Selamat datang di ...

26 Februari 2009

Jum'at (27/2) sore besok rencananya saya mau pulang kampung ke Jambi. Kenapa pulang? Ceritanya adik cewek saya satu-satunya mau nikah tanggal 4 Maret, so saya harus pulang. Selain itu, saya juga punya misi lain. Apa itu? memperkenalkan tunangan saya kepada seluruh keluarga besar yang bakal kumpul semua saat pernikahan adik saya itu. Kalau kata pepatah sih sekali tepuk dua lalat.

Nah, rencana awal kami bertiga pengen naik pesawat. Kalau jadi rutenya Jogja-Jakarta, terus transit di Jakarta dan lanjut Jakarta-Jambi. Ini bukan karena banyak duit atau karena gaya-gayaan lho, tapi murni untuk menghemat waktu. Soalnya adik saya harus bolos kuliah, dan tunangan saya juga bolos ngajar. Jadi pesawat dipilih supaya bolosnya tidak terlalu lama. Tapi ternyata ceritanya jadi lain. :(

Dasar blogger kere, cuma beli motor Honda Astrea Grand second saja tabungan saya sudah amblas. Ada sih sisanya, cuma duit yang tidak seberapa itu habis untuk operasional sehari-hari. Kondisi diperparah dengan tidak adanya subsidi dari orang tua selama dua bulan! Ya, saya tidak malu-malu mengatakan kalau saya masih disubsidi sama orang tua selama kuliah. Jadi bisa dibayangkan kan berapa sih sebenarnya penghasilan online saya?

Nah, awal Februari adik saya sudah pesan 3 tiket Batavia Air untuk keberangkatan tanggal 28 Februari. Sengaja booking jauh-jauh hari supaya harganya lebih murah (kata yang sering naik pesawat sih begitu). So, tiket Jogja-Jambi transit di Jakarta untuk 3 orang totalnya Rp 1,7 juta. Apes, duit saya waktu itu cuma ada kurang dari 200 ribu di ATM Niaga (yang khusus untuk penghasilan online), sedangkan di ATM BNI (khusus buat menampung kiriman dari rumah) malah cuma Rp 18.000. Adik saya juga tidak punya uang, terus tunangan saya jauh di sana. Lagipula mau pinjam saya malu.

Sama travel agent tempat adik saya reservasi tiket dikasih tenggang waktu 5 hari untuk melunasi. Saya coba cek ke PayPal, saldonya cuma $13. Tidak cukup! Terus saya beranikan diri bilang ke tunangan, dia bilang ada Rp 600 ribu. Lumayanlah. Giliran saya tanya adik, dia bilang tidak ada uang. Saya sendiri? Benar-benar buntu! Mau meggadaikan motor mana laku? Lagipula motornya masih diservis. Diam-diam saya jadi menyesal beli motor. Soalnya kalau saja saya belum beli motor pasti tidak akan pusing-pusing memikir ongkos.

Ya sudah, akhirnya tenggat waktu habis dan booking-nya dianggap hangus. Untungnya adik saya tidak keluar uang sama sekali waktu booking (orang memang dia tidak punya uang koq). Tunggu ditunggu, masuk tanggal 20-an barulah PayPal saya bertambah meski tidak terlalu banyak. Di saat bersamaan adik saya dapat kiriman dari rumah, dan saya juga dikirim walaupun jumlahnya lebih kecil dari biasanya. Saya dengan adik lantas berembug. Keputusannya, kami pulang naik bis dengan resiko bisa tertahan lebih lama di penyeberangan Merak-Bakaheuni karena gelombang Selat Sunda sedang tinggi-tingginya (kata berita lho).

So, sesuai rencana kami akan berangkat besok sore dari Terminal Jombor dengan menumpang bis Ramayana. Bis eksekutif itu biasanya membuat saya kedinginan kalau malam datang. Apalagi sekarang musim hujan. Tapi berhubung besok sama tunangan, sepertinya saya tidak akan kedinginan lagi deh. Hahaha....
(to be continued....)

