semakin tragis karena koran ini terbit mingguan dan baru berusia kurang dari enam bulan. Saya di sana sekitar 3 bulan, lalu pindah untuk magang di Harian Jogja selama dua bulan satu minggu. Sekeluarnya saya dari Harian Jogja, Pemred Malioboro Ekspres memberi kabar kalau koran itu tidak lagi terbit.

Berjatuhannya media cetak sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak pengamat. Kian mahalnya harga kertas serta semakin majunya dunia Teknologi Informasi membuat media cetak susah bersaing dengan media elektronik, dan belakangan dengan media internet. Dengan segala keterbatasannya, media cetak tidak bisa mengejar kecepatan gerak media internet dan juga media elektronik. Bagaimana bisa bersaing? Media cetak menyajikan berita kemarin, sedangkan media elektronik menyajikan berita-berita yang terjadi hari ini juga. Media internet bahkan selalu di-update setiap saat dengan berita-berita terbaru. Alhasil, hanya media cetak yang benar-benar memiliki konsumen loyal dalam jumlah besar saja yang mampu bersaing.

Fenomena ini sebenarnya juga pernah disampaikan seorang rekan yang jurnalis senior dalam beberapa kesempatan berbincang dengan saya. Waktu itu saya masih getol-getolnya ingin jadi jurnalis media cetak dan mengabaikan ajakannya untuk mengembangkan sebuah situs berita lokal. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri keambrukan Nirmala Post dan Koran Merapi, saya jadi berubah pikiran.

Hmmm, jadi merancang-rancang nih, kira-kira daerah mana ya yang punya potensi besar untuk saya garap jadi situs berita lokal? Teman-teman bisa memberi masukan?

NB: Gambar dari http://playyess.blogspot.com/2008/09/bermain-kembali-bareng-koran-merapi.html

30 Oktober 2009

Tetangga depan kos saya meninggal. Berhubung rumah duka terletak di tengah-tengah ruko, alhasil tak ada tetangga di kanan-kirinya. Rumah itu juga jauh dari kampung. Di depannya jalan raya plus deretan ruko, di samping timurnya jalan besar yang disambung dengan kampus Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa, sementara di belakangnya kompleks perkantoran walikota Jogja.

Karena posisinya yang jauh dari kampung itu tuan rumah bingung waktu mau membacakan tahlil dan yasin untuk almarhum. Alhasil, mereka minta bantuan pengurus kos tempat saya tinggal untuk mencarikan orang yang mau membacakan yasin. Pilihan tepat. Kos saya berisi lebih dari 50 orang, so separuh saja penghuni kos yang berangkat rasanya sudah lebih dari cukup.

Pucuk di cinta ulam tiba, teman-teman kos tidak keberatan membantu. Sebagian benar-benar ikhlas demi amal baik, tapi tak dipungkiri ada juga yang berorientasi perut. Maklum, anak kos. Hehehe... Dan berangkatlah rombongan Asrama al-Asyhar ke rumah duka. Malam pertama, yang berangkat hanya beberapa orang. Kebetulan saya juga tidak ikut karena "asyik" meng-install ulang komputer.

Nah, malam kedua saya baru bisa ikut karena kebetulan tidak ke mana-mana. So, berangkatlah saya dengan rombongan. Menurut teman-teman yang berangkat di malam pertama, jumlah peserta yasinan di malam kedua ini lebih banyak dari malam pertama. Saya tidak menanggapinya. Saya pikir kemarin teman-teman juga tidak bisa ikut karena ada kesibukan lain.

Setelah menyeberang Jl. Kusumanegara yang selalu ramai kendaraan, sampailah kami di rumah duka. Di luar dugaan saya, ternyata benar-benar hanya anak-anak kos kami saya yang membaca yasin. Awalnya saya pikir ada satu-dua orang kampung atau tetangga kanan-kiri si tuan rumah. Nyatanya, dari sekitar 16 orang yang ada malam itu, semuanya dari kos tempat saya tinggal. Hmmm...

Yasinan dan tahlil hanya memakan waktu kurang dari 30 menit. Kemudian, seperti biasa, dilanjutkan dengan acara makan-makan sambil ngobrol. Nah, menjelang waktu pulang terjadi keanehan, setidaknya menurut saya ini aneh karena belum pernah saya temui sebelumnya. Apa yang aneh? Salah seorang anggota rumah keluar lalu membagikan bingkisan berupa roti kotak berukuran besar. Ah, ini sih masih belum aneh. Yang bikin kening saya berkerut adalah sewaktu kami juga diberi amplop satu-satu. Tanpa perlu dijelaskan tentu teman-teman tahu apa isinya, bukan?

Ya, sesuai dugaan, ternyata isinya uang. Walah, koq begitu sih? Masa iya orang yasinan dibayar? Padahal saya yakin teman-teman tidak mengharapkan uang. Kalau mengharapkan makan gratis sih saya yakin iya. Hehehe... Nah, karena tahu yang ikut yasinan dapat makan gratis plus uang plus bingkisan, di malam ketiga yang datang jauh lebih banyak lagi. Perkiraan saya sih sekitar 25 orang. Edan!

Yang jadi pertanyaan saya sampai saat ini adalah, koq ada ya orang yasinan dikasih duit? Apa memang di Jogja hal seperti ini umum dilakukan? Bagaimana dengan daerah lain? Mungkin teman-teman bisa berbagi pengalaman.

NB: Foto ilustrasi diambil dari http://flickr.com/photos/27371861@N02/2552396735

Tetangga depan kos saya meninggal. Berhubung rumah duka terletak di tengah-tengah ruko, alhasil tak ada tetangga di kanan-kirinya. Rumah itu juga jauh dari kampung. Di depannya jalan raya plus deretan ruko, di samping timurnya jalan besar yang disambung dengan kampus Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa, sementara di belakangnya kompleks perkantoran walikota Jogja.

Karena posisinya yang jauh dari kampung itu tuan rumah bingung waktu mau membacakan tahlil dan yasin untuk almarhum. Alhasil, mereka minta bantuan pengurus kos tempat saya tinggal untuk mencarikan orang yang mau membacakan yasin. Pilihan tepat. Kos saya berisi lebih dari 50 orang, so separuh saja penghuni kos yang berangkat rasanya sudah lebih dari cukup.

Pucuk di cinta ulam tiba, teman-teman kos tidak keberatan membantu. Sebagian benar-benar ikhlas demi amal baik, tapi tak dipungkiri ada juga yang berorientasi perut. Maklum, anak kos. Hehehe... Dan berangkatlah rombongan Asrama al-Asyhar ke rumah duka. Malam pertama, yang berangkat hanya beberapa orang. Kebetulan saya juga tidak ikut karena "asyik" meng-install ulang komputer.

Nah, malam kedua saya baru bisa ikut karena kebetulan tidak ke mana-mana. So, berangkatlah saya dengan rombongan. Menurut teman-teman yang berangkat di malam pertama, jumlah peserta yasinan di malam kedua ini lebih banyak dari malam pertama. Saya tidak menanggapinya. Saya pikir kemarin teman-teman juga tidak bisa ikut karena ada kesibukan lain.

Setelah menyeberang Jl. Kusumanegara yang selalu ramai kendaraan, sampailah kami di rumah duka. Di luar dugaan saya, ternyata benar-benar hanya anak-anak kos kami saya yang membaca yasin. Awalnya saya pikir ada satu-dua orang kampung atau tetangga kanan-kiri si tuan rumah. Nyatanya, dari sekitar 16 orang yang ada malam itu, semuanya dari kos tempat saya tinggal. Hmmm...

Yasinan dan tahlil hanya memakan waktu kurang dari 30 menit. Kemudian, seperti biasa, dilanjutkan dengan acara makan-makan sambil ngobrol. Nah, menjelang waktu pulang terjadi keanehan, setidaknya menurut saya ini aneh karena belum pernah saya temui sebelumnya. Apa yang aneh? Salah seorang anggota rumah keluar lalu membagikan bingkisan berupa roti kotak berukuran besar. Ah, ini sih masih belum aneh. Yang bikin kening saya berkerut adalah sewaktu kami juga diberi amplop satu-satu. Tanpa perlu dijelaskan tentu teman-teman tahu apa isinya, bukan?

Ya, sesuai dugaan, ternyata isinya uang. Walah, koq begitu sih? Masa iya orang yasinan dibayar? Padahal saya yakin teman-teman tidak mengharapkan uang. Kalau mengharapkan makan gratis sih saya yakin iya. Hehehe... Nah, karena tahu yang ikut yasinan dapat makan gratis plus uang plus bingkisan, di malam ketiga yang datang jauh lebih banyak lagi. Perkiraan saya sih sekitar 25 orang. Edan!

Yang jadi pertanyaan saya sampai saat ini adalah, koq ada ya orang yasinan dikasih duit? Apa memang di Jogja hal seperti ini umum dilakukan? Bagaimana dengan daerah lain? Mungkin teman-teman bisa berbagi pengalaman.

NB: Foto ilustrasi diambil dari http://flickr.com/photos/27371861@N02/2552396735

19 September 2009

Alhamdulillah, setelah berpuasa selama 30 hari dan berjuang melawan segala bentuk hawa nafsu, sampailah kita di hari kemenangan yang dinanti-nantikan. Alhamdulillah, tahun ini akhirnya bisa juga saya puasa 30 hari penuh (saya mulai puasa hari Jumat, lebih cepat dari kalender pemerintah).

Karena itu, ijinkanlah saya untuk ikut merayakan hari nan fitri ini. Perkenankan saya ikut merayakan hari di mana semua kesalahan dilebur dan manusia-manusia beriman kembali suci seperti bayi. Tanpa berpanjang kata lagi saya ucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf lahir Batin

Foto diambil dari http://iceywicey.wordpress.com

Alhamdulillah, setelah berpuasa selama 30 hari dan berjuang melawan segala bentuk hawa nafsu, sampailah kita di hari kemenangan yang dinanti-nantikan. Alhamdulillah, tahun ini akhirnya bisa juga saya puasa 30 hari penuh (saya mulai puasa hari Jumat, lebih cepat dari kalender pemerintah).

Karena itu, ijinkanlah saya untuk ikut merayakan hari nan fitri ini. Perkenankan saya ikut merayakan hari di mana semua kesalahan dilebur dan manusia-manusia beriman kembali suci seperti bayi. Tanpa berpanjang kata lagi saya ucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf lahir Batin

Foto diambil dari http://iceywicey.wordpress.com

05 September 2009

SEBENARNYA posting ini mau saya tulis tanggal 4 kemarin. Berhubung IM2 Broom ngadat 2 hari, jadilah baru bisa saya tulis dan diposting sekarang. Telat sih, tapi masih belum terlalu lama koq. Jadi tidak apa-apa kan ya? ^_^

Btw, ada apa dengan tanggal 4? Hari istimewakah?

Kalau tanggal 4 September kemarin sih tidak ada yang istimewa. Hari istimewanya justru tepat sebulan sebelumnya, alias tanggal 4 Agustus. Ya, pada hari itu saya memasuki satu babak baru dalam kehidupan saya. Dengan hati mantap saya mengucapkan akad nikah di hadapan Bapak Penghulu, petugas KUA, orang tua, mertua, dan seluruh sanak-saudara yang berkumpul di Masjid al-Munawaroh, Taman, Pemalang.

Ada kejadian menarik waktu itu. Sejak malam sebelum akad saya sudah menghapal ucapan qobul yang akan saya ucapkan pada saat akad. Malah saya juga diam-diam masih menghapal sambil menunggu bapak-bapak dari KUA datang. Eh, begitu ijab-qobul mau diucapkan, lha koq penghulunya malah ngasih kepekan alias contekan ke saya. So, cuma sekali saja selesai sudah ijab-qobulnya, para hadirin pun berdecak kagum. Saya sama istri cuma bisa tertawa geli. ^_^

Kejadiannya singkat sekali. Mengucapkan ijab-qobul rasa-rasanya tak sampai 10 menit. Tapi tahukah teman-teman, berapa lama saya (dan istri) harus menunggu momen itu? 3 tahun! Karenanya kami berdua langsung tersenyum lebar begitu pengucapan akad nikah selesai. Akhirnya....

Eits, saya sadar ini bukan akhir. Justru ini merupakan satu langkah awal bagi kehidupan saya yang sebenarnya. Satu titik yang menentukan akan menjadi manusia seperti apa saya nanti. Kini saya sudah punya amanah bernama keluarga, meskipun dalam keluarga itu baru ada saya dan istri. Bila amanah ini dapat saya jaga dengan baik, maka saya boleh berbangga hati disebut sebagai "suami yang baik". Tapi jika sebaliknya, naudzubillah min dzalik.

Dan tidak terasa sebulan pertama sudah saya lalui. Baru sebentar memang. Karenanya masih belum terasa benar halang-rintangnya. Terlebih saya dan istri masih SLJJ, saya di Jogja & istri tetap di Pemalang karena terikat mengajar di dua SD negeri di sana. Nanti kalau sudah jadi satu dengan istri, mungkin itulah saatnya saya benar-benar merasa punya keluarga, amanah yang menentukan di mana tempat saya di hari akhir kelak.

Oke, teman-teman. Pada peringatan sebulan pernikahan ini saya mohon doa dari teman-teman, semoga saya dan istri awet sampai akhir hayat. Semoga kami dapat membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Amin.

Catatan: Foto-foto bisa dilihat di sini.

SEBENARNYA posting ini mau saya tulis tanggal 4 kemarin. Berhubung IM2 Broom ngadat 2 hari, jadilah baru bisa saya tulis dan diposting sekarang. Telat sih, tapi masih belum terlalu lama koq. Jadi tidak apa-apa kan ya? ^_^

Btw, ada apa dengan tanggal 4? Hari istimewakah?

Kalau tanggal 4 September kemarin sih tidak ada yang istimewa. Hari istimewanya justru tepat sebulan sebelumnya, alias tanggal 4 Agustus. Ya, pada hari itu saya memasuki satu babak baru dalam kehidupan saya. Dengan hati mantap saya mengucapkan akad nikah di hadapan Bapak Penghulu, petugas KUA, orang tua, mertua, dan seluruh sanak-saudara yang berkumpul di Masjid al-Munawaroh, Taman, Pemalang.

Ada kejadian menarik waktu itu. Sejak malam sebelum akad saya sudah menghapal ucapan qobul yang akan saya ucapkan pada saat akad. Malah saya juga diam-diam masih menghapal sambil menunggu bapak-bapak dari KUA datang. Eh, begitu ijab-qobul mau diucapkan, lha koq penghulunya malah ngasih kepekan alias contekan ke saya. So, cuma sekali saja selesai sudah ijab-qobulnya, para hadirin pun berdecak kagum. Saya sama istri cuma bisa tertawa geli. ^_^

Kejadiannya singkat sekali. Mengucapkan ijab-qobul rasa-rasanya tak sampai 10 menit. Tapi tahukah teman-teman, berapa lama saya (dan istri) harus menunggu momen itu? 3 tahun! Karenanya kami berdua langsung tersenyum lebar begitu pengucapan akad nikah selesai. Akhirnya....

Eits, saya sadar ini bukan akhir. Justru ini merupakan satu langkah awal bagi kehidupan saya yang sebenarnya. Satu titik yang menentukan akan menjadi manusia seperti apa saya nanti. Kini saya sudah punya amanah bernama keluarga, meskipun dalam keluarga itu baru ada saya dan istri. Bila amanah ini dapat saya jaga dengan baik, maka saya boleh berbangga hati disebut sebagai "suami yang baik". Tapi jika sebaliknya, naudzubillah min dzalik.

Dan tidak terasa sebulan pertama sudah saya lalui. Baru sebentar memang. Karenanya masih belum terasa benar halang-rintangnya. Terlebih saya dan istri masih SLJJ, saya di Jogja & istri tetap di Pemalang karena terikat mengajar di dua SD negeri di sana. Nanti kalau sudah jadi satu dengan istri, mungkin itulah saatnya saya benar-benar merasa punya keluarga, amanah yang menentukan di mana tempat saya di hari akhir kelak.

Oke, teman-teman. Pada peringatan sebulan pernikahan ini saya mohon doa dari teman-teman, semoga saya dan istri awet sampai akhir hayat. Semoga kami dapat membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Amin.

Catatan: Foto-foto bisa dilihat di sini.

03 September 2009

LAMA tak merambah blogosphere, rupanya ada banyak perkembangan yang luput saya ikuti. Seperti hadirnya beberapa program online earning baru, berita-berita seputar blogger senior, dan lainnya. Di antara seliweran kabar-kabar yang saya tangkap setelah comeback, kemunculan program bernama Sponsored Tweets yang paling menyita perhatian.

Sesuai namanya, Sponsored Tweets adalah sebuah program online earning berbasis situs mikro blogging Twitter. Anda pasti sudah bisa menebak, situs ini membayar kita untuk menampilkan tweet berbayar alias pay per tweet. Namanya tweet berbayar, tentu saja ada link iklan yang disisipkan di dalamnya.

Sebagai blogger matre, program online earning baru seperti ini tentu wajib ditelisik. So, mendaftarlah saya ke Sponsored Tweets segera setelah membaca penjelasan Mas Medhy dan juga pengakuan John Chow kalau dia sudah dapat $250 hanya dari 2 tweet saja. Wow..!

Well, sistem Sponsored Tweets secara gampang bisa dibilang sangat mirip dengan sponsored reviews atau paid review. Cuma kalau di sponsored reviews kita dibayar untuk menulis review produk, maka di Sponsored Tweets kita dibayar untuk men-tweet pesan sponsor. Bayarannya? Tergantung jumlah follower yang dimiliki. Sponsored Tweets punya hitungan khusus di mana kita akan dibayar untuk setiap tweet dan setiap klik yang dilakukan atas tweet promosi tersebut. Saya sendiri dihargai $1/tweet, tapi sampai sekarang belum juga dapat opportunity. Hehehe...

Membicarakan Sponsored Tweets, saya jadi ingat satu program make money tweeting alias program mencari uang dengan Twitter yang sudah muncul sebelumnya. Ya, yang saya maksud adalah Be a Magpie. Sistem Be a Magpie sangat mirip dengan Sponsored Tweets. Bedanya hanya pada mata uang yang digunakan untuk membayar komisi member, di mana Sponsored Tweets memakai dollar (US $) dan Be a Magpie memakai euro (€). Lalu Be a Magpie memberlakukan rasio 5:1 antara tweet nonkomersil dan tweet berbayar, sementara Sponsored Tweets tidak. Selebihnya sama.

Selain Sponsored Tweets dan Be a Magpie, ada satu program make money tweeting lain. Namanya Twittad. Bedanya, di Twittad seorang pengguna Twitter dibayar untuk menampilkan iklan di halaman profilnya. Mas Medhy menjadi blogger Indonesia pertama yang mengumumkan sudah merasakan manisnya earning dari Twittad. Tapi sekarang sudah tak terdengar lagi bagaimana kelanjutan program ini. Begitu juga dengan be a Magpie.

Melihat perjalanan dua situs make money tweeting pendahulunya, apa yang bisa ditawarkan oleh Sponsored Tweets jadi menarik ditunggu. Terlebih program ini digagas oleh IZEA, Inc. yang bisa dibilang telah meraup sukses besar dengan PayPerPost dan SocialSpark. Akankah Sponsored Tweets bernasib seperti Be a Magpie? Atau justru mampu mendobrak krisis dengan program lama tapi baru ini?

Bagaimana pendapat Anda?

LAMA tak merambah blogosphere, rupanya ada banyak perkembangan yang luput saya ikuti. Seperti hadirnya beberapa program online earning baru, berita-berita seputar blogger senior, dan lainnya. Di antara seliweran kabar-kabar yang saya tangkap setelah comeback, kemunculan program bernama Sponsored Tweets yang paling menyita perhatian.

Sesuai namanya, Sponsored Tweets adalah sebuah program online earning berbasis situs mikro blogging Twitter. Anda pasti sudah bisa menebak, situs ini membayar kita untuk menampilkan tweet berbayar alias pay per tweet. Namanya tweet berbayar, tentu saja ada link iklan yang disisipkan di dalamnya.

Sebagai blogger matre, program online earning baru seperti ini tentu wajib ditelisik. So, mendaftarlah saya ke Sponsored Tweets segera setelah membaca penjelasan Mas Medhy dan juga pengakuan John Chow kalau dia sudah dapat $250 hanya dari 2 tweet saja. Wow..!

Well, sistem Sponsored Tweets secara gampang bisa dibilang sangat mirip dengan sponsored reviews atau paid review. Cuma kalau di sponsored reviews kita dibayar untuk menulis review produk, maka di Sponsored Tweets kita dibayar untuk men-tweet pesan sponsor. Bayarannya? Tergantung jumlah follower yang dimiliki. Sponsored Tweets punya hitungan khusus di mana kita akan dibayar untuk setiap tweet dan setiap klik yang dilakukan atas tweet promosi tersebut. Saya sendiri dihargai $1/tweet, tapi sampai sekarang belum juga dapat opportunity. Hehehe...

Membicarakan Sponsored Tweets, saya jadi ingat satu program make money tweeting alias program mencari uang dengan Twitter yang sudah muncul sebelumnya. Ya, yang saya maksud adalah Be a Magpie. Sistem Be a Magpie sangat mirip dengan Sponsored Tweets. Bedanya hanya pada mata uang yang digunakan untuk membayar komisi member, di mana Sponsored Tweets memakai dollar (US $) dan Be a Magpie memakai euro (€). Lalu Be a Magpie memberlakukan rasio 5:1 antara tweet nonkomersil dan tweet berbayar, sementara Sponsored Tweets tidak. Selebihnya sama.

Selain Sponsored Tweets dan Be a Magpie, ada satu program make money tweeting lain. Namanya Twittad. Bedanya, di Twittad seorang pengguna Twitter dibayar untuk menampilkan iklan di halaman profilnya. Mas Medhy menjadi blogger Indonesia pertama yang mengumumkan sudah merasakan manisnya earning dari Twittad. Tapi sekarang sudah tak terdengar lagi bagaimana kelanjutan program ini. Begitu juga dengan be a Magpie.

