Selamat datang di ...

30 April 2009

Ini yang saya suka dari berjualan link lewat jalur bawah tanah: pembayarannya cepat! Tanggal 24 April saya terima email dari broker yang memberitahukan kalau dua blog saya dipilih advertiser untuk dipasangi link iklan. Keesokan harinya saya pasang link iklan itu di blog dan mengabari si broker. Eh, tanggal 28 April saya sudah terima kabar kalau si advertiser telah melakukan pembayaran ke akun PayPal saya. Hmmmm...

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, broker itu saya kenal dari Mas Tony Jauhari. Hebatnya, si advertiser mau membayar $30/pagerank. Berhubung dua blog saya masing-masing ber-PR3 dan PR1 (total 4), jadi total bayaran yang saya terima dari advertiser itu sebanyak $120. Lumayanlah, rasanya cukup untuk tambah-tambah modal menempuh hidup baru nanti. :)



Kecepatan pembayaran memang jadi poin plus lain dari jualan link lewat broker bawah tanah. Bila di Ask2Link saya mesti menunggu payment sampai bulan berikutnya, maka dengan broker ini cukup menunggu 4 hari saja. Tapi namanya juga pakai broker, tentu saja saya mesti membayar sejumlah komisi kepada si broker. Berapa? Tidak terlalu banyak koq, hanya 10% saja dari total payment yang saya terima dari advertiser. Komisi ini saya transfer sendiri kepada si broker lewat PayPal. So, kuncinya adalah kejujuran antara kita dan si broker.



Harapan saya sih, semoga saja bakal lebih banyak lagi link iklan yang diberikan oleh si broker ini. Amin. :))

Ini yang saya suka dari berjualan link lewat jalur bawah tanah: pembayarannya cepat! Tanggal 24 April saya terima email dari broker yang memberitahukan kalau dua blog saya dipilih advertiser untuk dipasangi link iklan. Keesokan harinya saya pasang link iklan itu di blog dan mengabari si broker. Eh, tanggal 28 April saya sudah terima kabar kalau si advertiser telah melakukan pembayaran ke akun PayPal saya. Hmmmm...

Seperti sudah saya ceritakan sebelumnya, broker itu saya kenal dari Mas Tony Jauhari. Hebatnya, si advertiser mau membayar $30/pagerank. Berhubung dua blog saya masing-masing ber-PR3 dan PR1 (total 4), jadi total bayaran yang saya terima dari advertiser itu sebanyak $120. Lumayanlah, rasanya cukup untuk tambah-tambah modal menempuh hidup baru nanti. :)



Kecepatan pembayaran memang jadi poin plus lain dari jualan link lewat broker bawah tanah. Bila di Ask2Link saya mesti menunggu payment sampai bulan berikutnya, maka dengan broker ini cukup menunggu 4 hari saja. Tapi namanya juga pakai broker, tentu saja saya mesti membayar sejumlah komisi kepada si broker. Berapa? Tidak terlalu banyak koq, hanya 10% saja dari total payment yang saya terima dari advertiser. Komisi ini saya transfer sendiri kepada si broker lewat PayPal. So, kuncinya adalah kejujuran antara kita dan si broker.



Harapan saya sih, semoga saja bakal lebih banyak lagi link iklan yang diberikan oleh si broker ini. Amin. :))

28 April 2009

Jujur saja saya bingung mau kasih judul apa. Tapi yang jelas kali ini saya mau bercerita tentang pengalaman pertama saya memperoleh tawaran (baca: dolar) dari salah satu broker jual-beli link underground. Sudah lama saya mendaftarkan diri pada si broker, tapi baru sekarang ada advertiser yang berminat pada blog-blog yang saya ajukan pada si broker alternatif ini.

Kalau sebelumnya saya sudah beberapa kali memperoleh bayaran dari jual-beli link via Ask2Link, maka kali ini saya memperolehnya dari broker underground. Disebut underground karena si broker ini bukan perusahaan atau situs yang membuka jasa secara terang-terangan, serta cara kerjanya juga invisible alias tidak tampak di permukaan. Ia hanya berhubungan via email dengan orang-orang yang sudah dikenalnya dari hasil rekomendasi.

Saya kenal si broker ini atas rekomendasi Mas Tony Jauhari. Kebetulan sekali waktu itu si broker sedang mencari banyak blog baru untuk ditawarkan pada advertiser yang ia kenal. Sayapun mendaftarkan beberapa blog yang sekiranya layak dijual. Tidak semuanya ber-PR tinggi koq. Ada salah satu blog yang malah cuma ber-PR1. Tapi saya pede saja mendaftarkannya pada si broker.

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menunggu akhirnya ada juga tawaran untuk salah dua blog saya (ya, blog yang dapat tawaran dua). Si broker mengirim sebuah imel pendek saja. Isinya, "Hi, Congrats! Your blogs are chosen and here are your links:" plus dua buah link untuk masing-masing blog. Beda dengan situs broker jual-beli link macam Ask2Link, untuk jual-beli link bawah tanah macam ini link dari advertiser mesti kita pasang secara manual di bagian blog yang diinginkan oleh si advertiser.

Satu lagi, kalau di situs-situs jual-beli link kita hanya memajang link dengan anchor text tertentu yang pendek, maka kalau dalam transaksi dengan broker bawah tanah ini saya mesti memasang satu kalimat panjang. Nah, anchor text dan link-nya diselipkan di dalam kalimat tersebut sehingga tidak terlalu terlihat sebagai sebuah iklan link. Pesan dari si broker: Please copy and paste the whole sentence to your sidebar. So, seluruh kalimat mesti dikopi deh. :)

Kemudian di bawah instruksi dari broker, biasanya advertiser juga memberikan aturan-aturan ketat pada kita. Contohnya seperti yang saya dapat berikut ini:

Below is the instruction from the advertiser. Please read it carefully and do as instructed.

1. I need all the links to stay on sidebar for at least one year,
2. And I don't want any of the links to appear under a heading that says ads, sponsored links, sponsors, etc. I don't want anything that marks the links as an ad.
3. DO NOT add no-follow.


Ya, kesannya memang jauh lebih rumit dan lebih 'menakutkan' dibanding situs-situs jual-beli link. Jauh dari kata otomatis dan efisien, kita mesti melakukan semuanya secara manual. Cuma ada satu sisi baik yang menjadi kelebihan transaksi jual-beli link underground ini. Apa itu? Harganya tinggi-tinggi, Bro! Kalau di Ask2Link paling tinggi saya cuma dapat $8/blog sebulan untuk satu link, maka dari si broker ini saya dapat $30/PR. Gila, bukan? Kalau blog saya PR3, maka dari 1 blog tersebut saya bisa dapat $90. Itu baru 1 link lho. :)

Once done, please send me your paypal email address and please allow 5 working days for payment. The advertiser is paying $30 per PR...


Bagaimana? Asyik, bukan? Sayangnya, saya tidak berani memberikan alamat email si broker tadi di sini. Bukannya pelit, tapi saya juga dapatnya dari blogger lain dan tidak ada ijin untuk menyebar-luaskannya. So, mohon maaf ya. Tapi Anda bisa koq mencari broker-broker sejenis di forum-forum. Coba deh tanya sama Om Google yang serba tahu. :)

Jujur saja saya bingung mau kasih judul apa. Tapi yang jelas kali ini saya mau bercerita tentang pengalaman pertama saya memperoleh tawaran (baca: dolar) dari salah satu broker jual-beli link underground. Sudah lama saya mendaftarkan diri pada si broker, tapi baru sekarang ada advertiser yang berminat pada blog-blog yang saya ajukan pada si broker alternatif ini.

Kalau sebelumnya saya sudah beberapa kali memperoleh bayaran dari jual-beli link via Ask2Link, maka kali ini saya memperolehnya dari broker underground. Disebut underground karena si broker ini bukan perusahaan atau situs yang membuka jasa secara terang-terangan, serta cara kerjanya juga invisible alias tidak tampak di permukaan. Ia hanya berhubungan via email dengan orang-orang yang sudah dikenalnya dari hasil rekomendasi.

Saya kenal si broker ini atas rekomendasi Mas Tony Jauhari. Kebetulan sekali waktu itu si broker sedang mencari banyak blog baru untuk ditawarkan pada advertiser yang ia kenal. Sayapun mendaftarkan beberapa blog yang sekiranya layak dijual. Tidak semuanya ber-PR tinggi koq. Ada salah satu blog yang malah cuma ber-PR1. Tapi saya pede saja mendaftarkannya pada si broker.

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan menunggu akhirnya ada juga tawaran untuk salah dua blog saya (ya, blog yang dapat tawaran dua). Si broker mengirim sebuah imel pendek saja. Isinya, "Hi, Congrats! Your blogs are chosen and here are your links:" plus dua buah link untuk masing-masing blog. Beda dengan situs broker jual-beli link macam Ask2Link, untuk jual-beli link bawah tanah macam ini link dari advertiser mesti kita pasang secara manual di bagian blog yang diinginkan oleh si advertiser.

Satu lagi, kalau di situs-situs jual-beli link kita hanya memajang link dengan anchor text tertentu yang pendek, maka kalau dalam transaksi dengan broker bawah tanah ini saya mesti memasang satu kalimat panjang. Nah, anchor text dan link-nya diselipkan di dalam kalimat tersebut sehingga tidak terlalu terlihat sebagai sebuah iklan link. Pesan dari si broker: Please copy and paste the whole sentence to your sidebar. So, seluruh kalimat mesti dikopi deh. :)

Kemudian di bawah instruksi dari broker, biasanya advertiser juga memberikan aturan-aturan ketat pada kita. Contohnya seperti yang saya dapat berikut ini:

Below is the instruction from the advertiser. Please read it carefully and do as instructed.

1. I need all the links to stay on sidebar for at least one year,
2. And I don't want any of the links to appear under a heading that says ads, sponsored links, sponsors, etc. I don't want anything that marks the links as an ad.
3. DO NOT add no-follow.


Ya, kesannya memang jauh lebih rumit dan lebih 'menakutkan' dibanding situs-situs jual-beli link. Jauh dari kata otomatis dan efisien, kita mesti melakukan semuanya secara manual. Cuma ada satu sisi baik yang menjadi kelebihan transaksi jual-beli link underground ini. Apa itu? Harganya tinggi-tinggi, Bro! Kalau di Ask2Link paling tinggi saya cuma dapat $8/blog sebulan untuk satu link, maka dari si broker ini saya dapat $30/PR. Gila, bukan? Kalau blog saya PR3, maka dari 1 blog tersebut saya bisa dapat $90. Itu baru 1 link lho. :)

Once done, please send me your paypal email address and please allow 5 working days for payment. The advertiser is paying $30 per PR...


Bagaimana? Asyik, bukan? Sayangnya, saya tidak berani memberikan alamat email si broker tadi di sini. Bukannya pelit, tapi saya juga dapatnya dari blogger lain dan tidak ada ijin untuk menyebar-luaskannya. So, mohon maaf ya. Tapi Anda bisa koq mencari broker-broker sejenis di forum-forum. Coba deh tanya sama Om Google yang serba tahu. :)

27 April 2009

Lama tidak bogwalking ke blognya Bro Izandi, ternyata dia baru saja meluncurkan satu proyek baru bulan kemarin. Proyek apa? Situs iklan baris gratis. Nama situsnya cukup unik, Iklanz.com. Menurut si empunya, pemilihan nama ini dikarenakan sudah tidak ada lagi stok yang tersisa buat nama domain ber-keyword "iklan baris", "iklan baris gratis", "iklan gratis", dll. So, daripada bingung diapun memilih nama domain Iklanz.com. Gabungan dari kata "iklan" dan "izandi". Maksa banget kali ye? :p

Sama dengan situs-situs sejenis yang sudah ada sebelumnya, di Iklanz.com kita bisa pasang iklan baris dengan mudah dan murah. Cara memasangnya sangat simpel. Cari saja menu "Pasang Iklan" di deretan menu yang ada di atas halaman. Dari sana kita akan dihantarkan pada halaman pemasangan iklan. Tinggal pilih, mau pasang iklan premium atau iklan gratis. Buat yang suka gratisan, tinggal isi form yang ada di halaman tersebut dan klik tombol "Pasang Iklan", maka iklan akan langsung terpasang.

Eits, jangan bingung ya kalau ternyata iklannya tidak kelihatan di bagian atas halaman. Karena iklannya gratisan, tempatnya berada di bagian bawah halaman. Kita harus menggulung halaman ke bawah untuk dapat melihat iklan yang baru dipasang tadi. Ribet? Tidak efektif? Iya juga sih. Kalau mau iklan Anda tampil di posisi atas halaman dan terlihat tanpa harus menggulung halaman, pasang saja ilan premium. Berhubung masih baru, harga yang dipatok cukup murah. Berapa? Rp 30ribu saja.

Yang hebat, dengan memasang iklan premium Anda dapat menentukan sendiri lama tayang iklannya. Hal ini melengkapi keunggulan lain dari iklan premium di Iklanz.com, yakni tampil di halaman awal dan bisa ditambahi gambar. Hmmm, ini baru pertama kali saya temui. Benar-benar satu metode promosi yang kreatif dan berani dari seorang Izandi. :) Tentu saja ini bisa jadi poin penting untuk menarik minat para pemasar internet atau blogger yang ingin pasang iklan baris demi kepentingan promosi online mereka.

Berminat mencoba?

