Selamat datang di ...

31 Januari 2009

Konon, rejeki itu seperti bayangan. Kalau kita diam rejeki tak akan datang, tapi kalau kita kejar dia juga ikut berlari. Pada akhirnya, semua tergantung konsistensi dan kegigihan kita dalam mengejar si rejeki. Kalau kita mandeg di tengah jalan, alamat rejeki tak bakal bisa diraih. Sebaliknya, kalau kita terus ngotot dan ngeyel, insya Allah rejeki bakal menghampiri.

Kurang-lebih inilah yang saya alami dalam berburu motor belum lama ini. Berhubung budget-nya amat sangat terbatas (maklum, blogger kere), maka saya cari motor jadul. Itupun second pula. Lagipula mana ada sih motor jadul yang masih baru? Hehehe... Nah, guna menekan agar biaya yang dikeluarkan tak melebihi budget, sayapun berburu motor ke Jakarta. Bukan saya yang pergi ke Jakarta lho, tapi lewat bantuan seorang teman yang adik iparnya buka showroom motor bekas di Jakarta. Dan berhubung saya sama sekali buta soal motor, saya serahkan urusan ini sepenuhnya pada si teman.

Dari awal teman saya mengincar Honda Grand. Kata teman saya mesin motor jenis ini terkenal bandel. Lagipula kata dia beli Honda Grand sama dengan beli emas karena harganya akan terus naik meski umurnya semakin tua. Saya manut saja. Alhamdulillah, koq kebetulan sekali motor yang diincar ada. Sayang, karena terjadi miskomunikasi antara saya dan si teman, motor tersebut terlebih dulu diambil orang. Nasib...

Kamipun menunggu kesempatan kedua datang. Sayang disayang, kami harus bersabar untuk waktu yang lama karena ternyata adik ipar teman saya tak juga mendapat Honda Grand. Ujung-ujungnya teman saya berubah pikiran. Kamipun sepakat mengambil jenis lain dan tak harus Honda Grand. Kebetulan pula adik ipar teman saya sudah punya dua stok yang tak kalah bagus, Honda Star dan Honda Prima. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pilihan jatuh pada Honda Prima. Uang saya tranfer dan motor lantas dititipkan ke perusahaan jasa pengiriman barang untuk dikirim ke Jogja.

Eh, koq ndilalah sampai 4 hari motor tersebut belum juga sampai di Jogja. Teman saya jadi bingung karena biasanya sehari sudah sampai. Alasan dari pihak jasa pengiriman, banjir di Jakarta membuat jadwal mereka kacau balau. Akibatnya motor yang saya pesan tak bisa langsung dikirim ke Jogja dan masih teronggok di gudang. Sialan, padahal saya sudah berangan-angan bakal punya motor sendiri dan tak perlu lagi mandi keringat saat ke kampus karena jalan kaki. Ternyata... :(

Kalau dulu di TVRI pernah ada sinetron berjudul "Sengsara Membawa Nikmat", maka pengalaman saya membeli motor sendiri untuk pertama kalinya ini juga bertema sama. Musibah banjir Jakarta yang menyebabkan keterlambatan pengiriman Honda Prima yang sudah saya bayar malah berbalik jadi berkah. Kenapa? Karena adik ipar teman saya menawarkan Honda Grand yang baru saja dia temukan. Jadi, Honda Prima-nya batal dikirim ke Jogja dan dijual ke orang lain, sementara saya dikirimi Honda Grand dengan sejumlah biaya tambahan. Kebetulan sekali Honda Prima tersebut sudah ada peminatnya. Kloplah sudah.

Begitulah. Kamis (29/1) kemarin motor tersebut tiba di Stasiun Tugu dengan menggunakan jasa Herona Ekspres. Sorenya langsung deh kami bongkar-bongkar untuk mengecek kondisinya. Alhamdulillah, untuk ukuran motor keluaran tahun 1993 secara umum kondisinya masih sangat bagus. Tebtu saja saya masih harus mengeluarkan dana tambahan untuk mengganti beberapa komponen yang sudah aus atau rusak. Namanya juga motor tua. Meski begitu saya senang sekali karena motor tersebut membuat iri teman-teman kos sesama pemakai motor jadul, bahkan para "pakar" motor kenalan teman saya. Mereka kompak bilang kalau saya beruntung bisa dapat motor tersebut dengan harga semurah itu. Saya yang tidak tahu-menahu tentang motor ini cuma bisa senyum-senyum saja menanggapinya.

Itulah, kalau memang sudah rejeki tak akan lari koq. Iya kan?

Konon, rejeki itu seperti bayangan. Kalau kita diam rejeki tak akan datang, tapi kalau kita kejar dia juga ikut berlari. Pada akhirnya, semua tergantung konsistensi dan kegigihan kita dalam mengejar si rejeki. Kalau kita mandeg di tengah jalan, alamat rejeki tak bakal bisa diraih. Sebaliknya, kalau kita terus ngotot dan ngeyel, insya Allah rejeki bakal menghampiri.

Kurang-lebih inilah yang saya alami dalam berburu motor belum lama ini. Berhubung budget-nya amat sangat terbatas (maklum, blogger kere), maka saya cari motor jadul. Itupun second pula. Lagipula mana ada sih motor jadul yang masih baru? Hehehe... Nah, guna menekan agar biaya yang dikeluarkan tak melebihi budget, sayapun berburu motor ke Jakarta. Bukan saya yang pergi ke Jakarta lho, tapi lewat bantuan seorang teman yang adik iparnya buka showroom motor bekas di Jakarta. Dan berhubung saya sama sekali buta soal motor, saya serahkan urusan ini sepenuhnya pada si teman.

Dari awal teman saya mengincar Honda Grand. Kata teman saya mesin motor jenis ini terkenal bandel. Lagipula kata dia beli Honda Grand sama dengan beli emas karena harganya akan terus naik meski umurnya semakin tua. Saya manut saja. Alhamdulillah, koq kebetulan sekali motor yang diincar ada. Sayang, karena terjadi miskomunikasi antara saya dan si teman, motor tersebut terlebih dulu diambil orang. Nasib...

Kamipun menunggu kesempatan kedua datang. Sayang disayang, kami harus bersabar untuk waktu yang lama karena ternyata adik ipar teman saya tak juga mendapat Honda Grand. Ujung-ujungnya teman saya berubah pikiran. Kamipun sepakat mengambil jenis lain dan tak harus Honda Grand. Kebetulan pula adik ipar teman saya sudah punya dua stok yang tak kalah bagus, Honda Star dan Honda Prima. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya pilihan jatuh pada Honda Prima. Uang saya tranfer dan motor lantas dititipkan ke perusahaan jasa pengiriman barang untuk dikirim ke Jogja.

Eh, koq ndilalah sampai 4 hari motor tersebut belum juga sampai di Jogja. Teman saya jadi bingung karena biasanya sehari sudah sampai. Alasan dari pihak jasa pengiriman, banjir di Jakarta membuat jadwal mereka kacau balau. Akibatnya motor yang saya pesan tak bisa langsung dikirim ke Jogja dan masih teronggok di gudang. Sialan, padahal saya sudah berangan-angan bakal punya motor sendiri dan tak perlu lagi mandi keringat saat ke kampus karena jalan kaki. Ternyata... :(

Kalau dulu di TVRI pernah ada sinetron berjudul "Sengsara Membawa Nikmat", maka pengalaman saya membeli motor sendiri untuk pertama kalinya ini juga bertema sama. Musibah banjir Jakarta yang menyebabkan keterlambatan pengiriman Honda Prima yang sudah saya bayar malah berbalik jadi berkah. Kenapa? Karena adik ipar teman saya menawarkan Honda Grand yang baru saja dia temukan. Jadi, Honda Prima-nya batal dikirim ke Jogja dan dijual ke orang lain, sementara saya dikirimi Honda Grand dengan sejumlah biaya tambahan. Kebetulan sekali Honda Prima tersebut sudah ada peminatnya. Kloplah sudah.

