Selamat datang di ...

31 Maret 2009

Masih ingat bagaimana kronologi terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden RI pada Pemilu 2004? Adalah pernyataan Taufik Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat Presiden, yang membuat popularitas SBY naik dan terus melejit menjelang Pemilu. Sampai akhirnya SBY memenangi duel dengan Megawati di putaran kedua dan 'naik pangkat' jadi RI 1.

Apa yang dikatakan Taufik Kiemas? Ah, Anda semua tentu masih ingat. Yang jelas pernyataan tersebut membuat banyak orang jatuh simpati pada SBY dan ujung-ujungnya menaikkan popularitas mertua Annisa Pohan ini. Nah, cerita serupa sepertinya akan terjadi di dunia maya. Lakonnya adalah Joko Susilo (JS) yang beberapa waktu lalu ramai-ramai dihujani pertanyaan oleh para Kaskuser seputar Formula Bisnis dan juga produk barunya, Rahasia Blogging.

Kenapa JS akhirnya naik ke permukaan? Kenapa pula ia mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para Kaskuser? Ini pertanyaan penting yang harus dijawab. Dan kalau kita mau mundur sedikit ke belakang, sebelumnya telah terjadi 'perang kecil' antara Joko Susilo dan Bang Zalukhu. Di blognya, Bang Zalukhu bilang kalau Joko Susilo adalah penipu, meski dalam posting tersebut nama JS diubah dengan Jadi Serigala. Setelah itu, Bang Zalukhu memuat posting tentang rekayasa dalam sales letter Rahasia Blogging yang notabene adalah produk terbaru JS.

Ceritapun berlanjut. Semakin lama semakin banyak orang yang membicarakan Rahasia Blogging, semakin banyak pula yang meragukannya. Tiba-tiba, muncullah seorang blogger anonim dengan nick Mualim sang Kritikus (identitasnya sudah dikantongi lho) yang menyerang Bang Zalukhu. Well, perang kemudian melebar dengan melibatkan beberapa pihak. Sampai-sampai ada blogger yang merasa perlu melakukan klarifikasi karena merasa tersudut.

Oke, kembali ke pertanyaan tadi. Kenapa JS akhirnya naik ke permukaan? Kenapa JS mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para Kaskuser? Jawabannya tidak sulit. Dengan maraknya publikasi negatif yang dilakukan para blogger terhadap Rahasia Blogging, jelas JS merasa khawatir. Bagaimana tidak khawatir kalau baru di-launch sudah dapat serangan bertubi-tubi? Nah, yang perlu dilakukan JS adalah dengan membalik imej negatif tersebut agar 'calon konsumen'-nya tidak lari. Caranya? Dia berguru pada SBY sewaktu Pemilu 2004 lalu.

Masih belum jelas? Oke, saya jelaskan. Setelah dikatai oleh Taufik Kiemas, SBY cepat tanggap. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk membentuk citra sebagai orang teraniaya. Alhasil, simpati pun berdatangan padanya. Popularitasnya meningkat pesat. Terlebih media turut mem-blow up cerita tersebut. Selanjutnya Anda sudah tahu jalan ceritanya, bukan?

Inilah yang coba diikuti JS. Ia muncul di Kaskus, membiarkan dirinya 'dibantai' habis-habisan oleh para Kaskuser. Dengan demikian ia berharap dirinya tidak lagi dijuluki penipu karena sudah berani unjuk diri dan meladeni pertanyaan orang-orang yang selama ini meragukannya. Hal ini bisa memberikan efek psikologis positif bagi orang yang semula ragu-ragu membeli produknya. Kesan sebagai orang yang dipojokkan coba ia timbulkan. Kalau sudah demikian, kan enak saja melontarkan pernyataan, "Ah, mereka itu hanya iri dengan keberhasilan saya." Dan semakin kuatlah alasan orang untuk membeli produk-produk JS.

Itu yang pertama. Yang kedua, kontroversi yang berkembang merupakan 'iklan gratis' bagi JS dan produk-produknya. Semakin marak blogger yang mengekspose dirinya dan produk-produknya, JS akan jadi semakin populer. Orang-orang yang awalnya tidak tahu sama sekali tentang JS akan mencari informasi lebih banyak lagi tentang dia. Maka meluncurlah orang-orang tersebut ke situs-situs milik JS. Lumayan, cuma nongkrong beberapa jam saja di Kaskus sudah bisa memperoleh trafik banyak. Belum lagi kemungkinan orang-orang tersebut justru tertarik dengan jualannya JS. :)

Berhasilkah strategi ini diterapkan JS? Kita lihat saja.

Masih ingat bagaimana kronologi terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Presiden RI pada Pemilu 2004? Adalah pernyataan Taufik Kiemas, suami Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat Presiden, yang membuat popularitas SBY naik dan terus melejit menjelang Pemilu. Sampai akhirnya SBY memenangi duel dengan Megawati di putaran kedua dan 'naik pangkat' jadi RI 1.

Apa yang dikatakan Taufik Kiemas? Ah, Anda semua tentu masih ingat. Yang jelas pernyataan tersebut membuat banyak orang jatuh simpati pada SBY dan ujung-ujungnya menaikkan popularitas mertua Annisa Pohan ini. Nah, cerita serupa sepertinya akan terjadi di dunia maya. Lakonnya adalah Joko Susilo (JS) yang beberapa waktu lalu ramai-ramai dihujani pertanyaan oleh para Kaskuser seputar Formula Bisnis dan juga produk barunya, Rahasia Blogging.

Kenapa JS akhirnya naik ke permukaan? Kenapa pula ia mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para Kaskuser? Ini pertanyaan penting yang harus dijawab. Dan kalau kita mau mundur sedikit ke belakang, sebelumnya telah terjadi 'perang kecil' antara Joko Susilo dan Bang Zalukhu. Di blognya, Bang Zalukhu bilang kalau Joko Susilo adalah penipu, meski dalam posting tersebut nama JS diubah dengan Jadi Serigala. Setelah itu, Bang Zalukhu memuat posting tentang rekayasa dalam sales letter Rahasia Blogging yang notabene adalah produk terbaru JS.

Ceritapun berlanjut. Semakin lama semakin banyak orang yang membicarakan Rahasia Blogging, semakin banyak pula yang meragukannya. Tiba-tiba, muncullah seorang blogger anonim dengan nick Mualim sang Kritikus (identitasnya sudah dikantongi lho) yang menyerang Bang Zalukhu. Well, perang kemudian melebar dengan melibatkan beberapa pihak. Sampai-sampai ada blogger yang merasa perlu melakukan klarifikasi karena merasa tersudut.

Oke, kembali ke pertanyaan tadi. Kenapa JS akhirnya naik ke permukaan? Kenapa JS mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para Kaskuser? Jawabannya tidak sulit. Dengan maraknya publikasi negatif yang dilakukan para blogger terhadap Rahasia Blogging, jelas JS merasa khawatir. Bagaimana tidak khawatir kalau baru di-launch sudah dapat serangan bertubi-tubi? Nah, yang perlu dilakukan JS adalah dengan membalik imej negatif tersebut agar 'calon konsumen'-nya tidak lari. Caranya? Dia berguru pada SBY sewaktu Pemilu 2004 lalu.

Masih belum jelas? Oke, saya jelaskan. Setelah dikatai oleh Taufik Kiemas, SBY cepat tanggap. Ia memanfaatkan momen tersebut untuk membentuk citra sebagai orang teraniaya. Alhasil, simpati pun berdatangan padanya. Popularitasnya meningkat pesat. Terlebih media turut mem-blow up cerita tersebut. Selanjutnya Anda sudah tahu jalan ceritanya, bukan?

Inilah yang coba diikuti JS. Ia muncul di Kaskus, membiarkan dirinya 'dibantai' habis-habisan oleh para Kaskuser. Dengan demikian ia berharap dirinya tidak lagi dijuluki penipu karena sudah berani unjuk diri dan meladeni pertanyaan orang-orang yang selama ini meragukannya. Hal ini bisa memberikan efek psikologis positif bagi orang yang semula ragu-ragu membeli produknya. Kesan sebagai orang yang dipojokkan coba ia timbulkan. Kalau sudah demikian, kan enak saja melontarkan pernyataan, "Ah, mereka itu hanya iri dengan keberhasilan saya." Dan semakin kuatlah alasan orang untuk membeli produk-produk JS.

Itu yang pertama. Yang kedua, kontroversi yang berkembang merupakan 'iklan gratis' bagi JS dan produk-produknya. Semakin marak blogger yang mengekspose dirinya dan produk-produknya, JS akan jadi semakin populer. Orang-orang yang awalnya tidak tahu sama sekali tentang JS akan mencari informasi lebih banyak lagi tentang dia. Maka meluncurlah orang-orang tersebut ke situs-situs milik JS. Lumayan, cuma nongkrong beberapa jam saja di Kaskus sudah bisa memperoleh trafik banyak. Belum lagi kemungkinan orang-orang tersebut justru tertarik dengan jualannya JS. :)

Berhasilkah strategi ini diterapkan JS? Kita lihat saja.

30 Maret 2009

Pemilu tinggal hitungan hari. Di tengah ingar-bingar kampanye yang dilakukan para kontestan Pemilu, berita-berita tentang kurang beresnya distribusi logistik Pemilu berseliweran di televisi. Akankah Pemilu 2009 mundur? Kalau kata Detik.com sih jangan. Karena kalau sampai mundur akan lebih banyak kerugiannya ketimbang manfaatnya.

Pemilu mendatang benar-benar ribet. Bagaimana tidak? Selain jumlah partai politik peserta Pemilu yang kelewat banyak, pemandangan di atas kertas suara bakal dipenuhi pula oleh ratusan nama calon legislator alias caleg. Eits, itu baru satu kertas suara lho. Padahal Pemilu besok pemilih diminta memberikan empat suara sekaligus. Masing-masing untuk DPRD II (Kabupaten/Kota), DPRD I (Propinsi), DPR RI, dan DPD. Yang jadi pertanyaan saya, berapa lama waktu yang bakal dibutuhkan oleh setiap pemilih untuk memberikan suaranya?

Pertanyaan yang sepele kelihatannya. Tapi coba bayangkan berapa besarnya masalah yang bisa ditimbulkan oleh hal yang sepele ini di lapangan. Hal ini terkait dengan durasi pelaksanaan pemilihan pada saat hari H, yakni tanggal 9 April 2009 nanti.

Dulu, jamannya Indonesia cuma punya 3 partai politik, setiap pemilih hanya butuh waktu paling lama 1 menit untuk menyalurkan suaranya. Jumlah pilihan yang hanya 3 membuat ukuran kertas suara kecil, cukup 2-3 lipatan saja untuk membuka dan menutupnya. Selain itu, pemilih juga tak perlu menghabiskan waktu berlama-lama mencari pilihannya karena sekali pandang sudah terlihat semua. Tinggal coblos yang mana pilihannya. Hijau, kuning, atau merah.

Pemilu 1999 dan 2004 memang diikuti banyak parpol, tapi caranya cukup dengan mencoblos lambang partai. Tidak ada juga deretan nama caleg di bawah tiap-tiap logo partai. Dengan demikian ukuran kertas suara tidaklah terlalu besar, dan tentu saja waktu yang diperlukan masing-masing pemilih juga tidak terlalu lama.

Nah, Pemilu April mendatang benar-benar beda. Ada 48 partai yang bertanding, plus ratusan calon legislator. Masalah pertama datang dari besarnya ukuran kertas suara. Saking besarnya, bilik suara sumbangan Jepang yang akan dipergunakan pada Pemilu nanti tidak mampu menutupi lebar kertas. Hati-hati, bisa-bisa orang di sebelah atau belakang Anda tahu apa yang Anda pilih. Bukan itu saja. Lebarnya kertas juga membuat surat suara tidak muat waktu dimasukkan ke dalam kotak suara (yang juga masih menggunakan bantuan dari Jepang).

