Selamat datang di ...

30 Juni 2008

Melanjutkan cerita di posting sebelumnya, teman saya yang semula menyatakan kalau ngeblog itu hanyalah sebuah pemborosan kini malah tertarik sekali mempelajari blog. Sayang disayang, ternyata motivasi utamanya uang. Ya, dia tertarik pada blog karena ingin mencari uang dengan blog. Padahal menurut beberapa blogger senior seperti John Chow dan Yaro Starak, memulai blog dengan motivasi uang hanya akan berakhir pada kegagalan. Dan saya yakin ucapan mereka betul.

Berkaitan dengan teman saya tadi, tentu tidak mungkin dong saya sampaikan hal tersebut. Salah-salah saya malah dianggap pelit, tidak mau berbagi ilmu. Namun tetap saja saya harus menyampaikan kenyataan sesungguhnya bahwa mencari uang dengan blog itu bukan perkara gampang. Butuh pengorbanan di masa awal, butuh kesabaran dan ketelatenan pada saat blog sudah berjalan stabil, serta butuh sikap rendah hati luar biasa untuk terus belajar demi mencapai perolehan yang lebih baik dari waktu ke waktu.



Pada teman saya, kalimatnya saya sederhanakan menjadi begini, “Kamu yang penting buat blog saja dulu. Urusan mencari duit dipikir nanti saja setelah blogmu jadi.” Dia lantas bertanya, “Memang tidak bisa ya langsung dapat duit?” Nah, inilah pertanyaan yang paling saya takuti. Bagaimana menjawabnya? Saya hanya berkata diplomatis, “Segala sesuatu itu kan butuh proses.” Diapun diam.

Besok-besoknya, itu teman ternyata malah tidak tertarik lagi ngeblog. Alasannya ada-ada saja. Alasan pertama tidak bisa membuat blog. Katanya dia belum pernah membuat blog, jadi tidak tahu bagaimana caranya membuat blog. Ini alasan lucu bagi saya. Kalaupun memang itu alasannya, kan ada saya yang siap membantu? Saya dulu juga tidak bisa membuat blog. Tapi berkat kemauan belajar dan keberanian mencoba (plus berkorban uang yang tidak sedikit untuk berjam-jam online di warnet), akhirnya saya bisa juga.

Alasan kedua, dia bilang tidak pintar bahasa Inggris. Meskipun merasa gemas, saya tidak mau mendebat alasannya. Saya hanya menunjukkan profil Muridman dalam eBook wawancara publisher sukses AdSense yang disusun Mas Cosa. Dalam wawancara tersebut Muridman cerita kalau dia awalnya sama sekali tidak bisa bahasa Inggris. Tapi berkat kemauan belajar yang kuat akhirnya ia malah menjadi salah satu publisher AdSense sukses di Indonesia. Setelah membaca wawancara tersebut, saya tambahkan pada teman saya tadi, “Kalau memang kesulitan bahasa Inggris, buat saja blog bahasa Indonesia. Blog-ku juga berbahasa Indonesia koq.” Dia hanya diam.

Alasan ketiga, dia bilang kalau dia tidak bisa menulis. Hmm, ini juga alasan tidak masuk akal. Masa iya dia yang sudah sarjana mengaku tidak bisa menulis? Bohong besar itu! Catat baik-baik, setiap sarjana seharusnya pandai menulis. Kenapa? Karena mereka lulus jadi sarjana itu berkat menulis. Tidak main-main, yang ditulis sebuah karya ilmiah dengan referensi minimal 30 judul buku. So, kalau sudah jadi sarjana mengaku tidak bisa menulis, terus terang saya ragu dengan skripsi yang dia susun.

Akhirnya, setelah beragam alasan yang dia lontarkan saya berkesimpulan kalau si teman tadi tidak benar-benar ingin belajar ngeblog. Dia pikir dengan blog dia bisa mendapat uang dengan mudah dan cepat. Tapi begitu tahu prosesnya panjang dan butuh kesabaran ekstra, dia memilih mundur dengan berjuta alasan yang sebenarnya hanyalah alasan belaka. Saya jadi teringat ucapan seorang teman SMA yang sekarang sudah terbilang sukses besar dengan satu perusahaan MLM.

“Kalau ingin sukses, lupakanlah alasan. Tapi kalau mau alasan, lupakanlah sukses.”

Bagaimana pendapat Anda?


NB: Akhirnya Spanyol jadi pemenang Euro 2008. Ayo baca apa yang saya tulis tentang momen paling hot dalam sepakbola Eropa ini di blog sepakbola saya.

Melanjutkan cerita di posting sebelumnya, teman saya yang semula menyatakan kalau ngeblog itu hanyalah sebuah pemborosan kini malah tertarik sekali mempelajari blog. Sayang disayang, ternyata motivasi utamanya uang. Ya, dia tertarik pada blog karena ingin mencari uang dengan blog. Padahal menurut beberapa blogger senior seperti John Chow dan Yaro Starak, memulai blog dengan motivasi uang hanya akan berakhir pada kegagalan. Dan saya yakin ucapan mereka betul.

Berkaitan dengan teman saya tadi, tentu tidak mungkin dong saya sampaikan hal tersebut. Salah-salah saya malah dianggap pelit, tidak mau berbagi ilmu. Namun tetap saja saya harus menyampaikan kenyataan sesungguhnya bahwa mencari uang dengan blog itu bukan perkara gampang. Butuh pengorbanan di masa awal, butuh kesabaran dan ketelatenan pada saat blog sudah berjalan stabil, serta butuh sikap rendah hati luar biasa untuk terus belajar demi mencapai perolehan yang lebih baik dari waktu ke waktu.



Pada teman saya, kalimatnya saya sederhanakan menjadi begini, “Kamu yang penting buat blog saja dulu. Urusan mencari duit dipikir nanti saja setelah blogmu jadi.” Dia lantas bertanya, “Memang tidak bisa ya langsung dapat duit?” Nah, inilah pertanyaan yang paling saya takuti. Bagaimana menjawabnya? Saya hanya berkata diplomatis, “Segala sesuatu itu kan butuh proses.” Diapun diam.

Besok-besoknya, itu teman ternyata malah tidak tertarik lagi ngeblog. Alasannya ada-ada saja. Alasan pertama tidak bisa membuat blog. Katanya dia belum pernah membuat blog, jadi tidak tahu bagaimana caranya membuat blog. Ini alasan lucu bagi saya. Kalaupun memang itu alasannya, kan ada saya yang siap membantu? Saya dulu juga tidak bisa membuat blog. Tapi berkat kemauan belajar dan keberanian mencoba (plus berkorban uang yang tidak sedikit untuk berjam-jam online di warnet), akhirnya saya bisa juga.

Alasan kedua, dia bilang tidak pintar bahasa Inggris. Meskipun merasa gemas, saya tidak mau mendebat alasannya. Saya hanya menunjukkan profil Muridman dalam eBook wawancara publisher sukses AdSense yang disusun Mas Cosa. Dalam wawancara tersebut Muridman cerita kalau dia awalnya sama sekali tidak bisa bahasa Inggris. Tapi berkat kemauan belajar yang kuat akhirnya ia malah menjadi salah satu publisher AdSense sukses di Indonesia. Setelah membaca wawancara tersebut, saya tambahkan pada teman saya tadi, “Kalau memang kesulitan bahasa Inggris, buat saja blog bahasa Indonesia. Blog-ku juga berbahasa Indonesia koq.” Dia hanya diam.

Alasan ketiga, dia bilang kalau dia tidak bisa menulis. Hmm, ini juga alasan tidak masuk akal. Masa iya dia yang sudah sarjana mengaku tidak bisa menulis? Bohong besar itu! Catat baik-baik, setiap sarjana seharusnya pandai menulis. Kenapa? Karena mereka lulus jadi sarjana itu berkat menulis. Tidak main-main, yang ditulis sebuah karya ilmiah dengan referensi minimal 30 judul buku. So, kalau sudah jadi sarjana mengaku tidak bisa menulis, terus terang saya ragu dengan skripsi yang dia susun.

Akhirnya, setelah beragam alasan yang dia lontarkan saya berkesimpulan kalau si teman tadi tidak benar-benar ingin belajar ngeblog. Dia pikir dengan blog dia bisa mendapat uang dengan mudah dan cepat. Tapi begitu tahu prosesnya panjang dan butuh kesabaran ekstra, dia memilih mundur dengan berjuta alasan yang sebenarnya hanyalah alasan belaka. Saya jadi teringat ucapan seorang teman SMA yang sekarang sudah terbilang sukses besar dengan satu perusahaan MLM.

“Kalau ingin sukses, lupakanlah alasan. Tapi kalau mau alasan, lupakanlah sukses.”

Bagaimana pendapat Anda?


NB: Akhirnya Spanyol jadi pemenang Euro 2008. Ayo baca apa yang saya tulis tentang momen paling hot dalam sepakbola Eropa ini di blog sepakbola saya.

28 Juni 2008

Bagi kebanyakan teman-teman sekos saya, internet itu hanyalah kebutuhan tersier yang jarang-jarang digunakan. Paling sering mereka ke warnet tiga kali seminggu. Itupun cukup mengecek email dan googling data untuk mengerjakan tugas dari kampus. Tidak sampai sejam selesai sudah aktivitas online mereka.

Berangkat dari sini tidak heran jika teman-teman saya bertanya-tanya kenapa saya begitu sering ke warnet. Kalau mereka paling sering seminggu tiga kali, saya kebalikannya. Hampir tiap hari saya ke warnet, dan tidak pernah sebentar. Paling cepat dua jam. Tentu saja itu merupakan hal aneh bagi mereka. Cuma tidak satupun dari mereka yang berani bertanya apa saja yang saya kerjakan kalau ke warnet. Karena tidak ada yang bertanya maka sayapun tidak mau dong menceritakan apa yang saya kerjakan di internet. Tar malah dibilang sok lagi.

Eh, ternyata serapat-rapat kita menyimpan kotoran, suatu saat pasti akan keluar juga. Maksud saya, sepandai apapun kita menyimpan rahasia, suatu waktu pasti akan diketahui orang. Begitu juga dengan “rahasia” kehidupan online yang saya simpan rapat-rapat. Suatu hari saat sedang mengotak-atik blog di warnet langganan dekat kos, seorang teman datang dan memergoki aktivitas saya. Dari sanalah berita kemudian menyebar.

Kebetulan saya dulu pernah meminjamkan buku tentang blog pada seorang teman. Ketika mendengar berita tentang kehidupan online saya, diapun memberanikan diri bertanya. Pertanyaannya standar sih, “Kamu buat blog ya?” Saya jawab pendek saja, “Iya.” Trus pertanyaan kedua meluncur, “Susah nggak sih buat blog itu?” Saya jawab dengan malas-malasan, “Pertamanya jelas susah. Tapi kalau sudah terbiasa jadi mudah.” Hehehe, jawaban yang sangat standar sekali ya?

Dialog itupun meluncur sampai menyinggung hal yang sangat sensitif: uang! Awalnya teman saya berkomentar, “Kalo punya blog berarti harus sering-sering ke warnet. Kalau nggak kan berarti blognya nggak bisa di-update.” Saya tanggapi singkat, “Memang iya.” Nah, komentar kedua ini yang bikin panas telinga para blogger, terutama yang mencari uang dengan blog. Begini katanya, “Kalau begitu punya blog ngabis-ngabisin duit ya? Kalau tiap hari harus ke warnet kan boros.” Apa jawaban Anda kalau ada yang berkomentar begini pada Anda?