Begitulah. Kamis (29/1) kemarin motor tersebut tiba di Stasiun Tugu dengan menggunakan jasa Herona Ekspres. Sorenya langsung deh kami bongkar-bongkar untuk mengecek kondisinya. Alhamdulillah, untuk ukuran motor keluaran tahun 1993 secara umum kondisinya masih sangat bagus. Tebtu saja saya masih harus mengeluarkan dana tambahan untuk mengganti beberapa komponen yang sudah aus atau rusak. Namanya juga motor tua. Meski begitu saya senang sekali karena motor tersebut membuat iri teman-teman kos sesama pemakai motor jadul, bahkan para "pakar" motor kenalan teman saya. Mereka kompak bilang kalau saya beruntung bisa dapat motor tersebut dengan harga semurah itu. Saya yang tidak tahu-menahu tentang motor ini cuma bisa senyum-senyum saja menanggapinya.

Itulah, kalau memang sudah rejeki tak akan lari koq. Iya kan?

27 Januari 2009

Kalau sahabat kita Putra Eka sempat menjuduli blognya dengan jargon "Indahnya Berbagi" (kini jadi "Indahnya Berbagi Ilmu"), pada kenyataannya berbagi itu tidak seindah yang dibayangkan. Paling tidak ini dirasakan oleh beberapa blogger senior yang mengalami betapa pahitnya berbagi. Mereka tak mengharap ucapan terima kasih, tapi justru ditikam dari belakang dan dihancurkan pelan-pelan secara pengecut.

Ngeri? Itulah yang terjadi. Suatu malam Bang Zalukhu menelpon saya dan cerita kalau ia sudah pamit mundur dari blogosphere Indonesia. Saya jelas kaget. Masa iya perjuangan yang dilakukannya selama tahun 2008 lalu harus sia-sia? Akhirnya setelah mendengar cerita Bang Zal, saya baru mengerti betapa susahnya jadi orang baik di blogosphere lokal. Turut cerita Bang Zal, ia sudah kena "dikerjai" oknum yang tidak bertanggungjawab sehingga membuat jalur rejeki online-nya putus dan terancam mati. Akhirnya, Bang Zal-pun tidak tahan lagi dan memilih mundur.

Beginikah akhir blogger-blogger yang telah dengan tulus hati berbagi ilmu? Sebelum Bang Zalukhu kita tentu ingat Cosa Aranda yang tiba-tiba menghilang tak tentu rimbanya. Sebelum menghilang dari peredaran, Cosa pernah juga dikerjai oleh oknum tidak bertanggungjawab. Yang akun PayPal-nya dibuat limited gara-gara dikirimi dana berkarung-karung, yang artikel-artikel dikopas sampai ada yang membuatnya menjadi buku, dan terakhir situs-situsnya di-hack. CosaAranda.com termasuk di dalamnya. Entah karena sakit hati atau lelah menghadapi teror semacam itu, akhirnya Cosa memilih mundur teratur dari jagat maya.

Satu lagi, Putra Eka aka Paman Gober juga sempat dimaki-maki secara pengecut. Entah apa motifnya, namun tindakan seperti itu tentu sangat kekanak-kanakan sekali. Kalau memang tidak suka, kenapa tidak bilang terus terang? Hal ini juga saya alami sendiri dengan banyaknya komentar miring menjurus kasar tapi anonim. Pffiuh...

Demikian susahnyakah menjadi blogger yang ingin berbagi secara tulus? Mengapa ada saja orang-orang yang tidak senang dengan blogger seperti Cosa Aranda dan Augusman Zalukhu? Apa yang menyebabkan blogger-blogger senior seperti mereka berdua "dihabisi" secara pengecut? Hanya oknum-oknum tidak bertanggungjawab itu saja yang tahu jawabannya. Yang jelas, kalau begini kejadiannya berarti blogosphere Indonesia tidak sehat. Sifat maya internet ternyata disalahgunakan sebagian orang untuk menyerang blogger yang dianggapnya membahayakan secara pengecut. Bagaimana mau maju kalau bersaing saja tidak berani?

Ah, blogger Indonesia. Di saat orang di luar lingkunganmu memandang takjub akan pertumbuhan jumlah dan banyaknya dolar yang kau hasilkan dari blog, dirimu sendiri malah terancam dalam intaian orang-orang kerdil yang takut bisnisnya hancur karena kerelaanmu berbagi pada sesama. Nasib...

Numpang Promosi: Bete baca posting ini? Buat yang tinggal di Yogya silakan keliling ke agen-agen koran di daerah Jl. Kaliurang, UGM, Malioboro, atau Stasiun Tugu dan Lempuyangan. Cari deh mingguan Malioboro Ekspres edisi terbaru. Di sana banyak tulisan ringan dan menghibur, termasuk juga tulisan saya. Hehehe....

Kalau sahabat kita Putra Eka sempat menjuduli blognya dengan jargon "Indahnya Berbagi" (kini jadi "Indahnya Berbagi Ilmu"), pada kenyataannya berbagi itu tidak seindah yang dibayangkan. Paling tidak ini dirasakan oleh beberapa blogger senior yang mengalami betapa pahitnya berbagi. Mereka tak mengharap ucapan terima kasih, tapi justru ditikam dari belakang dan dihancurkan pelan-pelan secara pengecut.

Ngeri? Itulah yang terjadi. Suatu malam Bang Zalukhu menelpon saya dan cerita kalau ia sudah pamit mundur dari blogosphere Indonesia. Saya jelas kaget. Masa iya perjuangan yang dilakukannya selama tahun 2008 lalu harus sia-sia? Akhirnya setelah mendengar cerita Bang Zal, saya baru mengerti betapa susahnya jadi orang baik di blogosphere lokal. Turut cerita Bang Zal, ia sudah kena "dikerjai" oknum yang tidak bertanggungjawab sehingga membuat jalur rejeki online-nya putus dan terancam mati. Akhirnya, Bang Zal-pun tidak tahan lagi dan memilih mundur.

Beginikah akhir blogger-blogger yang telah dengan tulus hati berbagi ilmu? Sebelum Bang Zalukhu kita tentu ingat Cosa Aranda yang tiba-tiba menghilang tak tentu rimbanya. Sebelum menghilang dari peredaran, Cosa pernah juga dikerjai oleh oknum tidak bertanggungjawab. Yang akun PayPal-nya dibuat limited gara-gara dikirimi dana berkarung-karung, yang artikel-artikel dikopas sampai ada yang membuatnya menjadi buku, dan terakhir situs-situsnya di-hack. CosaAranda.com termasuk di dalamnya. Entah karena sakit hati atau lelah menghadapi teror semacam itu, akhirnya Cosa memilih mundur teratur dari jagat maya.

Satu lagi, Putra Eka aka Paman Gober juga sempat dimaki-maki secara pengecut. Entah apa motifnya, namun tindakan seperti itu tentu sangat kekanak-kanakan sekali. Kalau memang tidak suka, kenapa tidak bilang terus terang? Hal ini juga saya alami sendiri dengan banyaknya komentar miring menjurus kasar tapi anonim. Pffiuh...

Demikian susahnyakah menjadi blogger yang ingin berbagi secara tulus? Mengapa ada saja orang-orang yang tidak senang dengan blogger seperti Cosa Aranda dan Augusman Zalukhu? Apa yang menyebabkan blogger-blogger senior seperti mereka berdua "dihabisi" secara pengecut? Hanya oknum-oknum tidak bertanggungjawab itu saja yang tahu jawabannya. Yang jelas, kalau begini kejadiannya berarti blogosphere Indonesia tidak sehat. Sifat maya internet ternyata disalahgunakan sebagian orang untuk menyerang blogger yang dianggapnya membahayakan secara pengecut. Bagaimana mau maju kalau bersaing saja tidak berani?