Masalah kedua timbul berkaitan dengan cara baru yang diterapkan KPU untuk melakukan pemilihan, yakni dengan mencentang alias memberi tanda cek pada pilihan. Sosialisasi yang kurang memadai membuat banyak pemilih, terutama yang jauh dari pusat keramaian dan tidak punya akses informasi, membutuhkan waktu lebih lama ketika di bilik suara. Petugas di TPS bisa jadi bakal lebih direpotkan oleh para pemilih yang kebingungan mencari pilihannya dan tidak tahu cara melakukan pilihan.

Dari dua masalah di atas, Pemilu mendatang rasa-rasanya akan menjadi Pemilu terlama sepanjang sejarah Indonesia. Coba saja hitung berapa lama waktu untuk membuka lipatan kertas suara, berapa lama waktu untuk meletakkan kertas suara tepat di meja dalam bilik suara yang sempit, berapa lama waktu untuk mencari letak pilihan di antara sekian gambar dan deretan nama, dan berapa lama waktu untuk melipat kertas suara. Kalikan empat karena kertas suara yang harus dicentang ada empat.

Misalkan saja masing-masing pemilih membutuhkan waktu rata-rata 2 menit untuk melakukan pemilihan, dan di satu TPS ada 350 pemilih (KPU membolehkan hingga maks. 500 pemilih/TPS), maka TPS tersebut memerlukan waktu 700 menit. Waktu 700 menit itu sama dengan 11,5 jam lebih! Artinya, kalau pemilihan dimulai pukul 08.00 pagi, maka pemilihan baru akan selesai pukul 21.00-21.30 (tidak termasuk waktu istirahat). Tak terbayangkan betapa letihnya para petugas di TPS dibuatnya. Padahal setelah pemilihan suara selesai, jumlah suara yang masuk mesti dihitung sesegera mungkin dan harus selesai hari itu juga. Nah, lho!

Duh, Pemilu 2009 benar-benar rumit ya? Tidak cuma rumit, tapi juga mahal. Maka, kalau saya boleh berpendapat, sebaiknya KPU membuat aturan tegas mengenai parpol peserta Pemilu untuk tahun 2014 mendatang. Buatlah sistem pemilu seramping dan seefisien mungkin agar pemilih tak bingung, petugas TPS tidak keletihan, dan biaya yang dikeluarkan Pemerintah tidak banyak. Setuju?

Pemilu tinggal hitungan hari. Di tengah ingar-bingar kampanye yang dilakukan para kontestan Pemilu, berita-berita tentang kurang beresnya distribusi logistik Pemilu berseliweran di televisi. Akankah Pemilu 2009 mundur? Kalau kata Detik.com sih jangan. Karena kalau sampai mundur akan lebih banyak kerugiannya ketimbang manfaatnya.

Pemilu mendatang benar-benar ribet. Bagaimana tidak? Selain jumlah partai politik peserta Pemilu yang kelewat banyak, pemandangan di atas kertas suara bakal dipenuhi pula oleh ratusan nama calon legislator alias caleg. Eits, itu baru satu kertas suara lho. Padahal Pemilu besok pemilih diminta memberikan empat suara sekaligus. Masing-masing untuk DPRD II (Kabupaten/Kota), DPRD I (Propinsi), DPR RI, dan DPD. Yang jadi pertanyaan saya, berapa lama waktu yang bakal dibutuhkan oleh setiap pemilih untuk memberikan suaranya?

Pertanyaan yang sepele kelihatannya. Tapi coba bayangkan berapa besarnya masalah yang bisa ditimbulkan oleh hal yang sepele ini di lapangan. Hal ini terkait dengan durasi pelaksanaan pemilihan pada saat hari H, yakni tanggal 9 April 2009 nanti.

Dulu, jamannya Indonesia cuma punya 3 partai politik, setiap pemilih hanya butuh waktu paling lama 1 menit untuk menyalurkan suaranya. Jumlah pilihan yang hanya 3 membuat ukuran kertas suara kecil, cukup 2-3 lipatan saja untuk membuka dan menutupnya. Selain itu, pemilih juga tak perlu menghabiskan waktu berlama-lama mencari pilihannya karena sekali pandang sudah terlihat semua. Tinggal coblos yang mana pilihannya. Hijau, kuning, atau merah.

Pemilu 1999 dan 2004 memang diikuti banyak parpol, tapi caranya cukup dengan mencoblos lambang partai. Tidak ada juga deretan nama caleg di bawah tiap-tiap logo partai. Dengan demikian ukuran kertas suara tidaklah terlalu besar, dan tentu saja waktu yang diperlukan masing-masing pemilih juga tidak terlalu lama.

Nah, Pemilu April mendatang benar-benar beda. Ada 48 partai yang bertanding, plus ratusan calon legislator. Masalah pertama datang dari besarnya ukuran kertas suara. Saking besarnya, bilik suara sumbangan Jepang yang akan dipergunakan pada Pemilu nanti tidak mampu menutupi lebar kertas. Hati-hati, bisa-bisa orang di sebelah atau belakang Anda tahu apa yang Anda pilih. Bukan itu saja. Lebarnya kertas juga membuat surat suara tidak muat waktu dimasukkan ke dalam kotak suara (yang juga masih menggunakan bantuan dari Jepang).

Masalah kedua timbul berkaitan dengan cara baru yang diterapkan KPU untuk melakukan pemilihan, yakni dengan mencentang alias memberi tanda cek pada pilihan. Sosialisasi yang kurang memadai membuat banyak pemilih, terutama yang jauh dari pusat keramaian dan tidak punya akses informasi, membutuhkan waktu lebih lama ketika di bilik suara. Petugas di TPS bisa jadi bakal lebih direpotkan oleh para pemilih yang kebingungan mencari pilihannya dan tidak tahu cara melakukan pilihan.

Dari dua masalah di atas, Pemilu mendatang rasa-rasanya akan menjadi Pemilu terlama sepanjang sejarah Indonesia. Coba saja hitung berapa lama waktu untuk membuka lipatan kertas suara, berapa lama waktu untuk meletakkan kertas suara tepat di meja dalam bilik suara yang sempit, berapa lama waktu untuk mencari letak pilihan di antara sekian gambar dan deretan nama, dan berapa lama waktu untuk melipat kertas suara. Kalikan empat karena kertas suara yang harus dicentang ada empat.

Misalkan saja masing-masing pemilih membutuhkan waktu rata-rata 2 menit untuk melakukan pemilihan, dan di satu TPS ada 350 pemilih (KPU membolehkan hingga maks. 500 pemilih/TPS), maka TPS tersebut memerlukan waktu 700 menit. Waktu 700 menit itu sama dengan 11,5 jam lebih! Artinya, kalau pemilihan dimulai pukul 08.00 pagi, maka pemilihan baru akan selesai pukul 21.00-21.30 (tidak termasuk waktu istirahat). Tak terbayangkan betapa letihnya para petugas di TPS dibuatnya. Padahal setelah pemilihan suara selesai, jumlah suara yang masuk mesti dihitung sesegera mungkin dan harus selesai hari itu juga. Nah, lho!

Duh, Pemilu 2009 benar-benar rumit ya? Tidak cuma rumit, tapi juga mahal. Maka, kalau saya boleh berpendapat, sebaiknya KPU membuat aturan tegas mengenai parpol peserta Pemilu untuk tahun 2014 mendatang. Buatlah sistem pemilu seramping dan seefisien mungkin agar pemilih tak bingung, petugas TPS tidak keletihan, dan biaya yang dikeluarkan Pemerintah tidak banyak. Setuju?

29 Maret 2009

Konon, keberhasilan Barack Hussein Obama memenangi Pemilu AS akhir tahun lalu berkat agresifnya kampanye online yang dilakukan tim sukses Barry. Memang, menjelang Pemilu tim sukses anak tiri Soetoro ini sibuk menggarap komunitas online dengan membuat profil Obama di berbagai situs jejaring sosial. Di antaranya di Facebook, MySpace, LinkedIn, Friendster, YouTube, dan Twitter. Selain itu tim sukses Obama juga membuat situs khusus tentang Obama, www.barackobama.com, dan situs khusus bagi para donatur yang ingin memberi sumbangan di ObamaDonations.com.

Keaktifan Barack Obama di internet merupakan satu poin penting bagi kemenangannya. Menurut data yang dikeluarkan InternetWorldStats.com, pengguna internet di Amerika Serikat sebanyak 218,3 juta. Angka ini merupakan 71,9% dari total populasi AS yang tercatat sebanyak 303,8 jiwa. Terlebih, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat AS. So, merajai internet membantu Obama untuk dapat menang telak atas McCain.

Di Indonesia, internet rupanya juga mulai dilirik oleh para politisi. Di Facebook, iklan Gerindra/Prabowo sudah muncul sejak pertengahan tahun lalu. Disusul dengan iklan-iklan para calon legislator. Lalu yang tak kalah menarik adalah iklan caleg di situs PPC. Saya sempat merekam sebuah iklan caleg yang nongol dari script KlikSaya.



Fenomena ini bolehlah kita bilang 'mencontek' strategi kampanye Obama. Namun, satu pertanyaan kritis yang muncul kemudian adalah, sejauh mana efektifitas iklan caleg di internet? Ini mengingat penetrasi penggunaan internet di Indonesia yang baru mencapai angka 10% dari total populasi. Menurut data dari InternetWorldStats, pengguna internet di Indonesia baru sebanyak 25 juta orang dari 237.512.355 penduduk. Masih terbilang sedikit. Bandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang angka pengguna internetnya masing-masing lebih dari 60%.

Selain itu, sistem pemilihan di Indonesia yang berdasarkan basis daerah pemilihan (dapil) tertentu membuat iklan caleg di internet jadi tidak efektif. Kenapa? Karena iklan caleg DPR RI untuk dapil DI Yogyakarta, misalnya, bakal muncul dan bisa dilihat oleh pengguna internet di luar Jogja. Apa untungnya iklan tersebut ditampilkan pada mereka yang notabene bukan calon pemilih di Jogja?

Facebook belum bisa melakukan filter iklan berdasarkan kota atau propinsi. Teknologi Facebook baru memungkinkan pemasang iklan untuk memilih audiens berdasarkan negara. Sedangkan di KlikSaya, dan situs PPC lokal lainnya, juga tidak ada filter yang dapat membatasi penayangan iklan. KlikSaya hanya bisa melakukan filter tema blog, yakni di blog mana saja iklan tersebut akan ditampilkan.

Melihat dua hal tersebut, rasa-rasanya iklan caleg di internet akan sia-sia deh. Pasalnya, selain komunitasnya sedikit, iklan tersebut juga tidak memiliki target yang jelas. Masih untung kalau tidak dikerjai para blogger iseng, dengan cara mengklik iklan mereka sering-sering misalnya. Tentu saja yang diklik iklan di blog lain. Kalau ngeklik iklan di blog sendiri ya sama saja bunuh diri. :))

Sekedar saran buat para caleg yang suka pasang iklan di Facebook atau KlikSaya, alangkah lebih baiknya kalau dana iklan online itu disumbangkan ke para korban jebolnya tanggul Situ Gintung. Iya kan?

Konon, keberhasilan Barack Hussein Obama memenangi Pemilu AS akhir tahun lalu berkat agresifnya kampanye online yang dilakukan tim sukses Barry. Memang, menjelang Pemilu tim sukses anak tiri Soetoro ini sibuk menggarap komunitas online dengan membuat profil Obama di berbagai situs jejaring sosial. Di antaranya di Facebook, MySpace, LinkedIn, Friendster, YouTube, dan Twitter. Selain itu tim sukses Obama juga membuat situs khusus tentang Obama, www.barackobama.com, dan situs khusus bagi para donatur yang ingin memberi sumbangan di ObamaDonations.com.

