Selamat datang di ...

28 Oktober 2008

Hajatan besar baru saja dihelat masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yep, acara besar tersebut adalah Pisowanan Agung yang digelar sore tadi (28/10) di alun-alun utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam acara bertema “Dari Yogyakarta Untuk Indonesia” tersebut Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya menyatakan bersedia dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan.

Jawaban tersebut sudah lama dinantikan oleh masyarakat Yogyakarta. Pertanyaan mengenai kesediaan Sri Sultan untuk diajukan sebagai capres sudah muncul sejak beberapa bulan lalu. Namun selama itu pula Sri Sultan hanya menjawab secara diplomatis setiap pertanyaan tersebut diajukan padanya. Tak heran ketika Pisowanan Agung digelar, masyarakat Yogyakarta sangat antusias sekali mengikutinya. Ribuan orang memadati alun-alun Kraton untuk mendengarkan jawaban Sri Sultan secara langsung.

Kalau boleh memberikan pendapat, sejujurnya saya tidak mendukung langkah Sri Sultan ini. Bukan karena saya tidak percaya dengan kemampuan Sri Sultan memimpin bangsa dan negara Indonesia. Saya melihatnya dari sisi lain, yakni dari sisi dukungan politis. Lebih spesifiknya lagi, saya tidak tahu dengan kendaraan politik mana Sri Sultan kelak akan maju. Atau dalam bahasa awam, partai politik mana yang bakal mau mengusung Sri Sultan menuju ke kursi RI 1?

Satu-satunya parpol yang sudah terang-terangan menyatakan ingin mengusung Sri Sultan sebagai Presiden RI adalah Partai Republika Nusantara (RepublikaN). Patut dicatat bahwa RepublikaN adalah partai baru. Kemampuannya mengungguli partai-partai menengah dan mapan di negeri ini masih jadi tanda tanya besar. Mampukah partai ini memperoleh suara yang cukup dalam pemilu legislatif untuk mengajukan Sri Sultan ke bursa Pilpres 2009? Ini satu pertanyaan besar lain yang harus segera dijawab.

Sudahlah, saya tidak mau bicara politik di blog ini. Bukan porsi saya. Lagipula nanti ditertawakan orang lagi. Siapa tahu ada yang protes begini, “Mahasiswa Jurnalistik yang kuliahnya super molor seperti Anda koq berani-beraninya bicara politik. Kuliah aja yang bener!”. Hahaha…

Btw, bermodal kamera ecek-ecek bawaan N70, saya sempat merekam beberapa momen menarik. Sayang seratus ribu kali sayang, lensa N70 saya tidak bisa menangkap momen-momen tersebut dengan jernih karena hari gelap tertutup mendung tebal. Padahal kejadian seperti ini kan jarang sekali terjadi? Bisa jadi malah hanya terjadi sekali ini saja sepanjang hidup saya, iya kan? Tapi tak apalah. Dan berikut beberapa hasil jepretan saya:


Rombongan peserta Pisowanan
Antrian truk peserta Pisowanan Agung yang datang dari luar daerah sudah mulai memenuhi jalanan Kota Jogja sejak pukul 14.00.



Fotografer media massa
Puluhan juru foto dari berbagai media berjajar mengabadikan momen saat Sri Sultan menyatakan sikapnya.



Ayo dukung Sri Sultan!
Sri Sultan (tampak di kejauhan) sedang membacakan pernyataan sikapnya.



Dukungan dari RepublikaN
Poster dukungan massa RepublikaN untuk Sri Sultan. Coba perhatikan baik-baik, poster ini dibuat oleh DPC Partai RepublikaN Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.



Tarian dari Sumba
Tari tradisional Sumba, Nusa Tenggara Timur, sebagai wujud dukungan untuk Sri Sultan.



Atraksi barongsai
Atraksi barongsai persembahan masyarakat Tionghoa di Yogyakarta.


Oya, kalau mau membaca kutipan dari salinan pernyataan sikap Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Pisowanan Agung tadi silakan klik di sini. Saya mengutipnya untuk sebuah artikel pendek di Wikimu.

Hajatan besar baru saja dihelat masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Yep, acara besar tersebut adalah Pisowanan Agung yang digelar sore tadi (28/10) di alun-alun utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam acara bertema “Dari Yogyakarta Untuk Indonesia” tersebut Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya menyatakan bersedia dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan.

Jawaban tersebut sudah lama dinantikan oleh masyarakat Yogyakarta. Pertanyaan mengenai kesediaan Sri Sultan untuk diajukan sebagai capres sudah muncul sejak beberapa bulan lalu. Namun selama itu pula Sri Sultan hanya menjawab secara diplomatis setiap pertanyaan tersebut diajukan padanya. Tak heran ketika Pisowanan Agung digelar, masyarakat Yogyakarta sangat antusias sekali mengikutinya. Ribuan orang memadati alun-alun Kraton untuk mendengarkan jawaban Sri Sultan secara langsung.

Kalau boleh memberikan pendapat, sejujurnya saya tidak mendukung langkah Sri Sultan ini. Bukan karena saya tidak percaya dengan kemampuan Sri Sultan memimpin bangsa dan negara Indonesia. Saya melihatnya dari sisi lain, yakni dari sisi dukungan politis. Lebih spesifiknya lagi, saya tidak tahu dengan kendaraan politik mana Sri Sultan kelak akan maju. Atau dalam bahasa awam, partai politik mana yang bakal mau mengusung Sri Sultan menuju ke kursi RI 1?

Satu-satunya parpol yang sudah terang-terangan menyatakan ingin mengusung Sri Sultan sebagai Presiden RI adalah Partai Republika Nusantara (RepublikaN). Patut dicatat bahwa RepublikaN adalah partai baru. Kemampuannya mengungguli partai-partai menengah dan mapan di negeri ini masih jadi tanda tanya besar. Mampukah partai ini memperoleh suara yang cukup dalam pemilu legislatif untuk mengajukan Sri Sultan ke bursa Pilpres 2009? Ini satu pertanyaan besar lain yang harus segera dijawab.

Sudahlah, saya tidak mau bicara politik di blog ini. Bukan porsi saya. Lagipula nanti ditertawakan orang lagi. Siapa tahu ada yang protes begini, “Mahasiswa Jurnalistik yang kuliahnya super molor seperti Anda koq berani-beraninya bicara politik. Kuliah aja yang bener!”. Hahaha…

Btw, bermodal kamera ecek-ecek bawaan N70, saya sempat merekam beberapa momen menarik. Sayang seratus ribu kali sayang, lensa N70 saya tidak bisa menangkap momen-momen tersebut dengan jernih karena hari gelap tertutup mendung tebal. Padahal kejadian seperti ini kan jarang sekali terjadi? Bisa jadi malah hanya terjadi sekali ini saja sepanjang hidup saya, iya kan? Tapi tak apalah. Dan berikut beberapa hasil jepretan saya:


Rombongan peserta Pisowanan
Antrian truk peserta Pisowanan Agung yang datang dari luar daerah sudah mulai memenuhi jalanan Kota Jogja sejak pukul 14.00.



Fotografer media massa
Puluhan juru foto dari berbagai media berjajar mengabadikan momen saat Sri Sultan menyatakan sikapnya.



Ayo dukung Sri Sultan!
Sri Sultan (tampak di kejauhan) sedang membacakan pernyataan sikapnya.



Dukungan dari RepublikaN
Poster dukungan massa RepublikaN untuk Sri Sultan. Coba perhatikan baik-baik, poster ini dibuat oleh DPC Partai RepublikaN Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.



Tarian dari Sumba
Tari tradisional Sumba, Nusa Tenggara Timur, sebagai wujud dukungan untuk Sri Sultan.



Atraksi barongsai
Atraksi barongsai persembahan masyarakat Tionghoa di Yogyakarta.


Oya, kalau mau membaca kutipan dari salinan pernyataan sikap Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Pisowanan Agung tadi silakan klik di sini. Saya mengutipnya untuk sebuah artikel pendek di Wikimu.

27 Oktober 2008

Suatu saat saya pernah tersasar di satu situs yang menjual produk berupa rekaman wawancara dengan Cosa Aranda. Siapa itu Cosa Aranda? Halah, pertanyaannya koq tidak mutu begitu sih? Karena Mas Cosa sudah terkenal sebagai publisher sukses Google AdSense, blogger top, dan juga pebisnis online papan atas, maka tentu saja wawancara tersebut seputar Google AdSense, make money blogging, dan cara-cara memulai berbisnis online.

Sebenarnya saya sangat tertarik sekali dengan produk tersebut. Namun saya tidak buru-buru membelinya karena (jujur saja) takut dikibuli. Meskipun ada nama besar Cosa Aranda di situ bukan berarti tidak ada peluang terjadinya tindak pengibulan. Siapa tahu situs itu hanyalah another penjual mimpi yang mencatut nama Cosa Aranda. Atau siapa tahu sebenarnya saya bisa memperoleh rekaman tersebut secara gratis di internet, iya kan? Ternyata benar. Saya akhirnya bisa memperoleh salah satu dari rekaman wawancara yang dijual itu dengan gratis tis.

Entah berapa kali Mas Cosa pernah diwawancarai, baik untuk radio maupun media cetak. Yang paling fenomenal menurut saya adalah sewaktu Mas Cosa diwawancari Radio Singapore International (RSI). Radio ini bisa dibilang RRI-nya Singapura. Jadi sangat mungkin sekali popularitas Mas Cosa akan langsung meningkat di kalangan warga Singapura setelah wawancara itu. Saya sendiri sangat penasaran sekali dengan isi wawancara tersebut. Tapi yang saya dapat rekaman wawancara lain, yakni wawancara Mas Cosa di radio Smart FM Jakarta dalam rangka promosi seminarnya di sana.

Dalam wawancara sepanjang 52 menit 53 detik ini Mas Cosa banyak ditanyai tentang kegiatannya di internet dan sejumlah kiat untuk memperoleh penghasilan berlimpah di internet. Sayangnya presenter bernama Fransisca Matilda yang mewawancarai Mas Cosa sepertinya tidak menguasai topik pembicaraan. Ini terlihat dari ketidak-mampuannya mengimbangi pembicaraan Mas Cosa sehingga diskusi menjadi satu arah. Fransisca Matilda bertanya, Mas Cosa menjawab. Habis. Tidak ada feedback lagi kecuali pertanyaan baru. Ia juga tidak dapat mengucapkan “search engine optimization” dengan benar, bahkan menyebut “Google AdSense” sebagai “google adsensai”. Walah!

Francisca Matilda mungkin hanya satu contoh dari sekian banyak orang Indonesia yang masih awam tentang online earning atau make money blogging. Dalam wawancara tersebut saya malah menangkap ada semacam keraguan dalam diri Francisca Matilda ketika Mas Cosa bilang penghasilannya dari internet rata-rata Rp 50 juta per bulan. Belum tahu dia! Mungkin setelah wawancara tersebut ia baru ngeh bahwa internet ternyata dapat memberikan penghasilan besar asal kita tahu caranya. Iya kan?

Eh, koq malah nyeritain si Francisca Matilda sih? Ya sudah, buat yang mau mendengarkan rekaman wawancara Cosa Aranda di radio Smart FM Jakarta silakan download di sini!


Suatu saat saya pernah tersasar di satu situs yang menjual produk berupa rekaman wawancara dengan Cosa Aranda. Siapa itu Cosa Aranda? Halah, pertanyaannya koq tidak mutu begitu sih? Karena Mas Cosa sudah terkenal sebagai publisher sukses Google AdSense, blogger top, dan juga pebisnis online papan atas, maka tentu saja wawancara tersebut seputar Google AdSense, make money blogging, dan cara-cara memulai berbisnis online.

Sebenarnya saya sangat tertarik sekali dengan produk tersebut. Namun saya tidak buru-buru membelinya karena (jujur saja) takut dikibuli. Meskipun ada nama besar Cosa Aranda di situ bukan berarti tidak ada peluang terjadinya tindak pengibulan. Siapa tahu situs itu hanyalah another penjual mimpi yang mencatut nama Cosa Aranda. Atau siapa tahu sebenarnya saya bisa memperoleh rekaman tersebut secara gratis di internet, iya kan? Ternyata benar. Saya akhirnya bisa memperoleh salah satu dari rekaman wawancara yang dijual itu dengan gratis tis.

Entah berapa kali Mas Cosa pernah diwawancarai, baik untuk radio maupun media cetak. Yang paling fenomenal menurut saya adalah sewaktu Mas Cosa diwawancari Radio Singapore International (RSI). Radio ini bisa dibilang RRI-nya Singapura. Jadi sangat mungkin sekali popularitas Mas Cosa akan langsung meningkat di kalangan warga Singapura setelah wawancara itu. Saya sendiri sangat penasaran sekali dengan isi wawancara tersebut. Tapi yang saya dapat rekaman wawancara lain, yakni wawancara Mas Cosa di radio Smart FM Jakarta dalam rangka promosi seminarnya di sana.

Dalam wawancara sepanjang 52 menit 53 detik ini Mas Cosa banyak ditanyai tentang kegiatannya di internet dan sejumlah kiat untuk memperoleh penghasilan berlimpah di internet. Sayangnya presenter bernama Fransisca Matilda yang mewawancarai Mas Cosa sepertinya tidak menguasai topik pembicaraan. Ini terlihat dari ketidak-mampuannya mengimbangi pembicaraan Mas Cosa sehingga diskusi menjadi satu arah. Fransisca Matilda bertanya, Mas Cosa menjawab. Habis. Tidak ada feedback lagi kecuali pertanyaan baru. Ia juga tidak dapat mengucapkan “search engine optimization” dengan benar, bahkan menyebut “Google AdSense” sebagai “google adsensai”. Walah!