Ah, blogger Indonesia. Di saat orang di luar lingkunganmu memandang takjub akan pertumbuhan jumlah dan banyaknya dolar yang kau hasilkan dari blog, dirimu sendiri malah terancam dalam intaian orang-orang kerdil yang takut bisnisnya hancur karena kerelaanmu berbagi pada sesama. Nasib...

Numpang Promosi: Bete baca posting ini? Buat yang tinggal di Yogya silakan keliling ke agen-agen koran di daerah Jl. Kaliurang, UGM, Malioboro, atau Stasiun Tugu dan Lempuyangan. Cari deh mingguan Malioboro Ekspres edisi terbaru. Di sana banyak tulisan ringan dan menghibur, termasuk juga tulisan saya. Hehehe....

20 Januari 2009

Beberapa pertanyaan seputar Ask2Link sempat menumpuk di mailbox saya. Karena akhir-akhir ini hanya bisa ol sebentar sekali (paling lama 2 jam, padahal sebelumnya bisa sampai 5-6 jam sehari lho), maka pertanyaan-pertanyaan itu hanya tetap tertumpuk saja di mailbox. Dan hari ini saya luangkan sedikit waktu khusus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang program Ask2Link tersebut. Mumpung waktunya ada. Hehehe...

Dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk, sebagian besar merupakan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sudah pernah saya tulis sebelumnya. Seperti penjelasan singkat tentang program Ask2Link di posting ini, atau bukti pembayaran dari Ask2Link yang pernah saya terima di posting yang ini. Pertanyaan yang memang belum pernah saya bahas memang ada, tapi sebenarnya jawabannya bisa dicari di situs Ask2Link koq. Cuma tak apa-apalah, biar saya bahas di sini meskipun hanya sekilas.

Untuk bisa mencicipi manisnya penghasilan dari Ask2Link, pertama-tama tentu kita mesti daftar sebagai member. Pertama kita mendatarkan diri dan mengisi data-data pribadi seperti nama, alamat e-mail, username, password, account PayPal, dan mau jadi Publisher, Advertiser, atau dua-duanya, Setelah itu tunggu deh approval dari admin Ask2Link. Tapi biasanya sih langsung diterima, paling cuma harus menunggu beberapa jam atau paling lama sehari.

Nah, setelah mendaftarkan diri langkah selanjutnya adalah mendaftarkan blog yang akan dijadikan tempat memasang link-link dari advertiser. Blog berbahasa apa saja terserah, yang penting peringkat (Technorati, Alexa, page rank, dll) dan popularitasnya tidak begitu mengecewakan. Tahu sendiri kan kalau jualan link itu modalnya peringkat dan popularitas tinggi? Jadi ya sebisa mungkin daftarkan blog yang paling tinggi peringkatnya dan paling bagus popularitasnya. Tapi jangan kaget kalau sewaktu-waktu kena gebuk Om Google. Hehehe...

Setelah mendaftarkan blog apa lagi? Saatnya memasang widget Ask2Link ke blog yang didaftarkan..! Untuk itu silakan login ke member area, lalu klik deh menu "Publisher". Habis itu klik sub menu "My Sites". Kalau Anda belum pernah mendaftarkan blog, maka Anda bisa mendaftarkan blog melalui halaman itu. Tapi kalau sudah tinggal menginstal saja. Caranya gampang koq. Orang cuma butuh satu klik dan petunjuknya ada di halaman itu juga. Asal Anda teliti dan sabar pasti bisa. Dijamin! :))

Setelah widget Ask2Link terpasang di blog, berarti Anda tinggal menunggu iklan link yang masuk. Tidak ada patokan waktu yang pasti berapa lama kita bakal dapat iklan. Tapi (lagi-lagi) kuncinya memang harus sabar deh. Saya sendiri kebetulan termasuk cepat mendapat iklan, meskipun harganya cuma $8/link. Ada teman lain yang sudah berbulan-bulan pasang widget masih juga belum dapat iklan. Jadi ya memang lain-lain, tergantung bagaimana kita memoles dan merawat blog yang didaftarkan.

Oke, sepertinya itu saja ya. Mudah-mudahan posting ini dapat membantu teman-teman yang masih bingung dengan tata cara berburu uang melalui Ask2Link.

Beberapa pertanyaan seputar Ask2Link sempat menumpuk di mailbox saya. Karena akhir-akhir ini hanya bisa ol sebentar sekali (paling lama 2 jam, padahal sebelumnya bisa sampai 5-6 jam sehari lho), maka pertanyaan-pertanyaan itu hanya tetap tertumpuk saja di mailbox. Dan hari ini saya luangkan sedikit waktu khusus untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang program Ask2Link tersebut. Mumpung waktunya ada. Hehehe...

Dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk, sebagian besar merupakan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sudah pernah saya tulis sebelumnya. Seperti penjelasan singkat tentang program Ask2Link di posting ini, atau bukti pembayaran dari Ask2Link yang pernah saya terima di posting yang ini. Pertanyaan yang memang belum pernah saya bahas memang ada, tapi sebenarnya jawabannya bisa dicari di situs Ask2Link koq. Cuma tak apa-apalah, biar saya bahas di sini meskipun hanya sekilas.

Untuk bisa mencicipi manisnya penghasilan dari Ask2Link, pertama-tama tentu kita mesti daftar sebagai member. Pertama kita mendatarkan diri dan mengisi data-data pribadi seperti nama, alamat e-mail, username, password, account PayPal, dan mau jadi Publisher, Advertiser, atau dua-duanya, Setelah itu tunggu deh approval dari admin Ask2Link. Tapi biasanya sih langsung diterima, paling cuma harus menunggu beberapa jam atau paling lama sehari.

Nah, setelah mendaftarkan diri langkah selanjutnya adalah mendaftarkan blog yang akan dijadikan tempat memasang link-link dari advertiser. Blog berbahasa apa saja terserah, yang penting peringkat (Technorati, Alexa, page rank, dll) dan popularitasnya tidak begitu mengecewakan. Tahu sendiri kan kalau jualan link itu modalnya peringkat dan popularitas tinggi? Jadi ya sebisa mungkin daftarkan blog yang paling tinggi peringkatnya dan paling bagus popularitasnya. Tapi jangan kaget kalau sewaktu-waktu kena gebuk Om Google. Hehehe...

Setelah mendaftarkan blog apa lagi? Saatnya memasang widget Ask2Link ke blog yang didaftarkan..! Untuk itu silakan login ke member area, lalu klik deh menu "Publisher". Habis itu klik sub menu "My Sites". Kalau Anda belum pernah mendaftarkan blog, maka Anda bisa mendaftarkan blog melalui halaman itu. Tapi kalau sudah tinggal menginstal saja. Caranya gampang koq. Orang cuma butuh satu klik dan petunjuknya ada di halaman itu juga. Asal Anda teliti dan sabar pasti bisa. Dijamin! :))

Setelah widget Ask2Link terpasang di blog, berarti Anda tinggal menunggu iklan link yang masuk. Tidak ada patokan waktu yang pasti berapa lama kita bakal dapat iklan. Tapi (lagi-lagi) kuncinya memang harus sabar deh. Saya sendiri kebetulan termasuk cepat mendapat iklan, meskipun harganya cuma $8/link. Ada teman lain yang sudah berbulan-bulan pasang widget masih juga belum dapat iklan. Jadi ya memang lain-lain, tergantung bagaimana kita memoles dan merawat blog yang didaftarkan.

Oke, sepertinya itu saja ya. Mudah-mudahan posting ini dapat membantu teman-teman yang masih bingung dengan tata cara berburu uang melalui Ask2Link.