Mudah-mudahan saya bisa menyempatkan diri untuk menemui rekan-rekan blogger Jambi. Terutama si juragan VCC, Putra Eka alias Paman Gober. Tunggu saja laporan saya dari Jambi. :)

Jum'at (27/2) sore besok rencananya saya mau pulang kampung ke Jambi. Kenapa pulang? Ceritanya adik cewek saya satu-satunya mau nikah tanggal 4 Maret, so saya harus pulang. Selain itu, saya juga punya misi lain. Apa itu? memperkenalkan tunangan saya kepada seluruh keluarga besar yang bakal kumpul semua saat pernikahan adik saya itu. Kalau kata pepatah sih sekali tepuk dua lalat.

Nah, rencana awal kami bertiga pengen naik pesawat. Kalau jadi rutenya Jogja-Jakarta, terus transit di Jakarta dan lanjut Jakarta-Jambi. Ini bukan karena banyak duit atau karena gaya-gayaan lho, tapi murni untuk menghemat waktu. Soalnya adik saya harus bolos kuliah, dan tunangan saya juga bolos ngajar. Jadi pesawat dipilih supaya bolosnya tidak terlalu lama. Tapi ternyata ceritanya jadi lain. :(

Dasar blogger kere, cuma beli motor Honda Astrea Grand second saja tabungan saya sudah amblas. Ada sih sisanya, cuma duit yang tidak seberapa itu habis untuk operasional sehari-hari. Kondisi diperparah dengan tidak adanya subsidi dari orang tua selama dua bulan! Ya, saya tidak malu-malu mengatakan kalau saya masih disubsidi sama orang tua selama kuliah. Jadi bisa dibayangkan kan berapa sih sebenarnya penghasilan online saya?

Nah, awal Februari adik saya sudah pesan 3 tiket Batavia Air untuk keberangkatan tanggal 28 Februari. Sengaja booking jauh-jauh hari supaya harganya lebih murah (kata yang sering naik pesawat sih begitu). So, tiket Jogja-Jambi transit di Jakarta untuk 3 orang totalnya Rp 1,7 juta. Apes, duit saya waktu itu cuma ada kurang dari 200 ribu di ATM Niaga (yang khusus untuk penghasilan online), sedangkan di ATM BNI (khusus buat menampung kiriman dari rumah) malah cuma Rp 18.000. Adik saya juga tidak punya uang, terus tunangan saya jauh di sana. Lagipula mau pinjam saya malu.

Sama travel agent tempat adik saya reservasi tiket dikasih tenggang waktu 5 hari untuk melunasi. Saya coba cek ke PayPal, saldonya cuma $13. Tidak cukup! Terus saya beranikan diri bilang ke tunangan, dia bilang ada Rp 600 ribu. Lumayanlah. Giliran saya tanya adik, dia bilang tidak ada uang. Saya sendiri? Benar-benar buntu! Mau meggadaikan motor mana laku? Lagipula motornya masih diservis. Diam-diam saya jadi menyesal beli motor. Soalnya kalau saja saya belum beli motor pasti tidak akan pusing-pusing memikir ongkos.

Ya sudah, akhirnya tenggat waktu habis dan booking-nya dianggap hangus. Untungnya adik saya tidak keluar uang sama sekali waktu booking (orang memang dia tidak punya uang koq). Tunggu ditunggu, masuk tanggal 20-an barulah PayPal saya bertambah meski tidak terlalu banyak. Di saat bersamaan adik saya dapat kiriman dari rumah, dan saya juga dikirim walaupun jumlahnya lebih kecil dari biasanya. Saya dengan adik lantas berembug. Keputusannya, kami pulang naik bis dengan resiko bisa tertahan lebih lama di penyeberangan Merak-Bakaheuni karena gelombang Selat Sunda sedang tinggi-tingginya (kata berita lho).

So, sesuai rencana kami akan berangkat besok sore dari Terminal Jombor dengan menumpang bis Ramayana. Bis eksekutif itu biasanya membuat saya kedinginan kalau malam datang. Apalagi sekarang musim hujan. Tapi berhubung besok sama tunangan, sepertinya saya tidak akan kedinginan lagi deh. Hahaha....
(to be continued....)