Melihat perjalanan dua situs make money tweeting pendahulunya, apa yang bisa ditawarkan oleh Sponsored Tweets jadi menarik ditunggu. Terlebih program ini digagas oleh IZEA, Inc. yang bisa dibilang telah meraup sukses besar dengan PayPerPost dan SocialSpark. Akankah Sponsored Tweets bernasib seperti Be a Magpie? Atau justru mampu mendobrak krisis dengan program lama tapi baru ini?

Bagaimana pendapat Anda?

02 September 2009

MUNGKIN saya adalah satu-satunya blogger yang paling sering gonta-ganti template. Waktu blog ini belum genap berusia setahun saja terhitung sudah sekitar 6-7 template silih berganti dipakai. Bila diambil rata-rata, maka blog ini berganti template hampir setiap bulan! Di bulan ramadhan tahun lalu saya sudah ganti template 2 kali. Dan Ramadhan kali ini diganti lagi. Gila ya?

Kalau ada yang bertanya kenapa sesering itu saya berganti-ganti template, maka jawabannya hanya satu: mungkin saya ini orangnya terlalu perfeksionis. Saya bilang “mungkin” lho. Bisa jadi juga jawabannya adalah: saya ini ledha-ledhe alias plin-plan. Hehehe… Tapi yang jelas apa yang saya cari adalah paduan terbaik antara tampilan blog, tata halaman, sistem navigasi, dan juga waktu loading-nya.

Template yang saya pakai sebelum ini sebenarnya sudah bagus tampilannya. Fresh dan sejuk. Waktu loadingnya juga termasuk cepat. Apalagi headernya sudah saya ganti dengan ditambahkan logo sendiri. Tapi satu yang membuat saya kurang sreg adalah, kalau sedang dalam kondisi 'home' tampilannya kurang enak dilihat (bagi saya lho). Apalagi kalau beberapa posting pakai gambar sedangkan yang lain tidak. Kacau deh pokoknya. :D

Hal itu sebenarnya bisa dibilang bukan gangguan. LHa wong semua template ya begitu itu tampilannya kalau sedang menampilkan blog dalam kondisi 'home' alias halaman depan. Tapi dasar saya tukang komplain, akhirnya terulang lagi deh kejadian saat Ramadhan tahun lalu: ganti template (lagi).

Bagaimana dengan template yang sekarang? Untuk sementara ini saya merasa puas. Dari sekian banyak template yang pernah saya pakai, baru template inilah yang memenuhi keinginan saya. Pertama, desainnya simple tapi menarik. Tata halamannya rapi, mirip dengan yang biasa dipakai majalah-majalah online. Minimnya gambar yang dipakai (hanya di header, itupun ukurannya kecil) semoga saja membuat loading-nya tidak lambat. Eits, ini penilaian (subjektif) saya lho. Anda tentu punya penilaian sendiri kan? So, jangan malu-malu untuk mengungkapkannya di kolom komentar.

Oya, saya sebenarnya sudah kangen sekali ngeblog. Tapi hampir 3 bulan tidak ngeblog rupanya cukup membuat otak beku dan tangan kaku. Maka jadilah untuk pertama kalinya saya cuma repost saja. Mudah-mudahan setelah ini saya bisa aktif lagi menulis posting-posting baru yang segar. ^_^

MUNGKIN saya adalah satu-satunya blogger yang paling sering gonta-ganti template. Waktu blog ini belum genap berusia setahun saja terhitung sudah sekitar 6-7 template silih berganti dipakai. Bila diambil rata-rata, maka blog ini berganti template hampir setiap bulan! Di bulan ramadhan tahun lalu saya sudah ganti template 2 kali. Dan Ramadhan kali ini diganti lagi. Gila ya?

Kalau ada yang bertanya kenapa sesering itu saya berganti-ganti template, maka jawabannya hanya satu: mungkin saya ini orangnya terlalu perfeksionis. Saya bilang “mungkin” lho. Bisa jadi juga jawabannya adalah: saya ini ledha-ledhe alias plin-plan. Hehehe… Tapi yang jelas apa yang saya cari adalah paduan terbaik antara tampilan blog, tata halaman, sistem navigasi, dan juga waktu loading-nya.

Template yang saya pakai sebelum ini sebenarnya sudah bagus tampilannya. Fresh dan sejuk. Waktu loadingnya juga termasuk cepat. Apalagi headernya sudah saya ganti dengan ditambahkan logo sendiri. Tapi satu yang membuat saya kurang sreg adalah, kalau sedang dalam kondisi 'home' tampilannya kurang enak dilihat (bagi saya lho). Apalagi kalau beberapa posting pakai gambar sedangkan yang lain tidak. Kacau deh pokoknya. :D

Hal itu sebenarnya bisa dibilang bukan gangguan. LHa wong semua template ya begitu itu tampilannya kalau sedang menampilkan blog dalam kondisi 'home' alias halaman depan. Tapi dasar saya tukang komplain, akhirnya terulang lagi deh kejadian saat Ramadhan tahun lalu: ganti template (lagi).

Bagaimana dengan template yang sekarang? Untuk sementara ini saya merasa puas. Dari sekian banyak template yang pernah saya pakai, baru template inilah yang memenuhi keinginan saya. Pertama, desainnya simple tapi menarik. Tata halamannya rapi, mirip dengan yang biasa dipakai majalah-majalah online. Minimnya gambar yang dipakai (hanya di header, itupun ukurannya kecil) semoga saja membuat loading-nya tidak lambat. Eits, ini penilaian (subjektif) saya lho. Anda tentu punya penilaian sendiri kan? So, jangan malu-malu untuk mengungkapkannya di kolom komentar.

Oya, saya sebenarnya sudah kangen sekali ngeblog. Tapi hampir 3 bulan tidak ngeblog rupanya cukup membuat otak beku dan tangan kaku. Maka jadilah untuk pertama kalinya saya cuma repost saja. Mudah-mudahan setelah ini saya bisa aktif lagi menulis posting-posting baru yang segar. ^_^

31 Mei 2009

Hari ini, tepat di akhir bulan Mei 2009, masa magang saya di Harian Jogja berakhir sudah. Setelah selama 10 pekan atau 70 hari sejak tanggal 13 Maret 2009, akhirnya berakhir juga status saya sebagai reporter magang. Sungguh tidak terasa, terlebih karena saya mendapat jatah di mingguan yang praktis kerjanya jauh lebih santai dibanding yang harian. But, it's ok. Saya tidak mungkin memperpanjang masa magang karena ada satu alasan pribadi.

Ada banyak pengalaman menarik yang saya dapati dari magang ini. Sejumlah narasumber yang sempat saya temui telah memperkaya saya dengan wacana, pemikiran, pengetahuan, pelajaran, bahkan juga kekonyolan. Dan rasanya inilah hal paling berharga yang saya dapatkan selama magang ini. Tentu saja selain kesempatan untuk menampangkan tulisan-tulisan saya di Harian Jogja edisi Minggu selama masa magang tersebut.

Setelah magang ke mana lagi? Planning terdekat adalah menyelsaikan kuliah. Setelah magang seharusnya saya tinggal menggarap Laporan Kerja Praktek (LKP) saja. Tapi karena masih punya tanggungan beberapa mata kuliah, mungkin saya mesti bernegoisasi dulu dengan pihak kampus mengenai hal ini. Magang saya juga sebenarnya di luar kelaziman. Soalnya, sebenarnya yang boleh magang hanyalah mahasiswa yang sudah menghabiskan teorinya. :))

Mulai Juni sampai Agustus saya akan disibukkan dengan beberapa kegiatan dan sekaligus kewajiban. Ya, selain mengejar ketertinggalan di kampus tentunya. So, mungkin saya akan mengurangi aktivitas blogging selama dua-tiga bulan itu. Untuk itu saya mohon pamit pada teman-teman yang biasa berkunjung kemari. Saya juga mohon maaf jika selama Juni-Agustus tidak bisa berkunjung balik.

Itu saja. Dan saya mohon pamit untuk sejenak menghilang dari blogosphere. Terima kasih...


Hari ini, tepat di akhir bulan Mei 2009, masa magang saya di Harian Jogja berakhir sudah. Setelah selama 10 pekan atau 70 hari sejak tanggal 13 Maret 2009, akhirnya berakhir juga status saya sebagai reporter magang. Sungguh tidak terasa, terlebih karena saya mendapat jatah di mingguan yang praktis kerjanya jauh lebih santai dibanding yang harian. But, it's ok. Saya tidak mungkin memperpanjang masa magang karena ada satu alasan pribadi.

Ada banyak pengalaman menarik yang saya dapati dari magang ini. Sejumlah narasumber yang sempat saya temui telah memperkaya saya dengan wacana, pemikiran, pengetahuan, pelajaran, bahkan juga kekonyolan. Dan rasanya inilah hal paling berharga yang saya dapatkan selama magang ini. Tentu saja selain kesempatan untuk menampangkan tulisan-tulisan saya di Harian Jogja edisi Minggu selama masa magang tersebut.

Setelah magang ke mana lagi? Planning terdekat adalah menyelsaikan kuliah. Setelah magang seharusnya saya tinggal menggarap Laporan Kerja Praktek (LKP) saja. Tapi karena masih punya tanggungan beberapa mata kuliah, mungkin saya mesti bernegoisasi dulu dengan pihak kampus mengenai hal ini. Magang saya juga sebenarnya di luar kelaziman. Soalnya, sebenarnya yang boleh magang hanyalah mahasiswa yang sudah menghabiskan teorinya. :))

Mulai Juni sampai Agustus saya akan disibukkan dengan beberapa kegiatan dan sekaligus kewajiban. Ya, selain mengejar ketertinggalan di kampus tentunya. So, mungkin saya akan mengurangi aktivitas blogging selama dua-tiga bulan itu. Untuk itu saya mohon pamit pada teman-teman yang biasa berkunjung kemari. Saya juga mohon maaf jika selama Juni-Agustus tidak bisa berkunjung balik.

Itu saja. Dan saya mohon pamit untuk sejenak menghilang dari blogosphere. Terima kasih...


28 Mei 2009

Lebih cepat lebih baik. Itulah jargon yang diusung pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan yang populer disebut JK-Win ini seolah ingin menyentil Presiden SBY yang sering bersikap lamban dan cenderung bingung menentukan sikap kala menghadapi suatu persoalan. Contoh kecil, SBY tak menentukan pilihan waktu ditanya siapa jagoannya dalam final Liga Champions kemarin malam.

Lebih cepat memang lebih baik, tapi tidak selalu lebih baik. Semua tergantung bagaimana persepsi kita mengenai kata "cepat". Terkadang terlalu cepat justru menjadi tidak baik dan kontraproduktif. Contohnya terlalu cepat berkomentar tanpa membaca keseluruhan isi posting terlebih dahulu.

Posting saya yang berjudul "Nothing Is Impossible" bisa diambil sebagai contoh. Karena pembuka dan penutup posting tersebut bercerita mengenai kesuksesan Yunani memenangi Piala Eropa 2004 (plus gambar), sejumlah pengunjung yang "bertindak cepat" jadi meninggalkan komentar tidak nyambung. Bahkan ada yang dengan pedenya mengomentari kisah sukses Yunani. Padahal inti dari posting tersebut bukan di situ.

Contoh lain adalah serial posting "Skenario (Curang) Meningkatkan Earning AdSense" yang saya buat September tahun lalu. Ada 6 tulisan dalam serial tersebut, di mana masing-masing artikel membahas satu trik curang untuk meningkatkan earning AdSense. Nah, di tulisan terakhir (artikel ke-6) saya membuat satu kesimpulan yang sangat antiklimaks dan saya yakin tidak diduga-duga para pembaca. Namun kebanyakan pembaca ternyata bertindak "terlalu cepat" dan langsung mengambil kesimpulan tanpa mau membaca keseluruhan seri tersebut, terutama bagian terakhir yang menjadi kesimpulan.

Inilah fenomena dunia blogging di Indonesia. Ketika trafik menjadi tujuan utama, maka makna paling penting dan termulia dari blogging jadi terlupakan. Blog tak lagi berfungsi sebagai media menuangkan ide-ide untuk didiskusikan dengan pengunjung, bukan lagi media untuk saling berbagi, bukan pula untuk menjalin persahabatan antar blogger.

Apa yang terjadi justru kebalikannya. Demi mengejar trafik, seorang blogger rela melakukan blogwalking dari satu blog ke blog lain. Karena tujuan utamanya hanya kunjungan balik yang berarti menambah trafik blognya, maka iapun selalu "bertindak cepat". Cukup baca judul, lihat gambar (kalau ada), dan baca sekilas paragraf pembuka dan penutup, lalu tinggalkan komentar. Jangan harapkan komentar panjang-lebar, diberi satu-dua kalimat pendek saja pemilik blog sudah sangat bersyukur.

Alhasil, blogwalking hanya menjadi satu wahana (maaf) setor wajah semata. Asal namanya tercatat mengunjungi blog lain dengan harapan dikunjungi balik. Tak ada diskusi, tak ada tukar-pikiran. Maka jangan heran kalau blog-blog yang bertema agak serius dan berat jarang pengunjungnya.

Maaf, hanya sekedar uneg-uneg. Tolong jangan diambil hati (emosi), tapi diambil pikiran (logika) saja. :D

Lebih cepat lebih baik. Itulah jargon yang diusung pasangan capres-cawapres Jusuf Kalla-Wiranto. Pasangan yang populer disebut JK-Win ini seolah ingin menyentil Presiden SBY yang sering bersikap lamban dan cenderung bingung menentukan sikap kala menghadapi suatu persoalan. Contoh kecil, SBY tak menentukan pilihan waktu ditanya siapa jagoannya dalam final Liga Champions kemarin malam.

Lebih cepat memang lebih baik, tapi tidak selalu lebih baik. Semua tergantung bagaimana persepsi kita mengenai kata "cepat". Terkadang terlalu cepat justru menjadi tidak baik dan kontraproduktif. Contohnya terlalu cepat berkomentar tanpa membaca keseluruhan isi posting terlebih dahulu.

Posting saya yang berjudul "Nothing Is Impossible" bisa diambil sebagai contoh. Karena pembuka dan penutup posting tersebut bercerita mengenai kesuksesan Yunani memenangi Piala Eropa 2004 (plus gambar), sejumlah pengunjung yang "bertindak cepat" jadi meninggalkan komentar tidak nyambung. Bahkan ada yang dengan pedenya mengomentari kisah sukses Yunani. Padahal inti dari posting tersebut bukan di situ.

Contoh lain adalah serial posting "Skenario (Curang) Meningkatkan Earning AdSense" yang saya buat September tahun lalu. Ada 6 tulisan dalam serial tersebut, di mana masing-masing artikel membahas satu trik curang untuk meningkatkan earning AdSense. Nah, di tulisan terakhir (artikel ke-6) saya membuat satu kesimpulan yang sangat antiklimaks dan saya yakin tidak diduga-duga para pembaca. Namun kebanyakan pembaca ternyata bertindak "terlalu cepat" dan langsung mengambil kesimpulan tanpa mau membaca keseluruhan seri tersebut, terutama bagian terakhir yang menjadi kesimpulan.

Inilah fenomena dunia blogging di Indonesia. Ketika trafik menjadi tujuan utama, maka makna paling penting dan termulia dari blogging jadi terlupakan. Blog tak lagi berfungsi sebagai media menuangkan ide-ide untuk didiskusikan dengan pengunjung, bukan lagi media untuk saling berbagi, bukan pula untuk menjalin persahabatan antar blogger.

Apa yang terjadi justru kebalikannya. Demi mengejar trafik, seorang blogger rela melakukan blogwalking dari satu blog ke blog lain. Karena tujuan utamanya hanya kunjungan balik yang berarti menambah trafik blognya, maka iapun selalu "bertindak cepat". Cukup baca judul, lihat gambar (kalau ada), dan baca sekilas paragraf pembuka dan penutup, lalu tinggalkan komentar. Jangan harapkan komentar panjang-lebar, diberi satu-dua kalimat pendek saja pemilik blog sudah sangat bersyukur.

Alhasil, blogwalking hanya menjadi satu wahana (maaf) setor wajah semata. Asal namanya tercatat mengunjungi blog lain dengan harapan dikunjungi balik. Tak ada diskusi, tak ada tukar-pikiran. Maka jangan heran kalau blog-blog yang bertema agak serius dan berat jarang pengunjungnya.

Maaf, hanya sekedar uneg-uneg. Tolong jangan diambil hati (emosi), tapi diambil pikiran (logika) saja. :D

23 Mei 2009

Masih ingat gambar di sebelah? Ya, ini momen saat Yunani merebut gelar juara Piala Eropa 2004 di Portugal. Sebuah momen bersejarah yang rasanya bakal melekat lama di ingatan para pecinta bola. Kenapa? Karena kemenangan Yunani sangat di luar dugaan. Masuk sebagai underdog, tapi Yunani justru keluar sebagai juara. From zero to hero.

Nothing is impossible. Adidas selaku sponsor apparel Yunani langsung memanfaatkan momen tersebut untuk lebih mempopulerkan jargonnya. Segera saja kalimat 'nothing is impossible' terlihat di mana-mana bersama foto timnas Yunani sedang merayakan kemenangan di Euro 2004. Ya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan Pablo Picasso, pelukis tersohor Spanyol pernah mengatakan 'Everything you can imagine is real'.

Suatu malam, saya chat dengan seorang rekan blogger. Sebut saja namanya Popo. Karena sudah sangat akrab, saya tak sungkan-sungkan menceritakan sebuah rencana padanya. Bukan rencana saya, tapi rencana seorang rekan lain di mana saya diajak terlibat menggarapnya. Apa rencananya? Tak muluk-muluk koq, mendirikan sebuah portal berita khusus Jogja.

Ketika rencana tersebut saya ceritakan pada Popo, dia bertanya "Mau menyaingi Detik?". Saya jawab enteng, "Who knows?". Eh, koq dia mengirim gambar orang tertawa dan menambahinya dengan kalimat, "Susah, Ko. Orang Okezone saja masih belum bisa menyamai Detik." Lagi-lagi saya jawab enteng, "Itu kan Okezone." Lalu pembicaraan jadi mengambang, jadi serba tidak enak.

Well, mungkin Popo benar tentang tak mungkin kami menyaingi Detik. Menyamainya pun mungkin susah. Tapi vonis ini terlalu dini dan sangat tidak adil. Bagaimana tidak? Detik sudah beroperasi sebagai situs berita sejak 1 Juli 1998, sementara kami baru sekedar rencana. Bahkan membandingkan Detik dengan Okezone juga tidak adil karena Okezone baru berjalan beberapa tahun belakangan. Tentu sebuah pembandingan yang tidak tepat.

Khusus soal rencana pembuatan situs berita lokal Jogja, rekan saya sudah membeberkan konsepnya kepada saya saat kami bertemu beberapa bulan lalu. Sebuah konsep cerdas yang bila itu dijalankan bakal sangat luar biasa hasilnya. Dan rencana itu sudah mulai direalisasikan oleh rekan tersebut. Ia pun sudah meminta saya untuk mencarikan beberapa anak AKY yang mau menjadi reporter di situsnya tersebut. Saya sendiri ditawari dua posisi: jadi reporter atau redaktur. :))

Sekali lagi, mungkin Popo benar saat mengatakan kami tak mungkin menyaingi Detik. Tapi pernyataan ini masih butuh kata tambahan. Ya, kami tidak mungkin menyaingi detik sekarang, tapi 5-10 tahun lagi siapa tahu? Apalagi saya tahu persis rekan yang punya ide membuat situs berita lokal Jogja tersebut punya jaringan sangat luas. Maklum, ia pernah jadi wartawan di Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, dan terakhir menjadi manajer di beberapa radio swasta.

Kembali ke cerita Yunani. Saat Euro 2004 dimulai, tak satupun pengamat berani memprediksi Yunani bakal jadi juara. Pasalnya, rekor internasional Yunani teramat buruk. Lebih sering absen di turnamen antarnegara dan tidak pernah menang di ajang internasional yang diikutinya membuat Yunani diposisikan hanya sebagai pelengkap Euro 2004. Apalagi Yunani tergabung di Grup A bersama Portugal, Spanyol dan Rusia yang peringkat FIFA-nya jauh lebih tinggi.

Publik mulai tercengang ketika tuan rumah Portugal berhasil mereka tundukkan di partai pembuka. Lalu satu demi satu raksasa Eropa mereka gilas. Rep. Ceska, Prancis, dan Portugal untuk kedua kalinya di partai final. So, nothing is impossible.

Catatan: Foto dari SkySport.com dan Freewebs.com.

Masih ingat gambar di sebelah? Ya, ini momen saat Yunani merebut gelar juara Piala Eropa 2004 di Portugal. Sebuah momen bersejarah yang rasanya bakal melekat lama di ingatan para pecinta bola. Kenapa? Karena kemenangan Yunani sangat di luar dugaan. Masuk sebagai underdog, tapi Yunani justru keluar sebagai juara. From zero to hero.

Nothing is impossible. Adidas selaku sponsor apparel Yunani langsung memanfaatkan momen tersebut untuk lebih mempopulerkan jargonnya. Segera saja kalimat 'nothing is impossible' terlihat di mana-mana bersama foto timnas Yunani sedang merayakan kemenangan di Euro 2004. Ya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan Pablo Picasso, pelukis tersohor Spanyol pernah mengatakan 'Everything you can imagine is real'.

Suatu malam, saya chat dengan seorang rekan blogger. Sebut saja namanya Popo. Karena sudah sangat akrab, saya tak sungkan-sungkan menceritakan sebuah rencana padanya. Bukan rencana saya, tapi rencana seorang rekan lain di mana saya diajak terlibat menggarapnya. Apa rencananya? Tak muluk-muluk koq, mendirikan sebuah portal berita khusus Jogja.

Ketika rencana tersebut saya ceritakan pada Popo, dia bertanya "Mau menyaingi Detik?". Saya jawab enteng, "Who knows?". Eh, koq dia mengirim gambar orang tertawa dan menambahinya dengan kalimat, "Susah, Ko. Orang Okezone saja masih belum bisa menyamai Detik." Lagi-lagi saya jawab enteng, "Itu kan Okezone." Lalu pembicaraan jadi mengambang, jadi serba tidak enak.