Catatan: Selamat buat Bro Izandi atas peluncuran situs iklan baris gratisnya. Semoga situs tersebut tidak cepat mati seperti punya rekan-rekan yang lain. :D

Lama tidak bogwalking ke blognya Bro Izandi, ternyata dia baru saja meluncurkan satu proyek baru bulan kemarin. Proyek apa? Situs iklan baris gratis. Nama situsnya cukup unik, Iklanz.com. Menurut si empunya, pemilihan nama ini dikarenakan sudah tidak ada lagi stok yang tersisa buat nama domain ber-keyword "iklan baris", "iklan baris gratis", "iklan gratis", dll. So, daripada bingung diapun memilih nama domain Iklanz.com. Gabungan dari kata "iklan" dan "izandi". Maksa banget kali ye? :p

Sama dengan situs-situs sejenis yang sudah ada sebelumnya, di Iklanz.com kita bisa pasang iklan baris dengan mudah dan murah. Cara memasangnya sangat simpel. Cari saja menu "Pasang Iklan" di deretan menu yang ada di atas halaman. Dari sana kita akan dihantarkan pada halaman pemasangan iklan. Tinggal pilih, mau pasang iklan premium atau iklan gratis. Buat yang suka gratisan, tinggal isi form yang ada di halaman tersebut dan klik tombol "Pasang Iklan", maka iklan akan langsung terpasang.

Eits, jangan bingung ya kalau ternyata iklannya tidak kelihatan di bagian atas halaman. Karena iklannya gratisan, tempatnya berada di bagian bawah halaman. Kita harus menggulung halaman ke bawah untuk dapat melihat iklan yang baru dipasang tadi. Ribet? Tidak efektif? Iya juga sih. Kalau mau iklan Anda tampil di posisi atas halaman dan terlihat tanpa harus menggulung halaman, pasang saja ilan premium. Berhubung masih baru, harga yang dipatok cukup murah. Berapa? Rp 30ribu saja.

Yang hebat, dengan memasang iklan premium Anda dapat menentukan sendiri lama tayang iklannya. Hal ini melengkapi keunggulan lain dari iklan premium di Iklanz.com, yakni tampil di halaman awal dan bisa ditambahi gambar. Hmmm, ini baru pertama kali saya temui. Benar-benar satu metode promosi yang kreatif dan berani dari seorang Izandi. :) Tentu saja ini bisa jadi poin penting untuk menarik minat para pemasar internet atau blogger yang ingin pasang iklan baris demi kepentingan promosi online mereka.

Berminat mencoba?

Catatan: Selamat buat Bro Izandi atas peluncuran situs iklan baris gratisnya. Semoga situs tersebut tidak cepat mati seperti punya rekan-rekan yang lain. :D

26 April 2009

Saya sama sekali tidak tahu masalah motor. Jangankan mengotak-atik, bisa naik motor dengan baik dan benar saja baru beberapa tahun ini. Tepatnya setelah dapat failitas motor dari orang tua dan kemudian membeli motor sendiri beberapa saat sesudahnya. Artinya, saya ini awam sekali dalam dunia permotoran. Tapi 3 minggu terakhir magang di Harian Jogja, saya sudah seperti wartawan otomotif saja. Lho, koq bisa?

Ceritanya begini. Entah kebetulan atau tidak, selama 2 edisi terakhir Harian Jogja Minggu saya kebagian tugas liputan sepeda motor terus. Minggu tanggal 12 April 2009 saya menurunkan tulisan tentang Kawasaki KLX 150S di rubrik 'Otomotif' halaman 21. Lalu seminggu setelahnya saya menulis tentang Honda Absolute Revo 110cc di halaman yang sama. Nah, dalam rapat hari Kamis pekan lalu saya kebagian meliput Suzuki SkyDrive Dynamatic 125cc yang rencananya akan dimuat hari Minggu (26/4) ini.

Dasar tidak tahu-menahu masalah motor, saat bertemu narasumber saya jadi orang super blo'on. Semua hal saya tanyakan meskipun sebenarnya ada di brosur. :) Terkadang juga keluar pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang setelah saya utarakan membuat wajah saya jadi merah padam karena malu. Hehehe... Untung, meskipun menjadi penjual ternyata tidak semua narasumber yang saya temui di kantor agen-agen motor Jogja mengerti seluk-beluk dagangannya.

Seperti salah seorang narasumber yang saya temui saat liputan motor Honda Absolute Revo 110cc. Jabatannya lumayan tinggi di struktur organisasi kantor itu. Namun ternyata ia sempat 'berkeringat' juga waktu saya tanya yang agak aneh-aneh, seperti 1 liter bensin bisa untuk berapa kilometer? Si narasumber ini selama wawancara hanya membacakan brosur. Jadi saya agak bingung juga mau mengorek-korek lebih dalam (padahal aslinya saya yang bingung mau tanya apa).

Yang lebih 'aneh' lagi ya waktu menemui seorang manajer di kantor pemasaran salah satu merek motor pabrikan Jepang yang terletak di Jl. Magelang (maaf, identitasnya harus saya sembunyikan rapat-rapat). Pas saya wawancara dia hanya menunjukkan brosur dan manual guide produk. Begitu saya ajukan pertanyaan, dia bilang sudah ada di manual guide dan brosur. Terus, begitu saya tanya hal-hal teknis dia bilang tidak perlu ditulis. Dia malah terkesan mendikte saya untuk menulis beberapa hal yang menjadi kelebihan produknya.

Ada yang tidak beres? Jelas! Begitu pamit pulang saya disuruh menemui salah seorang stafnya. Saya menurut karena pikir saya mungkin si staf itu akan memberikan keterangan tambahan. Ternyata, eh, ternyata dugaan saya salah, Saudara-saudara. Begitu saya ketemu staf tersebut dia senyum-senyum sambil basa-basi sebentar. Kemudian tanpa banyak kata dia menyalami saya. Bukan salaman biasa karena di tangannya terselip amplop untuk saya. Walah...!

Tentu saja saya jadi serba salah. Refleks saya tarik tangan saya sehingga kami tidak jadi salaman. Kemudian saya memundurkan badan. Tapi staf itu mengejar dan akhirnya berhasil memasukkan amplop ke kantong kemeja saya. Duh, jadi beban nih. Tak mau menarik perhatian orang-orang yang ada di ruangan itu, sayapun membiarkan amplop tersebut di kantong dan pamit pulang.

Saya jadi wartawan amplop? Maaf, meski baru berstatus wartawan magang saya tahu etika profesi ini. Amplop adalah hal tabu bagi wartawan yang punya hati nurani. Karena sedikit-banyak amplop dapat mempengaruhi obyektifitas si wartawan. Tapi koq saya terima? Tenang. Saya hanya menahan amplop itu untuk sementara waktu koq. Bila sudah tiba saatnya saya akan mengembalikannya pada si pemberi, plus beberapa 'hadiah' tambahan dari saya. Apa rencananya? Biar jadi rahasia saya. Hehehe...

Setinggi-tingginya nilai uang dalam amplop seperti itu, sepengetahuan saya dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman kampus AKY Babarsari yang sudah kerja di media, paling-paling cuma Rp 50.000. Duh, koq cuma segitu? Padahal sekali menulis review saya bisa dapat $10 alias Rp 100.000. So, itulah sebabnya saya justru akan memberikan sejumlah hadiah saat mengembalikan amplop tersebut ke pemberinya. :))

Saya sama sekali tidak tahu masalah motor. Jangankan mengotak-atik, bisa naik motor dengan baik dan benar saja baru beberapa tahun ini. Tepatnya setelah dapat failitas motor dari orang tua dan kemudian membeli motor sendiri beberapa saat sesudahnya. Artinya, saya ini awam sekali dalam dunia permotoran. Tapi 3 minggu terakhir magang di Harian Jogja, saya sudah seperti wartawan otomotif saja. Lho, koq bisa?

Ceritanya begini. Entah kebetulan atau tidak, selama 2 edisi terakhir Harian Jogja Minggu saya kebagian tugas liputan sepeda motor terus. Minggu tanggal 12 April 2009 saya menurunkan tulisan tentang Kawasaki KLX 150S di rubrik 'Otomotif' halaman 21. Lalu seminggu setelahnya saya menulis tentang Honda Absolute Revo 110cc di halaman yang sama. Nah, dalam rapat hari Kamis pekan lalu saya kebagian meliput Suzuki SkyDrive Dynamatic 125cc yang rencananya akan dimuat hari Minggu (26/4) ini.

Dasar tidak tahu-menahu masalah motor, saat bertemu narasumber saya jadi orang super blo'on. Semua hal saya tanyakan meskipun sebenarnya ada di brosur. :) Terkadang juga keluar pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang setelah saya utarakan membuat wajah saya jadi merah padam karena malu. Hehehe... Untung, meskipun menjadi penjual ternyata tidak semua narasumber yang saya temui di kantor agen-agen motor Jogja mengerti seluk-beluk dagangannya.

Seperti salah seorang narasumber yang saya temui saat liputan motor Honda Absolute Revo 110cc. Jabatannya lumayan tinggi di struktur organisasi kantor itu. Namun ternyata ia sempat 'berkeringat' juga waktu saya tanya yang agak aneh-aneh, seperti 1 liter bensin bisa untuk berapa kilometer? Si narasumber ini selama wawancara hanya membacakan brosur. Jadi saya agak bingung juga mau mengorek-korek lebih dalam (padahal aslinya saya yang bingung mau tanya apa).

Yang lebih 'aneh' lagi ya waktu menemui seorang manajer di kantor pemasaran salah satu merek motor pabrikan Jepang yang terletak di Jl. Magelang (maaf, identitasnya harus saya sembunyikan rapat-rapat). Pas saya wawancara dia hanya menunjukkan brosur dan manual guide produk. Begitu saya ajukan pertanyaan, dia bilang sudah ada di manual guide dan brosur. Terus, begitu saya tanya hal-hal teknis dia bilang tidak perlu ditulis. Dia malah terkesan mendikte saya untuk menulis beberapa hal yang menjadi kelebihan produknya.

Ada yang tidak beres? Jelas! Begitu pamit pulang saya disuruh menemui salah seorang stafnya. Saya menurut karena pikir saya mungkin si staf itu akan memberikan keterangan tambahan. Ternyata, eh, ternyata dugaan saya salah, Saudara-saudara. Begitu saya ketemu staf tersebut dia senyum-senyum sambil basa-basi sebentar. Kemudian tanpa banyak kata dia menyalami saya. Bukan salaman biasa karena di tangannya terselip amplop untuk saya. Walah...!

Tentu saja saya jadi serba salah. Refleks saya tarik tangan saya sehingga kami tidak jadi salaman. Kemudian saya memundurkan badan. Tapi staf itu mengejar dan akhirnya berhasil memasukkan amplop ke kantong kemeja saya. Duh, jadi beban nih. Tak mau menarik perhatian orang-orang yang ada di ruangan itu, sayapun membiarkan amplop tersebut di kantong dan pamit pulang.

Saya jadi wartawan amplop? Maaf, meski baru berstatus wartawan magang saya tahu etika profesi ini. Amplop adalah hal tabu bagi wartawan yang punya hati nurani. Karena sedikit-banyak amplop dapat mempengaruhi obyektifitas si wartawan. Tapi koq saya terima? Tenang. Saya hanya menahan amplop itu untuk sementara waktu koq. Bila sudah tiba saatnya saya akan mengembalikannya pada si pemberi, plus beberapa 'hadiah' tambahan dari saya. Apa rencananya? Biar jadi rahasia saya. Hehehe...

Setinggi-tingginya nilai uang dalam amplop seperti itu, sepengetahuan saya dari hasil ngobrol-ngobrol dengan teman kampus AKY Babarsari yang sudah kerja di media, paling-paling cuma Rp 50.000. Duh, koq cuma segitu? Padahal sekali menulis review saya bisa dapat $10 alias Rp 100.000. So, itulah sebabnya saya justru akan memberikan sejumlah hadiah saat mengembalikan amplop tersebut ke pemberinya. :))

24 April 2009

Sejak magang di Harian Jogja saya memang kerepotan mencari waktu untuk online. Kalau dulu bisa 'mengudara' hingga berjam-jam di dunia maya, maka sekarang waktunya super duper terbatas. Bisa konsentrasi ol dalam sejam saja sudah merupakan berkah luar biasa bagi saya. Tapi semenjak kejadian tidak diinginkan kemarin, rasanya saya harus pintar-pintar menyempatkan diri untuk ol dan ngeblog

Kemarin siang, saat saya sedang ditelpon seseorang, masuk panggilan dari rekan Badoer. Wah, tumben-tumbenan, kata saya dalam hati. Berhubung pembicaraan sebelumnya belum selesai, panggilan dari rekan Badoer saya abaikan dulu. Eh, ternyata panggilannya tak hanya sekali. Saya langsung membatin, pasti ada apa-apa nih. Tapi berhubung pembicaraan sebelumnya belum selesai, saya tidak bisa menutup telpon dan ganti mengangkat panggilan dari rekan Badoer. Tanggung.

Setelah beberapa kali menelpon dan tidak bisa saya angkat, akhirnya rekan Badoer berhenti memanggil. Tapi tak lama kemudian ganti Bang Zalukhu yang menelepon. Sebuah SMS juga masuk. Walah, pasti ada sesuatu yang tidak beres, kata saya membatin. Beruntung sekali tak lama kemudian telepon sebelumnya sudah selesai sehingga saya bisa langsung menerima panggilan Bang Zal.