17 Januari 2009

Setelah mengkritik Mas Cosa yang sudah lamaaaaaaa sekali tidak update blog-nya, lha koq malah saya yang kemudian ketularan. Terakhir update tanggal 9 Desember, berarti sudah lebih seminggu saya tidak menelurkan tulisan terbaru di blog saya tercinta ini. Ada apa sih? Tidak ada apa-apa, hanya sedikit perubahan ritme akibat fokus saya yang terbagi untuk magang di Malioboro Ekspres (ME).

Di ME saya memang hanya magang iseng. Artinya, sewaktu-waktu saya tinggalpun sebenarnya tidak jadi masalah. Apalagi saya masih harus mencari satu tempat magang lain yang lebih bonafit untuk kepentingan Tugas Akhir (TA). Tapi kesempatan besar di ME tidak boleh saya abaikan. Dengan ME saya bisa meretas jalan menuju ke dunia baru yang sesungguhnya sudah saya idam-idamkan sejak masih di SMP: menjadi jurnalis. So, sayang sekali kalau saya sampai keluar dari ME.

Memang, ME masih tergolong baru. Produksi dan peredarannyapun masih sangat terbatas. Jadi saya harus maklum kalau narasumber yang saya datangi selalu bertanya keheranan "Malioboro Ekspres? Koran apa itu?" sebelum bisa saya wawancarai. Toh, dengan ME saya jadi punya banyak pengalaman berharga plus kenalan baru yang akan sangat memudahkan kerja saya jika kelak benar-benar memutuskan untuk terjun sebagai seorang jurnalis.

Oke, sekarang tentang blog ini. Bagaimana bisa sampai seminggu lebih tidak di-update? Sampai-sampai Mas Ipung menanyakan kabar saya di posting sebelumnya, mungkin ia khawatir saya kenapa-napa yang menjadi halangan untuk meng-update blog. Terima kasih banyak atas perhatiannya, Mas Ipung. Saya sehat-sehat saja koq. Malah saya sering keliling-keliling Jogja untuk mencari bahan tulisan di ME. Dan rasanya kesibukan mencari bahan tulisan itulah yang bakal saya jadikan sebagai kambing hitam atas lamanya blog ini tidak di-update. Hehehe....

Ya, harus saya akui ritme di ME sangat mempengaruhi keluangan waktu saya akhir-akhir ini. Dengan intensitas kuliah yang semakin padat menjelang UAS, dan deadline setiap hari Jumat di ME, praktis saya hanya punya waktu sempit sekali untuk meng-update blog dan blogwalking. Sering saya pulang ke kost dalam keadaan letih dan ngantuk berat. Akhirnya, baru mendengarkan satu-dua lagu sambil menunggu Broom tersambung, sayanya sudah tertidur. Begitu bangun hari sudah terang dan saya harus kembali keluar, kuliah dan mencari bahan tulisan untuk ME lagi. Wow!

Oya, kenapa saya sampai begitu kedodoran sebenarnya masih ada satu faktor lain: karena saya belum punya kendaraan sendiri. Maklum, blogger kere. Kemana-mana ya ngebis sama nebeng teman. Hehehe... Padahal kalau punya kendaraan sendiri kan bisa lebih menghemat waktu, tenaga, sekaligus juga biaya. Iya kan? Sayang penghasilan saya dari blog justru kian turun dari bulan ke bulan, jadinya ya kaya gini deh. :(

Oops, koq malah berkeluh-kesah begini ya? Intinya, saya masih kelabakan dengan ritme dan kesibukan baru saya belakangan ini. Mudah-mudahan saja setelah motor jadul yang saya beli seharga Rp 4 juta sudah sampai di tangan, saya bisa punya banyak waktu luang. Amin.

Itu saja. Mohon dukungan semua teman-teman agar saya bisa membagi waktu dengan baik sehingga blog ini dapat saya upate secara teratur. Trims...

Setelah mengkritik Mas Cosa yang sudah lamaaaaaaa sekali tidak update blog-nya, lha koq malah saya yang kemudian ketularan. Terakhir update tanggal 9 Desember, berarti sudah lebih seminggu saya tidak menelurkan tulisan terbaru di blog saya tercinta ini. Ada apa sih? Tidak ada apa-apa, hanya sedikit perubahan ritme akibat fokus saya yang terbagi untuk magang di Malioboro Ekspres (ME).

Di ME saya memang hanya magang iseng. Artinya, sewaktu-waktu saya tinggalpun sebenarnya tidak jadi masalah. Apalagi saya masih harus mencari satu tempat magang lain yang lebih bonafit untuk kepentingan Tugas Akhir (TA). Tapi kesempatan besar di ME tidak boleh saya abaikan. Dengan ME saya bisa meretas jalan menuju ke dunia baru yang sesungguhnya sudah saya idam-idamkan sejak masih di SMP: menjadi jurnalis. So, sayang sekali kalau saya sampai keluar dari ME.

Memang, ME masih tergolong baru. Produksi dan peredarannyapun masih sangat terbatas. Jadi saya harus maklum kalau narasumber yang saya datangi selalu bertanya keheranan "Malioboro Ekspres? Koran apa itu?" sebelum bisa saya wawancarai. Toh, dengan ME saya jadi punya banyak pengalaman berharga plus kenalan baru yang akan sangat memudahkan kerja saya jika kelak benar-benar memutuskan untuk terjun sebagai seorang jurnalis.

Oke, sekarang tentang blog ini. Bagaimana bisa sampai seminggu lebih tidak di-update? Sampai-sampai Mas Ipung menanyakan kabar saya di posting sebelumnya, mungkin ia khawatir saya kenapa-napa yang menjadi halangan untuk meng-update blog. Terima kasih banyak atas perhatiannya, Mas Ipung. Saya sehat-sehat saja koq. Malah saya sering keliling-keliling Jogja untuk mencari bahan tulisan di ME. Dan rasanya kesibukan mencari bahan tulisan itulah yang bakal saya jadikan sebagai kambing hitam atas lamanya blog ini tidak di-update. Hehehe....

Ya, harus saya akui ritme di ME sangat mempengaruhi keluangan waktu saya akhir-akhir ini. Dengan intensitas kuliah yang semakin padat menjelang UAS, dan deadline setiap hari Jumat di ME, praktis saya hanya punya waktu sempit sekali untuk meng-update blog dan blogwalking. Sering saya pulang ke kost dalam keadaan letih dan ngantuk berat. Akhirnya, baru mendengarkan satu-dua lagu sambil menunggu Broom tersambung, sayanya sudah tertidur. Begitu bangun hari sudah terang dan saya harus kembali keluar, kuliah dan mencari bahan tulisan untuk ME lagi. Wow!

Oya, kenapa saya sampai begitu kedodoran sebenarnya masih ada satu faktor lain: karena saya belum punya kendaraan sendiri. Maklum, blogger kere. Kemana-mana ya ngebis sama nebeng teman. Hehehe... Padahal kalau punya kendaraan sendiri kan bisa lebih menghemat waktu, tenaga, sekaligus juga biaya. Iya kan? Sayang penghasilan saya dari blog justru kian turun dari bulan ke bulan, jadinya ya kaya gini deh. :(

Oops, koq malah berkeluh-kesah begini ya? Intinya, saya masih kelabakan dengan ritme dan kesibukan baru saya belakangan ini. Mudah-mudahan saja setelah motor jadul yang saya beli seharga Rp 4 juta sudah sampai di tangan, saya bisa punya banyak waktu luang. Amin.

Itu saja. Mohon dukungan semua teman-teman agar saya bisa membagi waktu dengan baik sehingga blog ini dapat saya upate secara teratur. Trims...