Francisca Matilda mungkin hanya satu contoh dari sekian banyak orang Indonesia yang masih awam tentang online earning atau make money blogging. Dalam wawancara tersebut saya malah menangkap ada semacam keraguan dalam diri Francisca Matilda ketika Mas Cosa bilang penghasilannya dari internet rata-rata Rp 50 juta per bulan. Belum tahu dia! Mungkin setelah wawancara tersebut ia baru ngeh bahwa internet ternyata dapat memberikan penghasilan besar asal kita tahu caranya. Iya kan?

Eh, koq malah nyeritain si Francisca Matilda sih? Ya sudah, buat yang mau mendengarkan rekaman wawancara Cosa Aranda di radio Smart FM Jakarta silakan download di sini!


25 Oktober 2008

Saya pertama kali mengenal Payoneer dari Bux.to awal-awal tahun ini. Waktu itu Bux.to menawarkan pembuatan kartu debit berlogo MasterCard sebagai bonus bagi membernya yang ingin meng-upgrade menjadi premium member. Nantinya komisi akan dibayarkan Bux.to melalui kartu tersebut. Belakangan beberapa program online earning lain juga melakukan langkah serupa. Sebut saja ReviewMe, Text Link Ads, ShoppingAds (ketiganya berada di bawah payung MediaWhiz), FriendFinder, dan Elance.

Memperoleh kartu debit Payoneer sangat mudah sekali. Anda dapat mengorder kartu ini dengan gratis melalui situs-situs yang menjadi mitra Payoneer, di antaranya beberapa nama situs yang sudah saya sebutkan di atas. Begitu permohonan Anda disetujui, maka Payoneer akan mengirim kartunya ke alamat rumah yang Anda isikan saat mengisi formulir pemesanan/pendaftaran. Tunggu sampai 25 hari kerja, maka kartu sudah dapat Anda terima.

Sebagai kartu berlogo MasterCard, Payoneer debit card juga dapat digunakan untuk melakukan verifikasi di PayPal. Syaratnya satu: kartu tersebut sudah berisi sejumlah dana. Beberapa blogger senior yang sempat menuliskan cara-cara memperoleh kartu Payoneer lupa menjelaskan mengenai hal penting ini. Padahal kalau masih kosong tanpa dana sepeserpun di dalamnya, kartu Payoneer tidak dapat digunakan sama sekali. Termasuk untuk melakukan verifikasi di PayPal.

Btw, bagaimana sih cara mengisi dana ke kartu Payoneer? Yang jelas dengan mentransfer sejumlah dana dari sumber lain. Bisa dari kartu kredit, dengan cek elektronik, atau yang paling gampang adalah menggunakan kartu Payoneer sebagai sarana pembayaran komisi dari program online earning yang diikuti. Kalau Anda tergabung dengan ReviewMe misalnya, ubah saja metode pembayaran komisi yang Anda gunakan dari PayPal ke Payoneer. Dengan demikian kartu Payoneer Anda akan terus terisi setiap kali ReviewMe membayarkan komisi.

Namun sebelum memutuskan untuk membuat kartu debit Payoneer, ada baiknya Anda perhatikan dulu besar biaya yang dikenakan bagi pemegangnya. Aplikasinya memang gratis, tapi beberapa transaksi menggunakan kartu ini akan dikenai sejumlah biaya yang menurut saya tergolong mahal. Terlebih lagi kalau Rupiah sedang anjlok seperti sekarang ini. Bagi Anda yang penghasilannya masih belum seberapa dan tidak menentu (seperti saya), penggunaan kartu ini sangat tidak disarankan.

Berapa sih biayanya? Untuk aktivasi kartu dikenai biaya sebesar $9.95 yang akan ditarik langsung dari kartu Anda saat pertama kali diisi dana. Kemudian setiap bulan kita juga akan ditarik sebesar $3.00 untuk biaya pemeliharaan account. Kalau ingin mengisi dana ke kartu kita, Payoneer akan memungut 3.5% dari besar dana yang ditransfer. Sementara transfer dari cek dikenai biaya $5.00. Kemudian penarikan dana dari ATM akan di-charge sebesar $2.15/transaksi. Sialnya, kalaupun transaksi penarikan gagal dilakukan, Anda juga akan dikenai biaya sebesar $0.90/transaksi. Pfiuuuhh….

Saya sendiri sudah terlanjur memesan kartu debit Payoneer melalui ReviewMe. Waktu itu saya hanya berniat mengetes benar-tidak sih kartu ini bisa digunakan untuk mem-verifikasi account PayPal? Nyatanya kita mesti mengisi dana dulu ke kartu ini baru bisa digunakan. Ya sudah, kartunya saya biarkan saja kosong tanpa dana sepeserpun. Soalnya kalau kartu masih tetap kosong sampai lebih dari 60 hari, Payoneer akan menonaktifkan kartu tersebut dan kita terbebas dari biaya bulanan. Lumayan kan? Hehehe…

Itu saja. Semoga bermanfaat.

Saya pertama kali mengenal Payoneer dari Bux.to awal-awal tahun ini. Waktu itu Bux.to menawarkan pembuatan kartu debit berlogo MasterCard sebagai bonus bagi membernya yang ingin meng-upgrade menjadi premium member. Nantinya komisi akan dibayarkan Bux.to melalui kartu tersebut. Belakangan beberapa program online earning lain juga melakukan langkah serupa. Sebut saja ReviewMe, Text Link Ads, ShoppingAds (ketiganya berada di bawah payung MediaWhiz), FriendFinder, dan Elance.

Memperoleh kartu debit Payoneer sangat mudah sekali. Anda dapat mengorder kartu ini dengan gratis melalui situs-situs yang menjadi mitra Payoneer, di antaranya beberapa nama situs yang sudah saya sebutkan di atas. Begitu permohonan Anda disetujui, maka Payoneer akan mengirim kartunya ke alamat rumah yang Anda isikan saat mengisi formulir pemesanan/pendaftaran. Tunggu sampai 25 hari kerja, maka kartu sudah dapat Anda terima.

Sebagai kartu berlogo MasterCard, Payoneer debit card juga dapat digunakan untuk melakukan verifikasi di PayPal. Syaratnya satu: kartu tersebut sudah berisi sejumlah dana. Beberapa blogger senior yang sempat menuliskan cara-cara memperoleh kartu Payoneer lupa menjelaskan mengenai hal penting ini. Padahal kalau masih kosong tanpa dana sepeserpun di dalamnya, kartu Payoneer tidak dapat digunakan sama sekali. Termasuk untuk melakukan verifikasi di PayPal.

Btw, bagaimana sih cara mengisi dana ke kartu Payoneer? Yang jelas dengan mentransfer sejumlah dana dari sumber lain. Bisa dari kartu kredit, dengan cek elektronik, atau yang paling gampang adalah menggunakan kartu Payoneer sebagai sarana pembayaran komisi dari program online earning yang diikuti. Kalau Anda tergabung dengan ReviewMe misalnya, ubah saja metode pembayaran komisi yang Anda gunakan dari PayPal ke Payoneer. Dengan demikian kartu Payoneer Anda akan terus terisi setiap kali ReviewMe membayarkan komisi.

Namun sebelum memutuskan untuk membuat kartu debit Payoneer, ada baiknya Anda perhatikan dulu besar biaya yang dikenakan bagi pemegangnya. Aplikasinya memang gratis, tapi beberapa transaksi menggunakan kartu ini akan dikenai sejumlah biaya yang menurut saya tergolong mahal. Terlebih lagi kalau Rupiah sedang anjlok seperti sekarang ini. Bagi Anda yang penghasilannya masih belum seberapa dan tidak menentu (seperti saya), penggunaan kartu ini sangat tidak disarankan.

Berapa sih biayanya? Untuk aktivasi kartu dikenai biaya sebesar $9.95 yang akan ditarik langsung dari kartu Anda saat pertama kali diisi dana. Kemudian setiap bulan kita juga akan ditarik sebesar $3.00 untuk biaya pemeliharaan account. Kalau ingin mengisi dana ke kartu kita, Payoneer akan memungut 3.5% dari besar dana yang ditransfer. Sementara transfer dari cek dikenai biaya $5.00. Kemudian penarikan dana dari ATM akan di-charge sebesar $2.15/transaksi. Sialnya, kalaupun transaksi penarikan gagal dilakukan, Anda juga akan dikenai biaya sebesar $0.90/transaksi. Pfiuuuhh….

Saya sendiri sudah terlanjur memesan kartu debit Payoneer melalui ReviewMe. Waktu itu saya hanya berniat mengetes benar-tidak sih kartu ini bisa digunakan untuk mem-verifikasi account PayPal? Nyatanya kita mesti mengisi dana dulu ke kartu ini baru bisa digunakan. Ya sudah, kartunya saya biarkan saja kosong tanpa dana sepeserpun. Soalnya kalau kartu masih tetap kosong sampai lebih dari 60 hari, Payoneer akan menonaktifkan kartu tersebut dan kita terbebas dari biaya bulanan. Lumayan kan? Hehehe…

Itu saja. Semoga bermanfaat.

23 Oktober 2008

Bagi kebanyakan pemilik account PayPal di Indonesia, mengubah status dari unverified menjadi verified member merupakan satu hal sulit. Yang membuat sulit, mayoritas bank di Indonesia tidak mendukung layanan payment processor seperti PayPal. Akibatnya member PayPal di Indonesia hanya dapat mem-verifikasi keanggotaannya dengan kartu kredit. Padahal sebenarnya PayPal juga menerima proses verifikasi menggunakan kartu debit (ATM).

Tidak semua blogger punya kartu kredit. Beberapa bahkan terang-terangan menyatakan tidak akan pernah mau membuat kartu kredit, termasuk saya. Sementara kalau tetap berstatus unverified juga susah karena dana yang ada di account tidak bisa diapa-apakan. Solusinya? Yang paling umum adalah dengan membeli virtual credit card (VCC). Kemudian beberapa waktu belakangan muncul isu kalau kita dapat menggunakan Payoneer card, sebuah kartu debit berlogo MasterCard. Benarkah demikian?

Mari kita diskusikan kebenarannya.


Payoneer card yang dikeluarkan oleh First Bank of Delaware ini merupakan kartu prabayar. Berbeda dengan kartu kredit, kartu debit Payoneer kita terima dalam keadaan kosong tanpa dana. Jadi, kita dapat begitu saja menggunakan kartu tersebut untuk melakukan verifikasi di PayPal. Kita baru bisa menggunakannya jika dan hanya jika kartu tersebut sudah terisi sejumlah dana. Payoneer sendiri berulangkali memperingatkan kalau kita hanya dapat menggunakan kartu tersebut setelah dananya tersedia.

Nah, pada saat melakukan proses verifikasi, PayPal akan terlebih dulu mengetes kartu yang kita masukkan. Caranya, PayPal menarik dana dari kartu tersebut sebesar $1.95. Bersamaan dengan transaksi penarikan itu PayPal memberikan 4 digit expuse number yang nantinya kita perlukan untuk menyelesaikan proses verifikasi. Begitu expuse number ini disubmit ke account kita, maka PayPal akan mengembalikan dana yang ditarik tadi sekaligus mengubah status kita menjadi verified member.

So, dapatkah menggunakan kartu debit Payoneer untuk melakukan verifikasi di PayPal? Kalau kartu tersebut masih kosong jelas tidak bisa! Kenapa? Karena kalau kartunya masih belum berisi dana tentu saja PayPal tidak dapat melakukan penarikan uang darinya untuk ‘mengetes’ kartu tersebut sekaligus memberikan expuse number pada Anda. Artinya, ya percuma saja mengorder kartu Payoneer kalau tidak bisa mengisi dananya.

Semoga bermanfaat.


Catatan: di posting selanjutnya saya akan membahas sedikit lebih dalam mengenai kartu debit Payoneer. Bagaimana cara memperolehnya, mengisi dananya, dan berapa besar biaya yang dikenakan untuk penggunaannya.

Bagi kebanyakan pemilik account PayPal di Indonesia, mengubah status dari unverified menjadi verified member merupakan satu hal sulit. Yang membuat sulit, mayoritas bank di Indonesia tidak mendukung layanan payment processor seperti PayPal. Akibatnya member PayPal di Indonesia hanya dapat mem-verifikasi keanggotaannya dengan kartu kredit. Padahal sebenarnya PayPal juga menerima proses verifikasi menggunakan kartu debit (ATM).

Tidak semua blogger punya kartu kredit. Beberapa bahkan terang-terangan menyatakan tidak akan pernah mau membuat kartu kredit, termasuk saya. Sementara kalau tetap berstatus unverified juga susah karena dana yang ada di account tidak bisa diapa-apakan. Solusinya? Yang paling umum adalah dengan membeli virtual credit card (VCC). Kemudian beberapa waktu belakangan muncul isu kalau kita dapat menggunakan Payoneer card, sebuah kartu debit berlogo MasterCard. Benarkah demikian?

Mari kita diskusikan kebenarannya.