Keaktifan Barack Obama di internet merupakan satu poin penting bagi kemenangannya. Menurut data yang dikeluarkan InternetWorldStats.com, pengguna internet di Amerika Serikat sebanyak 218,3 juta. Angka ini merupakan 71,9% dari total populasi AS yang tercatat sebanyak 303,8 jiwa. Terlebih, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat AS. So, merajai internet membantu Obama untuk dapat menang telak atas McCain.

Di Indonesia, internet rupanya juga mulai dilirik oleh para politisi. Di Facebook, iklan Gerindra/Prabowo sudah muncul sejak pertengahan tahun lalu. Disusul dengan iklan-iklan para calon legislator. Lalu yang tak kalah menarik adalah iklan caleg di situs PPC. Saya sempat merekam sebuah iklan caleg yang nongol dari script KlikSaya.



Fenomena ini bolehlah kita bilang 'mencontek' strategi kampanye Obama. Namun, satu pertanyaan kritis yang muncul kemudian adalah, sejauh mana efektifitas iklan caleg di internet? Ini mengingat penetrasi penggunaan internet di Indonesia yang baru mencapai angka 10% dari total populasi. Menurut data dari InternetWorldStats, pengguna internet di Indonesia baru sebanyak 25 juta orang dari 237.512.355 penduduk. Masih terbilang sedikit. Bandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang angka pengguna internetnya masing-masing lebih dari 60%.

Selain itu, sistem pemilihan di Indonesia yang berdasarkan basis daerah pemilihan (dapil) tertentu membuat iklan caleg di internet jadi tidak efektif. Kenapa? Karena iklan caleg DPR RI untuk dapil DI Yogyakarta, misalnya, bakal muncul dan bisa dilihat oleh pengguna internet di luar Jogja. Apa untungnya iklan tersebut ditampilkan pada mereka yang notabene bukan calon pemilih di Jogja?

Facebook belum bisa melakukan filter iklan berdasarkan kota atau propinsi. Teknologi Facebook baru memungkinkan pemasang iklan untuk memilih audiens berdasarkan negara. Sedangkan di KlikSaya, dan situs PPC lokal lainnya, juga tidak ada filter yang dapat membatasi penayangan iklan. KlikSaya hanya bisa melakukan filter tema blog, yakni di blog mana saja iklan tersebut akan ditampilkan.

Melihat dua hal tersebut, rasa-rasanya iklan caleg di internet akan sia-sia deh. Pasalnya, selain komunitasnya sedikit, iklan tersebut juga tidak memiliki target yang jelas. Masih untung kalau tidak dikerjai para blogger iseng, dengan cara mengklik iklan mereka sering-sering misalnya. Tentu saja yang diklik iklan di blog lain. Kalau ngeklik iklan di blog sendiri ya sama saja bunuh diri. :))

Sekedar saran buat para caleg yang suka pasang iklan di Facebook atau KlikSaya, alangkah lebih baiknya kalau dana iklan online itu disumbangkan ke para korban jebolnya tanggul Situ Gintung. Iya kan?

27 Maret 2009

Anda kenal Alfian Alfan, Arif Afandi atau Asef Umar Fakhruddin? Tidak jadi persoalan kalau Anda tidak mengenal mereka, atau bahkan baru kali ini tahu nama-nama tersebut. Kenapa? Jawabannya simpel saja, mereka penulis kolom di media cetak, sedangkan kita adalah blogger yang lebih akrab dengan media online.

Mereka adalah kolumnis-kolumnis terkenal di koran-koran nasional. Alfian Alfan sering menampilkan tulisannya di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan media nasional lainnya. Arif Afandi adalah pentolan Jawa Pos dan tulisan-tulisannya kerap mewarnai halaman Jawa Pos serta seluruh media daerah di bawah jaringan JPNN. Begitu juga dengan Asef Umar Fakhruddin. Tulisannya sudah bertebaran di mana-mana, dan ia juga baru saja menerbitkan beberapa judul buku.

Kenapa saya menceritakan mereka?

Belum berapa lama ini saya terlibat satu diskusi seru dengan seorang penulis kolom ternama. Awalnya ia sering sekali menyarankan saya untuk menulis artikel di koran. Pertanyaan khasnya setiap bertemu saya adalah, "Sudah nulis, Kang?" Biasanya saya hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan itu. Kalaupun menjawab, saya akan bilang, "Mohon doanya, Kang." Nah, hari itu saya menjawab lain. "Sudah!" Kata saya. Dia lantas tanya lagi, "Nulis di mana?" Saya jawab, "Di blog." Dia tersenyum.

Pembicaraan kemudian melebar. Sampai pada saatnya dia mengeluarkan ucapan yang membuat telinga saya memerah. Apa katanya? "Saya dan teman-teman komunitas penulis itu sejak dulu tidak begitu tertarik dengan blog. Soalnya kalau blog itu kan asal tulis saja bisa dimuat, pasti dimuat. Beda dengan koran yang harus melalui proses redaksional." Intinya, ia ingin mengatakan kalau blog itu mutunya kalah dibanding media cetak. Itu artinya, secara tidak langsung ia ingin mengatakan kalau kolumnis seperti dia 'lebih berkualitas' dibanding blogger. Oh ya?

Ya, benar kalau ia bilang tulisan di koran telah melalui proses seleksi di meja redaksi. Ia juga benar ketika mengatakan kalau asal menulis saja sudah bisa dimuat di blog. Tapi ia salah besar ketika menyimpulkan kalau blog tidak sama baik dengan koran, dan blogger tidak sepandai kolumnis dalam hal menulis. Di titik ini ia telah mencampur-adukkan fakta dengan pendapat pribadi dan bingung dengan rangkaian logikanya sendiri sehingga menyebabkannya mengeluarkan kesimpulan yang tidak tepat. Ditambah lagi, ia juga tidak begitu akrab dengan blog dan komunitas blogger. Kloplah sudah.

Ada banyak alasan mengapa seseorang lebih suka menulis di blog ketimbang di koran. Alasan paling utama adalah ketidakmampuan penulis untuk mengontrol dan mengatur apa yang harus ia tulis ketika ingin menulis di koran. Setiap media memiliki kebijakan redaksional sendiri-sendiri mengenai naskah yang boleh dimuat. Untuk dapat menembus meja redaksi, penulis kolom harus bisa menyesuaikan diri dengan style yang diinginkan koran tersebut.

Selain itu, koran adalah media bisnis, jualannya adalah berita. Agar laku, sebuah media harus bisa mencium informasi apa yang sedang dibutuhkan masyarakat. Isu-isu apa saja yang tengah berkembang, itulah yang akan diangkat. Begitu juga dengan kolom opininya (yang ditulis oleh para kolumnis seperti saya sebutkan di atas). Hanya artikel dengan tema-tema 'aktual' saja yang akan lolos sampai ke halaman opini. Tapi arti 'aktual' di sini sudah berubah maknanya menjadi 'sesuai keinginan pasar' dan 'sesuai dengan mainstream'. Lihat saja saat peringatan Hari Raya Nyepi kemarin. Koran mana yang tidak menampilkan artikel bertema Nyepi?

Masih ada hubungannya dengan koran sebagai media bisnis, ketika Anda mengirim sebuah artikel ke satu media dan pada saat yang bersamaan seorang yang terkenal (tokoh masyarakat, akademisi, pakar, dll.) juga membuat artikel dengan tema yang sama dengan Anda, percayalah, redaksi akan lebih memilih artikel si tokoh tadi. Mengapa demikian? Maaf, nama Anda tidak cukup menjual. Redaksi tidak mau berjudi dengan menampilkan tulisan Anda yang bukan siapa-siapa, yang belum dikenal masyarakat luas. Mereka lebih memilih popularitas penulis sebagai daya tarik, sungguhpun mungkin tulisan Anda lebih baik.

Cukup? Belum. Satu lagi kelemahan media cetak adalah keterbatasan halaman, baik oleh jumlah halaman yang sudah tetap maupun karena digusur iklan. Anda hanya boleh mengirim naskah sepanjang 4 halaman kwarto spasi ganda ke Kompas. Lebih dari itu, tulisan Anda kemungkinan besar diedit, dipotong. Tapi editor tidak akan mau bersusah-payah mengedit terlalu banyak. Kalau ada tulisan lain dengan tema sama tapi seusai dengan lebar halaman yang disediakan, tulisan Anda akan dibuang ke kotak sampah.

Menulis di media massa juga harus memiliki kesabaran ekstra. Anda mesti sabar menunggu kabar naskah yang dikirimkan, entah itu ditolak atau diterima. Padahal kalau tema yang Anda angkat sebuah topik tematik, begitu naskah sampai ke tangan editor bisa jadi isi tulisan tersebut sudah basi. Tambahan lagi, tidak cukup sekali-dua kali mengirim naskah untuk dapat melihat tulisan kita dimuat di koran. Seorang wartawan senior Kedaulatan Rakyat pernah bercerita kalau ia harus mengirim lebih dari 100 naskah sebelum bisa melihat karyanya dimuat di Intisari. Wow!

Bersyukurlah kita yang hidup di jaman internet ini, terlebih saat blog dan citizen journalism menjadi cara baru menyampaikan informasi kepada masyakarat luas. Karena itu, berbagai kemudahan yang dimiliki blog jangan lantas membuat kita selaku blogger berlaku seenaknya saja dalam menulis konten. Jangan biarkan kolumnis yang saya ceritakan tadi terus-terusan meremehkan blogger. Untuk itu, ayo kita ciptakan konten yang lebih berbobot. Tunjukkan bahwa blogger juga tak kalah piawai dengan kolumnis koran dalam soal tulis-menulis. Setuju?

Anda kenal Alfian Alfan, Arif Afandi atau Asef Umar Fakhruddin? Tidak jadi persoalan kalau Anda tidak mengenal mereka, atau bahkan baru kali ini tahu nama-nama tersebut. Kenapa? Jawabannya simpel saja, mereka penulis kolom di media cetak, sedangkan kita adalah blogger yang lebih akrab dengan media online.

Mereka adalah kolumnis-kolumnis terkenal di koran-koran nasional. Alfian Alfan sering menampilkan tulisannya di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan media nasional lainnya. Arif Afandi adalah pentolan Jawa Pos dan tulisan-tulisannya kerap mewarnai halaman Jawa Pos serta seluruh media daerah di bawah jaringan JPNN. Begitu juga dengan Asef Umar Fakhruddin. Tulisannya sudah bertebaran di mana-mana, dan ia juga baru saja menerbitkan beberapa judul buku.

Kenapa saya menceritakan mereka?

Belum berapa lama ini saya terlibat satu diskusi seru dengan seorang penulis kolom ternama. Awalnya ia sering sekali menyarankan saya untuk menulis artikel di koran. Pertanyaan khasnya setiap bertemu saya adalah, "Sudah nulis, Kang?" Biasanya saya hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan itu. Kalaupun menjawab, saya akan bilang, "Mohon doanya, Kang." Nah, hari itu saya menjawab lain. "Sudah!" Kata saya. Dia lantas tanya lagi, "Nulis di mana?" Saya jawab, "Di blog." Dia tersenyum.

Pembicaraan kemudian melebar. Sampai pada saatnya dia mengeluarkan ucapan yang membuat telinga saya memerah. Apa katanya? "Saya dan teman-teman komunitas penulis itu sejak dulu tidak begitu tertarik dengan blog. Soalnya kalau blog itu kan asal tulis saja bisa dimuat, pasti dimuat. Beda dengan koran yang harus melalui proses redaksional." Intinya, ia ingin mengatakan kalau blog itu mutunya kalah dibanding media cetak. Itu artinya, secara tidak langsung ia ingin mengatakan kalau kolumnis seperti dia 'lebih berkualitas' dibanding blogger. Oh ya?

Ya, benar kalau ia bilang tulisan di koran telah melalui proses seleksi di meja redaksi. Ia juga benar ketika mengatakan kalau asal menulis saja sudah bisa dimuat di blog. Tapi ia salah besar ketika menyimpulkan kalau blog tidak sama baik dengan koran, dan blogger tidak sepandai kolumnis dalam hal menulis. Di titik ini ia telah mencampur-adukkan fakta dengan pendapat pribadi dan bingung dengan rangkaian logikanya sendiri sehingga menyebabkannya mengeluarkan kesimpulan yang tidak tepat. Ditambah lagi, ia juga tidak begitu akrab dengan blog dan komunitas blogger. Kloplah sudah.

