Selamat datang di ...

16 Agustus 2008

28 Weeks Later, sebuah film penuh ketegangan yang begitu membekas di benak saya. Sepanjang film yang berdurasi selama 1,5 jam ini ketegangan dan aroma kematian begitu kental terasa. 28 Weeks Later sebenarnya film keluaran tahun lalu, di Indonesia dirilis tanggal 10 Mei 2007. Namun saya baru tahu beberapa hari lalu. Sekilas dari judulnya saya mengira 28 Weeks Later adalah film drama. Karena itu saya memutarnya jam satu malam, di saat semua penghuni kos sudah tidur. Ternyata...

Ketegangan langsung dihadirkan oleh 28 Weeks Later sejak awal cerita, meskipun pada awalnya terasa membingungkan. Akan lebih mudah bagi Anda untuk mengikuti jalan cerita 28 Weeks Later bila pernah menonton film Twenty Eight Days Later (rilis tahun 2002) yang tak lain tak bukan merupakan sekuel 28 Weeks Later sebelumnya. Baik Twenty Eight Days Later maupun 28 Weeks Later sama-sama disutradarai oleh Juan Carlos Fresnadillo. Kalau saya tidak salah ingat, Twenty Eight Days Later pernah diputar di salah satu TV swasta.


Cerita 28 Weeks Later diawali ketika Don (diperankan oleh Robert Carlyle) dan Alice (Catherine McCormack) istrinya menyiapkan makanan seadanya bagi sejumlah pengungsi di salah satu rumah warga. Mereka merupakan sebagian kecil populasi kota London yang berhasil selamat dari sebuah wabah mengerikan. Wabah aneh yang membuat penderitanya haus darah dan bertingkah lebih kejam dari serigala. Tengah asyik makan, tiba-tiba seorang anak mengetuk pintu minta masuk. Rupa-rupanya kedatangan anak tersebut diiringi oleh orang-orang yang terjangkit wabah. Seisi rumah kontan kocar-kacir menyelamatkan diri dari serangan tersebut.Sayangnya, selain Don tak ada yang bisa selamat dari peristiwa mengerikan tersebut.

Sedemikian hebatnya wabah tersebut sehingga daratan Britania Raya mesti dikarantina agar tak menyebar ke Eropa daratan. Pasukan NATO dipimpin Amerika Serikat masuk 28 minggu kemudian untuk memulihkan Inggris. Warga Inggris yang melarikan diri ke luar negeri diperbolehkan pulang untuk proses repopulasi dan pemulihan. Di antara warga yang datang dari luar negeri tersebut adalah Tammy (Imogeen Poots) dan Andy (Mackintosh Muggleton), dua anak Don. Betapa hancurnya hati Tammy dan Andy ketika mengetahui bahwa ibu mereka sudah dinyatakan tewas.

Didorong oleh rasa rindu pada ibu dan kenangan masa lalu, Tammy dan Andy berhasil menyelinap keluar dari kamp karantina untuk menuju ke rumah mereka yang sudah porak-poranda. Siapa sangka ternyata di dalam rumah tersebut Andy justru menemukan ibu mereka masih hidup. Alice memang selamat, namun ia dinyatakan positif mengidap wabah sehingga militer NATO mempertimbangkan untuk menghabisinya sebagai upaya preventif. Usul tersebut ditentang oleh Scarlet (Rose Byrne), dokter militer NATO yang meminta Alice dibiarkan hidup sebagai bahan penelitian.

Di saat petinggi NATO berdebat antara membunuh Alice atau tidak, Don diam-diam masuk ke ruang perawatan istrinya. Ia memohon maaf pada Alice karena telah meninggalkannya pada saat mereka diserang dulu. Alice tersentuh dan memaafkan Don. Kesalahan fatal dilakukan Don karena mencium Alice. Virus ganas langsung menulari Don lewat air liur Alice. Seketika Don berubah menjadi sangat ganas dan kejam. Ia membunuh Alice, meminum darahnya, kemudian keluar dari gedung untuk mencari mangsa baru.

Ketegangan memuncak. Don 'memangsa' beberapa tentara yang ditemuinya sekaligus menularkan virus. Wabah kembali menyebar. NATO menetapkan status darurat, warga yang dikarantina panik. Selanjutnya? Tonton saja sendiri. Yang jelas jangan tonton film ini sendirian. Apalagi di tengah malam sepi. Ngeri!

NB: Ada yang tahu di mana mencari referensi tentang Imogeen Poots? Mbah Google koq tumben-tumbenan gak tahu ya? Imogeen Poots-nya yang gak terkenal ato si Mbah Google yang kurang gaul? Hehehe...