Apapun jawaban Anda, minumnya The Botol Sosro. Eh, bukan. Maksudnya, apapun jawaban Anda, kalau saya memilih balik menembak orang tersebut. Terhadap teman yang tadipun begitu. Selesai dia mengucapkan kata terakhir, saya langsung berkata, “Siapa bilang? Justru kita bisa nyari duit dengan blog koq.” Tak lupa pula menyisipkan kisah nyata sebagai penguat argument. “Di Surabaya ada cowok yang bisa dapat puluhan juta rupiah sebulan dari blog (maksudnya Mas Cosa Aranda). Trus di Tegalgendu, Kotagede, ada juga yang bisa dapat segitu. Juga dari blog (maksudnya Mas Isnaini. Eh, tapi kayanya sudah pindahan deh).”

Hmm, bisakah Anda tebak bagaimana reaksi teman saya tadi setelah mendengar jawaban saya? Skeptis, itu jelas karena saya hanya bilang “ada” tapi buktinya tidak bisa saya tunjukkan. Tidak mungkin kan saya ajak dia ke tempat Mas Isnaini atau Mas Cosa hanya untuk membuktikan bahwa mereka berdua benar-benar menghasilkan uang dari blog. Melihat wajah tidak percayanya itu saya jadi gemas. Kebetulan komputer sedang menyala. Kebetulan pula saya rajin menyimpan screenshot halaman bonus beberapa program yang saya ikuti. Tidak menunggu lama, saya langsung membuka file-file rekaman penghasilan saya di internet dan menunjukkannya ke dia.

Melihat deretan angka $2, $5, $8 dan $10 yang akumulasinya mencapai ratusan dolar, teman saya tadi langsung mengernyitkan kening. Tidak saya sangka-sangka ternyata dia dalam hati menghitung berapa yang sudah saya hasilkan. “Empat juta,” gumamnya entah kepada siapa. Trus dia bertanya, “Itu berapa lama kamu kumpulkan?” Saya jawab jujur, “Sejak Januari”. Saya tambahkan lagi, “Ini komputer belinya pake uang itu.”

Diapun terdiam. Entah apa yang ada di benaknya. Bisa jadi bingung mau bilang apa lagi. Bisa juga karena kagum melihat apa yang sudah saya hasilkan dari blog. Padahal jumlah itu masih teramat kecil jika dibandingkan dengan penghasilan blogger senior yang jauh lebih lama berkecimpung di dunia online earning. Coba dia tahu penghasilan Mas Cosa atau Mas Isnaini, saya jamin dia langsung megap-megap. Ujung-ujungnya (cerita mesti ada ujung kan? Kalau tidak ada ujung trus bagaimana?), teman saya malah bilang tertarik mempelajari blog. Dia juga bilang mau belajar mencari uang dengan blog. Aneh, padahal hanya beberapa saat sebelumnya dia bilang punya blog itu boros dan hanya menghabiskan uang saja. Dasar!

Bersambung………..

NB: Nanti malam final Euro 2008. Saya buat prediksi ngawur di blog sepakbola saya. Kalau ada yang mau ikut-ikutan ngawur, eh, maksudnya berprediksi, monggo datang ke sana.

Bagi kebanyakan teman-teman sekos saya, internet itu hanyalah kebutuhan tersier yang jarang-jarang digunakan. Paling sering mereka ke warnet tiga kali seminggu. Itupun cukup mengecek email dan googling data untuk mengerjakan tugas dari kampus. Tidak sampai sejam selesai sudah aktivitas online mereka.

Berangkat dari sini tidak heran jika teman-teman saya bertanya-tanya kenapa saya begitu sering ke warnet. Kalau mereka paling sering seminggu tiga kali, saya kebalikannya. Hampir tiap hari saya ke warnet, dan tidak pernah sebentar. Paling cepat dua jam. Tentu saja itu merupakan hal aneh bagi mereka. Cuma tidak satupun dari mereka yang berani bertanya apa saja yang saya kerjakan kalau ke warnet. Karena tidak ada yang bertanya maka sayapun tidak mau dong menceritakan apa yang saya kerjakan di internet. Tar malah dibilang sok lagi.

Eh, ternyata serapat-rapat kita menyimpan kotoran, suatu saat pasti akan keluar juga. Maksud saya, sepandai apapun kita menyimpan rahasia, suatu waktu pasti akan diketahui orang. Begitu juga dengan “rahasia” kehidupan online yang saya simpan rapat-rapat. Suatu hari saat sedang mengotak-atik blog di warnet langganan dekat kos, seorang teman datang dan memergoki aktivitas saya. Dari sanalah berita kemudian menyebar.

Kebetulan saya dulu pernah meminjamkan buku tentang blog pada seorang teman. Ketika mendengar berita tentang kehidupan online saya, diapun memberanikan diri bertanya. Pertanyaannya standar sih, “Kamu buat blog ya?” Saya jawab pendek saja, “Iya.” Trus pertanyaan kedua meluncur, “Susah nggak sih buat blog itu?” Saya jawab dengan malas-malasan, “Pertamanya jelas susah. Tapi kalau sudah terbiasa jadi mudah.” Hehehe, jawaban yang sangat standar sekali ya?

Dialog itupun meluncur sampai menyinggung hal yang sangat sensitif: uang! Awalnya teman saya berkomentar, “Kalo punya blog berarti harus sering-sering ke warnet. Kalau nggak kan berarti blognya nggak bisa di-update.” Saya tanggapi singkat, “Memang iya.” Nah, komentar kedua ini yang bikin panas telinga para blogger, terutama yang mencari uang dengan blog. Begini katanya, “Kalau begitu punya blog ngabis-ngabisin duit ya? Kalau tiap hari harus ke warnet kan boros.” Apa jawaban Anda kalau ada yang berkomentar begini pada Anda?

Apapun jawaban Anda, minumnya The Botol Sosro. Eh, bukan. Maksudnya, apapun jawaban Anda, kalau saya memilih balik menembak orang tersebut. Terhadap teman yang tadipun begitu. Selesai dia mengucapkan kata terakhir, saya langsung berkata, “Siapa bilang? Justru kita bisa nyari duit dengan blog koq.” Tak lupa pula menyisipkan kisah nyata sebagai penguat argument. “Di Surabaya ada cowok yang bisa dapat puluhan juta rupiah sebulan dari blog (maksudnya Mas Cosa Aranda). Trus di Tegalgendu, Kotagede, ada juga yang bisa dapat segitu. Juga dari blog (maksudnya Mas Isnaini. Eh, tapi kayanya sudah pindahan deh).”

Hmm, bisakah Anda tebak bagaimana reaksi teman saya tadi setelah mendengar jawaban saya? Skeptis, itu jelas karena saya hanya bilang “ada” tapi buktinya tidak bisa saya tunjukkan. Tidak mungkin kan saya ajak dia ke tempat Mas Isnaini atau Mas Cosa hanya untuk membuktikan bahwa mereka berdua benar-benar menghasilkan uang dari blog. Melihat wajah tidak percayanya itu saya jadi gemas. Kebetulan komputer sedang menyala. Kebetulan pula saya rajin menyimpan screenshot halaman bonus beberapa program yang saya ikuti. Tidak menunggu lama, saya langsung membuka file-file rekaman penghasilan saya di internet dan menunjukkannya ke dia.

Melihat deretan angka $2, $5, $8 dan $10 yang akumulasinya mencapai ratusan dolar, teman saya tadi langsung mengernyitkan kening. Tidak saya sangka-sangka ternyata dia dalam hati menghitung berapa yang sudah saya hasilkan. “Empat juta,” gumamnya entah kepada siapa. Trus dia bertanya, “Itu berapa lama kamu kumpulkan?” Saya jawab jujur, “Sejak Januari”. Saya tambahkan lagi, “Ini komputer belinya pake uang itu.”

Diapun terdiam. Entah apa yang ada di benaknya. Bisa jadi bingung mau bilang apa lagi. Bisa juga karena kagum melihat apa yang sudah saya hasilkan dari blog. Padahal jumlah itu masih teramat kecil jika dibandingkan dengan penghasilan blogger senior yang jauh lebih lama berkecimpung di dunia online earning. Coba dia tahu penghasilan Mas Cosa atau Mas Isnaini, saya jamin dia langsung megap-megap. Ujung-ujungnya (cerita mesti ada ujung kan? Kalau tidak ada ujung trus bagaimana?), teman saya malah bilang tertarik mempelajari blog. Dia juga bilang mau belajar mencari uang dengan blog. Aneh, padahal hanya beberapa saat sebelumnya dia bilang punya blog itu boros dan hanya menghabiskan uang saja. Dasar!

Bersambung………..

NB: Nanti malam final Euro 2008. Saya buat prediksi ngawur di blog sepakbola saya. Kalau ada yang mau ikut-ikutan ngawur, eh, maksudnya berprediksi, monggo datang ke sana.

26 Juni 2008

Sudah bukan rahasia lagi kalau biaya internet di Indonesia ini tergolong mahal. Saya termasuk beruntung tinggal di Jogja, kota yang dijuluki Kota Pelajar dengan satu kelebihan yang tidak dimiliki kota-kota besar lain di Indonesia. Kelebihan apa itu? Makan lebih murah, ngenet juga lebih murah.  Ya, di Jogja ongkos ngenet di warnet hanya berkisar antara Rp 3000-3500/jam di waktu normal. Kalau malam harganya antara Rp 1500-2000/jam. Bahkan di daerah Karanggayam ada warnet yang memberi harga Rp 5000/3 jam plus kopi panas mulai jam 00.00-03.00. Bandingkan dengan Jakarta yang memasang tarif termurah Rp 5000/jam, atau di Jambi tempatnya Putra Eka yang tarifnya lebih mahal lagi (Rp 6000/jam).

Meskipun sudah termasuk murah, tapi kalau tiap hari online dengan durasi 2-3 jam lama-lama kantong saya bisa jebol juga. Padahal penghasilan masih belum pasti. Dihitung-hitung, saya mesti mengeluarkan sekitar Rp 200.000-300.000 sebulan untuk keperluan ngenet. Sementara penghasilan bulanan dari internet rata-rata masih berkisar di angka $50-150/bulan. Naik-turunnya memang sangat drastis karena saya masih belum punya sumber penghasilan tetap. Kebetulan saja bulan ini task dari Blogvertise sedang ramai, jadinya saya bisa mengantongi lebih banyak dolar. Bulan depan bisa jadi lebih tinggi, tapi juga bisa jadi lebih rendah lagi.

Kenyataan ini mendorong saya untuk berupaya mencari cara supaya bisa memperoleh akses internet murah. Bila perlu gratis. Cara pertama dan legal adalah dengan menjadi operator warnet. Tapi cara ini berulangkali gagal saya tempuh karena warnet-warnet yang saya lamar menolak saya semua. Lalu ada informasi layanan internet gratis dari beberapa operator GSM, namun ternyata caranya tidak membuat saya nyaman karena hati kecil saya mempertanyakan halal-haramnya cara tersebut. Sayapun tidak pernah berani mencobanya meskipun teman satu kos saya lancar jaya berinternet gratis menggunakan cara itu.