Well, mungkin Popo benar tentang tak mungkin kami menyaingi Detik. Menyamainya pun mungkin susah. Tapi vonis ini terlalu dini dan sangat tidak adil. Bagaimana tidak? Detik sudah beroperasi sebagai situs berita sejak 1 Juli 1998, sementara kami baru sekedar rencana. Bahkan membandingkan Detik dengan Okezone juga tidak adil karena Okezone baru berjalan beberapa tahun belakangan. Tentu sebuah pembandingan yang tidak tepat.

Khusus soal rencana pembuatan situs berita lokal Jogja, rekan saya sudah membeberkan konsepnya kepada saya saat kami bertemu beberapa bulan lalu. Sebuah konsep cerdas yang bila itu dijalankan bakal sangat luar biasa hasilnya. Dan rencana itu sudah mulai direalisasikan oleh rekan tersebut. Ia pun sudah meminta saya untuk mencarikan beberapa anak AKY yang mau menjadi reporter di situsnya tersebut. Saya sendiri ditawari dua posisi: jadi reporter atau redaktur. :))

Sekali lagi, mungkin Popo benar saat mengatakan kami tak mungkin menyaingi Detik. Tapi pernyataan ini masih butuh kata tambahan. Ya, kami tidak mungkin menyaingi detik sekarang, tapi 5-10 tahun lagi siapa tahu? Apalagi saya tahu persis rekan yang punya ide membuat situs berita lokal Jogja tersebut punya jaringan sangat luas. Maklum, ia pernah jadi wartawan di Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, dan terakhir menjadi manajer di beberapa radio swasta.

Kembali ke cerita Yunani. Saat Euro 2004 dimulai, tak satupun pengamat berani memprediksi Yunani bakal jadi juara. Pasalnya, rekor internasional Yunani teramat buruk. Lebih sering absen di turnamen antarnegara dan tidak pernah menang di ajang internasional yang diikutinya membuat Yunani diposisikan hanya sebagai pelengkap Euro 2004. Apalagi Yunani tergabung di Grup A bersama Portugal, Spanyol dan Rusia yang peringkat FIFA-nya jauh lebih tinggi.

Publik mulai tercengang ketika tuan rumah Portugal berhasil mereka tundukkan di partai pembuka. Lalu satu demi satu raksasa Eropa mereka gilas. Rep. Ceska, Prancis, dan Portugal untuk kedua kalinya di partai final. So, nothing is impossible.

Catatan: Foto dari SkySport.com dan Freewebs.com.

21 Mei 2009

SETELAH dapat jatah liputan steak di pekan kedua masa magang, lama sekali saya tidak liputan untuk rubrik kuliner. Mungkin tepatnya bukan "tidak liputan", soalnya saya sempat dapat dua tugas liputan kuliner. Yang pertama mencari soto tangkar tapi tidak ketemu sampai deadline, dan kedua mencari satu angkringan super duper laris di daerah Deresan tapi luput dari amatan saya sehingga tidak tertangkap. :))

Nah, untuk edisi Minggu besok saya kebagian jatah meliput Bakso Pak Bawor di daerah Samirono. Ceritanya seluruh bakso terenak dan terlegendaris di Jogja akan diangkat. So, seluruh kru dibagi untuk meliput 6 warung bakso yang dianggap ter dan ter tadi. Dan saya kebagian jatah mencicipi baksonya Pak Bawor di Samirono. Kebetulan sekali bakso merupakan menu jajan favorit saya selain mie ayam.

Asyik, akhirnya makan-makan juga..! Sorak saya dalam hati sewaktu diberi tugas itu. Tanpa tunggu lebih lama lagi, saya segera menggarapnya. Langkah pertama browsing di internet untuk mencari tahu lokasi warung Bakso Pak Bawor. Hehehe, soalnya saya belum tahu sih. Tujuan kedua adalah untuk mencari tahu tanggapan orang-orang yang pernah makan di sana. Syukurlah kedua-duanya saya dapatkan.

Menurut hasil browsing, warung bakso Pak Bawor Samirono terletak tepat di tengah-tengah kampung Samirono. Jadi, dari Jl. Kolombo masuk terus ke selatan ke kampung Samirono. Ancer-ancernya di selatan GOR UNY. Masuknya dari jalan yang terletak tepat di selatan jalan yang ke arah GOR UNY. Dari pinggir Jl. Kolombo jauhnya sekitar 300 meter.

Sangat tidak disarankan mendatangi warung bakso Pak Bawor dengan kendaraan umum. Pasalnya bis kota ataupun angkot hanya akan menurunkan Anda di Jl. Kolombo. Naik transJogja lebih tidak disarankan karena letak shelternya jauh dari jalan masuk ke kampung Samirono. So, minimal naik sepeda deh. Hehehe....

Kembali ke laptop. Setelah tanya sana, sini, situ, akhirnya sampai juga saya dan Ari (junior di AKY yang menemani saya) di warung bakso Pak Bawor yang kondang itu. Penampilan warungnya sangat biasa. Tapi melihat jumlah pengunjungnya, saya tahu ada yang istimewa di sini. Terlebih setelah beberapa pengamen datang menjajakan suaranya di sana. Bukankah pengamen itu paling tahu di mana lokasi yang paling banyak orang? :))

Bakso pun dipesan. Alamak, ternyata lama juga menunggunya. Pesanan baru datang setelah es jeruk di hadapan saya tinggal setengah gelas. Tapi saya beruntung datang saat tanggal merah. Konon kalau hari kerja kita bahkan harus berjuang keras untuk sekedar mendapatkan tempat duduk. Gila!

Bagaimana rasa baksonya? Jujur saja saya tidak tahu itu termasuk bakso enak atau biasa saja. Yang jelas pentol baksonya termasuk hebat karena kentara sekali rasa dagingnya. Begitu dibelah tekstur bagian dalamnya tidak rata, menandakan kalau adonannya lebih dominan daging dibanding kanji. Waktu saya tanya ke Mas Bowo, salah satu karyawan di sana, perbandingan adonannya adalah 5:1. Oo, pantas saja kalau begitu.

Tertarik mencoba? Harganya tidak mahal koq. Mungkin sekitar Rp6000-an. Soalnya tadi bakso dua plus es jeruk dua totalnya Rp15.000. Jadi harga baksonya ya kira-kira Rp6000 semangkuk, terus es jeruknya Rp1.500. Masih termasuk murah untuk ukuran bakso sekondang itu. :))

SETELAH dapat jatah liputan steak di pekan kedua masa magang, lama sekali saya tidak liputan untuk rubrik kuliner. Mungkin tepatnya bukan "tidak liputan", soalnya saya sempat dapat dua tugas liputan kuliner. Yang pertama mencari soto tangkar tapi tidak ketemu sampai deadline, dan kedua mencari satu angkringan super duper laris di daerah Deresan tapi luput dari amatan saya sehingga tidak tertangkap. :))

Nah, untuk edisi Minggu besok saya kebagian jatah meliput Bakso Pak Bawor di daerah Samirono. Ceritanya seluruh bakso terenak dan terlegendaris di Jogja akan diangkat. So, seluruh kru dibagi untuk meliput 6 warung bakso yang dianggap ter dan ter tadi. Dan saya kebagian jatah mencicipi baksonya Pak Bawor di Samirono. Kebetulan sekali bakso merupakan menu jajan favorit saya selain mie ayam.

Asyik, akhirnya makan-makan juga..! Sorak saya dalam hati sewaktu diberi tugas itu. Tanpa tunggu lebih lama lagi, saya segera menggarapnya. Langkah pertama browsing di internet untuk mencari tahu lokasi warung Bakso Pak Bawor. Hehehe, soalnya saya belum tahu sih. Tujuan kedua adalah untuk mencari tahu tanggapan orang-orang yang pernah makan di sana. Syukurlah kedua-duanya saya dapatkan.

Menurut hasil browsing, warung bakso Pak Bawor Samirono terletak tepat di tengah-tengah kampung Samirono. Jadi, dari Jl. Kolombo masuk terus ke selatan ke kampung Samirono. Ancer-ancernya di selatan GOR UNY. Masuknya dari jalan yang terletak tepat di selatan jalan yang ke arah GOR UNY. Dari pinggir Jl. Kolombo jauhnya sekitar 300 meter.

Sangat tidak disarankan mendatangi warung bakso Pak Bawor dengan kendaraan umum. Pasalnya bis kota ataupun angkot hanya akan menurunkan Anda di Jl. Kolombo. Naik transJogja lebih tidak disarankan karena letak shelternya jauh dari jalan masuk ke kampung Samirono. So, minimal naik sepeda deh. Hehehe....

Kembali ke laptop. Setelah tanya sana, sini, situ, akhirnya sampai juga saya dan Ari (junior di AKY yang menemani saya) di warung bakso Pak Bawor yang kondang itu. Penampilan warungnya sangat biasa. Tapi melihat jumlah pengunjungnya, saya tahu ada yang istimewa di sini. Terlebih setelah beberapa pengamen datang menjajakan suaranya di sana. Bukankah pengamen itu paling tahu di mana lokasi yang paling banyak orang? :))

Bakso pun dipesan. Alamak, ternyata lama juga menunggunya. Pesanan baru datang setelah es jeruk di hadapan saya tinggal setengah gelas. Tapi saya beruntung datang saat tanggal merah. Konon kalau hari kerja kita bahkan harus berjuang keras untuk sekedar mendapatkan tempat duduk. Gila!

Bagaimana rasa baksonya? Jujur saja saya tidak tahu itu termasuk bakso enak atau biasa saja. Yang jelas pentol baksonya termasuk hebat karena kentara sekali rasa dagingnya. Begitu dibelah tekstur bagian dalamnya tidak rata, menandakan kalau adonannya lebih dominan daging dibanding kanji. Waktu saya tanya ke Mas Bowo, salah satu karyawan di sana, perbandingan adonannya adalah 5:1. Oo, pantas saja kalau begitu.

Tertarik mencoba? Harganya tidak mahal koq. Mungkin sekitar Rp6000-an. Soalnya tadi bakso dua plus es jeruk dua totalnya Rp15.000. Jadi harga baksonya ya kira-kira Rp6000 semangkuk, terus es jeruknya Rp1.500. Masih termasuk murah untuk ukuran bakso sekondang itu. :))

19 Mei 2009

Namanya Nieko Messa Yudha, seorang pebisnis yang cukup mapan. Tapi semenjak menikahi putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, ia mendapat gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) dan punya nama baru Wironegoro. Nah, saya menemuinya dalam kapasitasnya sebagai pengelola Jogja National Museum (JNM). Apalagi kalau bukan tugas liputan jurnalistik di tempat saya magang. Ceritanya saya disuruh mewawancarai sang Pangeran mengenai JNM.

Pertama kali dapat tugas tersebut, seperti biasa saya santai-santai saja. Tapi begitu tahu kalau yang harus ditemui adalah seorang Pangeran bergelar KPH, walah koq saya tiba-tiba saja jadi grogi. Dua minggu lebih tugas tersebut tidak saya garap. Meskipun nomor HP sudah di tangan dan alamat JNM sudah dikantongi, tapi saya tak kunjung turun ke lapangan. Grogi abisss..! :))

Beberapa lama kemudian, karena terdorong rasa tidak enak sama redaktur yang mengasuh saya, akhirnya nekat juga saya mengontak sang Pangeran. Sebelumnya saya sempat browsing di internet mengenai JNM dan juga KPH Wironegoro. Dapat beberapa referensi yang memberi bocoran sedikit, dan ini membuat saya bisa sedikit rileks. So, saya pun menelepon.

Begitu telepon diangkat jadi kikuk juga. Mau pakai panggilan apa nih? Masa iya mau memanggil lengkap KPH Wironegoro? Rasanya tidak mungkin deh. Akhirnya nekat saya sok akrab saja dan panggil Mas Nico yang memang jadi panggilan akrabnya. Hehehe. Tahu tidak, ternyata kemudian KPH Wironegoro menyebut dirinya sebagai Wiro. Tentu saja saya jadi salting karena merasa salah panggil. :))

Untungnya semua berjalan lancar. Kami membuat janji dan bertemu keesokan harinya di JNM. Ugh, betapa senangnya bisa bertemu dengan kerabat dekat Kraton Yogyakarta. Bayangkan, istri KPH Wironegoro merupakan calon penerus tahta Kraton Yogyakarta karena merupakan anak sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X. Itu artinya, kalau boleh GR, saya sedang berhadapan dengan suami calon Ratu Yogyakarta. Hehehehe....

Sepulang dari wawancara di JNM itu, benak saya berbisik nakal. Untung saja saya bertemu Pangeran di jaman modern seperti sekarang. Kalau saja bertemunya di jaman monarki jadul kala, tentu saya harus terlebih dahulu menyembah sang Pangeran. Bicaranya pun harus dengan bahasa Jawa kromo inggil yang saya sama sekali tidak tahu. Hihihi....

Catatan: Foto dari sinarharapan.co.id.

Namanya Nieko Messa Yudha, seorang pebisnis yang cukup mapan. Tapi semenjak menikahi putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X, ia mendapat gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) dan punya nama baru Wironegoro. Nah, saya menemuinya dalam kapasitasnya sebagai pengelola Jogja National Museum (JNM). Apalagi kalau bukan tugas liputan jurnalistik di tempat saya magang. Ceritanya saya disuruh mewawancarai sang Pangeran mengenai JNM.

Pertama kali dapat tugas tersebut, seperti biasa saya santai-santai saja. Tapi begitu tahu kalau yang harus ditemui adalah seorang Pangeran bergelar KPH, walah koq saya tiba-tiba saja jadi grogi. Dua minggu lebih tugas tersebut tidak saya garap. Meskipun nomor HP sudah di tangan dan alamat JNM sudah dikantongi, tapi saya tak kunjung turun ke lapangan. Grogi abisss..! :))

Beberapa lama kemudian, karena terdorong rasa tidak enak sama redaktur yang mengasuh saya, akhirnya nekat juga saya mengontak sang Pangeran. Sebelumnya saya sempat browsing di internet mengenai JNM dan juga KPH Wironegoro. Dapat beberapa referensi yang memberi bocoran sedikit, dan ini membuat saya bisa sedikit rileks. So, saya pun menelepon.

Begitu telepon diangkat jadi kikuk juga. Mau pakai panggilan apa nih? Masa iya mau memanggil lengkap KPH Wironegoro? Rasanya tidak mungkin deh. Akhirnya nekat saya sok akrab saja dan panggil Mas Nico yang memang jadi panggilan akrabnya. Hehehe. Tahu tidak, ternyata kemudian KPH Wironegoro menyebut dirinya sebagai Wiro. Tentu saja saya jadi salting karena merasa salah panggil. :))

Untungnya semua berjalan lancar. Kami membuat janji dan bertemu keesokan harinya di JNM. Ugh, betapa senangnya bisa bertemu dengan kerabat dekat Kraton Yogyakarta. Bayangkan, istri KPH Wironegoro merupakan calon penerus tahta Kraton Yogyakarta karena merupakan anak sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X. Itu artinya, kalau boleh GR, saya sedang berhadapan dengan suami calon Ratu Yogyakarta. Hehehehe....

Sepulang dari wawancara di JNM itu, benak saya berbisik nakal. Untung saja saya bertemu Pangeran di jaman modern seperti sekarang. Kalau saja bertemunya di jaman monarki jadul kala, tentu saya harus terlebih dahulu menyembah sang Pangeran. Bicaranya pun harus dengan bahasa Jawa kromo inggil yang saya sama sekali tidak tahu. Hihihi....

Catatan: Foto dari sinarharapan.co.id.

16 Mei 2009

Jum'at kemarin rupanya bukan hari baik saya. Beberapa kejadian tidak menyenangkan saya alami di hari itu. Mulai dari pembatalan kuliah secara sepihak dari dosen (padahal sudah jauh-jauh datang), reaksi tidak enak atas kinerja saya dari seorang rekan di tempat magang, dan malamnya saya secara tidak langsung mendapat kritik keras dari salah seorang kontributor BloggerJambi.com.

Dari semua kejadian tidak enak tersebut, kritik dalam blog BloggerJambi.com menjadi yang paling tidak enak. Saya benar-benar 'tertampar' sekali. Apalagi kritik tersebut diberi judul pedas pula, "Hangat-hangat Tahi Ayam". Tapi saya tidak marah ataupun tersinggung. Saya justru berterima kasih sekali atas kritik tersebut. Dan saya sadar, saya memang pantas mendapat kritik seperti itu.

Ada dua hal yang saya garis bawahi dalam kritik yang dibuat oleh rekan BuJang itu. Pertama, kelalaian saya mengurusi blog BloggerJambi.com, dan kedua adalah kebiasaan jelek saya yang jarang berkunjung balik ke blog rekan-rekan yang sudah berkunjung kemari. Kedua-duanya saya akui sebagai kesalahan saya, dan untuk itu saya meminta maaf sebesar-besarnya pada rekan-rekan sekalian. Namun ijinkanlah saya untuk memberi sedikit penjelasan.

Mengenai BloggerJambi.com yang tidak pernah di-update, saya tidak mau disalahkan sepenuhnya. Blog tersebut saya buat bukan untuk saya pribadi. Saya membuatnya dengan tujuan sebagai ajang silaturahim antar blogger Jambi, baik yang berdomisili di Jambi maupun di luar Jambi. Formatnya, para blogger Jambi tersebut menjadi kontributor dan menyumbang posting. Kenyataannya, yang berminat hanya segelintir orang. Dan yang benar-benar berkontribusi hanya satu orang saja, yakni rekan BuJang.

Lama tidak di-update, rupanya banyak blogger Jambi yang merasa gerah. Sebelum rekan BuJang menuliskan kritiknya, sebenarnya sudah banyak kritik yang saya terima lewat kolom komentar blog tersebut. Rata-rata menanyakan kenapa koq tidak sering di-update. Ketika saya jelaskan bahwa blog itu berformat partisipasi dan menerima sumbangan tulisan dari rekan-rekan blogger Jambi yang peduli, hampir semuanya berkilah "untuk blog sendiri saja susah, apalagi untuk blog lain."

Ada pula yang mengatakan kalau keberadaan BloggerJambi.com seolah hendak menyaingi blog komunitas blogger Jambi yang sudah lebih dulu eksis, yakni bloggerjambi.blogspot.com. Hal ini perlu diluruskan. Saya bahkan pernah menawarkan pada pengelola blog tersebut untuk memakai nama domain bloggerjambi.com, tapi sampai sekarang tidak ada respon. Beberapa rekan blogger Jambi yang saya tahu akrab dengan blog dan blogosphere juga sudah saya beri tawaran untuk menjadi admin blog tersebut, tapi semuanya angkat tangan.

So, solusi bagi BloggerJambi.com mungkin hanya dua: (1) diteruskan dengan keterlibatan dan kepedulian rekan-rekan blogger Jambi yang lain, atau (2) ditutup saja selama-lamanya. Pilihannya bukan pada saya karena sejak awal saya tidak memosisikan diri sebagai pemilik blog tersebut. Keputusan dan masa depan BloggerJambi.com tergantung pada sikap teman-teman blogger Jambi yang merasa ikut memiliki dan peduli pada blog tersebut.

Oya, soal jarangnya saya berkunjung balik, untuk ini saya harus memohon pengertian teman-teman semua. Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, sejak magang di Harian Jogja waktu online saya sudah sangat jauh berkurang. Selain magang, saya juga masih harus menempuh beberapa mata kuliah lho. Jadi, dari biasanya bisa online sampai 4-5 jam sehari, sekarang paling banter hanya 1-2 jam saja. Itupun lebih banyak saya habiskan untuk mencari referensi tambahan demi memperkaya hasil liputan saya.

Masa magang saya hanya sampai 31 Mei 2009, dan kuliah saya juga akan selesai dalam waktu tak lama kemudian. Setelah itu saya baru bisa punya banyak waktu luang lagi untuk online. Apalagi jika ternyata setelah lulus tak ada media massa yang tertarik memakai tenaga saya sebagai reporter. Soalnya, mau tak mau saya harus bekerja keras mencari nafkah di internet. :))

Itu saja dari saya. Harap maklum.

Jum'at kemarin rupanya bukan hari baik saya. Beberapa kejadian tidak menyenangkan saya alami di hari itu. Mulai dari pembatalan kuliah secara sepihak dari dosen (padahal sudah jauh-jauh datang), reaksi tidak enak atas kinerja saya dari seorang rekan di tempat magang, dan malamnya saya secara tidak langsung mendapat kritik keras dari salah seorang kontributor BloggerJambi.com.

Dari semua kejadian tidak enak tersebut, kritik dalam blog BloggerJambi.com menjadi yang paling tidak enak. Saya benar-benar 'tertampar' sekali. Apalagi kritik tersebut diberi judul pedas pula, "Hangat-hangat Tahi Ayam". Tapi saya tidak marah ataupun tersinggung. Saya justru berterima kasih sekali atas kritik tersebut. Dan saya sadar, saya memang pantas mendapat kritik seperti itu.

Ada dua hal yang saya garis bawahi dalam kritik yang dibuat oleh rekan BuJang itu. Pertama, kelalaian saya mengurusi blog BloggerJambi.com, dan kedua adalah kebiasaan jelek saya yang jarang berkunjung balik ke blog rekan-rekan yang sudah berkunjung kemari. Kedua-duanya saya akui sebagai kesalahan saya, dan untuk itu saya meminta maaf sebesar-besarnya pada rekan-rekan sekalian. Namun ijinkanlah saya untuk memberi sedikit penjelasan.

Mengenai BloggerJambi.com yang tidak pernah di-update, saya tidak mau disalahkan sepenuhnya. Blog tersebut saya buat bukan untuk saya pribadi. Saya membuatnya dengan tujuan sebagai ajang silaturahim antar blogger Jambi, baik yang berdomisili di Jambi maupun di luar Jambi. Formatnya, para blogger Jambi tersebut menjadi kontributor dan menyumbang posting. Kenyataannya, yang berminat hanya segelintir orang. Dan yang benar-benar berkontribusi hanya satu orang saja, yakni rekan BuJang.