Ada banyak alasan mengapa seseorang lebih suka menulis di blog ketimbang di koran. Alasan paling utama adalah ketidakmampuan penulis untuk mengontrol dan mengatur apa yang harus ia tulis ketika ingin menulis di koran. Setiap media memiliki kebijakan redaksional sendiri-sendiri mengenai naskah yang boleh dimuat. Untuk dapat menembus meja redaksi, penulis kolom harus bisa menyesuaikan diri dengan style yang diinginkan koran tersebut.

Selain itu, koran adalah media bisnis, jualannya adalah berita. Agar laku, sebuah media harus bisa mencium informasi apa yang sedang dibutuhkan masyarakat. Isu-isu apa saja yang tengah berkembang, itulah yang akan diangkat. Begitu juga dengan kolom opininya (yang ditulis oleh para kolumnis seperti saya sebutkan di atas). Hanya artikel dengan tema-tema 'aktual' saja yang akan lolos sampai ke halaman opini. Tapi arti 'aktual' di sini sudah berubah maknanya menjadi 'sesuai keinginan pasar' dan 'sesuai dengan mainstream'. Lihat saja saat peringatan Hari Raya Nyepi kemarin. Koran mana yang tidak menampilkan artikel bertema Nyepi?

Masih ada hubungannya dengan koran sebagai media bisnis, ketika Anda mengirim sebuah artikel ke satu media dan pada saat yang bersamaan seorang yang terkenal (tokoh masyarakat, akademisi, pakar, dll.) juga membuat artikel dengan tema yang sama dengan Anda, percayalah, redaksi akan lebih memilih artikel si tokoh tadi. Mengapa demikian? Maaf, nama Anda tidak cukup menjual. Redaksi tidak mau berjudi dengan menampilkan tulisan Anda yang bukan siapa-siapa, yang belum dikenal masyarakat luas. Mereka lebih memilih popularitas penulis sebagai daya tarik, sungguhpun mungkin tulisan Anda lebih baik.

Cukup? Belum. Satu lagi kelemahan media cetak adalah keterbatasan halaman, baik oleh jumlah halaman yang sudah tetap maupun karena digusur iklan. Anda hanya boleh mengirim naskah sepanjang 4 halaman kwarto spasi ganda ke Kompas. Lebih dari itu, tulisan Anda kemungkinan besar diedit, dipotong. Tapi editor tidak akan mau bersusah-payah mengedit terlalu banyak. Kalau ada tulisan lain dengan tema sama tapi seusai dengan lebar halaman yang disediakan, tulisan Anda akan dibuang ke kotak sampah.

Menulis di media massa juga harus memiliki kesabaran ekstra. Anda mesti sabar menunggu kabar naskah yang dikirimkan, entah itu ditolak atau diterima. Padahal kalau tema yang Anda angkat sebuah topik tematik, begitu naskah sampai ke tangan editor bisa jadi isi tulisan tersebut sudah basi. Tambahan lagi, tidak cukup sekali-dua kali mengirim naskah untuk dapat melihat tulisan kita dimuat di koran. Seorang wartawan senior Kedaulatan Rakyat pernah bercerita kalau ia harus mengirim lebih dari 100 naskah sebelum bisa melihat karyanya dimuat di Intisari. Wow!

Bersyukurlah kita yang hidup di jaman internet ini, terlebih saat blog dan citizen journalism menjadi cara baru menyampaikan informasi kepada masyakarat luas. Karena itu, berbagai kemudahan yang dimiliki blog jangan lantas membuat kita selaku blogger berlaku seenaknya saja dalam menulis konten. Jangan biarkan kolumnis yang saya ceritakan tadi terus-terusan meremehkan blogger. Untuk itu, ayo kita ciptakan konten yang lebih berbobot. Tunjukkan bahwa blogger juga tak kalah piawai dengan kolumnis koran dalam soal tulis-menulis. Setuju?

24 Maret 2009

Masih ingat cerita saya tentang betapa pasarannya nama Eko? Buat yang belum membaca, silakan deh baca dulu dan temukan betapa banyaknya si Eko Nurhuda ini bertemu dengan sesama pemilik nama Eko sejak dari masa kecilnya hingga sekarang. Nah, kejadian Senin (23/3) sore kemarin di halaman kantor Harian Jogja mungkin bisa jadi pelengkap cerita sekaligus fakta betapa banyaknya pemilik nama Eko itu.

Ceritanya, sebagai syarat untuk lulus dari Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), maka saya harus menempuh praktek kerja lapangan (PKL) alias magang kerja. Entah mengapa, sejak awal saya sudah niat ingin magang di Harian Jogja atau biasa disingkat Harjo. Ternyata, eh, ternyata, pihak Harjo menerima saya dengan tangan terbuka. Jadilah saya magang di sana terhitung sejak kemarin itu. Karena itulah saya kemudian sampai ke kantornya Harjo yang terletak di Jl. MT Haryono, dekat Plengkung Gading.

Hari pertama magang hanya diisi dengan pengarahan dari Pemimpin Redaksi (Pemred), Wapemred, dan Redaktur Harjo Minggu di mana saya bakal ditempatkan. Terus, namanya juga orang baru, sayapun berusaha bersosialisasi dengan kru Harjo yang lain, terutama yang se-desk dengan saya. Yah, pake jurus SKSD alias sok kenal sok dekat deh. Untungnya semua kru Harjo yang saya temui ramah-ramah, jadinya saya tidak kesulitan berbaur. Sepertinya saya langsung merasa betah di sana. :)

Setelah pengarahan dari para "petinggi" redaksi selesai, saya keluar menemui bagian HRD dan kesekretariatan untuk keperluan administrasi. Maksudnya pendataan anggota baru. Meskipun statusnya cuma reporter magang, tetap saja harus didata sebagai arsip. Entah kebetulan atau tidak, setelah acara di meja sekretariat redaksi selesai saya bertemu dengan salah satu kru Harjo Minggu, yakni Heru Lesmana. Ternyata kami seumuran dan sama-sama dari Sumatera. Jadi deh kita ngobrol. Mulanya kami ngobrol di atas, di ruang redaksi. Beberapa saat kemudian Heru mengajak saya turun dan ngobrol di bawah. Sayapun ikut karena memang mau sekalian pulang.

Sampai di bawah, Heru mengajak keluar ke angkringan yang berada tepat di depan kantor Harjo. Nah, di halaman parkir saya diperkenalkan dengan satpam Harjo yang sedang berjaga. Kejadian lucupun terjadi waktu kami saling memperkenalkan diri. Saya yang merasa lebih muda dari si bapak satpam langsung menyebutkan nama, "Eko, Pak." Eh, lha koq si bapak tersenyum lalu menjawab, "Sama." Koq namanya sama sih? Usut punya usut, rupanya si bapak satpam Harjo itu juga bernama Eko. Walah, tambah satu lagi deh anggota komunitas Eko. :)

Jauh sebelum pertemuan dengan Pak Eko itu, saya sebenarnya sudah lama merasa sebal setiap kali berada di kos. Apalagi waktu bapak kos mengabsen seluruh penghuni setiap habis azan. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan karena ada penghuni baru bernama Eko. Oh, my God!

Masih ingat cerita saya tentang betapa pasarannya nama Eko? Buat yang belum membaca, silakan deh baca dulu dan temukan betapa banyaknya si Eko Nurhuda ini bertemu dengan sesama pemilik nama Eko sejak dari masa kecilnya hingga sekarang. Nah, kejadian Senin (23/3) sore kemarin di halaman kantor Harian Jogja mungkin bisa jadi pelengkap cerita sekaligus fakta betapa banyaknya pemilik nama Eko itu.

Ceritanya, sebagai syarat untuk lulus dari Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), maka saya harus menempuh praktek kerja lapangan (PKL) alias magang kerja. Entah mengapa, sejak awal saya sudah niat ingin magang di Harian Jogja atau biasa disingkat Harjo. Ternyata, eh, ternyata, pihak Harjo menerima saya dengan tangan terbuka. Jadilah saya magang di sana terhitung sejak kemarin itu. Karena itulah saya kemudian sampai ke kantornya Harjo yang terletak di Jl. MT Haryono, dekat Plengkung Gading.

Hari pertama magang hanya diisi dengan pengarahan dari Pemimpin Redaksi (Pemred), Wapemred, dan Redaktur Harjo Minggu di mana saya bakal ditempatkan. Terus, namanya juga orang baru, sayapun berusaha bersosialisasi dengan kru Harjo yang lain, terutama yang se-desk dengan saya. Yah, pake jurus SKSD alias sok kenal sok dekat deh. Untungnya semua kru Harjo yang saya temui ramah-ramah, jadinya saya tidak kesulitan berbaur. Sepertinya saya langsung merasa betah di sana. :)

Setelah pengarahan dari para "petinggi" redaksi selesai, saya keluar menemui bagian HRD dan kesekretariatan untuk keperluan administrasi. Maksudnya pendataan anggota baru. Meskipun statusnya cuma reporter magang, tetap saja harus didata sebagai arsip. Entah kebetulan atau tidak, setelah acara di meja sekretariat redaksi selesai saya bertemu dengan salah satu kru Harjo Minggu, yakni Heru Lesmana. Ternyata kami seumuran dan sama-sama dari Sumatera. Jadi deh kita ngobrol. Mulanya kami ngobrol di atas, di ruang redaksi. Beberapa saat kemudian Heru mengajak saya turun dan ngobrol di bawah. Sayapun ikut karena memang mau sekalian pulang.

Sampai di bawah, Heru mengajak keluar ke angkringan yang berada tepat di depan kantor Harjo. Nah, di halaman parkir saya diperkenalkan dengan satpam Harjo yang sedang berjaga. Kejadian lucupun terjadi waktu kami saling memperkenalkan diri. Saya yang merasa lebih muda dari si bapak satpam langsung menyebutkan nama, "Eko, Pak." Eh, lha koq si bapak tersenyum lalu menjawab, "Sama." Koq namanya sama sih? Usut punya usut, rupanya si bapak satpam Harjo itu juga bernama Eko. Walah, tambah satu lagi deh anggota komunitas Eko. :)

Jauh sebelum pertemuan dengan Pak Eko itu, saya sebenarnya sudah lama merasa sebal setiap kali berada di kos. Apalagi waktu bapak kos mengabsen seluruh penghuni setiap habis azan. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan karena ada penghuni baru bernama Eko. Oh, my God!

23 Maret 2009

Tahu Kania Sutisnawinata kan? Itu lho, presenter Metro TV yang sering berkacamata (sepertinya dia satu-satunya presenter Metro TV yang berkacamata deh). Orangnya agak kecil-kecil, berambut pendek. Dulu ia sempat menjadi host Indonesia Now bersama Dalton Tanonaka. Sekarang Kania jarang kelihatan. Entah dapat tugas apa dari Metro TV yang membuatnya tidak sering lagi tampil di layar kaca The Election Channel itu. Apa karena sekarang Metro TV sudah punya banyak presenter baru ya? Entahlah.

Kenapa pagi-pagi begini sudah ngomongin Kania Sutisnawinata? Ceritanya pas lagi asyik berfesbuk ria saya menemukan satu tautan yang mengejutkan. *halah* Mau tahu apa isi videonya? Kania Sutisnawinata naik metro mini? Ah, bukan! Isinya ternyata sebuah video berisi adegan ketika Kania sedang menutup Headline News. Lho, bukannya sudah biasa tuh Kania membawakan Headline News? Iya, benar. Tapi yang luar biasa, presenter top sekelas Kania-pun ternyata masih bisa keseleo lho. Tidak percaya? Yuk, buktikan sendiri! Lihat videonya setelah mengklik link bertuliskan "Lanjutkan membaca "Kania Sutisnawinata Naik Metro Mini" di bawah ini. Hehehe...