09 Januari 2009

Untuk kepentingan peliputan rubrik olahraga di Malioboro Ekspres, saya janjian bertemu dengan Mbak Deni Aryanti. Siapa dia? Mbak yang satu ini adalah pentolan Slemanona, wadah supporter wanita PSS Sleman. Setelah berkoordinasi panjang melalui serangkaian sms, akhirnya kami sepakat untuk bertemu di Kedai Kopi yang berada di perempatan Kentungan, Jl. Kaliurang. Dari janji jam tujuh malam, bincang-bincang baru dimulai jam setengah delapan. Sudah biasa. :)

Ketertarikan saya menemui Mbak Ined (sapaan akrabnya) bermula dari situs SaveOurPSS.com. Ceritanya waktu sedang mencari-cari referensi tentang PSS Sleman saya malah menemui situs baru tersebut. Tanpa pikir panjang lagi langsung saja saya kunjungi. Dari nama situsnya, sepertinya bakal cocok dengan tema tulisan yang akan saya angkat untuk edisi mendatang. Ternyata dugaan saya benar. Save Our PSS adalah sebuah gerakan untuk menyelamatkan PSS Sleman dari kebangkrutan.

Seperti diketahui bersama, sejak pemerintah mengeluarkan PP No. 58 Tahun 2008, klub-klub yang selama ini mengandalkan APBD sebagai sumber pendanaan mulai kelimpungan. Terlebih setelah Menteri Dalam Negeri menyatakan kepala daerah yang nekat mengalirkan dana APBD untuk pembiayaan klub dapat dikenai sanksi. PSS yang biasanya memperoleh dana 5 milyar dari APBD jadi gigit jari. Gaji pemain tertunda, kontrak tidak jelas, pendanaan untuk putaran keduapun masih gelap.

Melihat kondisi itu koran-koran lokal di Jogja mulai meramalkan kejatuhan PSS. Judul berita yang disajikan tak jauh-jauh dari kata "PSS bangkrut", dan sebagainya. Okezone.com bahkan mempertanyakan eksistensi PSS ketika menurunkan berita tentang ditolaknya permohonan Kantor Keuangan Pemkab Sleman yang meminta dispensasi dari Mendagri untuk mengucurkan dana ke PSS. Intinya, PSS Sleman benar-benar di ujung tanduk, baik eksistensi maupun reputasinya.

Mulanya saya diminta untuk mengurai kebangkrutan PSS tersebut. Namun di tengah pencarian referensi koq malah bertemu dengan Save Our PSS (SOP). Ya sudah, karena bagi saya gerakan SOP ini sangat kreatif dan juga bisa menjadi inspirasi bagi kelompok suporter lain di Jogja, akhirnya saya memutuskan untuk terlebih dahulu mengangkat tentang SOP. Kebetulan sekali, saya adalah (calon) wartawan pertama yang mendatangi SOP. Dan kalau hasil liputan tersebut dimuat, maka Malioboro Ekspres akan jadi koran pertama yang mengangkat tentang SOP. Senangnya...

Sesuai namanya, misi SOP adalah menyelamatkan PSS agar tetap eksis di Liga Indonesia. Program yang digawangi anak-anak Slemania ini bertujuan menggalang dana sebanyak-banyaknya untuk PSS. Berbagai macam kegiatan sudah mereka susun. Di antaranya mengadakan lomba mewarnai untuk anak SD & TK, lomba futsal antar SMA, lomba desain kaos PSS untuk mahasiswa, talkshow sepakbola, dan masih banyak lagi. Saat ini yang sudah berjalan adalah penjualan kaos 'Save Our PSS'. Saking cintanya pada PSS, teman-teman SOP rela patungan untuk biaya pencetakan kaos. Luar biasa!

Saya pikir semua kelompok suporter di Indonesia patut mencontoh apa yang dilakukan Slemania dengan Save Our PSS-nya. Bukankah sebagian besar klub di Liga Indonesia masih mengandalkan dana APBD? Buktikan kalau suporter itu benar-benar dapat memberikan support bagi klub. Dan buktikan pula kalau sebagai pendukung setia kelompok suporter dapat melakukan apa saja demi mempertahankan keberlangsungan hidup klub kesayangannya. So, apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu klub kesayangan Anda dari kebangkrutan?

Oya, hasil liputan saya bisa dibaca di Malioboro Ekspres edisi minggu depan, terbit hari Senin dan dijual eceran seharga Rp 2.000/eks. Baca ya? :))

Pesan layanan masyarakat: Kaos 'Save Our PSS' bisa dibeli seharga Rp 50.000 di Toko Sport Fina, Jl. Kentungan B 27 KM 6,5 Condongcatur, Depok, Sleman. Lokasinya tepat di sebelah selatan lapangan Kentungan. Kalau masih bingung silakan telpon ke (0274) 886241.

Untuk kepentingan peliputan rubrik olahraga di Malioboro Ekspres, saya janjian bertemu dengan Mbak Deni Aryanti. Siapa dia? Mbak yang satu ini adalah pentolan Slemanona, wadah supporter wanita PSS Sleman. Setelah berkoordinasi panjang melalui serangkaian sms, akhirnya kami sepakat untuk bertemu di Kedai Kopi yang berada di perempatan Kentungan, Jl. Kaliurang. Dari janji jam tujuh malam, bincang-bincang baru dimulai jam setengah delapan. Sudah biasa. :)

Ketertarikan saya menemui Mbak Ined (sapaan akrabnya) bermula dari situs SaveOurPSS.com. Ceritanya waktu sedang mencari-cari referensi tentang PSS Sleman saya malah menemui situs baru tersebut. Tanpa pikir panjang lagi langsung saja saya kunjungi. Dari nama situsnya, sepertinya bakal cocok dengan tema tulisan yang akan saya angkat untuk edisi mendatang. Ternyata dugaan saya benar. Save Our PSS adalah sebuah gerakan untuk menyelamatkan PSS Sleman dari kebangkrutan.

Seperti diketahui bersama, sejak pemerintah mengeluarkan PP No. 58 Tahun 2008, klub-klub yang selama ini mengandalkan APBD sebagai sumber pendanaan mulai kelimpungan. Terlebih setelah Menteri Dalam Negeri menyatakan kepala daerah yang nekat mengalirkan dana APBD untuk pembiayaan klub dapat dikenai sanksi. PSS yang biasanya memperoleh dana 5 milyar dari APBD jadi gigit jari. Gaji pemain tertunda, kontrak tidak jelas, pendanaan untuk putaran keduapun masih gelap.

Melihat kondisi itu koran-koran lokal di Jogja mulai meramalkan kejatuhan PSS. Judul berita yang disajikan tak jauh-jauh dari kata "PSS bangkrut", dan sebagainya. Okezone.com bahkan mempertanyakan eksistensi PSS ketika menurunkan berita tentang ditolaknya permohonan Kantor Keuangan Pemkab Sleman yang meminta dispensasi dari Mendagri untuk mengucurkan dana ke PSS. Intinya, PSS Sleman benar-benar di ujung tanduk, baik eksistensi maupun reputasinya.

Mulanya saya diminta untuk mengurai kebangkrutan PSS tersebut. Namun di tengah pencarian referensi koq malah bertemu dengan Save Our PSS (SOP). Ya sudah, karena bagi saya gerakan SOP ini sangat kreatif dan juga bisa menjadi inspirasi bagi kelompok suporter lain di Jogja, akhirnya saya memutuskan untuk terlebih dahulu mengangkat tentang SOP. Kebetulan sekali, saya adalah (calon) wartawan pertama yang mendatangi SOP. Dan kalau hasil liputan tersebut dimuat, maka Malioboro Ekspres akan jadi koran pertama yang mengangkat tentang SOP. Senangnya...