Lama tidak di-update, rupanya banyak blogger Jambi yang merasa gerah. Sebelum rekan BuJang menuliskan kritiknya, sebenarnya sudah banyak kritik yang saya terima lewat kolom komentar blog tersebut. Rata-rata menanyakan kenapa koq tidak sering di-update. Ketika saya jelaskan bahwa blog itu berformat partisipasi dan menerima sumbangan tulisan dari rekan-rekan blogger Jambi yang peduli, hampir semuanya berkilah "untuk blog sendiri saja susah, apalagi untuk blog lain."

Ada pula yang mengatakan kalau keberadaan BloggerJambi.com seolah hendak menyaingi blog komunitas blogger Jambi yang sudah lebih dulu eksis, yakni bloggerjambi.blogspot.com. Hal ini perlu diluruskan. Saya bahkan pernah menawarkan pada pengelola blog tersebut untuk memakai nama domain bloggerjambi.com, tapi sampai sekarang tidak ada respon. Beberapa rekan blogger Jambi yang saya tahu akrab dengan blog dan blogosphere juga sudah saya beri tawaran untuk menjadi admin blog tersebut, tapi semuanya angkat tangan.

So, solusi bagi BloggerJambi.com mungkin hanya dua: (1) diteruskan dengan keterlibatan dan kepedulian rekan-rekan blogger Jambi yang lain, atau (2) ditutup saja selama-lamanya. Pilihannya bukan pada saya karena sejak awal saya tidak memosisikan diri sebagai pemilik blog tersebut. Keputusan dan masa depan BloggerJambi.com tergantung pada sikap teman-teman blogger Jambi yang merasa ikut memiliki dan peduli pada blog tersebut.

Oya, soal jarangnya saya berkunjung balik, untuk ini saya harus memohon pengertian teman-teman semua. Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, sejak magang di Harian Jogja waktu online saya sudah sangat jauh berkurang. Selain magang, saya juga masih harus menempuh beberapa mata kuliah lho. Jadi, dari biasanya bisa online sampai 4-5 jam sehari, sekarang paling banter hanya 1-2 jam saja. Itupun lebih banyak saya habiskan untuk mencari referensi tambahan demi memperkaya hasil liputan saya.

Masa magang saya hanya sampai 31 Mei 2009, dan kuliah saya juga akan selesai dalam waktu tak lama kemudian. Setelah itu saya baru bisa punya banyak waktu luang lagi untuk online. Apalagi jika ternyata setelah lulus tak ada media massa yang tertarik memakai tenaga saya sebagai reporter. Soalnya, mau tak mau saya harus bekerja keras mencari nafkah di internet. :))

Itu saja dari saya. Harap maklum.

11 Mei 2009

Bukan karena digebuk Google kalau kemudian saya jatuh sakit dan ambruk selama satu minggu. Ya, mulai malam Senin pekan lalu badan saya panas-dingin, disusul pusing-pusing, dan kemudian juga dilengkapi dengan (maaf) buang air besar yang terlalu sering. Wah, benar-benar serangan yang komplit. Semua jenis penyakit menyerang dalam waktu bersamaan. Tak heran kalau sayapun jadi tergolek lesu tanpa daya.

Selama itu badan saya terasa lemas bukan main. Hal ini diperparah dengan lidah yang jadi pahit, sehingga untuk makan rasanya jadi tak karuan. Alhasil, apapun makanannya selalu saja terasa tidak enak di mulut. Sampai-sampai sate kambing langganan pun rasanya jadi aneh. Walah... :((

Karena kondisi fisik yang begitu pula saya meminta ijin tidak masuk pada redaktur yang membimbing saya selama magang di Harian Jogja. Untungnya beliau bisa mengerti kondisi saya dan menyarankan untuk istirahat sampai benar-benar sembuh. Tapi saya sendiri tidak mau libur lama-lama. Sayang betul rasanya kalau waktu magang yang hanya tinggal 3 minggu ini saya sia-siakan.

Untunglah penderitaan itu cepat berakhir. Mulai kemarin badan saya terasa lebih enak. Pusing-pusingnya sudah hilang, panasnya sudah jauh menurun, dan perut tak lagi rewel. Tapi rupanya saya belum diberi kesembuhan total. Pasalnya, kini gantian flu dan batuk yang menghinggapi saya. Hmmmm....

Btw, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang telah memberikan support selama saya sakit. Saya juga mohon maaf karena belum bisa menjawab komentar teman-teman di dua posting terakhir. Asal tahu saja, dua posting itu adalah posting terjadwal yang saya buat sebelum saya jatuh sakit. :))

Bukan karena digebuk Google kalau kemudian saya jatuh sakit dan ambruk selama satu minggu. Ya, mulai malam Senin pekan lalu badan saya panas-dingin, disusul pusing-pusing, dan kemudian juga dilengkapi dengan (maaf) buang air besar yang terlalu sering. Wah, benar-benar serangan yang komplit. Semua jenis penyakit menyerang dalam waktu bersamaan. Tak heran kalau sayapun jadi tergolek lesu tanpa daya.

Selama itu badan saya terasa lemas bukan main. Hal ini diperparah dengan lidah yang jadi pahit, sehingga untuk makan rasanya jadi tak karuan. Alhasil, apapun makanannya selalu saja terasa tidak enak di mulut. Sampai-sampai sate kambing langganan pun rasanya jadi aneh. Walah... :((

Karena kondisi fisik yang begitu pula saya meminta ijin tidak masuk pada redaktur yang membimbing saya selama magang di Harian Jogja. Untungnya beliau bisa mengerti kondisi saya dan menyarankan untuk istirahat sampai benar-benar sembuh. Tapi saya sendiri tidak mau libur lama-lama. Sayang betul rasanya kalau waktu magang yang hanya tinggal 3 minggu ini saya sia-siakan.

Untunglah penderitaan itu cepat berakhir. Mulai kemarin badan saya terasa lebih enak. Pusing-pusingnya sudah hilang, panasnya sudah jauh menurun, dan perut tak lagi rewel. Tapi rupanya saya belum diberi kesembuhan total. Pasalnya, kini gantian flu dan batuk yang menghinggapi saya. Hmmmm....

Btw, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang telah memberikan support selama saya sakit. Saya juga mohon maaf karena belum bisa menjawab komentar teman-teman di dua posting terakhir. Asal tahu saja, dua posting itu adalah posting terjadwal yang saya buat sebelum saya jatuh sakit. :))

08 Mei 2009

Selain Google AdSense, Buy Blog Reviews menjadi program lain yang membingungkan saya. Kalau di Google AdSense saya masih belum bisa mendongkrak pendapatan sekaligus belum pernah menerima cek sejak pertama kali mendaftar hampir 2 tahun lalu, maka di BBB (Buy Blog Reviews maksudnya) saya juga belum pernah terima bayaran. Padahal saya sudah join program paid review ini selama setahun lebih.

Terakhir kali melongok ke member area, catatan earning saya baru menyentuh angka $2.85. Koq kecil sekali? Jelas saja kecil, lha wong saya cuma dapat bonus referensi dari sekitar 30-an referal yang saya punya. Tentu ceritanya bakal lain kalau saya juga dapat job menulis review. Tapi persoalannya saya belum pernah sekalipun memperoleh job review dari Buy Blog Reviews. Hebat!



Entah apa yang salah. Padahal setiap ada email pemberitahuan kalau di Buy Blog Reviews terdapat opportunity baru saya langsung login dan melakukan penawaran (bidding). Tapi ritual itu berhenti hanya sampai di sana saja. Belum pernah sekalipun saya menerima email pemberitahuan kalau penawaran (bid) saya menang. Alhasil, saya pun tidak pernah menggarap job review dari broker paid review yang satu ini.

Untungnya saya masih bisa mengandalkan Blogsvertise dan SponsoredReviews. Dari kedua broker inilah saya memperoleh job-job review yang terkadang saya publish di blog ini (maaf ya...). Dan praktis hanya dari dua broker inilah penghasilan paid review saya berasal. Selain Buy Blog Reviews yang masih sulit saya pahami, ReviewMe dan PayPerPost sampai sekarang juga tidak mau meng-approve blog-blog yang saya daftarkan. Padahal stats-nya jauh lebih baik dari saat saya daftarkan pertama kali beberapa bulan lalu.

Ya sudahlah, mungkin saya memang tidak berjodoh dengan Buy Blog Reviews. Lagipula kalau diperhatikan nilai bayarannya juga kecil-kecil. Bahkan ada beberapa advertiser yang tega memberi harga di bawah $5/review. Tak heran bila broker satu ini terlihat kurang peminat. Indikasinya, earning saya dari referal lama sekali naiknya. Padahal 30-an referal seharusnya sudah cukup lumayan untuk mendongkrak penghasilan pasif dari situs ini.

Btw, Anda punya pengalaman lain dengan Buy Blog Reviews? Bagi-bagi ceritanya dunks...

Selain Google AdSense, Buy Blog Reviews menjadi program lain yang membingungkan saya. Kalau di Google AdSense saya masih belum bisa mendongkrak pendapatan sekaligus belum pernah menerima cek sejak pertama kali mendaftar hampir 2 tahun lalu, maka di BBB (Buy Blog Reviews maksudnya) saya juga belum pernah terima bayaran. Padahal saya sudah join program paid review ini selama setahun lebih.

Terakhir kali melongok ke member area, catatan earning saya baru menyentuh angka $2.85. Koq kecil sekali? Jelas saja kecil, lha wong saya cuma dapat bonus referensi dari sekitar 30-an referal yang saya punya. Tentu ceritanya bakal lain kalau saya juga dapat job menulis review. Tapi persoalannya saya belum pernah sekalipun memperoleh job review dari Buy Blog Reviews. Hebat!



Entah apa yang salah. Padahal setiap ada email pemberitahuan kalau di Buy Blog Reviews terdapat opportunity baru saya langsung login dan melakukan penawaran (bidding). Tapi ritual itu berhenti hanya sampai di sana saja. Belum pernah sekalipun saya menerima email pemberitahuan kalau penawaran (bid) saya menang. Alhasil, saya pun tidak pernah menggarap job review dari broker paid review yang satu ini.

Untungnya saya masih bisa mengandalkan Blogsvertise dan SponsoredReviews. Dari kedua broker inilah saya memperoleh job-job review yang terkadang saya publish di blog ini (maaf ya...). Dan praktis hanya dari dua broker inilah penghasilan paid review saya berasal. Selain Buy Blog Reviews yang masih sulit saya pahami, ReviewMe dan PayPerPost sampai sekarang juga tidak mau meng-approve blog-blog yang saya daftarkan. Padahal stats-nya jauh lebih baik dari saat saya daftarkan pertama kali beberapa bulan lalu.

Ya sudahlah, mungkin saya memang tidak berjodoh dengan Buy Blog Reviews. Lagipula kalau diperhatikan nilai bayarannya juga kecil-kecil. Bahkan ada beberapa advertiser yang tega memberi harga di bawah $5/review. Tak heran bila broker satu ini terlihat kurang peminat. Indikasinya, earning saya dari referal lama sekali naiknya. Padahal 30-an referal seharusnya sudah cukup lumayan untuk mendongkrak penghasilan pasif dari situs ini.

Btw, Anda punya pengalaman lain dengan Buy Blog Reviews? Bagi-bagi ceritanya dunks...

06 Mei 2009

Entah siapa yang memulai, di saat PTC luar negeri banyak yang ditengarai sebagai SCAM, di Indonesia justru sedang terjadi 'demam PTC'. Ya, kita biasa menyebutnya sebagai PTC lokal karena situs-situs tersebut memang dioperasikan oleh orang Indonesia, berbahasa Indonesia (ya iyalah..!), serta menampilkan link-link iklan Indonesia pula. Intinya, benar-benar PTC yang Indonesia banget pokoknya. :D

Harus diakui PTC alias paid to click merupakan cara termudah memperoleh uang di internet. Tak perlu blog tak harus beli nama domain, cukup berbekal alamat imel saja kita sudah bisa mengumpulkan uang. Per klik rata-rata dihargai Rp 100, plus komisi referal yang berkisar antara Rp 25 - Rp 50 per klik. Kecil memang, tapi seperti kata pepatah, asalkan tekun lama-lama uang yang besar bakal bisa diraih juga. Tapi saya punya satu pertanyaan pada pengelola situs PTC: bagaimana mereka mendapatkan untung dan terus bertahan?

Mengapa saya mengajukan pertanyaan tersebut? Logika sederhana saja. Saya berangkat dari angka-angka yang dilontarkan oleh pengelola PTC itu sendiri. Saya hanya ingin membandingkan angka komisi per klik yang diberikan pengelola pada membernya, dengan harga jual iklan yang mereka tawarkan pada advertiser alias pemasang iklan yang iklannya bakal diklik oleh member PTC bersangkutan. Berangkat dari perhitungan angka-angka inilah kita bisa tahu bagaimana sisi bisnis situs PTC. Lebih jauh lagi, dengan perhitungan ini saya hanya ingin tahu sebenarnya program PTC masih layak tidak sih dipertahankan?

Saya ambil contoh situs duitasyik.com. Situs PTC yang baru launching ini 'berjanji' akan memberikan komisi Rp 100/klik plus Rp 50 untuk tiap klik yang dilakukan oleh referal. Sekarang kita bandingkan dengan harga jual space iklan. Dalam pasang iklannya saya temukan kalau harga iklan di duitasyik.com adalah Rp 25.000 per 500 member kunjungan. Ini artinya, advertiser hanya dibebani Rp 50 untuk tiap klik yang dilakukan member PTC ini.

Anda yang kritis tentu cepat paham kalau hasil perhitungan sederhana di atas dari kacamata bisnis adalah sesuatu yang tidak mungkin. Dengan kata lain, duitasyik.com seharusnya merugi bila benar-benar menggunakan angka-angka tersebut. Bayangkan saja, duitasyik.com harus membayar Rp 100 untuk tiap klik yang dilakukan membernya, sementara pengelola hanya menerima Rp 50/klik dari advertiser. Dihitung sampai di sini saja seharusnya PTC ini sudah tekor. Belum lagi kalau kita sertakan komisi referal Rp 50/klik. Jadi tekor dua kali deh PTC ini.

Hitung-hitungan 'hampir masuk akal' dilakukan oleh klikptc.com dan klik-uang.com. Saya bilang hampir masuk akal karena harga iklan yang dipatok pengelola lebih besar dari jumlah komisi yang dijanjikan pada member. Kedua situs PTC ini mematok harga Rp 20.000/100 klik. Itu sama dengan Rp 200/klik, lebih besar dari komisi untuk member yang bernilai Rp 100/klik. Tapi hitung-hitungan jadi sedikit membingungkan kalau faktor komisi referal dimasukkan. Kalaupun keduanya bisa meraup untung, maka jumlahnya pasti sedikit sekali.

Hitung-hitungan jadi semakin membingungkan saat kita melihat harga pemasangan iklan untuk jumlah klik yang lebih besar. Klikptc.com mematok harga Rp 700.000 untuk 5000 klik, ini berarti per klik berharga Rp 140. Padahal untuk satu klik yang dilakukan oleh member dengan satu referal, pengelola harus membayar Rp 150/klik. Artinya, rugi Rp 10/klik. Sedangkan klik-uang.com lebih gila lagi. Situs ini mematok harga Rp 575.000 untuk 5.000 klik, yang berarti tiap klik cuma bernilai Rp 115. Padahal situs ini menjanjikan komisi Rp 100/klik plus Rp 50/klik referal pada membernya.

Satu hal penting yang harus dicatat, pengeluaran pengelola untuk membayar komisi member bisa jadi sebesar Rp 250/klik. Dari mana asal angka itu? Kita contohkan saja si A adalah member PTC lokal. Si A punya referal/downline bernama B. Nah, jika A dan B sama-sama melakukan klik ke satu link iklan, maka pengelola PTC harus membayar Rp 100 untuk klik yang dilakukan A, Rp 100 untuk klik yang dilakukan B, dan Rp 50 untuk komisi referal A karena B sudah mengklik iklan. So, totalnya adalah Rp 250/klik. Kalau ada pengelola PTC yang memasang harga iklan di bawah angka tersebut (Rp 250/klik), seharusnya mereka akan rugi besar.

Saya tidak tahu apakah para pengelola PTC-PTC lokal memiliki hitung-hitungan lain yang membuat mereka dapat terus bertahan dan eksis. Anda mungkin lebih tahu?

Entah siapa yang memulai, di saat PTC luar negeri banyak yang ditengarai sebagai SCAM, di Indonesia justru sedang terjadi 'demam PTC'. Ya, kita biasa menyebutnya sebagai PTC lokal karena situs-situs tersebut memang dioperasikan oleh orang Indonesia, berbahasa Indonesia (ya iyalah..!), serta menampilkan link-link iklan Indonesia pula. Intinya, benar-benar PTC yang Indonesia banget pokoknya. :D

Harus diakui PTC alias paid to click merupakan cara termudah memperoleh uang di internet. Tak perlu blog tak harus beli nama domain, cukup berbekal alamat imel saja kita sudah bisa mengumpulkan uang. Per klik rata-rata dihargai Rp 100, plus komisi referal yang berkisar antara Rp 25 - Rp 50 per klik. Kecil memang, tapi seperti kata pepatah, asalkan tekun lama-lama uang yang besar bakal bisa diraih juga. Tapi saya punya satu pertanyaan pada pengelola situs PTC: bagaimana mereka mendapatkan untung dan terus bertahan?

Mengapa saya mengajukan pertanyaan tersebut? Logika sederhana saja. Saya berangkat dari angka-angka yang dilontarkan oleh pengelola PTC itu sendiri. Saya hanya ingin membandingkan angka komisi per klik yang diberikan pengelola pada membernya, dengan harga jual iklan yang mereka tawarkan pada advertiser alias pemasang iklan yang iklannya bakal diklik oleh member PTC bersangkutan. Berangkat dari perhitungan angka-angka inilah kita bisa tahu bagaimana sisi bisnis situs PTC. Lebih jauh lagi, dengan perhitungan ini saya hanya ingin tahu sebenarnya program PTC masih layak tidak sih dipertahankan?

Saya ambil contoh situs duitasyik.com. Situs PTC yang baru launching ini 'berjanji' akan memberikan komisi Rp 100/klik plus Rp 50 untuk tiap klik yang dilakukan oleh referal. Sekarang kita bandingkan dengan harga jual space iklan. Dalam pasang iklannya saya temukan kalau harga iklan di duitasyik.com adalah Rp 25.000 per 500 member kunjungan. Ini artinya, advertiser hanya dibebani Rp 50 untuk tiap klik yang dilakukan member PTC ini.

Anda yang kritis tentu cepat paham kalau hasil perhitungan sederhana di atas dari kacamata bisnis adalah sesuatu yang tidak mungkin. Dengan kata lain, duitasyik.com seharusnya merugi bila benar-benar menggunakan angka-angka tersebut. Bayangkan saja, duitasyik.com harus membayar Rp 100 untuk tiap klik yang dilakukan membernya, sementara pengelola hanya menerima Rp 50/klik dari advertiser. Dihitung sampai di sini saja seharusnya PTC ini sudah tekor. Belum lagi kalau kita sertakan komisi referal Rp 50/klik. Jadi tekor dua kali deh PTC ini.

Hitung-hitungan 'hampir masuk akal' dilakukan oleh klikptc.com dan klik-uang.com. Saya bilang hampir masuk akal karena harga iklan yang dipatok pengelola lebih besar dari jumlah komisi yang dijanjikan pada member. Kedua situs PTC ini mematok harga Rp 20.000/100 klik. Itu sama dengan Rp 200/klik, lebih besar dari komisi untuk member yang bernilai Rp 100/klik. Tapi hitung-hitungan jadi sedikit membingungkan kalau faktor komisi referal dimasukkan. Kalaupun keduanya bisa meraup untung, maka jumlahnya pasti sedikit sekali.

Hitung-hitungan jadi semakin membingungkan saat kita melihat harga pemasangan iklan untuk jumlah klik yang lebih besar. Klikptc.com mematok harga Rp 700.000 untuk 5000 klik, ini berarti per klik berharga Rp 140. Padahal untuk satu klik yang dilakukan oleh member dengan satu referal, pengelola harus membayar Rp 150/klik. Artinya, rugi Rp 10/klik. Sedangkan klik-uang.com lebih gila lagi. Situs ini mematok harga Rp 575.000 untuk 5.000 klik, yang berarti tiap klik cuma bernilai Rp 115. Padahal situs ini menjanjikan komisi Rp 100/klik plus Rp 50/klik referal pada membernya.

Satu hal penting yang harus dicatat, pengeluaran pengelola untuk membayar komisi member bisa jadi sebesar Rp 250/klik. Dari mana asal angka itu? Kita contohkan saja si A adalah member PTC lokal. Si A punya referal/downline bernama B. Nah, jika A dan B sama-sama melakukan klik ke satu link iklan, maka pengelola PTC harus membayar Rp 100 untuk klik yang dilakukan A, Rp 100 untuk klik yang dilakukan B, dan Rp 50 untuk komisi referal A karena B sudah mengklik iklan. So, totalnya adalah Rp 250/klik. Kalau ada pengelola PTC yang memasang harga iklan di bawah angka tersebut (Rp 250/klik), seharusnya mereka akan rugi besar.

Saya tidak tahu apakah para pengelola PTC-PTC lokal memiliki hitung-hitungan lain yang membuat mereka dapat terus bertahan dan eksis. Anda mungkin lebih tahu?

04 Mei 2009

Setelah sekian lama dinanungi keberuntungan, akhirnya saya kena 'getah' juga dari hobi bermain paid review. Ya, apalagi kalau bukan digebuk Google alias pagerank blog ini dipangkas. Berapa? Tidak tanggung-tanggung, dari PR3 langsung dibabat habis jadi PR0. Gila! Kaget betul saya waktu melihat banner mypagerank.net yang terletak di footer. Awalnya saya tidak percaya. Tapi setelah cross-check ke DigPagerank.com koq ternyata memang benar-benar sudah jadi 0.