Gimana, lucu kan? Kalau saja Surya Paloh lihat bisa-bisa Kania Sutisnawinata langsung kena tegur. Masa iya seenaknya saja mengganti nama stasiun TV tempatnya bekerja. Mending kalau gantinya dengan nama yang lebih bagus. Lha, kalau Metro TV jadi metro mini seperti tadi itu gimana coba? :) Sayangnya tidak ada keterangan kapan kejadian ini berlangsung.

Btw, selamat pagi, Indonesia...

Catatan: Video ini sudah ada di YouTube sejak kira-kira setahun yang lalu. Tapi pura-pura gak tahu aja yah? :)

Posting ini telah dikopi mentah-mentah oleh forum IndonesiaIndonesia.com. Silakan lihat kopiannya di sini. Duh, kalo gak bisa buat isi/topik mbok ya gak usah buat forum segala, Bung. :(


Tahu Kania Sutisnawinata kan? Itu lho, presenter Metro TV yang sering berkacamata (sepertinya dia satu-satunya presenter Metro TV yang berkacamata deh). Orangnya agak kecil-kecil, berambut pendek. Dulu ia sempat menjadi host Indonesia Now bersama Dalton Tanonaka. Sekarang Kania jarang kelihatan. Entah dapat tugas apa dari Metro TV yang membuatnya tidak sering lagi tampil di layar kaca The Election Channel itu. Apa karena sekarang Metro TV sudah punya banyak presenter baru ya? Entahlah.

Kenapa pagi-pagi begini sudah ngomongin Kania Sutisnawinata? Ceritanya pas lagi asyik berfesbuk ria saya menemukan satu tautan yang mengejutkan. *halah* Mau tahu apa isi videonya? Kania Sutisnawinata naik metro mini? Ah, bukan! Isinya ternyata sebuah video berisi adegan ketika Kania sedang menutup Headline News. Lho, bukannya sudah biasa tuh Kania membawakan Headline News? Iya, benar. Tapi yang luar biasa, presenter top sekelas Kania-pun ternyata masih bisa keseleo lho. Tidak percaya? Yuk, buktikan sendiri! Lihat videonya setelah mengklik link bertuliskan "Lanjutkan membaca "Kania Sutisnawinata Naik Metro Mini" di bawah ini. Hehehe...



Gimana, lucu kan? Kalau saja Surya Paloh lihat bisa-bisa Kania Sutisnawinata langsung kena tegur. Masa iya seenaknya saja mengganti nama stasiun TV tempatnya bekerja. Mending kalau gantinya dengan nama yang lebih bagus. Lha, kalau Metro TV jadi metro mini seperti tadi itu gimana coba? :) Sayangnya tidak ada keterangan kapan kejadian ini berlangsung.

Btw, selamat pagi, Indonesia...

Catatan: Video ini sudah ada di YouTube sejak kira-kira setahun yang lalu. Tapi pura-pura gak tahu aja yah? :)

Posting ini telah dikopi mentah-mentah oleh forum IndonesiaIndonesia.com. Silakan lihat kopiannya di sini. Duh, kalo gak bisa buat isi/topik mbok ya gak usah buat forum segala, Bung. :(


21 Maret 2009

Bukan karena saya dekat dengan Bang Zalukhu kalau kemudian 3 posting terakhir blog ini menyinggung-nyinggung kasus saling kritiknya dengan Mualim sang Kritikus. Cuma memang harus diakui kalau kritik-kritik yang dilontarkan Bang Zal tajam sekali. Tak heran bila pihak-pihak yang dikritik jadi merah telinganya. Terakhir, saat kritik keras dilontarkan pada Joko Susilo, eh, koq malah yang menanggapi seorang blogger anonim ber-nick Mualim.

Mengamati sikap kritis Bang Zal dan Zalukhu.com, saya jadi ingat kisah sebuah surat kabar nasional bernama Indonesia Raya. Koran harian ini dikenal sebagai pers yang sangat kritis terhadap pemerintah saat itu. Hidup di dua orde kekuasaan (1949-1959 dan 1968-1974), Indonesia Raya dua kali dibredel akibat kekritisannya. Pembredelan kedua di jaman Presiden Soeharto kemudian menghabisi riwayat koran pimpinan Mochtar Lubis ini untuk selama-lamanya. Tinggallah nama Indonesia Raya hanya tinggal sejarah saja.

Sejak pertama kali terbit pada tanggal 29 Desember 1949, Indonesia Raya dikenal kritis, anti korupsi, anti penyelewengan, dan senantiasa memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah. Karena itu, Mochtar Lubis dan rekan-rekannya tak segan-segan mengungkap berbagai kasus korupsi dan skandal yang dilakukan pejabat tinggi negara. IR, demikian koran ini biasa disebut, pernah mengkritik layanan Komite Ramah Tamah yang disediakan pemerintah Orde Lama sewaktu menyelenggarakan KTT Asia-Afrika sebagai sebuah "prostitusi terselubung". Bahkan IR tak takut memberitakan pernikahan diam-diam antara Presiden Soekarno dengan Hartini.

Bisa ditebak, keberanian tanpa pandang bulu ini membuat petinggi Orde Lama gerah. Puncaknya, ketika Indonesia Raya memberitakan peristiwa 20 Desember 1956 secara besar-besaran, Mochtar Lubis ditahan dengan tuduhan mendukung gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera. IR-pun berhenti terbit.

Saat tongkat estafeta kekuasaan negara berpindah ke tangan Jenderal Soeharto, Mochtar Lubis kembali berupaya menghidupkan Indonesia Raya. Dengan susah-payah ijin kembali didapatkan dan IR terbit untuk kedua kalinya pada tanggal 30 Oktober 1968. Seolah sudah menjadi watak, sikap kritis IR terhadap perilaku negatif aparat pemerintahan kembali ditunjukkan dalam pemberitaannya. Sama seperti saat belum dibredel Presiden Soekarno, IR di masa Orde Baru juga kerap menurunkan laporan investigatif seputar penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolaan negara.

Kasus mega korupsi di tubuh Pertamina di tahun 70-an menjadi sorotan utama Indonesia Raya. IR dengan berani mengungkap hal ini ke publik sehingga memberikan tamparan keras pada muka Orde Baru. Kemudian ketika Presiden Soeharto membuka pintu investasi selebar-lebarnya bagi investor asing, khususnya investor Jepang, Mochtar Lubis, dkk. memberikan kritik keras. Dan saat peristiwa demo anarkis pada 15 Januari 1975 (Malari) meletus, IR menurunkan laporannya secara lengkap dan tuntas. Beberapa hari setelahnya, IR terus mengulas peristiwa tersebut dari berbagai perspektif. Entah mengapa, hal ini kemudian membuat pemerintah Orde Baru tidak senang sehingga IR dibredel (lagi). Surat Ijin Terbit Indonesia Raya dicabut oleh Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika tanggal 22 Januari 1974, atau tepat sepekan setelah Peristiwa Malari.

Tidak cukup sampai di sana. Setelah korannya dibredel, tiga pengasuh Indonesia Raya (Mochtar Lubis, Enggak Baha'udin, dan Kustiniyati Mochtar) juga ditangkap dan diinterogasi oleh aparat keamanan. Mereka dituduh mensponsori sejumlah rapat gelap dalam rangka mendiskreditkan pemerintah dengan menurunkan pemberitaan yang tendensius. Namun tuduhan tersebut tidak terbukti sehingga merekapun dibebaskan kembali.

Nah, kalau sikap kritis Indonesia Raya terhadap pemerintah berakibat pembredelan dan penangkapan, kekritisan Bang Zal dalam Zalukhu.com juga menuai buah pahit. Kita tentu ingat bagaimana tertekannya Bang Zal menerima serangan-serangan yang dilakukan oleh orang-orang yang dikritiknya, sampai-sampai ia memutuskan berhenti dulu untuk sementara waktu selama sebulan demi me-refresh dirinya sendiri. Akankah kisah Zalukhu.com sama dengan nasib Indonesia Raya? Silakan jawab sendiri.

Bukan karena saya dekat dengan Bang Zalukhu kalau kemudian 3 posting terakhir blog ini menyinggung-nyinggung kasus saling kritiknya dengan Mualim sang Kritikus. Cuma memang harus diakui kalau kritik-kritik yang dilontarkan Bang Zal tajam sekali. Tak heran bila pihak-pihak yang dikritik jadi merah telinganya. Terakhir, saat kritik keras dilontarkan pada Joko Susilo, eh, koq malah yang menanggapi seorang blogger anonim ber-nick Mualim.

Mengamati sikap kritis Bang Zal dan Zalukhu.com, saya jadi ingat kisah sebuah surat kabar nasional bernama Indonesia Raya. Koran harian ini dikenal sebagai pers yang sangat kritis terhadap pemerintah saat itu. Hidup di dua orde kekuasaan (1949-1959 dan 1968-1974), Indonesia Raya dua kali dibredel akibat kekritisannya. Pembredelan kedua di jaman Presiden Soeharto kemudian menghabisi riwayat koran pimpinan Mochtar Lubis ini untuk selama-lamanya. Tinggallah nama Indonesia Raya hanya tinggal sejarah saja.

Sejak pertama kali terbit pada tanggal 29 Desember 1949, Indonesia Raya dikenal kritis, anti korupsi, anti penyelewengan, dan senantiasa memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah. Karena itu, Mochtar Lubis dan rekan-rekannya tak segan-segan mengungkap berbagai kasus korupsi dan skandal yang dilakukan pejabat tinggi negara. IR, demikian koran ini biasa disebut, pernah mengkritik layanan Komite Ramah Tamah yang disediakan pemerintah Orde Lama sewaktu menyelenggarakan KTT Asia-Afrika sebagai sebuah "prostitusi terselubung". Bahkan IR tak takut memberitakan pernikahan diam-diam antara Presiden Soekarno dengan Hartini.

Bisa ditebak, keberanian tanpa pandang bulu ini membuat petinggi Orde Lama gerah. Puncaknya, ketika Indonesia Raya memberitakan peristiwa 20 Desember 1956 secara besar-besaran, Mochtar Lubis ditahan dengan tuduhan mendukung gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera. IR-pun berhenti terbit.

Saat tongkat estafeta kekuasaan negara berpindah ke tangan Jenderal Soeharto, Mochtar Lubis kembali berupaya menghidupkan Indonesia Raya. Dengan susah-payah ijin kembali didapatkan dan IR terbit untuk kedua kalinya pada tanggal 30 Oktober 1968. Seolah sudah menjadi watak, sikap kritis IR terhadap perilaku negatif aparat pemerintahan kembali ditunjukkan dalam pemberitaannya. Sama seperti saat belum dibredel Presiden Soekarno, IR di masa Orde Baru juga kerap menurunkan laporan investigatif seputar penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolaan negara.

Kasus mega korupsi di tubuh Pertamina di tahun 70-an menjadi sorotan utama Indonesia Raya. IR dengan berani mengungkap hal ini ke publik sehingga memberikan tamparan keras pada muka Orde Baru. Kemudian ketika Presiden Soeharto membuka pintu investasi selebar-lebarnya bagi investor asing, khususnya investor Jepang, Mochtar Lubis, dkk. memberikan kritik keras. Dan saat peristiwa demo anarkis pada 15 Januari 1975 (Malari) meletus, IR menurunkan laporannya secara lengkap dan tuntas. Beberapa hari setelahnya, IR terus mengulas peristiwa tersebut dari berbagai perspektif. Entah mengapa, hal ini kemudian membuat pemerintah Orde Baru tidak senang sehingga IR dibredel (lagi). Surat Ijin Terbit Indonesia Raya dicabut oleh Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika tanggal 22 Januari 1974, atau tepat sepekan setelah Peristiwa Malari.