Mudah-mudahan saya bisa menyempatkan diri untuk menemui rekan-rekan blogger Jambi. Terutama si juragan VCC, Putra Eka alias Paman Gober. Tunggu saja laporan saya dari Jambi. :)

22 Februari 2009

Hari ini saya dapat kiriman email dari Mark Stevens, stafnya Ask2Link. Masih ingat kan sama program yang satu ini? Kalau Anda belum tahu apa itu Ask2Link, silakan baca artikel ini, ini, ini, dan ini terlebih dahulu baru balik lagi ke sini. Kalau sudah tahu, mari kita lanjutkan ceritanya. Hehehe...

Ada tiga hal yang disampaikan oleh Mark sehubungan dengan aturan-aturan di Ask2Link, yakni mengenai minimum payout, harga link terbaru, dan hak kita selaku publisher untuk menolak sebuah iklan yang telah dipasang. Dari ketiganya, poin pertama yang paling mendapat perhatian saya. Kenapa? Karena dengan ditiadakannya minimum payout, saya yang biasa berpenghasilan kecil ini bisa dapet dolar tiap bulan! :)

Dalam emailnya Mark Stevens terang-terangan mengatakan kalau ketiga perubahan tersebut diambil sebagai imbas dari krisis ekonomi yang tengah melanda dunia. Sebagaimana kita ketahui bersama, Amerika Serikat adalah pemicu sekaligus korban terparah dari krisis tersebut. So, wajar saja kalau perusahaan periklanan yang berbasis di AS seperti Ask2Link membuat kebijakan untuk menyesuaikan diri dengan situasi sulit ini.

Perubahan ini membuat minimum payout sebesar $10/bulan tidak berlaku lagi. Artinya, Anda akan menerima penghasilan setiap bulan tanpa peduli berapa besar uang yang dihasilkan. Mau cuma $1 komisi yang Anda hasilkan dalam satu bulan, Ask2Link akan membayarkannya di awal bulan berikutnya. Tidak harus menunggu sampai terkumpul minimal $10 lagi. Asyik kan?

Oke, itu kabar gembiranya. Kabar buruknya, Ask2Link menurunkan harga standarnya. Contoh, untuk blog berpagerank 0 sekarang hanya dihargai $1/link dan PR3 hanya $5/link, padahal sebelumnya lebih tinggi dari itu lho. Tapi tenang, meski harganya diturunkan Anda tetap bisa mengeset harga sesuai kehendak Anda sendiri. Artinya, sah-sah saja kalau Anda mau menghargai blog Anda yang cuma berpagerank 0 dengan harga $10. Nggak dosa koq. Hehehe....

Perubahan ketiga rasanya tidak terlalu penting deh, jadi ya tidak saya bahas. Lagipula Anda bisa tahu sendiri koq dengan mengobok-obok member area. So, itu saja dari saya. Semoga bermanfaat.

Hari ini saya dapat kiriman email dari Mark Stevens, stafnya Ask2Link. Masih ingat kan sama program yang satu ini? Kalau Anda belum tahu apa itu Ask2Link, silakan baca artikel ini, ini, ini, dan ini terlebih dahulu baru balik lagi ke sini. Kalau sudah tahu, mari kita lanjutkan ceritanya. Hehehe...

Ada tiga hal yang disampaikan oleh Mark sehubungan dengan aturan-aturan di Ask2Link, yakni mengenai minimum payout, harga link terbaru, dan hak kita selaku publisher untuk menolak sebuah iklan yang telah dipasang. Dari ketiganya, poin pertama yang paling mendapat perhatian saya. Kenapa? Karena dengan ditiadakannya minimum payout, saya yang biasa berpenghasilan kecil ini bisa dapet dolar tiap bulan! :)

Dalam emailnya Mark Stevens terang-terangan mengatakan kalau ketiga perubahan tersebut diambil sebagai imbas dari krisis ekonomi yang tengah melanda dunia. Sebagaimana kita ketahui bersama, Amerika Serikat adalah pemicu sekaligus korban terparah dari krisis tersebut. So, wajar saja kalau perusahaan periklanan yang berbasis di AS seperti Ask2Link membuat kebijakan untuk menyesuaikan diri dengan situasi sulit ini.

Perubahan ini membuat minimum payout sebesar $10/bulan tidak berlaku lagi. Artinya, Anda akan menerima penghasilan setiap bulan tanpa peduli berapa besar uang yang dihasilkan. Mau cuma $1 komisi yang Anda hasilkan dalam satu bulan, Ask2Link akan membayarkannya di awal bulan berikutnya. Tidak harus menunggu sampai terkumpul minimal $10 lagi. Asyik kan?