Suatu waktu saya membaca banner besar di sebuah warnet yang menawarkan langganan internet unlimited dengan biaya Rp 250.000/bulan. Lumayan murah kalau dihitung bahwa saya dapat akses 24 jam nonstop. Tapi sewaktu saya tanya informasi lebih banyak lagi ke pemilik warnet yang menyediakan layanan tersebut, ternyata saya mesti menyediakan antena sendiri. Kalau mau beli harganya sekitar Rp 1,5-2 juta. Kalau mau irit bisa menggunakan antena kaleng. Bukan opsi yang bagus bagi saya. So, saya lupakan tawaran tersebut.

Ujung-ujungnya saya bertanya pada Google di mana sih mencari internet murah? Jawaban yang diberikan Google beragam. Pro XL memberikan layanan internet berlangganan dengan biaya mulai dari 250.000 sebulan. Yang perlu saya sediakan hanyalah sebuah HP yang mendukung layanan GPRS. Tapi sewaktu saya kontak bagian customer service melalui form di situs resminya, jawaban yang saya tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Maka saya berpaling ke solusi yang ditawarkan oleh Indosat. Kebetulan beberapa blogger (terutama ini dan ini) sempat mengulas layanan GPRS Indosat (IM3 dan Mentari) yang terhitung murah bila menggunakan time based, yaitu Rp 100/menit. Tak mau menunggu lama sayapun segera mencobanya.

Pertama-tama beli kartu perdana IM3 (sekalian memenuhi request si Putri yang juga memakai kartu ini). Berhubung saya sudah meng-install program Nokia PC Suite ke komputer, maka settingannya lebih gampang. Indosat punya dua layanan, yakni time based (Rp 100/menit) dan volume based (Rp 5/kb). Saya pernah mencoba yang volume based. Cuma buat buka mailbox saja sudah kesedot 3000-an. Trus waktu coba ngecek EkoNurhuda.com pulsa yang tersisa 7000 langsung tandas. Busyet..! Nah, dengan layanan time based biayanya jauh lebih murah. Dibanding warnet memang masih lebih mahal, tapi ini tidak jadi masalah karena kecepatan koneksinya lebih baik daripada warnet.

Sudah beberapa hari ini saya ngenet menggunakan layanan GPRS IM3. Untuk menekan biaya, saya tidak pernah mengisi ulang kartu yang sudah dipakai. Jadi cukup beli kartu perdana saja. Begitu pulsa habis kartunya langsung dibuang deh. Dengan cara ini saya cuma keluar uang Rp 6000-7500 untuk akses internet selama 1 jam 40 menit. Masih kemahalan? Iya juga sih. Tapi daripada saya ngomel-ngomel terus di warnet karena koneksi yang super lelet (masa iya untuk ngedrop Entrecard saja bisa memakan waktu sampai 5 menit?), membayar sedikit lebih mahal tidak apalah. Btw, Anda punya informasi lain tentang layanan internet GPRS yang lebih murah? Tolong beritahu saya ya. Thanks a lot in advance…

Sudah bukan rahasia lagi kalau biaya internet di Indonesia ini tergolong mahal. Saya termasuk beruntung tinggal di Jogja, kota yang dijuluki Kota Pelajar dengan satu kelebihan yang tidak dimiliki kota-kota besar lain di Indonesia. Kelebihan apa itu? Makan lebih murah, ngenet juga lebih murah.  Ya, di Jogja ongkos ngenet di warnet hanya berkisar antara Rp 3000-3500/jam di waktu normal. Kalau malam harganya antara Rp 1500-2000/jam. Bahkan di daerah Karanggayam ada warnet yang memberi harga Rp 5000/3 jam plus kopi panas mulai jam 00.00-03.00. Bandingkan dengan Jakarta yang memasang tarif termurah Rp 5000/jam, atau di Jambi tempatnya Putra Eka yang tarifnya lebih mahal lagi (Rp 6000/jam).

Meskipun sudah termasuk murah, tapi kalau tiap hari online dengan durasi 2-3 jam lama-lama kantong saya bisa jebol juga. Padahal penghasilan masih belum pasti. Dihitung-hitung, saya mesti mengeluarkan sekitar Rp 200.000-300.000 sebulan untuk keperluan ngenet. Sementara penghasilan bulanan dari internet rata-rata masih berkisar di angka $50-150/bulan. Naik-turunnya memang sangat drastis karena saya masih belum punya sumber penghasilan tetap. Kebetulan saja bulan ini task dari Blogvertise sedang ramai, jadinya saya bisa mengantongi lebih banyak dolar. Bulan depan bisa jadi lebih tinggi, tapi juga bisa jadi lebih rendah lagi.

Kenyataan ini mendorong saya untuk berupaya mencari cara supaya bisa memperoleh akses internet murah. Bila perlu gratis. Cara pertama dan legal adalah dengan menjadi operator warnet. Tapi cara ini berulangkali gagal saya tempuh karena warnet-warnet yang saya lamar menolak saya semua. Lalu ada informasi layanan internet gratis dari beberapa operator GSM, namun ternyata caranya tidak membuat saya nyaman karena hati kecil saya mempertanyakan halal-haramnya cara tersebut. Sayapun tidak pernah berani mencobanya meskipun teman satu kos saya lancar jaya berinternet gratis menggunakan cara itu.

Suatu waktu saya membaca banner besar di sebuah warnet yang menawarkan langganan internet unlimited dengan biaya Rp 250.000/bulan. Lumayan murah kalau dihitung bahwa saya dapat akses 24 jam nonstop. Tapi sewaktu saya tanya informasi lebih banyak lagi ke pemilik warnet yang menyediakan layanan tersebut, ternyata saya mesti menyediakan antena sendiri. Kalau mau beli harganya sekitar Rp 1,5-2 juta. Kalau mau irit bisa menggunakan antena kaleng. Bukan opsi yang bagus bagi saya. So, saya lupakan tawaran tersebut.

Ujung-ujungnya saya bertanya pada Google di mana sih mencari internet murah? Jawaban yang diberikan Google beragam. Pro XL memberikan layanan internet berlangganan dengan biaya mulai dari 250.000 sebulan. Yang perlu saya sediakan hanyalah sebuah HP yang mendukung layanan GPRS. Tapi sewaktu saya kontak bagian customer service melalui form di situs resminya, jawaban yang saya tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Maka saya berpaling ke solusi yang ditawarkan oleh Indosat. Kebetulan beberapa blogger (terutama ini dan ini) sempat mengulas layanan GPRS Indosat (IM3 dan Mentari) yang terhitung murah bila menggunakan time based, yaitu Rp 100/menit. Tak mau menunggu lama sayapun segera mencobanya.

Pertama-tama beli kartu perdana IM3 (sekalian memenuhi request si Putri yang juga memakai kartu ini). Berhubung saya sudah meng-install program Nokia PC Suite ke komputer, maka settingannya lebih gampang. Indosat punya dua layanan, yakni time based (Rp 100/menit) dan volume based (Rp 5/kb). Saya pernah mencoba yang volume based. Cuma buat buka mailbox saja sudah kesedot 3000-an. Trus waktu coba ngecek EkoNurhuda.com pulsa yang tersisa 7000 langsung tandas. Busyet..! Nah, dengan layanan time based biayanya jauh lebih murah. Dibanding warnet memang masih lebih mahal, tapi ini tidak jadi masalah karena kecepatan koneksinya lebih baik daripada warnet.

Sudah beberapa hari ini saya ngenet menggunakan layanan GPRS IM3. Untuk menekan biaya, saya tidak pernah mengisi ulang kartu yang sudah dipakai. Jadi cukup beli kartu perdana saja. Begitu pulsa habis kartunya langsung dibuang deh. Dengan cara ini saya cuma keluar uang Rp 6000-7500 untuk akses internet selama 1 jam 40 menit. Masih kemahalan? Iya juga sih. Tapi daripada saya ngomel-ngomel terus di warnet karena koneksi yang super lelet (masa iya untuk ngedrop Entrecard saja bisa memakan waktu sampai 5 menit?), membayar sedikit lebih mahal tidak apalah. Btw, Anda punya informasi lain tentang layanan internet GPRS yang lebih murah? Tolong beritahu saya ya. Thanks a lot in advance…

21 Juni 2008

Siapa yang tak suka gratisan? Jangan malu-malu mengakui. Saya yakin semua orang suka gratisan, termasuk Anda dan juga saya sendiri. Maka tak heran kalau segala sesuatu yang bersifat gratis selalu banyak dicari. Mulai dari majalah gratis, buku gratis, internet gratis, sms gratis, pulsa gratis, wallpaper gratis, ringtone gratis, makan gratis, rokok gratis, bahkan kalau ada isteri gratis. Hehehe… Intinya, di manapun berada yang namanya barang gratisan pasti diburu banyak orang. Tak terkecuali di dunia maya alias alam internet.

Hal ini didukung pula dengan hadirnya situs-situs yang menawarkan barang-barang gratis tersebut. Coba ketikkan “nama barang + gratis” di kotak pencarian Google, maka puluhan hingga ratusan situs penyedia barang gratis yang dicari itu akan muncul di halaman hasil pencarian. Hasil lebih banyak dapat diperoleh dengan melakukan pencarian dalam bahasa Inggris. Ketikkan “free + nama barang” atau “nama barang + for free”, maka jumlah situs di halaman hasil pencarian Google bisa jadi 2-3 kali lipat lebih banyak.

Salah satu situs penyedia gratisan tersebut adalah RingtonesFactory.com. Sesuai namanya, situs ini menyediakan free ringtone alias ringtone gratis untuk HP. Koleksinya sangat beragam, meliputi hampir semua jenis musik. Mulai dari rock, reggae, heavy metal, sampai jazz, latin dan lagu-lagu tahun 80-an. Setiap ringtone dibagi-bagi dalam masing-masing jenis musik sehingga mempermudah Anda mencari lagu yang diinginkan. Selain itu situs ini juga menyediakan daftar 40 ringtone yang paling sering didownload di halaman paling depan.

Bagaimana cara mendapatkan ringtone gratis ini? Tidak sulit. Anda cukup mendaftar sebagai member dan setelah diterima tinggal pilih ringtone yang disukai untuk didownload ke HP. Sama sekali tidak dipungut biaya. Hebatnya lagi, apapun jenis kartu yang Anda pakai sama sekali tidak berpengaruh. Anda tetap dapat memperoleh ringtone kesukaan langsung ke HP hanya dalam hitungan detik. Tidak percaya? Kalau begitu coba lihat keterangan yang saya kopi dari halaman depan RingtonesFactory.com berikut ini:
“No matter what your cellular provider is, you can have any of the hottest ringtones delivered to your phone within seconds, no credit card or software needed. Either choose from the list before or search our large ringtone database. So go ahead and get started!”
Bagaimana? Asyik kan? Kalau Anda suka gonta-ganti ringtone, coba saja kunjungi situs ini. Sayangnya, yang disediakan kebanyakan lagu-lagu berbahasa Inggris. So, kalau Anda tidak suka lagu-lagu berbahasa Inggris, situs ini bukan buat Anda.

Siapa yang tak suka gratisan? Jangan malu-malu mengakui. Saya yakin semua orang suka gratisan, termasuk Anda dan juga saya sendiri. Maka tak heran kalau segala sesuatu yang bersifat gratis selalu banyak dicari. Mulai dari majalah gratis, buku gratis, internet gratis, sms gratis, pulsa gratis, wallpaper gratis, ringtone gratis, makan gratis, rokok gratis, bahkan kalau ada isteri gratis. Hehehe… Intinya, di manapun berada yang namanya barang gratisan pasti diburu banyak orang. Tak terkecuali di dunia maya alias alam internet.