Sesuai namanya, misi SOP adalah menyelamatkan PSS agar tetap eksis di Liga Indonesia. Program yang digawangi anak-anak Slemania ini bertujuan menggalang dana sebanyak-banyaknya untuk PSS. Berbagai macam kegiatan sudah mereka susun. Di antaranya mengadakan lomba mewarnai untuk anak SD & TK, lomba futsal antar SMA, lomba desain kaos PSS untuk mahasiswa, talkshow sepakbola, dan masih banyak lagi. Saat ini yang sudah berjalan adalah penjualan kaos 'Save Our PSS'. Saking cintanya pada PSS, teman-teman SOP rela patungan untuk biaya pencetakan kaos. Luar biasa!

Saya pikir semua kelompok suporter di Indonesia patut mencontoh apa yang dilakukan Slemania dengan Save Our PSS-nya. Bukankah sebagian besar klub di Liga Indonesia masih mengandalkan dana APBD? Buktikan kalau suporter itu benar-benar dapat memberikan support bagi klub. Dan buktikan pula kalau sebagai pendukung setia kelompok suporter dapat melakukan apa saja demi mempertahankan keberlangsungan hidup klub kesayangannya. So, apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu klub kesayangan Anda dari kebangkrutan?

Oya, hasil liputan saya bisa dibaca di Malioboro Ekspres edisi minggu depan, terbit hari Senin dan dijual eceran seharga Rp 2.000/eks. Baca ya? :))

Pesan layanan masyarakat: Kaos 'Save Our PSS' bisa dibeli seharga Rp 50.000 di Toko Sport Fina, Jl. Kentungan B 27 KM 6,5 Condongcatur, Depok, Sleman. Lokasinya tepat di sebelah selatan lapangan Kentungan. Kalau masih bingung silakan telpon ke (0274) 886241.

06 Januari 2009

Anda sedang mencari-cari nasihat terbaik dalam blogging? Nasihat yang Anda harapkan dapat meningkatkan semangat ngeblog (meng-update, blogwalking, dan menjalin network dengan blogger lain? Hmm, rasanya tepat kalau Anda mendengarkan nasihat yang satu ini. Kenapa? Karena inilah satu-satunya nasihat terbaik yang pernah saya dapatkan, dan saya rasa beginilah seharusnya mindset yang ada di kepala seseorang saat memulai blognya. Apa itu? Jangan berusaha jadi terkenal!

Oops, ini sepertinya koq nasihat yang tidak bisa diterima akal ya? Siapapun orangnya pasti punya keinginan untuk menjadi terkenal--menjadi selebritas, betul? Dan blog merupakan salah satu jalan yang mungkin ditempuh untuk mencapai popularitas itu. Paling tidak, ini sudah pernah dibuktikan oleh beberapa orang. Sebut saja seperti (lagi-lagi) Cosa Aranda, Medhy Aginta, Bang Zalukhu, atau Tika. Pertanyaannya kemudian, apakah mereka-mereka itu memulai blog dengan tujuan ingin menjadi terkenal?

Satu ciri utama blog yang membedakannya dari situs-situs lain pada umumnya adalah bahwa blog senantiasa di-update dalam waktu berkala. Blog yang tidak pernah di-update adalah blog yang mati, tidak diakui eksistensinya. Untuk itu seorang blogger mesti rajin meng-update blognya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukannya sendiri. Tidak harus tiap hari, bisa saja dua hari sekali atau bahkan seminggu sekali, yang penting teratur. Kata yang jago SEO sih keteraturan posting ini akan berpengaruh pada peng-index-an blog di mesin pencari.

Untuk meng-update blog kita tentu butuh bahan tulisan. Dari mana kita mendapatkan ide sebagai bahan tulisan? Di sinilah peran nasihat yang saya sampaikan di atas bermain. Kalau sejak awal memulai blog Anda berusaha ingin menjadi terkenal, maka Anda akan terjebak dengan keterbatasan Anda sendiri. Mengangkat tema yang banyak dicari tapi tidak sesuai dengan kemampuan adalah salah satu hal yang biasa dilakukan pemula. Karena mereka lihat blogger-blogger terkenal mengangkat tema make money blogging, maka merekapun ikut-ikutan mengangkat tema tersebut di blog. Padahal tak jarang mereka sejatinya baru saja belajar. Percayalah, suatu saat Anda akan kehabisan bahan karena dilanda kebuntuan plus kejenuhan luar biasa.

Akan berbeda kejadiannya kalau Anda tidak pernah punya keinginan menjadi terkenal. Anda hanya akan fokus menulis posting dengan teman-tema yang dikuasai dan disukai, dan karena itu posting-posting Anda akan menjadi sangat bermanfaat sekali karena ditulis oleh orang yang paham dan menguasai tema tersebut. Semakin sering Anda melakukan ini, maka semakin banyak artikel bermanfaat yang dihasilkan. Akibatnya, tulisan-tulisan seperti ini akan terus dicari dan dibaca, tidak peduli sudah sejak kapan Anda mempublikasikannya. Trafik akan terus berdatangan, dan dengan sendirinya blog Anda akan semakin naik popularitasnya.

Kita tentu pernah mendengar tips yang sering disampaikan para blogger senior, yaitu mulailah blog tentang apa yang disukai. Ya, buatlah blog dengan mengangkat tema sesuai dengan hobi atau minat. Selain Anda dijamin tidak akan kehabisan ide sebagai bahan tulisan, Anda juga akan mengurus blog tersebut dengan sepenuh hati. Tulisan-tulisan yang dipublikasikan juga akan memancarkan sebuah ketulusan hati karena Anda memang benar-benar menyukai apa yang sedang Anda bahas. Dengan tulisan penuh ketulusan seperti ini Anda akan dapat dengan mudah menjalin readership, sebuah ikatan emosional yang akan mengeratkan hubungan Anda dengan para pembaca.

Kesimpulannya, saya setuju setiap orang pasti punya keinginan untuk menjadi terkenal. Kalau diterjemahkan dalam blogosphere bahasanya menjadi "setiap blogger pasti punya keinginan untuk menjadi blogger terkenal". Namun akan lebih menyenangkan rasanya kalau Anda menjadikan popularitas hanya sebagai efek dari sebuah ketekunan dan keseriusan mengurus blog, bukan sebagai sebuah tujuan. Setuju?

*NB: Tulisan ini terinspirasi oleh wawancara Mr. Brown dengan Herman "Momon" Saksono.

Anda sedang mencari-cari nasihat terbaik dalam blogging? Nasihat yang Anda harapkan dapat meningkatkan semangat ngeblog (meng-update, blogwalking, dan menjalin network dengan blogger lain? Hmm, rasanya tepat kalau Anda mendengarkan nasihat yang satu ini. Kenapa? Karena inilah satu-satunya nasihat terbaik yang pernah saya dapatkan, dan saya rasa beginilah seharusnya mindset yang ada di kepala seseorang saat memulai blognya. Apa itu? Jangan berusaha jadi terkenal!

Oops, ini sepertinya koq nasihat yang tidak bisa diterima akal ya? Siapapun orangnya pasti punya keinginan untuk menjadi terkenal--menjadi selebritas, betul? Dan blog merupakan salah satu jalan yang mungkin ditempuh untuk mencapai popularitas itu. Paling tidak, ini sudah pernah dibuktikan oleh beberapa orang. Sebut saja seperti (lagi-lagi) Cosa Aranda, Medhy Aginta, Bang Zalukhu, atau Tika. Pertanyaannya kemudian, apakah mereka-mereka itu memulai blog dengan tujuan ingin menjadi terkenal?