Kabar dari Bang Zalukhu cukup mengejutkan. Katanya blog saya disusupi orang tak bertanggungjawab. Penyebabnya, akun Blogger (email dan password) rekan Badoer yang merupakan guest blogger blog ini dicuri penjahat cyber. Bahasa bekennya sih pishing. Alhasil, si pencuri data itupun dengan leluasa bisa masuk ke dashboard saya dan mempublikasikan posting menyesatkan atas nama rekan Badoer. Isi posting itu sendiri bisa sangat merugikan jika link yang disertakan di dalamnya diklik.

Bagaimana bisa merugikan? Pasalnya link di dalam posting tersebut adalah situs yang tampilannya mirip sekali dengan Blogger. Sekali Anda memasukkan username dan password Blogger di situs pishing itu, maka habislah akun Blogger Anda. Kalau tidak cepat-cepat diganti username dan password-nya, besar kemungkinan akun tersebut akan diambil alih oleh oknum pembuat situs pishing tadi. Setelah memiliki akun Blogger Anda, si penjahat cyber ini dengan leluasa bisa mengacak-acak blog Anda.

So, selalu berhati-hati sebelum memasukkan username dan password di situs manapun. Selalu perhatikan alamat URL-nya. Bila alamatnya tidak sama dengan yang biasanya, maka lebih baik jangan pernah login. Oke?

Sejak magang di Harian Jogja saya memang kerepotan mencari waktu untuk online. Kalau dulu bisa 'mengudara' hingga berjam-jam di dunia maya, maka sekarang waktunya super duper terbatas. Bisa konsentrasi ol dalam sejam saja sudah merupakan berkah luar biasa bagi saya. Tapi semenjak kejadian tidak diinginkan kemarin, rasanya saya harus pintar-pintar menyempatkan diri untuk ol dan ngeblog

Kemarin siang, saat saya sedang ditelpon seseorang, masuk panggilan dari rekan Badoer. Wah, tumben-tumbenan, kata saya dalam hati. Berhubung pembicaraan sebelumnya belum selesai, panggilan dari rekan Badoer saya abaikan dulu. Eh, ternyata panggilannya tak hanya sekali. Saya langsung membatin, pasti ada apa-apa nih. Tapi berhubung pembicaraan sebelumnya belum selesai, saya tidak bisa menutup telpon dan ganti mengangkat panggilan dari rekan Badoer. Tanggung.

Setelah beberapa kali menelpon dan tidak bisa saya angkat, akhirnya rekan Badoer berhenti memanggil. Tapi tak lama kemudian ganti Bang Zalukhu yang menelepon. Sebuah SMS juga masuk. Walah, pasti ada sesuatu yang tidak beres, kata saya membatin. Beruntung sekali tak lama kemudian telepon sebelumnya sudah selesai sehingga saya bisa langsung menerima panggilan Bang Zal.

Kabar dari Bang Zalukhu cukup mengejutkan. Katanya blog saya disusupi orang tak bertanggungjawab. Penyebabnya, akun Blogger (email dan password) rekan Badoer yang merupakan guest blogger blog ini dicuri penjahat cyber. Bahasa bekennya sih pishing. Alhasil, si pencuri data itupun dengan leluasa bisa masuk ke dashboard saya dan mempublikasikan posting menyesatkan atas nama rekan Badoer. Isi posting itu sendiri bisa sangat merugikan jika link yang disertakan di dalamnya diklik.

Bagaimana bisa merugikan? Pasalnya link di dalam posting tersebut adalah situs yang tampilannya mirip sekali dengan Blogger. Sekali Anda memasukkan username dan password Blogger di situs pishing itu, maka habislah akun Blogger Anda. Kalau tidak cepat-cepat diganti username dan password-nya, besar kemungkinan akun tersebut akan diambil alih oleh oknum pembuat situs pishing tadi. Setelah memiliki akun Blogger Anda, si penjahat cyber ini dengan leluasa bisa mengacak-acak blog Anda.

So, selalu berhati-hati sebelum memasukkan username dan password di situs manapun. Selalu perhatikan alamat URL-nya. Bila alamatnya tidak sama dengan yang biasanya, maka lebih baik jangan pernah login. Oke?

15 April 2009

SEPASANG muda-mudi tersebut tampak sumringah di antara puluhan orang yang berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Minggu (12/4) sore itu. Mereka, Johan Sanjaya (27) dan Kate (26), memang sedang bergembira. Hari itu keduanya merayakan pernikahan mereka dengan cara unik, pawai keliling kota Jogja dengan sepeda onthel.

Johan dan Kate tidak hanya berdua. Orang tua mereka juga turut hadir bersama puluhan anggota Paguyuban Onthel Jogja (Podjok), sebuah komunitas penghobi sepeda. Dengan dikawal dua personil Polisi, rombongan pengantin bersepeda itu menyusuri rute sepanjang sekitar 5 km dari Jl. Malioboro sampai Wirosaban.

Orang-orang yang berada di sepanjang perjalanan tidak menyangka kalau pawai sepeda itu rombongan pengantin. Wajar saja, pasalnya tidak ada tanda khusus yang memperlihatkan identitas pengantin baru.

Sebagian anggota rombongan mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu. Yang pria berkemeja putih dipadu celana panjang putih lengkap dengan topi bulat ala pembesar-pembesar jaman kolonial Belanda, sementara yang wanita memakai kebaya. Sebagian peserta rombongan bercelana jeans dipadu kaos oblong. Bahkan kedua mempelai cuma bercelana pendek dan memakai kaos oblong.



Kalau saja tidak ada papan kecil bertuliskan “Just Married” yang dipasang di batang kemudi sepeda Johan, orang tidak akan tahu pawai tersebut adalah rombongan pengantin.

Mengenang Masa Lalu
Acara bertajuk “Sawung Jabo Mantu dengan Onthel” ini merupakan ide pasangan Gono dan Tutik dari komunitas Podjok. Sesuai namanya, hari itu Sawung Jabo memang sedang mantu. Johan anaknya mempersunting Kate, seorang gadis Australia tulen.

Menurut Sawung, dipilihnya Jogja sebagai tempat diadakannya pawai pengantin bersepeda ini adalah untuk mengenang nostalgia antara dirinya dan Susan Piper, sang isteri tercinta. Masa itu Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Masa di mana jalan-jalan Jogja masih dipenuhi orang-orang bersepeda. Di masa itulah keduanya bertemu.



Sawung dan Susan bertemu di tahun 1978. Waktu itu keduanya sama-sama aktif di Bengkel Teater binaan WS Rendra. Susan masih berstatus mahasiswi yang sedang mempelajari kebudayaan Jawa di keraton. Sedangkan Sawung aktif bermain musik dan teater. Hanya setahun setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah.

Alasan lain, Jogja adalah kota tempat Sawung Jabo mulai meniti karir. “Di kota inilah saya mulai berkarya, dan tempat saya mengalami kebangkitan dalam bermusik,” kata Sawung kepada wartawan saat rombongan berhenti sejenak di depan keraton.

Ketika ditanya alasannya memilih pawai bersepeda, sambil tertawa lelaki bernama asli Mochamad Djohansyah ini mengatakan, “Acara seperti ini kan tidak perlu biaya banyak, tapi tepat sasaran.”

Cerita Sawung dibenarkan Susan. Kepada Harian Jogja ia berkata bahwa Jogja merupakan kota bersejarah baginya dan suami. Ada banyak kenangan yang ia alami di Jogja. Meski sekarang tinggal di Sydney, Australia, namun kenangan-kenangan tersebut masih melekat. Karena itulah, ketika ada usulan untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Jogja, Susan langsung mengiyakan.

“Konsepnya sederhana, tapi unik sekali,” demikian ujar Susan menanggapi acara sore itu.

Teman SMA
Diarak keliling kota dengan sepeda tentunya menjadi pengalaman mengesankan bagi Kate. Ketika dimintai komentarnya, gadis bermata biru ini berkata sambil tersenyum renyah, “I'm really happy. It's very exciting.”

Lebih lanjut Kate bercerita tentang kisah cintanya dengan Johan. Keduanya adalah teman satu SMA. Namun keduanya belum menjalin cinta saat masih sama-sama sekolah. “Nothing special,” ujar Kate sambil melirik Johan ketika menceritakan masa-masa awal pertemuannya dengan sang suami.

Namun diam-diam mereka rupanya sama-sama menyimpan perasaan tertentu. Saat liburan bersama di Jepang dipilih Johan sebagai waktu yang tepat untuk meminang Kate. Pucuk dicinta ulam tiba, Kate menerima lamaran Johan. Keduanyapun lantas mengikat janji sehidup-semati.

Pawai bersepeda keliling kota Jogja, Minggu (12/4), lalu merupakan rangkaian terakhir dari perayaan pernikahan Johan dan Kate. “Akad nikahnya sudah di Bali,” cerita Susan. Dari Bali, acara lalu dilanjutkan dengan sebuah resepsi di Surabaya, tempat kelahiran Sawung Jabo. Dan terakhir dipilihlah Jogja sebagai kota pamungkas.

Sambil berseloroh, Susan mengatakan kalau ada seorang temannya yang menyebut acara pernikahan Johan dan Kate dengan istilah 'rabi tour'. “Pernikahan tiga kota, seperti tur saja,” kata dosen Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Ausralia ini sambil tertawa lepas. (M5)

Catatan: Ini naskah asli dari feature berjudul "Pengantin Pilih Naik Onthel" di rubrik 'Pagelaran' Harian Jogja edisi Senin, 13 April 2009 lalu.

SEPASANG muda-mudi tersebut tampak sumringah di antara puluhan orang yang berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Minggu (12/4) sore itu. Mereka, Johan Sanjaya (27) dan Kate (26), memang sedang bergembira. Hari itu keduanya merayakan pernikahan mereka dengan cara unik, pawai keliling kota Jogja dengan sepeda onthel.

Johan dan Kate tidak hanya berdua. Orang tua mereka juga turut hadir bersama puluhan anggota Paguyuban Onthel Jogja (Podjok), sebuah komunitas penghobi sepeda. Dengan dikawal dua personil Polisi, rombongan pengantin bersepeda itu menyusuri rute sepanjang sekitar 5 km dari Jl. Malioboro sampai Wirosaban.

Orang-orang yang berada di sepanjang perjalanan tidak menyangka kalau pawai sepeda itu rombongan pengantin. Wajar saja, pasalnya tidak ada tanda khusus yang memperlihatkan identitas pengantin baru.

Sebagian anggota rombongan mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu. Yang pria berkemeja putih dipadu celana panjang putih lengkap dengan topi bulat ala pembesar-pembesar jaman kolonial Belanda, sementara yang wanita memakai kebaya. Sebagian peserta rombongan bercelana jeans dipadu kaos oblong. Bahkan kedua mempelai cuma bercelana pendek dan memakai kaos oblong.



Kalau saja tidak ada papan kecil bertuliskan “Just Married” yang dipasang di batang kemudi sepeda Johan, orang tidak akan tahu pawai tersebut adalah rombongan pengantin.

Mengenang Masa Lalu
Acara bertajuk “Sawung Jabo Mantu dengan Onthel” ini merupakan ide pasangan Gono dan Tutik dari komunitas Podjok. Sesuai namanya, hari itu Sawung Jabo memang sedang mantu. Johan anaknya mempersunting Kate, seorang gadis Australia tulen.

Menurut Sawung, dipilihnya Jogja sebagai tempat diadakannya pawai pengantin bersepeda ini adalah untuk mengenang nostalgia antara dirinya dan Susan Piper, sang isteri tercinta. Masa itu Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Masa di mana jalan-jalan Jogja masih dipenuhi orang-orang bersepeda. Di masa itulah keduanya bertemu.



Sawung dan Susan bertemu di tahun 1978. Waktu itu keduanya sama-sama aktif di Bengkel Teater binaan WS Rendra. Susan masih berstatus mahasiswi yang sedang mempelajari kebudayaan Jawa di keraton. Sedangkan Sawung aktif bermain musik dan teater. Hanya setahun setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah.

Alasan lain, Jogja adalah kota tempat Sawung Jabo mulai meniti karir. “Di kota inilah saya mulai berkarya, dan tempat saya mengalami kebangkitan dalam bermusik,” kata Sawung kepada wartawan saat rombongan berhenti sejenak di depan keraton.

Ketika ditanya alasannya memilih pawai bersepeda, sambil tertawa lelaki bernama asli Mochamad Djohansyah ini mengatakan, “Acara seperti ini kan tidak perlu biaya banyak, tapi tepat sasaran.”

Cerita Sawung dibenarkan Susan. Kepada Harian Jogja ia berkata bahwa Jogja merupakan kota bersejarah baginya dan suami. Ada banyak kenangan yang ia alami di Jogja. Meski sekarang tinggal di Sydney, Australia, namun kenangan-kenangan tersebut masih melekat. Karena itulah, ketika ada usulan untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Jogja, Susan langsung mengiyakan.

“Konsepnya sederhana, tapi unik sekali,” demikian ujar Susan menanggapi acara sore itu.

Teman SMA
Diarak keliling kota dengan sepeda tentunya menjadi pengalaman mengesankan bagi Kate. Ketika dimintai komentarnya, gadis bermata biru ini berkata sambil tersenyum renyah, “I'm really happy. It's very exciting.”