Hal ini didukung pula dengan hadirnya situs-situs yang menawarkan barang-barang gratis tersebut. Coba ketikkan “nama barang + gratis” di kotak pencarian Google, maka puluhan hingga ratusan situs penyedia barang gratis yang dicari itu akan muncul di halaman hasil pencarian. Hasil lebih banyak dapat diperoleh dengan melakukan pencarian dalam bahasa Inggris. Ketikkan “free + nama barang” atau “nama barang + for free”, maka jumlah situs di halaman hasil pencarian Google bisa jadi 2-3 kali lipat lebih banyak.

Salah satu situs penyedia gratisan tersebut adalah RingtonesFactory.com. Sesuai namanya, situs ini menyediakan free ringtone alias ringtone gratis untuk HP. Koleksinya sangat beragam, meliputi hampir semua jenis musik. Mulai dari rock, reggae, heavy metal, sampai jazz, latin dan lagu-lagu tahun 80-an. Setiap ringtone dibagi-bagi dalam masing-masing jenis musik sehingga mempermudah Anda mencari lagu yang diinginkan. Selain itu situs ini juga menyediakan daftar 40 ringtone yang paling sering didownload di halaman paling depan.

Bagaimana cara mendapatkan ringtone gratis ini? Tidak sulit. Anda cukup mendaftar sebagai member dan setelah diterima tinggal pilih ringtone yang disukai untuk didownload ke HP. Sama sekali tidak dipungut biaya. Hebatnya lagi, apapun jenis kartu yang Anda pakai sama sekali tidak berpengaruh. Anda tetap dapat memperoleh ringtone kesukaan langsung ke HP hanya dalam hitungan detik. Tidak percaya? Kalau begitu coba lihat keterangan yang saya kopi dari halaman depan RingtonesFactory.com berikut ini:
“No matter what your cellular provider is, you can have any of the hottest ringtones delivered to your phone within seconds, no credit card or software needed. Either choose from the list before or search our large ringtone database. So go ahead and get started!”
Bagaimana? Asyik kan? Kalau Anda suka gonta-ganti ringtone, coba saja kunjungi situs ini. Sayangnya, yang disediakan kebanyakan lagu-lagu berbahasa Inggris. So, kalau Anda tidak suka lagu-lagu berbahasa Inggris, situs ini bukan buat Anda.

20 Juni 2008

Boleh tidaknya menulis review dalam bahasa Indonesia memang masih belum jelas. Saya sendiri sempat punya niat untuk menanyakan hal ini langsung pada SponsoredReviews, namun tidak pernah saya lakukan karena satu dan lain hal. Yang saya lakukan kemudian hanyalah membaca-baca ToS SponsoredReviews dan menafsirkannya sendiri. So, kalau kemudian saya berani menulis beberapa review dalam bahasa Indonesia, itu merupakan hasil penafsiran saya pada ToS tersebut.

Mungkin ada yang berpendapat saya cuma sok nekat, mengingat ketentuan SponsoredReviews sendiri sudah jelas-jelas mengatakan bahwa “review harus ditulis dalam bahasa Inggris”. Tapi kalimat dalam poin tersebut tidak berhenti sampai di situ saja. Ada kelanjutannya yang kurang lebih berarti “kecuali ditentukan lain oleh advertiser”. Nah, pada kenyataannya sikap advertiser juga macam-macam. Ada yang jelas-jelas mengharuskan review ditulis dalam bahasa Inggris, ada yang membebaskan blogger untuk menulis dalam bahasa apa saja, dan kebanyakan malah tidak menyinggung sama sekali mengenai bahasa yang harus digunakan.

Oke, katakanlah sebenarnya review berbahasa Indonesia tidak boleh, lantas kenapa saya berani menulis beberapa review dalam bahasa Indonesia? Jawabannya adalah pada judul dan deskripsi blog yang ada di sistem SponsoredReviews. Saya mengubah judul dan deskripsi blog ini sehingga advertiser segera tahu kalau bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan semua review di blog ini juga akan dituliskan dalam bahasa tersebut. Jadi, kalau advertiser menerima bid dari blog ini, maka saya anggap advertiser tersebut sudah tahu ketentuan ini dan menyetujuinya.

Pada saat mendaftarkan blog, kita harus mencantumkan bahasa blog pada bagian judul bila blog yang didaftarkan tidak berbahasa Inggris. Dan memang SponsoredReviews menerima blog yang tidak berbahasa Inggris. Nah, inilah yang saya jadikan celah untuk mencari jalan bagaimana supaya dapat menulis review dalam bahasa Indonesia. Soalnya lucu kan kalau blog berbahasa Indonesia koq tiba-tiba memuat posting berbahasa Inggris.

Maka pada bagian judul saya tuliskan begini “EkoNurhuda.com – A PR 4 Indonesian Personal Business Blog”. Jadi begitu advertiser melihat blog saya mereka akan langsung tahu kalau blog ini adalah blog berbahasa Indonesia. Lalu keterangan tambahan saya tuliskan di bagian deskripsi yang menyatakan bahwa EkoNurhuda.com adalah blog berbahasa Indonesia. Apabila advertiser menerima bid dari blog ini, maka berarti menyetujui bahwa review akan ditulis dalam bahasa Indonesia. Itu saja.

Sampai saat ini sudah ada beberapa review yang saya tulis dalam bahasa Indonesia. Jujur saja awalnya saya ada ketakutan kalau-kalau SponsoredReviews tidak menerimanya. Ternyata sejauh ini lancar-lancar saja. Berhubung di SponsoredReviews tidak ada proses approval seperti di Blogvertise, Smorty ataupun situs paid review lain, maka begitu alamat URL review di-submit jumlah dolar dalam account saya secara otomatis langsung bertambah. Dan semua komisi review tersebut sudah saya terima.

Seperti sudah saya katakan di posting sebelumnya, keberanian menulis review dalam bahasa Indonesia ini hanyalah penafsiran pribadi saya pada beberapa butir ketentuan (ToS) SponsoredReviews. Itu artinya Anda bisa jadi mempunyai penafsiran dan sikap berbeda. So, apapun pendapat Anda, saya akan sangat senang sekali jika Anda bersedia menuangkannya dalam kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

Boleh tidaknya menulis review dalam bahasa Indonesia memang masih belum jelas. Saya sendiri sempat punya niat untuk menanyakan hal ini langsung pada SponsoredReviews, namun tidak pernah saya lakukan karena satu dan lain hal. Yang saya lakukan kemudian hanyalah membaca-baca ToS SponsoredReviews dan menafsirkannya sendiri. So, kalau kemudian saya berani menulis beberapa review dalam bahasa Indonesia, itu merupakan hasil penafsiran saya pada ToS tersebut.

Mungkin ada yang berpendapat saya cuma sok nekat, mengingat ketentuan SponsoredReviews sendiri sudah jelas-jelas mengatakan bahwa “review harus ditulis dalam bahasa Inggris”. Tapi kalimat dalam poin tersebut tidak berhenti sampai di situ saja. Ada kelanjutannya yang kurang lebih berarti “kecuali ditentukan lain oleh advertiser”. Nah, pada kenyataannya sikap advertiser juga macam-macam. Ada yang jelas-jelas mengharuskan review ditulis dalam bahasa Inggris, ada yang membebaskan blogger untuk menulis dalam bahasa apa saja, dan kebanyakan malah tidak menyinggung sama sekali mengenai bahasa yang harus digunakan.

Oke, katakanlah sebenarnya review berbahasa Indonesia tidak boleh, lantas kenapa saya berani menulis beberapa review dalam bahasa Indonesia? Jawabannya adalah pada judul dan deskripsi blog yang ada di sistem SponsoredReviews. Saya mengubah judul dan deskripsi blog ini sehingga advertiser segera tahu kalau bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan semua review di blog ini juga akan dituliskan dalam bahasa tersebut. Jadi, kalau advertiser menerima bid dari blog ini, maka saya anggap advertiser tersebut sudah tahu ketentuan ini dan menyetujuinya.

Pada saat mendaftarkan blog, kita harus mencantumkan bahasa blog pada bagian judul bila blog yang didaftarkan tidak berbahasa Inggris. Dan memang SponsoredReviews menerima blog yang tidak berbahasa Inggris. Nah, inilah yang saya jadikan celah untuk mencari jalan bagaimana supaya dapat menulis review dalam bahasa Indonesia. Soalnya lucu kan kalau blog berbahasa Indonesia koq tiba-tiba memuat posting berbahasa Inggris.

Maka pada bagian judul saya tuliskan begini “EkoNurhuda.com – A PR 4 Indonesian Personal Business Blog”. Jadi begitu advertiser melihat blog saya mereka akan langsung tahu kalau blog ini adalah blog berbahasa Indonesia. Lalu keterangan tambahan saya tuliskan di bagian deskripsi yang menyatakan bahwa EkoNurhuda.com adalah blog berbahasa Indonesia. Apabila advertiser menerima bid dari blog ini, maka berarti menyetujui bahwa review akan ditulis dalam bahasa Indonesia. Itu saja.

Sampai saat ini sudah ada beberapa review yang saya tulis dalam bahasa Indonesia. Jujur saja awalnya saya ada ketakutan kalau-kalau SponsoredReviews tidak menerimanya. Ternyata sejauh ini lancar-lancar saja. Berhubung di SponsoredReviews tidak ada proses approval seperti di Blogvertise, Smorty ataupun situs paid review lain, maka begitu alamat URL review di-submit jumlah dolar dalam account saya secara otomatis langsung bertambah. Dan semua komisi review tersebut sudah saya terima.

Seperti sudah saya katakan di posting sebelumnya, keberanian menulis review dalam bahasa Indonesia ini hanyalah penafsiran pribadi saya pada beberapa butir ketentuan (ToS) SponsoredReviews. Itu artinya Anda bisa jadi mempunyai penafsiran dan sikap berbeda. So, apapun pendapat Anda, saya akan sangat senang sekali jika Anda bersedia menuangkannya dalam kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

18 Juni 2008

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau saya sudah beberapa kali menulis paid review dalam bahasa Indonesia di blog ini. Saya bilang mungkin karena yang dapat mengenali paid review tersebut tak sampai 5 orang. Satu-dua di antaranya bertanya “apakah ini paid review? Tapi koq berbahasa Indonesia?” Sementara kebanyakan pembaca tidak mengenali paid review berbahasa Indonesia tersebut. Buktinya ada paid review yang mendapat komentar dari pembaca seperti halnya posting nonkomersil lain.

Pertanyaan yang kemudian mencuat adalah, “Bolehkah menulis paid review dalam bahasa Indonesia?” Kalau pertanyaan tersebut ditujukan pada saya, maka saya akan menjawab, “Tergantung situs paid review mana yang memberikan job/task.” Kenapa? Karena ada broker paid review yang hanya membolehkan review dalam bahasa Inggris. Beberapa malah sama sekali tidak mau menerima keanggotaan dari blog yang tidak berbahasa Inggris, contohnya Smorty.

Lantas broker paid review mana yang membolehkan review berbahasa Indonesia? Sebenarnya tidak ada. Namun sepengetahuan saya terdapat dua situs yang tidak mempermasalahkan review berbahasa selain Inggris. Kedua situs tersebut adalah SponsoredReviews dan Blogvertise. Nama pertama saya sebut berdasarkan pengalaman pribadi, sedangkan situs kedua saya dapat dari pengalaman Kang Yusa dulu. Ya, saya bilang dulu karena sekarang Kang Yusa sudah tidak menulis review berbahasa Indonesia lagi untuk task yang didapatnya dari Blogvertise.