Payoneer card yang dikeluarkan oleh First Bank of Delaware ini merupakan kartu prabayar. Berbeda dengan kartu kredit, kartu debit Payoneer kita terima dalam keadaan kosong tanpa dana. Jadi, kita dapat begitu saja menggunakan kartu tersebut untuk melakukan verifikasi di PayPal. Kita baru bisa menggunakannya jika dan hanya jika kartu tersebut sudah terisi sejumlah dana. Payoneer sendiri berulangkali memperingatkan kalau kita hanya dapat menggunakan kartu tersebut setelah dananya tersedia.

Nah, pada saat melakukan proses verifikasi, PayPal akan terlebih dulu mengetes kartu yang kita masukkan. Caranya, PayPal menarik dana dari kartu tersebut sebesar $1.95. Bersamaan dengan transaksi penarikan itu PayPal memberikan 4 digit expuse number yang nantinya kita perlukan untuk menyelesaikan proses verifikasi. Begitu expuse number ini disubmit ke account kita, maka PayPal akan mengembalikan dana yang ditarik tadi sekaligus mengubah status kita menjadi verified member.

So, dapatkah menggunakan kartu debit Payoneer untuk melakukan verifikasi di PayPal? Kalau kartu tersebut masih kosong jelas tidak bisa! Kenapa? Karena kalau kartunya masih belum berisi dana tentu saja PayPal tidak dapat melakukan penarikan uang darinya untuk ‘mengetes’ kartu tersebut sekaligus memberikan expuse number pada Anda. Artinya, ya percuma saja mengorder kartu Payoneer kalau tidak bisa mengisi dananya.

Semoga bermanfaat.


Catatan: di posting selanjutnya saya akan membahas sedikit lebih dalam mengenai kartu debit Payoneer. Bagaimana cara memperolehnya, mengisi dananya, dan berapa besar biaya yang dikenakan untuk penggunaannya.

21 Oktober 2008

Sebagai pemakai setia Blogger/BlogSpot, saya sama sekali buta tentang hosting dan segala tetek-bengeknya. Saya sama sekali tidak tahu apa itu add-on domain, FTP, cPanel, bahkan saya tidak mengerti apa gunanya Fantastico! Anda boleh tertawa mengejek, tapi memang begitulah kenyataannya. Maklum saja, penyuka gratisan seperti saya ini tidak pernah punya account hosting. Yang saya punya account Blogger, domain name dan account DNSPark.

Eits, tapi itu dulu. Ceritanya sedikit berbeda sekarang. Tepatnya semenjak saya mengenal satu situs dengan layanan webhosting super murah bernama IdeBagus.com. Entah kebetulan atau tidak, IdeBagus benar-benar menjadi ide bagus bagi saya yang berniat mencari hosting hemat sebagai sarana pembelajaran fitur-fitur hosting sekaligus WordPress. Bagaimana tidak saya sebut ide bagus kalau saya hanya perlu membayar Rp 100 ribu untuk satu paket hosting setahun plus nama domain gratis? Wow!

Apa yang saya dapatkan dengan harga semurah itu? Yang jelas satu nama domain berekstensi .com, .net, .org, .biz, atau .info. Sementara hostingnya sendiri memiliki kapasitas penyimpanan (web space) sebesar 250 MB dengan bandwidth 1 GB per bulan. Tidak terlalu besar memang, tapi cukup lumayanlah untuk seorang newbie seperti saya. Toh, niatnya juga hanya sebagai sarana belajar, jadi rasanya saya tidak memerlukan kapasitas penyimpanan ataupun bandwidth terlalu besar. Yang penting control panelnya sama lengkap dengan yang biasa diajarkan di ebook-ebook panduan WordPress, habis perkara!

Poin paling menarik bagi saya adalah pemberian nama domain gratis itu tadi. Tidak banyak penyedia hosting yang memberikan nama domain gratis seperti yang dilakukan IdeBagus. Kalaupun ada, domain gratis itu biasanya hanya diberikan pada paket-paket tertentu saja dengan harga yang tentunya lebih mahal. Di IdeBagus, semua paket hosting disertai dengan bonus satu nama domain. Ya, semuanya! Tidak peduli Anda memesan paket Hemat yang hanya seharga Rp 125 ribu per tahun atau paket Bisnis seharga Rp 250 ribu sebulan, Anda tetap akan memperoleh satu nama domain gratis.

Hal lain yang menarik dari IdeBagus adalah program affiliasinya. Sebagai client Anda berkesempatan memperoleh pemasukan tambahan sebagai affiliate dengan cara mempromosikan layanan IdeBagus. Dari setiap transaksi yang terjadi atas promosi Anda, IdeBagus akan memberikan komisi yang bervariasi antara 10-25%. Semakin besar penjualan Anda, semakin besar pula persentase komisi yang Anda peroleh. Anda sewaktu-waktu juga dapat mengecek perkembangan penjualan & statistik lainnya secara real-time di member area.

Buat Anda yang baru belajar membuat blog, atau Anda yang ingin belajar lebih banyak tentang fitur hosting dan WordPress seperti saya, IdeBagus merupakan pilihan tepat. Begitu mahir dan blog sudah berkembang, Anda dapat dengan mudah meng-upgrade account dengan kapasitas penyimpanan dan bandwidth yang lebih besar kapanpun Anda mau. Di mana lagi bisa memperoleh semua kelebihan ini kalau bukan di IdeBagus? *promosi mode on* :))

Sebagai penutup, saya mengundang Anda untuk mengunjungi ILoveYogya.com. Ini blog sederhana yang saya jadikan sarana mempelajari fitur-fitur hosting dan juga WordPress. Tentu saja saya menggunakan layanan IdeBagus (hemat banget, bo! Hihihi). Namanya juga baru belajar, mohon maklum ya kalau masih amburadul banget. Hehehe…

Semoga bermanfaat.

Sebagai pemakai setia Blogger/BlogSpot, saya sama sekali buta tentang hosting dan segala tetek-bengeknya. Saya sama sekali tidak tahu apa itu add-on domain, FTP, cPanel, bahkan saya tidak mengerti apa gunanya Fantastico! Anda boleh tertawa mengejek, tapi memang begitulah kenyataannya. Maklum saja, penyuka gratisan seperti saya ini tidak pernah punya account hosting. Yang saya punya account Blogger, domain name dan account DNSPark.

Eits, tapi itu dulu. Ceritanya sedikit berbeda sekarang. Tepatnya semenjak saya mengenal satu situs dengan layanan webhosting super murah bernama IdeBagus.com. Entah kebetulan atau tidak, IdeBagus benar-benar menjadi ide bagus bagi saya yang berniat mencari hosting hemat sebagai sarana pembelajaran fitur-fitur hosting sekaligus WordPress. Bagaimana tidak saya sebut ide bagus kalau saya hanya perlu membayar Rp 100 ribu untuk satu paket hosting setahun plus nama domain gratis? Wow!

Apa yang saya dapatkan dengan harga semurah itu? Yang jelas satu nama domain berekstensi .com, .net, .org, .biz, atau .info. Sementara hostingnya sendiri memiliki kapasitas penyimpanan (web space) sebesar 250 MB dengan bandwidth 1 GB per bulan. Tidak terlalu besar memang, tapi cukup lumayanlah untuk seorang newbie seperti saya. Toh, niatnya juga hanya sebagai sarana belajar, jadi rasanya saya tidak memerlukan kapasitas penyimpanan ataupun bandwidth terlalu besar. Yang penting control panelnya sama lengkap dengan yang biasa diajarkan di ebook-ebook panduan WordPress, habis perkara!

Poin paling menarik bagi saya adalah pemberian nama domain gratis itu tadi. Tidak banyak penyedia hosting yang memberikan nama domain gratis seperti yang dilakukan IdeBagus. Kalaupun ada, domain gratis itu biasanya hanya diberikan pada paket-paket tertentu saja dengan harga yang tentunya lebih mahal. Di IdeBagus, semua paket hosting disertai dengan bonus satu nama domain. Ya, semuanya! Tidak peduli Anda memesan paket Hemat yang hanya seharga Rp 125 ribu per tahun atau paket Bisnis seharga Rp 250 ribu sebulan, Anda tetap akan memperoleh satu nama domain gratis.

Hal lain yang menarik dari IdeBagus adalah program affiliasinya. Sebagai client Anda berkesempatan memperoleh pemasukan tambahan sebagai affiliate dengan cara mempromosikan layanan IdeBagus. Dari setiap transaksi yang terjadi atas promosi Anda, IdeBagus akan memberikan komisi yang bervariasi antara 10-25%. Semakin besar penjualan Anda, semakin besar pula persentase komisi yang Anda peroleh. Anda sewaktu-waktu juga dapat mengecek perkembangan penjualan & statistik lainnya secara real-time di member area.

Buat Anda yang baru belajar membuat blog, atau Anda yang ingin belajar lebih banyak tentang fitur hosting dan WordPress seperti saya, IdeBagus merupakan pilihan tepat. Begitu mahir dan blog sudah berkembang, Anda dapat dengan mudah meng-upgrade account dengan kapasitas penyimpanan dan bandwidth yang lebih besar kapanpun Anda mau. Di mana lagi bisa memperoleh semua kelebihan ini kalau bukan di IdeBagus? *promosi mode on* :))

Sebagai penutup, saya mengundang Anda untuk mengunjungi ILoveYogya.com. Ini blog sederhana yang saya jadikan sarana mempelajari fitur-fitur hosting dan juga WordPress. Tentu saja saya menggunakan layanan IdeBagus (hemat banget, bo! Hihihi). Namanya juga baru belajar, mohon maklum ya kalau masih amburadul banget. Hehehe…

Semoga bermanfaat.

19 Oktober 2008

Seperti pernah saya singgung sewaktu membahas tentang PPC lokal yang dibanjiri iklan-iklan penjual mimpi, blog ini sendiri sempat ‘dijual’ oleh salah satu situs penjual mimpi berinisial UP. Bang Zalukhu sempat menceritakan masalah ini secara sekilas di posting ini. Nah, biar lebih gamblang dan jelas lagi, berikut saya beberkan detil kejadiannya. Kalau ada yang meragukan dan atau menyangkal cerita berikut silakan kontak saya. Kebetulan semua bukti-bukti otentik masih saya simpan dengan baik.

Cerita berawal dari sebuah email dari seseorang bernama Lukman Hakim Mahrus kepada saya melalui form kontak. Ia mengatakan sangat tertarik dengan produk yang dijual UP. Kebetulan ia melihat alamat blog ini di bagian testimoni dan dinyatakan sebagai salah satu dari 1900+ client UP. Saya jadi kaget. Tanpa membalas email tadi saya langsung meluncur ke situs UP. Benar saja. Ternyata EkoNurhuda.com memang benar-benar dicantumkan di sana seperti terlihat pada gambar berikut.

Photobucket


Saya lantas geleng-geleng kepala. Setahu saya yang namanya client itu sama dengan customer alias pembeli produk. Lha wong saya tidak pernah membeli produk itu, masa iya bisa berada di deretan client sih? Terlebih lagi pencantuman tersebut sama sekali tidak meminta ijin atau sekedar pemberitahuan dari pengelola UP. Saya langsung bergumam, “Hmm, ada yang tidak beres nih…” Hanya beberapa detik kemudian saya langsung melayangkan email protes ke pengelola UP. Saya mempertanyakan kenapa alamat blog ini bisa ada di daftar client UP dan sejak kapan tercantum di sana.

Sedikit mundur ke belakang, dulu ketika UP baru saja di-launching memang saya pernah mendaftar sebagai reseller. Banner promosinya sempat saya pasang di blog ini selama beberapa waktu. Tapi saya tidak pernah membeli produknya sama sekali, jadi saya tidak bisa dikategorikan sebagai client. Saya juga masih ingat ketika pengelola UP yang berinisial HP mengirim off message berisi ucapan terima kasih karena telah bergabung sebagai reseller UP. Beberapa hari kemudian kami bahkan sempat chatting dan saya bertanya banyak mengenai UP. Berapa modalnya, di mana beli script-nya, dll. Ketika HP mengubah peraturan mengenai komisi, saya merasa keberatan dan menyatakan mundur dari UP. Pesan pengunduran diri langsung saya kirim lewat off message YM-nya HP dan sudah dibaca olehnya karena ia kemudian membalas “Ya, tidak apa-apa, Mas.”

Ketika balasan dari UP datang saya jadi naik darah. Sebabnya HP dengan santai menjawab bahwa hal itu terjadi karena saya terdaftar sebagai free client (istilah UP untuk member yang belum membeli produk), karena itu dicantumkan di daftar client. Saya memprotes lagi, bukannya saya sudah mengundurkan diri dari UP??? Eh, dijawab kalau dia LUPA saya pernah mengundurkan diri via YM. Alasannya, selama ini kontak ke UP dilakukan lewat email, bukan YM. Lha, terus yang membalas pesan saya itu siapa dong? Bukannya dia pemilik sekaligus pengelola UP???

Karena benar-benar tidak terima dengan alasan konyol tersebut, saya terus kejar HP untuk memberikan alasan yang lebih logis lagi. Ketika dia bersikukuh kalau alasannya hanya LUPA, saya akhirnya mencoba maklum. Ya sudahlah, kalau begitu dianggap selesai saja. Toh alamat blog ini sudah dihapus dari halaman UP. Namun saya koq tidak puas kalau hanya berakhir begitu saja. Dia sudah mencatut alamat blog saya tanpa ijin selama beberapa bulan, masa iya mau selesai begitu saja? Padahal saya yakin pasti ada yang mengasosiasikan saya dengan UP karena melihat alamat blog ini di situs UP. Dan ini bukan promosi yang bagus bagi blog saya. Dengan kata lain, saya merasa dirugikan! Maka, bukan bermaksud menggertak kalau kemudian saya bilang ke HP begini, “Thanks karena sudah memberi bahan tulisan yg bagus untuk blog saya.”