Oke, itu kabar gembiranya. Kabar buruknya, Ask2Link menurunkan harga standarnya. Contoh, untuk blog berpagerank 0 sekarang hanya dihargai $1/link dan PR3 hanya $5/link, padahal sebelumnya lebih tinggi dari itu lho. Tapi tenang, meski harganya diturunkan Anda tetap bisa mengeset harga sesuai kehendak Anda sendiri. Artinya, sah-sah saja kalau Anda mau menghargai blog Anda yang cuma berpagerank 0 dengan harga $10. Nggak dosa koq. Hehehe....

Perubahan ketiga rasanya tidak terlalu penting deh, jadi ya tidak saya bahas. Lagipula Anda bisa tahu sendiri koq dengan mengobok-obok member area. So, itu saja dari saya. Semoga bermanfaat.

18 Februari 2009

Sejak pertama kali memulai blog ini awal tahun 2008 lalu, saya sudah berpikiran kalau ciri khas adalah senjata utama untuk exist di blogosphere. Ada ratusan ribu blog pada saat saya memulai blog, apa yang akan membuat pembaca menghiraukan blog saya? Di sinilah saya membutuhkan satu kekhasan, yang akhirnya saya jatuhkan pilihan pada SponsoredReviews.

Ciri khas adalah yang membedakan kita dengan blogger lain. Sehingga apabila nama kita disebut, maka orang yang mendengarnya akan langsung berpikiran pada satu hal. Dan itu terjadi secara refleks. Artinya orang tersebut tak perlu berpikir panjang lagi untuk mengasosiasikan nama kita dengan sesuatu yang kita sajikan di blog.

Coba, apa yang terlintas dalam benak Anda ketika saya menyebut nama Cosa Aranda? Yup, tanpa berpikir panjang lagi Anda pasti akan teringat dengan Google AdSense. Kenapa? Karena Cosa memang sudah lekat di ingatan kita sebagai tutor alias mahaguru program pay per click tersebut. Dan ini merupakan buah dari konsistensi Cosa yang selama ini hanya fokus menulis tentang Google AdSense di blognya.

Atau, apa yang Anda bayangkan ketika saya menyebut nama Zalukhu? Well, saya yakin Anda akan langsung teringat pada satu blog yang bersedia berbagi mengenai program-program afiliasi tanpa tedeng aling-aling. Terkadang blog itu juga nakal menjurus berani karena sering mengungkap beberapa praktik curang yang dilakukan sejumlah pebisnis online.

Itulah ciri khas.

Kenapa ciri khas penting? Jelas saja ini penting karena akan membedakan kita dengan blogger dan blog lain. Dan perbedaan itulah yang membuat kita menonjol dari lainnya. Kalau teh botol Sosro sama dengan Green Tea, tentu kita tak akan pernah peduli mau meminum yang mana. Tapi karena produsen kedua produk tersebut ingin produknya lebih menonjol dari pesaingnya, maka mereka menciptakan ciri khas yang membedakan satu sama lain. Mereka menampilkan satu kelebihan yang tidak dimiliki produk lain.

Saya rasa strategi seperti ini bagus diterapkan di blog. Tujuannya tentu saja agar pembaca lebih mudah mengingat nama kita dan apa yang kita tawarkan di blog. Tapi ini bukan hal mudah, meskipun bukan tidak mungkin dilakukan. Kuncinya hanya satu: stay focus. Oops, harus ditambahkan pula satu pelengkap yang bisa jadi gantungan kuncinya, yakni: konsistensi.

Nah, sudah berpikir apa ciri khas blog Anda?

Ngomong-ngomong, saya ini cuma OMDO alias omong doang. Soalnya saya merasa masih belum bisa menjalankan dua hal yang saya sarankan di atas. Tapi gpplah, hitung-hitung tulisan ini juga sebagai bahan pembelajaran bagi saya sendiri. :)

Sejak pertama kali memulai blog ini awal tahun 2008 lalu, saya sudah berpikiran kalau ciri khas adalah senjata utama untuk exist di blogosphere. Ada ratusan ribu blog pada saat saya memulai blog, apa yang akan membuat pembaca menghiraukan blog saya? Di sinilah saya membutuhkan satu kekhasan, yang akhirnya saya jatuhkan pilihan pada SponsoredReviews.