Di SponsoredReviews sendiri sebenarnya tidak ada aturan yang jelas-jelas membolehkan penulisan review dalam bahasa Indonesia. Hanya saja ada beberapa hal yang menurut saya dapat dijadikan sebagai pijakan untuk menulis review dalam bahasa Indonesia. Terutama ketentuan mengenai pencantuman bahasa blog (bagi blog yang tidak ditulis dalam bahasa Inggris) pada bagian keterangan judul blog saat hendak mendaftarkan blog bersangkutan. Dalam hemat saya, ketentuan ini semacam “ijin” untuk menulis review dalam bahasa asli yang menjadi bahasa pengantar blog.

Anda boleh setuju boleh juga menentang, namun logika saya koq mengatakan kalau kebijakan SponsoredReviews yang mau menerima blog selain berbahasa Inggris menandakan bahwa sebenarnya review juga dapat ditulis dalam bahasa selain Inggris. Bagi orang Indonesia, itu artinya review dapat ditulis dalam bahasa Indonesia.

Pendapat ngawur? Boleh juga kalau ada yang berkata demikian. SponsoredReviews sendiri memang menyatakan kalau review harus ditulis dalam bahasa Inggris, kecuali ditentukan lain oleh advertiser. Nah, selama ini advertiser terbagi jadi dua kelompok. Satu kelompok mengharuskan review ditulis dalam bahasa Inggris, yang biasanya mereka cantumkan di bagian “Requirements”. Sedangkan sisanya sama sekali tidak memberikan persyaratan apa-apa kecuali jumlah link, keyword yang dipakai, keyword pada judul review, ataupun larangan menggunakan konten situs advertiser pada review.

Melalui berbagai pertimbangan dan setelah mencermati hal-hal di atas, maka sayapun mengambil kesimpulan sendiri mengenai bahasa apa yang akan digunakan dalam penulisan review. Kalau advertiser jelas-jelas menuliskan “Review must be in English”, maka saya akan menuliskannya dalam bahasa Inggris. Tapi kalau tidak ada ketentuan apa-apa mengenai bahasa yang digunakan, ya saya akan nekat menuliskannya dalam bahasa Indonesia. Yang penting jumlah link, anchor text dan keyword-nya sesuai dengan keinginan advertiser, habis perkara.

Diterimakah review berbahasa Indonesia itu? Karena di SponsoredReviews tidak pakai sistem approval seperti halnya situs paid review lain, jujur saja saya tidak tahu bagaimana sebenarnya sikap SponsoredReviews mengenai hal ini. Tapi yang jelas semua komisi untuk review berbahasa Indonesia yang pernah saya tulis di blog ini sudah dibayarkan. Jadi, silakan Anda simpulkan sendiri.


Anda suka dengan posting-posting EkoNurhuda.com? Klik di sini untuk mendapatkan posting terbaru blog ini di mailbox Anda.

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau saya sudah beberapa kali menulis paid review dalam bahasa Indonesia di blog ini. Saya bilang mungkin karena yang dapat mengenali paid review tersebut tak sampai 5 orang. Satu-dua di antaranya bertanya “apakah ini paid review? Tapi koq berbahasa Indonesia?” Sementara kebanyakan pembaca tidak mengenali paid review berbahasa Indonesia tersebut. Buktinya ada paid review yang mendapat komentar dari pembaca seperti halnya posting nonkomersil lain.

Pertanyaan yang kemudian mencuat adalah, “Bolehkah menulis paid review dalam bahasa Indonesia?” Kalau pertanyaan tersebut ditujukan pada saya, maka saya akan menjawab, “Tergantung situs paid review mana yang memberikan job/task.” Kenapa? Karena ada broker paid review yang hanya membolehkan review dalam bahasa Inggris. Beberapa malah sama sekali tidak mau menerima keanggotaan dari blog yang tidak berbahasa Inggris, contohnya Smorty.

Lantas broker paid review mana yang membolehkan review berbahasa Indonesia? Sebenarnya tidak ada. Namun sepengetahuan saya terdapat dua situs yang tidak mempermasalahkan review berbahasa selain Inggris. Kedua situs tersebut adalah SponsoredReviews dan Blogvertise. Nama pertama saya sebut berdasarkan pengalaman pribadi, sedangkan situs kedua saya dapat dari pengalaman Kang Yusa dulu. Ya, saya bilang dulu karena sekarang Kang Yusa sudah tidak menulis review berbahasa Indonesia lagi untuk task yang didapatnya dari Blogvertise.

Di SponsoredReviews sendiri sebenarnya tidak ada aturan yang jelas-jelas membolehkan penulisan review dalam bahasa Indonesia. Hanya saja ada beberapa hal yang menurut saya dapat dijadikan sebagai pijakan untuk menulis review dalam bahasa Indonesia. Terutama ketentuan mengenai pencantuman bahasa blog (bagi blog yang tidak ditulis dalam bahasa Inggris) pada bagian keterangan judul blog saat hendak mendaftarkan blog bersangkutan. Dalam hemat saya, ketentuan ini semacam “ijin” untuk menulis review dalam bahasa asli yang menjadi bahasa pengantar blog.

Anda boleh setuju boleh juga menentang, namun logika saya koq mengatakan kalau kebijakan SponsoredReviews yang mau menerima blog selain berbahasa Inggris menandakan bahwa sebenarnya review juga dapat ditulis dalam bahasa selain Inggris. Bagi orang Indonesia, itu artinya review dapat ditulis dalam bahasa Indonesia.

Pendapat ngawur? Boleh juga kalau ada yang berkata demikian. SponsoredReviews sendiri memang menyatakan kalau review harus ditulis dalam bahasa Inggris, kecuali ditentukan lain oleh advertiser. Nah, selama ini advertiser terbagi jadi dua kelompok. Satu kelompok mengharuskan review ditulis dalam bahasa Inggris, yang biasanya mereka cantumkan di bagian “Requirements”. Sedangkan sisanya sama sekali tidak memberikan persyaratan apa-apa kecuali jumlah link, keyword yang dipakai, keyword pada judul review, ataupun larangan menggunakan konten situs advertiser pada review.

Melalui berbagai pertimbangan dan setelah mencermati hal-hal di atas, maka sayapun mengambil kesimpulan sendiri mengenai bahasa apa yang akan digunakan dalam penulisan review. Kalau advertiser jelas-jelas menuliskan “Review must be in English”, maka saya akan menuliskannya dalam bahasa Inggris. Tapi kalau tidak ada ketentuan apa-apa mengenai bahasa yang digunakan, ya saya akan nekat menuliskannya dalam bahasa Indonesia. Yang penting jumlah link, anchor text dan keyword-nya sesuai dengan keinginan advertiser, habis perkara.

Diterimakah review berbahasa Indonesia itu? Karena di SponsoredReviews tidak pakai sistem approval seperti halnya situs paid review lain, jujur saja saya tidak tahu bagaimana sebenarnya sikap SponsoredReviews mengenai hal ini. Tapi yang jelas semua komisi untuk review berbahasa Indonesia yang pernah saya tulis di blog ini sudah dibayarkan. Jadi, silakan Anda simpulkan sendiri.


Anda suka dengan posting-posting EkoNurhuda.com? Klik di sini untuk mendapatkan posting terbaru blog ini di mailbox Anda.

16 Juni 2008

Beberapa waktu lalu saya pernah bercerita mengenai betapa baiknya Blogvertise. Saat itu saya mempunyai beberapa task yang ternyata sebagian sudah expired. Setengah berspekulasi saya tetap menggarap task tersebut dan men-submit alamat URL reviewnya ke situs Blogvertise. Tapi yang namanya sistem komputerisasi, sekali dibilang expired ya tetap expired. No compromise bagi mesin.

Lain mesin lain pula customer service yang manusia. Eh, tapi customer service apa partner service sih? Kita kan partner, bukan customer. Well, whatever-lah. Kembali ke cerita tadi. Berhubung nilai task tersebut lumayan ($10/task), maka saya coba-coba komplain ke CS-nya. Biasanya yang menjawab Lorie atau Cheryl, namun kali ini saya dibantu oleh Marie Ossoris. Dan poin pentingnya adalah: task yang sudah expired tadi di-reassign (duh, bahasa Indonesianya apa ya?) oleh Marie dan sayapun tetap bisa mendapatkan $10 saya. Alhamdulillah.

Ternyata kebaikan hati Blogvertise tidak sampai di situ saja. Tidak hanya untuk urusan task yang expired. Pengalaman saya baru-baru ini memberikan lebih dari itu. Dan sampailah saya pada kesimpulan betapa luar biasanya Blogvertise. Setidaknya, sampai saat ini untuk urusan customer (atau partner) service Blogvertise adalah yang teratas. Ini bukan pujian gombal. Bukan pula karena Blogvertise adalah salah satu sumber dolar andalan saya. Posting ini hanyalah ungkapan terima kasih saya pada Blogvertise yang telah turut menyelamatkan periuk nasi saya. :))

Ngomong-ngomong, apa sih kejadiannya?

Oke. Ceritanya saya beberapa waktu lalu dapat banyak task. Nilainya semua $10/task. Cuma sialnya itu task untuk blog saya yang sudah tidak eksis lagi, yakni Eko-Nurhuda.blogspot.com. Blog ini kan sudah saya custom domain sehingga alamatnya berubah jadi EkoNurhuda.com. Sayapun lantas teringat Marie dan meminta bantuannya untuk mengatasi persoalan ini. Saya jelaskan duduk perkaranya dan saya ajukan beberapa alternatif solusi yang dapat dijadikan pertimbangan olehnya.

Alternatif pertama, saya minta Marie untuk mengubah alamat blog saya dari alamat lama di BlogSpot menjadi yang sekarang. Kedua, saya daftarkan EkoNurhuda.com ke Blogvertise dan kemudian Marie mengoper task yang ditujukan untuk Eko-Nurhuda.blogspot.com ke EkoNurhuda.com. Saya yakin kedua alternatif yang saya tawarkan tersebut dapat dilakukan oleh Marie, terutama opsi kedua. Namun entah kenapa koq tidak ada perubahan dan ujung-ujungnya malah account saya yang di-suspend.

Wow, tentu saja saya terkejut sewaktu masuk ke member area dan tertulis “Status: Suspended”. Waduh! Buru-buru saya kontak Marie dan bertanya kenapa account saya di-suspend? Sekalian juga saya jelaskan kalau komisi saya masih banyak yang belum dibayarkan karena belum sampai tanggal pembayarannya. Nah, kalau sudah di-suspend kan berarti dolar tersebut jadi hangus? Saya tentu saja tidak rela dan bilang ke Marie kalau memang saya di-suspend mohon komisi tetap dibayarkan. Maksa banget gak sih?