Eh, rupanya HP kebakaran jenggot. Kalau di dua email sebelumnya ia menjawab asal-asalan dan sekenanya, maka sejak saya berkata begitu tiba-tiba saja ia bersikap manis dan sopan. Bahkan saya ditawarkan untuk meng-upgrade keanggotaan UP secara gratis. Belum sempat saya jawab, beberapa saat kemudian saya diberi komisi dari hasil pembelian yang dilakukan oleh Lukman Hakim Mshrus. Walah, mau menyuap nih ceritanya? Batin saya dalam hati. Sandiwara konyol apalagi ini? Bukankah saya sudah mengundurkan diri sejak berbulan-bulan yang lalu? Karena yakin tawaran itu mengandung maksud lain, sayapun dengan tegas menolaknya.

HP sepertinya benar-benar khawatir saya membuat posting tentang masalah ini. Buktinya ia terus mengirimi saya email berisi permohonan maaf sekaligus meminta saya untuk menganggap persoalan telah selesai dan tidak membuat posting tentang hal ini. Ia juga jadi sering nongol di blog ini dan sesekali meninggalkan komentar. Saya iseng bertanya, apa yang ia takutkan kalau saya membuat posting tersebut? Apakah takut bisnisnya akan rusak? HP kemudian mengaku kalau sedikit-banyak ia memang takut nama UP bakal rusak. Ia khawatir UP dianggap melakukan kebohongan karena mencantumkan alamat blog orang lain tanpa ijin. Ia tidak ingin nanti orang berpikir kalau testimoni dan daftar client yang dibuat UP hanyalah rekayasa belaka.

Well, mengenai hal itu tentu saja biarkan orang yang menilainya. Saya tidak akan berkomentar apa-apa soal itu. Saya hanya membeberkan sebuah fakta kalau UP pernah mencatut alamat blog ini sebagai daftar client, padahal saya sama sekali tidak pernah memesan produk UP. Saya bahkan sudah mengundurkan diri sebagai member UP sejak berbulan-bulan lalu dan sudah diterima dengan baik oleh HP, si pemilik UP. So, buat rekan-rekan blogger lain berhati-hatilah! Siapa tahu tanpa sepengetahuan Anda blog Anda dicatut oleh situs penjual mimpi seperti yang saya alami.

Sebagai penutup, berikut saya perlihatkan tampilan situs UP setelah alamat blog saya dihapus dari daftar client. Bukan hanya alamat blog saya saja yang dihapus, tapi SEMUA alamat blog yang tadinya tercantum di sana juga dihapus. Artinya..??? Jawab sendiri deh!

Photobucket


UPDATE 30/10/08: Lihat reaksi Kaskuser tentang hal ini di sini!
UPDATE 11/11/08: Entah sejak kapan, yang jelas bagian testimoni di sales page UP sudah berubah lagi. Testimoni disertai foto dan alamat lengkap. Lihat sendiri aja deh, tar kalo saya yang komentar pada salah paham lagi. :)

Seperti pernah saya singgung sewaktu membahas tentang PPC lokal yang dibanjiri iklan-iklan penjual mimpi, blog ini sendiri sempat ‘dijual’ oleh salah satu situs penjual mimpi berinisial UP. Bang Zalukhu sempat menceritakan masalah ini secara sekilas di posting ini. Nah, biar lebih gamblang dan jelas lagi, berikut saya beberkan detil kejadiannya. Kalau ada yang meragukan dan atau menyangkal cerita berikut silakan kontak saya. Kebetulan semua bukti-bukti otentik masih saya simpan dengan baik.

Cerita berawal dari sebuah email dari seseorang bernama Lukman Hakim Mahrus kepada saya melalui form kontak. Ia mengatakan sangat tertarik dengan produk yang dijual UP. Kebetulan ia melihat alamat blog ini di bagian testimoni dan dinyatakan sebagai salah satu dari 1900+ client UP. Saya jadi kaget. Tanpa membalas email tadi saya langsung meluncur ke situs UP. Benar saja. Ternyata EkoNurhuda.com memang benar-benar dicantumkan di sana seperti terlihat pada gambar berikut.

Photobucket


Saya lantas geleng-geleng kepala. Setahu saya yang namanya client itu sama dengan customer alias pembeli produk. Lha wong saya tidak pernah membeli produk itu, masa iya bisa berada di deretan client sih? Terlebih lagi pencantuman tersebut sama sekali tidak meminta ijin atau sekedar pemberitahuan dari pengelola UP. Saya langsung bergumam, “Hmm, ada yang tidak beres nih…” Hanya beberapa detik kemudian saya langsung melayangkan email protes ke pengelola UP. Saya mempertanyakan kenapa alamat blog ini bisa ada di daftar client UP dan sejak kapan tercantum di sana.

Sedikit mundur ke belakang, dulu ketika UP baru saja di-launching memang saya pernah mendaftar sebagai reseller. Banner promosinya sempat saya pasang di blog ini selama beberapa waktu. Tapi saya tidak pernah membeli produknya sama sekali, jadi saya tidak bisa dikategorikan sebagai client. Saya juga masih ingat ketika pengelola UP yang berinisial HP mengirim off message berisi ucapan terima kasih karena telah bergabung sebagai reseller UP. Beberapa hari kemudian kami bahkan sempat chatting dan saya bertanya banyak mengenai UP. Berapa modalnya, di mana beli script-nya, dll. Ketika HP mengubah peraturan mengenai komisi, saya merasa keberatan dan menyatakan mundur dari UP. Pesan pengunduran diri langsung saya kirim lewat off message YM-nya HP dan sudah dibaca olehnya karena ia kemudian membalas “Ya, tidak apa-apa, Mas.”

Ketika balasan dari UP datang saya jadi naik darah. Sebabnya HP dengan santai menjawab bahwa hal itu terjadi karena saya terdaftar sebagai free client (istilah UP untuk member yang belum membeli produk), karena itu dicantumkan di daftar client. Saya memprotes lagi, bukannya saya sudah mengundurkan diri dari UP??? Eh, dijawab kalau dia LUPA saya pernah mengundurkan diri via YM. Alasannya, selama ini kontak ke UP dilakukan lewat email, bukan YM. Lha, terus yang membalas pesan saya itu siapa dong? Bukannya dia pemilik sekaligus pengelola UP???

Karena benar-benar tidak terima dengan alasan konyol tersebut, saya terus kejar HP untuk memberikan alasan yang lebih logis lagi. Ketika dia bersikukuh kalau alasannya hanya LUPA, saya akhirnya mencoba maklum. Ya sudahlah, kalau begitu dianggap selesai saja. Toh alamat blog ini sudah dihapus dari halaman UP. Namun saya koq tidak puas kalau hanya berakhir begitu saja. Dia sudah mencatut alamat blog saya tanpa ijin selama beberapa bulan, masa iya mau selesai begitu saja? Padahal saya yakin pasti ada yang mengasosiasikan saya dengan UP karena melihat alamat blog ini di situs UP. Dan ini bukan promosi yang bagus bagi blog saya. Dengan kata lain, saya merasa dirugikan! Maka, bukan bermaksud menggertak kalau kemudian saya bilang ke HP begini, “Thanks karena sudah memberi bahan tulisan yg bagus untuk blog saya.”

Eh, rupanya HP kebakaran jenggot. Kalau di dua email sebelumnya ia menjawab asal-asalan dan sekenanya, maka sejak saya berkata begitu tiba-tiba saja ia bersikap manis dan sopan. Bahkan saya ditawarkan untuk meng-upgrade keanggotaan UP secara gratis. Belum sempat saya jawab, beberapa saat kemudian saya diberi komisi dari hasil pembelian yang dilakukan oleh Lukman Hakim Mshrus. Walah, mau menyuap nih ceritanya? Batin saya dalam hati. Sandiwara konyol apalagi ini? Bukankah saya sudah mengundurkan diri sejak berbulan-bulan yang lalu? Karena yakin tawaran itu mengandung maksud lain, sayapun dengan tegas menolaknya.

HP sepertinya benar-benar khawatir saya membuat posting tentang masalah ini. Buktinya ia terus mengirimi saya email berisi permohonan maaf sekaligus meminta saya untuk menganggap persoalan telah selesai dan tidak membuat posting tentang hal ini. Ia juga jadi sering nongol di blog ini dan sesekali meninggalkan komentar. Saya iseng bertanya, apa yang ia takutkan kalau saya membuat posting tersebut? Apakah takut bisnisnya akan rusak? HP kemudian mengaku kalau sedikit-banyak ia memang takut nama UP bakal rusak. Ia khawatir UP dianggap melakukan kebohongan karena mencantumkan alamat blog orang lain tanpa ijin. Ia tidak ingin nanti orang berpikir kalau testimoni dan daftar client yang dibuat UP hanyalah rekayasa belaka.

Well, mengenai hal itu tentu saja biarkan orang yang menilainya. Saya tidak akan berkomentar apa-apa soal itu. Saya hanya membeberkan sebuah fakta kalau UP pernah mencatut alamat blog ini sebagai daftar client, padahal saya sama sekali tidak pernah memesan produk UP. Saya bahkan sudah mengundurkan diri sebagai member UP sejak berbulan-bulan lalu dan sudah diterima dengan baik oleh HP, si pemilik UP. So, buat rekan-rekan blogger lain berhati-hatilah! Siapa tahu tanpa sepengetahuan Anda blog Anda dicatut oleh situs penjual mimpi seperti yang saya alami.

Sebagai penutup, berikut saya perlihatkan tampilan situs UP setelah alamat blog saya dihapus dari daftar client. Bukan hanya alamat blog saya saja yang dihapus, tapi SEMUA alamat blog yang tadinya tercantum di sana juga dihapus. Artinya..??? Jawab sendiri deh!

Photobucket


UPDATE 30/10/08: Lihat reaksi Kaskuser tentang hal ini di sini!
UPDATE 11/11/08: Entah sejak kapan, yang jelas bagian testimoni di sales page UP sudah berubah lagi. Testimoni disertai foto dan alamat lengkap. Lihat sendiri aja deh, tar kalo saya yang komentar pada salah paham lagi. :)

17 Oktober 2008

Daripada nggak dapet-dapet kerja, mending nggak dapet-dapet gelar.” Anda tentu sudah sering melihat iklan yang menampilkan kalimat tersebut. Dalam iklan itu digambarkan bahwa kebanyakan orang lebih suka mengejar gelar. Hanya segelintir saja yang berani menyimpang dari kelaziman dan merasa dapat hidup (layak) tanpa gelar. Sungguh satu gambaran yang pas sekali dengan realita di sekeliling kita sekarang.

Saat saya menyatakan ingin mengikuti jejak Liew Cheon Fong menjadi fulltime blogger selepas kuliah nanti, seorang pengunjung melontarkan komentar negatif. Tanpa meninggalkan identitas sama sekali alias anonim, ia menulis: “Ngapain kuliah kalau lulus cuma jadi blogger?” Saya hanya tertawa saja membacanya sambil menjawab dalam hati, “Yah, paling tidak blogger lebih berduit daripada job hunter alias pencari kerja.” Hehehe… Iya kan?

Mungkin sudah sejak jaman penjajahan Belanda dulu dalam otak bangsa Indonesia tertanam pemikiran bahwa orang harus bekerja untuk dapat hidup. Entah itu bekerja di sektor swasta (menjadi karyawan) atau di lembaga milik negara (PNS). Dan memang sejak jaman penjajahan dulu masyarakat kita memandang PNS sebagai satu profesi terhormat. Menjadi PNS adalah suatu kebanggaan karena selain memperoleh jaminan pensiun, seorang PNS juga memiliki strata sosial lebih tinggi di masyarakat. Maka tak heran jika banyak orang tua mendambakan anaknya menjadi PNS (atau memiliki pasangan PNS). Demikian juga dengan si anak yang selalu mendambakan diangkat jadi PNS, meskipun harus menunggu puluhan tahun lamanya.

Kalau tidak bisa menjadi PNS, pilihan selanjutnya adalah bekerja di perusahaan bonafid. Kalau ini juga tidak terkabul, bekerja di mana saja tidak jadi masalah. Yang penting bekerja dan dapat gaji tetap untuk hidup. Agar memperoleh pekerjaan bagus orang harus berbekal ijasah dan gelar. Semakin tinggi ijasah dan gelar yang dimiliki, semakin bagus posisi yang mungkin didapat sekaligus semakin besar pula gaji yang akan dikantongi. Inilah pola pikir umum masyarakat kita. Jadi, jangan heran kalau begitu lulus kuliah kerjanya hanya memelototi iklan lowongan kerja di koran setiap hari.

Bekerja untuk hidup, salahkah pola pikir ini? Tidak salah memang, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kalau yang dimaksudkan adalah bahwa kita harus “melakukan sesuatu” untuk memperoleh uang, maka pendapat ini benar. Tapi kalau maksudnya kita harus jadi karyawan/pegawai untuk mendapat penghasilan, ini jelas-jelas tidak benar. Catat baik-baik, kita tidak harus jadi karyawan/pegawai untuk mempunyai penghasilan!