Lebih lanjut Kate bercerita tentang kisah cintanya dengan Johan. Keduanya adalah teman satu SMA. Namun keduanya belum menjalin cinta saat masih sama-sama sekolah. “Nothing special,” ujar Kate sambil melirik Johan ketika menceritakan masa-masa awal pertemuannya dengan sang suami.

Namun diam-diam mereka rupanya sama-sama menyimpan perasaan tertentu. Saat liburan bersama di Jepang dipilih Johan sebagai waktu yang tepat untuk meminang Kate. Pucuk dicinta ulam tiba, Kate menerima lamaran Johan. Keduanyapun lantas mengikat janji sehidup-semati.

Pawai bersepeda keliling kota Jogja, Minggu (12/4), lalu merupakan rangkaian terakhir dari perayaan pernikahan Johan dan Kate. “Akad nikahnya sudah di Bali,” cerita Susan. Dari Bali, acara lalu dilanjutkan dengan sebuah resepsi di Surabaya, tempat kelahiran Sawung Jabo. Dan terakhir dipilihlah Jogja sebagai kota pamungkas.

Sambil berseloroh, Susan mengatakan kalau ada seorang temannya yang menyebut acara pernikahan Johan dan Kate dengan istilah 'rabi tour'. “Pernikahan tiga kota, seperti tur saja,” kata dosen Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Ausralia ini sambil tertawa lepas. (M5)

Catatan: Ini naskah asli dari feature berjudul "Pengantin Pilih Naik Onthel" di rubrik 'Pagelaran' Harian Jogja edisi Senin, 13 April 2009 lalu.

11 April 2009

Pemilu telah usai. Proses penghitungan perolehan suara sedang berjalan. Untuk sementara Partai Demokrat masih memimpin dengan selisih yang cukup besar dengan Partai Golkar dan PDI Perjuangan di bawahnya. Meski belum selesai dihitung, tapi banyak pengamat dan juga masyarakat awam yang meyakini kalau Partai Demokrat akan menang besar dalam Pemilu kali ini.

Whatever. Saya koq malah tertarik membahas caleg-caleg yang tidak lolos ke Senayan. Kebetulan sekali ada seorang teman yang jadi caleg dari satu partai berbasis Muhammadiyah. Saya tidak tahu apakah dia lolos atau tidak jadi anggota DPRD Kab. Sleman. Namun melihat cerita pencalonannya koq saya malah yakin kalau si teman ini tadi tidak lolos. Kasihan? Bukan dia yang perlu dikasihani, tapi partai yang mengajukannya. :)

Teman saya ini sudah sejak lama saya tahu aktif di partai dimaksud. Dan terakhir bertemu ia menjadi pengurus DPD alias tingkat kabupaten. Nah, paling terakhir ketemu dianya sudah jadi caleg dari partai itu. Kebetulan sekali waktu itu saya sedang magang di SKM Malioboro Ekspres yang core beritanya tentang Pemilu dan segala pernak-perniknya. So, sayapun main ke rumahnya untuk diwawancarai. Semacam profil caleg perempuan begitulah.

Namanya juga teman, sesampainya di sana bukan wawancara yang terjadi. Kami ya cuma ngobrol ngalor-ngidul tak tentu arah sambil sesekali saja menyingung-nyinggung tentang visi-misinya. Nah, cerita baru jadi seru setelah saya mengajukan pertanyaan sepele, "Kok bisa jadi caleg sih?" Hehehe, kalau bukan teman mungkin saya sudah disuruh pulang gara-gara tanya begitu.

Maka teman saya itupun bercerita. Katanya, ia sebenarnya tidak ada niatan untuk menjadi caleg. Ia hanya senang berorganisasi. Dan karena tokoh pendiri partai di mana ia mencalonkan diri itu sangat ia kagumi, jadilah ia ikut jadi pengurus. Tanpa imbalan apa-apa tentu saja. Semata-mata hanya demi menunjukkan kesetiaan pada partai dan sang tokoh yang sangat ia hormati dan kagumi. Terus, kenapa sampai ia bisa jadi caleg? Rupa-rupanya untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan yang disyaratkan sebanyak 30% dari total caleg yang diajukan. Jadilah teman saya ini caleg pelengkap.

Berbeda dengan teman-temannya sesama caleg yang rata-rata membayar Rp 15 juta hanya untuk mendaftarkan diri saja, teman saya ini tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk partai. Nah, yang jadi masalah kemudian adalah: dia benar-benar tidak punya cukup modal untuk berkampanye. So, waktu saya temui ia hanya diam saja di rumah. Saya tanya kegiatan kampanyenya dia bilang tidak pernah kampanye ke mana-mana. Bahkan tetangga kanan-kirinya pun tidak ada yang tahu kalau dia jadi caleg. Walah...!

Cerita punya cerita, sebenarnya teman saya ini ingin sekali memproduksi alat-alat kampanye. Ya, seperti caleg-caleg lain yang punya kalender, kaos, baliho, atau sekedar sticker untuk ditempel di muka pintu. Tapi apalah daya. Boro-boro untuk mencetak alat-alat kampanye, lha wong dia saja masih bingung mencari pekerjaan tetap yang bisa menghidupi dirinya koq. Hmmm....

Usai Pemilu kemarin saya belum sempat ketemu dia lagi. Tapi saya koq yakin dia tidak bakal terpilih. Bagaimana mungkin terpilih kalau modalnya cuma 2 keluarga yang tak lain adalah saudaranya sendiri di dapil di mana ia dicalonkan. OMG!

Pemilu telah usai. Proses penghitungan perolehan suara sedang berjalan. Untuk sementara Partai Demokrat masih memimpin dengan selisih yang cukup besar dengan Partai Golkar dan PDI Perjuangan di bawahnya. Meski belum selesai dihitung, tapi banyak pengamat dan juga masyarakat awam yang meyakini kalau Partai Demokrat akan menang besar dalam Pemilu kali ini.

Whatever. Saya koq malah tertarik membahas caleg-caleg yang tidak lolos ke Senayan. Kebetulan sekali ada seorang teman yang jadi caleg dari satu partai berbasis Muhammadiyah. Saya tidak tahu apakah dia lolos atau tidak jadi anggota DPRD Kab. Sleman. Namun melihat cerita pencalonannya koq saya malah yakin kalau si teman ini tadi tidak lolos. Kasihan? Bukan dia yang perlu dikasihani, tapi partai yang mengajukannya. :)

Teman saya ini sudah sejak lama saya tahu aktif di partai dimaksud. Dan terakhir bertemu ia menjadi pengurus DPD alias tingkat kabupaten. Nah, paling terakhir ketemu dianya sudah jadi caleg dari partai itu. Kebetulan sekali waktu itu saya sedang magang di SKM Malioboro Ekspres yang core beritanya tentang Pemilu dan segala pernak-perniknya. So, sayapun main ke rumahnya untuk diwawancarai. Semacam profil caleg perempuan begitulah.

Namanya juga teman, sesampainya di sana bukan wawancara yang terjadi. Kami ya cuma ngobrol ngalor-ngidul tak tentu arah sambil sesekali saja menyingung-nyinggung tentang visi-misinya. Nah, cerita baru jadi seru setelah saya mengajukan pertanyaan sepele, "Kok bisa jadi caleg sih?" Hehehe, kalau bukan teman mungkin saya sudah disuruh pulang gara-gara tanya begitu.

Maka teman saya itupun bercerita. Katanya, ia sebenarnya tidak ada niatan untuk menjadi caleg. Ia hanya senang berorganisasi. Dan karena tokoh pendiri partai di mana ia mencalonkan diri itu sangat ia kagumi, jadilah ia ikut jadi pengurus. Tanpa imbalan apa-apa tentu saja. Semata-mata hanya demi menunjukkan kesetiaan pada partai dan sang tokoh yang sangat ia hormati dan kagumi. Terus, kenapa sampai ia bisa jadi caleg? Rupa-rupanya untuk memenuhi kuota keterwakilan perempuan yang disyaratkan sebanyak 30% dari total caleg yang diajukan. Jadilah teman saya ini caleg pelengkap.

Berbeda dengan teman-temannya sesama caleg yang rata-rata membayar Rp 15 juta hanya untuk mendaftarkan diri saja, teman saya ini tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk partai. Nah, yang jadi masalah kemudian adalah: dia benar-benar tidak punya cukup modal untuk berkampanye. So, waktu saya temui ia hanya diam saja di rumah. Saya tanya kegiatan kampanyenya dia bilang tidak pernah kampanye ke mana-mana. Bahkan tetangga kanan-kirinya pun tidak ada yang tahu kalau dia jadi caleg. Walah...!

Cerita punya cerita, sebenarnya teman saya ini ingin sekali memproduksi alat-alat kampanye. Ya, seperti caleg-caleg lain yang punya kalender, kaos, baliho, atau sekedar sticker untuk ditempel di muka pintu. Tapi apalah daya. Boro-boro untuk mencetak alat-alat kampanye, lha wong dia saja masih bingung mencari pekerjaan tetap yang bisa menghidupi dirinya koq. Hmmm....

Usai Pemilu kemarin saya belum sempat ketemu dia lagi. Tapi saya koq yakin dia tidak bakal terpilih. Bagaimana mungkin terpilih kalau modalnya cuma 2 keluarga yang tak lain adalah saudaranya sendiri di dapil di mana ia dicalonkan. OMG!

08 April 2009

Sejak mulai magang di Harian Jogja, saya punya rutinitas baru di Minggu pagi. Apa itu? Membeli koran Harian Jogja edisi Minggu! Hehehe, biasalah, namanya juga masih pemula. Entah mengapa rasanya senang sekali kalau hasil liputan saya bisa dimuat. Padahal sudah beberapa kali tulisan dan nama saya tercetak di koran. Setelah di edisi Minggu (29/3) lalu 3 hasil liputan saya dimuat, maka Minggu kemarin saya kembali membeli koran untuk mengecek. Dimuat tidak ya Minggu ini?

Kalau sesuai dengan hasil rapat redaksi, maka Minggu itu paling tidak 3 (lagi) hasil liputan saya akan dimuat. Hal ini diperkuat dengan bujet alias tabel rencana liputan yang telah disepakati bersama dan diedarkan ke seluruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan penerbitan edisi Minggu itu. Tapi begitu membuka Harian Jogja edisi Minggu, 5 April 2009, lalu saya jadi shock. Lho, koq tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat?! OMG!!! :((

Sebenarnya terlalu berlebihan kalau saya bilang shock. Saya hanya merasa tak percaya, bagaimana bisa tulisan saya tidak dimuat? Padahal kalau mengacu pada hasil rapat redaksi, padahal kalau mau melihat bujet, padahal kalau mau mengingat ucapan sang redaktur, padahal... Ah, sudahlah! Saya kemudian melipat koran yang belum saya baca habis itu dan menyalakan komputer. Apalagi kalau bukan mengelus blog tercinta ini. Sambil menunggu komputer menyala, entah dapat ide dari mana saya melayangkan SMS bernada protes pada sang redaktur. Iseng. :))

4 jam online perut saya melilit minta diisi. Mau tak mau saya harus berhenti. Mandi dulu sambil persiapan menunggu sholat dhuhur berjamaah di mushola kos, kemudian baru keluar mencari makan. Setelah makan dan perut kekenyangan saya bingung. Mau ngapain lagi nih? Mau ke kantor Harian Jogja malu sama yang lain. Ya, bagaimana tidak malu kalau setiap hari kelihatan sibuk mengetik tapi begitu korannya terbit tulisannya tidak ada. So, saya memutuskan bolos hari itu. Tapi enaknya ke mana ya?

"Tring..!" Tiba-tiba dapat ide bagus. Saya ingat seorang kenalan di dekat petilasan Kraton Ratu Boko yang menjalankan bisnis agen travel online (online travel agent). Si Mas netpreneur yang belum banyak dikenal orang ini awalnya pemandu wisata khusus tamu-tamu berbahasa Prancis. Karena jiwa entrepreneurnya kuat, ia kemudian banting stir. Berhenti jadi pemandu wisata dan membangun bisnis travel agent di dunia maya. Padahal ia hanya tahu sedikit tentang internet, paling-paling hanya membuka email dan googling saja. Tapi ketekunan belajar dan sifat pantang menyerah membuatnya mampu menghasilkan omset puluhan juta rupiah dari bisnisnya tersebut.

Maka ke sanalah saya Minggu sore itu. Biar tidak bengong saya mengajak seorang teman kos. Kebetulan dia juga maniak internet meski lebih interes ke programming. Berangkat dari kos sekitar jam 16.00. Sampai di Jl. Solo, tepatnya setelah lampu merah pertigaan Jl. Babarsari, saya berhenti sebentar untuk mengambil uang di ATM BNI yang terletak persis di sebelah timur gapura Tambakbayan. Waktu itu langit sudah mulai gelap. Setelah saya selesai mengambil uang hujan rintik-rintikpun turun. Duh, gelagat tidak baik nih. :(

Kami nekat. Hujan rintik-rintik kami terobos. Tapi baru berapa kilo dari lampu merah Ring Road Timur kami harus berteduh karena hujan semakin deras. Hmmm, mendung sehitam itu pasti bakal lama nih hujannya. Benar saja. Sampai setengah jam kemudian kami masih harus berteduh. Sampai akhirnya kami memilih nekat dan kembali melanjutkan perjalanan. Sial, baru sampai Kalasan kami sudah harus berteduh lagi. Kali ini lebih lama karena hujannya semakin deras. Pffiuuuh....