Di sinilah keistimewaan Blogvertise terlihat. Besoknya saat saya membuka mailbox terdapat balasan dari Marie. Ia menjelaskan bahwa account saya tidak ada yang di-suspend. Komisi yang ada di account saya juga akan tetap dibayarkan bila saatnya sudah tiba. Ooh, betapa leganya. Dan benar saja. Begitu saya buka situs Blogvertise dan masuk ke member area, di bagian atasnya tertulis “Status: Approved”. Alhamdulillah. Tidak jadi kehilangan satu sumber penghasilan deh. :))

Sayangnya persoalan task untuk blog yang sudah tidak eksis tadi tidak ada penyelesaian. Akhirnya dengan terpaksa saya men-decline task-task tersebut. Yah, daripada nekat saya garap tapi ujung-ujungnya jadi masalah? Sayang juga sih. $10 dikali 5 kan $50 alias Rp 450.000 (dengan kurs Rp 9000)? Ya sudah, itu berarti bukan rejeki saya. Insya Allah ada gantinya nanti. Mudah-mudahan saja lebih banyak. Hehehe…. Eh, amin.

Beberapa waktu lalu saya pernah bercerita mengenai betapa baiknya Blogvertise. Saat itu saya mempunyai beberapa task yang ternyata sebagian sudah expired. Setengah berspekulasi saya tetap menggarap task tersebut dan men-submit alamat URL reviewnya ke situs Blogvertise. Tapi yang namanya sistem komputerisasi, sekali dibilang expired ya tetap expired. No compromise bagi mesin.

Lain mesin lain pula customer service yang manusia. Eh, tapi customer service apa partner service sih? Kita kan partner, bukan customer. Well, whatever-lah. Kembali ke cerita tadi. Berhubung nilai task tersebut lumayan ($10/task), maka saya coba-coba komplain ke CS-nya. Biasanya yang menjawab Lorie atau Cheryl, namun kali ini saya dibantu oleh Marie Ossoris. Dan poin pentingnya adalah: task yang sudah expired tadi di-reassign (duh, bahasa Indonesianya apa ya?) oleh Marie dan sayapun tetap bisa mendapatkan $10 saya. Alhamdulillah.

Ternyata kebaikan hati Blogvertise tidak sampai di situ saja. Tidak hanya untuk urusan task yang expired. Pengalaman saya baru-baru ini memberikan lebih dari itu. Dan sampailah saya pada kesimpulan betapa luar biasanya Blogvertise. Setidaknya, sampai saat ini untuk urusan customer (atau partner) service Blogvertise adalah yang teratas. Ini bukan pujian gombal. Bukan pula karena Blogvertise adalah salah satu sumber dolar andalan saya. Posting ini hanyalah ungkapan terima kasih saya pada Blogvertise yang telah turut menyelamatkan periuk nasi saya. :))

Ngomong-ngomong, apa sih kejadiannya?

Oke. Ceritanya saya beberapa waktu lalu dapat banyak task. Nilainya semua $10/task. Cuma sialnya itu task untuk blog saya yang sudah tidak eksis lagi, yakni Eko-Nurhuda.blogspot.com. Blog ini kan sudah saya custom domain sehingga alamatnya berubah jadi EkoNurhuda.com. Sayapun lantas teringat Marie dan meminta bantuannya untuk mengatasi persoalan ini. Saya jelaskan duduk perkaranya dan saya ajukan beberapa alternatif solusi yang dapat dijadikan pertimbangan olehnya.

Alternatif pertama, saya minta Marie untuk mengubah alamat blog saya dari alamat lama di BlogSpot menjadi yang sekarang. Kedua, saya daftarkan EkoNurhuda.com ke Blogvertise dan kemudian Marie mengoper task yang ditujukan untuk Eko-Nurhuda.blogspot.com ke EkoNurhuda.com. Saya yakin kedua alternatif yang saya tawarkan tersebut dapat dilakukan oleh Marie, terutama opsi kedua. Namun entah kenapa koq tidak ada perubahan dan ujung-ujungnya malah account saya yang di-suspend.

Wow, tentu saja saya terkejut sewaktu masuk ke member area dan tertulis “Status: Suspended”. Waduh! Buru-buru saya kontak Marie dan bertanya kenapa account saya di-suspend? Sekalian juga saya jelaskan kalau komisi saya masih banyak yang belum dibayarkan karena belum sampai tanggal pembayarannya. Nah, kalau sudah di-suspend kan berarti dolar tersebut jadi hangus? Saya tentu saja tidak rela dan bilang ke Marie kalau memang saya di-suspend mohon komisi tetap dibayarkan. Maksa banget gak sih?

Di sinilah keistimewaan Blogvertise terlihat. Besoknya saat saya membuka mailbox terdapat balasan dari Marie. Ia menjelaskan bahwa account saya tidak ada yang di-suspend. Komisi yang ada di account saya juga akan tetap dibayarkan bila saatnya sudah tiba. Ooh, betapa leganya. Dan benar saja. Begitu saya buka situs Blogvertise dan masuk ke member area, di bagian atasnya tertulis “Status: Approved”. Alhamdulillah. Tidak jadi kehilangan satu sumber penghasilan deh. :))

Sayangnya persoalan task untuk blog yang sudah tidak eksis tadi tidak ada penyelesaian. Akhirnya dengan terpaksa saya men-decline task-task tersebut. Yah, daripada nekat saya garap tapi ujung-ujungnya jadi masalah? Sayang juga sih. $10 dikali 5 kan $50 alias Rp 450.000 (dengan kurs Rp 9000)? Ya sudah, itu berarti bukan rejeki saya. Insya Allah ada gantinya nanti. Mudah-mudahan saja lebih banyak. Hehehe…. Eh, amin.

14 Juni 2008

Di barat sana dikenal istilah liburan musim panas, yakni liburan panjang selama Juni-Agustus. Mulai dari sekolah, kampus hingga perkantoran biasanya memberikan jatah libur selama musim panas itu. Tidak seperti saya yang tiap liburan hanya putar-putar pinggiran Jogja, orang barat liburannya selalu ke luar negeri. Salah satu tujuannya adalah Indonesia, terutama Bali, Jogja, Lombok dan beberapa tempat menarik lain. Maka tak heran jika puncak kedatangan turis asing di Jogja adalah di bulan Juni-Juli.

Sewaktu masih asyik jadi guide, bulan Juni-Agustus adalah bulan-bulan penuh rejeki bagi saya. Betapa tidak? Penghasilan yang didapat selama 3-4 bulan itu cukup melimpah, sampai-sampai cukup sebagai cadangan biaya hidup untuk setahun ke depan. Sekarang bagaimana? Jangan salah. Meskipun sudah tidak guiding lagi, namun ternyata liburan musim panas masih dapat saya rasakan manfaat positifnya. Apalagi kalau bukan dari program paid review.

Ya, kalau sebelumnya saya sempat mengeluh job review sepi, maka mulai Mei kemarin tidak lagi. Blogvertise yang biasanya belum tentu dapat 1 task seminggu, kini memberi 3-5 task. Harganya juga lumayan, rata-rata $10 dan paling rendah $6. Hal ini disebabkan karena saya punya satu blog khusus tentang pariwisata dan kebetulan ber-pagerank 3. Semua task yang masuk adalah promosi akomodasi atau hotel, satu bagian penting dari liburan. Setiap pelancong pasti butuh hotel untuk menginap kan?

Sebenarnya blog pariwisata ber-pagerank 3 itu tidak saya urus secara serius. Isinyapun hanya paid review. Posting orisinil yang tidak komersil adalah posting-posting awal yang jumlahnya tidak sampai 15 judul. Kalau tidak ada task menggunakan blog itu saya sama sekali tidak mengotak-atiknya. Makanya saya heran juga kenapa koq sampai sekarang masih PR3. Padahal itu adalah blog serius pertama saya. Blog yang saya atur baik-baik tata letak dan isinya. Publikasinya saya jadwal secara teratur, dan untuk menulis satu posting saya mesti mencari berbagai macam bahan bacaan sebagai referensi. Pokoknya mengurus blog itu seperti kerja jadi wartawan surat kabar.

Dulunya hanya ada iklan Google AdSense di blog itu. Meski cepat dapat PR3, namun urusan penghasilan tidak sama cepatnya. Bulan pertama cuma ngumpul sekitar $4.17, itupun sebagian hasil click fraud.  Bulan-bulan selanjutnya tak ada peningkatan. Malah beberapa bulan terakhir selalu di bawah $2. Apalagi setelah didaftarkan ke beberapa program paid review tak juga dapat job. Mudah ditebak, itulah yang jadi penyebab utama kenapa saya akhirnya menelantarkan blog tersebut. Antara hidup dan mati, blog itu saya biarkan begitu saja sampai-sampai disebut dummy blog saja koq rasanya tidak layak.

Eh, siapa sangka ternyata musim panas begini banyak juga jobnya. Dapat sepuluh task seharga $10 saja berarti saya dapat $100. Lumayanlah. Itu baru dari Blogvertise. Belum lagi program-program paid review lainnya. Dari sini sayapun lantas punya rencana baru untuk membuat satu blog serius seputar pariwisata. Ya, sebuah blog serius yang benar-benar akan saya urus seperti halnya EkoNurhuda.com ini. Bila yang sekarang masih beralamat di BlogSpot, maka blog pariwisata yang baru nanti sudah saya siapkan nama domainnya. Sudah saya beli malah. Tinggal sekarang pikir-pikir mau pakai WordPress atau Blogger dan mau sewa hosting sendiri atau custom domain saja? Bingung deh!

Bagaimana pendapat Anda?

Di barat sana dikenal istilah liburan musim panas, yakni liburan panjang selama Juni-Agustus. Mulai dari sekolah, kampus hingga perkantoran biasanya memberikan jatah libur selama musim panas itu. Tidak seperti saya yang tiap liburan hanya putar-putar pinggiran Jogja, orang barat liburannya selalu ke luar negeri. Salah satu tujuannya adalah Indonesia, terutama Bali, Jogja, Lombok dan beberapa tempat menarik lain. Maka tak heran jika puncak kedatangan turis asing di Jogja adalah di bulan Juni-Juli.

Sewaktu masih asyik jadi guide, bulan Juni-Agustus adalah bulan-bulan penuh rejeki bagi saya. Betapa tidak? Penghasilan yang didapat selama 3-4 bulan itu cukup melimpah, sampai-sampai cukup sebagai cadangan biaya hidup untuk setahun ke depan. Sekarang bagaimana? Jangan salah. Meskipun sudah tidak guiding lagi, namun ternyata liburan musim panas masih dapat saya rasakan manfaat positifnya. Apalagi kalau bukan dari program paid review.

Ya, kalau sebelumnya saya sempat mengeluh job review sepi, maka mulai Mei kemarin tidak lagi. Blogvertise yang biasanya belum tentu dapat 1 task seminggu, kini memberi 3-5 task. Harganya juga lumayan, rata-rata $10 dan paling rendah $6. Hal ini disebabkan karena saya punya satu blog khusus tentang pariwisata dan kebetulan ber-pagerank 3. Semua task yang masuk adalah promosi akomodasi atau hotel, satu bagian penting dari liburan. Setiap pelancong pasti butuh hotel untuk menginap kan?

Sebenarnya blog pariwisata ber-pagerank 3 itu tidak saya urus secara serius. Isinyapun hanya paid review. Posting orisinil yang tidak komersil adalah posting-posting awal yang jumlahnya tidak sampai 15 judul. Kalau tidak ada task menggunakan blog itu saya sama sekali tidak mengotak-atiknya. Makanya saya heran juga kenapa koq sampai sekarang masih PR3. Padahal itu adalah blog serius pertama saya. Blog yang saya atur baik-baik tata letak dan isinya. Publikasinya saya jadwal secara teratur, dan untuk menulis satu posting saya mesti mencari berbagai macam bahan bacaan sebagai referensi. Pokoknya mengurus blog itu seperti kerja jadi wartawan surat kabar.