Satu ciri utama blog yang membedakannya dari situs-situs lain pada umumnya adalah bahwa blog senantiasa di-update dalam waktu berkala. Blog yang tidak pernah di-update adalah blog yang mati, tidak diakui eksistensinya. Untuk itu seorang blogger mesti rajin meng-update blognya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukannya sendiri. Tidak harus tiap hari, bisa saja dua hari sekali atau bahkan seminggu sekali, yang penting teratur. Kata yang jago SEO sih keteraturan posting ini akan berpengaruh pada peng-index-an blog di mesin pencari.

Untuk meng-update blog kita tentu butuh bahan tulisan. Dari mana kita mendapatkan ide sebagai bahan tulisan? Di sinilah peran nasihat yang saya sampaikan di atas bermain. Kalau sejak awal memulai blog Anda berusaha ingin menjadi terkenal, maka Anda akan terjebak dengan keterbatasan Anda sendiri. Mengangkat tema yang banyak dicari tapi tidak sesuai dengan kemampuan adalah salah satu hal yang biasa dilakukan pemula. Karena mereka lihat blogger-blogger terkenal mengangkat tema make money blogging, maka merekapun ikut-ikutan mengangkat tema tersebut di blog. Padahal tak jarang mereka sejatinya baru saja belajar. Percayalah, suatu saat Anda akan kehabisan bahan karena dilanda kebuntuan plus kejenuhan luar biasa.

Akan berbeda kejadiannya kalau Anda tidak pernah punya keinginan menjadi terkenal. Anda hanya akan fokus menulis posting dengan teman-tema yang dikuasai dan disukai, dan karena itu posting-posting Anda akan menjadi sangat bermanfaat sekali karena ditulis oleh orang yang paham dan menguasai tema tersebut. Semakin sering Anda melakukan ini, maka semakin banyak artikel bermanfaat yang dihasilkan. Akibatnya, tulisan-tulisan seperti ini akan terus dicari dan dibaca, tidak peduli sudah sejak kapan Anda mempublikasikannya. Trafik akan terus berdatangan, dan dengan sendirinya blog Anda akan semakin naik popularitasnya.

Kita tentu pernah mendengar tips yang sering disampaikan para blogger senior, yaitu mulailah blog tentang apa yang disukai. Ya, buatlah blog dengan mengangkat tema sesuai dengan hobi atau minat. Selain Anda dijamin tidak akan kehabisan ide sebagai bahan tulisan, Anda juga akan mengurus blog tersebut dengan sepenuh hati. Tulisan-tulisan yang dipublikasikan juga akan memancarkan sebuah ketulusan hati karena Anda memang benar-benar menyukai apa yang sedang Anda bahas. Dengan tulisan penuh ketulusan seperti ini Anda akan dapat dengan mudah menjalin readership, sebuah ikatan emosional yang akan mengeratkan hubungan Anda dengan para pembaca.

Kesimpulannya, saya setuju setiap orang pasti punya keinginan untuk menjadi terkenal. Kalau diterjemahkan dalam blogosphere bahasanya menjadi "setiap blogger pasti punya keinginan untuk menjadi blogger terkenal". Namun akan lebih menyenangkan rasanya kalau Anda menjadikan popularitas hanya sebagai efek dari sebuah ketekunan dan keseriusan mengurus blog, bukan sebagai sebuah tujuan. Setuju?

*NB: Tulisan ini terinspirasi oleh wawancara Mr. Brown dengan Herman "Momon" Saksono.

04 Januari 2009

Sejak tersandung masalah CosaAranda.biz dan jasa hosting yang diungkap Bang Zalukhu tahun lalu, Cosa Aranda sang master Google AdSense dari Surabaya ini seolah menghilang dari dunia maya. Blognya, CosaAranda.com, belum pernah di-update lagi sejak tanggal 11 Desember lalu. Sub blog yang direncanakannya untuk pembahasan topik-topik bisnis internet, http://bisnisinternet.cosaaranda.com, juga belum di-update sejak 21 Desember 2009. Ke mana sebenarnya master kita satu ini?

Terlalu sibuk menjadi pembicara seminar? Itu pikiran pertama yang terlintas di benak saya. Namun pikiran tersebut langsung terbantah ketika membaca posting Mas Cosa di sub blog yang baru ia buat, http://blog.cosaaranda.com. Baru ada 1 posting di situ, di mana Mas Cosa menegaskan kalau ia tidak mau lagi jadi pembicara seminar. Ternyata psoting itu ia tulis di tanggal yang sama dengan posting terakhir di http://bisnisinternet.cosaaranda.com. Terus, Mas Cosa ngapapin aja dong koq sampai menghilang sekian lama?

Sekitar bulan Oktober-November 2007, saat saya pertama kali memulai blog, CosaAranda.com sangat rajin sekali di-update. Seingat saya blog tersebut di-update setiap hari. Ceritanya juga lebih beragam, tak melulu masalah moke money blogging. Pernah Mas Cosa mengangkat masalah pembajakan isi posting untuk dijadikan buku yang dilakukan seorang mahasiswa S2 di Jogja, pernah juga "tipuan" manis di saat April Mop. Sayang sekali, karena CosaAranda.com pindah hosting bacaan-bacaan menarik tersebut tidak dapat kita baca lagi sekarang.

Pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di kepala saya adalah, "Kemana Mas Cosa 'menghilang' kalau tidak lagi sibuk menjadi pembicara seminar?" Dugaan paling kuat tentu saja ia terlalu repot mengurusi CAN alias Cosa Aranda Network, Inc. Perusahaan yang (setahu saya) telah menelurkan 2 proyek online (ReviewMu dan Uneg2.com) tersebut tentunya sangat menyita waktu Mas Cosa. Terlebih setelah Mas Medhy "Blogguebo" menyatakan keluar dari CAN. Selain itu, bukankah Mas Cosa punya puluhan blog, baik berbahasa Indonesia maupun Inggris, yang ia pakai untuk menjaring dolar dengan Google AdSense dan juga program-program online earning lain?

Well, apapun kesibukan seorang Cosa Aranda, kita tentu berharap semoga itu adalah hal terbaik baginya. Saya pribadi sebagai penggemar dan, kalau boleh mengaku-aku, "murid" CosaAranda.com tentu saja merasa ada sesuatu yang hilang dengan tidak aktifnya blog tersebut. Yang paling terasa, berkurang sudah tempat belajar Google AdSense. Bagaimana dengan Anda, teman-teman?

Sejak tersandung masalah CosaAranda.biz dan jasa hosting yang diungkap Bang Zalukhu tahun lalu, Cosa Aranda sang master Google AdSense dari Surabaya ini seolah menghilang dari dunia maya. Blognya, CosaAranda.com, belum pernah di-update lagi sejak tanggal 11 Desember lalu. Sub blog yang direncanakannya untuk pembahasan topik-topik bisnis internet, http://bisnisinternet.cosaaranda.com, juga belum di-update sejak 21 Desember 2009. Ke mana sebenarnya master kita satu ini?

Terlalu sibuk menjadi pembicara seminar? Itu pikiran pertama yang terlintas di benak saya. Namun pikiran tersebut langsung terbantah ketika membaca posting Mas Cosa di sub blog yang baru ia buat, http://blog.cosaaranda.com. Baru ada 1 posting di situ, di mana Mas Cosa menegaskan kalau ia tidak mau lagi jadi pembicara seminar. Ternyata psoting itu ia tulis di tanggal yang sama dengan posting terakhir di http://bisnisinternet.cosaaranda.com. Terus, Mas Cosa ngapapin aja dong koq sampai menghilang sekian lama?

Sekitar bulan Oktober-November 2007, saat saya pertama kali memulai blog, CosaAranda.com sangat rajin sekali di-update. Seingat saya blog tersebut di-update setiap hari. Ceritanya juga lebih beragam, tak melulu masalah moke money blogging. Pernah Mas Cosa mengangkat masalah pembajakan isi posting untuk dijadikan buku yang dilakukan seorang mahasiswa S2 di Jogja, pernah juga "tipuan" manis di saat April Mop. Sayang sekali, karena CosaAranda.com pindah hosting bacaan-bacaan menarik tersebut tidak dapat kita baca lagi sekarang.

Pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di kepala saya adalah, "Kemana Mas Cosa 'menghilang' kalau tidak lagi sibuk menjadi pembicara seminar?" Dugaan paling kuat tentu saja ia terlalu repot mengurusi CAN alias Cosa Aranda Network, Inc. Perusahaan yang (setahu saya) telah menelurkan 2 proyek online (ReviewMu dan Uneg2.com) tersebut tentunya sangat menyita waktu Mas Cosa. Terlebih setelah Mas Medhy "Blogguebo" menyatakan keluar dari CAN. Selain itu, bukankah Mas Cosa punya puluhan blog, baik berbahasa Indonesia maupun Inggris, yang ia pakai untuk menjaring dolar dengan Google AdSense dan juga program-program online earning lain?

Well, apapun kesibukan seorang Cosa Aranda, kita tentu berharap semoga itu adalah hal terbaik baginya. Saya pribadi sebagai penggemar dan, kalau boleh mengaku-aku, "murid" CosaAranda.com tentu saja merasa ada sesuatu yang hilang dengan tidak aktifnya blog tersebut. Yang paling terasa, berkurang sudah tempat belajar Google AdSense. Bagaimana dengan Anda, teman-teman?

01 Januari 2009

1 Januari 2009, ini hari pertama di tahun 2009. Masih dalam suasana tahun baru, tapi saya tidak banyak melakukan perubahan untuk blog ini. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya sudah kapok gonta-ganti template. What a time-wasting activity! Padahal pengaruhnya tidak begitu besar bagi peningkatan trafik, apalagi kalau kontennya amburadul. Walah! Ya sudah, sayapun tidak menyambut tahun baru dengan template baru.

Eits, tapi koq sepertinya ada yang berubah ya? Yup, kalau Anda teliti pasti bakal melihat satu perubahan di bagian header. Hehehe, sebenarnya tidak perlu teliti juga bakal terlihat koq. Lha wong header kan bagian yang paling dulu muncul, masa iya tidak tahu kalau ada yang berubah? :)) Sebelumnya hanya ada tulisan besar "EkoNurhuda.com" plus deskripsi panjang "Write and Earn Money, That's What I'm Doing Online. What About You?" di sebelah kiri header dan di sebelah kanannya banner iklan ukuran 468x60. Kini, bagian kiri header saya persempit dan diisi dengan satu... logo baru!

Sebenarnya logo itu sudah saya buat sejak lama. Kira-kira sudah dua bulan yang lalu. Namun karena sengaja ingin memberi sentuhan perubahan di tahun 2009, maka logo tersebut tidak buru-buru saya pasang. Lay out header sebenarnya juga sudah lama saya otak-atik untuk mengakomodasi logo baru tersebut, tapi tentu saja bukan blog ini yang diobrak-abrik. saya buat satu blog khusus untuk mencoba tampilan header baru seperti yang terlihat sekarang ini. Setelah fix, template yang sudah diubah tadi saya simpan sampai akhirnya tahun 2009-pun datang.

Inilah satu-satunya perubahan tampilan yang saya lakukan di tahun baru ini. Ya, hanya logo baru dan banner iklan header yang ukurannya menjadi super jumbo, 728x90 pixel! Sayangnya belum ada yang berminat mem-booking space tersebut. Jadi, setelah kontesnya Bang Zalukhu selesai kemungkinan space tersebut saya isi dengan banner-banner promosi program afiliasi yang saya ikuti. Gede banget, sayang kalau sampai dibiarkan kosong melompong atau hanya dipasangi banner "Pasang iklan di sini!".

Btw, koq logonya tidak dijadikan kontes? Mungkin ada di antara teman-teman yang bertanya begitu. Sebenarnya niat itu ada. Tapi sudah keduluan Bang Zalukhu, jadinya ya saya batalkan saja. Apalagi saya keburu ditodong untuk jadi donatur di kontes dia. Hahaha... Tidak, tidak, saya hanya bercanda koq. Saya memang sengaja tidak membuat kontes. Kenapa? Saya takut diprotes seperti KapanLagi.com kalau sampai pengumumannya telat. Kalau semua blogger bilang saya scammer, walah bisa tamat deh karir saya di blogosphere. :))

Jangan serius membaca posting ini. Saya hanya bercanda lho. Poin yang serius cuma ini: EkoNurhuda.com kini memiliki logo baru dengan header baru pula. Itu saja. :)) Btw, SELAMAT TAHUN BARU 2009..!

1 Januari 2009, ini hari pertama di tahun 2009. Masih dalam suasana tahun baru, tapi saya tidak banyak melakukan perubahan untuk blog ini. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya sudah kapok gonta-ganti template. What a time-wasting activity! Padahal pengaruhnya tidak begitu besar bagi peningkatan trafik, apalagi kalau kontennya amburadul. Walah! Ya sudah, sayapun tidak menyambut tahun baru dengan template baru.

Eits, tapi koq sepertinya ada yang berubah ya? Yup, kalau Anda teliti pasti bakal melihat satu perubahan di bagian header. Hehehe, sebenarnya tidak perlu teliti juga bakal terlihat koq. Lha wong header kan bagian yang paling dulu muncul, masa iya tidak tahu kalau ada yang berubah? :)) Sebelumnya hanya ada tulisan besar "EkoNurhuda.com" plus deskripsi panjang "Write and Earn Money, That's What I'm Doing Online. What About You?" di sebelah kiri header dan di sebelah kanannya banner iklan ukuran 468x60. Kini, bagian kiri header saya persempit dan diisi dengan satu... logo baru!

Sebenarnya logo itu sudah saya buat sejak lama. Kira-kira sudah dua bulan yang lalu. Namun karena sengaja ingin memberi sentuhan perubahan di tahun 2009, maka logo tersebut tidak buru-buru saya pasang. Lay out header sebenarnya juga sudah lama saya otak-atik untuk mengakomodasi logo baru tersebut, tapi tentu saja bukan blog ini yang diobrak-abrik. saya buat satu blog khusus untuk mencoba tampilan header baru seperti yang terlihat sekarang ini. Setelah fix, template yang sudah diubah tadi saya simpan sampai akhirnya tahun 2009-pun datang.

Inilah satu-satunya perubahan tampilan yang saya lakukan di tahun baru ini. Ya, hanya logo baru dan banner iklan header yang ukurannya menjadi super jumbo, 728x90 pixel! Sayangnya belum ada yang berminat mem-booking space tersebut. Jadi, setelah kontesnya Bang Zalukhu selesai kemungkinan space tersebut saya isi dengan banner-banner promosi program afiliasi yang saya ikuti. Gede banget, sayang kalau sampai dibiarkan kosong melompong atau hanya dipasangi banner "Pasang iklan di sini!".

Btw, koq logonya tidak dijadikan kontes? Mungkin ada di antara teman-teman yang bertanya begitu. Sebenarnya niat itu ada. Tapi sudah keduluan Bang Zalukhu, jadinya ya saya batalkan saja. Apalagi saya keburu ditodong untuk jadi donatur di kontes dia. Hahaha... Tidak, tidak, saya hanya bercanda koq. Saya memang sengaja tidak membuat kontes. Kenapa? Saya takut diprotes seperti KapanLagi.com kalau sampai pengumumannya telat. Kalau semua blogger bilang saya scammer, walah bisa tamat deh karir saya di blogosphere. :))

Jangan serius membaca posting ini. Saya hanya bercanda lho. Poin yang serius cuma ini: EkoNurhuda.com kini memiliki logo baru dengan header baru pula. Itu saja. :)) Btw, SELAMAT TAHUN BARU 2009..!