Menjadi fulltime blogger adalah salah satu pilihan untuk memperoleh penghasilan. Bukan penghasilan standar upah minimum (UMP) yang hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seorang fulltime blogger bahkan bisa berpenghasilan sebesar gaji menteri. Ini tentu jauh lebih baik daripada terus bermimpi menjadi PNS atau memperoleh posisi bagus di perusahaan multinasional terkemuka. Menariknya lagi, Anda tidak membutuhkan ijasah apapun untuk menjadi seorang fulltime blogger. Yang Anda butuhkan hanyalah keyakinan dan tekad yang kuat untuk maju.

So, mana yang Anda cari, duit atau kerja? Kalau Anda memilih duit, maka saya katakan pada Anda bahwa banyak jalan dapat ditempuh untuk memperoleh duit (baca: penghasilan). Salah satunya cari duit dengan blog. Tapi kalau Anda keras kepala ingin bekerja untuk memperoleh duit, saya hanya bisa mendoakan semoga Anda senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran. Saya pernah bekerja di banyak tempat, mulai dari warung sate kambing sampai hotel berbintang 3. Bagi saya bekerja di mana saja tidak ada bedanya, sama-sama tidak enak! Dan lagi saya tidak rela kalau sudah kuliah mahal-mahal hanya jadi "pesuruh”.

Maaf, hanya sekedar uneg-uneg setelah membaca komentar si anonim di posting ini.

Daripada nggak dapet-dapet kerja, mending nggak dapet-dapet gelar.” Anda tentu sudah sering melihat iklan yang menampilkan kalimat tersebut. Dalam iklan itu digambarkan bahwa kebanyakan orang lebih suka mengejar gelar. Hanya segelintir saja yang berani menyimpang dari kelaziman dan merasa dapat hidup (layak) tanpa gelar. Sungguh satu gambaran yang pas sekali dengan realita di sekeliling kita sekarang.

Saat saya menyatakan ingin mengikuti jejak Liew Cheon Fong menjadi fulltime blogger selepas kuliah nanti, seorang pengunjung melontarkan komentar negatif. Tanpa meninggalkan identitas sama sekali alias anonim, ia menulis: “Ngapain kuliah kalau lulus cuma jadi blogger?” Saya hanya tertawa saja membacanya sambil menjawab dalam hati, “Yah, paling tidak blogger lebih berduit daripada job hunter alias pencari kerja.” Hehehe… Iya kan?

Mungkin sudah sejak jaman penjajahan Belanda dulu dalam otak bangsa Indonesia tertanam pemikiran bahwa orang harus bekerja untuk dapat hidup. Entah itu bekerja di sektor swasta (menjadi karyawan) atau di lembaga milik negara (PNS). Dan memang sejak jaman penjajahan dulu masyarakat kita memandang PNS sebagai satu profesi terhormat. Menjadi PNS adalah suatu kebanggaan karena selain memperoleh jaminan pensiun, seorang PNS juga memiliki strata sosial lebih tinggi di masyarakat. Maka tak heran jika banyak orang tua mendambakan anaknya menjadi PNS (atau memiliki pasangan PNS). Demikian juga dengan si anak yang selalu mendambakan diangkat jadi PNS, meskipun harus menunggu puluhan tahun lamanya.

Kalau tidak bisa menjadi PNS, pilihan selanjutnya adalah bekerja di perusahaan bonafid. Kalau ini juga tidak terkabul, bekerja di mana saja tidak jadi masalah. Yang penting bekerja dan dapat gaji tetap untuk hidup. Agar memperoleh pekerjaan bagus orang harus berbekal ijasah dan gelar. Semakin tinggi ijasah dan gelar yang dimiliki, semakin bagus posisi yang mungkin didapat sekaligus semakin besar pula gaji yang akan dikantongi. Inilah pola pikir umum masyarakat kita. Jadi, jangan heran kalau begitu lulus kuliah kerjanya hanya memelototi iklan lowongan kerja di koran setiap hari.

Bekerja untuk hidup, salahkah pola pikir ini? Tidak salah memang, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kalau yang dimaksudkan adalah bahwa kita harus “melakukan sesuatu” untuk memperoleh uang, maka pendapat ini benar. Tapi kalau maksudnya kita harus jadi karyawan/pegawai untuk mendapat penghasilan, ini jelas-jelas tidak benar. Catat baik-baik, kita tidak harus jadi karyawan/pegawai untuk mempunyai penghasilan!

Menjadi fulltime blogger adalah salah satu pilihan untuk memperoleh penghasilan. Bukan penghasilan standar upah minimum (UMP) yang hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seorang fulltime blogger bahkan bisa berpenghasilan sebesar gaji menteri. Ini tentu jauh lebih baik daripada terus bermimpi menjadi PNS atau memperoleh posisi bagus di perusahaan multinasional terkemuka. Menariknya lagi, Anda tidak membutuhkan ijasah apapun untuk menjadi seorang fulltime blogger. Yang Anda butuhkan hanyalah keyakinan dan tekad yang kuat untuk maju.

So, mana yang Anda cari, duit atau kerja? Kalau Anda memilih duit, maka saya katakan pada Anda bahwa banyak jalan dapat ditempuh untuk memperoleh duit (baca: penghasilan). Salah satunya cari duit dengan blog. Tapi kalau Anda keras kepala ingin bekerja untuk memperoleh duit, saya hanya bisa mendoakan semoga Anda senantiasa diberikan kesehatan dan kesabaran. Saya pernah bekerja di banyak tempat, mulai dari warung sate kambing sampai hotel berbintang 3. Bagi saya bekerja di mana saja tidak ada bedanya, sama-sama tidak enak! Dan lagi saya tidak rela kalau sudah kuliah mahal-mahal hanya jadi "pesuruh”.

Maaf, hanya sekedar uneg-uneg setelah membaca komentar si anonim di posting ini.

15 Oktober 2008

Ingin membuat blog sebagai “mesin uang” tapi masih bingung program apa saja yang harus diikuti? Tenang, Anda tidak sendiri koq. Saya dulu juga begitu, sebagaimana para pemula lainnya juga pernah menghadapi hal serupa. Untuk itulah saya membuat halaman ini, di mana Anda dapat menemukan daftar program-program yang selama ini saya gunakan untuk “berburu dolar”. Program-program berikut saya pilih dari sekian banyak program yang ada di internet. Saya berani merekomendasikannya karena sudah terbukti memiliki layanan dan support yang bagus, serta yang paling penting adalah: terbukti membayar!

SponsoredReviews
SponsoredReviews adalah sebuah situs agen paid review (review berbayar) yang akan membayar Anda untuk menuliskan review (berbahasa Inggris) pesanan advertiser mereka di blog. Untuk setiap review Anda akan memperoleh sebanyak 65% dari harga review yang disetujui advertiser. Komisi dibayarkan dua minggu sekali melalui PayPal. Kalau Anda baru mengenal situs ini sangat saya sarankan untuk terlebih dulu membaca ebook “Panduan SponsoredReviews” yang saya tulis. Download ebooknya Panduan SponsoredReviews di sini! GRATIS!

Daftar di SponsoredReviews!


Blogsvertise
Masih merupakan situs paid review. Hanya saja Blogsvertise menerapkan aturan yang berbeda dalam hal penerimaan review dan pembayaran komisi. Di situs ini tiap review yang Anda tulis mesti disetujui oleh admin. Komisi dibayarkan setelah 30 hari kerja sejak review disetujui admin, juga melalui PayPal. Enaknya, komisi Anda tidak dibagi dua dengan Blogsvertise. Misalkan Anda mendapat review senilai $10, maka sebesar itulah komisi yang akan Anda terima kelak.

Daftar di Blogsvertise!


BuyBlogReviews
Sama seperti SponsoredReviews dan Blogsvertise, BuyBlogReviews adalah situs agen paid review. Bedanya, beberapa advertiser di BuyBlogReviews membolehkan Anda menulis review dalam bahasa selain Inggris. Komisi di situs ini juga lebih besar, di mana Anda akan dibayar sebesar 70% dari nilai review. Komisi dibayarkan setiap tanggal 1 dan 15 melalui PayPal.

Daftar di BuyBlogReviews!


ReviewMu
Bagi Anda yang ingin meraup penghasilan dari paid review tapi bahasa Inggris-nya pas-pasan, ReviewMu adalah solusinya. Yap, situs ini adalah agen paid review lokal sehingga Anda bisa menuliskan review dalam bahasa Indonesia. Besar komisi beragam, minimal Rp 10.000/review. Pembayaran komisi dilakukan dengan cara transfer bank setelah total komisi yang Anda peroleh mencapai batas minimal Rp 100.000.

Daftar di ReviewMu!


KumpulBlogger
KumpulBlogger adalah situs pay per click (PPC) lokal. Yang harus Anda lakukan dengan program ini hanyalah memasang iklan yang disediakan KumpulBlogger di blog Anda. Setiap kali iklan tersebut diklik, maka Anda akan memperoleh komisi sebesar Rp 300/klik. KumpulBlogger juga menyediakan iklan banner/gambar dengan komisi sebesar Rp 700/klik. Komisi dibayarkan lewat bank setelah penghasilan Anda mencapai batas minimal Rp 50.000.

Daftar di KumpulBlogger!


KlikSaya
Sama seperti KumpulBlogger, Klik Saya adalah situs PPC lokal. Bedanya, KlikSaya memberikan komisi lebih beragam untuk setiap klik atas iklan yang Anda pasang di blog. Komisi minimal sebesar Rp 150/klik, dan maksimal (berdasarkan pengalaman saya) sebesar Rp 475/klik. Pembayaran komisi dilakukan tiap bulan lewat bank setelah komisi Anda mencapai minimal Rp 60.000.

Daftar di KlikSaya!


Ask2Link
Ini adalah program periklanan berbasis link teks. Anda akan dibayar untuk menempatkan sejumlah link advertiser seperti yang dapat dilihat di bagian “Related Websites” di sidebar blog ini. Harga tiap link ditentukan oleh Ask2Link berdasarkan tingkat popularitas blog yang mengacu pada jumlah kunjungan per bulan, peringkat Alexa, Google pagerank, dan faktor lain. Komisi dibayarkan setiap tanggal 1 di awal bulan melalui PayPal setelah mencapai batas minimal $10.

Daftar di Ask2Link!

Ingin membuat blog sebagai “mesin uang” tapi masih bingung program apa saja yang harus diikuti? Tenang, Anda tidak sendiri koq. Saya dulu juga begitu, sebagaimana para pemula lainnya juga pernah menghadapi hal serupa. Untuk itulah saya membuat halaman ini, di mana Anda dapat menemukan daftar program-program yang selama ini saya gunakan untuk “berburu dolar”. Program-program berikut saya pilih dari sekian banyak program yang ada di internet. Saya berani merekomendasikannya karena sudah terbukti memiliki layanan dan support yang bagus, serta yang paling penting adalah: terbukti membayar!

SponsoredReviews
SponsoredReviews adalah sebuah situs agen paid review (review berbayar) yang akan membayar Anda untuk menuliskan review (berbahasa Inggris) pesanan advertiser mereka di blog. Untuk setiap review Anda akan memperoleh sebanyak 65% dari harga review yang disetujui advertiser. Komisi dibayarkan dua minggu sekali melalui PayPal. Kalau Anda baru mengenal situs ini sangat saya sarankan untuk terlebih dulu membaca ebook “Panduan SponsoredReviews” yang saya tulis. Download ebooknya Panduan SponsoredReviews di sini! GRATIS!

Daftar di SponsoredReviews!


Blogsvertise
Masih merupakan situs paid review. Hanya saja Blogsvertise menerapkan aturan yang berbeda dalam hal penerimaan review dan pembayaran komisi. Di situs ini tiap review yang Anda tulis mesti disetujui oleh admin. Komisi dibayarkan setelah 30 hari kerja sejak review disetujui admin, juga melalui PayPal. Enaknya, komisi Anda tidak dibagi dua dengan Blogsvertise. Misalkan Anda mendapat review senilai $10, maka sebesar itulah komisi yang akan Anda terima kelak.

Daftar di Blogsvertise!


BuyBlogReviews
Sama seperti SponsoredReviews dan Blogsvertise, BuyBlogReviews adalah situs agen paid review. Bedanya, beberapa advertiser di BuyBlogReviews membolehkan Anda menulis review dalam bahasa selain Inggris. Komisi di situs ini juga lebih besar, di mana Anda akan dibayar sebesar 70% dari nilai review. Komisi dibayarkan setiap tanggal 1 dan 15 melalui PayPal.

Daftar di BuyBlogReviews!


ReviewMu
Bagi Anda yang ingin meraup penghasilan dari paid review tapi bahasa Inggris-nya pas-pasan, ReviewMu adalah solusinya. Yap, situs ini adalah agen paid review lokal sehingga Anda bisa menuliskan review dalam bahasa Indonesia. Besar komisi beragam, minimal Rp 10.000/review. Pembayaran komisi dilakukan dengan cara transfer bank setelah total komisi yang Anda peroleh mencapai batas minimal Rp 100.000.

Daftar di ReviewMu!


KumpulBlogger
KumpulBlogger adalah situs pay per click (PPC) lokal. Yang harus Anda lakukan dengan program ini hanyalah memasang iklan yang disediakan KumpulBlogger di blog Anda. Setiap kali iklan tersebut diklik, maka Anda akan memperoleh komisi sebesar Rp 300/klik. KumpulBlogger juga menyediakan iklan banner/gambar dengan komisi sebesar Rp 700/klik. Komisi dibayarkan lewat bank setelah penghasilan Anda mencapai batas minimal Rp 50.000.