Lihat jam di handphone angkanya sudah 17:05, padahal perjalanan masih lumayan jauh. Pikir punya pikir akhirnya kami nekat menembus hujan setengah hati itu. Sampai di dekat pintu masuk Kraton Ratu Boko kembali kami harus berhenti lagi. Kalau dilanjutkan bisa-bisa kami basah kuyup. Mana sopan bertamu dalam keadaan basah kuyup? Tapi kali ini kami tak berhenti lama. Begitu hari sudah gelap kami langsung tancap gas. Sambil menahan dingin kami mencari-cari letak rumah si Mas tadi. Setelah berputar-putar sebentar di perumahannya plus salah masuk rumah orang, akhirnya ketemu juga deh rumah yang kami cari. Alhamdulillah...

Dasar pebisnis, begitu ketemu dia langsung bercerita panjang-lebar tentang bisnis travel agen online-nya. Cukup lama kami mengobrol, dari jam setengah 7 sampai jam 9 lebih. Dari obrolan sepanjang itu saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah bisnis online berdasarkan hobi dan skill yang dimiliki. Si Mas yang tidak mau namanya diekspos itu hobinya jalan-jalan dan skillnya bisa berbahasa asing, Inggris dan Prancis. Dengan kedua modal itulah dia membangun bisnisnya. Padahal, sekali lagi, dia tidak tahu banyak tentang internet, apalagi tentang bisnis online.

Tentu saja dia tidak langsung sukses. Awal situsnya beroperasi, ia harus sibuk menangani semua urusan. Mulai dari membuat situs, promosi, mencari backlink, menjawab setiap email yang masuk, mencari transportasi, memesan hotel, menjadi pemandu bagi tamunya, dan sekaligus menerima pembayaran dari tamu-tamunya. Ya, all in one deh pokoknya. Semakin lama tamunya semakin banyak. Ia kemudian mulai mencari pemandu lain yang mau bekerja sama dengannya. Jadi begitu ada tamu ia tidak lagi memandu sendiri tamunya tersebut.

Kini setelah hampir 3 tahun berjalan ia tinggal duduk diam di kantor kecilnya yang merangkap sebagai ruang keluarga. Ia nyaris tak pernah keluar rumah lagi sekarang. Jadi seluruh waktunya full ia curahkan untuk keluarganya tercinta. Toh, bisnis bisa ia urus lewat laptop yang sudah terhubung dengan jaringan internet? Begitu ada order, ia tinggal angkat telepon untuk menyewa mobil pada pemilik rental mobil yang sudah jadi langganannya dan kemudian menghubungi pemandu wisata yang juga sudah ia kenal lama. Praktis dan efektif, bukan?

Bayangkan, si Mas netpreneur tadi bukanlah seorang ahli TI. Ia tak pandai pemrograman, tak tahu membuat situs, bahkan ia belajar membuat akun PayPal dari saya. Tapi kini bisnisnya sudah beromset puluhan juta perbulan. Sebagai gambaran besarnya omset yang ia dapat, ia dapat membeli 1 laptop Compaq plus modem seharga total 13 juta (waktu itu), satu motor Yamaha Mio gres, satu motor Yamaha Jupiter MX gres, tabungan untuk membeli mobil idamannya, biaya sekolah anak-anaknya, biaya hidupnya sehari-hari selama ini, dan uang untuk bersenang-senang setiap pekan. Bagi orang yang baru memulai bisnis online selama hampir 3 tahun, ini tentu sebuah pencapaian luar biasa. Ingat, si Mas ini seorang otodidak lho. Jadi besar kemungkinan beberapa bulan di tahun pertamanya hanya dilalui dengan trial and error saja.

Pulang dari sana saya langsung termotivasi. Ya, saya juga harus memiliki bisnis sendiri kalau ingin memiliki kebebasan finansial. Sejumlah ide bisnis yang pernah saya rencanakan kembali berseliweran di kepala saya. Hmmm, sepertinya satu di antaranya harus segera saya realisasikan. Sekecil apapun bisnis itu, sesedikit apapun hasil yang akan dicapai, saya harus memulainya! Bukankah segala sesuatu yang besar juga berasal dari hal-hal kecil? The Beatles yang sekarang jadi legenda awalnya hanyalah band kafe.

Benar-benar hari Minggu yang menyenangkan. Biarlah hasil liputan saya tidak satupun yang dimuat di Harian Jogja edisi Minggu itu, biarlah saya harus kehujanan sepanjang jalan dari Kalasan ke Perumahan Ratu Boko, biarlah saya harus masuk angin karena menahan lapar di tengah udara dingin, tapi saya pulang dengan sebuah pelajaran berharga yang akan sangat menentukan masa depan saya nanti. Amin.

Itu saja. Semoga bermanfaat. :)

Sejak mulai magang di Harian Jogja, saya punya rutinitas baru di Minggu pagi. Apa itu? Membeli koran Harian Jogja edisi Minggu! Hehehe, biasalah, namanya juga masih pemula. Entah mengapa rasanya senang sekali kalau hasil liputan saya bisa dimuat. Padahal sudah beberapa kali tulisan dan nama saya tercetak di koran. Setelah di edisi Minggu (29/3) lalu 3 hasil liputan saya dimuat, maka Minggu kemarin saya kembali membeli koran untuk mengecek. Dimuat tidak ya Minggu ini?

Kalau sesuai dengan hasil rapat redaksi, maka Minggu itu paling tidak 3 (lagi) hasil liputan saya akan dimuat. Hal ini diperkuat dengan bujet alias tabel rencana liputan yang telah disepakati bersama dan diedarkan ke seluruh pihak-pihak yang berkepentingan dengan penerbitan edisi Minggu itu. Tapi begitu membuka Harian Jogja edisi Minggu, 5 April 2009, lalu saya jadi shock. Lho, koq tidak ada satupun tulisan saya yang dimuat?! OMG!!! :((

Sebenarnya terlalu berlebihan kalau saya bilang shock. Saya hanya merasa tak percaya, bagaimana bisa tulisan saya tidak dimuat? Padahal kalau mengacu pada hasil rapat redaksi, padahal kalau mau melihat bujet, padahal kalau mau mengingat ucapan sang redaktur, padahal... Ah, sudahlah! Saya kemudian melipat koran yang belum saya baca habis itu dan menyalakan komputer. Apalagi kalau bukan mengelus blog tercinta ini. Sambil menunggu komputer menyala, entah dapat ide dari mana saya melayangkan SMS bernada protes pada sang redaktur. Iseng. :))

4 jam online perut saya melilit minta diisi. Mau tak mau saya harus berhenti. Mandi dulu sambil persiapan menunggu sholat dhuhur berjamaah di mushola kos, kemudian baru keluar mencari makan. Setelah makan dan perut kekenyangan saya bingung. Mau ngapain lagi nih? Mau ke kantor Harian Jogja malu sama yang lain. Ya, bagaimana tidak malu kalau setiap hari kelihatan sibuk mengetik tapi begitu korannya terbit tulisannya tidak ada. So, saya memutuskan bolos hari itu. Tapi enaknya ke mana ya?

"Tring..!" Tiba-tiba dapat ide bagus. Saya ingat seorang kenalan di dekat petilasan Kraton Ratu Boko yang menjalankan bisnis agen travel online (online travel agent). Si Mas netpreneur yang belum banyak dikenal orang ini awalnya pemandu wisata khusus tamu-tamu berbahasa Prancis. Karena jiwa entrepreneurnya kuat, ia kemudian banting stir. Berhenti jadi pemandu wisata dan membangun bisnis travel agent di dunia maya. Padahal ia hanya tahu sedikit tentang internet, paling-paling hanya membuka email dan googling saja. Tapi ketekunan belajar dan sifat pantang menyerah membuatnya mampu menghasilkan omset puluhan juta rupiah dari bisnisnya tersebut.

Maka ke sanalah saya Minggu sore itu. Biar tidak bengong saya mengajak seorang teman kos. Kebetulan dia juga maniak internet meski lebih interes ke programming. Berangkat dari kos sekitar jam 16.00. Sampai di Jl. Solo, tepatnya setelah lampu merah pertigaan Jl. Babarsari, saya berhenti sebentar untuk mengambil uang di ATM BNI yang terletak persis di sebelah timur gapura Tambakbayan. Waktu itu langit sudah mulai gelap. Setelah saya selesai mengambil uang hujan rintik-rintikpun turun. Duh, gelagat tidak baik nih. :(

Kami nekat. Hujan rintik-rintik kami terobos. Tapi baru berapa kilo dari lampu merah Ring Road Timur kami harus berteduh karena hujan semakin deras. Hmmm, mendung sehitam itu pasti bakal lama nih hujannya. Benar saja. Sampai setengah jam kemudian kami masih harus berteduh. Sampai akhirnya kami memilih nekat dan kembali melanjutkan perjalanan. Sial, baru sampai Kalasan kami sudah harus berteduh lagi. Kali ini lebih lama karena hujannya semakin deras. Pffiuuuh....

Lihat jam di handphone angkanya sudah 17:05, padahal perjalanan masih lumayan jauh. Pikir punya pikir akhirnya kami nekat menembus hujan setengah hati itu. Sampai di dekat pintu masuk Kraton Ratu Boko kembali kami harus berhenti lagi. Kalau dilanjutkan bisa-bisa kami basah kuyup. Mana sopan bertamu dalam keadaan basah kuyup? Tapi kali ini kami tak berhenti lama. Begitu hari sudah gelap kami langsung tancap gas. Sambil menahan dingin kami mencari-cari letak rumah si Mas tadi. Setelah berputar-putar sebentar di perumahannya plus salah masuk rumah orang, akhirnya ketemu juga deh rumah yang kami cari. Alhamdulillah...

Dasar pebisnis, begitu ketemu dia langsung bercerita panjang-lebar tentang bisnis travel agen online-nya. Cukup lama kami mengobrol, dari jam setengah 7 sampai jam 9 lebih. Dari obrolan sepanjang itu saya banyak belajar tentang bagaimana membangun sebuah bisnis online berdasarkan hobi dan skill yang dimiliki. Si Mas yang tidak mau namanya diekspos itu hobinya jalan-jalan dan skillnya bisa berbahasa asing, Inggris dan Prancis. Dengan kedua modal itulah dia membangun bisnisnya. Padahal, sekali lagi, dia tidak tahu banyak tentang internet, apalagi tentang bisnis online.

Tentu saja dia tidak langsung sukses. Awal situsnya beroperasi, ia harus sibuk menangani semua urusan. Mulai dari membuat situs, promosi, mencari backlink, menjawab setiap email yang masuk, mencari transportasi, memesan hotel, menjadi pemandu bagi tamunya, dan sekaligus menerima pembayaran dari tamu-tamunya. Ya, all in one deh pokoknya. Semakin lama tamunya semakin banyak. Ia kemudian mulai mencari pemandu lain yang mau bekerja sama dengannya. Jadi begitu ada tamu ia tidak lagi memandu sendiri tamunya tersebut.

Kini setelah hampir 3 tahun berjalan ia tinggal duduk diam di kantor kecilnya yang merangkap sebagai ruang keluarga. Ia nyaris tak pernah keluar rumah lagi sekarang. Jadi seluruh waktunya full ia curahkan untuk keluarganya tercinta. Toh, bisnis bisa ia urus lewat laptop yang sudah terhubung dengan jaringan internet? Begitu ada order, ia tinggal angkat telepon untuk menyewa mobil pada pemilik rental mobil yang sudah jadi langganannya dan kemudian menghubungi pemandu wisata yang juga sudah ia kenal lama. Praktis dan efektif, bukan?

Bayangkan, si Mas netpreneur tadi bukanlah seorang ahli TI. Ia tak pandai pemrograman, tak tahu membuat situs, bahkan ia belajar membuat akun PayPal dari saya. Tapi kini bisnisnya sudah beromset puluhan juta perbulan. Sebagai gambaran besarnya omset yang ia dapat, ia dapat membeli 1 laptop Compaq plus modem seharga total 13 juta (waktu itu), satu motor Yamaha Mio gres, satu motor Yamaha Jupiter MX gres, tabungan untuk membeli mobil idamannya, biaya sekolah anak-anaknya, biaya hidupnya sehari-hari selama ini, dan uang untuk bersenang-senang setiap pekan. Bagi orang yang baru memulai bisnis online selama hampir 3 tahun, ini tentu sebuah pencapaian luar biasa. Ingat, si Mas ini seorang otodidak lho. Jadi besar kemungkinan beberapa bulan di tahun pertamanya hanya dilalui dengan trial and error saja.

Pulang dari sana saya langsung termotivasi. Ya, saya juga harus memiliki bisnis sendiri kalau ingin memiliki kebebasan finansial. Sejumlah ide bisnis yang pernah saya rencanakan kembali berseliweran di kepala saya. Hmmm, sepertinya satu di antaranya harus segera saya realisasikan. Sekecil apapun bisnis itu, sesedikit apapun hasil yang akan dicapai, saya harus memulainya! Bukankah segala sesuatu yang besar juga berasal dari hal-hal kecil? The Beatles yang sekarang jadi legenda awalnya hanyalah band kafe.