Dulunya hanya ada iklan Google AdSense di blog itu. Meski cepat dapat PR3, namun urusan penghasilan tidak sama cepatnya. Bulan pertama cuma ngumpul sekitar $4.17, itupun sebagian hasil click fraud.  Bulan-bulan selanjutnya tak ada peningkatan. Malah beberapa bulan terakhir selalu di bawah $2. Apalagi setelah didaftarkan ke beberapa program paid review tak juga dapat job. Mudah ditebak, itulah yang jadi penyebab utama kenapa saya akhirnya menelantarkan blog tersebut. Antara hidup dan mati, blog itu saya biarkan begitu saja sampai-sampai disebut dummy blog saja koq rasanya tidak layak.

Eh, siapa sangka ternyata musim panas begini banyak juga jobnya. Dapat sepuluh task seharga $10 saja berarti saya dapat $100. Lumayanlah. Itu baru dari Blogvertise. Belum lagi program-program paid review lainnya. Dari sini sayapun lantas punya rencana baru untuk membuat satu blog serius seputar pariwisata. Ya, sebuah blog serius yang benar-benar akan saya urus seperti halnya EkoNurhuda.com ini. Bila yang sekarang masih beralamat di BlogSpot, maka blog pariwisata yang baru nanti sudah saya siapkan nama domainnya. Sudah saya beli malah. Tinggal sekarang pikir-pikir mau pakai WordPress atau Blogger dan mau sewa hosting sendiri atau custom domain saja? Bingung deh!

Bagaimana pendapat Anda?

12 Juni 2008

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya berniat jualan ebook di blog ini untuk menambah pemasukan. Tentu saja yang akan dijual adalah ebook karya saya sendiri. Artinya saya yang mengumpulkan bahan dan menulis isinya serta dijamin bukan jiplakan tulisan manapun. Meski salat masih bolong-bolong, tapi saya sadar dan percaya bahwa menjiplak sama saja dengan mencuri. Maksudnya sama-sama dosa gitu loh…

Sudah ada beberapa ebook yang siap dilempar ke pasaran. Sebagian memang saya maksudkan untuk dibagikan gratis, sementara sisanya untuk dijual. Harganya tidak mahal koq. Saya cuma mematok satu harga, yakni $1.99 (setara Rp 17.910 dengan kurs Rp 9000) untuk semua ebook yang saya jual nanti. Nah, ceritanya salah satu ebook yang ingin dijual adalah “Panduan Custom Domain Blogger”. Ebook ini 100% karya saya sendiri berdasarkan pengalaman pribadi sewaktu melakukan custom domain blog ini. Saat sudah tinggal dipromosikan, saya koq ragu dan akhirnya memilih tidak jadi menjualnya. Artinya, ebook tersebut saya bagikan GRATIS!

Apa pasal? Alasan pertama dan terutama, sebelum tanggal release ebook tersebut tiba ternyata Om Agus sudah membagikan ebook serupa. Maksudnya sama-sama ebook tentang custom domain. So, isinya tentu sama saja, yakni mengenai langkah-langkah custom domain. Yang berbeda hanyalah cara penyampaian dan penyusunan saja. Namun berhubung Om Agus lebih senior dan saya juga banyak dibantu olehnya selama proses custom domain blog ini, rasanya koq tidak etis kalau saya menjual informasi ini. Nanti kalau Om Agus minta royalty bagaimana? Kan saya paham langkah-langkah custom domain karena dia? Tidak dipungut bayaran lagi. Hehe, becanda ding. :p

Alasan kedua, Blogger sendiri sebenarnya juga memberikan panduan langkah-langkah custom domain. Tentu saja dalam bahasa Inggris. Jadi, tanpa ebook “Panduan Custom Domain Blogger” yang saya susun sekalipun kalau orangnya teliti (dan mengerti bahasa Inggris) pasti bisa koq mempelajarinya sendiri dengan membaca panduan dari Blogger tersebut. Lagipula panduan-panduan begini bisa dicari dengan gampang lewat search engine meskipun terkadang susunannya tidak sistematis dan bercerai-berai.

Alasan ketiga, jujur saja saya ingin “berenang sambil minum air”. Maksudnya, dengan menyebarkan ebook gratis yang mudah-mudahan bermanfaat bagi blogger lain (terutama para pemula alias newbie), semoga saja akan berdampak pada peningkatan trafik dan peringkat EkoNurhuda.com. Bahasa sederhananya, ebook tersebut saya jadikan sarana promosi blog ini. Namanya barang gratisan, butuh tidak butuh orang pasti ingin mendownload dan suatu saat membacanya. Nah, ketika mereka membaca ebook tersebut maka mereka akan tahu tentang EkoNurhuda.com dan lantas mengunjunginya. Hebatnya lagi, penyebaran ebook gratis laksana virus karena biasanya setelah mendownload orang akan membagikannya lagi ke orang lain. Apalagi kalau dia member Ziddu.

Kalau dalam keseharian kita pernah mendengar istilah “dari mulut ke mulut”, maka dalam dunia maya ada istilah “viral promoting”. Polanya sama, yaitu menyebarkan sesuatu dari satu orang ke orang lain secara berantai. Bedanya kalau istilah “dari mulut ke mulut” sering diidentikkan dengan gosip, maka “viral promoting” bertujuan promosi. Dengan membagikan ebook gratis, saya berharap dapat mempromosikan blog agar lebih meningkat trafik dan juga peringkatnya. Mudah-mudahan saja harapan itu terkabul.

Itulah beberapa alasan mengapa akhirnya saya tidak jadi menjual ebook “Panduan Custom Domain Blogger”. Tadinya mau dihargai $1.99, tapi sekarang GRATIS tis. Untuk itu kalau Anda membutuhkan ebook “Panduan Custom Domain Blogger” silakan download di sini. Cepetan, jangan sampai saya berubah pikiran! 

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya berniat jualan ebook di blog ini untuk menambah pemasukan. Tentu saja yang akan dijual adalah ebook karya saya sendiri. Artinya saya yang mengumpulkan bahan dan menulis isinya serta dijamin bukan jiplakan tulisan manapun. Meski salat masih bolong-bolong, tapi saya sadar dan percaya bahwa menjiplak sama saja dengan mencuri. Maksudnya sama-sama dosa gitu loh…

Sudah ada beberapa ebook yang siap dilempar ke pasaran. Sebagian memang saya maksudkan untuk dibagikan gratis, sementara sisanya untuk dijual. Harganya tidak mahal koq. Saya cuma mematok satu harga, yakni $1.99 (setara Rp 17.910 dengan kurs Rp 9000) untuk semua ebook yang saya jual nanti. Nah, ceritanya salah satu ebook yang ingin dijual adalah “Panduan Custom Domain Blogger”. Ebook ini 100% karya saya sendiri berdasarkan pengalaman pribadi sewaktu melakukan custom domain blog ini. Saat sudah tinggal dipromosikan, saya koq ragu dan akhirnya memilih tidak jadi menjualnya. Artinya, ebook tersebut saya bagikan GRATIS!

Apa pasal? Alasan pertama dan terutama, sebelum tanggal release ebook tersebut tiba ternyata Om Agus sudah membagikan ebook serupa. Maksudnya sama-sama ebook tentang custom domain. So, isinya tentu sama saja, yakni mengenai langkah-langkah custom domain. Yang berbeda hanyalah cara penyampaian dan penyusunan saja. Namun berhubung Om Agus lebih senior dan saya juga banyak dibantu olehnya selama proses custom domain blog ini, rasanya koq tidak etis kalau saya menjual informasi ini. Nanti kalau Om Agus minta royalty bagaimana? Kan saya paham langkah-langkah custom domain karena dia? Tidak dipungut bayaran lagi. Hehe, becanda ding. :p

Alasan kedua, Blogger sendiri sebenarnya juga memberikan panduan langkah-langkah custom domain. Tentu saja dalam bahasa Inggris. Jadi, tanpa ebook “Panduan Custom Domain Blogger” yang saya susun sekalipun kalau orangnya teliti (dan mengerti bahasa Inggris) pasti bisa koq mempelajarinya sendiri dengan membaca panduan dari Blogger tersebut. Lagipula panduan-panduan begini bisa dicari dengan gampang lewat search engine meskipun terkadang susunannya tidak sistematis dan bercerai-berai.

Alasan ketiga, jujur saja saya ingin “berenang sambil minum air”. Maksudnya, dengan menyebarkan ebook gratis yang mudah-mudahan bermanfaat bagi blogger lain (terutama para pemula alias newbie), semoga saja akan berdampak pada peningkatan trafik dan peringkat EkoNurhuda.com. Bahasa sederhananya, ebook tersebut saya jadikan sarana promosi blog ini. Namanya barang gratisan, butuh tidak butuh orang pasti ingin mendownload dan suatu saat membacanya. Nah, ketika mereka membaca ebook tersebut maka mereka akan tahu tentang EkoNurhuda.com dan lantas mengunjunginya. Hebatnya lagi, penyebaran ebook gratis laksana virus karena biasanya setelah mendownload orang akan membagikannya lagi ke orang lain. Apalagi kalau dia member Ziddu.

Kalau dalam keseharian kita pernah mendengar istilah “dari mulut ke mulut”, maka dalam dunia maya ada istilah “viral promoting”. Polanya sama, yaitu menyebarkan sesuatu dari satu orang ke orang lain secara berantai. Bedanya kalau istilah “dari mulut ke mulut” sering diidentikkan dengan gosip, maka “viral promoting” bertujuan promosi. Dengan membagikan ebook gratis, saya berharap dapat mempromosikan blog agar lebih meningkat trafik dan juga peringkatnya. Mudah-mudahan saja harapan itu terkabul.

Itulah beberapa alasan mengapa akhirnya saya tidak jadi menjual ebook “Panduan Custom Domain Blogger”. Tadinya mau dihargai $1.99, tapi sekarang GRATIS tis. Untuk itu kalau Anda membutuhkan ebook “Panduan Custom Domain Blogger” silakan download di sini. Cepetan, jangan sampai saya berubah pikiran! 

10 Juni 2008

Bulan Juni sudah seminggu lebih, namun EkoNurhuda.com tak kunjung di-update juga. Bagi yang biasa berkunjung ke blog ini pasti tahu kalau saya biasanya membuat posting baru setiap dua hari sekali. Paling lama ya 3-4 hari. Tapi sekarang koq sampai seminggu lebih belum juga di-update, ada apa gerangan? Adakah yang bertanya demikian? Hehehe, ke-GR-an banget gak sih?

Well, ceritanya begini. Saudara sepupu saya, anaknya kakak Ibu, datang ke Jogja dan menginap tempat saya. Sebenarnya dia tidak khusus datang untuk mengunjungi saya. Si sepupu ini mengikuti satu terapi khusus di daerah Bantul selama 10 hari. Setelah terapinya selesai, ia tidak ingin langsung pulang ke Baturaja, Sumatera Selatan. Pikirnya, mumpung masih di Jogja kenapa tidak sekalian jalan-jalan dulu? Jadilah ia menginap tempat saya dan otomatis saya mesti mengantarkannya ke mana-mana.