Saya sadar, terlalu banyak memasukkan paid review di blog ini memang sangat besar resikonya. Masih beruntung saya baru dibabat sekarang. Artinya, saya masih sempat menuai hasil paid review dari blog ini. Setelah hampir 2,5 tahun berjalan, akhirnya kena juga saya digebuk. Dasar nasib. :)

Kalau dipikir-pikir sayang juga dari PR3 langsung turun jadi PR0. Dengan begini tentu saja penghasilan saya dari paid review akan sangat berkurang. Sebab selama ini blog inilah yang jadi andalan saya dan paling sering menerima job review. Kalau PR-nya 0, siapa yang mau menerima blog ini? Saya yakin tidak ada.

Itu baru dari paid review. Efek lain, 'proyek' jualan link juga jadi terhambat. Padahal baru kemarin saya menerima earning pertama dari jualan link underground. Banyaknya backlink, hits, dan trafik natural dari search engine menjadi nilai plus blog ini. Tapi setelah PR-nya anjlok, saya tidak yakin masih ada advertiser yang mau memasang iklan dalam bentuk link di sini. Apalah arti backlink dan trafik kalau PR-nya 0?

Ya sudahlah, saya tidak boleh bersedih hati hanya karena pagerank anjlok. Kalau mau mengambil sisi positif, dengan anjloknya PR saya tidak lagi menyisipi paid review di blog ini. Artinya, para pelanggan RSS feed blog ini tidak lagi merasa terganggu. Jadi yang akan diterima pelanggan hanya benar-benar posting dari saya untuk pembaca, bukan untuk advertiser. Harapannya, mudah-mudahan tanpa sisipan paid review pelanggan RSS feed blog ini bisa melonjak. Tidak perlu sampai 1000 pelanggan seperti punya Mas Medhy. Bisa menembus angka 500 pelanggan saja di akhir tahun ini sudah merupakan sebuah berkah bagi saya. Amin. :))

* Gambar ilustrasi saya ambil dari Google Image. Entah siapa pemilik aslinya, soalnya saya pertama kali melihat gambar tersebut jadi cover ebooknya Denny Ardian. Lha, tadi di Google Image ada beberapa situs lain yang memajang gambar itu.

Setelah sekian lama dinanungi keberuntungan, akhirnya saya kena 'getah' juga dari hobi bermain paid review. Ya, apalagi kalau bukan digebuk Google alias pagerank blog ini dipangkas. Berapa? Tidak tanggung-tanggung, dari PR3 langsung dibabat habis jadi PR0. Gila! Kaget betul saya waktu melihat banner mypagerank.net yang terletak di footer. Awalnya saya tidak percaya. Tapi setelah cross-check ke DigPagerank.com koq ternyata memang benar-benar sudah jadi 0.

Saya sadar, terlalu banyak memasukkan paid review di blog ini memang sangat besar resikonya. Masih beruntung saya baru dibabat sekarang. Artinya, saya masih sempat menuai hasil paid review dari blog ini. Setelah hampir 2,5 tahun berjalan, akhirnya kena juga saya digebuk. Dasar nasib. :)

Kalau dipikir-pikir sayang juga dari PR3 langsung turun jadi PR0. Dengan begini tentu saja penghasilan saya dari paid review akan sangat berkurang. Sebab selama ini blog inilah yang jadi andalan saya dan paling sering menerima job review. Kalau PR-nya 0, siapa yang mau menerima blog ini? Saya yakin tidak ada.

Itu baru dari paid review. Efek lain, 'proyek' jualan link juga jadi terhambat. Padahal baru kemarin saya menerima earning pertama dari jualan link underground. Banyaknya backlink, hits, dan trafik natural dari search engine menjadi nilai plus blog ini. Tapi setelah PR-nya anjlok, saya tidak yakin masih ada advertiser yang mau memasang iklan dalam bentuk link di sini. Apalah arti backlink dan trafik kalau PR-nya 0?

Ya sudahlah, saya tidak boleh bersedih hati hanya karena pagerank anjlok. Kalau mau mengambil sisi positif, dengan anjloknya PR saya tidak lagi menyisipi paid review di blog ini. Artinya, para pelanggan RSS feed blog ini tidak lagi merasa terganggu. Jadi yang akan diterima pelanggan hanya benar-benar posting dari saya untuk pembaca, bukan untuk advertiser. Harapannya, mudah-mudahan tanpa sisipan paid review pelanggan RSS feed blog ini bisa melonjak. Tidak perlu sampai 1000 pelanggan seperti punya Mas Medhy. Bisa menembus angka 500 pelanggan saja di akhir tahun ini sudah merupakan sebuah berkah bagi saya. Amin. :))

* Gambar ilustrasi saya ambil dari Google Image. Entah siapa pemilik aslinya, soalnya saya pertama kali melihat gambar tersebut jadi cover ebooknya Denny Ardian. Lha, tadi di Google Image ada beberapa situs lain yang memajang gambar itu.

02 Mei 2009

Kian santernya pemberitaan tentang virus flu babi rupanya menimbulkan keresahan banyak kalangan. Lihat saja bagaimana pemerintah dan masyarakat sama-sama kelabakan menanggapi berita ini. Jadi ingat waktu isu flu burung sedang hangat-hangatnya beberapa waktu lalu. Namun kali ini persoalan menjadi lain karena yang 'terlibat' adalah babi, hewan yang oleh penganut agama Islam (dan Yahudi?) tidak boleh dikonsumsi dalam bentuk apapun.

Berbarengan dengan santernya pemberitaan tentang flu babi, beberapa isu terkait dengan babi pun bermunculan ke permukaan. Salah satunya kabar yang saya peroleh dari seorang kenalan melalui imel. Dan tampaknya imel tersebut ia peroleh dari orang lain pula karena berkode Trs alias forward. Isinya? Dari judulnya saja Anda pasti sudah tahu apa isinya. Ya, judul itulah yang saya pakai untuk judul posting kali ini. Mau tahu isinya seperti apa? Silakan teruskan membaca!

Pepsi dan Coca Cola Mengandung Ekstrak Babi - TERBUKTI!

Baca dan Sebarkan !

Berita Buruk / Mengejutkan :

Pepsi dan Coca Cola mengandung ekstrak babi.
Kebanyakan orang2 tidak mengkonsumsi Pepsi dan Coca-Cola karena kandungan unsur kimia didalamnya yang sangat membahayakan tubuh seperti excessive carbonates, dll.

Namun, sekarang, tidak ada alasan yang lebih berbahaya lagi selain informasi berikut. Para ilmuwan dan peneliti di bidang kesehatan menyatakan bahwa mengkonsumsi Pepsi & Cola dapat mengakibatkan kanker dikarenakan bahan dasar pembuatannya berasal dari daging babi.

Babi adalah satu-satunya binatang yang mengkonsumsi sampah, kotoran hewan, dan urine. Pola makan babi ini menghasilkan tumbuhnya bakteri dan kuman yang sangat mematikan.

Berdasarkan laporan yang ditulis dalam Jordanian magazine, Rektor Delhi University Science and Technology , Dr. Mangoshada, secara ilmiah telah membuktikan bahwa bahan dasar pembuatan Pepsi dan Cola mengandung ekstrak yang berasal dari isi perut babi yang dapat mengakibatkan kanker dan penyakit mematikan lainnya.

Indian university menyelenggarakan uji terhadap dampak pengkonsumsian Pepsi dan Coca Cola. Hasil uji ini membuktikan bahwa pengkonsumsian Pepsi dan Coca memicu pada peningkatan kecepatan denyut jantung dan tekanan darah rendah.

Dan juga, pengkonsumsian 6 botol Pepsi atau Cola sekaligus dapat mengakibatkan kematian. Pepsi dan Coca Cola mengandung unsur2 kimia seperti: carbonic and phosphoric acids, citric acid yang dapat merusak gigi dan mengakibatkan kerapuhan pada tulang. Jika tulang (tulang disini adalah tulang yang berasal dari kerangka2 mayat yang telah dikuburkan selama 30 tahun) diletakkan dalam segelas Pepsi, maka tulang tersebut akan lumer selama 1 minggu.

Penelitian ini menetapkan bahwa calsium dapat larut dalam Pepsi dan Pepsi juga dapat melemahkan kandung kemih, ginjal, dan 'membunuh' pankreas dimana hal ini dapat mengakibatkan penyakit diabetes dan infeksi.

Penggemar Pepsi atau Coca-Cola, anda tidak perlu cemas karna masih banyak minuman-minuman lain di bumi ini, dan kita juga punya banyak alternatif minuman kesehatan seperti: jus buah, air kelapa, berbagai macam susu, dll, dan minuman2 ini juga sangat mudah didapatkan, bahkan di toko2 kecil skalipun.

MOHON SEBARKAN PESAN INI KEPADA SELURUH TEMAN DAN KONTAK YANG ADA DI MAIL ADDRESS ANDA


Nah, sudah tahu kan isinya bagaimana? Meskipun dalam imel tersebut disertakan hasil penelitian dari sejumlah universitas, namun saya pribadi belum bisa mempercayai kebenaran berita ini karena hanya disebarkan via imel. So, meskipun ada pesan untuk menyebarkan kabar ini, saya tidak menyarankan Anda untuk menyebar-luaskannya sebelum ada bukti otentik dan ilmiah mengenai hal ini. Tapi pilihan tentu saja di tangan Anda. :))

Kian santernya pemberitaan tentang virus flu babi rupanya menimbulkan keresahan banyak kalangan. Lihat saja bagaimana pemerintah dan masyarakat sama-sama kelabakan menanggapi berita ini. Jadi ingat waktu isu flu burung sedang hangat-hangatnya beberapa waktu lalu. Namun kali ini persoalan menjadi lain karena yang 'terlibat' adalah babi, hewan yang oleh penganut agama Islam (dan Yahudi?) tidak boleh dikonsumsi dalam bentuk apapun.

Berbarengan dengan santernya pemberitaan tentang flu babi, beberapa isu terkait dengan babi pun bermunculan ke permukaan. Salah satunya kabar yang saya peroleh dari seorang kenalan melalui imel. Dan tampaknya imel tersebut ia peroleh dari orang lain pula karena berkode Trs alias forward. Isinya? Dari judulnya saja Anda pasti sudah tahu apa isinya. Ya, judul itulah yang saya pakai untuk judul posting kali ini. Mau tahu isinya seperti apa? Silakan teruskan membaca!

Pepsi dan Coca Cola Mengandung Ekstrak Babi - TERBUKTI!

Baca dan Sebarkan !

Berita Buruk / Mengejutkan :

Pepsi dan Coca Cola mengandung ekstrak babi.
Kebanyakan orang2 tidak mengkonsumsi Pepsi dan Coca-Cola karena kandungan unsur kimia didalamnya yang sangat membahayakan tubuh seperti excessive carbonates, dll.

Namun, sekarang, tidak ada alasan yang lebih berbahaya lagi selain informasi berikut. Para ilmuwan dan peneliti di bidang kesehatan menyatakan bahwa mengkonsumsi Pepsi & Cola dapat mengakibatkan kanker dikarenakan bahan dasar pembuatannya berasal dari daging babi.

Babi adalah satu-satunya binatang yang mengkonsumsi sampah, kotoran hewan, dan urine. Pola makan babi ini menghasilkan tumbuhnya bakteri dan kuman yang sangat mematikan.

Berdasarkan laporan yang ditulis dalam Jordanian magazine, Rektor Delhi University Science and Technology , Dr. Mangoshada, secara ilmiah telah membuktikan bahwa bahan dasar pembuatan Pepsi dan Cola mengandung ekstrak yang berasal dari isi perut babi yang dapat mengakibatkan kanker dan penyakit mematikan lainnya.

Indian university menyelenggarakan uji terhadap dampak pengkonsumsian Pepsi dan Coca Cola. Hasil uji ini membuktikan bahwa pengkonsumsian Pepsi dan Coca memicu pada peningkatan kecepatan denyut jantung dan tekanan darah rendah.

Dan juga, pengkonsumsian 6 botol Pepsi atau Cola sekaligus dapat mengakibatkan kematian. Pepsi dan Coca Cola mengandung unsur2 kimia seperti: carbonic and phosphoric acids, citric acid yang dapat merusak gigi dan mengakibatkan kerapuhan pada tulang. Jika tulang (tulang disini adalah tulang yang berasal dari kerangka2 mayat yang telah dikuburkan selama 30 tahun) diletakkan dalam segelas Pepsi, maka tulang tersebut akan lumer selama 1 minggu.

Penelitian ini menetapkan bahwa calsium dapat larut dalam Pepsi dan Pepsi juga dapat melemahkan kandung kemih, ginjal, dan 'membunuh' pankreas dimana hal ini dapat mengakibatkan penyakit diabetes dan infeksi.

Penggemar Pepsi atau Coca-Cola, anda tidak perlu cemas karna masih banyak minuman-minuman lain di bumi ini, dan kita juga punya banyak alternatif minuman kesehatan seperti: jus buah, air kelapa, berbagai macam susu, dll, dan minuman2 ini juga sangat mudah didapatkan, bahkan di toko2 kecil skalipun.

MOHON SEBARKAN PESAN INI KEPADA SELURUH TEMAN DAN KONTAK YANG ADA DI MAIL ADDRESS ANDA


Nah, sudah tahu kan isinya bagaimana? Meskipun dalam imel tersebut disertakan hasil penelitian dari sejumlah universitas, namun saya pribadi belum bisa mempercayai kebenaran berita ini karena hanya disebarkan via imel. So, meskipun ada pesan untuk menyebarkan kabar ini, saya tidak menyarankan Anda untuk menyebar-luaskannya sebelum ada bukti otentik dan ilmiah mengenai hal ini. Tapi pilihan tentu saja di tangan Anda. :))

30 April 2009

Ini yang saya suka dari berjualan link lewat jalur bawah tanah: pembayarannya cepat! Tanggal 24 April saya terima email dari broker yang memberitahukan kalau dua blog saya dipilih advertiser untuk dipasangi link iklan. Keesokan harinya saya pasang link iklan itu di blog dan mengabari si broker. Eh, tanggal 28 April saya sudah terima kabar kalau si advertiser telah melakukan pembayaran ke akun PayPal saya. Hmmmm...

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, broker itu saya kenal dari Mas Tony Jauhari. Hebatnya, si advertiser mau membayar $30/pagerank. Berhubung dua blog saya masing-masing ber-PR3 dan PR1 (total 4), jadi total bayaran yang saya terima dari advertiser itu sebanyak $120. Lumayanlah, rasanya cukup untuk tambah-tambah modal menempuh hidup baru nanti. :)



Kecepatan pembayaran memang jadi poin plus lain dari jualan link lewat broker bawah tanah. Bila di Ask2Link saya mesti menunggu payment sampai bulan berikutnya, maka dengan broker ini cukup menunggu 4 hari saja. Tapi namanya juga pakai broker, tentu saja saya mesti membayar sejumlah komisi kepada si broker. Berapa? Tidak terlalu banyak koq, hanya 10% saja dari total payment yang saya terima dari advertiser. Komisi ini saya transfer sendiri kepada si broker lewat PayPal. So, kuncinya adalah kejujuran antara kita dan si broker.



Harapan saya sih, semoga saja bakal lebih banyak lagi link iklan yang diberikan oleh si broker ini. Amin. :))

Ini yang saya suka dari berjualan link lewat jalur bawah tanah: pembayarannya cepat! Tanggal 24 April saya terima email dari broker yang memberitahukan kalau dua blog saya dipilih advertiser untuk dipasangi link iklan. Keesokan harinya saya pasang link iklan itu di blog dan mengabari si broker. Eh, tanggal 28 April saya sudah terima kabar kalau si advertiser telah melakukan pembayaran ke akun PayPal saya. Hmmmm...

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, broker itu saya kenal dari Mas Tony Jauhari. Hebatnya, si advertiser mau membayar $30/pagerank. Berhubung dua blog saya masing-masing ber-PR3 dan PR1 (total 4), jadi total bayaran yang saya terima dari advertiser itu sebanyak $120. Lumayanlah, rasanya cukup untuk tambah-tambah modal menempuh hidup baru nanti. :)



Kecepatan pembayaran memang jadi poin plus lain dari jualan link lewat broker bawah tanah. Bila di Ask2Link saya mesti menunggu payment sampai bulan berikutnya, maka dengan broker ini cukup menunggu 4 hari saja. Tapi namanya juga pakai broker, tentu saja saya mesti membayar sejumlah komisi kepada si broker. Berapa? Tidak terlalu banyak koq, hanya 10% saja dari total payment yang saya terima dari advertiser. Komisi ini saya transfer sendiri kepada si broker lewat PayPal. So, kuncinya adalah kejujuran antara kita dan si broker.



Harapan saya sih, semoga saja bakal lebih banyak lagi link iklan yang diberikan oleh si broker ini. Amin. :))

28 April 2009

Jujur saja saya bingung mau kasih judul apa. Tapi yang jelas kali ini saya mau bercerita tentang pengalaman pertama saya memperoleh tawaran (baca: dolar) dari salah satu broker jual-beli link underground. Sudah lama saya mendaftarkan diri pada si broker, tapi baru sekarang ada advertiser yang berminat pada blog-blog yang saya ajukan pada si broker alternatif ini.

Kalau sebelumnya saya sudah beberapa kali memperoleh bayaran dari jual-beli link via Ask2Link, maka kali ini saya memperolehnya dari broker underground. Disebut underground karena si broker ini bukan perusahaan atau situs yang membuka jasa secara terang-terangan, serta cara kerjanya juga invisible alias tidak tampak di permukaan. Ia hanya berhubungan via email dengan orang-orang yang sudah dikenalnya dari hasil rekomendasi.

Saya kenal si broker ini atas rekomendasi Mas Tony Jauhari. Kebetulan sekali waktu itu si broker sedang mencari banyak blog baru untuk ditawarkan pada advertiser yang ia kenal. Sayapun mendaftarkan beberapa blog yang sekiranya layak dijual. Tidak semuanya ber-PR tinggi koq. Ada salah satu blog yang malah cuma ber-PR1. Tapi saya pede saja mendaftarkannya pada si broker.

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menunggu akhirnya ada juga tawaran untuk salah dua blog saya (ya, blog yang dapat tawaran dua). Si broker mengirim sebuah imel pendek saja. Isinya, "Hi, Congrats! Your blogs are chosen and here are your links:" plus dua buah link untuk masing-masing blog. Beda dengan situs broker jual-beli link macam Ask2Link, untuk jual-beli link bawah tanah macam ini link dari advertiser mesti kita pasang secara manual di bagian blog yang diinginkan oleh si advertiser.

Satu lagi, kalau di situs-situs jual-beli link kita hanya memajang link dengan anchor text tertentu yang pendek, maka kalau dalam transaksi dengan broker bawah tanah ini saya mesti memasang satu kalimat panjang. Nah, anchor text dan link-nya diselipkan di dalam kalimat tersebut sehingga tidak terlalu terlihat sebagai sebuah iklan link. Pesan dari si broker: Please copy and paste the whole sentence to your sidebar. So, seluruh kalimat mesti dikopi deh. :)

Kemudian di bawah instruksi dari broker, biasanya advertiser juga memberikan aturan-aturan ketat pada kita. Contohnya seperti yang saya dapat berikut ini:

Below is the instruction from the advertiser. Please read it carefully and do as instructed.

1. I need all the links to stay on sidebar for at least one year,
2. And I don't want any of the links to appear under a heading that says ads, sponsored links, sponsors, etc. I don't want anything that marks the links as an ad.
3. DO NOT add no-follow.


Ya, kesannya memang jauh lebih rumit dan lebih 'menakutkan' dibanding situs-situs jual-beli link. Jauh dari kata otomatis dan efisien, kita mesti melakukan semuanya secara manual. Cuma ada satu sisi baik yang menjadi kelebihan transaksi jual-beli link underground ini. Apa itu? Harganya tinggi-tinggi, Bro! Kalau di Ask2Link paling tinggi saya cuma dapat $8/blog sebulan untuk satu link, maka dari si broker ini saya dapat $30/PR. Gila, bukan? Kalau blog saya PR3, maka dari 1 blog tersebut saya bisa dapat $90. Itu baru 1 link lho. :)

Once done, please send me your paypal email address and please allow 5 working days for payment. The advertiser is paying $30 per PR...


Bagaimana? Asyik, bukan? Sayangnya, saya tidak berani memberikan alamat email si broker tadi di sini. Bukannya pelit, tapi saya juga dapatnya dari blogger lain dan tidak ada ijin untuk menyebar-luaskannya. So, mohon maaf ya. Tapi Anda bisa koq mencari broker-broker sejenis di forum-forum. Coba deh tanya sama Om Google yang serba tahu. :)

Jujur saja saya bingung mau kasih judul apa. Tapi yang jelas kali ini saya mau bercerita tentang pengalaman pertama saya memperoleh tawaran (baca: dolar) dari salah satu broker jual-beli link underground. Sudah lama saya mendaftarkan diri pada si broker, tapi baru sekarang ada advertiser yang berminat pada blog-blog yang saya ajukan pada si broker alternatif ini.

Kalau sebelumnya saya sudah beberapa kali memperoleh bayaran dari jual-beli link via Ask2Link, maka kali ini saya memperolehnya dari broker underground. Disebut underground karena si broker ini bukan perusahaan atau situs yang membuka jasa secara terang-terangan, serta cara kerjanya juga invisible alias tidak tampak di permukaan. Ia hanya berhubungan via email dengan orang-orang yang sudah dikenalnya dari hasil rekomendasi.

Saya kenal si broker ini atas rekomendasi Mas Tony Jauhari. Kebetulan sekali waktu itu si broker sedang mencari banyak blog baru untuk ditawarkan pada advertiser yang ia kenal. Sayapun mendaftarkan beberapa blog yang sekiranya layak dijual. Tidak semuanya ber-PR tinggi koq. Ada salah satu blog yang malah cuma ber-PR1. Tapi saya pede saja mendaftarkannya pada si broker.

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menunggu akhirnya ada juga tawaran untuk salah dua blog saya (ya, blog yang dapat tawaran dua). Si broker mengirim sebuah imel pendek saja. Isinya, "Hi, Congrats! Your blogs are chosen and here are your links:" plus dua buah link untuk masing-masing blog. Beda dengan situs broker jual-beli link macam Ask2Link, untuk jual-beli link bawah tanah macam ini link dari advertiser mesti kita pasang secara manual di bagian blog yang diinginkan oleh si advertiser.