Benar-benar hari Minggu yang menyenangkan. Biarlah hasil liputan saya tidak satupun yang dimuat di Harian Jogja edisi Minggu itu, biarlah saya harus kehujanan sepanjang jalan dari Kalasan ke Perumahan Ratu Boko, biarlah saya harus masuk angin karena menahan lapar di tengah udara dingin, tapi saya pulang dengan sebuah pelajaran berharga yang akan sangat menentukan masa depan saya nanti. Amin.

Itu saja. Semoga bermanfaat. :)

06 April 2009

Gunungkidul, propinsi paling terbelakang di Jogja. Selain letaknya yang paling jauh dari pusat kota Jogja, Gunungkidul juga tandus. Maklum, daerah pegunungan. Meski begitu jangan sepelekan kabupaten yang satu ini. Di balik ketandusan tanahnya, Gunungkidul menyimpan banyak potensi wisata pantai. Nah, kebetulan sekali belum lama ini saya dan teman-teman kos melakukan tour ke seluruh pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Gila, seru banget, Bro!

Tour yang saya sebut Tour de Gunungkidul ini dilaksanakan dua kali. Jaraknya seminggu. Minggu pertama kami hanya mengunjungi Pantai Ngerenehan, sebuah pantai kecil di mulut sebuah teluk. Pantainya lumayan pendek, sekitar 500 meter saja. Di kiri-kanan pantai berdiri bukit karang terjal yang menjorok hingga ke tengah laut. Di mulut teluk terdapat batu-batu karang yang meredam ombak deras Laut Selatan. Dengan demikian ombak di Pantai Ngerenehan tidak tinggi sehingga aman untuk mandi.





Di Ngerenehan kita tak cuma bisa mandi, tapi juga makan ikan. Setiap hari para nelayan hilir-mudik ke laut melalui pantai ini, jadi ikannya sangat melimpah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa makan ikan laut di Ngerenehan. Harganya cukup bersahabat koq. Sebagai gambaran, teman saya membeli seekor ikan hiu kecil plus 4-5 ekor ikan pari dengan harga Rp 15.000 saja. Tidak ditimbang? Hehehe, nelayan di sana main kira-kira saja, Bro. Asal sudah deal ya sudah, ikan dilepas. Asyik kan?



Pantai Sepanjang
Seminggu setelah mengunjungi Ngerenehan, kami berangkat lagi ke selatan Jogja. Kali ini tujuannya Pantai Sepanjang. Di mana itu? Tidak jauh dari Ngerenehan koq. Hanya sekitar 5 kilometer ke arah timur, sebelum Pantai Baron. Di sini pemandangannya cukup indah. Sesuai namanya, Pantai Sepanjang benar-benar panjang. Melihat ke kanan-kiri hanya hamparan pasir putih yang memanjang.



Lain dengan Ngerenehan, di Sepanjang kita tidak boleh mandi. Masuk ke laut saja kalau bisa jangan. Kenapa? Arusnya deras, Bro. Selain itu kontur pantainya juga sangat curam. Sekali kita masuk ke laut dan terseret, bakalan repot deh yang menolong. So, kalau di sini enaknya cuma jalan-jalan menyusuri pantai, terus naik ke bukit untuk melihat hamparan Laut Selatan, dan kalau sudah capek istirahat di gubuk-gubuk yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran pantai.



Bagaimana? Asyik, bukan? Selama ini nama Ngerenehan dan Sepanjang kalah tenar dibanding Pantai Baron, Trisik, Kukup, dan pantai-pantai Gunungkidul lain yang ada di brosur-brosur keluaran Dinas Pariwisata Jogja. Padahal pesona kedua pantai ini tidak kalah dibanding pantai-pantai lain. Dan satu kelebihan utama keduanya adalah: masih sepi pengunjung!

Setelah puas mengagumi pemandangan alam di Sepanjang, perjalanan kami lanjutkan ke timur. Ya, kami terus lanjut ke sebelah timur. Semua pantai kami masuki meski hanya melihat secara sekilas-sekilas saja sambil lewat. Sampai di suatu desa, eh, lha koq ban belakang motor saya bocor. Bukan bocor sih, orang tempat pentilnya secara ajaib bisa lepas dari ban. Jadilah kami berhenti dulu karena saya harus mengganti ban. Untung saja ada bengkel tak jauh dari tempat kami berhenti. :)



Akhirnya, sekitar jam 7 malam sampailah kami di pantai paling timur Jogja, Pantai Sadeng. Pantai ini merupakan sebuah pelabuhan kecil tempat para nelayan berlabuh setelah mencari ikan di laut. Ikan-ikan di sini juga murah-murah, Bro. So, kamipun sepakat patungan membeli ikan dan ujung-ujungnya tentu saja makan-makan. :)) Puas makan sekitar jam 8 malam. Gila, begitu mau pulang koq inget kalau waktu itu malam Jum'at. Walah....

Btw, meski capeknya bukan main, tapi perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan. Suatu saat ingin saya mengulangi perjalanan itu lagi. Siapa mau ikut?

Gunungkidul, propinsi paling terbelakang di Jogja. Selain letaknya yang paling jauh dari pusat kota Jogja, Gunungkidul juga tandus. Maklum, daerah pegunungan. Meski begitu jangan sepelekan kabupaten yang satu ini. Di balik ketandusan tanahnya, Gunungkidul menyimpan banyak potensi wisata pantai. Nah, kebetulan sekali belum lama ini saya dan teman-teman kos melakukan tour ke seluruh pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Gila, seru banget, Bro!

Tour yang saya sebut Tour de Gunungkidul ini dilaksanakan dua kali. Jaraknya seminggu. Minggu pertama kami hanya mengunjungi Pantai Ngerenehan, sebuah pantai kecil di mulut sebuah teluk. Pantainya lumayan pendek, sekitar 500 meter saja. Di kiri-kanan pantai berdiri bukit karang terjal yang menjorok hingga ke tengah laut. Di mulut teluk terdapat batu-batu karang yang meredam ombak deras Laut Selatan. Dengan demikian ombak di Pantai Ngerenehan tidak tinggi sehingga aman untuk mandi.





Di Ngerenehan kita tak cuma bisa mandi, tapi juga makan ikan. Setiap hari para nelayan hilir-mudik ke laut melalui pantai ini, jadi ikannya sangat melimpah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa makan ikan laut di Ngerenehan. Harganya cukup bersahabat koq. Sebagai gambaran, teman saya membeli seekor ikan hiu kecil plus 4-5 ekor ikan pari dengan harga Rp 15.000 saja. Tidak ditimbang? Hehehe, nelayan di sana main kira-kira saja, Bro. Asal sudah deal ya sudah, ikan dilepas. Asyik kan?



Pantai Sepanjang
Seminggu setelah mengunjungi Ngerenehan, kami berangkat lagi ke selatan Jogja. Kali ini tujuannya Pantai Sepanjang. Di mana itu? Tidak jauh dari Ngerenehan koq. Hanya sekitar 5 kilometer ke arah timur, sebelum Pantai Baron. Di sini pemandangannya cukup indah. Sesuai namanya, Pantai Sepanjang benar-benar panjang. Melihat ke kanan-kiri hanya hamparan pasir putih yang memanjang.



Lain dengan Ngerenehan, di Sepanjang kita tidak boleh mandi. Masuk ke laut saja kalau bisa jangan. Kenapa? Arusnya deras, Bro. Selain itu kontur pantainya juga sangat curam. Sekali kita masuk ke laut dan terseret, bakalan repot deh yang menolong. So, kalau di sini enaknya cuma jalan-jalan menyusuri pantai, terus naik ke bukit untuk melihat hamparan Laut Selatan, dan kalau sudah capek istirahat di gubuk-gubuk yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran pantai.



Bagaimana? Asyik, bukan? Selama ini nama Ngerenehan dan Sepanjang kalah tenar dibanding Pantai Baron, Trisik, Kukup, dan pantai-pantai Gunungkidul lain yang ada di brosur-brosur keluaran Dinas Pariwisata Jogja. Padahal pesona kedua pantai ini tidak kalah dibanding pantai-pantai lain. Dan satu kelebihan utama keduanya adalah: masih sepi pengunjung!

Setelah puas mengagumi pemandangan alam di Sepanjang, perjalanan kami lanjutkan ke timur. Ya, kami terus lanjut ke sebelah timur. Semua pantai kami masuki meski hanya melihat secara sekilas-sekilas saja sambil lewat. Sampai di suatu desa, eh, lha koq ban belakang motor saya bocor. Bukan bocor sih, orang tempat pentilnya secara ajaib bisa lepas dari ban. Jadilah kami berhenti dulu karena saya harus mengganti ban. Untung saja ada bengkel tak jauh dari tempat kami berhenti. :)



Akhirnya, sekitar jam 7 malam sampailah kami di pantai paling timur Jogja, Pantai Sadeng. Pantai ini merupakan sebuah pelabuhan kecil tempat para nelayan berlabuh setelah mencari ikan di laut. Ikan-ikan di sini juga murah-murah, Bro. So, kamipun sepakat patungan membeli ikan dan ujung-ujungnya tentu saja makan-makan. :)) Puas makan sekitar jam 8 malam. Gila, begitu mau pulang koq inget kalau waktu itu malam Jum'at. Walah....

Btw, meski capeknya bukan main, tapi perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan. Suatu saat ingin saya mengulangi perjalanan itu lagi. Siapa mau ikut?

05 April 2009

Harian Jogja mengangkat tulisan tentang belanja online di halaman 15 (rubrik 'Belanja') Sabtu (4/4) kemarin. Penulisnya, duo Martha Nalurita dan Yuspita Anjar Palupi, memang bukan orang yang akrab dengan dunia online shopping. Tapi ulasan mereka cukup lengkap. Mulai dari ulasan ringkas tentang dunia online shopping di Indonesia, sampai tips-tips berbelanja online yang aman.

Dalam tulisan itu juga disebutkan kalau apa saja sudah bisa dibeli secara online sekarang. Ya, apa saja! Mulai dari barang yang super mahal berharga jutaan rupiah, sampai dengan pernak-pernik seharga puluhan ribu rupiah. Nah, buat Anda yang sedang belajar sulap atau gemar dengan sulap, segala keperluan sulap juga sudah bisa didapatkan di internet lho.

Adalah RajaSulap.com, toko sulap online di mana Anda bisa membeli alat sulap dan segala keperluan berkaitan dengan sulap. Situs ini merupakan toko alat sulap online nomor 1 di Indonesia versi Google Indonesia. Coba saja ketikkan "toko alat sulap" di kotak pencarian Google Indonesia, maka situs RajaSulap.com akan terpampang di nomor 1 pada halaman 1 hasil pencarian. Bagaimana kalau yang diketik kata kunci lain? Ya coba saja sendiri. :))

Ada banyak peralatan sulap yang disediakan RajaSulap.com. Mulai dari koin, kartu ajaib, sampai dengan peralatan yang agak aneh seperti linking Polo mint, sebuah alat sulap yang memungkinkan Anda menyambungkan dua biji permen Polo bolong menjadi satu seperti rantai. Ada juga sarana belajar sulap seperti video dan buku-buku teori sulap. Cukup pesan melalui SMS atau telepon, maka barang pesanan Anda sudah dapat sampai di tangan 2-3 hari kemudian.

Tertarik?

Harian Jogja mengangkat tulisan tentang belanja online di halaman 15 (rubrik 'Belanja') Sabtu (4/4) kemarin. Penulisnya, duo Martha Nalurita dan Yuspita Anjar Palupi, memang bukan orang yang akrab dengan dunia online shopping. Tapi ulasan mereka cukup lengkap. Mulai dari ulasan ringkas tentang dunia online shopping di Indonesia, sampai tips-tips berbelanja online yang aman.

Dalam tulisan itu juga disebutkan kalau apa saja sudah bisa dibeli secara online sekarang. Ya, apa saja! Mulai dari barang yang super mahal berharga jutaan rupiah, sampai dengan pernak-pernik seharga puluhan ribu rupiah. Nah, buat Anda yang sedang belajar sulap atau gemar dengan sulap, segala keperluan sulap juga sudah bisa didapatkan di internet lho.

Adalah RajaSulap.com, toko sulap online di mana Anda bisa membeli alat sulap dan segala keperluan berkaitan dengan sulap. Situs ini merupakan toko alat sulap online nomor 1 di Indonesia versi Google Indonesia. Coba saja ketikkan "toko alat sulap" di kotak pencarian Google Indonesia, maka situs RajaSulap.com akan terpampang di nomor 1 pada halaman 1 hasil pencarian. Bagaimana kalau yang diketik kata kunci lain? Ya coba saja sendiri. :))

Ada banyak peralatan sulap yang disediakan RajaSulap.com. Mulai dari koin, kartu ajaib, sampai dengan peralatan yang agak aneh seperti linking Polo mint, sebuah alat sulap yang memungkinkan Anda menyambungkan dua biji permen Polo bolong menjadi satu seperti rantai. Ada juga sarana belajar sulap seperti video dan buku-buku teori sulap. Cukup pesan melalui SMS atau telepon, maka barang pesanan Anda sudah dapat sampai di tangan 2-3 hari kemudian.

Tertarik?

"Rumahku surgaku". Anda yang beragama Islam pasti sudah sangat familiar dengan kata-kata itu. Ya, kalimat pendek namun penuh makna tersebut adalah ucapannya Rosulullah Muhammad SAW. Sebuah konsep tentang keluarga bahagia. Keluarga yang menyenangkan, sehingga berada di dalamnya tak ubahnya seperti di dalam surga. Baity jannaty, begitu redaksi aslinya di dalam bahasa Arab.