Ciri khas adalah yang membedakan kita dengan blogger lain. Sehingga apabila nama kita disebut, maka orang yang mendengarnya akan langsung berpikiran pada satu hal. Dan itu terjadi secara refleks. Artinya orang tersebut tak perlu berpikir panjang lagi untuk mengasosiasikan nama kita dengan sesuatu yang kita sajikan di blog.

Coba, apa yang terlintas dalam benak Anda ketika saya menyebut nama Cosa Aranda? Yup, tanpa berpikir panjang lagi Anda pasti akan teringat dengan Google AdSense. Kenapa? Karena Cosa memang sudah lekat di ingatan kita sebagai tutor alias mahaguru program pay per click tersebut. Dan ini merupakan buah dari konsistensi Cosa yang selama ini hanya fokus menulis tentang Google AdSense di blognya.

Atau, apa yang Anda bayangkan ketika saya menyebut nama Zalukhu? Well, saya yakin Anda akan langsung teringat pada satu blog yang bersedia berbagi mengenai program-program afiliasi tanpa tedeng aling-aling. Terkadang blog itu juga nakal menjurus berani karena sering mengungkap beberapa praktik curang yang dilakukan sejumlah pebisnis online.

Itulah ciri khas.

Kenapa ciri khas penting? Jelas saja ini penting karena akan membedakan kita dengan blogger dan blog lain. Dan perbedaan itulah yang membuat kita menonjol dari lainnya. Kalau teh botol Sosro sama dengan Green Tea, tentu kita tak akan pernah peduli mau meminum yang mana. Tapi karena produsen kedua produk tersebut ingin produknya lebih menonjol dari pesaingnya, maka mereka menciptakan ciri khas yang membedakan satu sama lain. Mereka menampilkan satu kelebihan yang tidak dimiliki produk lain.

Saya rasa strategi seperti ini bagus diterapkan di blog. Tujuannya tentu saja agar pembaca lebih mudah mengingat nama kita dan apa yang kita tawarkan di blog. Tapi ini bukan hal mudah, meskipun bukan tidak mungkin dilakukan. Kuncinya hanya satu: stay focus. Oops, harus ditambahkan pula satu pelengkap yang bisa jadi gantungan kuncinya, yakni: konsistensi.

Nah, sudah berpikir apa ciri khas blog Anda?

Ngomong-ngomong, saya ini cuma OMDO alias omong doang. Soalnya saya merasa masih belum bisa menjalankan dua hal yang saya sarankan di atas. Tapi gpplah, hitung-hitung tulisan ini juga sebagai bahan pembelajaran bagi saya sendiri. :)

02 Februari 2009

Setelah pada awal tahun lalu mengatakan kalau tidak akan melakukan perubahan kecuali tampilan (layout) blog, seiring waktu berjalan koq saya jadi berubah pikiran ya? :)) Terutama setelah saya magang di SKM Malioboro Ekspres. Dan kelak, kalau jadi, saya juga bakal magang lagi di sebuah harian lokal di Jogja (jadi bakal dobel magangnya). Tapi nama medianya masih rahasia ya.

Nah, perubahan yang saya usung tak akan jauh-jauh dari dunia saya yang sekarang. Maksudnya, dunia saya di alam nyata alias lingkungan offline. Sebagai mahasiswa jurnalistik dan menaruh keinginan besar untuk bisa menjadi seorang jurnalis, saya berpikir untuk mengubah 'haluan' blog ini dari tema-tema make money dan blogging menjadi tema-tema lain yang sedang saya pikirkan. Ada banyak tema yang masih saya pertimbangkan, namun pada ujungnya blog ini akan saya jadikan sebagai sebuah lahan citizen journalism bagi saya.

Apa itu citizen journalism? Pengertian gampangnya, citizen journalism adalah kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa. Jadi, Anda dan saya sebagai masyarakat biasa dapat berperan sebagai jurnalis yang melaporkan berbagai peristiwa di sekitar kita kepada siapa saja. Berkaitan dengan rencana saya, maka saya akan bertindak sebagai seorang citizen journalist (jurnalis warga) yang akan melaporkan berbagai peristiwa dan kejadian di sekitar saya tinggal, dan umumnya kota Jogja. Tentu tak cuma laporan saja. Sebagai blogger saya juga akan memberikan semacam analisis dan komentar atas peristiwa yang saya laporkan.