Satu lagi, kalau di situs-situs jual-beli link kita hanya memajang link dengan anchor text tertentu yang pendek, maka kalau dalam transaksi dengan broker bawah tanah ini saya mesti memasang satu kalimat panjang. Nah, anchor text dan link-nya diselipkan di dalam kalimat tersebut sehingga tidak terlalu terlihat sebagai sebuah iklan link. Pesan dari si broker: Please copy and paste the whole sentence to your sidebar. So, seluruh kalimat mesti dikopi deh. :)

Kemudian di bawah instruksi dari broker, biasanya advertiser juga memberikan aturan-aturan ketat pada kita. Contohnya seperti yang saya dapat berikut ini:

Below is the instruction from the advertiser. Please read it carefully and do as instructed.

1. I need all the links to stay on sidebar for at least one year,
2. And I don't want any of the links to appear under a heading that says ads, sponsored links, sponsors, etc. I don't want anything that marks the links as an ad.
3. DO NOT add no-follow.


Ya, kesannya memang jauh lebih rumit dan lebih 'menakutkan' dibanding situs-situs jual-beli link. Jauh dari kata otomatis dan efisien, kita mesti melakukan semuanya secara manual. Cuma ada satu sisi baik yang menjadi kelebihan transaksi jual-beli link underground ini. Apa itu? Harganya tinggi-tinggi, Bro! Kalau di Ask2Link paling tinggi saya cuma dapat $8/blog sebulan untuk satu link, maka dari si broker ini saya dapat $30/PR. Gila, bukan? Kalau blog saya PR3, maka dari 1 blog tersebut saya bisa dapat $90. Itu baru 1 link lho. :)

Once done, please send me your paypal email address and please allow 5 working days for payment. The advertiser is paying $30 per PR...


Bagaimana? Asyik, bukan? Sayangnya, saya tidak berani memberikan alamat email si broker tadi di sini. Bukannya pelit, tapi saya juga dapatnya dari blogger lain dan tidak ada ijin untuk menyebar-luaskannya. So, mohon maaf ya. Tapi Anda bisa koq mencari broker-broker sejenis di forum-forum. Coba deh tanya sama Om Google yang serba tahu. :)

27 April 2009

Lama tidak bogwalking ke blognya Bro Izandi, ternyata dia baru saja meluncurkan satu proyek baru bulan kemarin. Proyek apa? Situs iklan baris gratis. Nama situsnya cukup unik, Iklanz.com. Menurut si empunya, pemilihan nama ini dikarenakan sudah tidak ada lagi stok yang tersisa buat nama domain ber-keyword "iklan baris", "iklan baris gratis", "iklan gratis", dll. So, daripada bingung diapun memilih nama domain Iklanz.com. Gabungan dari kata "iklan" dan "izandi". Maksa banget kali ye? :p

Sama dengan situs-situs sejenis yang sudah ada sebelumnya, di Iklanz.com kita bisa pasang iklan baris dengan mudah dan murah. Cara memasangnya sangat simpel. Cari saja menu "Pasang Iklan" di deretan menu yang ada di atas halaman. Dari sana kita akan dihantarkan pada halaman pemasangan iklan. Tinggal pilih, mau pasang iklan premium atau iklan gratis. Buat yang suka gratisan, tinggal isi form yang ada di halaman tersebut dan klik tombol "Pasang Iklan", maka iklan akan langsung terpasang.

Eits, jangan bingung ya kalau ternyata iklannya tidak kelihatan di bagian atas halaman. Karena iklannya gratisan, tempatnya berada di bagian bawah halaman. Kita harus menggulung halaman ke bawah untuk dapat melihat iklan yang baru dipasang tadi. Ribet? Tidak efektif? Iya juga sih. Kalau mau iklan Anda tampil di posisi atas halaman dan terlihat tanpa harus menggulung halaman, pasang saja ilan premium. Berhubung masih baru, harga yang dipatok cukup murah. Berapa? Rp 30ribu saja.

Yang hebat, dengan memasang iklan premium Anda dapat menentukan sendiri lama tayang iklannya. Hal ini melengkapi keunggulan lain dari iklan premium di Iklanz.com, yakni tampil di halaman awal dan bisa ditambahi gambar. Hmmm, ini baru pertama kali saya temui. Benar-benar satu metode promosi yang kreatif dan berani dari seorang Izandi. :) Tentu saja ini bisa jadi poin penting untuk menarik minat para pemasar internet atau blogger yang ingin pasang iklan baris demi kepentingan promosi online mereka.

Berminat mencoba?

Catatan: Selamat buat Bro Izandi atas peluncuran situs iklan baris gratisnya. Semoga situs tersebut tidak cepat mati seperti punya rekan-rekan yang lain. :D

Lama tidak bogwalking ke blognya Bro Izandi, ternyata dia baru saja meluncurkan satu proyek baru bulan kemarin. Proyek apa? Situs iklan baris gratis. Nama situsnya cukup unik, Iklanz.com. Menurut si empunya, pemilihan nama ini dikarenakan sudah tidak ada lagi stok yang tersisa buat nama domain ber-keyword "iklan baris", "iklan baris gratis", "iklan gratis", dll. So, daripada bingung diapun memilih nama domain Iklanz.com. Gabungan dari kata "iklan" dan "izandi". Maksa banget kali ye? :p

Sama dengan situs-situs sejenis yang sudah ada sebelumnya, di Iklanz.com kita bisa pasang iklan baris dengan mudah dan murah. Cara memasangnya sangat simpel. Cari saja menu "Pasang Iklan" di deretan menu yang ada di atas halaman. Dari sana kita akan dihantarkan pada halaman pemasangan iklan. Tinggal pilih, mau pasang iklan premium atau iklan gratis. Buat yang suka gratisan, tinggal isi form yang ada di halaman tersebut dan klik tombol "Pasang Iklan", maka iklan akan langsung terpasang.

Eits, jangan bingung ya kalau ternyata iklannya tidak kelihatan di bagian atas halaman. Karena iklannya gratisan, tempatnya berada di bagian bawah halaman. Kita harus menggulung halaman ke bawah untuk dapat melihat iklan yang baru dipasang tadi. Ribet? Tidak efektif? Iya juga sih. Kalau mau iklan Anda tampil di posisi atas halaman dan terlihat tanpa harus menggulung halaman, pasang saja ilan premium. Berhubung masih baru, harga yang dipatok cukup murah. Berapa? Rp 30ribu saja.

Yang hebat, dengan memasang iklan premium Anda dapat menentukan sendiri lama tayang iklannya. Hal ini melengkapi keunggulan lain dari iklan premium di Iklanz.com, yakni tampil di halaman awal dan bisa ditambahi gambar. Hmmm, ini baru pertama kali saya temui. Benar-benar satu metode promosi yang kreatif dan berani dari seorang Izandi. :) Tentu saja ini bisa jadi poin penting untuk menarik minat para pemasar internet atau blogger yang ingin pasang iklan baris demi kepentingan promosi online mereka.

Berminat mencoba?

Catatan: Selamat buat Bro Izandi atas peluncuran situs iklan baris gratisnya. Semoga situs tersebut tidak cepat mati seperti punya rekan-rekan yang lain. :D

26 April 2009

Saya sama sekali tidak tahu masalah motor. Jangankan mengotak-atik, bisa naik motor dengan baik dan benar saja baru beberapa tahun ini. Tepatnya setelah dapat failitas motor dari orang tua dan kemudian membeli motor sendiri beberapa saat sesudahnya. Artinya, saya ini awam sekali dalam dunia permotoran. Tapi 3 minggu terakhir magang di Harian Jogja, saya sudah seperti wartawan otomotif saja. Lho, koq bisa?

Ceritanya begini. Entah kebetulan atau tidak, selama 2 edisi terakhir Harian Jogja Minggu saya kebagian tugas liputan sepeda motor terus. Minggu tanggal 12 April 2009 saya menurunkan tulisan tentang Kawasaki KLX 150S di rubrik 'Otomotif' halaman 21. Lalu seminggu setelahnya saya menulis tentang Honda Absolute Revo 110cc di halaman yang sama. Nah, dalam rapat hari Kamis pekan lalu saya kebagian meliput Suzuki SkyDrive Dynamatic 125cc yang rencananya akan dimuat hari Minggu (26/4) ini.

Dasar tidak tahu-menahu masalah motor, saat bertemu narasumber saya jadi orang super blo'on. Semua hal saya tanyakan meskipun sebenarnya ada di brosur. :) Terkadang juga keluar pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang setelah saya utarakan membuat wajah saya jadi merah padam karena malu. Hehehe... Untung, meskipun menjadi penjual ternyata tidak semua narasumber yang saya temui di kantor agen-agen motor Jogja mengerti seluk-beluk dagangannya.

Seperti salah seorang narasumber yang saya temui saat liputan motor Honda Absolute Revo 110cc. Jabatannya lumayan tinggi di struktur organisasi kantor itu. Namun ternyata ia sempat 'berkeringat' juga waktu saya tanya yang agak aneh-aneh, seperti 1 liter bensin bisa untuk berapa kilometer? Si narasumber ini selama wawancara hanya membacakan brosur. Jadi saya agak bingung juga mau mengorek-korek lebih dalam (padahal aslinya saya yang bingung mau tanya apa).

Yang lebih 'aneh' lagi ya waktu menemui seorang manajer di kantor pemasaran salah satu merek motor pabrikan Jepang yang terletak di Jl. Magelang (maaf, identitasnya harus saya sembunyikan rapat-rapat). Pas saya wawancara dia hanya menunjukkan brosur dan manual guide produk. Begitu saya ajukan pertanyaan, dia bilang sudah ada di manual guide dan brosur. Terus, begitu saya tanya hal-hal teknis dia bilang tidak perlu ditulis. Dia malah terkesan mendikte saya untuk menulis beberapa hal yang menjadi kelebihan produknya.

Ada yang tidak beres? Jelas! Begitu pamit pulang saya disuruh menemui salah seorang stafnya. Saya menurut karena pikir saya mungkin si staf itu akan memberikan keterangan tambahan. Ternyata, eh, ternyata dugaan saya salah, Saudara-saudara. Begitu saya ketemu staf tersebut dia senyum-senyum sambil basa-basi sebentar. Kemudian tanpa banyak kata dia menyalami saya. Bukan salaman biasa karena di tangannya terselip amplop untuk saya. Walah...!

Tentu saja saya jadi serba salah. Refleks saya tarik tangan saya sehingga kami tidak jadi salaman. Kemudian saya memundurkan badan. Tapi staf itu mengejar dan akhirnya berhasil memasukkan amplop ke kantong kemeja saya. Duh, jadi beban nih. Tak mau menarik perhatian orang-orang yang ada di ruangan itu, sayapun membiarkan amplop tersebut di kantong dan pamit pulang.

Saya jadi wartawan amplop? Maaf, meski baru berstatus wartawan magang saya tahu etika profesi ini. Amplop adalah hal tabu bagi wartawan yang punya hati nurani. Karena sedikit-banyak amplop dapat mempengaruhi obyektifitas si wartawan. Tapi koq saya terima? Tenang. Saya hanya menahan amplop itu untuk sementara waktu koq. Bila sudah tiba saatnya saya akan mengembalikannya pada si pemberi, plus beberapa 'hadiah' tambahan dari saya. Apa rencananya? Biar jadi rahasia saya. Hehehe...

Setinggi-tingginya nilai uang dalam amplop seperti itu, sepengetahuan saya dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman kampus AKY Babarsari yang sudah kerja di media, paling-paling cuma Rp 50.000. Duh, koq cuma segitu? Padahal sekali menulis review saya bisa dapat $10 alias Rp 100.000. So, itulah sebabnya saya justru akan memberikan sejumlah hadiah saat mengembalikan amplop tersebut ke pemberinya. :))

Saya sama sekali tidak tahu masalah motor. Jangankan mengotak-atik, bisa naik motor dengan baik dan benar saja baru beberapa tahun ini. Tepatnya setelah dapat failitas motor dari orang tua dan kemudian membeli motor sendiri beberapa saat sesudahnya. Artinya, saya ini awam sekali dalam dunia permotoran. Tapi 3 minggu terakhir magang di Harian Jogja, saya sudah seperti wartawan otomotif saja. Lho, koq bisa?

Ceritanya begini. Entah kebetulan atau tidak, selama 2 edisi terakhir Harian Jogja Minggu saya kebagian tugas liputan sepeda motor terus. Minggu tanggal 12 April 2009 saya menurunkan tulisan tentang Kawasaki KLX 150S di rubrik 'Otomotif' halaman 21. Lalu seminggu setelahnya saya menulis tentang Honda Absolute Revo 110cc di halaman yang sama. Nah, dalam rapat hari Kamis pekan lalu saya kebagian meliput Suzuki SkyDrive Dynamatic 125cc yang rencananya akan dimuat hari Minggu (26/4) ini.

Dasar tidak tahu-menahu masalah motor, saat bertemu narasumber saya jadi orang super blo'on. Semua hal saya tanyakan meskipun sebenarnya ada di brosur. :) Terkadang juga keluar pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang setelah saya utarakan membuat wajah saya jadi merah padam karena malu. Hehehe... Untung, meskipun menjadi penjual ternyata tidak semua narasumber yang saya temui di kantor agen-agen motor Jogja mengerti seluk-beluk dagangannya.

Seperti salah seorang narasumber yang saya temui saat liputan motor Honda Absolute Revo 110cc. Jabatannya lumayan tinggi di struktur organisasi kantor itu. Namun ternyata ia sempat 'berkeringat' juga waktu saya tanya yang agak aneh-aneh, seperti 1 liter bensin bisa untuk berapa kilometer? Si narasumber ini selama wawancara hanya membacakan brosur. Jadi saya agak bingung juga mau mengorek-korek lebih dalam (padahal aslinya saya yang bingung mau tanya apa).

Yang lebih 'aneh' lagi ya waktu menemui seorang manajer di kantor pemasaran salah satu merek motor pabrikan Jepang yang terletak di Jl. Magelang (maaf, identitasnya harus saya sembunyikan rapat-rapat). Pas saya wawancara dia hanya menunjukkan brosur dan manual guide produk. Begitu saya ajukan pertanyaan, dia bilang sudah ada di manual guide dan brosur. Terus, begitu saya tanya hal-hal teknis dia bilang tidak perlu ditulis. Dia malah terkesan mendikte saya untuk menulis beberapa hal yang menjadi kelebihan produknya.

Ada yang tidak beres? Jelas! Begitu pamit pulang saya disuruh menemui salah seorang stafnya. Saya menurut karena pikir saya mungkin si staf itu akan memberikan keterangan tambahan. Ternyata, eh, ternyata dugaan saya salah, Saudara-saudara. Begitu saya ketemu staf tersebut dia senyum-senyum sambil basa-basi sebentar. Kemudian tanpa banyak kata dia menyalami saya. Bukan salaman biasa karena di tangannya terselip amplop untuk saya. Walah...!

Tentu saja saya jadi serba salah. Refleks saya tarik tangan saya sehingga kami tidak jadi salaman. Kemudian saya memundurkan badan. Tapi staf itu mengejar dan akhirnya berhasil memasukkan amplop ke kantong kemeja saya. Duh, jadi beban nih. Tak mau menarik perhatian orang-orang yang ada di ruangan itu, sayapun membiarkan amplop tersebut di kantong dan pamit pulang.

Saya jadi wartawan amplop? Maaf, meski baru berstatus wartawan magang saya tahu etika profesi ini. Amplop adalah hal tabu bagi wartawan yang punya hati nurani. Karena sedikit-banyak amplop dapat mempengaruhi obyektifitas si wartawan. Tapi koq saya terima? Tenang. Saya hanya menahan amplop itu untuk sementara waktu koq. Bila sudah tiba saatnya saya akan mengembalikannya pada si pemberi, plus beberapa 'hadiah' tambahan dari saya. Apa rencananya? Biar jadi rahasia saya. Hehehe...

Setinggi-tingginya nilai uang dalam amplop seperti itu, sepengetahuan saya dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman kampus AKY Babarsari yang sudah kerja di media, paling-paling cuma Rp 50.000. Duh, koq cuma segitu? Padahal sekali menulis review saya bisa dapat $10 alias Rp 100.000. So, itulah sebabnya saya justru akan memberikan sejumlah hadiah saat mengembalikan amplop tersebut ke pemberinya. :))

24 April 2009

Sejak magang di Harian Jogja saya memang kerepotan mencari waktu untuk online. Kalau dulu bisa 'mengudara' hingga berjam-jam di dunia maya, maka sekarang waktunya super duper terbatas. Bisa konsentrasi ol dalam sejam saja sudah merupakan berkah luar biasa bagi saya. Tapi semenjak kejadian tidak diinginkan kemarin, rasanya saya harus pintar-pintar menyempatkan diri untuk ol dan ngeblog

Kemarin siang, saat saya sedang ditelpon seseorang, masuk panggilan dari rekan Badoer. Wah, tumben-tumbenan, kata saya dalam hati. Berhubung pembicaraan sebelumnya belum selesai, panggilan dari rekan Badoer saya abaikan dulu. Eh, ternyata panggilannya tak hanya sekali. Saya langsung membatin, pasti ada apa-apa nih. Tapi berhubung pembicaraan sebelumnya belum selesai, saya tidak bisa menutup telpon dan ganti mengangkat panggilan dari rekan Badoer. Tanggung.

Setelah beberapa kali menelpon dan tidak bisa saya angkat, akhirnya rekan Badoer berhenti memanggil. Tapi tak lama kemudian ganti Bang Zalukhu yang menelepon. Sebuah SMS juga masuk. Walah, pasti ada sesuatu yang tidak beres, kata saya membatin. Beruntung sekali tak lama kemudian telepon sebelumnya sudah selesai sehingga saya bisa langsung menerima panggilan Bang Zal.

Kabar dari Bang Zalukhu cukup mengejutkan. Katanya blog saya disusupi orang tak bertanggungjawab. Penyebabnya, akun Blogger (email dan password) rekan Badoer yang merupakan guest blogger blog ini dicuri penjahat cyber. Bahasa bekennya sih pishing. Alhasil, si pencuri data itupun dengan leluasa bisa masuk ke dashboard saya dan mempublikasikan posting menyesatkan atas nama rekan Badoer. Isi posting itu sendiri bisa sangat merugikan jika link yang disertakan di dalamnya diklik.

Bagaimana bisa merugikan? Pasalnya link di dalam posting tersebut adalah situs yang tampilannya mirip sekali dengan Blogger. Sekali Anda memasukkan username dan password Blogger di situs pishing itu, maka habislah akun Blogger Anda. Kalau tidak cepat-cepat diganti username dan password-nya, besar kemungkinan akun tersebut akan diambil alih oleh oknum pembuat situs pishing tadi. Setelah memiliki akun Blogger Anda, si penjahat cyber ini dengan leluasa bisa mengacak-acak blog Anda.

So, selalu berhati-hati sebelum memasukkan username dan password di situs manapun. Selalu perhatikan alamat URL-nya. Bila alamatnya tidak sama dengan yang biasanya, maka lebih baik jangan pernah login. Oke?

Sejak magang di Harian Jogja saya memang kerepotan mencari waktu untuk online. Kalau dulu bisa 'mengudara' hingga berjam-jam di dunia maya, maka sekarang waktunya super duper terbatas. Bisa konsentrasi ol dalam sejam saja sudah merupakan berkah luar biasa bagi saya. Tapi semenjak kejadian tidak diinginkan kemarin, rasanya saya harus pintar-pintar menyempatkan diri untuk ol dan ngeblog

Kemarin siang, saat saya sedang ditelpon seseorang, masuk panggilan dari rekan Badoer. Wah, tumben-tumbenan, kata saya dalam hati. Berhubung pembicaraan sebelumnya belum selesai, panggilan dari rekan Badoer saya abaikan dulu. Eh, ternyata panggilannya tak hanya sekali. Saya langsung membatin, pasti ada apa-apa nih. Tapi berhubung pembicaraan sebelumnya belum selesai, saya tidak bisa menutup telpon dan ganti mengangkat panggilan dari rekan Badoer. Tanggung.

Setelah beberapa kali menelpon dan tidak bisa saya angkat, akhirnya rekan Badoer berhenti memanggil. Tapi tak lama kemudian ganti Bang Zalukhu yang menelepon. Sebuah SMS juga masuk. Walah, pasti ada sesuatu yang tidak beres, kata saya membatin. Beruntung sekali tak lama kemudian telepon sebelumnya sudah selesai sehingga saya bisa langsung menerima panggilan Bang Zal.

Kabar dari Bang Zalukhu cukup mengejutkan. Katanya blog saya disusupi orang tak bertanggungjawab. Penyebabnya, akun Blogger (email dan password) rekan Badoer yang merupakan guest blogger blog ini dicuri penjahat cyber. Bahasa bekennya sih pishing. Alhasil, si pencuri data itupun dengan leluasa bisa masuk ke dashboard saya dan mempublikasikan posting menyesatkan atas nama rekan Badoer. Isi posting itu sendiri bisa sangat merugikan jika link yang disertakan di dalamnya diklik.

Bagaimana bisa merugikan? Pasalnya link di dalam posting tersebut adalah situs yang tampilannya mirip sekali dengan Blogger. Sekali Anda memasukkan username dan password Blogger di situs pishing itu, maka habislah akun Blogger Anda. Kalau tidak cepat-cepat diganti username dan password-nya, besar kemungkinan akun tersebut akan diambil alih oleh oknum pembuat situs pishing tadi. Setelah memiliki akun Blogger Anda, si penjahat cyber ini dengan leluasa bisa mengacak-acak blog Anda.

So, selalu berhati-hati sebelum memasukkan username dan password di situs manapun. Selalu perhatikan alamat URL-nya. Bila alamatnya tidak sama dengan yang biasanya, maka lebih baik jangan pernah login. Oke?

15 April 2009

SEPASANG muda-mudi tersebut tampak sumringah di antara puluhan orang yang berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Minggu (12/4) sore itu. Mereka, Johan Sanjaya (27) dan Kate (26), memang sedang bergembira. Hari itu keduanya merayakan pernikahan mereka dengan cara unik, pawai keliling kota Jogja dengan sepeda onthel.