Buat yang sudah menikah, "rumahku surgaku" bisa dilakukan bersama-sama pasangan. Ya, apalagi kalau bukan menikmati surga dunia. Hehehehe. Eits, jangan berpikiran ngeres dulu lho. Surga dunia yang saya maksud adalah membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Sebuah keluarga yang aman tentrem toto raharjo. Nah, kalau yang belum menikah bagaimana dunks caranya?

Ada banyak jalan mewujudkan rumah yang serasa surga. Bagi yang masih sendirian dan tinggal di kos (seperti saya), kita juga bisa koq membangun sebuah surga di kos kita. Caranya? Salah satunya, ini cuma salah satunya saja lho, adalah dengan menata kos-kosan sebaik mungkin sehingga kita merasa betah di dalamnya. Buatlah kamar kos senyaman mungkin, dan enak dipakai istirahat. Tata serapi mungkin, dan buatlah kamar menjadi tempat kembali yang selalu dirindukan bila kita bepergian.

Kalau catnya sudah agak pudar ya dicat lagi. Warna apa yang cocok untuk kamar kos? Ini tentu terserah Anda, cari inspirasi memilih warna ruangan dengan melihat-lihat iklan interior & property atau membaca-baca artikel interior kantor yang banyak tersebar di internet. Tanya Mbah Google, pasti dia tahu harus ke mana mencari informasi-informasi itu.

Buat yang jauh dari rumah dan orang tua, kamar kos adalah tempat kembali satu-satunya. Di sanalah semua kegiatan kita bermula dan kemudian juga berakhir. Jadi, buatlah kamar kos senyaman mungkin agar setiap hari yang kita mulai selalu ceria. Dan setiap istirahat kita bisa merasa nyaman.

Itu saja. Semoga bermanfaat.

"Rumahku surgaku". Anda yang beragama Islam pasti sudah sangat familiar dengan kata-kata itu. Ya, kalimat pendek namun penuh makna tersebut adalah ucapannya Rosulullah Muhammad SAW. Sebuah konsep tentang keluarga bahagia. Keluarga yang menyenangkan, sehingga berada di dalamnya tak ubahnya seperti di dalam surga. Baity jannaty, begitu redaksi aslinya di dalam bahasa Arab.

Buat yang sudah menikah, "rumahku surgaku" bisa dilakukan bersama-sama pasangan. Ya, apalagi kalau bukan menikmati surga dunia. Hehehehe. Eits, jangan berpikiran ngeres dulu lho. Surga dunia yang saya maksud adalah membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Sebuah keluarga yang aman tentrem toto raharjo. Nah, kalau yang belum menikah bagaimana dunks caranya?

Ada banyak jalan mewujudkan rumah yang serasa surga. Bagi yang masih sendirian dan tinggal di kos (seperti saya), kita juga bisa koq membangun sebuah surga di kos kita. Caranya? Salah satunya, ini cuma salah satunya saja lho, adalah dengan menata kos-kosan sebaik mungkin sehingga kita merasa betah di dalamnya. Buatlah kamar kos senyaman mungkin, dan enak dipakai istirahat. Tata serapi mungkin, dan buatlah kamar menjadi tempat kembali yang selalu dirindukan bila kita bepergian.

Kalau catnya sudah agak pudar ya dicat lagi. Warna apa yang cocok untuk kamar kos? Ini tentu terserah Anda, cari inspirasi memilih warna ruangan dengan melihat-lihat iklan interior & property atau membaca-baca artikel interior kantor yang banyak tersebar di internet. Tanya Mbah Google, pasti dia tahu harus ke mana mencari informasi-informasi itu.

Buat yang jauh dari rumah dan orang tua, kamar kos adalah tempat kembali satu-satunya. Di sanalah semua kegiatan kita bermula dan kemudian juga berakhir. Jadi, buatlah kamar kos senyaman mungkin agar setiap hari yang kita mulai selalu ceria. Dan setiap istirahat kita bisa merasa nyaman.

Itu saja. Semoga bermanfaat.

04 April 2009

Dua hari tidak membuka email yang Gmail, saya jadi ketinggalan sebuah info penting dari Kang Munawar. Setelah menjadi guest blogger blog ini dengan artikel berjudul "5 Tips untuk Guest Blogger", Kang Nawar memberi tahu saya kalau ternyata artikel tersebut dikopi mentah-mentah setelah di-publish di sini. Gila! :(

Awalnya saya tidak membaca gelagat apa-apa, lha wong Kang Nawar memberi judul emailnya itu "Ini Blog Sampaian..?" Setelah saya buka barulah saya tahu apa yang terjadi. Artikel Kang Nawar yang dikirimkan dalam rangka guest blogging di blog ini dikopi oleh seorang blogger tak bertanggungjawab. Sialnya, si tukang kopi itu nama depannya juga Eko. Entah asli atau rekayasa, blogger itu bernama Eko Novianto.



Lihat saja screenshot di atas. Artikel tersebut dikopi persis sama, bahkan 100% mirip sekali dengan posting yang di blog ini. Susunan paragraf, besar-kecil dan tebal-tipis kata, bahkan kredit dan link-link (juga inbound link) yang saya berikan untuk Kang Nawar selaku penulis asli juga dikopi. Kalau mau lebih jelas silakan baca sendiri di sini.

Lho, seharusnya kan tidak masalah karena ada link-nya dan aktif? Masalahnya bukan itu. Memang semua link ada lengkap seperti aslinya dan aktif. Tapi dengan perbuatannya itu dia telah membuat kesan kalau artikel tersebut dikirimkan Kang Nawar untuk blog itu, padahal sebenarnya kan dikopi dari sini? Kalau dia berniat baik dan tahu etika, tentunya diberi keterangan di mana dia mengambil artikel tersebut. Ternyata kan tidak?

Ini bukan pengalaman pertama saya menjadi korban kopi-paste. Sudah sering. Sebelum ini ada seorang blogger yang cukup terkenal mengkopi artikel saya yang berjudul "Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia". Lihat saja kopiannya di sini dan screenshot berikut:



Sopannya, si blogger beken itu menambahkan 3 kata pada judul dan juga memberikan 2 paragraf penutup yang ia buat sendiri sebagai tambahan. Di akhir posting ia menuliskan "Sumber Inspirasi: Mas Eko Nur Huda". Tapi tidak sopannya, tidak ada satupun link ke alamat URL posting yang ia kopi. Ia hanya memberikan link ke blog ini, yakni http://www.ekonurhuda.com saja. Padahal seharusnya kan http://www.ekonurhuda.com/2008/10/mengenal-liew-cheon-fong-fulltime.html.

Saya mungkin benar waktu mengatakan bahwa blogger tidak kalah hebat dalam menulis dibanding para kolumnis koran. Karena itu blogger seharusnya tidak boleh diremehkan. Tapi perbedaannya, menjadi penulis bagus di blogosphere sangat beresiko jadi korban kopi-paste. Jadi, waspadalah, waspadalah..!

Dua hari tidak membuka email yang Gmail, saya jadi ketinggalan sebuah info penting dari Kang Munawar. Setelah menjadi guest blogger blog ini dengan artikel berjudul "5 Tips untuk Guest Blogger", Kang Nawar memberi tahu saya kalau ternyata artikel tersebut dikopi mentah-mentah setelah di-publish di sini. Gila! :(

Awalnya saya tidak membaca gelagat apa-apa, lha wong Kang Nawar memberi judul emailnya itu "Ini Blog Sampaian..?" Setelah saya buka barulah saya tahu apa yang terjadi. Artikel Kang Nawar yang dikirimkan dalam rangka guest blogging di blog ini dikopi oleh seorang blogger tak bertanggungjawab. Sialnya, si tukang kopi itu nama depannya juga Eko. Entah asli atau rekayasa, blogger itu bernama Eko Novianto.



Lihat saja screenshot di atas. Artikel tersebut dikopi persis sama, bahkan 100% mirip sekali dengan posting yang di blog ini. Susunan paragraf, besar-kecil dan tebal-tipis kata, bahkan kredit dan link-link (juga inbound link) yang saya berikan untuk Kang Nawar selaku penulis asli juga dikopi. Kalau mau lebih jelas silakan baca sendiri di sini.

Lho, seharusnya kan tidak masalah karena ada link-nya dan aktif? Masalahnya bukan itu. Memang semua link ada lengkap seperti aslinya dan aktif. Tapi dengan perbuatannya itu dia telah membuat kesan kalau artikel tersebut dikirimkan Kang Nawar untuk blog itu, padahal sebenarnya kan dikopi dari sini? Kalau dia berniat baik dan tahu etika, tentunya diberi keterangan di mana dia mengambil artikel tersebut. Ternyata kan tidak?

Ini bukan pengalaman pertama saya menjadi korban kopi-paste. Sudah sering. Sebelum ini ada seorang blogger yang cukup terkenal mengkopi artikel saya yang berjudul "Mengenal Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia". Lihat saja kopiannya di sini dan screenshot berikut:



Sopannya, si blogger beken itu menambahkan 3 kata pada judul dan juga memberikan 2 paragraf penutup yang ia buat sendiri sebagai tambahan. Di akhir posting ia menuliskan "Sumber Inspirasi: Mas Eko Nur Huda". Tapi tidak sopannya, tidak ada satupun link ke alamat URL posting yang ia kopi. Ia hanya memberikan link ke blog ini, yakni http://www.ekonurhuda.com saja. Padahal seharusnya kan http://www.ekonurhuda.com/2008/10/mengenal-liew-cheon-fong-fulltime.html.

Saya mungkin benar waktu mengatakan bahwa blogger tidak kalah hebat dalam menulis dibanding para kolumnis koran. Karena itu blogger seharusnya tidak boleh diremehkan. Tapi perbedaannya, menjadi penulis bagus di blogosphere sangat beresiko jadi korban kopi-paste. Jadi, waspadalah, waspadalah..!

03 April 2009

Dalam buku "Enaknya Wartawan Olahraga", Sumohadi Marsis menceritakan betapa asyiknya menjadi seorang wartawan olahraga. Mantan pentolan Tabloid BOLA itu sudah berkeliling ke puluhan negara secara gratis. Ia juga sudah pernah menonton pertandingan-pertandingan akbar seperti Liga Champion Eropa, Piala Eropa, bahkan Piala Dunia. Semua itu ia dapatkan dengan gratis karena ditugaskan kantornya. Enak ya?

Selama magang di Harian Jogja, saya juga sudah mulai merasakan enaknya jadi wartawan. Kejadian paling gres kemarin siang (2/4), waktu saya diberi tugas liputan ke sebuah restoran steak di Jl. Taman Siswa. Ceritanya koran tempat saya magang ini hendak mengangkat soal steak di rubrik "Kuliner" edisi Minggu besok. Karena ada banyak restoran steak di Jogja, maka kru yang menangani edisi Minggu dipecah ke tiga restoran steak terkemuka. Saya kebagian yang di Jl. Taman Siswa itu.

Ini kali pertama saya liputan tentang kuliner untuk Harian Jogja. Dan, jujur banget nih, ini juga jadi kunjungan pertama saya ke restoran steak. Saya itu paling tidak suka makan di tempat-tempat seperti itu. Maklum deh, kantongnya masih tipis. Penghasilannya masih kembang-kempis tak tentu arah. Kan saya terdaftar sebagai anggota KPK alias Komunitas Publisher Kere? Hehehe...

Saya janjian ketemu dengan manajer resto tersebut sekitar jam 12. Tapi tidak benar-benar jam 12 sih, soalnya kami (tanpa sengaja) sama-sama berangkat ke tempat janjian setelah sholat dhuhur. Jadi ya begitu sampai sudah jam 12 lewat. Kebetulan saya datang lebih dulu, jadi sempat bengong dulu di resto yang sederhana tapi ramai itu.

Setelah menunggu beberapa saat, Pak Manajer akhirnya datang juga. Kami bersalaman, berbasa-basi sebentar di tempat saya duduk, kemudian Pak Manajer tersebut mengajak saya ke ruangan dalam. Bukan ruangan manajer yang full ac dan sejuk lho. Tapi ruangan yang sebenarnya juga berfungsi untuk menerima pelanggan. Berhubung siang itu pengunjung tidak terlalu ramai, ruangan tersebut kosong. Di sanalah kami ngobrol-ngobrol tentang steak dan terutama sekali menu-menu yang dijual di resto itu.

Seumur-umur, saya cuma sekali makan steak. Itupun sudah lama sekali, sekitar tahun 2001 saat kelas table manner di pendidikan pariwisata yang pernah saya ikuti. Setelahnya saya tak pernah lagi makan steak. Artinya, saya benar-benar buta tentang steak. Alhasil, siang itu sempat kedodoran juga saya mau tanya apa. Improvisasi sedikit plus modal muka tembok, akhirnya sukses deh membuat Pak Manajer yang ramah itu bercerita panjang-lebar tentang menu steak yang ada di restorannya. :)

Kurang-lebih satu jam kemudian obrolan selesai. Saya lalu minta ijin memotret steak sebagai gambar pelengkap. Bayangan saya sih saya bakal memotret steak yang hendak dihidangkan ke konsumen karena memang saya juga bilangnya begitu. Eh, lha koq ternyata Pak Manajer itu meminta tolong bawahannya untuk membuatkan satu porsi beef steak khusus untuk saya. Bukan itu saja, segelas milkshake vanilla juga dihidangkan sebagai pasangannya. Walah...