Kenapa saya berpikiran begitu? Alasan pertama dan terutama tentu saja agar ada keselarasan antara kegiatan saya di dunia offline (sebagai mahasiswa jurnalistik yang magang di sebuah media cetak) dengan aktivitas saya di dunia maya (sebagai blogger yang harus senantiasa meng-update blog). Saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencari pengalaman di lapangan praktis dunia jurnalistik, tapi saya juga tidak mau menelantarkan blog yang sudah memberi 1 unit komputer, 1 modem, 1 sepeda motor, tambahan uang jajan yang cukup, dan segudang teman pada saya ini. So, saya rasa jalan tengah inilah yang harus saya ambil agar keduanya bisa berjalan beriringan.

Btw, ini masih rencana kasar koq. Artinya masih bisa berubah-ubah dan belum final. Untuk itu saya minta saran dan masukan dari teman-teman mengenai hal ini. Saya akan mengambil keputusan setelah membaca saran dan masukan teman-teman di kolom komentar. Kalau dipikir-pikir sebenarnya aneh ya? Mau berubah koq pake minta saran segala. Tapi itulah saya. Hahaha...

Setelah pada awal tahun lalu mengatakan kalau tidak akan melakukan perubahan kecuali tampilan (layout) blog, seiring waktu berjalan koq saya jadi berubah pikiran ya? :)) Terutama setelah saya magang di SKM Malioboro Ekspres. Dan kelak, kalau jadi, saya juga bakal magang lagi di sebuah harian lokal di Jogja (jadi bakal dobel magangnya). Tapi nama medianya masih rahasia ya.

Nah, perubahan yang saya usung tak akan jauh-jauh dari dunia saya yang sekarang. Maksudnya, dunia saya di alam nyata alias lingkungan offline. Sebagai mahasiswa jurnalistik dan menaruh keinginan besar untuk bisa menjadi seorang jurnalis, saya berpikir untuk mengubah 'haluan' blog ini dari tema-tema make money dan blogging menjadi tema-tema lain yang sedang saya pikirkan. Ada banyak tema yang masih saya pertimbangkan, namun pada ujungnya blog ini akan saya jadikan sebagai sebuah lahan citizen journalism bagi saya.

Apa itu citizen journalism? Pengertian gampangnya, citizen journalism adalah kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh warga biasa. Jadi, Anda dan saya sebagai masyarakat biasa dapat berperan sebagai jurnalis yang melaporkan berbagai peristiwa di sekitar kita kepada siapa saja. Berkaitan dengan rencana saya, maka saya akan bertindak sebagai seorang citizen journalist (jurnalis warga) yang akan melaporkan berbagai peristiwa dan kejadian di sekitar saya tinggal, dan umumnya kota Jogja. Tentu tak cuma laporan saja. Sebagai blogger saya juga akan memberikan semacam analisis dan komentar atas peristiwa yang saya laporkan.

Kenapa saya berpikiran begitu? Alasan pertama dan terutama tentu saja agar ada keselarasan antara kegiatan saya di dunia offline (sebagai mahasiswa jurnalistik yang magang di sebuah media cetak) dengan aktivitas saya di dunia maya (sebagai blogger yang harus senantiasa meng-update blog). Saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencari pengalaman di lapangan praktis dunia jurnalistik, tapi saya juga tidak mau menelantarkan blog yang sudah memberi 1 unit komputer, 1 modem, 1 sepeda motor, tambahan uang jajan yang cukup, dan segudang teman pada saya ini. So, saya rasa jalan tengah inilah yang harus saya ambil agar keduanya bisa berjalan beriringan.

Btw, ini masih rencana kasar koq. Artinya masih bisa berubah-ubah dan belum final. Untuk itu saya minta saran dan masukan dari teman-teman mengenai hal ini. Saya akan mengambil keputusan setelah membaca saran dan masukan teman-teman di kolom komentar. Kalau dipikir-pikir sebenarnya aneh ya? Mau berubah koq pake minta saran segala. Tapi itulah saya. Hahaha...