Tidak cukup sampai di sana. Setelah korannya dibredel, tiga pengasuh Indonesia Raya (Mochtar Lubis, Enggak Baha'udin, dan Kustiniyati Mochtar) juga ditangkap dan diinterogasi oleh aparat keamanan. Mereka dituduh mensponsori sejumlah rapat gelap dalam rangka mendiskreditkan pemerintah dengan menurunkan pemberitaan yang tendensius. Namun tuduhan tersebut tidak terbukti sehingga merekapun dibebaskan kembali.

Nah, kalau sikap kritis Indonesia Raya terhadap pemerintah berakibat pembredelan dan penangkapan, kekritisan Bang Zal dalam Zalukhu.com juga menuai buah pahit. Kita tentu ingat bagaimana tertekannya Bang Zal menerima serangan-serangan yang dilakukan oleh orang-orang yang dikritiknya, sampai-sampai ia memutuskan berhenti dulu untuk sementara waktu selama sebulan demi me-refresh dirinya sendiri. Akankah kisah Zalukhu.com sama dengan nasib Indonesia Raya? Silakan jawab sendiri.

19 Maret 2009

Masih tentang kisruh antara Bang Zalukhu dengan seorang blogger anonim yang mengaku bernama Mualim. Tapi serial posting ini bukanlah upaya untuk menyebarluaskan masalah seperti komentar Bocah aka Bayu Mukti di posting kemarin lho. Kalau cara pandangnya seperti itu, berarti wartawan yang sering memberitakan konflik, sengketa, bahkan perang bisa dibilang sebagai penyebar luas masalah dunks? Ini yang harus diluruskan.

Ada beda antara "menyebarluaskan masalah" dengan "menyebarluaskan kabar tentang suatu masalah". Yang pertama cenderung berpihak dan ikut campur ke dalam permasalahan. Karena berpihak, maka si penyebar luas masalah itu ya ikut menyerang "musuh" orang yang ia dukung. Sedangkan yang kedua, sekedar menyampaikan apa yang terjadi dan kemudian memberikan pandangannya sendiri sebagai urun saran agar masalah tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Beda kan?

Btw, siapa sih Mualim si Kritikus itu?

Sebenarnya kita bisa koq menebak siapa yang dimaksud Bang Zal dengan meneliti posting ini baik-baik. Bukannya si Panda Nias ini sudah memberikan ciri-ciri yang sangat jelas dan kalau mau teliti menelusurinya bisa ketahuan siapa si Mualim ini? Coba, kata Bang Zal, si Mualim ini adalah seorang blogger terkenal. Ini satu petunjuk yang sangat memudahkan, karena blogger terkenal di Indonesia ini berapa banyak sih? Yang jelas kan tidak sebanyak blogger biasa (seperti saya). Hehehe...

Kemudian, Bang Zal bilang kalau si Mualim itu dulunya murid seorang master blog yang kemudian membelot (mengkhianati?) gurunya dan berjalan sendiri. Konon, akibat pembelotannya itu sang guru merasa sangat kecewa dan marah. Bermodal dua kunci ini saja kita bisa semakin mendekat ke sasaran. Siapa sih blogger beken yang pernah berguru ke seorang master blog tapi kemudian membelot dan jalan sendiri? Kalau Anda mengamati kiprah para master blog, dua petunjuk ini sudah cukup untuk menguak identitas Mualim.

Masih bingung siapa orangnya? Ayo kita tambah dengan satu petunjuk lagi. Seperti aksi polisi yang sedang melacak pelaku kejahatan, maka kita harus mengkerucutkan pencarian pada siapa yang pernah punya perselisihan dengan Bang Zal? Blogger mana yang sempat bermusuhan dengan Bang Zal? Sangat besar kemungkinannya kalau blogger itulah yang berulah sekarang ini. Terlebih lagi kalau boroknya pernah diungkap Bang Zal. Lagi-lagi, kalau Anda rajin mengikuti posting-posting di Zalukhu.com, dengan mudah Anda dapat menebak siapa Mualim itu. Gampang koq.

Oops, ini bukan posting untuk menyudutkan seseorang lho. Saya hanya ingin merekonstruksi apa yang disampaikan Bang Zal untuk mencari tahu siapa blogger kritikus dengan nick Mualim itu. Dan jelas, saya tidak menyebut nama atau menunjuk hidung seseorangpun di sini. So, tinggal tergantung bagaimana Anda memahami uraian saya saja untuk bisa mengetahui identitas asli Mualim. Bisa jadi antara pembaca satu dengan yang lain merujuk pada suspect yang berbeda-beda. Bisa jadi lho...

Itu saja.

Masih tentang kisruh antara Bang Zalukhu dengan seorang blogger anonim yang mengaku bernama Mualim. Tapi serial posting ini bukanlah upaya untuk menyebarluaskan masalah seperti komentar Bocah aka Bayu Mukti di posting kemarin lho. Kalau cara pandangnya seperti itu, berarti wartawan yang sering memberitakan konflik, sengketa, bahkan perang bisa dibilang sebagai penyebar luas masalah dunks? Ini yang harus diluruskan.

Ada beda antara "menyebarluaskan masalah" dengan "menyebarluaskan kabar tentang suatu masalah". Yang pertama cenderung berpihak dan ikut campur ke dalam permasalahan. Karena berpihak, maka si penyebar luas masalah itu ya ikut menyerang "musuh" orang yang ia dukung. Sedangkan yang kedua, sekedar menyampaikan apa yang terjadi dan kemudian memberikan pandangannya sendiri sebagai urun saran agar masalah tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Beda kan?

Btw, siapa sih Mualim si Kritikus itu?

Sebenarnya kita bisa koq menebak siapa yang dimaksud Bang Zal dengan meneliti posting ini baik-baik. Bukannya si Panda Nias ini sudah memberikan ciri-ciri yang sangat jelas dan kalau mau teliti menelusurinya bisa ketahuan siapa si Mualim ini? Coba, kata Bang Zal, si Mualim ini adalah seorang blogger terkenal. Ini satu petunjuk yang sangat memudahkan, karena blogger terkenal di Indonesia ini berapa banyak sih? Yang jelas kan tidak sebanyak blogger biasa (seperti saya). Hehehe...

Kemudian, Bang Zal bilang kalau si Mualim itu dulunya murid seorang master blog yang kemudian membelot (mengkhianati?) gurunya dan berjalan sendiri. Konon, akibat pembelotannya itu sang guru merasa sangat kecewa dan marah. Bermodal dua kunci ini saja kita bisa semakin mendekat ke sasaran. Siapa sih blogger beken yang pernah berguru ke seorang master blog tapi kemudian membelot dan jalan sendiri? Kalau Anda mengamati kiprah para master blog, dua petunjuk ini sudah cukup untuk menguak identitas Mualim.

Masih bingung siapa orangnya? Ayo kita tambah dengan satu petunjuk lagi. Seperti aksi polisi yang sedang melacak pelaku kejahatan, maka kita harus mengkerucutkan pencarian pada siapa yang pernah punya perselisihan dengan Bang Zal? Blogger mana yang sempat bermusuhan dengan Bang Zal? Sangat besar kemungkinannya kalau blogger itulah yang berulah sekarang ini. Terlebih lagi kalau boroknya pernah diungkap Bang Zal. Lagi-lagi, kalau Anda rajin mengikuti posting-posting di Zalukhu.com, dengan mudah Anda dapat menebak siapa Mualim itu. Gampang koq.

Oops, ini bukan posting untuk menyudutkan seseorang lho. Saya hanya ingin merekonstruksi apa yang disampaikan Bang Zal untuk mencari tahu siapa blogger kritikus dengan nick Mualim itu. Dan jelas, saya tidak menyebut nama atau menunjuk hidung seseorangpun di sini. So, tinggal tergantung bagaimana Anda memahami uraian saya saja untuk bisa mengetahui identitas asli Mualim. Bisa jadi antara pembaca satu dengan yang lain merujuk pada suspect yang berbeda-beda. Bisa jadi lho...

Itu saja.

17 Maret 2009

Kemarin (16/3) adalah hari pertama kampanye terbuka bagi para peserta Pemilu 2009. Sesuai kesepakatan KPU, KPUD dan seluruh parpol kontestan Pemilu 2009, hari pertama diisi dengan deklarasi kampanye damai. Di Jogja juga demikian. Acara deklarasi kampanye damai untuk Kota Jogja diselenggarakan di Jl. Ipda Tut Harsono alias di samping timur kompleks Balaikota Jogja. Dari Walikota Jogja sampai pihak keamanan mengharapkan, dengan adanya deklarasi kampanye damai ini Kota Jogja tidak panas dan senantiasa Berhati Nyaman sesuai dengan slogannya selama ini.

Nah, berkebalikan dengan tekad damai yang dicanangkan parpol peserta Pemilu 2009, blogosphere Indonesia justru tampak mulai memanas. Apa pasal? Sebenarnya hal biasa, yakni rasa suka dan tidak suka terhadap blog atau situs tertentu. Cuma sekarang sudah mulai saling serang antar pribadi, jadi saya khawatir ini akan menimbulkan Perang Blogger Kedua setelah perang yang pertama antara Blok Cosa Aranda melawan Blok Augusman Zalukhu.

Ceritanya berawal dari kegelisahan Bang Zalukhu terhadap maraknya pemasar-pemasar internet yang menjual ebook-ebook panduan dengan bumbu bombastis. Terlalu berlebihan, mungkin begitulah bahasa gampangnya. Sehingga banyak blogger dan penguna internet pemula yang merasa terjebak setelah membeli ebook seperti itu. So, Bang Zalukhu-pun melontarkan kritik yang salah satunya bisa dibaca di posting yang ini. Di artikel tersebut jelas sekali Bang Zal "menyerang" Joko Susilo pemilik situs FormulaBisnis.com, target yang sebenarnya sudah ia kritik sejak sebelum menghilang dari peredaran awal tahun lalu.

Di posting itu Bang Zal mengungkap salah satu trik yang digunakan Joko Susilo untuk memikat calon kliennya, yakni dengan menampilkan screenshot berisi puluhan ribu pengunjung sehari. Screenshot macam itu, kata Bang Zal, bisa dengan mudah dimanipulasi menggunakan program Photoshop. Atau bisa juga direkayasa menggunakan autosurf, dll. Nah, artikel sedemikian pedas rupanya membuat seorang blogger yang tidak jelas identitasnya balik menyerang Bang Zal. Dugaan saya, dan juga dugaan Bang Zal sebagaimana ia sampaikan di Facebook, blogger tersebut adalah fans-nya Joko Susilo atau malah kaki-tangannya. Tak tahulah pastinya dia siapa.

Si pembela Joko Susilo ini, kita sebut saja begitu, membuat sebuah blog yang tampaknya ia khususkan untuk menyerang Bang Zal. Coba lihat di www.penggugat.wordpress.com, sebuah blog yang ia beri judul "Sang Kritikus; Belajar Ngeblog Lurus". Cuma ada satu posting di blog tersebut, yakni posting berjudul "Sang Pahlawan Blogger Kita". Isinya? Tentu saja menjelek-jelekkan Bang Zalukhu, sampai-sampai menyebut blogger Nias itu sebagai pahlawan kesiangan, ditambah sejumlah sumpah-serapah lainnya.

Tidak berhenti sampai di sana. Bang Zalukhu merespon tindakan ini dengan mempublikasikan sebuah posting berjudul "Perbedaan Pemenang Sejati dan Pecundang Sejati". Sebuah posting yang balik menyerang si empunya blog Sang Kritikus. Ditambah lagi satu posting yang baru dipublikasikan semalam, yakni berjudul dan aku hanya bisa TERTAWA KASIHAN.

Alhasil, saling serang sudah dimulai, dan entah sampai kapan mereka terus serang-menyerang seperti itu. Satu hal yang saya khawatirkan, orang-orang yang berada di lingkaran dekat keduanya akan melibatkan diri sehingga timbullah perseteruan yang lebih luas lagi. Atau ada kemungkinan situasi ini dimanfaatkan oleh orang ketiga yang tidak bertanggungjawab. Kita tentu masih ingat kasus perseteruan terbuka antara Bang Zal dan Cosa Aranda, dan kita tak ingin hal seperti itu terulang lagi.