Johan dan Kate tidak hanya berdua. Orang tua mereka juga turut hadir bersama puluhan anggota Paguyuban Onthel Jogja (Podjok), sebuah komunitas penghobi sepeda. Dengan dikawal dua personil Polisi, rombongan pengantin bersepeda itu menyusuri rute sepanjang sekitar 5 km dari Jl. Malioboro sampai Wirosaban.

Orang-orang yang berada di sepanjang perjalanan tidak menyangka kalau pawai sepeda itu rombongan pengantin. Wajar saja, pasalnya tidak ada tanda khusus yang memperlihatkan identitas pengantin baru.

Sebagian anggota rombongan mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu. Yang pria berkemeja putih dipadu celana panjang putih lengkap dengan topi bulat ala pembesar-pembesar jaman kolonial Belanda, sementara yang wanita memakai kebaya. Sebagian peserta rombongan bercelana jeans dipadu kaos oblong. Bahkan kedua mempelai cuma bercelana pendek dan memakai kaos oblong.



Kalau saja tidak ada papan kecil bertuliskan “Just Married” yang dipasang di batang kemudi sepeda Johan, orang tidak akan tahu pawai tersebut adalah rombongan pengantin.

Mengenang Masa Lalu
Acara bertajuk “Sawung Jabo Mantu dengan Onthel” ini merupakan ide pasangan Gono dan Tutik dari komunitas Podjok. Sesuai namanya, hari itu Sawung Jabo memang sedang mantu. Johan anaknya mempersunting Kate, seorang gadis Australia tulen.

Menurut Sawung, dipilihnya Jogja sebagai tempat diadakannya pawai pengantin bersepeda ini adalah untuk mengenang nostalgia antara dirinya dan Susan Piper, sang isteri tercinta. Masa itu Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Masa di mana jalan-jalan Jogja masih dipenuhi orang-orang bersepeda. Di masa itulah keduanya bertemu.



Sawung dan Susan bertemu di tahun 1978. Waktu itu keduanya sama-sama aktif di Bengkel Teater binaan WS Rendra. Susan masih berstatus mahasiswi yang sedang mempelajari kebudayaan Jawa di keraton. Sedangkan Sawung aktif bermain musik dan teater. Hanya setahun setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah.

Alasan lain, Jogja adalah kota tempat Sawung Jabo mulai meniti karir. “Di kota inilah saya mulai berkarya, dan tempat saya mengalami kebangkitan dalam bermusik,” kata Sawung kepada wartawan saat rombongan berhenti sejenak di depan keraton.

Ketika ditanya alasannya memilih pawai bersepeda, sambil tertawa lelaki bernama asli Mochamad Djohansyah ini mengatakan, “Acara seperti ini kan tidak perlu biaya banyak, tapi tepat sasaran.”

Cerita Sawung dibenarkan Susan. Kepada Harian Jogja ia berkata bahwa Jogja merupakan kota bersejarah baginya dan suami. Ada banyak kenangan yang ia alami di Jogja. Meski sekarang tinggal di Sydney, Australia, namun kenangan-kenangan tersebut masih melekat. Karena itulah, ketika ada usulan untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Jogja, Susan langsung mengiyakan.

“Konsepnya sederhana, tapi unik sekali,” demikian ujar Susan menanggapi acara sore itu.

Teman SMA
Diarak keliling kota dengan sepeda tentunya menjadi pengalaman mengesankan bagi Kate. Ketika dimintai komentarnya, gadis bermata biru ini berkata sambil tersenyum renyah, “I'm really happy. It's very exciting.”

Lebih lanjut Kate bercerita tentang kisah cintanya dengan Johan. Keduanya adalah teman satu SMA. Namun keduanya belum menjalin cinta saat masih sama-sama sekolah. “Nothing special,” ujar Kate sambil melirik Johan ketika menceritakan masa-masa awal pertemuannya dengan sang suami.

Namun diam-diam mereka rupanya sama-sama menyimpan perasaan tertentu. Saat liburan bersama di Jepang dipilih Johan sebagai waktu yang tepat untuk meminang Kate. Pucuk dicinta ulam tiba, Kate menerima lamaran Johan. Keduanyapun lantas mengikat janji sehidup-semati.

Pawai bersepeda keliling kota Jogja, Minggu (12/4), lalu merupakan rangkaian terakhir dari perayaan pernikahan Johan dan Kate. “Akad nikahnya sudah di Bali,” cerita Susan. Dari Bali, acara lalu dilanjutkan dengan sebuah resepsi di Surabaya, tempat kelahiran Sawung Jabo. Dan terakhir dipilihlah Jogja sebagai kota pamungkas.

Sambil berseloroh, Susan mengatakan kalau ada seorang temannya yang menyebut acara pernikahan Johan dan Kate dengan istilah 'rabi tour'. “Pernikahan tiga kota, seperti tur saja,” kata dosen Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Ausralia ini sambil tertawa lepas. (M5)

Catatan: Ini naskah asli dari feature berjudul "Pengantin Pilih Naik Onthel" di rubrik 'Pagelaran' Harian Jogja edisi Senin, 13 April 2009 lalu.

SEPASANG muda-mudi tersebut tampak sumringah di antara puluhan orang yang berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Minggu (12/4) sore itu. Mereka, Johan Sanjaya (27) dan Kate (26), memang sedang bergembira. Hari itu keduanya merayakan pernikahan mereka dengan cara unik, pawai keliling kota Jogja dengan sepeda onthel.

Johan dan Kate tidak hanya berdua. Orang tua mereka juga turut hadir bersama puluhan anggota Paguyuban Onthel Jogja (Podjok), sebuah komunitas penghobi sepeda. Dengan dikawal dua personil Polisi, rombongan pengantin bersepeda itu menyusuri rute sepanjang sekitar 5 km dari Jl. Malioboro sampai Wirosaban.

Orang-orang yang berada di sepanjang perjalanan tidak menyangka kalau pawai sepeda itu rombongan pengantin. Wajar saja, pasalnya tidak ada tanda khusus yang memperlihatkan identitas pengantin baru.

Sebagian anggota rombongan mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu. Yang pria berkemeja putih dipadu celana panjang putih lengkap dengan topi bulat ala pembesar-pembesar jaman kolonial Belanda, sementara yang wanita memakai kebaya. Sebagian peserta rombongan bercelana jeans dipadu kaos oblong. Bahkan kedua mempelai cuma bercelana pendek dan memakai kaos oblong.



Kalau saja tidak ada papan kecil bertuliskan “Just Married” yang dipasang di batang kemudi sepeda Johan, orang tidak akan tahu pawai tersebut adalah rombongan pengantin.

Mengenang Masa Lalu
Acara bertajuk “Sawung Jabo Mantu dengan Onthel” ini merupakan ide pasangan Gono dan Tutik dari komunitas Podjok. Sesuai namanya, hari itu Sawung Jabo memang sedang mantu. Johan anaknya mempersunting Kate, seorang gadis Australia tulen.

Menurut Sawung, dipilihnya Jogja sebagai tempat diadakannya pawai pengantin bersepeda ini adalah untuk mengenang nostalgia antara dirinya dan Susan Piper, sang isteri tercinta. Masa itu Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Masa di mana jalan-jalan Jogja masih dipenuhi orang-orang bersepeda. Di masa itulah keduanya bertemu.



Sawung dan Susan bertemu di tahun 1978. Waktu itu keduanya sama-sama aktif di Bengkel Teater binaan WS Rendra. Susan masih berstatus mahasiswi yang sedang mempelajari kebudayaan Jawa di keraton. Sedangkan Sawung aktif bermain musik dan teater. Hanya setahun setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah.

Alasan lain, Jogja adalah kota tempat Sawung Jabo mulai meniti karir. “Di kota inilah saya mulai berkarya, dan tempat saya mengalami kebangkitan dalam bermusik,” kata Sawung kepada wartawan saat rombongan berhenti sejenak di depan keraton.

Ketika ditanya alasannya memilih pawai bersepeda, sambil tertawa lelaki bernama asli Mochamad Djohansyah ini mengatakan, “Acara seperti ini kan tidak perlu biaya banyak, tapi tepat sasaran.”

Cerita Sawung dibenarkan Susan. Kepada Harian Jogja ia berkata bahwa Jogja merupakan kota bersejarah baginya dan suami. Ada banyak kenangan yang ia alami di Jogja. Meski sekarang tinggal di Sydney, Australia, namun kenangan-kenangan tersebut masih melekat. Karena itulah, ketika ada usulan untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Jogja, Susan langsung mengiyakan.

“Konsepnya sederhana, tapi unik sekali,” demikian ujar Susan menanggapi acara sore itu.

Teman SMA
Diarak keliling kota dengan sepeda tentunya menjadi pengalaman mengesankan bagi Kate. Ketika dimintai komentarnya, gadis bermata biru ini berkata sambil tersenyum renyah, “I'm really happy. It's very exciting.”

Lebih lanjut Kate bercerita tentang kisah cintanya dengan Johan. Keduanya adalah teman satu SMA. Namun keduanya belum menjalin cinta saat masih sama-sama sekolah. “Nothing special,” ujar Kate sambil melirik Johan ketika menceritakan masa-masa awal pertemuannya dengan sang suami.

Namun diam-diam mereka rupanya sama-sama menyimpan perasaan tertentu. Saat liburan bersama di Jepang dipilih Johan sebagai waktu yang tepat untuk meminang Kate. Pucuk dicinta ulam tiba, Kate menerima lamaran Johan. Keduanyapun lantas mengikat janji sehidup-semati.

Pawai bersepeda keliling kota Jogja, Minggu (12/4), lalu merupakan rangkaian terakhir dari perayaan pernikahan Johan dan Kate. “Akad nikahnya sudah di Bali,” cerita Susan. Dari Bali, acara lalu dilanjutkan dengan sebuah resepsi di Surabaya, tempat kelahiran Sawung Jabo. Dan terakhir dipilihlah Jogja sebagai kota pamungkas.

Sambil berseloroh, Susan mengatakan kalau ada seorang temannya yang menyebut acara pernikahan Johan dan Kate dengan istilah 'rabi tour'. “Pernikahan tiga kota, seperti tur saja,” kata dosen Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Ausralia ini sambil tertawa lepas. (M5)

Catatan: Ini naskah asli dari feature berjudul "Pengantin Pilih Naik Onthel" di rubrik 'Pagelaran' Harian Jogja edisi Senin, 13 April 2009 lalu.

11 April 2009

Pemilu telah usai. Proses penghitungan perolehan suara sedang berjalan. Untuk sementara Partai Demokrat masih memimpin dengan selisih yang cukup besar dengan Partai Golkar dan PDI Perjuangan di bawahnya. Meski belum selesai dihitung, tapi banyak pengamat dan juga masyarakat awam yang meyakini kalau Partai Demokrat akan menang besar dalam Pemilu kali ini.

Whatever. Saya koq malah tertarik membahas caleg-caleg yang tidak lolos ke Senayan. Kebetulan sekali ada seorang teman yang jadi caleg dari satu partai berbasis Muhammadiyah. Saya tidak tahu apakah dia lolos atau tidak jadi anggota DPRD Kab. Sleman. Namun melihat cerita pencalonannya koq saya malah yakin kalau si teman ini tadi tidak lolos. Kasihan? Bukan dia yang perlu dikasihani, tapi partai yang mengajukannya. :)

Teman saya ini sudah sejak lama saya tahu aktif di partai dimaksud. Dan terakhir bertemu ia menjadi pengurus DPD alias tingkat kabupaten. Nah, paling terakhir ketemu dianya sudah jadi caleg dari partai itu. Kebetulan sekali waktu itu saya sedang magang di SKM Malioboro Ekspres yang core beritanya tentang Pemilu dan segala pernak-perniknya. So, sayapun main ke rumahnya untuk diwawancarai. Semacam profil caleg perempuan begitulah.

Namanya juga teman, sesampainya di sana bukan wawancara yang terjadi. Kami ya cuma ngobrol ngalor-ngidul tak tentu arah sambil sesekali saja menyingung-nyinggung tentang visi-misinya. Nah, cerita baru jadi seru setelah saya mengajukan pertanyaan sepele, "Kok bisa jadi caleg sih?" Hehehe, kalau bukan teman mungkin saya sudah disuruh pulang gara-gara tanya begitu.

Maka teman saya itupun bercerita. Katanya, ia sebenarnya tidak ada niatan untuk menjadi caleg. Ia hanya senang berorganisasi. Dan karena tokoh pendiri partai di mana ia mencalonkan diri itu sangat ia kagumi, jadilah ia ikut jadi pengurus. Tanpa imbalan apa-apa tentu saja. Semata-mata hanya demi menunjukkan kesetiaan pada partai dan sang tokoh yang sangat ia hormati dan kagumi. Terus, kenapa sampai ia bisa jadi caleg? Rupa-rupanya untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan yang disyaratkan sebanyak 30% dari total caleg yang diajukan. Jadilah teman saya ini caleg pelengkap.

Berbeda dengan teman-temannya sesama caleg yang rata-rata membayar Rp 15 juta hanya untuk mendaftarkan diri saja, teman saya ini tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk partai. Nah, yang jadi masalah kemudian adalah: dia benar-benar tidak punya cukup modal untuk berkampanye. So, waktu saya temui ia hanya diam saja di rumah. Saya tanya kegiatan kampanyenya dia bilang tidak pernah kampanye ke mana-mana. Bahkan tetangga kanan-kirinya pun tidak ada yang tahu kalau dia jadi caleg. Walah...!

Cerita punya cerita, sebenarnya teman saya ini ingin sekali memproduksi alat-alat kampanye. Ya, seperti caleg-caleg lain yang punya kalender, kaos, baliho, atau sekedar sticker untuk ditempel di muka pintu. Tapi apalah daya. Boro-boro untuk mencetak alat-alat kampanye, lha wong dia saja masih bingung mencari pekerjaan tetap yang bisa menghidupi dirinya koq. Hmmm....

Usai Pemilu kemarin saya belum sempat ketemu dia lagi. Tapi saya koq yakin dia tidak bakal terpilih. Bagaimana mungkin terpilih kalau modalnya cuma 2 keluarga yang tak lain adalah saudaranya sendiri di dapil di mana ia dicalonkan. OMG!

Pemilu telah usai. Proses penghitungan perolehan suara sedang berjalan. Untuk sementara Partai Demokrat masih memimpin dengan selisih yang cukup besar dengan Partai Golkar dan PDI Perjuangan di bawahnya. Meski belum selesai dihitung, tapi banyak pengamat dan juga masyarakat awam yang meyakini kalau Partai Demokrat akan menang besar dalam Pemilu kali ini.

Whatever. Saya koq malah tertarik membahas caleg-caleg yang tidak lolos ke Senayan. Kebetulan sekali ada seorang teman yang jadi caleg dari satu partai berbasis Muhammadiyah. Saya tidak tahu apakah dia lolos atau tidak jadi anggota DPRD Kab. Sleman. Namun melihat cerita pencalonannya koq saya malah yakin kalau si teman ini tadi tidak lolos. Kasihan? Bukan dia yang perlu dikasihani, tapi partai yang mengajukannya. :)

Teman saya ini sudah sejak lama saya tahu aktif di partai dimaksud. Dan terakhir bertemu ia menjadi pengurus DPD alias tingkat kabupaten. Nah, paling terakhir ketemu dianya sudah jadi caleg dari partai itu. Kebetulan sekali waktu itu saya sedang magang di SKM Malioboro Ekspres yang core beritanya tentang Pemilu dan segala pernak-perniknya. So, sayapun main ke rumahnya untuk diwawancarai. Semacam profil caleg perempuan begitulah.

Namanya juga teman, sesampainya di sana bukan wawancara yang terjadi. Kami ya cuma ngobrol ngalor-ngidul tak tentu arah sambil sesekali saja menyingung-nyinggung tentang visi-misinya. Nah, cerita baru jadi seru setelah saya mengajukan pertanyaan sepele, "Kok bisa jadi caleg sih?" Hehehe, kalau bukan teman mungkin saya sudah disuruh pulang gara-gara tanya begitu.

Maka teman saya itupun bercerita. Katanya, ia sebenarnya tidak ada niatan untuk menjadi caleg. Ia hanya senang berorganisasi. Dan karena tokoh pendiri partai di mana ia mencalonkan diri itu sangat ia kagumi, jadilah ia ikut jadi pengurus. Tanpa imbalan apa-apa tentu saja. Semata-mata hanya demi menunjukkan kesetiaan pada partai dan sang tokoh yang sangat ia hormati dan kagumi. Terus, kenapa sampai ia bisa jadi caleg? Rupa-rupanya untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan yang disyaratkan sebanyak 30% dari total caleg yang diajukan. Jadilah teman saya ini caleg pelengkap.

Berbeda dengan teman-temannya sesama caleg yang rata-rata membayar Rp 15 juta hanya untuk mendaftarkan diri saja, teman saya ini tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk partai. Nah, yang jadi masalah kemudian adalah: dia benar-benar tidak punya cukup modal untuk berkampanye. So, waktu saya temui ia hanya diam saja di rumah. Saya tanya kegiatan kampanyenya dia bilang tidak pernah kampanye ke mana-mana. Bahkan tetangga kanan-kirinya pun tidak ada yang tahu kalau dia jadi caleg. Walah...!

Cerita punya cerita, sebenarnya teman saya ini ingin sekali memproduksi alat-alat kampanye. Ya, seperti caleg-caleg lain yang punya kalender, kaos, baliho, atau sekedar sticker untuk ditempel di muka pintu. Tapi apalah daya. Boro-boro untuk mencetak alat-alat kampanye, lha wong dia saja masih bingung mencari pekerjaan tetap yang bisa menghidupi dirinya koq. Hmmm....

Usai Pemilu kemarin saya belum sempat ketemu dia lagi. Tapi saya koq yakin dia tidak bakal terpilih. Bagaimana mungkin terpilih kalau modalnya cuma 2 keluarga yang tak lain adalah saudaranya sendiri di dapil di mana ia dicalonkan. OMG!

08 April 2009

Sejak mulai magang di Harian Jogja, saya punya rutinitas baru di Minggu pagi. Apa itu? Membeli koran Harian Jogja edisi Minggu! Hehehe, biasalah, namanya juga masih pemula. Entah mengapa rasanya senang sekali kalau hasil liputan saya bisa dimuat. Padahal sudah beberapa kali tulisan dan nama saya tercetak di koran. Setelah di edisi Minggu (29/3) lalu 3 hasil liputan saya dimuat, maka Minggu kemarin saya kembali membeli koran untuk mengecek. Dimuat tidak ya Minggu ini?

Kalau sesuai dengan hasil rapat redaksi, maka Minggu itu paling tidak 3 (lagi) hasil liputan saya akan dimuat. Hal ini diperkuat dengan bujet alias tabel rencana liputan yang telah disepakati bersama dan diedarkan ke seluruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan penerbitan edisi Minggu itu. Tapi begitu membuka Harian Jogja edisi Minggu, 5 April 2009, lalu saya jadi shock. Lho, koq tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat?! OMG!!! :((

Sebenarnya terlalu berlebihan kalau saya bilang shock. Saya hanya merasa tak percaya, bagaimana bisa tulisan saya tidak dimuat? Padahal kalau mengacu pada hasil rapat redaksi, padahal kalau mau melihat bujet, padahal kalau mau mengingat ucapan sang redaktur, padahal... Ah, sudahlah! Saya kemudian melipat koran yang belum saya baca habis itu dan menyalakan komputer. Apalagi kalau bukan mengelus blog tercinta ini. Sambil menunggu komputer menyala, entah dapat ide dari mana saya melayangkan SMS bernada protes pada sang redaktur. Iseng. :))

4 jam online perut saya melilit minta diisi. Mau tak mau saya harus berhenti. Mandi dulu sambil persiapan menunggu sholat dhuhur berjamaah di mushola kos, kemudian baru keluar mencari makan. Setelah makan dan perut kekenyangan saya bingung. Mau ngapain lagi nih? Mau ke kantor Harian Jogja malu sama yang lain. Ya, bagaimana tidak malu kalau setiap hari kelihatan sibuk mengetik tapi begitu korannya terbit tulisannya tidak ada. So, saya memutuskan bolos hari itu. Tapi enaknya ke mana ya?

"Tring..!" Tiba-tiba dapat ide bagus. Saya ingat seorang kenalan di dekat petilasan Kraton Ratu Boko yang menjalankan bisnis agen travel online (online travel agent). Si Mas netpreneur yang belum banyak dikenal orang ini awalnya pemandu wisata khusus tamu-tamu berbahasa Prancis. Karena jiwa entrepreneurnya kuat, ia kemudian banting stir. Berhenti jadi pemandu wisata dan membangun bisnis travel agent di dunia maya. Padahal ia hanya tahu sedikit tentang internet, paling-paling hanya membuka email dan googling saja. Tapi ketekunan belajar dan sifat pantang menyerah membuatnya mampu menghasilkan omset puluhan juta rupiah dari bisnisnya tersebut.

Maka ke sanalah saya Minggu sore itu. Biar tidak bengong saya mengajak seorang teman kos. Kebetulan dia juga maniak internet meski lebih interes ke programming. Berangkat dari kos sekitar jam 16.00. Sampai di Jl. Solo, tepatnya setelah lampu merah pertigaan Jl. Babarsari, saya berhenti sebentar untuk mengambil uang di ATM BNI yang terletak persis di sebelah timur gapura Tambakbayan. Waktu itu langit sudah mulai gelap. Setelah saya selesai mengambil uang hujan rintik-rintikpun turun. Duh, gelagat tidak baik nih. :(

Kami nekat. Hujan rintik-rintik kami terobos. Tapi baru berapa kilo dari lampu merah Ring Road Timur kami harus berteduh karena hujan semakin deras. Hmmm, mendung sehitam itu pasti bakal lama nih hujannya. Benar saja. Sampai setengah jam kemudian kami masih harus berteduh. Sampai akhirnya kami memilih nekat dan kembali melanjutkan perjalanan. Sial, baru sampai Kalasan kami sudah harus berteduh lagi. Kali ini lebih lama karena hujannya semakin deras. Pffiuuuh....