So, jadilah saya makan siang dengan menu beef steak dan milkshake vanilla gratis. Mau? Nih, saya kasih gambarnya saja. :)




Catatan: Sebenarnya cerita ini mau saya tulis semalam. Tapi berhubung saya ngantuk sekali setelah pulang dari kantor Harian Jogja, jadi baru sempat diposting sekarang sambil menunggu hujan berhenti. :)

Dalam buku "Enaknya Wartawan Olahraga", Sumohadi Marsis menceritakan betapa asyiknya menjadi seorang wartawan olahraga. Mantan pentolan Tabloid BOLA itu sudah berkeliling ke puluhan negara secara gratis. Ia juga sudah pernah menonton pertandingan-pertandingan akbar seperti Liga Champion Eropa, Piala Eropa, bahkan Piala Dunia. Semua itu ia dapatkan dengan gratis karena ditugaskan kantornya. Enak ya?

Selama magang di Harian Jogja, saya juga sudah mulai merasakan enaknya jadi wartawan. Kejadian paling gres kemarin siang (2/4), waktu saya diberi tugas liputan ke sebuah restoran steak di Jl. Taman Siswa. Ceritanya koran tempat saya magang ini hendak mengangkat soal steak di rubrik "Kuliner" edisi Minggu besok. Karena ada banyak restoran steak di Jogja, maka kru yang menangani edisi Minggu dipecah ke tiga restoran steak terkemuka. Saya kebagian yang di Jl. Taman Siswa itu.

Ini kali pertama saya liputan tentang kuliner untuk Harian Jogja. Dan, jujur banget nih, ini juga jadi kunjungan pertama saya ke restoran steak. Saya itu paling tidak suka makan di tempat-tempat seperti itu. Maklum deh, kantongnya masih tipis. Penghasilannya masih kembang-kempis tak tentu arah. Kan saya terdaftar sebagai anggota KPK alias Komunitas Publisher Kere? Hehehe...

Saya janjian ketemu dengan manajer resto tersebut sekitar jam 12. Tapi tidak benar-benar jam 12 sih, soalnya kami (tanpa sengaja) sama-sama berangkat ke tempat janjian setelah sholat dhuhur. Jadi ya begitu sampai sudah jam 12 lewat. Kebetulan saya datang lebih dulu, jadi sempat bengong dulu di resto yang sederhana tapi ramai itu.

Setelah menunggu beberapa saat, Pak Manajer akhirnya datang juga. Kami bersalaman, berbasa-basi sebentar di tempat saya duduk, kemudian Pak Manajer tersebut mengajak saya ke ruangan dalam. Bukan ruangan manajer yang full ac dan sejuk lho. Tapi ruangan yang sebenarnya juga berfungsi untuk menerima pelanggan. Berhubung siang itu pengunjung tidak terlalu ramai, ruangan tersebut kosong. Di sanalah kami ngobrol-ngobrol tentang steak dan terutama sekali menu-menu yang dijual di resto itu.

Seumur-umur, saya cuma sekali makan steak. Itupun sudah lama sekali, sekitar tahun 2001 saat kelas table manner di pendidikan pariwisata yang pernah saya ikuti. Setelahnya saya tak pernah lagi makan steak. Artinya, saya benar-benar buta tentang steak. Alhasil, siang itu sempat kedodoran juga saya mau tanya apa. Improvisasi sedikit plus modal muka tembok, akhirnya sukses deh membuat Pak Manajer yang ramah itu bercerita panjang-lebar tentang menu steak yang ada di restorannya. :)

Kurang-lebih satu jam kemudian obrolan selesai. Saya lalu minta ijin memotret steak sebagai gambar pelengkap. Bayangan saya sih saya bakal memotret steak yang hendak dihidangkan ke konsumen karena memang saya juga bilangnya begitu. Eh, lha koq ternyata Pak Manajer itu meminta tolong bawahannya untuk membuatkan satu porsi beef steak khusus untuk saya. Bukan itu saja, segelas milkshake vanilla juga dihidangkan sebagai pasangannya. Walah...

So, jadilah saya makan siang dengan menu beef steak dan milkshake vanilla gratis. Mau? Nih, saya kasih gambarnya saja. :)




Catatan: Sebenarnya cerita ini mau saya tulis semalam. Tapi berhubung saya ngantuk sekali setelah pulang dari kantor Harian Jogja, jadi baru sempat diposting sekarang sambil menunggu hujan berhenti. :)

02 April 2009

Mumpung masih hangat-hangatnya bahas masalah Joko Susilo (JS), saya jadi tertarik untuk mengangkat sebuah kenangan lama. Tentu saja tidak jauh-jauh dari JS dan Formula Bisnis, karena saya hendak membeberkan pengalaman saya ketika pertama kali melihat situs penjual SMUO tersebut sampai kemudian berkeputusan untuk tidak membelinya. Ya, saya ingin membeberkan alasan mengapa saya tidak membeli SMUO.

Saya pertama kali mengenal JS dan Formula Bisnis melalui email sampah (spam). Waktu itu awal tahun 2004. Saya tidak ingat bulan berapa pastinya, tapi yang jelas harga SMUO masih Rp 90.000-an. Membaca sales page Formula Bisnis, siapa sih yang tidak terkesima? Bayangkan, Anda dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah hanya dengan menerapkan 3 langkah sederhana yang diajarkan dalam SMUO! Fantastis, bukan? Tidak heran jika saya jadi bersemangat sekali membaca habis seluruh isi sales page Formula Bisnis.

Dari sales page tersebut saya jadi tahu apa saja tiga langkah sederhana untuk memulai bisnis internet yang dimaksud JS dalam SMUO yang ditawarkannya. Tiga pilar utama yang diajarkan ebook tersebut adalah; (1) ciptakan produk, (2) buat website untuk menjual produk tersebut, dan (3) datangkan trafik. Benar-benar mudah! Demikian kata saya dalam hati waktu itu. Kebetulan pula waktu itu saya sedang butuh sumber pemasukan setelah berhenti jadi guide dan gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1.

Hampir saja saya tertarik membeli SMUO. Namun setelah melihat screenshot yang dipamerkan, saya justru jadi pikir-pikir lagi. Saya perhatikan baik-baik deretan angka yang ada di tampilan buku rekening itu, jumlahnya selalu Rp 45.000 dengan 3 digit akhir yang berlainan satu sama lain. Logika saya langsung bermain. Sejumlah pertanyaan kritis bermunculan di kepala saya. Bukankah harga SMUO Rp 90.000? Dari harga tersebut, JS selaku admin memperoleh Rp 45.000 dan separuhnya untuk reseller. Dan ingat, calon pembeli juga diingatkan untuk memberikan angka unik di 3 digit terakhir uang yang disetorkan. Jadi, dari seharusnya hanya Rp 45.000 masing-masing untuk admin (JS) dan reseller, pembeli harus mentransfer, misalnya, sejumlah Rp 45.212, Rp 45.234, Rp 45.007, dsb.




Pertanyaan penting dalam benak saya yang kemudian membuat saya batal membeli SMUO adalah, bisnis apa yang sebenarnya dijalankan JS? Apa yang hendak ia ajarkan pada saya dalam ebook SMUO itu? Kalau melihat dari angka-angka dalam screenshot yang ditunjukkan, bukankah sebenarnya ia sedang menunjukkan transferan dana dari para pembeli SMUO sebelumnya? Artinya, dari berjualan ebook itulah JS memperoleh uang. Dan itulah yang hendak diajarkannya pada saya (dan seluruh pengunjung FormulaBisnis.com) lewat ebook SMUO seharga Rp 90.000 tersebut. Bukankah itu yang ia katakan di kalimat awal sales page-nya?




Dari sana saya menyadari kalau apa yang akan diajarkan oleh ebook tersebut (bila saya jadi membelinya) tak lain tak bukan adalah apa yang sedang dijalankan JS dengan berjualan SMUO itu. Artinya, apa yang dibeberkan JS dalam ebook-nya justru sedang dijalankan olehnya bersama FormulaBisnis.com. Maka sayapun urung membeli SMUO. Untuk apa? Toh, saya sudah tahu apa yang akan diajarkan, yakni ciptakan sebuah produk informasi seperti SMUO, buat sebuah situs penjual seperti FormulaBisnis.com, dan kemudian alirkan trafik ke situs tersebut. Itu saja kan rahasianya?

Itu pengalaman saya dengan Formula Bisnis, dan itulah mengapa saya tidak membeli SMUO walaupun sebenarnya saya sempat sangat ingin memilikinya. Ini pengalaman nyata. Saya menyampaikannya hanya untuk sharing saja. Anda sendiri, bagaimana pengalaman Anda dengan Formula Bisnis?

NB: Ikuti juga diskusinya di Kaskus. Klik di sini!

Catatan: Gambar-gambar diperoleh dari Web Archive, tepatnya di sini dan di sini.

Mumpung masih hangat-hangatnya bahas masalah Joko Susilo (JS), saya jadi tertarik untuk mengangkat sebuah kenangan lama. Tentu saja tidak jauh-jauh dari JS dan Formula Bisnis, karena saya hendak membeberkan pengalaman saya ketika pertama kali melihat situs penjual SMUO tersebut sampai kemudian berkeputusan untuk tidak membelinya. Ya, saya ingin membeberkan alasan mengapa saya tidak membeli SMUO.

Saya pertama kali mengenal JS dan Formula Bisnis melalui email sampah (spam). Waktu itu awal tahun 2004. Saya tidak ingat bulan berapa pastinya, tapi yang jelas harga SMUO masih Rp 90.000-an. Membaca sales page Formula Bisnis, siapa sih yang tidak terkesima? Bayangkan, Anda dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah hanya dengan menerapkan 3 langkah sederhana yang diajarkan dalam SMUO! Fantastis, bukan? Tidak heran jika saya jadi bersemangat sekali membaca habis seluruh isi sales page Formula Bisnis.

Dari sales page tersebut saya jadi tahu apa saja tiga langkah sederhana untuk memulai bisnis internet yang dimaksud JS dalam SMUO yang ditawarkannya. Tiga pilar utama yang diajarkan ebook tersebut adalah; (1) ciptakan produk, (2) buat website untuk menjual produk tersebut, dan (3) datangkan trafik. Benar-benar mudah! Demikian kata saya dalam hati waktu itu. Kebetulan pula waktu itu saya sedang butuh sumber pemasukan setelah berhenti jadi guide dan gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1.

Hampir saja saya tertarik membeli SMUO. Namun setelah melihat screenshot yang dipamerkan, saya justru jadi pikir-pikir lagi. Saya perhatikan baik-baik deretan angka yang ada di tampilan buku rekening itu, jumlahnya selalu Rp 45.000 dengan 3 digit akhir yang berlainan satu sama lain. Logika saya langsung bermain. Sejumlah pertanyaan kritis bermunculan di kepala saya. Bukankah harga SMUO Rp 90.000? Dari harga tersebut, JS selaku admin memperoleh Rp 45.000 dan separuhnya untuk reseller. Dan ingat, calon pembeli juga diingatkan untuk memberikan angka unik di 3 digit terakhir uang yang disetorkan. Jadi, dari seharusnya hanya Rp 45.000 masing-masing untuk admin (JS) dan reseller, pembeli harus mentransfer, misalnya, sejumlah Rp 45.212, Rp 45.234, Rp 45.007, dsb.




Pertanyaan penting dalam benak saya yang kemudian membuat saya batal membeli SMUO adalah, bisnis apa yang sebenarnya dijalankan JS? Apa yang hendak ia ajarkan pada saya dalam ebook SMUO itu? Kalau melihat dari angka-angka dalam screenshot yang ditunjukkan, bukankah sebenarnya ia sedang menunjukkan transferan dana dari para pembeli SMUO sebelumnya? Artinya, dari berjualan ebook itulah JS memperoleh uang. Dan itulah yang hendak diajarkannya pada saya (dan seluruh pengunjung FormulaBisnis.com) lewat ebook SMUO seharga Rp 90.000 tersebut. Bukankah itu yang ia katakan di kalimat awal sales page-nya?




Dari sana saya menyadari kalau apa yang akan diajarkan oleh ebook tersebut (bila saya jadi membelinya) tak lain tak bukan adalah apa yang sedang dijalankan JS dengan berjualan SMUO itu. Artinya, apa yang dibeberkan JS dalam ebook-nya justru sedang dijalankan olehnya bersama FormulaBisnis.com. Maka sayapun urung membeli SMUO. Untuk apa? Toh, saya sudah tahu apa yang akan diajarkan, yakni ciptakan sebuah produk informasi seperti SMUO, buat sebuah situs penjual seperti FormulaBisnis.com, dan kemudian alirkan trafik ke situs tersebut. Itu saja kan rahasianya?

Itu pengalaman saya dengan Formula Bisnis, dan itulah mengapa saya tidak membeli SMUO walaupun sebenarnya saya sempat sangat ingin memilikinya. Ini pengalaman nyata. Saya menyampaikannya hanya untuk sharing saja. Anda sendiri, bagaimana pengalaman Anda dengan Formula Bisnis?

NB: Ikuti juga diskusinya di Kaskus. Klik di sini!

Catatan: Gambar-gambar diperoleh dari Web Archive, tepatnya di sini dan di sini.