« Selanjutnya
Sebelumnya »

18 komentar:

  1. wah seru nih mas, acara nontonnya kok kagak ngajak-ngajak sih? :)

    BalasHapus
  2. mantap nie repiew pilmNa.. btw kasetNa masih ndak pinjam dunk

    BalasHapus
  3. So..what happen after '28 weeks later'? ;))

    BalasHapus
  4. Walah.. kalo TEGANG TERUS ga ada AKHIR kayaknya ASYIK banget tuh.. Tapi apa ga cape yach? wkwkwkw
    mo koreksi ach :
    ".... yang tak lain tak bukan merupakan sekuel 28 Weeks Later sebelumnya. ..." seharusnya prekuel bukan sekuel hehe.. Kalo filmnya sendiri sih saya dah dapat dvd bergambar originalnya Mei lalu cuma sampe skrg blom saya nonton saking banyaknya dvd yang datang tiap bulan hahaha... kalo prekuelnya 28 Days Later saya sudah nonton dan kayaknya asyik.. saya sih cuma ingat ending film pertamanya ketika mereka nunggu bantuan yang datang. Keren dah

    BalasHapus
  5. nontonnya lama banget neeh 28 minggu, ga jadi ah... wkwkwkwk

    BalasHapus
  6. @ Artha: Yee, kalo ngajak sesama "batangan" mana asyik, Coy? :)) Kalo ngajak cewek baru okeh bgt. :D
    @ Badoer: Aduh, jadi malu kalo ditanyain kasetnya. Soalnya cuma pake flash disk sih, so gak ada kasetnya. Wah, ketahuan nih tukang kopi-paste film. :((
    @ Nenad: Yg kejadian setelah 28 pekan kemudian adalah: pekan ke-29 datang! :))
    @ Zalukhu: Huss, jangan suka ngeres yah. :D Btw, saya "belajar" sama KapanLagi koq Bang, di KL juga ditulis sekuel, so saya contek aja. Maklum, baru belajar jadi penggemar film. :D Thanks koreksinya.
    @ Paman Gober: Wah, dasar nian diok ni... :D

    BalasHapus
  7. Yang 28 days lumayan bagus loh, saya rada telat untuk yang 28 weeks, sekarang mo cari dvd nya juga hampir tidak ada di pasaran. alternatif terakhir palingan sewa di rental.

    BalasHapus
  8. memang kita butuh refresing mas untuk menenangka otak yang terus bekerja
    sukses buat mas eko

    BalasHapus
  9. dah jarang nonton skarang aku... pengen seh santai sambil nonton gitu

    BalasHapus
  10. Wah mantep pileme. Sing penting gak koyo sinetron wae. :D

    BalasHapus
  11. iya itu film emang keren banget,,horor abis secara saya demen horor banget :D

    bahkan lebih bagus dari pendahulunya, 28 Days Later :)

    BalasHapus
  12. @ Bayu Aditya: Yupz, semua orang jadi zombie. Ngeri deh.
    @ P3durungan: Saya yang 28 Days sudah nonton di TV. Seru banget pas liat adegan terakhir yg nunggu bantuan itu. Ternyata sekuelnya lebih seru lagi. Gak nyesel deh nontonnya.
    @ Gelandangan: Betul banget, Mas. Kadang ngadepin blog terus lelah juga, apalagi kaya saya yg penghasilannya seret. Hehehe.
    @ Malapu: Sekali-kali nonton dong, buat refreshing.
    @ Bawor: Ora, Kang. Kiye pileme mantep temenan, ora kaya sinetron2 nang TV kuwe. Isine ra mutu blas. :))
    @ Ika: Seneng juga ya? Mantep kan??? :D

    BalasHapus
  13. Filem baru nih mas Eck.. ngomong2 top commenter widget nya kok ga di pasang lg mas.. Justru kalo ada widget itu commentar jadi makin semangat nih mas..

    BalasHapus
  14. katanya mo ada sekuel lagi... 28 months later... pokoknya pake 28 gitu deh... ga tau pada berani ga ya bikin yang 28 years later... kelamaan... hehehe.

    BalasHapus
  15. Klo ntar ada yang 28 month later ato 28 year later kabar-kabarin yach aku nunggu kelamaan nich pas akhir cerita dari 28 month later sepertinya pindah negara ke Prancis soalnya kliatan ada menara Eiffel-nya,tapi klo kliatan monas wah bisa gawat hehehe...harus siap2 ngungsi kemana yah?...

    BalasHapus
  16. eh sori ralat komentar: yang kliatan dari menara Eiffel-nya bukan di 28 month later kan belum dibuat hehehe.... tapi di film 28 weeks later pas hampir ending film seolah-olah ngasih petunjuk lokasi terjangkitnya.Kapan ya sampe di bandara soekarno-hatta wah bisa gawat tuh... tapi seru making film di indonesia kan jadi tegang seperti kota mati gt.

    BalasHapus
  17. Mayan bagus & tegang jg filmnya... Tp utk best picture tetap "dawn of the dead" msh lbh baik... Kl soal alur cerita keknya lbh kumplit 28 weeks....

    BalasHapus