Daftar di KumpulBlogger!


KlikSaya
Sama seperti KumpulBlogger, Klik Saya adalah situs PPC lokal. Bedanya, KlikSaya memberikan komisi lebih beragam untuk setiap klik atas iklan yang Anda pasang di blog. Komisi minimal sebesar Rp 150/klik, dan maksimal (berdasarkan pengalaman saya) sebesar Rp 475/klik. Pembayaran komisi dilakukan tiap bulan lewat bank setelah komisi Anda mencapai minimal Rp 60.000.

Daftar di KlikSaya!


Ask2Link
Ini adalah program periklanan berbasis link teks. Anda akan dibayar untuk menempatkan sejumlah link advertiser seperti yang dapat dilihat di bagian “Related Websites” di sidebar blog ini. Harga tiap link ditentukan oleh Ask2Link berdasarkan tingkat popularitas blog yang mengacu pada jumlah kunjungan per bulan, peringkat Alexa, Google pagerank, dan faktor lain. Komisi dibayarkan setiap tanggal 1 di awal bulan melalui PayPal setelah mencapai batas minimal $10.

Daftar di Ask2Link!

13 Oktober 2008

Munculnya situs-situs penyedia program pay per click (PPC) seperti Klik Saya, Kumpul Blogger, AdSense Camp, dll. disambut gembira blogger Indonesia. Pasalnya, kehadiran situs PPC lokal menjadi solusi bagi pengelola blog berbahasa Indonesia yang ingin menikmati manisnya program PPC. Berhubung bahasa Indonesia masih belum didukung oleh Google AdSense, maka situs PPC lokal langsung menjadi program favorit bagi pengelola blog/situs berbahasa Indonesia.

Sayang disayang, menurut pengamatan saya iklan yang ditampilkan situs-situs PPC lokal seragam: promosi para penjual mimpi! Dari dua situs PPC lokal yang saya amati (Klik Saya dan Kumpul Blogger), pemasang iklannya kebanyakan adalah pemilik atau reseller situs-situs penjual mimpi alias situs-situs yang menjanjikan cara-cara cepat kaya dengan mudah di internet. Kalau tidak percaya silakan cek sendiri.

Hal ini tentu berbeda jauh dengan Google AdSense yang memiliki materi iklan jauh lebih beragam. Atau kalau mau dibandingkan dengan sesama PPC yang tidak kontekstual seperti AdBrite atau Bidvertiser, PPC lokal juga kalah dalam hal keberagaman stok iklan. Maka jangan risih kalau di sidebar blog Anda bertebaran kalimat-kalimat bombastis seperti "3 langkah rahasia menjaring uang berlimpah di internet", "Formula jitu menghasilkan uang tanpa kerja", atau "Kini saatnya membuat uang bekerja untuk Anda!" yang kesemuanya mempromosikan situs sejenis.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut saya penyebabnya paling tidak ada dua, dan keduanya sangat berkaitan erat. Pertama, masih melekatnya citra negatif pada dunia internet marketing Indonesia. Akibatnya pebisnis/pengusaha offline takut beriklan di internet karena khawatir ikut dicap jelek. Kalaupun ingin berpromosi di internet, maka mereka lebih memilih memasang banner di situs-situs populer (baca: bertrafik tinggi) dengan kredibilitas baik seperti Detik atau Friendster.

Kedua, iklan berbasis pay per click masih belum begitu familiar bagi kalangan pebisnis Indonesia. Hanya kalangan penggiat internet marketing, webmaster dan blogger saja yang akrab dengan sistem periklanan ini. Beberapa oknum dari kalangan ini secara tidak bertanggungjawab memanfaatkan minimnya pengetahuan orang Indonesia terhadap internet dengan menjual produk-produk “ajaib”, produk-produk yang dapat membuat seseorang menjadi kaya dengan cepat dan mudah. Lantas mereka berpromosi di PPC lokal untuk membidik blogger pemula. Jadi jangan heran kalau iklan PPC lokal yang Anda pasang didominasi promosi situs-situs penjual mimpi.

Saya sendiri sedang berpikir-pikir untuk membuang script iklan PPC lokal di blog ini. Hal tersebut mulai saya pertimbangkan setelah seorang pengunjung mengasosiasikan saya dengan sebuah situs yang diiklankan di PPC lokal. Eh, kebetulan pula si pemilik situs tersebut mencantumkan nama blog ini sebagai salah satu dari 1.900+ client-nya (cerita tentang hal tidak etis ini akan saya bahas beberapa saat nanti). Sebagai gantinya saya akan coba-coba memajang iklan Google AdSense. Siapa tahu bisa menggenjot pendapatan saya yang masih seret banget. Hehehe…

Bagaimana pendapat Anda?

Munculnya situs-situs penyedia program pay per click (PPC) seperti Klik Saya, Kumpul Blogger, AdSense Camp, dll. disambut gembira blogger Indonesia. Pasalnya, kehadiran situs PPC lokal menjadi solusi bagi pengelola blog berbahasa Indonesia yang ingin menikmati manisnya program PPC. Berhubung bahasa Indonesia masih belum didukung oleh Google AdSense, maka situs PPC lokal langsung menjadi program favorit bagi pengelola blog/situs berbahasa Indonesia.

Sayang disayang, menurut pengamatan saya iklan yang ditampilkan situs-situs PPC lokal seragam: promosi para penjual mimpi! Dari dua situs PPC lokal yang saya amati (Klik Saya dan Kumpul Blogger), pemasang iklannya kebanyakan adalah pemilik atau reseller situs-situs penjual mimpi alias situs-situs yang menjanjikan cara-cara cepat kaya dengan mudah di internet. Kalau tidak percaya silakan cek sendiri.

Hal ini tentu berbeda jauh dengan Google AdSense yang memiliki materi iklan jauh lebih beragam. Atau kalau mau dibandingkan dengan sesama PPC yang tidak kontekstual seperti AdBrite atau Bidvertiser, PPC lokal juga kalah dalam hal keberagaman stok iklan. Maka jangan risih kalau di sidebar blog Anda bertebaran kalimat-kalimat bombastis seperti "3 langkah rahasia menjaring uang berlimpah di internet", "Formula jitu menghasilkan uang tanpa kerja", atau "Kini saatnya membuat uang bekerja untuk Anda!" yang kesemuanya mempromosikan situs sejenis.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Menurut saya penyebabnya paling tidak ada dua, dan keduanya sangat berkaitan erat. Pertama, masih melekatnya citra negatif pada dunia internet marketing Indonesia. Akibatnya pebisnis/pengusaha offline takut beriklan di internet karena khawatir ikut dicap jelek. Kalaupun ingin berpromosi di internet, maka mereka lebih memilih memasang banner di situs-situs populer (baca: bertrafik tinggi) dengan kredibilitas baik seperti Detik atau Friendster.

Kedua, iklan berbasis pay per click masih belum begitu familiar bagi kalangan pebisnis Indonesia. Hanya kalangan penggiat internet marketing, webmaster dan blogger saja yang akrab dengan sistem periklanan ini. Beberapa oknum dari kalangan ini secara tidak bertanggungjawab memanfaatkan minimnya pengetahuan orang Indonesia terhadap internet dengan menjual produk-produk “ajaib”, produk-produk yang dapat membuat seseorang menjadi kaya dengan cepat dan mudah. Lantas mereka berpromosi di PPC lokal untuk membidik blogger pemula. Jadi jangan heran kalau iklan PPC lokal yang Anda pasang didominasi promosi situs-situs penjual mimpi.

Saya sendiri sedang berpikir-pikir untuk membuang script iklan PPC lokal di blog ini. Hal tersebut mulai saya pertimbangkan setelah seorang pengunjung mengasosiasikan saya dengan sebuah situs yang diiklankan di PPC lokal. Eh, kebetulan pula si pemilik situs tersebut mencantumkan nama blog ini sebagai salah satu dari 1.900+ client-nya (cerita tentang hal tidak etis ini akan saya bahas beberapa saat nanti). Sebagai gantinya saya akan coba-coba memajang iklan Google AdSense. Siapa tahu bisa menggenjot pendapatan saya yang masih seret banget. Hehehe…

Bagaimana pendapat Anda?

11 Oktober 2008

Masih ingat Wikimu? Situs citizen journalism yang pernah saya singgung saat membahas tentang trafik dari article directory beberapa waktu lalu itu kembali mengadakan acara off air. Maksudnya, acara kumpul-kumpul antar member Wikimu yang berdomisili di Jogja. Kali ini acaranya bertajuk halal bihalal karena memang masih dalam suasana lebaran.

Kumpul-kumpul memang selalu asyik. Demikian juga dengan halal bihalal member Wikimu Jogja yang bertempat di kantor Yayasan LKiS Sorowajan tadi siang. Beberapa orang sudah saya kenal karena sama-sama ikut Wikimu Gathering di Museum Batik bulan Maret lalu. Beberapa orang lagi baru bertemu saat itu. Namun suasananya langsung cair dan hangat. Soalnya ada suguhan teh dan kopi hangat sih. Hehehe…

Ada sembilan orang yang hadir. Bertindak sebagai tuan rumah adalah Mas Hairus Salim dan Mbak Pusvyta, keduanya bekerja di Yayasan LKiS. Lalu Sutriyati aka Trie dan Tri Darmiyati, keduanya adik tingkat saya di Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY). Kemudian ada Sabjan Badio, Josephine Wijiastuti aka Pipin (aktivis CRS), Kukuh Setyono (reporter Harian Jogja), Hendy Adhitya (mahasiswa dan aktivis BEM Atma Jaya Yogyakarta), dan terakhir saya sendiri (siapa hayo?!).

Saya sebenarnya kurang suka dengan acara kumpul-kumpul. Tapi pertemuan member Wikimu selalu saja tidak ingin saya lewatkan. Kenapa? Hal ini tidak lepas dari begitu terkesannya saya pada pertemuan pertama di Museum Batik dulu. Bukan saja bertemu banyak orang baru dari berbagai latar belakang, di Wikimu Gathering waktu itu saya juga menyerap banyak ilmu berkaitan dengan kepenulisan. Terlebih mengenai bagaimana supaya kita bisa jeli memotret fragmen-fragmen menarik di kehidupan sehari-hari untuk disajikan dalam bentuk tulisan yang memikat. Bukankah pengetahuan semacam ini sangat penting bagi seorang blogger yang pekerjaan sehari-harinya menulis?

Dalam pertemuan siang tadi kami juga berdiskusi tentang banyak hal. Namanya saja kumpul-kumpul, maka topik apa saja dibahas. Mula-mula masih seputar Wikimu dan hal-hal yang berkaitan dengan tulis-menulis di situs tersebut. Namun selanjutnya topik pembicaraan jadi lebih luas lagi. Mulai dari pengalaman seru Pipin yang sering ‘tour’ keliling Indonesia menangani berbagai macam bencana dan krisis sosial, juga keseharian Mas Kukuh yang sering meliput tentang Front Pembela Islam (FPI). Habis itu kamipun berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Ini dia fotonya! Coba cari saya yang mana?

Photobucket

Dari kiri ke kanan: Pusvyta, Trie, Tri Darmiyati, Hairus Salim, Pipin, Kukuh Setyono (kaos hitam), Sabjan Badio (kemeja putih, belakang), saya (pake kaos kebanggaan :D ), dan Hendy Adhitya (pake topi).




Nah, kalau beberapa waktu lalu saya bilang bahwa dengan bergabung di situs article directory dan citizen journalism sangat menguntungkan dari segi promosi blog dan peningkatan trafik, maka sekarang saya tambahkan lagi satu manfaat lain yang jauh lebih bernilai. Apa itu? Persahabatan. So, ayo gabung di Wikimu!

Masih ingat Wikimu? Situs citizen journalism yang pernah saya singgung saat membahas tentang trafik dari article directory beberapa waktu lalu itu kembali mengadakan acara off air. Maksudnya, acara kumpul-kumpul antar member Wikimu yang berdomisili di Jogja. Kali ini acaranya bertajuk halal bihalal karena memang masih dalam suasana lebaran.

Kumpul-kumpul memang selalu asyik. Demikian juga dengan halal bihalal member Wikimu Jogja yang bertempat di kantor Yayasan LKiS Sorowajan tadi siang. Beberapa orang sudah saya kenal karena sama-sama ikut Wikimu Gathering di Museum Batik bulan Maret lalu. Beberapa orang lagi baru bertemu saat itu. Namun suasananya langsung cair dan hangat. Soalnya ada suguhan teh dan kopi hangat sih. Hehehe…

Ada sembilan orang yang hadir. Bertindak sebagai tuan rumah adalah Mas Hairus Salim dan Mbak Pusvyta, keduanya bekerja di Yayasan LKiS. Lalu Sutriyati aka Trie dan Tri Darmiyati, keduanya adik tingkat saya di Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY). Kemudian ada Sabjan Badio, Josephine Wijiastuti aka Pipin (aktivis CRS), Kukuh Setyono (reporter Harian Jogja), Hendy Adhitya (mahasiswa dan aktivis BEM Atma Jaya Yogyakarta), dan terakhir saya sendiri (siapa hayo?!).