Lihat jam di handphone angkanya sudah 17:05, padahal perjalanan masih lumayan jauh. Pikir punya pikir akhirnya kami nekat menembus hujan setengah hati itu. Sampai di dekat pintu masuk Kraton Ratu Boko kembali kami harus berhenti lagi. Kalau dilanjutkan bisa-bisa kami basah kuyup. Mana sopan bertamu dalam keadaan basah kuyup? Tapi kali ini kami tak berhenti lama. Begitu hari sudah gelap kami langsung tancap gas. Sambil menahan dingin kami mencari-cari letak rumah si Mas tadi. Setelah berputar-putar sebentar di perumahannya plus salah masuk rumah orang, akhirnya ketemu juga deh rumah yang kami cari. Alhamdulillah...

Dasar pebisnis, begitu ketemu dia langsung bercerita panjang-lebar tentang bisnis travel agen online-nya. Cukup lama kami mengobrol, dari jam setengah 7 sampai jam 9 lebih. Dari obrolan sepanjang itu saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah bisnis online berdasarkan hobi dan skill yang dimiliki. Si Mas yang tidak mau namanya diekspos itu hobinya jalan-jalan dan skillnya bisa berbahasa asing, Inggris dan Prancis. Dengan kedua modal itulah dia membangun bisnisnya. Padahal, sekali lagi, dia tidak tahu banyak tentang internet, apalagi tentang bisnis online.

Tentu saja dia tidak langsung sukses. Awal situsnya beroperasi, ia harus sibuk menangani semua urusan. Mulai dari membuat situs, promosi, mencari backlink, menjawab setiap email yang masuk, mencari transportasi, memesan hotel, menjadi pemandu bagi tamunya, dan sekaligus menerima pembayaran dari tamu-tamunya. Ya, all in one deh pokoknya. Semakin lama tamunya semakin banyak. Ia kemudian mulai mencari pemandu lain yang mau bekerja sama dengannya. Jadi begitu ada tamu ia tidak lagi memandu sendiri tamunya tersebut.

Kini setelah hampir 3 tahun berjalan ia tinggal duduk diam di kantor kecilnya yang merangkap sebagai ruang keluarga. Ia nyaris tak pernah keluar rumah lagi sekarang. Jadi seluruh waktunya full ia curahkan untuk keluarganya tercinta. Toh, bisnis bisa ia urus lewat laptop yang sudah terhubung dengan jaringan internet? Begitu ada order, ia tinggal angkat telepon untuk menyewa mobil pada pemilik rental mobil yang sudah jadi langganannya dan kemudian menghubungi pemandu wisata yang juga sudah ia kenal lama. Praktis dan efektif, bukan?

Bayangkan, si Mas netpreneur tadi bukanlah seorang ahli TI. Ia tak pandai pemrograman, tak tahu membuat situs, bahkan ia belajar membuat akun PayPal dari saya. Tapi kini bisnisnya sudah beromset puluhan juta perbulan. Sebagai gambaran besarnya omset yang ia dapat, ia dapat membeli 1 laptop Compaq plus modem seharga total 13 juta (waktu itu), satu motor Yamaha Mio gres, satu motor Yamaha Jupiter MX gres, tabungan untuk membeli mobil idamannya, biaya sekolah anak-anaknya, biaya hidupnya sehari-hari selama ini, dan uang untuk bersenang-senang setiap pekan. Bagi orang yang baru memulai bisnis online selama hampir 3 tahun, ini tentu sebuah pencapaian luar biasa. Ingat, si Mas ini seorang otodidak lho. Jadi besar kemungkinan beberapa bulan di tahun pertamanya hanya dilalui dengan trial and error saja.

Pulang dari sana saya langsung termotivasi. Ya, saya juga harus memiliki bisnis sendiri kalau ingin memiliki kebebasan finansial. Sejumlah ide bisnis yang pernah saya rencanakan kembali berseliweran di kepala saya. Hmmm, sepertinya satu di antaranya harus segera saya realisasikan. Sekecil apapun bisnis itu, sesedikit apapun hasil yang akan dicapai, saya harus memulainya! Bukankah segala sesuatu yang besar juga berasal dari hal-hal kecil? The Beatles yang sekarang jadi legenda awalnya hanyalah band kafe.

Benar-benar hari Minggu yang menyenangkan. Biarlah hasil liputan saya tidak satupun yang dimuat di Harian Jogja edisi Minggu itu, biarlah saya harus kehujanan sepanjang jalan dari Kalasan ke Perumahan Ratu Boko, biarlah saya harus masuk angin karena menahan lapar di tengah udara dingin, tapi saya pulang dengan sebuah pelajaran berharga yang akan sangat menentukan masa depan saya nanti. Amin.

Itu saja. Semoga bermanfaat. :)

Sejak mulai magang di Harian Jogja, saya punya rutinitas baru di Minggu pagi. Apa itu? Membeli koran Harian Jogja edisi Minggu! Hehehe, biasalah, namanya juga masih pemula. Entah mengapa rasanya senang sekali kalau hasil liputan saya bisa dimuat. Padahal sudah beberapa kali tulisan dan nama saya tercetak di koran. Setelah di edisi Minggu (29/3) lalu 3 hasil liputan saya dimuat, maka Minggu kemarin saya kembali membeli koran untuk mengecek. Dimuat tidak ya Minggu ini?

Kalau sesuai dengan hasil rapat redaksi, maka Minggu itu paling tidak 3 (lagi) hasil liputan saya akan dimuat. Hal ini diperkuat dengan bujet alias tabel rencana liputan yang telah disepakati bersama dan diedarkan ke seluruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan penerbitan edisi Minggu itu. Tapi begitu membuka Harian Jogja edisi Minggu, 5 April 2009, lalu saya jadi shock. Lho, koq tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat?! OMG!!! :((

Sebenarnya terlalu berlebihan kalau saya bilang shock. Saya hanya merasa tak percaya, bagaimana bisa tulisan saya tidak dimuat? Padahal kalau mengacu pada hasil rapat redaksi, padahal kalau mau melihat bujet, padahal kalau mau mengingat ucapan sang redaktur, padahal... Ah, sudahlah! Saya kemudian melipat koran yang belum saya baca habis itu dan menyalakan komputer. Apalagi kalau bukan mengelus blog tercinta ini. Sambil menunggu komputer menyala, entah dapat ide dari mana saya melayangkan SMS bernada protes pada sang redaktur. Iseng. :))

4 jam online perut saya melilit minta diisi. Mau tak mau saya harus berhenti. Mandi dulu sambil persiapan menunggu sholat dhuhur berjamaah di mushola kos, kemudian baru keluar mencari makan. Setelah makan dan perut kekenyangan saya bingung. Mau ngapain lagi nih? Mau ke kantor Harian Jogja malu sama yang lain. Ya, bagaimana tidak malu kalau setiap hari kelihatan sibuk mengetik tapi begitu korannya terbit tulisannya tidak ada. So, saya memutuskan bolos hari itu. Tapi enaknya ke mana ya?

"Tring..!" Tiba-tiba dapat ide bagus. Saya ingat seorang kenalan di dekat petilasan Kraton Ratu Boko yang menjalankan bisnis agen travel online (online travel agent). Si Mas netpreneur yang belum banyak dikenal orang ini awalnya pemandu wisata khusus tamu-tamu berbahasa Prancis. Karena jiwa entrepreneurnya kuat, ia kemudian banting stir. Berhenti jadi pemandu wisata dan membangun bisnis travel agent di dunia maya. Padahal ia hanya tahu sedikit tentang internet, paling-paling hanya membuka email dan googling saja. Tapi ketekunan belajar dan sifat pantang menyerah membuatnya mampu menghasilkan omset puluhan juta rupiah dari bisnisnya tersebut.

Maka ke sanalah saya Minggu sore itu. Biar tidak bengong saya mengajak seorang teman kos. Kebetulan dia juga maniak internet meski lebih interes ke programming. Berangkat dari kos sekitar jam 16.00. Sampai di Jl. Solo, tepatnya setelah lampu merah pertigaan Jl. Babarsari, saya berhenti sebentar untuk mengambil uang di ATM BNI yang terletak persis di sebelah timur gapura Tambakbayan. Waktu itu langit sudah mulai gelap. Setelah saya selesai mengambil uang hujan rintik-rintikpun turun. Duh, gelagat tidak baik nih. :(

Kami nekat. Hujan rintik-rintik kami terobos. Tapi baru berapa kilo dari lampu merah Ring Road Timur kami harus berteduh karena hujan semakin deras. Hmmm, mendung sehitam itu pasti bakal lama nih hujannya. Benar saja. Sampai setengah jam kemudian kami masih harus berteduh. Sampai akhirnya kami memilih nekat dan kembali melanjutkan perjalanan. Sial, baru sampai Kalasan kami sudah harus berteduh lagi. Kali ini lebih lama karena hujannya semakin deras. Pffiuuuh....

Lihat jam di handphone angkanya sudah 17:05, padahal perjalanan masih lumayan jauh. Pikir punya pikir akhirnya kami nekat menembus hujan setengah hati itu. Sampai di dekat pintu masuk Kraton Ratu Boko kembali kami harus berhenti lagi. Kalau dilanjutkan bisa-bisa kami basah kuyup. Mana sopan bertamu dalam keadaan basah kuyup? Tapi kali ini kami tak berhenti lama. Begitu hari sudah gelap kami langsung tancap gas. Sambil menahan dingin kami mencari-cari letak rumah si Mas tadi. Setelah berputar-putar sebentar di perumahannya plus salah masuk rumah orang, akhirnya ketemu juga deh rumah yang kami cari. Alhamdulillah...

Dasar pebisnis, begitu ketemu dia langsung bercerita panjang-lebar tentang bisnis travel agen online-nya. Cukup lama kami mengobrol, dari jam setengah 7 sampai jam 9 lebih. Dari obrolan sepanjang itu saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah bisnis online berdasarkan hobi dan skill yang dimiliki. Si Mas yang tidak mau namanya diekspos itu hobinya jalan-jalan dan skillnya bisa berbahasa asing, Inggris dan Prancis. Dengan kedua modal itulah dia membangun bisnisnya. Padahal, sekali lagi, dia tidak tahu banyak tentang internet, apalagi tentang bisnis online.

Tentu saja dia tidak langsung sukses. Awal situsnya beroperasi, ia harus sibuk menangani semua urusan. Mulai dari membuat situs, promosi, mencari backlink, menjawab setiap email yang masuk, mencari transportasi, memesan hotel, menjadi pemandu bagi tamunya, dan sekaligus menerima pembayaran dari tamu-tamunya. Ya, all in one deh pokoknya. Semakin lama tamunya semakin banyak. Ia kemudian mulai mencari pemandu lain yang mau bekerja sama dengannya. Jadi begitu ada tamu ia tidak lagi memandu sendiri tamunya tersebut.

Kini setelah hampir 3 tahun berjalan ia tinggal duduk diam di kantor kecilnya yang merangkap sebagai ruang keluarga. Ia nyaris tak pernah keluar rumah lagi sekarang. Jadi seluruh waktunya full ia curahkan untuk keluarganya tercinta. Toh, bisnis bisa ia urus lewat laptop yang sudah terhubung dengan jaringan internet? Begitu ada order, ia tinggal angkat telepon untuk menyewa mobil pada pemilik rental mobil yang sudah jadi langganannya dan kemudian menghubungi pemandu wisata yang juga sudah ia kenal lama. Praktis dan efektif, bukan?

Bayangkan, si Mas netpreneur tadi bukanlah seorang ahli TI. Ia tak pandai pemrograman, tak tahu membuat situs, bahkan ia belajar membuat akun PayPal dari saya. Tapi kini bisnisnya sudah beromset puluhan juta perbulan. Sebagai gambaran besarnya omset yang ia dapat, ia dapat membeli 1 laptop Compaq plus modem seharga total 13 juta (waktu itu), satu motor Yamaha Mio gres, satu motor Yamaha Jupiter MX gres, tabungan untuk membeli mobil idamannya, biaya sekolah anak-anaknya, biaya hidupnya sehari-hari selama ini, dan uang untuk bersenang-senang setiap pekan. Bagi orang yang baru memulai bisnis online selama hampir 3 tahun, ini tentu sebuah pencapaian luar biasa. Ingat, si Mas ini seorang otodidak lho. Jadi besar kemungkinan beberapa bulan di tahun pertamanya hanya dilalui dengan trial and error saja.

Pulang dari sana saya langsung termotivasi. Ya, saya juga harus memiliki bisnis sendiri kalau ingin memiliki kebebasan finansial. Sejumlah ide bisnis yang pernah saya rencanakan kembali berseliweran di kepala saya. Hmmm, sepertinya satu di antaranya harus segera saya realisasikan. Sekecil apapun bisnis itu, sesedikit apapun hasil yang akan dicapai, saya harus memulainya! Bukankah segala sesuatu yang besar juga berasal dari hal-hal kecil? The Beatles yang sekarang jadi legenda awalnya hanyalah band kafe.

Benar-benar hari Minggu yang menyenangkan. Biarlah hasil liputan saya tidak satupun yang dimuat di Harian Jogja edisi Minggu itu, biarlah saya harus kehujanan sepanjang jalan dari Kalasan ke Perumahan Ratu Boko, biarlah saya harus masuk angin karena menahan lapar di tengah udara dingin, tapi saya pulang dengan sebuah pelajaran berharga yang akan sangat menentukan masa depan saya nanti. Amin.

Itu saja. Semoga bermanfaat. :)

06 April 2009

Gunungkidul, propinsi paling terbelakang di Jogja. Selain letaknya yang paling jauh dari pusat kota Jogja, Gunungkidul juga tandus. Maklum, daerah pegunungan. Meski begitu jangan sepelekan kabupaten yang satu ini. Di balik ketandusan tanahnya, Gunungkidul menyimpan banyak potensi wisata pantai. Nah, kebetulan sekali belum lama ini saya dan teman-teman kos melakukan tour ke seluruh pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Gila, seru banget, Bro!

Tour yang saya sebut Tour de Gunungkidul ini dilaksanakan dua kali. Jaraknya seminggu. Minggu pertama kami hanya mengunjungi Pantai Ngerenehan, sebuah pantai kecil di mulut sebuah teluk. Pantainya lumayan pendek, sekitar 500 meter saja. Di kiri-kanan pantai berdiri bukit karang terjal yang menjorok hingga ke tengah laut. Di mulut teluk terdapat batu-batu karang yang meredam ombak deras Laut Selatan. Dengan demikian ombak di Pantai Ngerenehan tidak tinggi sehingga aman untuk mandi.





Di Ngerenehan kita tak cuma bisa mandi, tapi juga makan ikan. Setiap hari para nelayan hilir-mudik ke laut melalui pantai ini, jadi ikannya sangat melimpah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa makan ikan laut di Ngerenehan. Harganya cukup bersahabat koq. Sebagai gambaran, teman saya membeli seekor ikan hiu kecil plus 4-5 ekor ikan pari dengan harga Rp 15.000 saja. Tidak ditimbang? Hehehe, nelayan di sana main kira-kira saja, Bro. Asal sudah deal ya sudah, ikan dilepas. Asyik kan?



Pantai Sepanjang
Seminggu setelah mengunjungi Ngerenehan, kami berangkat lagi ke selatan Jogja. Kali ini tujuannya Pantai Sepanjang. Di mana itu? Tidak jauh dari Ngerenehan koq. Hanya sekitar 5 kilometer ke arah timur, sebelum Pantai Baron. Di sini pemandangannya cukup indah. Sesuai namanya, Pantai Sepanjang benar-benar panjang. Melihat ke kanan-kiri hanya hamparan pasir putih yang memanjang.



Lain dengan Ngerenehan, di Sepanjang kita tidak boleh mandi. Masuk ke laut saja kalau bisa jangan. Kenapa? Arusnya deras, Bro. Selain itu kontur pantainya juga sangat curam. Sekali kita masuk ke laut dan terseret, bakalan repot deh yang menolong. So, kalau di sini enaknya cuma jalan-jalan menyusuri pantai, terus naik ke bukit untuk melihat hamparan Laut Selatan, dan kalau sudah capek istirahat di gubuk-gubuk yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran pantai.



Bagaimana? Asyik, bukan? Selama ini nama Ngerenehan dan Sepanjang kalah tenar dibanding Pantai Baron, Trisik, Kukup, dan pantai-pantai Gunungkidul lain yang ada di brosur-brosur keluaran Dinas Pariwisata Jogja. Padahal pesona kedua pantai ini tidak kalah dibanding pantai-pantai lain. Dan satu kelebihan utama keduanya adalah: masih sepi pengunjung!

Setelah puas mengagumi pemandangan alam di Sepanjang, perjalanan kami lanjutkan ke timur. Ya, kami terus lanjut ke sebelah timur. Semua pantai kami masuki meski hanya melihat secara sekilas-sekilas saja sambil lewat. Sampai di suatu desa, eh, lha koq ban belakang motor saya bocor. Bukan bocor sih, orang tempat pentilnya secara ajaib bisa lepas dari ban. Jadilah kami berhenti dulu karena saya harus mengganti ban. Untung saja ada bengkel tak jauh dari tempat kami berhenti. :)



Akhirnya, sekitar jam 7 malam sampailah kami di pantai paling timur Jogja, Pantai Sadeng. Pantai ini merupakan sebuah pelabuhan kecil tempat para nelayan berlabuh setelah mencari ikan di laut. Ikan-ikan di sini juga murah-murah, Bro. So, kamipun sepakat patungan membeli ikan dan ujung-ujungnya tentu saja makan-makan. :)) Puas makan sekitar jam 8 malam. Gila, begitu mau pulang koq inget kalau waktu itu malam Jum'at. Walah....

Btw, meski capeknya bukan main, tapi perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan. Suatu saat ingin saya mengulangi perjalanan itu lagi. Siapa mau ikut?

Gunungkidul, propinsi paling terbelakang di Jogja. Selain letaknya yang paling jauh dari pusat kota Jogja, Gunungkidul juga tandus. Maklum, daerah pegunungan. Meski begitu jangan sepelekan kabupaten yang satu ini. Di balik ketandusan tanahnya, Gunungkidul menyimpan banyak potensi wisata pantai. Nah, kebetulan sekali belum lama ini saya dan teman-teman kos melakukan tour ke seluruh pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Gila, seru banget, Bro!

Tour yang saya sebut Tour de Gunungkidul ini dilaksanakan dua kali. Jaraknya seminggu. Minggu pertama kami hanya mengunjungi Pantai Ngerenehan, sebuah pantai kecil di mulut sebuah teluk. Pantainya lumayan pendek, sekitar 500 meter saja. Di kiri-kanan pantai berdiri bukit karang terjal yang menjorok hingga ke tengah laut. Di mulut teluk terdapat batu-batu karang yang meredam ombak deras Laut Selatan. Dengan demikian ombak di Pantai Ngerenehan tidak tinggi sehingga aman untuk mandi.





Di Ngerenehan kita tak cuma bisa mandi, tapi juga makan ikan. Setiap hari para nelayan hilir-mudik ke laut melalui pantai ini, jadi ikannya sangat melimpah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa makan ikan laut di Ngerenehan. Harganya cukup bersahabat koq. Sebagai gambaran, teman saya membeli seekor ikan hiu kecil plus 4-5 ekor ikan pari dengan harga Rp 15.000 saja. Tidak ditimbang? Hehehe, nelayan di sana main kira-kira saja, Bro. Asal sudah deal ya sudah, ikan dilepas. Asyik kan?



Pantai Sepanjang
Seminggu setelah mengunjungi Ngerenehan, kami berangkat lagi ke selatan Jogja. Kali ini tujuannya Pantai Sepanjang. Di mana itu? Tidak jauh dari Ngerenehan koq. Hanya sekitar 5 kilometer ke arah timur, sebelum Pantai Baron. Di sini pemandangannya cukup indah. Sesuai namanya, Pantai Sepanjang benar-benar panjang. Melihat ke kanan-kiri hanya hamparan pasir putih yang memanjang.



Lain dengan Ngerenehan, di Sepanjang kita tidak boleh mandi. Masuk ke laut saja kalau bisa jangan. Kenapa? Arusnya deras, Bro. Selain itu kontur pantainya juga sangat curam. Sekali kita masuk ke laut dan terseret, bakalan repot deh yang menolong. So, kalau di sini enaknya cuma jalan-jalan menyusuri pantai, terus naik ke bukit untuk melihat hamparan Laut Selatan, dan kalau sudah capek istirahat di gubuk-gubuk yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran pantai.



Bagaimana? Asyik, bukan? Selama ini nama Ngerenehan dan Sepanjang kalah tenar dibanding Pantai Baron, Trisik, Kukup, dan pantai-pantai Gunungkidul lain yang ada di brosur-brosur keluaran Dinas Pariwisata Jogja. Padahal pesona kedua pantai ini tidak kalah dibanding pantai-pantai lain. Dan satu kelebihan utama keduanya adalah: masih sepi pengunjung!

Setelah puas mengagumi pemandangan alam di Sepanjang, perjalanan kami lanjutkan ke timur. Ya, kami terus lanjut ke sebelah timur. Semua pantai kami masuki meski hanya melihat secara sekilas-sekilas saja sambil lewat. Sampai di suatu desa, eh, lha koq ban belakang motor saya bocor. Bukan bocor sih, orang tempat pentilnya secara ajaib bisa lepas dari ban. Jadilah kami berhenti dulu karena saya harus mengganti ban. Untung saja ada bengkel tak jauh dari tempat kami berhenti. :)



Akhirnya, sekitar jam 7 malam sampailah kami di pantai paling timur Jogja, Pantai Sadeng. Pantai ini merupakan sebuah pelabuhan kecil tempat para nelayan berlabuh setelah mencari ikan di laut. Ikan-ikan di sini juga murah-murah, Bro. So, kamipun sepakat patungan membeli ikan dan ujung-ujungnya tentu saja makan-makan. :)) Puas makan sekitar jam 8 malam. Gila, begitu mau pulang koq inget kalau waktu itu malam Jum'at. Walah....

Btw, meski capeknya bukan main, tapi perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan. Suatu saat ingin saya mengulangi perjalanan itu lagi. Siapa mau ikut?