Well, kalau parpol-parpol peserta Pemilu 2009 sudah mencanangkan sikap untuk saling menjaga diri dalam kampanye terbuka yang dimulai Senin (16/3) kemarin, sudah sepantasnya kita blogger Indonesia ikut menjaga perdamaian di blogosphere. Bravo blogger Indonesia pencinta damai..!

NB: Berhubung kemarin saya sedikit menyinggung Ma'had al-Zaytun (MAZ), maka posting berikutnya saya akan coba mengungkap lebih banyak tentang pondok pesantren kontroversial ini. Setuju?

Kemarin (16/3) adalah hari pertama kampanye terbuka bagi para peserta Pemilu 2009. Sesuai kesepakatan KPU, KPUD dan seluruh parpol kontestan Pemilu 2009, hari pertama diisi dengan deklarasi kampanye damai. Di Jogja juga demikian. Acara deklarasi kampanye damai untuk Kota Jogja diselenggarakan di Jl. Ipda Tut Harsono alias di samping timur kompleks Balaikota Jogja. Dari Walikota Jogja sampai pihak keamanan mengharapkan, dengan adanya deklarasi kampanye damai ini Kota Jogja tidak panas dan senantiasa Berhati Nyaman sesuai dengan slogannya selama ini.

Nah, berkebalikan dengan tekad damai yang dicanangkan parpol peserta Pemilu 2009, blogosphere Indonesia justru tampak mulai memanas. Apa pasal? Sebenarnya hal biasa, yakni rasa suka dan tidak suka terhadap blog atau situs tertentu. Cuma sekarang sudah mulai saling serang antar pribadi, jadi saya khawatir ini akan menimbulkan Perang Blogger Kedua setelah perang yang pertama antara Blok Cosa Aranda melawan Blok Augusman Zalukhu.

Ceritanya berawal dari kegelisahan Bang Zalukhu terhadap maraknya pemasar-pemasar internet yang menjual ebook-ebook panduan dengan bumbu bombastis. Terlalu berlebihan, mungkin begitulah bahasa gampangnya. Sehingga banyak blogger dan penguna internet pemula yang merasa terjebak setelah membeli ebook seperti itu. So, Bang Zalukhu-pun melontarkan kritik yang salah satunya bisa dibaca di posting yang ini. Di artikel tersebut jelas sekali Bang Zal "menyerang" Joko Susilo pemilik situs FormulaBisnis.com, target yang sebenarnya sudah ia kritik sejak sebelum menghilang dari peredaran awal tahun lalu.

Di posting itu Bang Zal mengungkap salah satu trik yang digunakan Joko Susilo untuk memikat calon kliennya, yakni dengan menampilkan screenshot berisi puluhan ribu pengunjung sehari. Screenshot macam itu, kata Bang Zal, bisa dengan mudah dimanipulasi menggunakan program Photoshop. Atau bisa juga direkayasa menggunakan autosurf, dll. Nah, artikel sedemikian pedas rupanya membuat seorang blogger yang tidak jelas identitasnya balik menyerang Bang Zal. Dugaan saya, dan juga dugaan Bang Zal sebagaimana ia sampaikan di Facebook, blogger tersebut adalah fans-nya Joko Susilo atau malah kaki-tangannya. Tak tahulah pastinya dia siapa.

Si pembela Joko Susilo ini, kita sebut saja begitu, membuat sebuah blog yang tampaknya ia khususkan untuk menyerang Bang Zal. Coba lihat di www.penggugat.wordpress.com, sebuah blog yang ia beri judul "Sang Kritikus; Belajar Ngeblog Lurus". Cuma ada satu posting di blog tersebut, yakni posting berjudul "Sang Pahlawan Blogger Kita". Isinya? Tentu saja menjelek-jelekkan Bang Zalukhu, sampai-sampai menyebut blogger Nias itu sebagai pahlawan kesiangan, ditambah sejumlah sumpah-serapah lainnya.

Tidak berhenti sampai di sana. Bang Zalukhu merespon tindakan ini dengan mempublikasikan sebuah posting berjudul "Perbedaan Pemenang Sejati dan Pecundang Sejati". Sebuah posting yang balik menyerang si empunya blog Sang Kritikus. Ditambah lagi satu posting yang baru dipublikasikan semalam, yakni berjudul dan aku hanya bisa TERTAWA KASIHAN.

Alhasil, saling serang sudah dimulai, dan entah sampai kapan mereka terus serang-menyerang seperti itu. Satu hal yang saya khawatirkan, orang-orang yang berada di lingkaran dekat keduanya akan melibatkan diri sehingga timbullah perseteruan yang lebih luas lagi. Atau ada kemungkinan situasi ini dimanfaatkan oleh orang ketiga yang tidak bertanggungjawab. Kita tentu masih ingat kasus perseteruan terbuka antara Bang Zal dan Cosa Aranda, dan kita tak ingin hal seperti itu terulang lagi.

Well, kalau parpol-parpol peserta Pemilu 2009 sudah mencanangkan sikap untuk saling menjaga diri dalam kampanye terbuka yang dimulai Senin (16/3) kemarin, sudah sepantasnya kita blogger Indonesia ikut menjaga perdamaian di blogosphere. Bravo blogger Indonesia pencinta damai..!

NB: Berhubung kemarin saya sedikit menyinggung Ma'had al-Zaytun (MAZ), maka posting berikutnya saya akan coba mengungkap lebih banyak tentang pondok pesantren kontroversial ini. Setuju?

15 Maret 2009

Pagi-pagi kemarin sekitar jam 7.28, lapat-lapat saya mendengar suara ketukan di pintu. Seebenarnya di pengetuk mengetuknya keras, tapi berhubung saya masih berada di alam mimpi jadilah suaranya terdengar lapat-lapat. Hehehe. Terus, usut punya usut ternyata si pengetuk juga sudah mengetuk pintu berkali-kali. Busyet deh. Terpaksalah dengan mata masih lengket saya bangun dan membukakan pintu.

Pagi itu saya sudah ada janji dengan teman kos untuk mengikuti pelatihan ICDL di Hotel Hegar, Jl. Adisucipto. Dasar kalong. Meskipun punya janji pagi, tapi malamnya tetap saja tidur di atas jam 1. Untung saja teman saya tadi sabar membangunkan saya. So, habis mandi langsung deh kami berdua menuju ke lokasi dengan Honda Astrea Grand andalan saya. Wuzzzz, tak sampai 15 menit sampailah kami di tempat acara.

Btw, ada yang tahu ICDL?

Saya sudah lama tahu nama ICDL alias International Computer Driving License. Tapi ya hanya sebatas tahu saja. Nah, acara di Hotel Hegar kemarin itu mengupas lebih dalam mengenai ICDL. Tidak dalam-dalam sekali sih, cuma ya lumayanlah. Saya jadi lebih tahu banyak tentang ICDL dan manfaatnya. Meski, jujur saja, saya meragukan bakal memerlukan sertifikat komputer bertaraf internasional itu.

ICDL, sesuai kepanjangannya, adalah sebuah sertifikasi untuk pengguna (user) komputer yang tarafnya internasional. ICDL awalnya bernama ECDL (European Computer Driving License) dan didirikan di Eropa. Persisnya di mana silakan cari sendiri di Google. Hehehe... Kalau ogah repot, coba aja klik di sini.

Sebagai sebuah institusi, sertifikat yang dikeluarkan ICDL sudah diakui dan mendapat penghargaan dari berbagai kalangan. Beberapa perusahaan multinasional sudah mengeluarkan endorsement-nya yang memuji sertifikasi yang dilakukan oleh ICDL. Sertifikasi komputer seperti ini memang penting bagi negara-negara maju. Tapi kalau di Indonesia koq saya rasa masih belum begitu dibutuhkan ya? Apalagi jika mengingat biaya tesnya yang lumayan mahal. Eit, ini pendapat pribadi lho.

ICDL sejauh ini sudah berkembang di 131 negara, salah satunya Indonesia. Institusi ini memiliki 3 kantor operasional yang tersebar di 3 kota, Dublin (Rep. Irlandia), Brussels (Belgia), dan Singapura. Kemudian di masing-masing negara ada Approved Center yang merupakan representatif ICDL di negara yang bersangkutan. Di Indonesia, Approved Center-nya adalah Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang dipimpin oleh MYR Agung Sidayu.

Kalau Anda rajin membaca Sabili atau mengikuti berita tentang ajaran-ajaran sesat, saya yakin Anda tahu YPI. Kenapa? Karena YPI adalah yayasan yang mengembangkan Ma'had al-Zaytun (MAZ), pondok pesantren terbesar dan termegah se-Indonesia bahkan konon se-Asia Tenggara. Meskipun sering diterpa isu miring, ternyata al-Zaytun concern terhadap penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional. Ini bisa dilihat dari diberlakukannya tes ICDL bagi siswa seluruh penghuni Ma'had al-Zaytun, dan juga peran YPI sebagai lembaga pemegang lisensi penyelenggaraan sertifikasi ICDL di Indonesia.

Acara berakhir tepat pukul 15.00, setelah sebelumnya diselingi makan siang dan limpahan snack. Dasar anak kos, saya dan teman saya tadi lahap menelan setiap hidangan yang disediakan. Hahaha... Anyway, terima kasih kepada Pak Agung Sudjatmoko dan Pak Angger P. Pramono dari ICDL Indonesia yang telah mengadakan acara ini. Saya benar-benar merasa kenyang! Eh, salah. Maksudnya, benar-benar merasa puas. :D

Pagi-pagi kemarin sekitar jam 7.28, lapat-lapat saya mendengar suara ketukan di pintu. Seebenarnya di pengetuk mengetuknya keras, tapi berhubung saya masih berada di alam mimpi jadilah suaranya terdengar lapat-lapat. Hehehe. Terus, usut punya usut ternyata si pengetuk juga sudah mengetuk pintu berkali-kali. Busyet deh. Terpaksalah dengan mata masih lengket saya bangun dan membukakan pintu.

Pagi itu saya sudah ada janji dengan teman kos untuk mengikuti pelatihan ICDL di Hotel Hegar, Jl. Adisucipto. Dasar kalong. Meskipun punya janji pagi, tapi malamnya tetap saja tidur di atas jam 1. Untung saja teman saya tadi sabar membangunkan saya. So, habis mandi langsung deh kami berdua menuju ke lokasi dengan Honda Astrea Grand andalan saya. Wuzzzz, tak sampai 15 menit sampailah kami di tempat acara.

Btw, ada yang tahu ICDL?

Saya sudah lama tahu nama ICDL alias International Computer Driving License. Tapi ya hanya sebatas tahu saja. Nah, acara di Hotel Hegar kemarin itu mengupas lebih dalam mengenai ICDL. Tidak dalam-dalam sekali sih, cuma ya lumayanlah. Saya jadi lebih tahu banyak tentang ICDL dan manfaatnya. Meski, jujur saja, saya meragukan bakal memerlukan sertifikat komputer bertaraf internasional itu.

ICDL, sesuai kepanjangannya, adalah sebuah sertifikasi untuk pengguna (user) komputer yang tarafnya internasional. ICDL awalnya bernama ECDL (European Computer Driving License) dan didirikan di Eropa. Persisnya di mana silakan cari sendiri di Google. Hehehe... Kalau ogah repot, coba aja klik di sini.

Sebagai sebuah institusi, sertifikat yang dikeluarkan ICDL sudah diakui dan mendapat penghargaan dari berbagai kalangan. Beberapa perusahaan multinasional sudah mengeluarkan endorsement-nya yang memuji sertifikasi yang dilakukan oleh ICDL. Sertifikasi komputer seperti ini memang penting bagi negara-negara maju. Tapi kalau di Indonesia koq saya rasa masih belum begitu dibutuhkan ya? Apalagi jika mengingat biaya tesnya yang lumayan mahal. Eit, ini pendapat pribadi lho.

ICDL sejauh ini sudah berkembang di 131 negara, salah satunya Indonesia. Institusi ini memiliki 3 kantor operasional yang tersebar di 3 kota, Dublin (Rep. Irlandia), Brussels (Belgia), dan Singapura. Kemudian di masing-masing negara ada Approved Center yang merupakan representatif ICDL di negara yang bersangkutan. Di Indonesia, Approved Center-nya adalah Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang dipimpin oleh MYR Agung Sidayu.

Kalau Anda rajin membaca Sabili atau mengikuti berita tentang ajaran-ajaran sesat, saya yakin Anda tahu YPI. Kenapa? Karena YPI adalah yayasan yang mengembangkan Ma'had al-Zaytun (MAZ), pondok pesantren terbesar dan termegah se-Indonesia bahkan konon se-Asia Tenggara. Meskipun sering diterpa isu miring, ternyata al-Zaytun concern terhadap penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional. Ini bisa dilihat dari diberlakukannya tes ICDL bagi siswa seluruh penghuni Ma'had al-Zaytun, dan juga peran YPI sebagai lembaga pemegang lisensi penyelenggaraan sertifikasi ICDL di Indonesia.

Acara berakhir tepat pukul 15.00, setelah sebelumnya diselingi makan siang dan limpahan snack. Dasar anak kos, saya dan teman saya tadi lahap menelan setiap hidangan yang disediakan. Hahaha... Anyway, terima kasih kepada Pak Agung Sudjatmoko dan Pak Angger P. Pramono dari ICDL Indonesia yang telah mengadakan acara ini. Saya benar-benar merasa kenyang! Eh, salah. Maksudnya, benar-benar merasa puas. :D

13 Maret 2009

Inilah resiko jadi perantau: repot pulang kampung! Terlebih untuk perantau lintas pulau seperti saya ini. Jarak Jogja-Jambi yang lebih dari 1000 kilometer membuat saya mesti melakoni perjalanan tidak ringan setiap kali hendak pulang kampung. Kalau lewat jalan darat, badan yang pegal-pegal karena harus duduk di bis selama 36 jam, terkadang bahkan lebih. Kalau lewat jalan udara memang waktunya jadi singkat, paling banter 2 jam. Tapi kantong yang capek. Maklum, saya kan anggota KPK (Komunitas Publisher Kere).

Nah, sewaktu pulang kampung akhir bulan kemarin perjalanan jadi tambah panjang karena saya mesti mampir Pemalang. Sebenarnya satu arah sih. Bisa saja saya berangkat dari Jogja terus mampir Pemalang dan baru bablas ke Jambi. Tapi karena ada masalah dengan pembiayaan, akhirnya waktu berangkat saya mesti bolak-balik dulu. Jogja-Pemalang untuk jemput tunangan, baru kemudian berangkat ke Jambi dari Jogja. Pulangnya baru asyik. Dari Jambi mampir ke Pemalang, terus dilanjutkan perjalanan Pemalang-Jambi dengan travel andalan saya, Rama Sakti.

Benar kata pepatah, manusia berencana Tuhan menentukan. Menjelang berangkat ke Jambi saya sudah berencana untuk sekaligus melakukan beberapa liputan. Selain dapat penugasan dari Pemred SKM Malioboro Ekspres, saya juga pengen menulis beberapa feature tentang orang-orang trans di Kecamatan Sungai Bahar, Muaro Jambi. Tepatnya kisah keberhasilan para transmigran dari Jogja di Desa Talang Bukit alias Sungai Bahar VI tempat saya tinggal. Plus, kalau bisa tulisan tentang Suku Anak Dalam dan kebudayaan mereka. Apa lacur, semua rencana jadi berantakan karena kondisi yang saya temui di lapangan jauh dari bayangan.

Begitu sampai di Jambi hari Minggu (1/3), ternyata kami (saya, tunangan, dan adik) secara tak sengaja datang berbarengan dengan rombongan paman dari Metro, Lampung, dan calon pengantin pria dari Batam. Rombongan paman naik bis dan sampai sekitar pukul 10, disusul calon adik ipar saya yang naik pesawat. Rombongan saya datang terakhir. Tapi berhubung yang menjemput hanya satu mobil, jadilah ketiga rombongan harus saling menunggu sampai semuanya dijemput sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan tambahan menuju rumah selama kurang-lebih 2 jam lagi.

Sampai di rumah ternyata sudah ramai sekali oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang rewang (membantu memasak dan mempersiapkan semua keperluan acara). Benar-benar suasana yang sangat tidak kondusif bagi saya yang paling tidak suka keramaian dan kebisingan. Ditambah lagi semua keluarga baik dari pihak Ibu maupun Bapak berdatangan. Rombongan keluarga dari pihak Ibu yang semuanya tinggal di Batumarta, OKU Timur, sejumlah 4 mobil plus 1 truk berisi perlengkapan organ tunggal. Lalu rombongan dari pihak Bapak berjumlah 2 mobil, merupakan kontingen campuran dari Pendopo, Palembang, dan Sungai Lilin, MUBA. Hmmm, rumah yang tak seberapa besar itupun jadi terasa sumpek. Untung saja rombongan besan yang terdiri dari 3 keluarga diinapkan di rumah tetangga. Kalau tidak... :(

Hal ini berlangsung sampai tanggal 6 atau H+2, meskipun tingkat keramaiannya tidak seperti menjelang hari H. Alhasil, saya sama sekali tidak bisa memegang pena. Keluar untuk liputan juga tidak bisa. Sekali-kalinya saya keluar rumah seaktu disuruh ke... pasar! Sebenarnya yang disuruh belanja tunangan saya, tapi mau tidak mau saya kan mesti ikut mengantar karena dia tidak tahu pasarnya di mana. Keluar yang kedua kali ya sewaktu mau pulang ke Jawa. Yah, bukan salah bunda mengandung, tapi salah bapak punya burung. Hehehe... Maksudnya, memang dasar momennya saja yang tidak pas. Jadinya sayapun balik ke Jawa dengan tangan hampa. Entahlah, besok sewaktu rapat redaksi apa yang akan saya jadikan alasan ke Pemred tentang kegagalan saya ini.

Untung saja begitu sampai di Jogja saya disambut beberapa berita baik. Yang pertama, untuk pertama kalinya saya mendapat komisi dari KumpulBlogger. Berapa? Rp 50.000 saja. :) Berita baik lainnya, saldo PayPal saya pelan-pelan sudah mulai terisi lagi. Ask2Link dan Blogsvertise jadi dua kontributor terbesar, disusul dengan SponsoredReviews yang akhir-akhir ini memang kurang bersahabat dengan saya. Anyway, itulah rejeki. Banyak-sedikit tetap harus disyukuri. Iya nggak sih?

Inilah resiko jadi perantau: repot pulang kampung! Terlebih untuk perantau lintas pulau seperti saya ini. Jarak Jogja-Jambi yang lebih dari 1000 kilometer membuat saya mesti melakoni perjalanan tidak ringan setiap kali hendak pulang kampung. Kalau lewat jalan darat, badan yang pegal-pegal karena harus duduk di bis selama 36 jam, terkadang bahkan lebih. Kalau lewat jalan udara memang waktunya jadi singkat, paling banter 2 jam. Tapi kantong yang capek. Maklum, saya kan anggota KPK (Komunitas Publisher Kere).

Nah, sewaktu pulang kampung akhir bulan kemarin perjalanan jadi tambah panjang karena saya mesti mampir Pemalang. Sebenarnya satu arah sih. Bisa saja saya berangkat dari Jogja terus mampir Pemalang dan baru bablas ke Jambi. Tapi karena ada masalah dengan pembiayaan, akhirnya waktu berangkat saya mesti bolak-balik dulu. Jogja-Pemalang untuk jemput tunangan, baru kemudian berangkat ke Jambi dari Jogja. Pulangnya baru asyik. Dari Jambi mampir ke Pemalang, terus dilanjutkan perjalanan Pemalang-Jambi dengan travel andalan saya, Rama Sakti.

Benar kata pepatah, manusia berencana Tuhan menentukan. Menjelang berangkat ke Jambi saya sudah berencana untuk sekaligus melakukan beberapa liputan. Selain dapat penugasan dari Pemred SKM Malioboro Ekspres, saya juga pengen menulis beberapa feature tentang orang-orang trans di Kecamatan Sungai Bahar, Muaro Jambi. Tepatnya kisah keberhasilan para transmigran dari Jogja di Desa Talang Bukit alias Sungai Bahar VI tempat saya tinggal. Plus, kalau bisa tulisan tentang Suku Anak Dalam dan kebudayaan mereka. Apa lacur, semua rencana jadi berantakan karena kondisi yang saya temui di lapangan jauh dari bayangan.

Begitu sampai di Jambi hari Minggu (1/3), ternyata kami (saya, tunangan, dan adik) secara tak sengaja datang berbarengan dengan rombongan paman dari Metro, Lampung, dan calon pengantin pria dari Batam. Rombongan paman naik bis dan sampai sekitar pukul 10, disusul calon adik ipar saya yang naik pesawat. Rombongan saya datang terakhir. Tapi berhubung yang menjemput hanya satu mobil, jadilah ketiga rombongan harus saling menunggu sampai semuanya dijemput sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan tambahan menuju rumah selama kurang-lebih 2 jam lagi.

Sampai di rumah ternyata sudah ramai sekali oleh ibu-ibu dan bapak-bapak yang rewang (membantu memasak dan mempersiapkan semua keperluan acara). Benar-benar suasana yang sangat tidak kondusif bagi saya yang paling tidak suka keramaian dan kebisingan. Ditambah lagi semua keluarga baik dari pihak Ibu maupun Bapak berdatangan. Rombongan keluarga dari pihak Ibu yang semuanya tinggal di Batumarta, OKU Timur, sejumlah 4 mobil plus 1 truk berisi perlengkapan organ tunggal. Lalu rombongan dari pihak Bapak berjumlah 2 mobil, merupakan kontingen campuran dari Pendopo, Palembang, dan Sungai Lilin, MUBA. Hmmm, rumah yang tak seberapa besar itupun jadi terasa sumpek. Untung saja rombongan besan yang terdiri dari 3 keluarga diinapkan di rumah tetangga. Kalau tidak... :(

Hal ini berlangsung sampai tanggal 6 atau H+2, meskipun tingkat keramaiannya tidak seperti menjelang hari H. Alhasil, saya sama sekali tidak bisa memegang pena. Keluar untuk liputan juga tidak bisa. Sekali-kalinya saya keluar rumah seaktu disuruh ke... pasar! Sebenarnya yang disuruh belanja tunangan saya, tapi mau tidak mau saya kan mesti ikut mengantar karena dia tidak tahu pasarnya di mana. Keluar yang kedua kali ya sewaktu mau pulang ke Jawa. Yah, bukan salah bunda mengandung, tapi salah bapak punya burung. Hehehe... Maksudnya, memang dasar momennya saja yang tidak pas. Jadinya sayapun balik ke Jawa dengan tangan hampa. Entahlah, besok sewaktu rapat redaksi apa yang akan saya jadikan alasan ke Pemred tentang kegagalan saya ini.

Untung saja begitu sampai di Jogja saya disambut beberapa berita baik. Yang pertama, untuk pertama kalinya saya mendapat komisi dari KumpulBlogger. Berapa? Rp 50.000 saja. :) Berita baik lainnya, saldo PayPal saya pelan-pelan sudah mulai terisi lagi. Ask2Link dan Blogsvertise jadi dua kontributor terbesar, disusul dengan SponsoredReviews yang akhir-akhir ini memang kurang bersahabat dengan saya. Anyway, itulah rejeki. Banyak-sedikit tetap harus disyukuri. Iya nggak sih?