Saya sebenarnya kurang suka dengan acara kumpul-kumpul. Tapi pertemuan member Wikimu selalu saja tidak ingin saya lewatkan. Kenapa? Hal ini tidak lepas dari begitu terkesannya saya pada pertemuan pertama di Museum Batik dulu. Bukan saja bertemu banyak orang baru dari berbagai latar belakang, di Wikimu Gathering waktu itu saya juga menyerap banyak ilmu berkaitan dengan kepenulisan. Terlebih mengenai bagaimana supaya kita bisa jeli memotret fragmen-fragmen menarik di kehidupan sehari-hari untuk disajikan dalam bentuk tulisan yang memikat. Bukankah pengetahuan semacam ini sangat penting bagi seorang blogger yang pekerjaan sehari-harinya menulis?

Dalam pertemuan siang tadi kami juga berdiskusi tentang banyak hal. Namanya saja kumpul-kumpul, maka topik apa saja dibahas. Mula-mula masih seputar Wikimu dan hal-hal yang berkaitan dengan tulis-menulis di situs tersebut. Namun selanjutnya topik pembicaraan jadi lebih luas lagi. Mulai dari pengalaman seru Pipin yang sering ‘tour’ keliling Indonesia menangani berbagai macam bencana dan krisis sosial, juga keseharian Mas Kukuh yang sering meliput tentang Front Pembela Islam (FPI). Habis itu kamipun berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Ini dia fotonya! Coba cari saya yang mana?

Photobucket

Dari kiri ke kanan: Pusvyta, Trie, Tri Darmiyati, Hairus Salim, Pipin, Kukuh Setyono (kaos hitam), Sabjan Badio (kemeja putih, belakang), saya (pake kaos kebanggaan :D ), dan Hendy Adhitya (pake topi).




Nah, kalau beberapa waktu lalu saya bilang bahwa dengan bergabung di situs article directory dan citizen journalism sangat menguntungkan dari segi promosi blog dan peningkatan trafik, maka sekarang saya tambahkan lagi satu manfaat lain yang jauh lebih bernilai. Apa itu? Persahabatan. So, ayo gabung di Wikimu!

09 Oktober 2008

Tidak biasa-biasanya saya menulis judul yang provokatif seperti ini. Tapi ini hanya sebagai penegasan bagi Anda (terutama yang memiliki simpanan dana di PayPal) untuk segera menarik dana dari account PayPal Anda. Kenapa? Karena saat inilah waktu yang tepat untuk menarik dana Anda di PayPal ke Rupiah. Barusan saya iseng-iseng melakukan withdraw, dan ternyata kurs yang diberikan PayPal lumayan tinggi!

Saat terakhir withdraw bulan lalu, PayPal masih memberi kurs di bawah Rp 9000 per dolar. Tepatnya sekitar Rp 8900 sekian. Padahal kurs di luaran cukup tinggi, berkisar antara Rp 9200 sampai Rp 9300. Seiring dengan semakin terpuruknya perekonomian Amerika Serikat yang juga mempengaruhi perekonomian dunia, ternyata kurs dolar terhadap rupiah jadi semakin tinggi. Setidaknya versi PayPal yang kini memberi kurs Rp 9.340,56 per dolar. So, kalau Anda punya simpanan dana di PayPal, inilah saat yang tepat untuk menariknya ke dalam Rupiah!

Beberapa kali menarik dana dari PayPal ke Rupiah saya selalu menggerutu. Bagaimana tidak? Kurs di luaran selalu di atas Rp 9000, tapi PayPal tega-teganya hanya memberi kurs Rp 8900 selama berbulan-bulan sepanjang 2008 ini. Terakhir kali PayPal memberi kurs tinggi seingat saya cuma di awal-awal tahun ini, sekitar Rp 9400/dolar. Sayangnya waktu itu saya belum punya simpanan dana di PayPal karena memang belum punya penghasilan dari berbagai program online earning yang saya ikuti. Eh, begitu saya punya sedikit penghasilan dan ingin ditarik ke Rupiah, kurs jadi anjlok. PayPal selalu memberi kurs yang jauh lebih rendah dari kurs di luaran. Apes deh.

Nah, barusan saat iseng-iseng mengecek simpanan di account PayPal, saya coba-coba withdraw. Benar-benar coba-coba seperti yang biasanya saya lakukan. Tapi begitu melihat kurs yang diberi PayPal sebesar Rp 9.340,56/dolar, tanpa pikir panjang langsung saya tarik dana itu. Saya tidak mau menahan dana itu lebih lama lagi karena khawatir kurs-nya justru anjlok lagi. Memang masih ada kemungkinan kurs tersebut bakal lebih tinggi lagi dari yang sekarang, tapi jujur saja saya tidak berani berspekulasi. Toh, besok sudah dapat bayaran lagi dari SponsoredReviews. Kalau misalnya kurs PayPal naik lagi berarti saya tetap bisa menikmatinya. Hehehe...

Ayo, kapan lagi mau menarik dana Anda dari PayPal? Mumpung kurs-nya sedang tinggi lho. Tidak percaya? Nih, kebetulan saya menyimpan screenshot dari cuurency converter-nya PayPal.



Catatan: Maaf, saya sedang tidak enak badan. Ini nekat online untuk garap paid review berhubung besok jadwal pembayaran komisi dari SponsoredReviews. Tahu kan maksudnya? Hehehe. So, maaf ya kalo postingnya masih ngaco kaya gini. :D

Tidak biasa-biasanya saya menulis judul yang provokatif seperti ini. Tapi ini hanya sebagai penegasan bagi Anda (terutama yang memiliki simpanan dana di PayPal) untuk segera menarik dana dari account PayPal Anda. Kenapa? Karena saat inilah waktu yang tepat untuk menarik dana Anda di PayPal ke Rupiah. Barusan saya iseng-iseng melakukan withdraw, dan ternyata kurs yang diberikan PayPal lumayan tinggi!

Saat terakhir withdraw bulan lalu, PayPal masih memberi kurs di bawah Rp 9000 per dolar. Tepatnya sekitar Rp 8900 sekian. Padahal kurs di luaran cukup tinggi, berkisar antara Rp 9200 sampai Rp 9300. Seiring dengan semakin terpuruknya perekonomian Amerika Serikat yang juga mempengaruhi perekonomian dunia, ternyata kurs dolar terhadap rupiah jadi semakin tinggi. Setidaknya versi PayPal yang kini memberi kurs Rp 9.340,56 per dolar. So, kalau Anda punya simpanan dana di PayPal, inilah saat yang tepat untuk menariknya ke dalam Rupiah!

Beberapa kali menarik dana dari PayPal ke Rupiah saya selalu menggerutu. Bagaimana tidak? Kurs di luaran selalu di atas Rp 9000, tapi PayPal tega-teganya hanya memberi kurs Rp 8900 selama berbulan-bulan sepanjang 2008 ini. Terakhir kali PayPal memberi kurs tinggi seingat saya cuma di awal-awal tahun ini, sekitar Rp 9400/dolar. Sayangnya waktu itu saya belum punya simpanan dana di PayPal karena memang belum punya penghasilan dari berbagai program online earning yang saya ikuti. Eh, begitu saya punya sedikit penghasilan dan ingin ditarik ke Rupiah, kurs jadi anjlok. PayPal selalu memberi kurs yang jauh lebih rendah dari kurs di luaran. Apes deh.

Nah, barusan saat iseng-iseng mengecek simpanan di account PayPal, saya coba-coba withdraw. Benar-benar coba-coba seperti yang biasanya saya lakukan. Tapi begitu melihat kurs yang diberi PayPal sebesar Rp 9.340,56/dolar, tanpa pikir panjang langsung saya tarik dana itu. Saya tidak mau menahan dana itu lebih lama lagi karena khawatir kurs-nya justru anjlok lagi. Memang masih ada kemungkinan kurs tersebut bakal lebih tinggi lagi dari yang sekarang, tapi jujur saja saya tidak berani berspekulasi. Toh, besok sudah dapat bayaran lagi dari SponsoredReviews. Kalau misalnya kurs PayPal naik lagi berarti saya tetap bisa menikmatinya. Hehehe...

Ayo, kapan lagi mau menarik dana Anda dari PayPal? Mumpung kurs-nya sedang tinggi lho. Tidak percaya? Nih, kebetulan saya menyimpan screenshot dari cuurency converter-nya PayPal.



Catatan: Maaf, saya sedang tidak enak badan. Ini nekat online untuk garap paid review berhubung besok jadwal pembayaran komisi dari SponsoredReviews. Tahu kan maksudnya? Hehehe. So, maaf ya kalo postingnya masih ngaco kaya gini. :D

06 Oktober 2008

Apa padanan yang tepat bagi profesi blogger? Sementara sebagian orang masih beranggapan blogger bukanlah sebuah profesi, atau paling tidak bukanlah profesi yang menjanjikan, beberapa yang lain malah memadankan blogger dengan entrepreneur. Alasannya, apa yang dikerjakan seorang blogger sama persis dengan entrepreneur.

Awalnya saya mengerutkan kening sewaktu membaca pendapat seorang rekan blogger yang mengatakan kalau ia lebih memilih menjadi blogger daripada melanjutkan pekerjaannya karena mengelola blog pada hakikatnya belajar menjadi seorang entrepreneur. Tapi setelah dipikir lebih dalam lagi, pendapat tersebut ternyata ada benarnya juga. Artinya, dengan menjadi blogger secara tidak sadar kita sedang melatih diri untuk menjadi seorang entrepreneur.

Kalau mau diambilkan satu padanan yang paling mendekati karakteristiknya, maka mengelola blog tidak beda dengan menjalankan satu perusahaan penerbitan. Lebih spesifiknya lagi penerbitan media cetak harian alias surat kabar. Ada beberapa persamaan yang membuat saya memadankan blog dengan surat kabar. Satu di antaranya adalah pola update-nya yang teratur secara berkala.

Sebuah surat kabar umumnya diterbitkan harian (seperti Kedaulatan Rakyat atau Kompas), dan ada juga yang terbit mingguan (seperti Minggu Pagi kalau di Jogja). Tidak peduli berapa lama jangka waktu update-nya, yang jelas surat kabar mesti terus menerbitkan edisi terbaru sesuai jadwal yang telah ditentukannya. Bila tidak, maka surat kabar tersebut dapat dikatakan mati dan ditinggalkan pembacanya.

Begitu juga dengan blog. Sebuah blog dikatakan hidup dan akan terus eksis jika (dan hanya jika) secara konsisten di-update dalam tenggat waktu yang telah ditentukan pemiliknya. Entah itu sehari di-update 3 kali (seperti yang dilakukan John Chow), sehari sekali, atau tiap beberapa hari sekali, yang jelas sebuah blog harus tetap di-update dan menyajikan artikel-artikel terbaru bagi pembacanya. Kalau tidak? Anda sudah tahu sendiri jawabannya.

Meng-update blog secara berkala bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Banyak blogger mengakui kalau tugas terberatnya adalah terus mencari bahan-bahan posting sebagai suguhan terbaru bagi pembaca blognya. Dibutuhkan disiplin dan juga konsistensi tinggi untuk melakukan ini terus-menerus. Selain itu juga harus didasari oleh satu tujuan atau goal yang ingin dicapai dengan blog tersebut. Tanpa itu semua, memikirkan apa yang akan dipublikasikan selanjutnya saja akan terasa sangat berat.

Pemilik blog, sebagaimana pengelola surat kabar, juga harus berupaya keras memberikan yang terbaik bagi pembacanya. Baik tulisan maupun tampilan blog mesti dibuat sedemikian rupa agar menarik minat pembaca sekaligus membuat pembaca mau datang kembali dan akhirnya memilih menjadi pelanggan tetap. Memperhatikan kualitas tulisan dan juga tampilan ini akan jadi lebih penting lagi ketika blog sudah nenpunyai pengiklan. Sebab kalau sampai blog tidak lagi menarik bagi pembaca, bisa dipastikan trafik akan menurun. Dan pengiklan tidak mau memasang promosinya di blog yang sepi pengunjung.

Di titik ini, blogger sudah dapat disamakan dengan entrepreneur karena terus-menerus mencari ide-ide segar serta mencoba berbagai terobosan untuk dapat tetap eksis serta memenangkan ketatnya persaingan. Karena itu dalam perjalanannya baik blogger maupun entrepreneur harus senantiasa kreatif dan inovatif agar terus berkembang mejadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Bagaimana pendapat Anda?


Catatan: Artikel ini saya buat sewaktu sedang berlibur di tempat calon mertua di Pemalang. Rencananya akan diposting Sabtu, 4 Oktober, lalu. Tapi karena sampai saya pulang ke Jogja tidak ada warnet yang buka, maka baru bisa diposting sekarang. Dan habis ini saya mesti pergi lagi. Kali ini lebih jauh, ke Tangerang. Entah sampai kapan... :((

Apa padanan yang tepat bagi profesi blogger? Sementara sebagian orang masih beranggapan blogger bukanlah sebuah profesi, atau paling tidak bukanlah profesi yang menjanjikan, beberapa yang lain malah memadankan blogger dengan entrepreneur. Alasannya, apa yang dikerjakan seorang blogger sama persis dengan entrepreneur.

Awalnya saya mengerutkan kening sewaktu membaca pendapat seorang rekan blogger yang mengatakan kalau ia lebih memilih menjadi blogger daripada melanjutkan pekerjaannya karena mengelola blog pada hakikatnya belajar menjadi seorang entrepreneur. Tapi setelah dipikir lebih dalam lagi, pendapat tersebut ternyata ada benarnya juga. Artinya, dengan menjadi blogger secara tidak sadar kita sedang melatih diri untuk menjadi seorang entrepreneur.