Namanya mantan guide, urusan jalan-jalan begini tentu tidak asing bagi saya. Hanya bedanya kalau dulu saya hanya tahu duduk di jok dan menyerahkan urusan perjalanan ke tempat wisata pada sopir, maka dengan sepupu saya menjadi guide merangkap sopir. Dengan motor berplat BH tanpa SIM kamipun menjelajahi tempat-tempat menarik di Jogja. Hmmm, sempat bingung juga nih tempat mana saja yang harus dikunjungi. Tapi di Jogja apa saja sih yang menarik dikunjungi? Kraton, Taman Sari, Masjid Gede Kauman, Malioboro, Alun-alun, Candi Prambanan dan candi-candi lainnya, Kraton Ratu Boko, Pantai Parangtritis, Kaliurang, Kali Kuning, Kaliadem dan sekitarnya. Cuma itu kan?

Selain Kraton Ratu Boko tempat-tempat wisata tersebut sudah sangat sering saya kunjungi, jadi ya tidak ada sesuatu yang istimewa bagi saya. Entah kebetulan atau tidak, saat berkunjung ke Kraton Ratu Boko itulah kami mendapatkan pengalaman istimewa. Eit, sebenarnya bukan istimewa, tapi menggelikan. Ya, di tempat yang disebut-sebut sebagai bekas istana bapaknya Roro Jonggrang ini kami berkenalan dengan seorang cewek. Anaknya lucu dan agak manja. Dia sendirian, tapi saat ditanya sama siapa dia bilang sama teman. Ketika kami bertanya “temannya mana?”, dia jawab “sudah pulang.” Penasaran, kami bertanya lagi. “Temannya cowok apa cewek sih?” Eh, dia jawab “cowok”. Lho? Kamipun mengernyitkan dahi. Jangan-jangan….

Kami segera menjadi akrab. Malahan dengan sukarela cewek manis yang mengaku bernama Putri itu mengantar kami berkeliling kompleks istana sampai ke bagian-bagian yang jarang dikunjungi pendatang. Karena kelelahan akhirnya kami nongkrong di pojok istana yang disebut-sebut sebagai bekas keputren. Lalu obrolanpun mengalir. Setelah dipancing-pancing akhirnya Putri cerita kalau cowoknya—dia bilang mantan cowok—entah kenapa tiba-tiba marah dan meninggalkannya. Eh, pas kami obrolin itu cowok menelpon Putri. Panjang umur sekali dia. Putri mencak-mencak di HP dan dengan tegas bilang “wis kowe bali wae, aku iso bali dewe. Aku ora butuh kowe meneh!” Eit..?

Puas ngobrol Putri mengajak kami ke sebuah tempat mirip gua kecil. Di sana ia memarkir motornya. Entah kenapa koq kami tidak segera pulang, malah kembali ngobrol dengan asyik. Belum terlalu lama duduk, cowok si Putri telpon lagi. Putri kembali bilang kalau dia tidak apa-apa ditinggal dan bisa pulang sendiri. Eh, hanya beberapa menit setelah menelpon itu cowok nongol di depan kami. Nah lho! Wajah cowok itu memerah dengan mata yang nyata memperlihatkan kemarahan. Saya dan sepupu jadi serba salah. Sedangkan Putri memasang tampang cemberut. Duh, gimana nih?

Tak ingin mengganggu, saya mengajak sepupu saya menjauh. Maksudnya supaya Putri dan (mantan) cowoknya itu menyelesaikan urusannya dulu. Sewaktu lihat mereka sudah pegang-pegangan tangan barulah kami mendekat. Tak lupa senyum super manis dipasang untuk si cowok yang wajahnya sudah tak setegang tadi. Kamipun berkenalan dan tanpa banyak babibu langsung pamit pulang. Sekilas tampak raut muka kecewa di wajah Putri saat kami pamit. Tapi mau bagaimana lagi? Kami tidak ingin timbul salah paham antara si cowok dan kami. Apalagi Putri sempat keceplosan bilang kalau cowoknya malah cemburu dengan kami. Wuih, koq bisa sih? Untungnya pas nongkrong di bekas keputren sepupu saya sempat meminta nomor HP Putri. Cerita selanjutnya? Silakan tebak sendiri.

Oya, waktu naik ke Kaliadem melihat sisa-sisa muntahan Merapi sewaktu meletus terakhir kali, saya iseng-iseng mampir ke rumah Mas Ngabehi Surakso Hargo alias Mbah Maridjan. Untungnya si Mbah ‘Rosa’ ini ada di rumah dan sedang sendirian. Jadilah kami ngobrol dengan pertanyaan yang saya ajukan sekenanya. Mulai dari surat perintah dari Kraton sampai nama Surakso Hargo yang ternyata berarti “dekat gunung”. Waktu menyinggung soal iklannya yang ‘rosa’, Mbah Maridjan menyampaikan satu kenyataan mengejutkan mengenai keikutsertaannya dalam iklan-iklan produk suplemen tersebut. Maaf, saya tidak berani cerita banyak. Tapi intinya Mbah Maridjan mengungkapkan bahwa beliau sebenarnya sama sekali tidak pernah berniat menjadi bintang iklan.

Waduh, koq sudah panjang sekali ceritanya. Tar malah pada bosan lagi. Ya, sudahlah. Saya akhiri saja posting pertama di bulan Juni ini sampai di sini.

Bulan Juni sudah seminggu lebih, namun EkoNurhuda.com tak kunjung di-update juga. Bagi yang biasa berkunjung ke blog ini pasti tahu kalau saya biasanya membuat posting baru setiap dua hari sekali. Paling lama ya 3-4 hari. Tapi sekarang koq sampai seminggu lebih belum juga di-update, ada apa gerangan? Adakah yang bertanya demikian? Hehehe, ke-GR-an banget gak sih?

Well, ceritanya begini. Saudara sepupu saya, anaknya kakak Ibu, datang ke Jogja dan menginap tempat saya. Sebenarnya dia tidak khusus datang untuk mengunjungi saya. Si sepupu ini mengikuti satu terapi khusus di daerah Bantul selama 10 hari. Setelah terapinya selesai, ia tidak ingin langsung pulang ke Baturaja, Sumatera Selatan. Pikirnya, mumpung masih di Jogja kenapa tidak sekalian jalan-jalan dulu? Jadilah ia menginap tempat saya dan otomatis saya mesti mengantarkannya ke mana-mana.

Namanya mantan guide, urusan jalan-jalan begini tentu tidak asing bagi saya. Hanya bedanya kalau dulu saya hanya tahu duduk di jok dan menyerahkan urusan perjalanan ke tempat wisata pada sopir, maka dengan sepupu saya menjadi guide merangkap sopir. Dengan motor berplat BH tanpa SIM kamipun menjelajahi tempat-tempat menarik di Jogja. Hmmm, sempat bingung juga nih tempat mana saja yang harus dikunjungi. Tapi di Jogja apa saja sih yang menarik dikunjungi? Kraton, Taman Sari, Masjid Gede Kauman, Malioboro, Alun-alun, Candi Prambanan dan candi-candi lainnya, Kraton Ratu Boko, Pantai Parangtritis, Kaliurang, Kali Kuning, Kaliadem dan sekitarnya. Cuma itu kan?

Selain Kraton Ratu Boko tempat-tempat wisata tersebut sudah sangat sering saya kunjungi, jadi ya tidak ada sesuatu yang istimewa bagi saya. Entah kebetulan atau tidak, saat berkunjung ke Kraton Ratu Boko itulah kami mendapatkan pengalaman istimewa. Eit, sebenarnya bukan istimewa, tapi menggelikan. Ya, di tempat yang disebut-sebut sebagai bekas istana bapaknya Roro Jonggrang ini kami berkenalan dengan seorang cewek. Anaknya lucu dan agak manja. Dia sendirian, tapi saat ditanya sama siapa dia bilang sama teman. Ketika kami bertanya “temannya mana?”, dia jawab “sudah pulang.” Penasaran, kami bertanya lagi. “Temannya cowok apa cewek sih?” Eh, dia jawab “cowok”. Lho? Kamipun mengernyitkan dahi. Jangan-jangan….

Kami segera menjadi akrab. Malahan dengan sukarela cewek manis yang mengaku bernama Putri itu mengantar kami berkeliling kompleks istana sampai ke bagian-bagian yang jarang dikunjungi pendatang. Karena kelelahan akhirnya kami nongkrong di pojok istana yang disebut-sebut sebagai bekas keputren. Lalu obrolanpun mengalir. Setelah dipancing-pancing akhirnya Putri cerita kalau cowoknya—dia bilang mantan cowok—entah kenapa tiba-tiba marah dan meninggalkannya. Eh, pas kami obrolin itu cowok menelpon Putri. Panjang umur sekali dia. Putri mencak-mencak di HP dan dengan tegas bilang “wis kowe bali wae, aku iso bali dewe. Aku ora butuh kowe meneh!” Eit..?

Puas ngobrol Putri mengajak kami ke sebuah tempat mirip gua kecil. Di sana ia memarkir motornya. Entah kenapa koq kami tidak segera pulang, malah kembali ngobrol dengan asyik. Belum terlalu lama duduk, cowok si Putri telpon lagi. Putri kembali bilang kalau dia tidak apa-apa ditinggal dan bisa pulang sendiri. Eh, hanya beberapa menit setelah menelpon itu cowok nongol di depan kami. Nah lho! Wajah cowok itu memerah dengan mata yang nyata memperlihatkan kemarahan. Saya dan sepupu jadi serba salah. Sedangkan Putri memasang tampang cemberut. Duh, gimana nih?

Tak ingin mengganggu, saya mengajak sepupu saya menjauh. Maksudnya supaya Putri dan (mantan) cowoknya itu menyelesaikan urusannya dulu. Sewaktu lihat mereka sudah pegang-pegangan tangan barulah kami mendekat. Tak lupa senyum super manis dipasang untuk si cowok yang wajahnya sudah tak setegang tadi. Kamipun berkenalan dan tanpa banyak babibu langsung pamit pulang. Sekilas tampak raut muka kecewa di wajah Putri saat kami pamit. Tapi mau bagaimana lagi? Kami tidak ingin timbul salah paham antara si cowok dan kami. Apalagi Putri sempat keceplosan bilang kalau cowoknya malah cemburu dengan kami. Wuih, koq bisa sih? Untungnya pas nongkrong di bekas keputren sepupu saya sempat meminta nomor HP Putri. Cerita selanjutnya? Silakan tebak sendiri.

Oya, waktu naik ke Kaliadem melihat sisa-sisa muntahan Merapi sewaktu meletus terakhir kali, saya iseng-iseng mampir ke rumah Mas Ngabehi Surakso Hargo alias Mbah Maridjan. Untungnya si Mbah ‘Rosa’ ini ada di rumah dan sedang sendirian. Jadilah kami ngobrol dengan pertanyaan yang saya ajukan sekenanya. Mulai dari surat perintah dari Kraton sampai nama Surakso Hargo yang ternyata berarti “dekat gunung”. Waktu menyinggung soal iklannya yang ‘rosa’, Mbah Maridjan menyampaikan satu kenyataan mengejutkan mengenai keikutsertaannya dalam iklan-iklan produk suplemen tersebut. Maaf, saya tidak berani cerita banyak. Tapi intinya Mbah Maridjan mengungkapkan bahwa beliau sebenarnya sama sekali tidak pernah berniat menjadi bintang iklan.

Waduh, koq sudah panjang sekali ceritanya. Tar malah pada bosan lagi. Ya, sudahlah. Saya akhiri saja posting pertama di bulan Juni ini sampai di sini.