Kalau mau diambilkan satu padanan yang paling mendekati karakteristiknya, maka mengelola blog tidak beda dengan menjalankan satu perusahaan penerbitan. Lebih spesifiknya lagi penerbitan media cetak harian alias surat kabar. Ada beberapa persamaan yang membuat saya memadankan blog dengan surat kabar. Satu di antaranya adalah pola update-nya yang teratur secara berkala.

Sebuah surat kabar umumnya diterbitkan harian (seperti Kedaulatan Rakyat atau Kompas), dan ada juga yang terbit mingguan (seperti Minggu Pagi kalau di Jogja). Tidak peduli berapa lama jangka waktu update-nya, yang jelas surat kabar mesti terus menerbitkan edisi terbaru sesuai jadwal yang telah ditentukannya. Bila tidak, maka surat kabar tersebut dapat dikatakan mati dan ditinggalkan pembacanya.

Begitu juga dengan blog. Sebuah blog dikatakan hidup dan akan terus eksis jika (dan hanya jika) secara konsisten di-update dalam tenggat waktu yang telah ditentukan pemiliknya. Entah itu sehari di-update 3 kali (seperti yang dilakukan John Chow), sehari sekali, atau tiap beberapa hari sekali, yang jelas sebuah blog harus tetap di-update dan menyajikan artikel-artikel terbaru bagi pembacanya. Kalau tidak? Anda sudah tahu sendiri jawabannya.

Meng-update blog secara berkala bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Banyak blogger mengakui kalau tugas terberatnya adalah terus mencari bahan-bahan posting sebagai suguhan terbaru bagi pembaca blognya. Dibutuhkan disiplin dan juga konsistensi tinggi untuk melakukan ini terus-menerus. Selain itu juga harus didasari oleh satu tujuan atau goal yang ingin dicapai dengan blog tersebut. Tanpa itu semua, memikirkan apa yang akan dipublikasikan selanjutnya saja akan terasa sangat berat.

Pemilik blog, sebagaimana pengelola surat kabar, juga harus berupaya keras memberikan yang terbaik bagi pembacanya. Baik tulisan maupun tampilan blog mesti dibuat sedemikian rupa agar menarik minat pembaca sekaligus membuat pembaca mau datang kembali dan akhirnya memilih menjadi pelanggan tetap. Memperhatikan kualitas tulisan dan juga tampilan ini akan jadi lebih penting lagi ketika blog sudah nenpunyai pengiklan. Sebab kalau sampai blog tidak lagi menarik bagi pembaca, bisa dipastikan trafik akan menurun. Dan pengiklan tidak mau memasang promosinya di blog yang sepi pengunjung.

Di titik ini, blogger sudah dapat disamakan dengan entrepreneur karena terus-menerus mencari ide-ide segar serta mencoba berbagai terobosan untuk dapat tetap eksis serta memenangkan ketatnya persaingan. Karena itu dalam perjalanannya baik blogger maupun entrepreneur harus senantiasa kreatif dan inovatif agar terus berkembang mejadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Bagaimana pendapat Anda?


Catatan: Artikel ini saya buat sewaktu sedang berlibur di tempat calon mertua di Pemalang. Rencananya akan diposting Sabtu, 4 Oktober, lalu. Tapi karena sampai saya pulang ke Jogja tidak ada warnet yang buka, maka baru bisa diposting sekarang. Dan habis ini saya mesti pergi lagi. Kali ini lebih jauh, ke Tangerang. Entah sampai kapan... :((

03 Oktober 2008

Pernah dengar nama Liew Cheon Fong? Belum? Sama dong kalau begitu. Hehehe… Nama ini pertama kali saya tahu saat membaca ebook Chitika BlogBash. Chitika menyebut Cheon Fong—atau biasa dikenal dengan nickname LcF, sebagai salah satu blogger populer di Asia Tenggara. Dan yang membuat saya kemudian mem-bookmark namanya di urutan pertama dalam ingatan saya adalah bahwa Cheon Fong tinggal di Malaysia.

Sebuah fakta menarik mengetahui Chitika mengundang seorang blogger Malaysia dalam proyeknya. Di ebook tersebut terdapat nama-nama besar seperti Darren Rowse, Joel Comm, Aaron Wall, Daniel Scocco, Chris Batty, Jay Brewer dan lain-lainnya yang sudah diakui sebagai master blogger. Itu artinya Cheon Fong adalah seorang blogger yang sudah diperhitungkan kemampuannya (setidaknya oleh Chitika) sehingga namanya terdaftar di antara para master blogger dunia. Hmmm, tentu Anda jadi penasaran sehebat apa sih si LcF ini, bukan?

Rupanya Cheon Fong memang bukan blogger sembarangan, Saudara-saudara. Ia tercatat sebagai fulltime blogger pertama di Malaysia. Maksudnya tentu saja orang yang bekerja dan menghasilkan uang semata-mata dengan blog. Nah, buat Anda yang berniat menjadi fulltime blogger, pengalaman Liew Cheon Fong ini patut disimak baik-baik.

Awalnya Cheon Fong adalah seorang programmer sekaligus webmaster profesional di sebuah perusahaan kosmetik lokal. Sejak tahun 2005 ia mengenal blog dan mengisi waktu luangnya untuk mengurus blog. Pertama-tama hanya iseng-iseng menyalurkan hobi. Seiring berjalannya waktu, ternyata dari blognya itu ia mampu memperoleh penghasilan sebanyak gaji bulanannya. Iapun mulai berpikir untuk keluar dari pekerjaan dan menekuni profesi sebagai fulltime blogger.

Sebuah pemikiran hebat. Tidak semua orang berani meninggalkan pekerjaan tetap dengan gaji rutin yang sudah pasti demi menjadi fulltime blogger, profesi yang sekilas pandang tidak begitu menjanjikan karena penghasilannya tidak jelas. Terlebih waktu itu blog dan blogging belum begitu populer di Malaysia. Namun Cheon Fong sudah bulat tekadnya. 18 Agustus 2005 ia menyatakan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, kemudian memfokuskan diri menjadi fulltime blogger sejak 9 September 2005.

Sudah bisa ditebak kalau kemudian Cheon Fong menerima banyak pertanyaan dari keluarga besarnya. Karena tak satupun anggota keluarganya yang paham apa itu blog, blogging, ataupun blogger, Cheon Fong hanya menjelaskan kalau ia ingin bekerja di rumah dengan memanfaatkan internet. Keluarganya mendukung keputusan tersebut meskipun tidak begitu mengerti apa maksud Cheon Fong. Lucunya, sampai saat inipun ibunya tidak mengerti apa yang dilakukan Cheon Fong sampai bisa menerima cek secara rutin setiap bulan. Hehehe, ada yang punya pengalaman serupa?

Jalan Cheon Fong tak selalu mulus. Ia justru menerima banyak komentar negatif dari pembaca blognya saat menceritakan niat tersebut. Beberapa orang menertawakan bahasa Inggris-nya yang masih berantakan, sementara sebagian lagi memintanya untuk bersikap reaslistis karena blogger bukanlah sebuah profesi ataupun pekerjaan. Cheon Fong tak terpengaruh. Ia menganggap komentar-komentar negatif itu sebagai angin lalu dan terus melangkah. Terbukti sekarang ia bisa hidup enak dengan penghasilan berlimpah sebagai fulltime blogger.

Kesuksesan Cheon Fong segera menginspirasi blogger-blogger Malaysia untuk mengikuti jejaknya. Meskipun diakuinya penghasilan dari blog masih belum begitu besar, namun Cheon Fong merasakan hidup sebagai fulltime blogger benar-benar menyenangkan. Tidak hanya jam kerja yang seenaknya, ia juga jadi memiliki banyak waktu luang bersama keluarga dan kebebasan untuk bepergian ke mana saja kapanpun. Hal ini tentu tidak mungkin ia dapatkan kalau masih menjadi karyawan.

Jujur saja, setelah membaca kisah ini saya jadi sangat termotivasi untuk menjadi fulltime blogger. Sayangnya hal tersebut belum bisa saya wujudkan sekarang karena masih harus membagi konsentrasi dan waktu dengan kuliah. Mudah-mudahan setelah lulus tahun depan saya bisa mulai menekuni "karir" sebagai fulltime blogger. Amin. Bagaimana dengan Anda?

Posting yang MIRIP 99.99%:
- Caksub Ingin Seperti Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia

Pernah dengar nama Liew Cheon Fong? Belum? Sama dong kalau begitu. Hehehe… Nama ini pertama kali saya tahu saat membaca ebook Chitika BlogBash. Chitika menyebut Cheon Fong—atau biasa dikenal dengan nickname LcF, sebagai salah satu blogger populer di Asia Tenggara. Dan yang membuat saya kemudian mem-bookmark namanya di urutan pertama dalam ingatan saya adalah bahwa Cheon Fong tinggal di Malaysia.

Sebuah fakta menarik mengetahui Chitika mengundang seorang blogger Malaysia dalam proyeknya. Di ebook tersebut terdapat nama-nama besar seperti Darren Rowse, Joel Comm, Aaron Wall, Daniel Scocco, Chris Batty, Jay Brewer dan lain-lainnya yang sudah diakui sebagai master blogger. Itu artinya Cheon Fong adalah seorang blogger yang sudah diperhitungkan kemampuannya (setidaknya oleh Chitika) sehingga namanya terdaftar di antara para master blogger dunia. Hmmm, tentu Anda jadi penasaran sehebat apa sih si LcF ini, bukan?

Rupanya Cheon Fong memang bukan blogger sembarangan, Saudara-saudara. Ia tercatat sebagai fulltime blogger pertama di Malaysia. Maksudnya tentu saja orang yang bekerja dan menghasilkan uang semata-mata dengan blog. Nah, buat Anda yang berniat menjadi fulltime blogger, pengalaman Liew Cheon Fong ini patut disimak baik-baik.

Awalnya Cheon Fong adalah seorang programmer sekaligus webmaster profesional di sebuah perusahaan kosmetik lokal. Sejak tahun 2005 ia mengenal blog dan mengisi waktu luangnya untuk mengurus blog. Pertama-tama hanya iseng-iseng menyalurkan hobi. Seiring berjalannya waktu, ternyata dari blognya itu ia mampu memperoleh penghasilan sebanyak gaji bulanannya. Iapun mulai berpikir untuk keluar dari pekerjaan dan menekuni profesi sebagai fulltime blogger.

Sebuah pemikiran hebat. Tidak semua orang berani meninggalkan pekerjaan tetap dengan gaji rutin yang sudah pasti demi menjadi fulltime blogger, profesi yang sekilas pandang tidak begitu menjanjikan karena penghasilannya tidak jelas. Terlebih waktu itu blog dan blogging belum begitu populer di Malaysia. Namun Cheon Fong sudah bulat tekadnya. 18 Agustus 2005 ia menyatakan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, kemudian memfokuskan diri menjadi fulltime blogger sejak 9 September 2005.

Sudah bisa ditebak kalau kemudian Cheon Fong menerima banyak pertanyaan dari keluarga besarnya. Karena tak satupun anggota keluarganya yang paham apa itu blog, blogging, ataupun blogger, Cheon Fong hanya menjelaskan kalau ia ingin bekerja di rumah dengan memanfaatkan internet. Keluarganya mendukung keputusan tersebut meskipun tidak begitu mengerti apa maksud Cheon Fong. Lucunya, sampai saat inipun ibunya tidak mengerti apa yang dilakukan Cheon Fong sampai bisa menerima cek secara rutin setiap bulan. Hehehe, ada yang punya pengalaman serupa?

Jalan Cheon Fong tak selalu mulus. Ia justru menerima banyak komentar negatif dari pembaca blognya saat menceritakan niat tersebut. Beberapa orang menertawakan bahasa Inggris-nya yang masih berantakan, sementara sebagian lagi memintanya untuk bersikap reaslistis karena blogger bukanlah sebuah profesi ataupun pekerjaan. Cheon Fong tak terpengaruh. Ia menganggap komentar-komentar negatif itu sebagai angin lalu dan terus melangkah. Terbukti sekarang ia bisa hidup enak dengan penghasilan berlimpah sebagai fulltime blogger.

Kesuksesan Cheon Fong segera menginspirasi blogger-blogger Malaysia untuk mengikuti jejaknya. Meskipun diakuinya penghasilan dari blog masih belum begitu besar, namun Cheon Fong merasakan hidup sebagai fulltime blogger benar-benar menyenangkan. Tidak hanya jam kerja yang seenaknya, ia juga jadi memiliki banyak waktu luang bersama keluarga dan kebebasan untuk bepergian ke mana saja kapanpun. Hal ini tentu tidak mungkin ia dapatkan kalau masih menjadi karyawan.

Jujur saja, setelah membaca kisah ini saya jadi sangat termotivasi untuk menjadi fulltime blogger. Sayangnya hal tersebut belum bisa saya wujudkan sekarang karena masih harus membagi konsentrasi dan waktu dengan kuliah. Mudah-mudahan setelah lulus tahun depan saya bisa mulai menekuni "karir" sebagai fulltime blogger. Amin. Bagaimana dengan Anda?

Posting yang MIRIP 99.99%:
- Caksub Ingin Seperti Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia