Selamat datang di ...

30 Desember 2008

Sebagai blogger, saya terlalu sering berkutat dengan hal-hal sepele yang tidak berpengaruh besar pada kemampuan blogging. Contohnya terlalu sering gonta-ganti template. Berbagai macam dan model template bolak-balik saya coba hampir setiap bulan. Memang sih niatnya untuk mencari mana yang paling enak dipandang serta paling cepat loadingnya. Tapi kegiatan sepele seperti itu juga memakan waktu kan? Maka, setelah akhirnya menemukan template simpel namun elegan seperti yang sekarang dipakai, rasanya saya tidak ingin ganti-ganti template lagi deh.

Selain itu, sebagai blogger saya juga sangat abai dengan hal-hal teknis seperti trafik, pagerank, Alexa rank, popularitas di Technorati, dan lain-lain. Saya hanya tahu menulis, menulis, dan menulis saja. Prinsip saya waktu itu, kalau tulisan kita bagus tentu akan banyak didatangi orang. Itu artinya trafik banyak, popularitas naik, dan kemudian berimbas pada rangking-rangkingan. Tapi rupanya saya tidak sadar kalau tulisan saya belumlah bagus. Jadinya ya trafik terus sepi deh. Sampai bulan Juli 2008 trafik blog ini tidak pernah menyentuh angka 100/hari. Sepi banget kan?

Belajar Menembak Keyword

Orang pertama yang mengomentari sepinya blog saya adalah Bang Zalukhu. Rupanya waktu itu Bang Zalukhu diam-diam mengamati blog ini, yang dia bilang sebagai blog tanpa teknik SEO tapi bisa memperoleh PR tinggi. Kami lalu banyak ngobrol tentang cara-cara meningkatkan trafik blog. Dan mulai saat itulah saya diajarkan cara-cara menjaring pengunjung dari mesin pencari dengan teknik "nembak keyword". Karena penasaran dengan hasilnya, saya lalu coba-coba membuat satu posting khusus untuk nembak keyword. Sialan, ternyata keyword yang saya tembak salah! Waktu itu sedang ramai-ramainya film Batman terbaru yang berjudul The Dark Knight. Maksud saya sih mengincar keyword itu, tapi malah salah tulis jadi "The Dark Night". Walah..!

Gagal dengan percobaan pertama, saya jadi sedikit putus asa. Tapi kemudian saya coba lagi dengan posting kedua. Kebetulan waktu itu Bang Zalukhu mengadakan kontes menulis review. Yang harus direview adalah blog-blog yang pernah direview Bang Zalukhu di blognya. Saya ikut kontes itu dan memilih blognya Nenad. Niatnya sih mau menembak keyword "kursus bahasa Inggris". Postingpun dibuat dan saya beri judul "Kursus Bahasa Inggris di NenadMohamed.com", lalu saya submit ke berbagai social bookmarking. Hasilnya? Waktu saya cek di Google posting tersebut tidak juga nongol sampai halaman ke-10. Capek deh...!

Akhirnya Bang Zalukhu memberi contoh posting untuk menembak keyword yang sengaja ia posting di blog ini. Posting itu tentang pemenang Indonesian Idol 2008 yang memang sedang hangat-hangatnya. Dan posting itulah yang membuka mata saya tentang betapa pentingnya menembak keyword karena sejak ada posting itu trafik blog ini bisa menembus angka 150 hit/hari. Tapi menembak keyword bukan asal tembak lho. Kita juga mesti memperhatikan etika dalam menembak keyword agar tidak dianggap menyesatkan pencari informasi. Inilah prinsip yang saya pegang dalam menembak keyword.

Setelah mempelajari posting pemenang Indonesian idol 2008 itu saya kemudian mencoba nembak keyword lagi. Kebetulan tidak lama setelah itu ada pengumuman pemenang Putri Indonesia 2008. Hanya berselang sesaat setelah siaran acara itu selesai, saya langsung menulis posting tentang pemenang pemilihan tersebut. Hasilnya? Pagi harinya saat saya cek di Google posting itu bertengger di peringkat satu! Ah, akhirnya bisa juga saya menembak keyword! Sejak itu makin rajinlah saya menembak keyword meskipun tidak pula terlalu sering.

Penutup
Sebenarnya masih ada banyak cerita yang ingin saya bagi ke teman-teman. Tapi rasanya tidak akan cukup halaman blog ini kalau mau menceritakan semuanya. Jadi, saya cukupkan sampai di sini saja rangkaian posting "Catatan Akhir Tahun" ini. Oya, saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang amat dalam bagi teman-teman yang telah berjasa membantu saya selama mengelola blog ini. Mereka itu adalah:

  1. Cosa Aranda, sebagai inspirator saya pada awal memulai blog.

  2. Isnaini, tempat saya mencari template gratisan dulu.

  3. Medhy Aginta Hidayat, yang banyak mempengaruhi blogging style saya di awal-awal dulu.

  4. Indra Diky, tempat saya belajar paid review.

  5. Kang Bawor, blogger yang pertama kali mau (sedikit) akrab dengan saya.

  6. dr. Asri Tadda, yang pernah mengajari saya cara menghilangkan navbar blog.

  7. Om Agus Ramadhani, yang membantu proses custom domain blog ini.

  8. Bang Zalukhu, yang sudah mengajari cara-cara meningkatkan trafik dan juga ilmu lainnya.

  9. Mas Gege, sebagai komentator pertama (9 Januari 2008).

  10. 39 teman yang bersedia berlangganan via RSS Feed.

  11. 140 teman yang bersedia mem-follow saya di Twitter.

  12. Dan semua teman yang telah setia berkunjung selama ini.



Akhirnya, selamat tahun baru bagi Anda semua!

Sebagai blogger, saya terlalu sering berkutat dengan hal-hal sepele yang tidak berpengaruh besar pada kemampuan blogging. Contohnya terlalu sering gonta-ganti template. Berbagai macam dan model template bolak-balik saya coba hampir setiap bulan. Memang sih niatnya untuk mencari mana yang paling enak dipandang serta paling cepat loadingnya. Tapi kegiatan sepele seperti itu juga memakan waktu kan? Maka, setelah akhirnya menemukan template simpel namun elegan seperti yang sekarang dipakai, rasanya saya tidak ingin ganti-ganti template lagi deh.

Selain itu, sebagai blogger saya juga sangat abai dengan hal-hal teknis seperti trafik, pagerank, Alexa rank, popularitas di Technorati, dan lain-lain. Saya hanya tahu menulis, menulis, dan menulis saja. Prinsip saya waktu itu, kalau tulisan kita bagus tentu akan banyak didatangi orang. Itu artinya trafik banyak, popularitas naik, dan kemudian berimbas pada rangking-rangkingan. Tapi rupanya saya tidak sadar kalau tulisan saya belumlah bagus. Jadinya ya trafik terus sepi deh. Sampai bulan Juli 2008 trafik blog ini tidak pernah menyentuh angka 100/hari. Sepi banget kan?

Belajar Menembak Keyword

Orang pertama yang mengomentari sepinya blog saya adalah Bang Zalukhu. Rupanya waktu itu Bang Zalukhu diam-diam mengamati blog ini, yang dia bilang sebagai blog tanpa teknik SEO tapi bisa memperoleh PR tinggi. Kami lalu banyak ngobrol tentang cara-cara meningkatkan trafik blog. Dan mulai saat itulah saya diajarkan cara-cara menjaring pengunjung dari mesin pencari dengan teknik "nembak keyword". Karena penasaran dengan hasilnya, saya lalu coba-coba membuat satu posting khusus untuk nembak keyword. Sialan, ternyata keyword yang saya tembak salah! Waktu itu sedang ramai-ramainya film Batman terbaru yang berjudul The Dark Knight. Maksud saya sih mengincar keyword itu, tapi malah salah tulis jadi "The Dark Night". Walah..!

Gagal dengan percobaan pertama, saya jadi sedikit putus asa. Tapi kemudian saya coba lagi dengan posting kedua. Kebetulan waktu itu Bang Zalukhu mengadakan kontes menulis review. Yang harus direview adalah blog-blog yang pernah direview Bang Zalukhu di blognya. Saya ikut kontes itu dan memilih blognya Nenad. Niatnya sih mau menembak keyword "kursus bahasa Inggris". Postingpun dibuat dan saya beri judul "Kursus Bahasa Inggris di NenadMohamed.com", lalu saya submit ke berbagai social bookmarking. Hasilnya? Waktu saya cek di Google posting tersebut tidak juga nongol sampai halaman ke-10. Capek deh...!

Akhirnya Bang Zalukhu memberi contoh posting untuk menembak keyword yang sengaja ia posting di blog ini. Posting itu tentang pemenang Indonesian Idol 2008 yang memang sedang hangat-hangatnya. Dan posting itulah yang membuka mata saya tentang betapa pentingnya menembak keyword karena sejak ada posting itu trafik blog ini bisa menembus angka 150 hit/hari. Tapi menembak keyword bukan asal tembak lho. Kita juga mesti memperhatikan etika dalam menembak keyword agar tidak dianggap menyesatkan pencari informasi. Inilah prinsip yang saya pegang dalam menembak keyword.

Setelah mempelajari posting pemenang Indonesian idol 2008 itu saya kemudian mencoba nembak keyword lagi. Kebetulan tidak lama setelah itu ada pengumuman pemenang Putri Indonesia 2008. Hanya berselang sesaat setelah siaran acara itu selesai, saya langsung menulis posting tentang pemenang pemilihan tersebut. Hasilnya? Pagi harinya saat saya cek di Google posting itu bertengger di peringkat satu! Ah, akhirnya bisa juga saya menembak keyword! Sejak itu makin rajinlah saya menembak keyword meskipun tidak pula terlalu sering.

Penutup
Sebenarnya masih ada banyak cerita yang ingin saya bagi ke teman-teman. Tapi rasanya tidak akan cukup halaman blog ini kalau mau menceritakan semuanya. Jadi, saya cukupkan sampai di sini saja rangkaian posting "Catatan Akhir Tahun" ini. Oya, saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang amat dalam bagi teman-teman yang telah berjasa membantu saya selama mengelola blog ini. Mereka itu adalah:

  1. Cosa Aranda, sebagai inspirator saya pada awal memulai blog.

  2. Isnaini, tempat saya mencari template gratisan dulu.

  3. Medhy Aginta Hidayat, yang banyak mempengaruhi blogging style saya di awal-awal dulu.

  4. Indra Diky, tempat saya belajar paid review.

  5. Kang Bawor, blogger yang pertama kali mau (sedikit) akrab dengan saya.

  6. dr. Asri Tadda, yang pernah mengajari saya cara menghilangkan navbar blog.

  7. Om Agus Ramadhani, yang membantu proses custom domain blog ini.

  8. Bang Zalukhu, yang sudah mengajari cara-cara meningkatkan trafik dan juga ilmu lainnya.

  9. Mas Gege, sebagai komentator pertama (9 Januari 2008).

  10. 39 teman yang bersedia berlangganan via RSS Feed.

  11. 140 teman yang bersedia mem-follow saya di Twitter.

  12. Dan semua teman yang telah setia berkunjung selama ini.



Akhirnya, selamat tahun baru bagi Anda semua!

28 Desember 2008

Setelah menggunakan nama domain sendiri dan memperoleh pagerank 4, saya semakin pede sebagai blogger. Pede di sini bukan berarti saya sok hebat lho. Apa yang saya rasakan setelah itu adalah bahwa saya yakin saya bisa menjadi seorang blogger, dan saya semakin bulat tekad untuk bisa hidup dengan penghasilan dari blog seperti yang dilakukan Liew Cheon Fong ataupun Mas Duto. Meskipun niatan ini bakal menemui banyak sekali hambatan di masa mendatang, saya rasa semua itu hanyalah tantangan yang mesti ditaklukkan. Wuih, kepedean gak sih? :)

Nah, dengan maksud memperbanyak sumber penghasilan maka saya membuat blog baru lagi. Kebetulan waktu itu Piala Eropa 2008 semakin dekat, maka sayapun membuat sebuah blog bola yang diberi nama Bolanisti. Karena konsep awalnya tidak jelas plus kurang matang, saya terjebak menjadikan blog tersebut sebagai situs berita bola. Bagaimana tidak? Lha wong isinya cuma posting tentang prediksi dan laporan hasil pertandingan saja koq. Saya lalu jadi jenuh. Dan tidak sampai dua bulan kemudian Bolanisti.com saya parkir di NameDrive.

Ebook Pertama yang Bikin Kisruh

Sejak awal mula ngeblog saya sudah punya rencana untuk menulis ebook. Hal ini didorong oleh begitu terbatasnya ebook berbahasa Indonesia yang membahas mengenai blog, blogging, dan juga make money blogging. Tema pertama yang ingin saya angkat adalah tentang SponsoredReviews. Saya ingin membuat satu ebook panduan tentang program ini. Namun draft yang sudah saya tulis sejak Januari 2008 tidak kunjung bisa terselesaikan. Saya malah asyik menggarap ebook panduan custom domain Blogger. Ada dua alasan kenapa saya menulis ebook tersebut. Sayangnya alasan kedua bisa jadi menyinggung perasaan seseorang yang telah sangat berjasa pada saya, jadi cukup alasan pertama saja yang saya kemukakan.

Alasannya adalah: waktu itu saya baru saja sukses melakukan custom domain. Kesuksesan tersebut saya tulis dalam sebuah posting yang ternyata mendorong beberapa blogger lain untuk turut meng-custom domain blognya. Sejumlah email berisi permintaan memandu langkah demi langkah melakukan custom domain saya terima setiap hari. So, daripada repot menjawab semua email tersebut, saya tulis saja panduannya dalam bentuk ebook. Jadilah ebook "Panduan Custom Domain Blogger" yang saya bagikan gratis. Eh, pada waktu launching saya melakukan kesalahan yang membuat seseorang tersinggung dengan pernyataan saya di posting tentang ebook tersebut.

Kesalahan itu saya perparah dengan kesalahan kedua: terlalu emosional menanggapi ketersinggungan si orang tadi. Alhasil, komentar di posting tersebut hanya berisi saling kecam saja. Untung saja ada Mas Ipung yang memberi komentar menyejukkan sehingga saya bisa rileks. Dengan sangat menyesal saya meminta maaf pada pihak-pihak yang telah saya ajak "bertengkar". Alhamdulillah, merekapun memaafkan saya dan hubungan kami tidak ada masalah sampai sekarang. Thanks a bunch, Mas Ipung. Kalau saja tidak ada komentar Mas Ipung, bisa-bisa sampai sekarang saya tidak akan pernah berhubungan dengan orang-orang luar biasa itu. :D

Ebook Kedua yang Membuat Serba Salah

Setelah melihat sambutan terhadap ebook "Panduan Custom Domain Blogger", saya kembali bersemangat untuk menggarap ebook panduan SponsoredReviews yang sudah terlantar selama beberapa bulan. Karena sangat bersemangat, ebook tersebut berhasil saya selesaikan dalam waktu sekitar 2 minggu saja. Waktu 2 minggu itu sudah termasuk untuk pencarian bahan seperti referensi dan screenshot, juga penulisan naskahnya. Dan yang mengherankan bisa selesai juga. Saya sendiri tidak percaya bagaimana bisa saya selesaikan ebook tersebut secepat itu. Padahal sampai sekarang saya susah sekali kalau disuruh menyelesaikan tugas dari kampus (yang jauh lebih sedikit halamannya).

Begitu selesai, ebook yang saya beri judul "Panduan SponsoredReviews untuk Pemula" itu juga saya launching di blog ini. Tidak mau kejadian seperti saat launching ebook pertama terulang, saya hanya menulis pendek saja sebagai pengantar launching ebook yang kedua. Alhamdulillah, sambutan teman-teman terhadap ebook tersebut cukup menggembirakan. Berdasarkan catatan Ziddu, ebook tersebut sudah di-download sebanyak 626 kali sampai terakhir kali saya cek (saat menulis posting ini). Ini baru catatan saya. Saya yakin jumlahnya lebih banyak lagi karena beberapa teman seperti Mas Ronggo, Ades Hendra, Dunia Download, dan bahkan Pakdhe Sumintar juga turut menyebarkan ebook ini.

Beberapa bulan setelah ebook "Panduan SponsoredReviews untuk Pemula" tersebar, terjadi hal yang tidak saya harapkan. Apa itu? Saya (lagi-lagi) dianggap sebagai jagonya paid review, terutama SponsoredReviews. Walah, apalagi ini? Ukurannya apa koq saya sampai dibilang master paid review? Kalau diukur dari penghasilan, jelas penghasilan saya masih kalah jauh dari para master paid review yang sesungguhnya seperti Mas Toni Jauhari, Mas Sandy, Mas Windra, ataupun Bro Indra Diky. Lha wong penghasilan saya masih berkutat di angka 3 digit dan belum pernah menyentuh 4 digit koq. Kalau cuma gara-gara menulis ebook lantas saya dibilang master, bisa-bisa saya tidak pernah mau menulis ebook lagi deh.

Waktu saya ceritakan kerisauan ini pada Bang Zalukhu, dia malah bilang "Nikmati saja". Walah, orang saya itu paling tidak senang dengan popularitas dan hal-hal berbau glamor koq disuruh menikmati? Kalau memang saya suka dengan ketenaran, mungkin sudah sejak dulu saya ikutan casting sinetron atau audisi Indonesian Idol. Hehehe...

Sudah habis ceritanya? Belum. Saya masih menyimpan bagian ketiga yang akan menjadi posting penutup di tahun 2008 ini. So, tetap datang lagi ya.

Setelah menggunakan nama domain sendiri dan memperoleh pagerank 4, saya semakin pede sebagai blogger. Pede di sini bukan berarti saya sok hebat lho. Apa yang saya rasakan setelah itu adalah bahwa saya yakin saya bisa menjadi seorang blogger, dan saya semakin bulat tekad untuk bisa hidup dengan penghasilan dari blog seperti yang dilakukan Liew Cheon Fong ataupun Mas Duto. Meskipun niatan ini bakal menemui banyak sekali hambatan di masa mendatang, saya rasa semua itu hanyalah tantangan yang mesti ditaklukkan. Wuih, kepedean gak sih? :)

Nah, dengan maksud memperbanyak sumber penghasilan maka saya membuat blog baru lagi. Kebetulan waktu itu Piala Eropa 2008 semakin dekat, maka sayapun membuat sebuah blog bola yang diberi nama Bolanisti. Karena konsep awalnya tidak jelas plus kurang matang, saya terjebak menjadikan blog tersebut sebagai situs berita bola. Bagaimana tidak? Lha wong isinya cuma posting tentang prediksi dan laporan hasil pertandingan saja koq. Saya lalu jadi jenuh. Dan tidak sampai dua bulan kemudian Bolanisti.com saya parkir di NameDrive.

Ebook Pertama yang Bikin Kisruh

Sejak awal mula ngeblog saya sudah punya rencana untuk menulis ebook. Hal ini didorong oleh begitu terbatasnya ebook berbahasa Indonesia yang membahas mengenai blog, blogging, dan juga make money blogging. Tema pertama yang ingin saya angkat adalah tentang SponsoredReviews. Saya ingin membuat satu ebook panduan tentang program ini. Namun draft yang sudah saya tulis sejak Januari 2008 tidak kunjung bisa terselesaikan. Saya malah asyik menggarap ebook panduan custom domain Blogger. Ada dua alasan kenapa saya menulis ebook tersebut. Sayangnya alasan kedua bisa jadi menyinggung perasaan seseorang yang telah sangat berjasa pada saya, jadi cukup alasan pertama saja yang saya kemukakan.

Alasannya adalah: waktu itu saya baru saja sukses melakukan custom domain. Kesuksesan tersebut saya tulis dalam sebuah posting yang ternyata mendorong beberapa blogger lain untuk turut meng-custom domain blognya. Sejumlah email berisi permintaan memandu langkah demi langkah melakukan custom domain saya terima setiap hari. So, daripada repot menjawab semua email tersebut, saya tulis saja panduannya dalam bentuk ebook. Jadilah ebook "Panduan Custom Domain Blogger" yang saya bagikan gratis. Eh, pada waktu launching saya melakukan kesalahan yang membuat seseorang tersinggung dengan pernyataan saya di posting tentang ebook tersebut.

Kesalahan itu saya perparah dengan kesalahan kedua: terlalu emosional menanggapi ketersinggungan si orang tadi. Alhasil, komentar di posting tersebut hanya berisi saling kecam saja. Untung saja ada Mas Ipung yang memberi komentar menyejukkan sehingga saya bisa rileks. Dengan sangat menyesal saya meminta maaf pada pihak-pihak yang telah saya ajak "bertengkar". Alhamdulillah, merekapun memaafkan saya dan hubungan kami tidak ada masalah sampai sekarang. Thanks a bunch, Mas Ipung. Kalau saja tidak ada komentar Mas Ipung, bisa-bisa sampai sekarang saya tidak akan pernah berhubungan dengan orang-orang luar biasa itu. :D

Ebook Kedua yang Membuat Serba Salah

Setelah melihat sambutan terhadap ebook "Panduan Custom Domain Blogger", saya kembali bersemangat untuk menggarap ebook panduan SponsoredReviews yang sudah terlantar selama beberapa bulan. Karena sangat bersemangat, ebook tersebut berhasil saya selesaikan dalam waktu sekitar 2 minggu saja. Waktu 2 minggu itu sudah termasuk untuk pencarian bahan seperti referensi dan screenshot, juga penulisan naskahnya. Dan yang mengherankan bisa selesai juga. Saya sendiri tidak percaya bagaimana bisa saya selesaikan ebook tersebut secepat itu. Padahal sampai sekarang saya susah sekali kalau disuruh menyelesaikan tugas dari kampus (yang jauh lebih sedikit halamannya).

Begitu selesai, ebook yang saya beri judul "Panduan SponsoredReviews untuk Pemula" itu juga saya launching di blog ini. Tidak mau kejadian seperti saat launching ebook pertama terulang, saya hanya menulis pendek saja sebagai pengantar launching ebook yang kedua. Alhamdulillah, sambutan teman-teman terhadap ebook tersebut cukup menggembirakan. Berdasarkan catatan Ziddu, ebook tersebut sudah di-download sebanyak 626 kali sampai terakhir kali saya cek (saat menulis posting ini). Ini baru catatan saya. Saya yakin jumlahnya lebih banyak lagi karena beberapa teman seperti Mas Ronggo, Ades Hendra, Dunia Download, dan bahkan Pakdhe Sumintar juga turut menyebarkan ebook ini.

Beberapa bulan setelah ebook "Panduan SponsoredReviews untuk Pemula" tersebar, terjadi hal yang tidak saya harapkan. Apa itu? Saya (lagi-lagi) dianggap sebagai jagonya paid review, terutama SponsoredReviews. Walah, apalagi ini? Ukurannya apa koq saya sampai dibilang master paid review? Kalau diukur dari penghasilan, jelas penghasilan saya masih kalah jauh dari para master paid review yang sesungguhnya seperti Mas Toni Jauhari, Mas Sandy, Mas Windra, ataupun Bro Indra Diky. Lha wong penghasilan saya masih berkutat di angka 3 digit dan belum pernah menyentuh 4 digit koq. Kalau cuma gara-gara menulis ebook lantas saya dibilang master, bisa-bisa saya tidak pernah mau menulis ebook lagi deh.

Waktu saya ceritakan kerisauan ini pada Bang Zalukhu, dia malah bilang "Nikmati saja". Walah, orang saya itu paling tidak senang dengan popularitas dan hal-hal berbau glamor koq disuruh menikmati? Kalau memang saya suka dengan ketenaran, mungkin sudah sejak dulu saya ikutan casting sinetron atau audisi Indonesian Idol. Hehehe...

Sudah habis ceritanya? Belum. Saya masih menyimpan bagian ketiga yang akan menjadi posting penutup di tahun 2008 ini. So, tetap datang lagi ya.

26 Desember 2008

Hanya tinggal 4 hari lagi tahun 2008 akan segera berakhir. Tanpa terasa ternyata sudah setahun umur blog ini. Kebetulan sekali saya membuat blog ini pada tanggal 1 Januari 2008, jadi setiap tahun baru bertambahlah usia blog ini. Setahun mungkin belum terhitung lama, tapi sudah begitu banyak cerita yang dihadirkan blog ini untuk saya. Cerita yang tentunya akan jadi kenangan manis bagi saya. Kenangan-kenangan manis itulah yang akan saya bagikan pada teman-teman sebagai posting penutup di tahun 2008 ini.

Proses pembuatan blog ini boleh dibilang cuma iseng semata. Sebagian faktor lain adalah karena latah alias ikut-ikutan. Akibatnya, saya ngeblog hanya sekedar ngeblog saja. Tanpa konsep, tanpa perencanaan, dan tanpa target apapun. Di tengah perjalanan barulah saya mengerti kalau ternyata blog bisa dijadikan sebagai sarana mengais rejeki sekaligus menjalin persahabatan dengan sesama blogger di seluruh Indonesia. Maka jadilah EkoNurhuda.com seperti yang sekarang ini.

Sejarah Eko Nurhuda dot com

Cerita pembuatan blog ini berawal dari bulan Agustus 2007. Waktu itu saya punya blog yang beralamat di www.eko-sudjarwo.blogspot.com. Blog ini saya niatkan sebagai blog pribadi tempat saya menuliskan catatan-catatan pribadi dan akan saya jadikan sarana berkenalan dengan sesama blogger lainnya. Suatu hari saya iseng mendaftarkan blog tersebut di Blogsvertise dan SponsoredReviews. Di luar dugaan saya koq ternyata diterima, terus beberapa waktu kemudian malah dapat job. Ya sudah, mau tidak mau saya isi juga blog tersebut dengan review berbahasa Inggris. Dipikir-pikir, akhirnya saya malah menjadikan blog tersebut sebagai blog berbahasa Inggris biar tidak campur-campur bahasanya.

Pergantian bahasa tersebut mulanya tidak saya ambil pusing. Tapi lama-lama koq ada rasa tidak enak sama teman-teman yang blognya saya kunjungi. Kenapa tidak enak? Karena saya terkesan hanya mencari trafik. Lha wong blog berbahasa Inggris koq mainnya ke blog berbahasa Indonesia? Ya sudah, daripada ribet saya buat saja satu blog lagi tepat di malam 1 Januari 2008. Blog tersebut beralamat di www.eko-nurhuda.blogspot.com dan saya beri titel "Segalanya tentang SponsoredReviews". Sok banget deh pokoknya, padahal waktu itu saya juga baru tahu SponsoredReviews. Hahaha...

Sesuai dengan titelnya, posting-posting blog itu menceritakan pengalaman-pengalaman saya selama menjalankan program SponsoredReviews. Mulai dari cerita mendapat payment pertama, mendapat job seharga $10/review untuk pertama kali, pengalaman songong memperoleh $12.68 hanya dalam waktu 1 jam dengan menulis beberapa review, sampai obral penghasilan di bulan pertama ngeblog. Pokoknya lucu deh kalau saya membaca-baca posting-posting lama itu. Buntut dari menulis posting-posting tentang SponsoredReviews, saya malah dianggap jagonya program paid review. Duh Gusti, koq jadi begini sih? Akhirnya karena tidak tahan menerima bejibun email yang masuk tiap hari menanyakan tentang SponsoredReviews, sayapun mengubah titel menjadi seperti yang sekarang.

Custom Domain & Pagerank 4

Seiring berjalannya waktu, saya jadi belajar banyak tentang paid review dan program online earning lainnya. Dari sana saya tahu kalau blog dengan nama domain sendiri lebih mudah dapat job ketimbang yang masih pakai embel-embel blogspot. Maka sayapun membeli nama domain tepat di Hari Valentine, 14 Februari 2008. Karena saya penggemar berat Cosa Aranda, saat membeli nama domain saya tidak mau neko-neko dan langsung memilih EkoNurhuda.com. Mulanya sempat was-was tidak dapat karena nama saya sangat pasaran sekali. Tapi untunglah nama domain ini berhasil saya dapatkan.

Atas dasar penghematan, saya hanya melakukan custom domain untuk blog ini. Jadi saya cukup membeli nama domain dan hostingnya boleh tetap numpang di Blogger. Lumayan. Biarpun cuma numpang, tapi kan numpangnya sama Blogger yang sudah terbukti keamanannya. Proses peng-custom domain-an blog ini dibantu 100% oleh Om Agus. Sebelumnya saya sudah diberi arahan sama Oom, tapi entah kenapa koq tidak bisa-bisa. Ujung-ujungnya Oom sendiri yang login ke akun Blogger, control panel domain dan DNS Park saya untuk melakukan pengaturan DNS setting. Dan custom domain sukses dilakukan tepat pada tanggal 25 Februari 2008. Thank you so much, Om.

Tidak seperti harapan saya, ternyata dengan memakai nama domain sendiri tidak serta-merta membuat blog saya kebanjiran job paid review. Saya malah mesti mendaftar ulang karena oleh sistem situs-situs paid review dianggap sebagai blog baru. Akibatnya penghasilan saya jeblok, turun menjadi lebih dari separuh penghasilan di bulan Januari 2008. Bulan Maret makin jeblok lagi yang membuat saya tidak pernah lagi mengekspose penghasilan setiap bulan. Tapi efek lainnya, saya dapat dengan mudah membangun branding. Nama domain yang simpel dan sama persis dengan nama membuat saya lebih mudah memperkenalkan blog ini di manapun dan kapanpun saya sempat. Mulai dari blogwalking, chatting, di forum-forum, sampai di akhir artikel yang saya kirim ke situs-situs artikel directory.

Berkah lain yang saya terima dari mulai digunakannya nama domain sendiri adalah pemberian pagerank 4 oleh Google. Ya, siapapun boleh tidak percaya kalau blog baru yang sepi pengunjung seperti EkoNurhuda.com ini bisa memperoleh pagerank 4 hanya dalam waktu 2.5 bulan saja. Meskipun kemudian turun menjadi pagerank 3, namun pencapaian tersebut benar-benar pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Sejak itu pula saya sadar bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin kalau kita mau bersungguh-sungguh. Eits, nyambung gak sih statement-nya? Hehehe...

Itu saja untuk bagian pertama. Tunggu cerita-cerita lainnya di bagian kedua nanti ya...

Hanya tinggal 4 hari lagi tahun 2008 akan segera berakhir. Tanpa terasa ternyata sudah setahun umur blog ini. Kebetulan sekali saya membuat blog ini pada tanggal 1 Januari 2008, jadi setiap tahun baru bertambahlah usia blog ini. Setahun mungkin belum terhitung lama, tapi sudah begitu banyak cerita yang dihadirkan blog ini untuk saya. Cerita yang tentunya akan jadi kenangan manis bagi saya. Kenangan-kenangan manis itulah yang akan saya bagikan pada teman-teman sebagai posting penutup di tahun 2008 ini.

Proses pembuatan blog ini boleh dibilang cuma iseng semata. Sebagian faktor lain adalah karena latah alias ikut-ikutan. Akibatnya, saya ngeblog hanya sekedar ngeblog saja. Tanpa konsep, tanpa perencanaan, dan tanpa target apapun. Di tengah perjalanan barulah saya mengerti kalau ternyata blog bisa dijadikan sebagai sarana mengais rejeki sekaligus menjalin persahabatan dengan sesama blogger di seluruh Indonesia. Maka jadilah EkoNurhuda.com seperti yang sekarang ini.

Sejarah Eko Nurhuda dot com

Cerita pembuatan blog ini berawal dari bulan Agustus 2007. Waktu itu saya punya blog yang beralamat di www.eko-sudjarwo.blogspot.com. Blog ini saya niatkan sebagai blog pribadi tempat saya menuliskan catatan-catatan pribadi dan akan saya jadikan sarana berkenalan dengan sesama blogger lainnya. Suatu hari saya iseng mendaftarkan blog tersebut di Blogsvertise dan SponsoredReviews. Di luar dugaan saya koq ternyata diterima, terus beberapa waktu kemudian malah dapat job. Ya sudah, mau tidak mau saya isi juga blog tersebut dengan review berbahasa Inggris. Dipikir-pikir, akhirnya saya malah menjadikan blog tersebut sebagai blog berbahasa Inggris biar tidak campur-campur bahasanya.

Pergantian bahasa tersebut mulanya tidak saya ambil pusing. Tapi lama-lama koq ada rasa tidak enak sama teman-teman yang blognya saya kunjungi. Kenapa tidak enak? Karena saya terkesan hanya mencari trafik. Lha wong blog berbahasa Inggris koq mainnya ke blog berbahasa Indonesia? Ya sudah, daripada ribet saya buat saja satu blog lagi tepat di malam 1 Januari 2008. Blog tersebut beralamat di www.eko-nurhuda.blogspot.com dan saya beri titel "Segalanya tentang SponsoredReviews". Sok banget deh pokoknya, padahal waktu itu saya juga baru tahu SponsoredReviews. Hahaha...

Sesuai dengan titelnya, posting-posting blog itu menceritakan pengalaman-pengalaman saya selama menjalankan program SponsoredReviews. Mulai dari cerita mendapat payment pertama, mendapat job seharga $10/review untuk pertama kali, pengalaman songong memperoleh $12.68 hanya dalam waktu 1 jam dengan menulis beberapa review, sampai obral penghasilan di bulan pertama ngeblog. Pokoknya lucu deh kalau saya membaca-baca posting-posting lama itu. Buntut dari menulis posting-posting tentang SponsoredReviews, saya malah dianggap jagonya program paid review. Duh Gusti, koq jadi begini sih? Akhirnya karena tidak tahan menerima bejibun email yang masuk tiap hari menanyakan tentang SponsoredReviews, sayapun mengubah titel menjadi seperti yang sekarang.

Custom Domain & Pagerank 4

Seiring berjalannya waktu, saya jadi belajar banyak tentang paid review dan program online earning lainnya. Dari sana saya tahu kalau blog dengan nama domain sendiri lebih mudah dapat job ketimbang yang masih pakai embel-embel blogspot. Maka sayapun membeli nama domain tepat di Hari Valentine, 14 Februari 2008. Karena saya penggemar berat Cosa Aranda, saat membeli nama domain saya tidak mau neko-neko dan langsung memilih EkoNurhuda.com. Mulanya sempat was-was tidak dapat karena nama saya sangat pasaran sekali. Tapi untunglah nama domain ini berhasil saya dapatkan.

Atas dasar penghematan, saya hanya melakukan custom domain untuk blog ini. Jadi saya cukup membeli nama domain dan hostingnya boleh tetap numpang di Blogger. Lumayan. Biarpun cuma numpang, tapi kan numpangnya sama Blogger yang sudah terbukti keamanannya. Proses peng-custom domain-an blog ini dibantu 100% oleh Om Agus. Sebelumnya saya sudah diberi arahan sama Oom, tapi entah kenapa koq tidak bisa-bisa. Ujung-ujungnya Oom sendiri yang login ke akun Blogger, control panel domain dan DNS Park saya untuk melakukan pengaturan DNS setting. Dan custom domain sukses dilakukan tepat pada tanggal 25 Februari 2008. Thank you so much, Om.

Tidak seperti harapan saya, ternyata dengan memakai nama domain sendiri tidak serta-merta membuat blog saya kebanjiran job paid review. Saya malah mesti mendaftar ulang karena oleh sistem situs-situs paid review dianggap sebagai blog baru. Akibatnya penghasilan saya jeblok, turun menjadi lebih dari separuh penghasilan di bulan Januari 2008. Bulan Maret makin jeblok lagi yang membuat saya tidak pernah lagi mengekspose penghasilan setiap bulan. Tapi efek lainnya, saya dapat dengan mudah membangun branding. Nama domain yang simpel dan sama persis dengan nama membuat saya lebih mudah memperkenalkan blog ini di manapun dan kapanpun saya sempat. Mulai dari blogwalking, chatting, di forum-forum, sampai di akhir artikel yang saya kirim ke situs-situs artikel directory.

Berkah lain yang saya terima dari mulai digunakannya nama domain sendiri adalah pemberian pagerank 4 oleh Google. Ya, siapapun boleh tidak percaya kalau blog baru yang sepi pengunjung seperti EkoNurhuda.com ini bisa memperoleh pagerank 4 hanya dalam waktu 2.5 bulan saja. Meskipun kemudian turun menjadi pagerank 3, namun pencapaian tersebut benar-benar pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Sejak itu pula saya sadar bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin kalau kita mau bersungguh-sungguh. Eits, nyambung gak sih statement-nya? Hehehe...

Itu saja untuk bagian pertama. Tunggu cerita-cerita lainnya di bagian kedua nanti ya...

22 Desember 2008

Maraknya penjual ebook-ebook panduan cepat kaya di internet rupanya tidak hanya meresahkan pengguna internet di Indonesia saja. Seorang webmaster bule yang menyembunyikan identitasnya ternyata juga muak dengan maraknya penjual ebook-ebook seperti ini. Namun ia kreatif dalam meluapkan kemuakannya. Dengan cerdas ia membuat sebuah sales page parodi yang diberi nama Buy My Stupid Ebook. Namanya juga parodi, maka isi sales page tersebut ya sindiran untuk situs-situs penjual mimpi.



Sebagaimana umumnya sales page, di halaman situs BuyMyStupidEbook.com Anda juga bakal disuguhi tawaran ebook 'ajaib' yang akan mengajari cara-cara rahasia mencari uang di internet dengan cepat dan mudah. Bedanya, membaca sales page Buy My Stupid Ebook akan membuat Anda tertawa terbahak-bahak. Selain bahasanya yang konyol, situs ini juga banyak mengangkat hal-hal tidak masuk akal yang sering disajikan situs-situs penjual mimpi. Misalnya saja, sebagai bukti banyaknya uang yang diperoleh dari menjalankan 'program rahasia' di ebook yang ditawarkan, pemilik situs ini memuat peta Australia. Ya, ia berkata kalau ia sanggup membeli benua Australia dari hasil menjalankan 'program rahasia'-nya itu. What a funny!

Terinspirasi oleh Buy My Stupid Ebook, seorang webmaster lokal membuat situs EbookSampah.co.cc. Kalau boleh saya bilang, Ebook Sampah merupakan terjemahan dari Buy My Stupid Ebook. Soalnya isi kedua situs tersebut nyaris sama, hanya saja pendekatan lokalnya lebih terasa dilakukan oleh Ebook Sampah karena situs ini berbahasa Indonesia dan memparodikan sales page Indonesia. Tak kalah lucu dari Buy My Stupid Ebook pokoknya. Dan, sama seperti admin Buy My Stupid Ebook, admin Ebook Sampah juga menyembunyikan identitasnya. Meski begitu ia masih bisa dikontak via email yang ada di halaman About-nya.



Luar biasa! Saya harap para penjual ebook-ebook cara cepat kaya yang banyak bergentayangan di internet membaca dua situs parodi ini. Kalau mereka juga tertawa membacanya, maka dengan tidak sadar mereka mengakui isi sales page mereka hanyalah rekayasa belaka. Asal catut blog orang untuk testimoni misalnya. Hehehe... Tapi kalau mereka marah dan tersinggung, itu tandanya mereka memang benar-benar menjual ebook dodol yang masuk kategori sampah! Nah, lho! Pilihannya tidak ada yang enak kan? Hihihi...

Penasaran seperti apa lucunya situs Buy My Stupid Ebook dan Ebook Sampah? Segera saja kunjungi kedua situs tersebut, dan bersiap-siaplah tertawa sampai sakit perut!

NB: Selamat Hari Ibu untuk ibu-ibu blogger yang saya kagumi: Mbak Nitta Prasetya (Nittap), Mbak Dyane Dorothy Aurora (Rora), Mbak Julia Guerre (Ibu Jempol), Mbak Maya (River Maya), Mbak Nisa Fadila Qorina (Deeonyssa), dan ibu-ibu yang ngeblog lainnya.

Maraknya penjual ebook-ebook panduan cepat kaya di internet rupanya tidak hanya meresahkan pengguna internet di Indonesia saja. Seorang webmaster bule yang menyembunyikan identitasnya ternyata juga muak dengan maraknya penjual ebook-ebook seperti ini. Namun ia kreatif dalam meluapkan kemuakannya. Dengan cerdas ia membuat sebuah sales page parodi yang diberi nama Buy My Stupid Ebook. Namanya juga parodi, maka isi sales page tersebut ya sindiran untuk situs-situs penjual mimpi.



Sebagaimana umumnya sales page, di halaman situs BuyMyStupidEbook.com Anda juga bakal disuguhi tawaran ebook 'ajaib' yang akan mengajari cara-cara rahasia mencari uang di internet dengan cepat dan mudah. Bedanya, membaca sales page Buy My Stupid Ebook akan membuat Anda tertawa terbahak-bahak. Selain bahasanya yang konyol, situs ini juga banyak mengangkat hal-hal tidak masuk akal yang sering disajikan situs-situs penjual mimpi. Misalnya saja, sebagai bukti banyaknya uang yang diperoleh dari menjalankan 'program rahasia' di ebook yang ditawarkan, pemilik situs ini memuat peta Australia. Ya, ia berkata kalau ia sanggup membeli benua Australia dari hasil menjalankan 'program rahasia'-nya itu. What a funny!

Terinspirasi oleh Buy My Stupid Ebook, seorang webmaster lokal membuat situs EbookSampah.co.cc. Kalau boleh saya bilang, Ebook Sampah merupakan terjemahan dari Buy My Stupid Ebook. Soalnya isi kedua situs tersebut nyaris sama, hanya saja pendekatan lokalnya lebih terasa dilakukan oleh Ebook Sampah karena situs ini berbahasa Indonesia dan memparodikan sales page Indonesia. Tak kalah lucu dari Buy My Stupid Ebook pokoknya. Dan, sama seperti admin Buy My Stupid Ebook, admin Ebook Sampah juga menyembunyikan identitasnya. Meski begitu ia masih bisa dikontak via email yang ada di halaman About-nya.



Luar biasa! Saya harap para penjual ebook-ebook cara cepat kaya yang banyak bergentayangan di internet membaca dua situs parodi ini. Kalau mereka juga tertawa membacanya, maka dengan tidak sadar mereka mengakui isi sales page mereka hanyalah rekayasa belaka. Asal catut blog orang untuk testimoni misalnya. Hehehe... Tapi kalau mereka marah dan tersinggung, itu tandanya mereka memang benar-benar menjual ebook dodol yang masuk kategori sampah! Nah, lho! Pilihannya tidak ada yang enak kan? Hihihi...

Penasaran seperti apa lucunya situs Buy My Stupid Ebook dan Ebook Sampah? Segera saja kunjungi kedua situs tersebut, dan bersiap-siaplah tertawa sampai sakit perut!

NB: Selamat Hari Ibu untuk ibu-ibu blogger yang saya kagumi: Mbak Nitta Prasetya (Nittap), Mbak Dyane Dorothy Aurora (Rora), Mbak Julia Guerre (Ibu Jempol), Mbak Maya (River Maya), Mbak Nisa Fadila Qorina (Deeonyssa), dan ibu-ibu yang ngeblog lainnya.

19 Desember 2008

Di tengah kebingungan akut mencari tempat magang, saya jadi teringat masa-masa waktu magang dulu. Waktu itu awal tahun 2002, tepatnya bulan Februari, di mana saya dan 2 teman dari Pendidikan Profesi Pariwisata YP UNY atau biasa disingkat Profeta (sudah bubar) magang kerja di Hotel Novotel Solo. Saya magang di Front Office Department (FOD) sebagai bellboy, teman saya yang bernama Lubis Zakaria di House Keeping Department, sedang yang bernama Areis di Food and Beverages Department.

Awalnya anak-anak Profeta yang berangkat mengikuti tes magang itu ada 20-an orang. Bareng-bareng kami naik KA Prambanan Ekspres dari Jogja. Turun di Stasiun Purwosari terus naik bis kota arah Gladak dan turun di Jl. Slamet Riyadi. Kebetulan sekali Hotel Novotel Solo terletak di sebelah jalan poros kota Solo itu. Setelah tes demi tes dijalani, akhirnya cuma tinggal kami bertiga (saya, Lubis dan Areis) saja yang tersisa. Tepat sejak tanggal 1 Februari 2002 kami mulai magang di hotel berbintang empat tersebut.

Sama seperti yang dialami sekarang, waktu itu saya magang dalam rangka menjelang akhir studi di Profeta. Sebagai syarat kelulusan, kami diharuskan magang kerja selama minimal 3 bulan. Tempatnya bebas. Boleh di hotel, restoran, tempat-tempat wisata, atau travel agent. Karena saya pernah magang di tempat wisata (Candi Prambanan) pertengahan tahun 2001, maka kali itu saya ingin coba-coba cari pengalaman di hotel. Saya tidak mau tanggung-tanggung, makanya saya incar posisi favorit: bellboy! Bellboy menjadi favorit karena selain berada paling depan (tantangannya lebih besar), peluang mendapat tips dari tamu juga paling banyak.

Sesuai harapan saya, di posisi bellboy saya benar-benar memperoleh banyak pengalaman berharga. Hal pertama yang mesti saya hadapi adalah sikap kurang bersahabat dari senior-senior bellboy yang agaknya tidak suka dengan kehadiran saya. Kenapa begitu? Karena saya dianggap 'merebut' lahan rejeki mereka. Paling tidak, dengan adanya saya peluang mereka untuk memperoleh tips jadi lebih kecil. Seorang senior bahkan tak malu-malu meminta separuh dari tips yang saya hasilkan setiap pergantian shift. Saya tak kalah cerdik. Sebelum diminta sebagian tips sudah saya 'selamatkan' terlebih dahulu di kantong yang lain. Hehehe...

Pengalaman tak kalah menarik adalah pertemuan dengan tamu-tamu hotel yang tingkahnya macam-macam. Saya sering dimintai tolong mencari 'selimut' atau 'bantal yang bisa kentut' oleh tamu-tamu nakal. Berhubung saya orang alim (huehehe...), permintaan mereka tidak pernah saya turuti. Eh, tapi pernah ding saya dengan seorang teman mengantar tamu hotel berkeliling tempat-tempat prostitusi di Solo dalam rangka mencari 'kupu-kupu malam'. Mungkin karena kami masih disayang Allah, malam itu tak satupun wanita penjaja seks yang nampak oleh kami. Pulanglah kami dengan tangan hampa.

Magang di hotel terbesar di Solo (waktu itu), membuat saya berkesempatan bertemu orang-orang terkenal. Mulai dari artis-artis ibukota sampai pejabat negara. Di antara para pejabat yang pernah saya temui di Hotel Novotel Solo adalah Sri Edi Swasono (ekonom sekaligus suami Ibu Meutia Hatta) dan Pak Nabiel Makarim (waktu itu masih menjabat menteri). Kalau artis jauh lebih banyak lagi. Mulai dari Audy, Krishna Mukti, Dorce Gamalama, Jamrud, Base Jam, Titik Puspa, Aa Gym, dan beberapa nama lagi yang tidak saya ingat betul. Sayangnya waktu itu saya tidak punya kamera, jadi tidak bisa mengabadikan momen-momen bersama orang-orang terkenal itu deh.

Oya, ada satu cerita lucu waktu saya bertemu Audy. Waktu itu gadis pelantun tembang 'Menangis Semalam' ini baru saja meluncurkan album pertamanya dan show ke Solo untuk promosi. Nah, malam saat dia mau show saya kebetulan dapat giliran masuk. Dasar rejeki, saya dapat melihat artis tersebut dalam jarak sangat dekat. Ceritanya waktu itu Audy keluar dari kamar dengan beberapa orang menggunakan kaos seragam dan tanda pengenal. Setelah berbincang-bincang sebentar, orang-orang berseragam kaos itu pergi. Tinggallah Audy sendirian di teras lobi hotel, tepat di depan saya yang berada di belakang meja bellboy.

Waktu itu saya tidak tahu kalau si gadis manis tersebut Audy. Lagipula namanya memang belum begitu terkenal kala itu. Iseng-iseng saya tanya saja dia, "Mau ke mana, Mbak?" Eh, koq dia tertawa kecil sambil tersipu. Waktu saya tanya lagi "Temannya tadi ke mana koq ditinggal sendirian?", lagi-lagi dia cuma tersenyum. Saya jadi malu sendiri sambil garuk-garuk kepala. Gadis aneh, kata saya dalam hati. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan lobi. Saya buru-buru mendekat dan membukakan pintu. Ternyata eh ternyata itu mobil jemputan Audy. Sambil tersenyum dia mengucapkan terima kasih dan masuk ke mobil.

Sampai keesokan harinya saya belum juga tahu kalau gadis manis yang saya ajak ngobrol malam itu adalah Audy, penyanyi yang segera terkenal dengan beberapa lagu hits. Ketika saya baca koran Solo Pos edisi hari itu, secara tidak sengaja mata saya membaca berita tentang konser Audy. Entah mengapa pikiran saya koq langsung terbayang pada gadis semalam. Reflek saja saya mengecek daftar tamu yang menginap, tapi ternyata tak ada yang bernama Audy. Didorong rasa penasaran sayapun bertanya ke resepsionis. Mbak resepsionis bilang Audy memang menginap di Novotel malam itu. "Lho, saya koq gak tahu ya?" tanya saya penasaran. Eh, lha koq si Mbak resepsionis itu bilang, "Lho, dia yang semalam kamu ajak ngobrol di depan pintu itu lho..." Oalah, saya langsung tertawa sendiri.

Saya hanya 5 bulan di Solo, dari 1 Februari sampai 30 Juni 2002. Tapi kenangan 5 bulan di kota bersejarah ini tak akan pernah saya lupakan. Kotanya yang asri, penduduknya yang bersahabat, malamnya yang tenang. Ah, kapan ya bisa main ke Solo lagi? :))

Di tengah kebingungan akut mencari tempat magang, saya jadi teringat masa-masa waktu magang dulu. Waktu itu awal tahun 2002, tepatnya bulan Februari, di mana saya dan 2 teman dari Pendidikan Profesi Pariwisata YP UNY atau biasa disingkat Profeta (sudah bubar) magang kerja di Hotel Novotel Solo. Saya magang di Front Office Department (FOD) sebagai bellboy, teman saya yang bernama Lubis Zakaria di House Keeping Department, sedang yang bernama Areis di Food and Beverages Department.

Awalnya anak-anak Profeta yang berangkat mengikuti tes magang itu ada 20-an orang. Bareng-bareng kami naik KA Prambanan Ekspres dari Jogja. Turun di Stasiun Purwosari terus naik bis kota arah Gladak dan turun di Jl. Slamet Riyadi. Kebetulan sekali Hotel Novotel Solo terletak di sebelah jalan poros kota Solo itu. Setelah tes demi tes dijalani, akhirnya cuma tinggal kami bertiga (saya, Lubis dan Areis) saja yang tersisa. Tepat sejak tanggal 1 Februari 2002 kami mulai magang di hotel berbintang empat tersebut.

Sama seperti yang dialami sekarang, waktu itu saya magang dalam rangka menjelang akhir studi di Profeta. Sebagai syarat kelulusan, kami diharuskan magang kerja selama minimal 3 bulan. Tempatnya bebas. Boleh di hotel, restoran, tempat-tempat wisata, atau travel agent. Karena saya pernah magang di tempat wisata (Candi Prambanan) pertengahan tahun 2001, maka kali itu saya ingin coba-coba cari pengalaman di hotel. Saya tidak mau tanggung-tanggung, makanya saya incar posisi favorit: bellboy! Bellboy menjadi favorit karena selain berada paling depan (tantangannya lebih besar), peluang mendapat tips dari tamu juga paling banyak.

Sesuai harapan saya, di posisi bellboy saya benar-benar memperoleh banyak pengalaman berharga. Hal pertama yang mesti saya hadapi adalah sikap kurang bersahabat dari senior-senior bellboy yang agaknya tidak suka dengan kehadiran saya. Kenapa begitu? Karena saya dianggap 'merebut' lahan rejeki mereka. Paling tidak, dengan adanya saya peluang mereka untuk memperoleh tips jadi lebih kecil. Seorang senior bahkan tak malu-malu meminta separuh dari tips yang saya hasilkan setiap pergantian shift. Saya tak kalah cerdik. Sebelum diminta sebagian tips sudah saya 'selamatkan' terlebih dahulu di kantong yang lain. Hehehe...

Pengalaman tak kalah menarik adalah pertemuan dengan tamu-tamu hotel yang tingkahnya macam-macam. Saya sering dimintai tolong mencari 'selimut' atau 'bantal yang bisa kentut' oleh tamu-tamu nakal. Berhubung saya orang alim (huehehe...), permintaan mereka tidak pernah saya turuti. Eh, tapi pernah ding saya dengan seorang teman mengantar tamu hotel berkeliling tempat-tempat prostitusi di Solo dalam rangka mencari 'kupu-kupu malam'. Mungkin karena kami masih disayang Allah, malam itu tak satupun wanita penjaja seks yang nampak oleh kami. Pulanglah kami dengan tangan hampa.

Magang di hotel terbesar di Solo (waktu itu), membuat saya berkesempatan bertemu orang-orang terkenal. Mulai dari artis-artis ibukota sampai pejabat negara. Di antara para pejabat yang pernah saya temui di Hotel Novotel Solo adalah Sri Edi Swasono (ekonom sekaligus suami Ibu Meutia Hatta) dan Pak Nabiel Makarim (waktu itu masih menjabat menteri). Kalau artis jauh lebih banyak lagi. Mulai dari Audy, Krishna Mukti, Dorce Gamalama, Jamrud, Base Jam, Titik Puspa, Aa Gym, dan beberapa nama lagi yang tidak saya ingat betul. Sayangnya waktu itu saya tidak punya kamera, jadi tidak bisa mengabadikan momen-momen bersama orang-orang terkenal itu deh.

Oya, ada satu cerita lucu waktu saya bertemu Audy. Waktu itu gadis pelantun tembang 'Menangis Semalam' ini baru saja meluncurkan album pertamanya dan show ke Solo untuk promosi. Nah, malam saat dia mau show saya kebetulan dapat giliran masuk. Dasar rejeki, saya dapat melihat artis tersebut dalam jarak sangat dekat. Ceritanya waktu itu Audy keluar dari kamar dengan beberapa orang menggunakan kaos seragam dan tanda pengenal. Setelah berbincang-bincang sebentar, orang-orang berseragam kaos itu pergi. Tinggallah Audy sendirian di teras lobi hotel, tepat di depan saya yang berada di belakang meja bellboy.

Waktu itu saya tidak tahu kalau si gadis manis tersebut Audy. Lagipula namanya memang belum begitu terkenal kala itu. Iseng-iseng saya tanya saja dia, "Mau ke mana, Mbak?" Eh, koq dia tertawa kecil sambil tersipu. Waktu saya tanya lagi "Temannya tadi ke mana koq ditinggal sendirian?", lagi-lagi dia cuma tersenyum. Saya jadi malu sendiri sambil garuk-garuk kepala. Gadis aneh, kata saya dalam hati. Tak lama sebuah mobil berhenti di depan lobi. Saya buru-buru mendekat dan membukakan pintu. Ternyata eh ternyata itu mobil jemputan Audy. Sambil tersenyum dia mengucapkan terima kasih dan masuk ke mobil.

Sampai keesokan harinya saya belum juga tahu kalau gadis manis yang saya ajak ngobrol malam itu adalah Audy, penyanyi yang segera terkenal dengan beberapa lagu hits. Ketika saya baca koran Solo Pos edisi hari itu, secara tidak sengaja mata saya membaca berita tentang konser Audy. Entah mengapa pikiran saya koq langsung terbayang pada gadis semalam. Reflek saja saya mengecek daftar tamu yang menginap, tapi ternyata tak ada yang bernama Audy. Didorong rasa penasaran sayapun bertanya ke resepsionis. Mbak resepsionis bilang Audy memang menginap di Novotel malam itu. "Lho, saya koq gak tahu ya?" tanya saya penasaran. Eh, lha koq si Mbak resepsionis itu bilang, "Lho, dia yang semalam kamu ajak ngobrol di depan pintu itu lho..." Oalah, saya langsung tertawa sendiri.

Saya hanya 5 bulan di Solo, dari 1 Februari sampai 30 Juni 2002. Tapi kenangan 5 bulan di kota bersejarah ini tak akan pernah saya lupakan. Kotanya yang asri, penduduknya yang bersahabat, malamnya yang tenang. Ah, kapan ya bisa main ke Solo lagi? :))

16 Desember 2008

Tidak terasa kuliah saya sudah hampir selesai. Hutang teori yang sempat tertunda selama 2 tahun lebih kini tinggal sedikit lagi. Sesuai kesepakatan dengan pihak kampus, saya sudah bisa magang kerja alias praktik kerja lapangan (PKL) setelah ujian akhir semester ini. Waktunya sekitar awal Januari 2009. Sembari magang di lapangan, saya juga bisa melakukan perbaikan nilai yang dirasa kurang memuaskan di kampus.

Selesai kuliah adalah saat yang paling saya nanti-nantikan. Bukan karena begitu lulus saya bisa menagih janji Bapak untuk menikahkan saya. Tapi lebih karena saya bakal bisa lebih fokus lagi dengan impian-impian yang telah saya susun sebelumnya. Ada banyak hal, banyak target, dan banyak impian yang sudah saya rencanakan dan ingin dicapai. Namun karena ingin fokus pada kuliah agar cepat lulus, semuanya mesti saya abaikan dulu. Anehnya, menjelang magang begini saya koq malah jadi bingung ya?

Ceritanya begini. Sebagai syarat kelulusan saya mesti magang kerja di media, baik cetak (koran, majalah, tabloid) atau elektronik (TV, radio). Kemarin sewaktu Ardy Pratama mengajak saya join ke susunan redaksi Tabloid Internet (TI) biro Jogja, saya mengajukan ke dosen pembimbing untuk menghitungnya sebagai magang. Tapi ternyata pembimbing saya menolak dan menyarankan untuk magang di tempat lain. Alasannya TI masih baru dan berformat bulanan, jadi nanti saya tidak dapat banyak praktik di lapangan. Sayapun disarankan magang di sebuah koran mingguan baru bernama Malioboro Ekspres (ME). Kebetulan pihak ME pernah datang ke kampus dan meminta beberapa mahasiswa AKY untuk ditempatkan sebagai jurnalis.

Lho, kenapa di ME yang sama-sama media baru koq boleh? Padahal tadi alasan penolakan magang di TI karena TI masih baru kan? Tenang, semua ada penjelasannya. Memang benar ME koran baru, tapi orang-orang di belakang ME adalah jurnalis-jurnalis senior Jogja. Senior di sini bermakna ganda, senior pengalamannya dan senior pula usianya. Sayapun mengiyakan saja saran tersebut. Kapan lagi ada kesempatan belajar dari para senior yang sudah kondang plus matang di bidang jurnalistik? Jadilah saya satu di antara 6 orang mahasiswa AKY yang dikirim sebagai "tenaga bantuan" di ME.

Senin (15/12) kemarin kami berenam sudah datang ke kantor ME di kawasan Condongcatur untuk perkenalan. Kami bahkan langsung dilibatkan dalam rapat redaksi membicarakan edisi selanjutnya. Persoalan timbul ketika pembimbing saya berubah pikiran. Kalau tadinya beliau menyarankan ME sebagai tempat saya magang menggantikan TI yang ditolaknya, tadi (16/12) siang beliau bilang saya mesti cari tempat magang lain. Walah, koq isuk dele sore tempe begitu sih omongannya? Padahal saya sudah siap menulis proposal magang lho. Dengan "kebijakan" ini tentu saja saya mesti melakukan semuanya dari awal lagi. Persoalannya, saya masih bingung mau magang di mana.

Sebelum mengajukan TI, saya pernah ingin magang di portal berita. Prioritas utama saya di Detik. Kebetulan sekali Detik punya biro di Jogja. Namun pembimbing saya tidak bisa menerima keinginan tersebut. Entah kenapa, di saat jurnalisme online semakin dikenal koq beliau malah terkesan belum mengakui eksistensi jurnalisme internet tersebut. Hmmm, saya jadi benar-benar bingung nih mau magang di mana. :(( Jadi, mohon maklum ya kalau akhir-akhir ini saya jadi jarang update dan tidak mampir ke blog teman-teman.

Itu saja. Semoga curhatan ini bisa meringankan pikiran saya. :))

Tidak terasa kuliah saya sudah hampir selesai. Hutang teori yang sempat tertunda selama 2 tahun lebih kini tinggal sedikit lagi. Sesuai kesepakatan dengan pihak kampus, saya sudah bisa magang kerja alias praktik kerja lapangan (PKL) setelah ujian akhir semester ini. Waktunya sekitar awal Januari 2009. Sembari magang di lapangan, saya juga bisa melakukan perbaikan nilai yang dirasa kurang memuaskan di kampus.

Selesai kuliah adalah saat yang paling saya nanti-nantikan. Bukan karena begitu lulus saya bisa menagih janji Bapak untuk menikahkan saya. Tapi lebih karena saya bakal bisa lebih fokus lagi dengan impian-impian yang telah saya susun sebelumnya. Ada banyak hal, banyak target, dan banyak impian yang sudah saya rencanakan dan ingin dicapai. Namun karena ingin fokus pada kuliah agar cepat lulus, semuanya mesti saya abaikan dulu. Anehnya, menjelang magang begini saya koq malah jadi bingung ya?

Ceritanya begini. Sebagai syarat kelulusan saya mesti magang kerja di media, baik cetak (koran, majalah, tabloid) atau elektronik (TV, radio). Kemarin sewaktu Ardy Pratama mengajak saya join ke susunan redaksi Tabloid Internet (TI) biro Jogja, saya mengajukan ke dosen pembimbing untuk menghitungnya sebagai magang. Tapi ternyata pembimbing saya menolak dan menyarankan untuk magang di tempat lain. Alasannya TI masih baru dan berformat bulanan, jadi nanti saya tidak dapat banyak praktik di lapangan. Sayapun disarankan magang di sebuah koran mingguan baru bernama Malioboro Ekspres (ME). Kebetulan pihak ME pernah datang ke kampus dan meminta beberapa mahasiswa AKY untuk ditempatkan sebagai jurnalis.

Lho, kenapa di ME yang sama-sama media baru koq boleh? Padahal tadi alasan penolakan magang di TI karena TI masih baru kan? Tenang, semua ada penjelasannya. Memang benar ME koran baru, tapi orang-orang di belakang ME adalah jurnalis-jurnalis senior Jogja. Senior di sini bermakna ganda, senior pengalamannya dan senior pula usianya. Sayapun mengiyakan saja saran tersebut. Kapan lagi ada kesempatan belajar dari para senior yang sudah kondang plus matang di bidang jurnalistik? Jadilah saya satu di antara 6 orang mahasiswa AKY yang dikirim sebagai "tenaga bantuan" di ME.

Senin (15/12) kemarin kami berenam sudah datang ke kantor ME di kawasan Condongcatur untuk perkenalan. Kami bahkan langsung dilibatkan dalam rapat redaksi membicarakan edisi selanjutnya. Persoalan timbul ketika pembimbing saya berubah pikiran. Kalau tadinya beliau menyarankan ME sebagai tempat saya magang menggantikan TI yang ditolaknya, tadi (16/12) siang beliau bilang saya mesti cari tempat magang lain. Walah, koq isuk dele sore tempe begitu sih omongannya? Padahal saya sudah siap menulis proposal magang lho. Dengan "kebijakan" ini tentu saja saya mesti melakukan semuanya dari awal lagi. Persoalannya, saya masih bingung mau magang di mana.

Sebelum mengajukan TI, saya pernah ingin magang di portal berita. Prioritas utama saya di Detik. Kebetulan sekali Detik punya biro di Jogja. Namun pembimbing saya tidak bisa menerima keinginan tersebut. Entah kenapa, di saat jurnalisme online semakin dikenal koq beliau malah terkesan belum mengakui eksistensi jurnalisme internet tersebut. Hmmm, saya jadi benar-benar bingung nih mau magang di mana. :(( Jadi, mohon maklum ya kalau akhir-akhir ini saya jadi jarang update dan tidak mampir ke blog teman-teman.

Itu saja. Semoga curhatan ini bisa meringankan pikiran saya. :))

13 Desember 2008

Lazimnya, blogger cari duit dengan memasang iklan di blog atau mengikuti program-program periklanan online. Blog dijadikan sebagai sarana promosi tempat kita memajang materi iklan dari advertiser. Materi iklan tersebut bisa berupa banner, artikel (paid review), iklan PPC, maupun iklan link. Dari situ si pemilik blog akan memperoleh sejumlah komisi sebagai bayarannya. Beginilah cara yang lazim dilakukan blogger untuk mencari duit.

Ada cara lain? Setahu saya belum ada. Nah, Mas Duto Sri Cahyono membuat satu gebrakan lain di luar kelaziman tersebut. Ia, seperti yang diceritakannya di Wikimu, bisa memperoleh penghasilan dari blog tanpa perlu memasang iklan apapun! Penghasilannyapun tidak tanggung-tanggung. Ia mengklaim dapat mengantongi jutaan rupiah setiap bulan. Bagaimana caranya? Sama seperti saya waktu pertama kali membaca judul artikel tersebut, saya yakin Anda juga pasti penasaran sekali ingin tahu bagaimana cara Mas Duto melakukan hal itu. Iya kan?

Coba Anda buka www.kicauan.wordpress.com. Di blog sederhana itu Anda tidak akan menjumpai secuil iklanpun, baik berupa banner, review maupun teks link. Yang Anda jumpai hanyalah sejumlah artikel seputar cara-cara memelihara burung lengkap dengan tips dan triknya. Yups, blog bertitel "Bird Care" tersebut memang dikhususkan oleh Mas Duto untuk membahas semua hal mengenai burung peliharaan. Mulai dari penangkaran (beternak) burung, perawatan burung, pakan burung, sangkar burung, lomba burung, dan semuanya tentang burung. Kalaupun ada banner yang terlihat, itu hanyalah banner nonkomersil milik Wikimu dan Indonesian Bloggers. Tentu saja Mas Duto tidak memperoleh apa-apa dengan memajang kedua banner tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, memelihara burung adalah hobi yang digeluti oleh banyak orang di Indonesia, utamanya di Jawa. Dan sudah bukan rahasia pula kalau hobiis burung adalah kaum menengah ke atas yang rela keluar uang berapa saja demi hobinya tersebut. Mas Duto dengan cerdas membidik komunitas ini sebagai target pembaca blognya. Ia tampil sebagai seorang pakar "perburungan" yang memang belum ada di jagat internet. Walhasil, ketika hobiis burung mencari informasi seputar pemeliharaan burung di internet, mereka akan dihantarkan ke halaman blog Mas Duto.

Terus, dari mana cara Mas Duto memperoleh uang kalau tidak memasang iklan apa-apa?

Semuanya berawal dari kepercayaan yang berhasil diperoleh Mas Duto dari pembacanya. Dengan mementingkan kualitas isi blog di atas segala-galanya, Mas Duto yang lama berkecimpung di dunia jurnalistik ini selalu berupaya untuk menyajikan konten berkualitas pada pembaca. Berhubung ia sendiri adalah seorang hobiis burung, tidak sulit baginya untuk masuk dalam komunitas hobiis burung dan bertukar ilmu mengenai pemeliharaan burung. Apa yang diperolehnya selama berinteraksi dengan sesama hobiis burung inilah yang ia bagikan di blognya. Bisa ditebak, karena berdasarkan pengalaman pribadi, tulisan-tulisan Mas Duto sering dijadikan acuan oleh hobiis burung lain. Tidak hanya sampai di sana. Banyak pembaca yang tidak segan-segan berkonsultasi masalah pemeliharaan burung padanya. Baik melalui kolom komentar, email, maupun kontak langsung via HP.

Nah, suatu waktu pembaca blog Bird Care di Jakarta ada yang bertanya tentang vitamin burung. Ditanya rekomendasi tempat-tempat membeli vitamin, ujung-ujungnya Mas Duto malah dimintai tolong membelikan obat dimaksud. Dengan niat menolong, Mas Duto mengiyakan saja permintaan itu. Karena ia tinggal di Solo, maka uang ditransfer lewat bank dan Mas Duto mesti mengirim vitamin pesanan tersebut lewat jasa kurir. Harga vitamin yang dipesan cuma Rp 20.000, tapi ternyata si pemesan mengirim uang Rp 150.000. Sisanya adalah "uang lelah" untuk Mas Duto. Dipotong biaya kirim, ia bisa memperoleh paling tidak Rp 65.000 dari pesanan tersebut. Lumayan, bukan?

Pesanan pertama itu diikuti dengan pesanan-pesanan berikutnya. Tidak hanya vitamin, Mas Duto juga kerap menerima pesanan sangkar burung dan bahkan burung itu sendiri. Dari "uang lelah" yang diberikan para pemesannya itulah Mas Duto memperoleh penghasilan. Berapa banyak? Ia bilang tidak banyak, rata-rata "hanya" Rp 6 juta/bulan. Penghasilan ini jauh lebih besar dari gajinya sewaktu menjabat General Manager sebuah radio swasta di Solo. Selain itu ia jadi punya banyak kenalan sesama hobiis burung di seluruh Indonesia. Iapun sering melakukan perjalanan gratis ke kota-kota seperti Surabaya, Denpasar, Mataram, Jakarta, Bandung, sampai Medan.

Koq bisa gratis? Bisa saja, karena Mas Duto bepergian dalam rangka mengirim pesanan client-nya. Pesanan dengan resiko tinggi seperti burung atau sangkar burung memang biasa diantar sendiri olehnya sampai ke tujuan. Tentu saja semua biaya yang ia keluarkan ditanggung oleh pemesan. Ini artinya, sambil menyelam minum air. Sambil berbisnis ia bisa jalan-jalan gratis. Asyik, bukan? :)

Cukup kreatif bukan apa yang dilakukan Mas Duto? Sebenarnya apa yang ia lakukan tidak beda jauh dengan sistem afiliasi yang kita kenal di internet. Hanya saja ia tidak mempromosikan produk-produk internet marketer yang berbasis web. Ia menjadi "affiate" bagi penjual-penjual burung di sekitarnya. Satu hal yang menurut saya belum pernah dilakukan oleh blogger lain sebelumnya.

Siapa mau mengikuti jejak Mas Duto?

Lazimnya, blogger cari duit dengan memasang iklan di blog atau mengikuti program-program periklanan online. Blog dijadikan sebagai sarana promosi tempat kita memajang materi iklan dari advertiser. Materi iklan tersebut bisa berupa banner, artikel (paid review), iklan PPC, maupun iklan link. Dari situ si pemilik blog akan memperoleh sejumlah komisi sebagai bayarannya. Beginilah cara yang lazim dilakukan blogger untuk mencari duit.

Ada cara lain? Setahu saya belum ada. Nah, Mas Duto Sri Cahyono membuat satu gebrakan lain di luar kelaziman tersebut. Ia, seperti yang diceritakannya di Wikimu, bisa memperoleh penghasilan dari blog tanpa perlu memasang iklan apapun! Penghasilannyapun tidak tanggung-tanggung. Ia mengklaim dapat mengantongi jutaan rupiah setiap bulan. Bagaimana caranya? Sama seperti saya waktu pertama kali membaca judul artikel tersebut, saya yakin Anda juga pasti penasaran sekali ingin tahu bagaimana cara Mas Duto melakukan hal itu. Iya kan?

Coba Anda buka www.kicauan.wordpress.com. Di blog sederhana itu Anda tidak akan menjumpai secuil iklanpun, baik berupa banner, review maupun teks link. Yang Anda jumpai hanyalah sejumlah artikel seputar cara-cara memelihara burung lengkap dengan tips dan triknya. Yups, blog bertitel "Bird Care" tersebut memang dikhususkan oleh Mas Duto untuk membahas semua hal mengenai burung peliharaan. Mulai dari penangkaran (beternak) burung, perawatan burung, pakan burung, sangkar burung, lomba burung, dan semuanya tentang burung. Kalaupun ada banner yang terlihat, itu hanyalah banner nonkomersil milik Wikimu dan Indonesian Bloggers. Tentu saja Mas Duto tidak memperoleh apa-apa dengan memajang kedua banner tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, memelihara burung adalah hobi yang digeluti oleh banyak orang di Indonesia, utamanya di Jawa. Dan sudah bukan rahasia pula kalau hobiis burung adalah kaum menengah ke atas yang rela keluar uang berapa saja demi hobinya tersebut. Mas Duto dengan cerdas membidik komunitas ini sebagai target pembaca blognya. Ia tampil sebagai seorang pakar "perburungan" yang memang belum ada di jagat internet. Walhasil, ketika hobiis burung mencari informasi seputar pemeliharaan burung di internet, mereka akan dihantarkan ke halaman blog Mas Duto.

Terus, dari mana cara Mas Duto memperoleh uang kalau tidak memasang iklan apa-apa?

Semuanya berawal dari kepercayaan yang berhasil diperoleh Mas Duto dari pembacanya. Dengan mementingkan kualitas isi blog di atas segala-galanya, Mas Duto yang lama berkecimpung di dunia jurnalistik ini selalu berupaya untuk menyajikan konten berkualitas pada pembaca. Berhubung ia sendiri adalah seorang hobiis burung, tidak sulit baginya untuk masuk dalam komunitas hobiis burung dan bertukar ilmu mengenai pemeliharaan burung. Apa yang diperolehnya selama berinteraksi dengan sesama hobiis burung inilah yang ia bagikan di blognya. Bisa ditebak, karena berdasarkan pengalaman pribadi, tulisan-tulisan Mas Duto sering dijadikan acuan oleh hobiis burung lain. Tidak hanya sampai di sana. Banyak pembaca yang tidak segan-segan berkonsultasi masalah pemeliharaan burung padanya. Baik melalui kolom komentar, email, maupun kontak langsung via HP.

Nah, suatu waktu pembaca blog Bird Care di Jakarta ada yang bertanya tentang vitamin burung. Ditanya rekomendasi tempat-tempat membeli vitamin, ujung-ujungnya Mas Duto malah dimintai tolong membelikan obat dimaksud. Dengan niat menolong, Mas Duto mengiyakan saja permintaan itu. Karena ia tinggal di Solo, maka uang ditransfer lewat bank dan Mas Duto mesti mengirim vitamin pesanan tersebut lewat jasa kurir. Harga vitamin yang dipesan cuma Rp 20.000, tapi ternyata si pemesan mengirim uang Rp 150.000. Sisanya adalah "uang lelah" untuk Mas Duto. Dipotong biaya kirim, ia bisa memperoleh paling tidak Rp 65.000 dari pesanan tersebut. Lumayan, bukan?

Pesanan pertama itu diikuti dengan pesanan-pesanan berikutnya. Tidak hanya vitamin, Mas Duto juga kerap menerima pesanan sangkar burung dan bahkan burung itu sendiri. Dari "uang lelah" yang diberikan para pemesannya itulah Mas Duto memperoleh penghasilan. Berapa banyak? Ia bilang tidak banyak, rata-rata "hanya" Rp 6 juta/bulan. Penghasilan ini jauh lebih besar dari gajinya sewaktu menjabat General Manager sebuah radio swasta di Solo. Selain itu ia jadi punya banyak kenalan sesama hobiis burung di seluruh Indonesia. Iapun sering melakukan perjalanan gratis ke kota-kota seperti Surabaya, Denpasar, Mataram, Jakarta, Bandung, sampai Medan.

Koq bisa gratis? Bisa saja, karena Mas Duto bepergian dalam rangka mengirim pesanan client-nya. Pesanan dengan resiko tinggi seperti burung atau sangkar burung memang biasa diantar sendiri olehnya sampai ke tujuan. Tentu saja semua biaya yang ia keluarkan ditanggung oleh pemesan. Ini artinya, sambil menyelam minum air. Sambil berbisnis ia bisa jalan-jalan gratis. Asyik, bukan? :)

Cukup kreatif bukan apa yang dilakukan Mas Duto? Sebenarnya apa yang ia lakukan tidak beda jauh dengan sistem afiliasi yang kita kenal di internet. Hanya saja ia tidak mempromosikan produk-produk internet marketer yang berbasis web. Ia menjadi "affiate" bagi penjual-penjual burung di sekitarnya. Satu hal yang menurut saya belum pernah dilakukan oleh blogger lain sebelumnya.

Siapa mau mengikuti jejak Mas Duto?

10 Desember 2008

Tidak terasa, tepat tanggal 10 Desember 2008 ini usia saya bertambah lagi. Jadi berapa? Sudah lumayan tua, Bro. Sudah seperempat abad lebih soalnya. Maka tidak heran deh kalau setiap ketemu orang baru saya selalu dipanggil "Pak", bukannya "Mas". Emang berapa sih usia saya sebenarnya? Hehehe, diam-diam saya sudah menghuni bumi ini selama 26 tahun lho. Tuh, bener kan kalau saya bilang sudah lebih dari seperempat abad? Hehehe...

Karena memang tidak saya cantumkan di blog ini, maka wajar kalau tidak ada yang tahu kapan saya berulang tahun. Dulu sempat ada pembaca yang tanya kapan saya berulang tahun, tapi tidak saya jawab. Takut dilempar telur soalnya. :)) Cuma sejak join di Facebook mau tak mau saya obral juga deh hari kelahiran saya. Dan beberapa ucapan selamat ulang tahun dari teman-temanpun berdatangan ke email saya. Terima kasih, teman-teman...

Berikut beberapa ucapan selamat ulang tahun yang sudah saya terima dari sesama penghuni alam maya ini:

Hello ekonurhuda,
We at Celoteh Anda: BOLA Vaganza would like to wish you a happy birthday today!

Forum BOLA Vaganza

Happy birthday,bro......heheheheh..ditunggu makan-makannya..
Nenad Mohamed

Met ulang tahun bos.
Informasi Seminar

Wah, selamat ulang tahun nih .. :)
Permana Jayanta

Plus, satu ucapan aneh bin nyentrik sekaligus bikin bulu kuduk merinding yang dikirim oleh Mas Kuss Indarto di wall Facebook saya. Mau tahu bagaimana ucapan selamat ulang tahun darinya? Begini nih, "selamatsusutusiayaselamatdekatdengankematiansalamhangat..." Tahu apa maksudnya? Waktu saya baca pelan-pelan dan dengan super teliti, ucapan itu berbunyi "Selamat susut usia ya, selamat dekat dengan kematian, salam hangat". Oops, bener kata Mas Kuss, setiap ulang tahun hakikatnya kita semakin mendekati kematian. Hiyyy, jadi ngeri juga nih. :))

Btw, siapa mau menyusul? Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Tidak terasa, tepat tanggal 10 Desember 2008 ini usia saya bertambah lagi. Jadi berapa? Sudah lumayan tua, Bro. Sudah seperempat abad lebih soalnya. Maka tidak heran deh kalau setiap ketemu orang baru saya selalu dipanggil "Pak", bukannya "Mas". Emang berapa sih usia saya sebenarnya? Hehehe, diam-diam saya sudah menghuni bumi ini selama 26 tahun lho. Tuh, bener kan kalau saya bilang sudah lebih dari seperempat abad? Hehehe...

Karena memang tidak saya cantumkan di blog ini, maka wajar kalau tidak ada yang tahu kapan saya berulang tahun. Dulu sempat ada pembaca yang tanya kapan saya berulang tahun, tapi tidak saya jawab. Takut dilempar telur soalnya. :)) Cuma sejak join di Facebook mau tak mau saya obral juga deh hari kelahiran saya. Dan beberapa ucapan selamat ulang tahun dari teman-temanpun berdatangan ke email saya. Terima kasih, teman-teman...

Berikut beberapa ucapan selamat ulang tahun yang sudah saya terima dari sesama penghuni alam maya ini:

Hello ekonurhuda,
We at Celoteh Anda: BOLA Vaganza would like to wish you a happy birthday today!

Forum BOLA Vaganza

Happy birthday,bro......heheheheh..ditunggu makan-makannya..
Nenad Mohamed

Met ulang tahun bos.
Informasi Seminar

Wah, selamat ulang tahun nih .. :)
Permana Jayanta

Plus, satu ucapan aneh bin nyentrik sekaligus bikin bulu kuduk merinding yang dikirim oleh Mas Kuss Indarto di wall Facebook saya. Mau tahu bagaimana ucapan selamat ulang tahun darinya? Begini nih, "selamatsusutusiayaselamatdekatdengankematiansalamhangat..." Tahu apa maksudnya? Waktu saya baca pelan-pelan dan dengan super teliti, ucapan itu berbunyi "Selamat susut usia ya, selamat dekat dengan kematian, salam hangat". Oops, bener kata Mas Kuss, setiap ulang tahun hakikatnya kita semakin mendekati kematian. Hiyyy, jadi ngeri juga nih. :))

Btw, siapa mau menyusul? Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

06 Desember 2008

Masih ingat Ask2Link? Itu lho, program jual-beli link yang pernah saya promosikan di sini beberapa waktu lalu. Mungkin memang peruntungan saya baik di Ask2Link, belum sampai seminggu daftar saya langsung dapat advertiser pertama. Ups, sebenarnya tak hanya yang pertama, tapi sekaligus jadi satu-satunya advertiser sampai saat ini. Habisnya cuma satu itu sih yang mau memasang iklan di blog ini. Yah, lumayanlah daripada tidak ada sama sekali. Iya kan?

Oleh Ask2Link blog ini dihargai $8/link sebulan. Komisi dibayarkan melalui PayPal setiap awal bulan bila total komisi telah mencapai angka minimal $10. Karena cuma punya satu advertiser, saya baru bisa melewati batasan minimum payout di bulan ketiga. Ya, saya mesti menunggu sampai awal Desember ini untuk dapat menikmati hasil pertama dari Ask2Link. Berapa tuh? Rahasia, ah! Pokoknya cukuplah kalau cuma untuk beli 3 gelas Melon Shake di Tamansari Cafee, Ambarrukmo Plaza. Hehehe... Masih penasaran? Ya sudah, lanjutkan membaca karena saya punya screenshot-nya setelah paragraf ini. :))


Bagaimana, sudah pada tahu kan? Yup, $16 itulah penghasilan pertama saya dari Ask2Link. Ini sekaligus menjadi penghasilan pertama saya di dunia jual-beli link. Lumayan, hanya memasang link di sidebar saja sudah dapat bayaran $8/link tiap bulan. Sayangnya sampai saat ini hanya ada satu advertiser yang tertarik memasang link di sini, sementara blog saya yang lain masih belum laku. Ya sudah, mau tidak mau saya harus puas dengan bayaran yang dibayarkan dua bulan sekali ini.

Itu saja. Saya tidak bermaksud pamer koq. Ini hanya sekedar payment proof kalau ternyata Ask2Link patut dipertimbangkan sebagai salah satu sumber pemasukan karena sudah terbukti membayar. Btw, Anda masih belum paham apa itu Ask2Link? Kalau begitu baca dulu artikel ini! Belum gabung dengan Ask2Link? Silakan klik di sini untuk mendaftar melalui link referal saya. Kalau tidak mau jadi referal saya, silakan mendaftar di sini.

Semoga bermanfaat.

Masih ingat Ask2Link? Itu lho, program jual-beli link yang pernah saya promosikan di sini beberapa waktu lalu. Mungkin memang peruntungan saya baik di Ask2Link, belum sampai seminggu daftar saya langsung dapat advertiser pertama. Ups, sebenarnya tak hanya yang pertama, tapi sekaligus jadi satu-satunya advertiser sampai saat ini. Habisnya cuma satu itu sih yang mau memasang iklan di blog ini. Yah, lumayanlah daripada tidak ada sama sekali. Iya kan?

Oleh Ask2Link blog ini dihargai $8/link sebulan. Komisi dibayarkan melalui PayPal setiap awal bulan bila total komisi telah mencapai angka minimal $10. Karena cuma punya satu advertiser, saya baru bisa melewati batasan minimum payout di bulan ketiga. Ya, saya mesti menunggu sampai awal Desember ini untuk dapat menikmati hasil pertama dari Ask2Link. Berapa tuh? Rahasia, ah! Pokoknya cukuplah kalau cuma untuk beli 3 gelas Melon Shake di Tamansari Cafee, Ambarrukmo Plaza. Hehehe... Masih penasaran? Ya sudah, lanjutkan membaca karena saya punya screenshot-nya setelah paragraf ini. :))


Bagaimana, sudah pada tahu kan? Yup, $16 itulah penghasilan pertama saya dari Ask2Link. Ini sekaligus menjadi penghasilan pertama saya di dunia jual-beli link. Lumayan, hanya memasang link di sidebar saja sudah dapat bayaran $8/link tiap bulan. Sayangnya sampai saat ini hanya ada satu advertiser yang tertarik memasang link di sini, sementara blog saya yang lain masih belum laku. Ya sudah, mau tidak mau saya harus puas dengan bayaran yang dibayarkan dua bulan sekali ini.

Itu saja. Saya tidak bermaksud pamer koq. Ini hanya sekedar payment proof kalau ternyata Ask2Link patut dipertimbangkan sebagai salah satu sumber pemasukan karena sudah terbukti membayar. Btw, Anda masih belum paham apa itu Ask2Link? Kalau begitu baca dulu artikel ini! Belum gabung dengan Ask2Link? Silakan klik di sini untuk mendaftar melalui link referal saya. Kalau tidak mau jadi referal saya, silakan mendaftar di sini.

Semoga bermanfaat.

04 Desember 2008

Sore kemarin saya janjian ketemu dengan Ardy Pratama di Plaza Ambarrukmo, Jogja. Rencananya sih cuma mau membahas Tabloid Internet, khususnya mengenai rencana pendirian biro Jogja di mana saya sangat berminat sekali untuk turut terlibat. Namanya juga tidak pernah bertemu muka, obrolannya ya jadi tidak bisa fokus pada Tabloid Internet saja. Pokoknya apaaaa saja kami bicarakan. Waktu matahari sudah mulai tidak kelihatan, baru deh kami turun untuk pulang.

Belum sampai lantai dasar koq saya iseng pengen masuk toko buku Gramedia. Awalnya sih cuma pengen cuci mata, sambil mengamati buku apa saja yang jadi best seller saat ini. Hmmm, ternyata masih tetap seputar bisnis dan kewirausahaan (entrepreunership). Eits, tapi tunggu dulu! Ardy kemudian mengajak saya ke rak best seller lain. Dan, guess what? Isinya buku-buku tentang "cara mudah mencari duit di internet"! Wow, what a surprise! Coba lihat deh hasil jepretan saya kemarin:





Satu per satu kami 'intip' buku-buku yang dipajang di rak tersebut. Judulnya benar-benar menggiurkan. Beberapa di antaranya yang sempat saya catat adalah "Mudah Meraup Dolar di Internet", "Cari Duit Modal Dengkul Cara Blogger", "Langkah Mudah Meraup Dolar Lewat Internet", "30 Rahasia Cari Uang di Internet", dan termasuk juga buku yang dibuat dari hasil membajak posting beberapa blogger senior berjudul "Google AdSense: Mudah Meraih Dolar di Internet" 'karya' Fajar YS Zebua. Hmmm, saya dan Ardy jadi geleng-geleng kepala. Dan gelengan kepala kami jadi lebih kencang karena dari semua penulis buku itu tidak ada satupun yang kami kenal sebagai blogger!

Gejala apa ini? Tidak bisa dipungkiri lagi, booming blog dan make money blogging sedang melanda Indonesia. Di tengah susahnya mencari lahan pekerjaan seperti sekarang, orang butuh alternatif. Kalau dulu yang dilirik sebagai alternatif adalah ragam peluang wirausaha, maka sekarang mereka melirik blog dan make money blogging. Saya pribadi senang dengan banyaknya penerbitan buku-buku bertema seperti itu. Cuma yang saya sayangkan kenapa judulnya mesti dibuat bombastis seperti itu? Sementara kalau dilihat isinya tidak terlalu istimewa koq. Coba bayangkan, judulnya "Mudah Meraup Dolar di Internet", tapi isinya cuma tentang cara-cara membuat blog, mendaftar ke program-program seperti Google AdSense, Amazon, dll. Semudah itukah? Oo, tentu tidak! Cari duit di internet itu pedih, Jenderal!

Lalu ada pula buku yang berjudul "Berbisnis Lewat Internet dengan PayPal". Apa yang Anda bayangkan dari buku berjudul demikian? Jangan berharap terlalu banyak. Setelah dibaca ternyata isinya hanya definisi dan fungsi PayPal, langkah-langkah mendaftar di PayPal, penjelasan fitur-fitur PayPal, fungsi "Buy Now Button", "Add to Cart Button", dan button-button yang lain. Pembahasan mengenai bisnis internetnya mana? Anda patut kecewa karena hanya akan menjumpai beberapa halaman berisi penjelasan singkat (terlalu singkat bahkan) tentang eBay, program afiliasi, plus langkah-langkah mendaftar di eBay. Wow, hanya itukah yang dimaksud "berbisnis di internet"??? Nehi, nehi...

Sekali lagi saya tegaskan kalau saya pribadi menyambut gembira banyaknya penerbitan buku-buku bertema seperti itu. Cuma yang saya sayangkan kenapa judulnya mesti dibuat bombastis begitu? Okelah, judul bombastis tidak jadi masalah karena orang tidak akan mau membeli buku yang diberi judul menakutkan, seperti "Proses dan Perjuangan Berbisnis Online", "Beratnya Mencari Uang dengan Blog", atau "Kesabaran adalah Kunci Sukses di Google AdSense". Judul memang perlu dibuat sedemikian rupa agar menarik minat pembeli. Tapi kalau ternyata isinya jauh menyimpang dari judul dan hanya terkesan untuk "menjebak", kan kasihan pembaca? Akhirnya penerbitan buku-buku seperti ini jadi tidak jauh berbeda dengan praktek situs-situs penjual mimpi yang bertebaran di internet. Hanya modus oprerandinya saja yang berbeda, satunya online dan lainnya offline.

Harian Jawa Pos beberapa tahun lalu pernah membahas tentang maraknya penulis-penulis oportunis yang hanya memanfaatkan trend untuk kepentingan materi. Bagi saya mereka bukan benar-benar penulis, tapi hanya oknum yang "pandai" melihat peluang pasar. Mereka mengamati apa yang sedang booming dan paling dicari pembaca lantas menulis tentang hal tersebut tanpa pernah berkecimpung di dalamnya. Lebih parah lagi, terkadang isi bukunya juga cuma asal comot dari sana, sini, dan situ alias membajak posting blogger. Contohnya ya kasus yang menimpa Mas Cosa Aranda (dibajak Fajar Zebua) atau Mas Iman Brotoseno (dibajak Wang Xian Jun). Contoh lain, ada seorang penulis yang saya tahu persis memang "spesialis" mengangkat hal-hal yang sedang nge-trend. Yupz, saya bilang mereka itu hanyalah oportunis!

Bagaimana pendapat Anda?

Sore kemarin saya janjian ketemu dengan Ardy Pratama di Plaza Ambarrukmo, Jogja. Rencananya sih cuma mau membahas Tabloid Internet, khususnya mengenai rencana pendirian biro Jogja di mana saya sangat berminat sekali untuk turut terlibat. Namanya juga tidak pernah bertemu muka, obrolannya ya jadi tidak bisa fokus pada Tabloid Internet saja. Pokoknya apaaaa saja kami bicarakan. Waktu matahari sudah mulai tidak kelihatan, baru deh kami turun untuk pulang.

Belum sampai lantai dasar koq saya iseng pengen masuk toko buku Gramedia. Awalnya sih cuma pengen cuci mata, sambil mengamati buku apa saja yang jadi best seller saat ini. Hmmm, ternyata masih tetap seputar bisnis dan kewirausahaan (entrepreunership). Eits, tapi tunggu dulu! Ardy kemudian mengajak saya ke rak best seller lain. Dan, guess what? Isinya buku-buku tentang "cara mudah mencari duit di internet"! Wow, what a surprise! Coba lihat deh hasil jepretan saya kemarin:





Satu per satu kami 'intip' buku-buku yang dipajang di rak tersebut. Judulnya benar-benar menggiurkan. Beberapa di antaranya yang sempat saya catat adalah "Mudah Meraup Dolar di Internet", "Cari Duit Modal Dengkul Cara Blogger", "Langkah Mudah Meraup Dolar Lewat Internet", "30 Rahasia Cari Uang di Internet", dan termasuk juga buku yang dibuat dari hasil membajak posting beberapa blogger senior berjudul "Google AdSense: Mudah Meraih Dolar di Internet" 'karya' Fajar YS Zebua. Hmmm, saya dan Ardy jadi geleng-geleng kepala. Dan gelengan kepala kami jadi lebih kencang karena dari semua penulis buku itu tidak ada satupun yang kami kenal sebagai blogger!

Gejala apa ini? Tidak bisa dipungkiri lagi, booming blog dan make money blogging sedang melanda Indonesia. Di tengah susahnya mencari lahan pekerjaan seperti sekarang, orang butuh alternatif. Kalau dulu yang dilirik sebagai alternatif adalah ragam peluang wirausaha, maka sekarang mereka melirik blog dan make money blogging. Saya pribadi senang dengan banyaknya penerbitan buku-buku bertema seperti itu. Cuma yang saya sayangkan kenapa judulnya mesti dibuat bombastis seperti itu? Sementara kalau dilihat isinya tidak terlalu istimewa koq. Coba bayangkan, judulnya "Mudah Meraup Dolar di Internet", tapi isinya cuma tentang cara-cara membuat blog, mendaftar ke program-program seperti Google AdSense, Amazon, dll. Semudah itukah? Oo, tentu tidak! Cari duit di internet itu pedih, Jenderal!

Lalu ada pula buku yang berjudul "Berbisnis Lewat Internet dengan PayPal". Apa yang Anda bayangkan dari buku berjudul demikian? Jangan berharap terlalu banyak. Setelah dibaca ternyata isinya hanya definisi dan fungsi PayPal, langkah-langkah mendaftar di PayPal, penjelasan fitur-fitur PayPal, fungsi "Buy Now Button", "Add to Cart Button", dan button-button yang lain. Pembahasan mengenai bisnis internetnya mana? Anda patut kecewa karena hanya akan menjumpai beberapa halaman berisi penjelasan singkat (terlalu singkat bahkan) tentang eBay, program afiliasi, plus langkah-langkah mendaftar di eBay. Wow, hanya itukah yang dimaksud "berbisnis di internet"??? Nehi, nehi...

Sekali lagi saya tegaskan kalau saya pribadi menyambut gembira banyaknya penerbitan buku-buku bertema seperti itu. Cuma yang saya sayangkan kenapa judulnya mesti dibuat bombastis begitu? Okelah, judul bombastis tidak jadi masalah karena orang tidak akan mau membeli buku yang diberi judul menakutkan, seperti "Proses dan Perjuangan Berbisnis Online", "Beratnya Mencari Uang dengan Blog", atau "Kesabaran adalah Kunci Sukses di Google AdSense". Judul memang perlu dibuat sedemikian rupa agar menarik minat pembeli. Tapi kalau ternyata isinya jauh menyimpang dari judul dan hanya terkesan untuk "menjebak", kan kasihan pembaca? Akhirnya penerbitan buku-buku seperti ini jadi tidak jauh berbeda dengan praktek situs-situs penjual mimpi yang bertebaran di internet. Hanya modus oprerandinya saja yang berbeda, satunya online dan lainnya offline.

Harian Jawa Pos beberapa tahun lalu pernah membahas tentang maraknya penulis-penulis oportunis yang hanya memanfaatkan trend untuk kepentingan materi. Bagi saya mereka bukan benar-benar penulis, tapi hanya oknum yang "pandai" melihat peluang pasar. Mereka mengamati apa yang sedang booming dan paling dicari pembaca lantas menulis tentang hal tersebut tanpa pernah berkecimpung di dalamnya. Lebih parah lagi, terkadang isi bukunya juga cuma asal comot dari sana, sini, dan situ alias membajak posting blogger. Contohnya ya kasus yang menimpa Mas Cosa Aranda (dibajak Fajar Zebua) atau Mas Iman Brotoseno (dibajak Wang Xian Jun). Contoh lain, ada seorang penulis yang saya tahu persis memang "spesialis" mengangkat hal-hal yang sedang nge-trend. Yupz, saya bilang mereka itu hanyalah oportunis!

Bagaimana pendapat Anda?

02 Desember 2008

Mungkin karena lagi suntuk dan gairah sedang menurun, beberapa hari belakangan saya jadi sering mengunjungi YouTube. Biasa, cari-cari video menarik. Eits, jangan berpikiran macam-macam dulu ya. Yang saya cari video The Beatles koq. Itu lho, band legendaris yang sampai sekarang masih memiliki banyak penggemar setia di seluruh dunia. Band yang disebut-sebut sebagai revolusioner musik dan bahkan sempat pula menginspirasi grup kondang Indonesia, Koes Bersaudara aka Koes Plus.

Saya sudah dengar nama The Beatles sejak dahulu kala. Yah, sekitar umur-umuran SMP atau SMA gitu deh. Tapi hanya sebatas tahu nama saja. Suatu waktu pas saya beli CD lagu-lagu kenangan untuk Ibu tercinta ternyata ada 2 lagu The Beatles di CD tersebut, yakni "Hey Jude" dan "And I Love Her". Itulah pertama kali saya dengar lagu The Beatles. Ternyata koq lagunya enak juga ya? Kebetulan sekali beberapa waktu kemudian adik saya beli kaset "The Beatles 1" yang berisi lagu-lagu hits grup asal Liverpool itu. Sejak saat itu saya jadi makin kesengsem sama The Beatles.

Sebagaimana penggemar lainnya, selanjutnya saya rajin menghapal lagu-lagu The Beatles. Yang pertama kali saya hapal adalah "She Loves You". Lagu ini paling saya senangi karena dulu jadi penyemangat waktu lagi pedekate sama tunangan yang sekarang. Tiap kali merasa down dengan sikap si "target", langsung deh saya nyanyi "She Loves You" biar semangatnya naik lagi. Hehehe... Tapi dari album The Beatles 1 lagu yang paling saya sukai adalah "Penny Lane" sama "All You Need Is Love".

Nah, pas lagi buka YouTube langsung deh saya cari video-video The Beatles. Busyet, ternyata buanyaaaaak banget! Hmmm, jadi kesibukan baru nih. Cuma jeleknya di warnet langganan saya tidak ada flash, jadi ya saya tidak bisa langsung tahu mana video yang bagus atau abal-abal. Terpaksa deh saya download beberapa video sekaligus untuk satu lagu, tar di rumah baru disortir. Lumayan menguras energi juga. Tidak terasa, sampai sekarang sudah terkumpul lebih dari 30-an video. Mulai dari rekaman live show dan video klip hitam-putih ala film Charlie Chaplin, sampai video konser terakhir mereka yang menghebohkan di atas atap Apple Building di 3 Savile Row, London, pada 30 January 1969. Wah, ternyata masih banyak yang belum saya ketahui tentang The Beatles untuk dapat disebut sebagai Beatlemania.

Sebagai band legendaris dunia, saya yakin di Jogja ada komunitas penggemar The Beatles. Waktu saya cari di Google tersembul nama Beatles Jogja Community (BJC). Tapi penelusuran lebih lanjut tentang komunitas ini tidak membuahkan hasil. Tidak ada forum, tidak ada situs, dan juga tidak ada blog atas nama Beatles Jogja Community. So, siapakah di antara teman-teman pembaca yang juga penggemar The Beatles? Saya sedang mencari banyak informasi tentang John Lennon, dkk. plus komunitas penggemar The Beatles di Jogja nih! Tolong bantu saya ya? Terima kasih sebelumnya.

Mungkin karena lagi suntuk dan gairah sedang menurun, beberapa hari belakangan saya jadi sering mengunjungi YouTube. Biasa, cari-cari video menarik. Eits, jangan berpikiran macam-macam dulu ya. Yang saya cari video The Beatles koq. Itu lho, band legendaris yang sampai sekarang masih memiliki banyak penggemar setia di seluruh dunia. Band yang disebut-sebut sebagai revolusioner musik dan bahkan sempat pula menginspirasi grup kondang Indonesia, Koes Bersaudara aka Koes Plus.

Saya sudah dengar nama The Beatles sejak dahulu kala. Yah, sekitar umur-umuran SMP atau SMA gitu deh. Tapi hanya sebatas tahu nama saja. Suatu waktu pas saya beli CD lagu-lagu kenangan untuk Ibu tercinta ternyata ada 2 lagu The Beatles di CD tersebut, yakni "Hey Jude" dan "And I Love Her". Itulah pertama kali saya dengar lagu The Beatles. Ternyata koq lagunya enak juga ya? Kebetulan sekali beberapa waktu kemudian adik saya beli kaset "The Beatles 1" yang berisi lagu-lagu hits grup asal Liverpool itu. Sejak saat itu saya jadi makin kesengsem sama The Beatles.

Sebagaimana penggemar lainnya, selanjutnya saya rajin menghapal lagu-lagu The Beatles. Yang pertama kali saya hapal adalah "She Loves You". Lagu ini paling saya senangi karena dulu jadi penyemangat waktu lagi pedekate sama tunangan yang sekarang. Tiap kali merasa down dengan sikap si "target", langsung deh saya nyanyi "She Loves You" biar semangatnya naik lagi. Hehehe... Tapi dari album The Beatles 1 lagu yang paling saya sukai adalah "Penny Lane" sama "All You Need Is Love".

Nah, pas lagi buka YouTube langsung deh saya cari video-video The Beatles. Busyet, ternyata buanyaaaaak banget! Hmmm, jadi kesibukan baru nih. Cuma jeleknya di warnet langganan saya tidak ada flash, jadi ya saya tidak bisa langsung tahu mana video yang bagus atau abal-abal. Terpaksa deh saya download beberapa video sekaligus untuk satu lagu, tar di rumah baru disortir. Lumayan menguras energi juga. Tidak terasa, sampai sekarang sudah terkumpul lebih dari 30-an video. Mulai dari rekaman live show dan video klip hitam-putih ala film Charlie Chaplin, sampai video konser terakhir mereka yang menghebohkan di atas atap Apple Building di 3 Savile Row, London, pada 30 January 1969. Wah, ternyata masih banyak yang belum saya ketahui tentang The Beatles untuk dapat disebut sebagai Beatlemania.

Sebagai band legendaris dunia, saya yakin di Jogja ada komunitas penggemar The Beatles. Waktu saya cari di Google tersembul nama Beatles Jogja Community (BJC). Tapi penelusuran lebih lanjut tentang komunitas ini tidak membuahkan hasil. Tidak ada forum, tidak ada situs, dan juga tidak ada blog atas nama Beatles Jogja Community. So, siapakah di antara teman-teman pembaca yang juga penggemar The Beatles? Saya sedang mencari banyak informasi tentang John Lennon, dkk. plus komunitas penggemar The Beatles di Jogja nih! Tolong bantu saya ya? Terima kasih sebelumnya.

30 November 2008

Mungkin saya termasuk telat menulis tentang ini. Tapi bagaimanapun berita ini tetaplah berita hangat. Super hangat malah. Hehehe. Yap, seperti judul posting ini, di sini kita akan membahas tentang satu lagi situs yang menawarkan jasa paid review. Namanya BuyLinkPost.com. Yang luar biasa dari situs ini adalah: kreator sekaligus pemiliknya orang Indonesia! Kebetulan sekali saya kenal baik orangnya, yakni dr. Asri Tadda atau lebih dikenal sebagai Asta Qauliyah. Informasi tentang situs ini saya terima langsung darinya.

Kalau Cosa Aranda adalah pelopor paid review berbahasa Indonesia, maka dr. Asri Tadda memilih menembak pasar internasional dan bersaing dengan situs-situs paid review yang sudah lebih dulu ada. Keberaniannya bersaing dengan broker paid review mapan seperti ReviewMe, BuyBlogReview, SponsoredReviews, ataupun Blogsvertise patut diacungi jempol. Tidak cukup satu jempol, tapi dua jempol sekaligus! Ini tidak berlebihan koq. Tapi kita sebagai blogger Indonesia patutu ikut bangga dengan apa yang dilakukan dr. Asri Tadda.

Terus, kalau tentang BuyLinkPost sendiri bagaimana?

Sebagaimana situs paid review lain, di BuyLinkPost tugas Anda adalah menulis review tentang situs dan atau produk advertiser. Bedanya dengan situs paid review lain, job untuk Anda akan dikirimkan via email. Dan begitu job tersebut sudah dikerjakan, Anda mesti mengirimkan alamat URL review juga lewat email. Ini artinya, jangan coba-coba menggunakan Google Translate atau malah sekedar kopi-paste konten dari situs/blog lain. Kenapa? Karena semua review yang Anda buat akan direview kembali untuk memastikan kalau tata bahasa yang digunakan tidak asal-asalan.

Terlalu ketat? Kita bisa saja berkata begitu, tapi tentunya dr. Asri tadda punya alasan kenapa ia memberlakukan sistem seperti itu. Kalau yang saya baca di FAQ-nya sih, ia ingin memastikan kalau advertisernya puas dengan review yang dibuat. Masuk akal kan? Lagipula kita kan bisa meminta bantuan teman-teman content writer (seperti Nenad) untuk membuatkan review yang baik dan benar. Iya kan?

Berapa bayaran yang diberikan BuyLinkPost? Cukup tinggi. Kalau Anda punya blog dengan pagerank (PR) 3 ke atas, BuyLinkPost akan membayar $10/review. Kalau pagerank blog Anda hanya PR1 atau PR2, maka bayarannya $5/review. Lumayan, bukan? Selain itu Anda juga akan memperoleh kredit atau poin dari setiap review yang telah dibuat. Poin ini kemudian diakumulasikan sepanjang waktu. Semakin tinggi poin yang Anda kumpulkan, maka akan semakin banyak job yang akan Anda terima. Itu artinya, akan semakin banyak pula dolar yang bisa Anda peroleh. :))

Satu nilai lebih yang ditawarkan BuyLinkPost adalah sistem pembayaran yang cepat. Anda hanya perlu menunggu satu minggu setelah review disetujui admin. Tidak ada minimum payout. Berapapun komisi yang Anda peroleh akan dibayarkan satu minggu setelah review disetujui. Seperti umumnya situs paid review lain, BuyLinkPost juga menggunakan PayPal sebagai sarana pembayaran komisi. Belum punya akun PayPal? Silakan daftar di sini, GRATIS! *promosi mode on*

Nah, meskipun krisis global masih belum pulih, tapi ternyata kita sebagai blogger malah punya semakin banyak pilihan untuk mencari dolar. Iya kan?

Mungkin saya termasuk telat menulis tentang ini. Tapi bagaimanapun berita ini tetaplah berita hangat. Super hangat malah. Hehehe. Yap, seperti judul posting ini, di sini kita akan membahas tentang satu lagi situs yang menawarkan jasa paid review. Namanya BuyLinkPost.com. Yang luar biasa dari situs ini adalah: kreator sekaligus pemiliknya orang Indonesia! Kebetulan sekali saya kenal baik orangnya, yakni dr. Asri Tadda atau lebih dikenal sebagai Asta Qauliyah. Informasi tentang situs ini saya terima langsung darinya.

Kalau Cosa Aranda adalah pelopor paid review berbahasa Indonesia, maka dr. Asri Tadda memilih menembak pasar internasional dan bersaing dengan situs-situs paid review yang sudah lebih dulu ada. Keberaniannya bersaing dengan broker paid review mapan seperti ReviewMe, BuyBlogReview, SponsoredReviews, ataupun Blogsvertise patut diacungi jempol. Tidak cukup satu jempol, tapi dua jempol sekaligus! Ini tidak berlebihan koq. Tapi kita sebagai blogger Indonesia patutu ikut bangga dengan apa yang dilakukan dr. Asri Tadda.

Terus, kalau tentang BuyLinkPost sendiri bagaimana?

Sebagaimana situs paid review lain, di BuyLinkPost tugas Anda adalah menulis review tentang situs dan atau produk advertiser. Bedanya dengan situs paid review lain, job untuk Anda akan dikirimkan via email. Dan begitu job tersebut sudah dikerjakan, Anda mesti mengirimkan alamat URL review juga lewat email. Ini artinya, jangan coba-coba menggunakan Google Translate atau malah sekedar kopi-paste konten dari situs/blog lain. Kenapa? Karena semua review yang Anda buat akan direview kembali untuk memastikan kalau tata bahasa yang digunakan tidak asal-asalan.

Terlalu ketat? Kita bisa saja berkata begitu, tapi tentunya dr. Asri tadda punya alasan kenapa ia memberlakukan sistem seperti itu. Kalau yang saya baca di FAQ-nya sih, ia ingin memastikan kalau advertisernya puas dengan review yang dibuat. Masuk akal kan? Lagipula kita kan bisa meminta bantuan teman-teman content writer (seperti Nenad) untuk membuatkan review yang baik dan benar. Iya kan?

Berapa bayaran yang diberikan BuyLinkPost? Cukup tinggi. Kalau Anda punya blog dengan pagerank (PR) 3 ke atas, BuyLinkPost akan membayar $10/review. Kalau pagerank blog Anda hanya PR1 atau PR2, maka bayarannya $5/review. Lumayan, bukan? Selain itu Anda juga akan memperoleh kredit atau poin dari setiap review yang telah dibuat. Poin ini kemudian diakumulasikan sepanjang waktu. Semakin tinggi poin yang Anda kumpulkan, maka akan semakin banyak job yang akan Anda terima. Itu artinya, akan semakin banyak pula dolar yang bisa Anda peroleh. :))

Satu nilai lebih yang ditawarkan BuyLinkPost adalah sistem pembayaran yang cepat. Anda hanya perlu menunggu satu minggu setelah review disetujui admin. Tidak ada minimum payout. Berapapun komisi yang Anda peroleh akan dibayarkan satu minggu setelah review disetujui. Seperti umumnya situs paid review lain, BuyLinkPost juga menggunakan PayPal sebagai sarana pembayaran komisi. Belum punya akun PayPal? Silakan daftar di sini, GRATIS! *promosi mode on*

Nah, meskipun krisis global masih belum pulih, tapi ternyata kita sebagai blogger malah punya semakin banyak pilihan untuk mencari dolar. Iya kan?

28 November 2008

Sebagaimana saya ceritakan lewat Twitter beberapa hari lalu, kartu ATM saya sempat tertelan mesin ATM. Tertelannya hari Rabu (19/11), ketika terakhir kali saya ambil uang. Entah kenapa koq saya lupa menarik kembali kartu ATM tersebut sehingga akhirnya ditelan mesin. Beruntung sekali Rabu malam itu ATM BNI Syariah Jl. Kusumanegara sepi. Setelah saya tidak ada lagi yang menggunakan mesin itu sampai lebih dari 15-20 menit kemudian. Coba kalau ada yang menemukan kartu saya dalam keadaan aktif, bisa-bisa dikuras habis isi tabungan saya. :))

Nah, saya baru tahu kalau kartu ATM itu tertelan hari Sabtu (22/11). Waktu itu saya mau mengambil uang lagi karena sudah kehabisan dana segar. Maklum, sekali ambil paling cuma Rp 50 ribu, makanya cepat habis. Eh, begitu sampai di dalam bilik ATM saya kaget karena kartu ATM BNI tidak ada di dompet. Waduh, ke mana ya? Pikir saya waktu itu sambil kebingungan setengah mati. Ah, mungkin terselip di kamar kos! Duga saya untuk menenangkan diri. Sayapun langsung pulang ke kos.

Begitu sampai di kos, kamar langsung saya obrak-abrik. Tapi kartu tersayang itu tetap juga tidak ketemu. Saya jadi berpikir mungkin kartu itu tertelan mesin. Wah, panik mulai melanda. Saya takut kartu saya ditemukan orang terus duit saya dikuras habis. Untungnya pikiran sehat masih bisa mengendalikan emosi saya sehingga akhirnya timbul ide untuk menelpon customer service BNI dan menanyakan kartu tersebut. Begitu tersambung, hal pertama yang saya tanyakan adalah: "Kapan transaksi terakhir dan berapa nominalnya?" Beruntung sekali, CS BNI di seberang telpon menjawab kalau transaksi terakhir lewat mesin ATM tercatat tanggal 19 November 2008 sebesar Rp 50.000. Pffiuuuuh, leganya....

Untuk mengambil kembali kartu ATM tersebut, mau tidak mau saya mesti ke kantor cabang BNI di mana saya membuka rekening. Kebetulan dulu saya bukanya di kantor cabang Jl. Trikora, jadi bisa sekalian jalan-jalan ke Malioboro. :)) Eh, ternyata kejadiannya tidak seperti yang saya bayangkan. Karena mesti mampir dulu ke Kantor Pos Besar untuk mengirim buku pesanan yayang di Pemalang, saya masuk BNI pas jam istirahat. Setelah mengambil kartu di lantai dua, saya harus menunggu lamaaaaa sekali di lantai bawah ketika hendak membuka blokir kartu karena CSO-nya banyak yang keluar istirahat. Yah, dasar nasib! :((

Lebih dari setengah jam kemudian baru saya dapat giliran. Untungnya dapat CSO cewek. Kelihatannya sih sudah lumayan berumur, tapi masih menarik dipandang koq. Hehehe... Dari percakapan awal sudah langsung cair karena saya iseng menggoda Mbak CSO itu. Waktu dia tanya "enaknya dipanggil Pak atau Mas nih?", saya menjawab asal "panggil Om saja". Selanjutnya langsung deh mengurusi kartu ATM saya sambil ngobrol ke sana-sini. Entah kenapa koq kemudian Mbak CSO itu bertanya saya kerja di mana. Tidak mau repot saya jawab saja kalau saya masih kuliah. Eh, koq Mbak CSO-nya ngotot "tapi sudah nyambi kerja kan?" Dengan terpaksa sayapun menjawab "iya".

Seperti dugaan saya, kerepotan sekaligus kebingungan terjadi waktu dia bertanya saya kerja di mana. Pas saya jawab "tidak di mana-mana" Mbak CSO-nya bingung. Mungkin karena penasaran diapun memperbaiki pertanyaannya, jadi "kantornya di mana?". Saya ya jawab "tidak punya kantor". Selanjutnya semakin bingunglah saya harus bagaimana caranya menjelaskan pada si Mbak CSO apa kerjaan saya. Untungnya waktu saya bilang kalau saya cari duit di internet si Mbak CSO langsung manggut-manggut dan paham. Katanya sih sudah beberapa kali melayani pencairan cek dari orang-orang yang mengaku cari duit di internet. Entah iseng atau memang penasaran, si Mbak CSO tanya penghasilan. Nah, lho! Saya jawab dengan diplomatis, "Lumayanlah Mbak daripada nganggur". :))

Kebingungan kedua terjadi waktu saya berniat membuka BNI Tapenas, yakni tabungan khusus untuk biaya pendidikan. Produknya mirip asuransi pendidikan di mana kita mesti rajin dan rutin menyetor antara Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per bulan dalam jangka waktu tertentu. Minimal 2 tahun, dan paling lama 18 tahun. Kita boleh-boleh saja menarik dana sebelum rentang waktu tersebut, namun akan ada sejumlah biaya. Tabungan seperti ini memang sedang saya cari untuk persiapan biaya pendidikan anak-anak nanti. Meskipun anaknya belum ada tapi tidak ada salahnya kan mempersiapkan biaya pendidikannya lebih dulu?

Nah, waktu mengisi formulir pembukaan rekening BNI Tapenas ini saya kebingungan di kolom "Pekerjaan". Mau saya isi "Blogger" takut tidak diakui bank, mau diisi "Wiraswasta" koq kesannya sok sekali, mau diisi "Internet marketer" juga tidak pede. Waktu saya tanya pada si Mbak CSO, dianya juga ikut bingung. Ya sudah, dengan sedikit menahan geli saya tulis saja deskripsi pekerjaan saya sebagai "Jasa periklanan internet". Hahahaha....

Maaf, cuma sekedar intermezzo.

Sebagaimana saya ceritakan lewat Twitter beberapa hari lalu, kartu ATM saya sempat tertelan mesin ATM. Tertelannya hari Rabu (19/11), ketika terakhir kali saya ambil uang. Entah kenapa koq saya lupa menarik kembali kartu ATM tersebut sehingga akhirnya ditelan mesin. Beruntung sekali Rabu malam itu ATM BNI Syariah Jl. Kusumanegara sepi. Setelah saya tidak ada lagi yang menggunakan mesin itu sampai lebih dari 15-20 menit kemudian. Coba kalau ada yang menemukan kartu saya dalam keadaan aktif, bisa-bisa dikuras habis isi tabungan saya. :))

Nah, saya baru tahu kalau kartu ATM itu tertelan hari Sabtu (22/11). Waktu itu saya mau mengambil uang lagi karena sudah kehabisan dana segar. Maklum, sekali ambil paling cuma Rp 50 ribu, makanya cepat habis. Eh, begitu sampai di dalam bilik ATM saya kaget karena kartu ATM BNI tidak ada di dompet. Waduh, ke mana ya? Pikir saya waktu itu sambil kebingungan setengah mati. Ah, mungkin terselip di kamar kos! Duga saya untuk menenangkan diri. Sayapun langsung pulang ke kos.

Begitu sampai di kos, kamar langsung saya obrak-abrik. Tapi kartu tersayang itu tetap juga tidak ketemu. Saya jadi berpikir mungkin kartu itu tertelan mesin. Wah, panik mulai melanda. Saya takut kartu saya ditemukan orang terus duit saya dikuras habis. Untungnya pikiran sehat masih bisa mengendalikan emosi saya sehingga akhirnya timbul ide untuk menelpon customer service BNI dan menanyakan kartu tersebut. Begitu tersambung, hal pertama yang saya tanyakan adalah: "Kapan transaksi terakhir dan berapa nominalnya?" Beruntung sekali, CS BNI di seberang telpon menjawab kalau transaksi terakhir lewat mesin ATM tercatat tanggal 19 November 2008 sebesar Rp 50.000. Pffiuuuuh, leganya....

Untuk mengambil kembali kartu ATM tersebut, mau tidak mau saya mesti ke kantor cabang BNI di mana saya membuka rekening. Kebetulan dulu saya bukanya di kantor cabang Jl. Trikora, jadi bisa sekalian jalan-jalan ke Malioboro. :)) Eh, ternyata kejadiannya tidak seperti yang saya bayangkan. Karena mesti mampir dulu ke Kantor Pos Besar untuk mengirim buku pesanan yayang di Pemalang, saya masuk BNI pas jam istirahat. Setelah mengambil kartu di lantai dua, saya harus menunggu lamaaaaa sekali di lantai bawah ketika hendak membuka blokir kartu karena CSO-nya banyak yang keluar istirahat. Yah, dasar nasib! :((

Lebih dari setengah jam kemudian baru saya dapat giliran. Untungnya dapat CSO cewek. Kelihatannya sih sudah lumayan berumur, tapi masih menarik dipandang koq. Hehehe... Dari percakapan awal sudah langsung cair karena saya iseng menggoda Mbak CSO itu. Waktu dia tanya "enaknya dipanggil Pak atau Mas nih?", saya menjawab asal "panggil Om saja". Selanjutnya langsung deh mengurusi kartu ATM saya sambil ngobrol ke sana-sini. Entah kenapa koq kemudian Mbak CSO itu bertanya saya kerja di mana. Tidak mau repot saya jawab saja kalau saya masih kuliah. Eh, koq Mbak CSO-nya ngotot "tapi sudah nyambi kerja kan?" Dengan terpaksa sayapun menjawab "iya".

Seperti dugaan saya, kerepotan sekaligus kebingungan terjadi waktu dia bertanya saya kerja di mana. Pas saya jawab "tidak di mana-mana" Mbak CSO-nya bingung. Mungkin karena penasaran diapun memperbaiki pertanyaannya, jadi "kantornya di mana?". Saya ya jawab "tidak punya kantor". Selanjutnya semakin bingunglah saya harus bagaimana caranya menjelaskan pada si Mbak CSO apa kerjaan saya. Untungnya waktu saya bilang kalau saya cari duit di internet si Mbak CSO langsung manggut-manggut dan paham. Katanya sih sudah beberapa kali melayani pencairan cek dari orang-orang yang mengaku cari duit di internet. Entah iseng atau memang penasaran, si Mbak CSO tanya penghasilan. Nah, lho! Saya jawab dengan diplomatis, "Lumayanlah Mbak daripada nganggur". :))

Kebingungan kedua terjadi waktu saya berniat membuka BNI Tapenas, yakni tabungan khusus untuk biaya pendidikan. Produknya mirip asuransi pendidikan di mana kita mesti rajin dan rutin menyetor antara Rp 100 ribu sampai Rp 5 juta per bulan dalam jangka waktu tertentu. Minimal 2 tahun, dan paling lama 18 tahun. Kita boleh-boleh saja menarik dana sebelum rentang waktu tersebut, namun akan ada sejumlah biaya. Tabungan seperti ini memang sedang saya cari untuk persiapan biaya pendidikan anak-anak nanti. Meskipun anaknya belum ada tapi tidak ada salahnya kan mempersiapkan biaya pendidikannya lebih dulu?

Nah, waktu mengisi formulir pembukaan rekening BNI Tapenas ini saya kebingungan di kolom "Pekerjaan". Mau saya isi "Blogger" takut tidak diakui bank, mau diisi "Wiraswasta" koq kesannya sok sekali, mau diisi "Internet marketer" juga tidak pede. Waktu saya tanya pada si Mbak CSO, dianya juga ikut bingung. Ya sudah, dengan sedikit menahan geli saya tulis saja deskripsi pekerjaan saya sebagai "Jasa periklanan internet". Hahahaha....

Maaf, cuma sekedar intermezzo.

26 November 2008

Anda pengguna Twitter? Pernah dengar kalau dengan Twitter Anda bisa memperoleh uang tambahan? Tunggu dulu! Yang ingin saya bahas di sini bukan Twittad, yang menurut Mas Medhy memang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan meskipun tak sebesar program-program lain. Yang akan saya ceritakan di sini satu situs yang terhitung baru, dengan format periklanan yang juga terbilang baru. Malah sedikit nyeleneh kalau boleh saya berkomentar. :)

Situs yang saya maksud bernama Be a Magpie. "Convert your tweets into bling-bling", demikian slogan yang diusung situs ini. Dari slogan ini bisa ditangkap kalau Be a Magpie memanfaatkan tweet yang kita berikan pada follower. Jadi, berbeda dengan Twittad yang membayar sejumlah uang untuk memasang iklan di halaman profil Twitter Anda, Be a Magpie akan memberi sejumlah uang jika Anda mengijinkan situs ini mengirimi sejumlah pesan komersil pada follower Anda.

Pesan komersil dari Be a Magpie disesuaikan dengan keyword tertentu yang terkandung dalam tweet Anda. Hampir mirip dengan Google AdSense yang menyesuaikan isi iklan dengan kata kunci content blog/situs. Kemiripan yang lain lagi, advertiser juga mesti melalui proses lelang untuk dapat mengirimkan pesan komersil mereka. Pesan-pesan advertiser ini akan dikirim secara berkala, di mana Anda dapat menentukan sendiri rasionya. Standar rasio yang ditetapkan adalah 5:1, di mana setiap 5 tweet yang Anda kirimkan ke follower akan diselingi dengan 1 tweet komersil dari Be a Magpie. Semakin tinggi rasio yang Anda tentukan semakin besar pula bayaran yang akan Anda dapatkan.

Seara sederhana cara kerja Be a Magpie dapat dijelaskan begini. Pertama-tama tentu saja Anda harus mendaftar sebagai member Be a Magpie. Dengan mendaftarkan diri Anda berarti memberikan ijin pada Be a Magpie untuk mengirimkan pesan komersil pada follower Anda. Nah, setiap pesan komersil yang berhasil dikirim akan dikonversi menjadi sejumlah uang. Memang jumlahnya kecil alias recehan. Tapi kalau Anda punya banyak follower dan rajin melakukan tweet, rasanya hasilnya lumayanlah untuk tambah-tambah uang belanja. Hehehe...

Kalau ingin tahu seberapa banyak uang yang bisa Anda hasilkan setiap bulan dengan program ini, Be a magpie punya mesin penghitungnya. Tinggal masukkan username Twitter Anda dan biarkan Be a Magpie mengestimasi berapa uang yang dapat Anda hasilkan bersama mereka. Waktu saya iseng-iseng mencoba, ternyata hasilnya €3.75/bulan. Komisi dibayarkan melalui PayPal dalam mata uang euro (€) dengan minimal payout €50. Dengan jumlah follower yang saya miliki sekarang, minimal payout baru bisa saya capai lebih dari setahun lagi. :))

Anda tertarik? Nanti dulu! Satu hal yang mengganggu saya adalah masalah keamanan. Untuk dapat mengirimkan pesan komersil kepada follower kita, maka Be a Magpie akan meminta password Twitter kita. Hati-hati, meskipun mungkin Be a Magpie adalah sebuah perusahaan yang legal dan legitimate, kemungkinan terjadinya SCAM juga ada lho. Kalau itu terjadi berarti kita akan kehilangan account Twitter. Satu hal lagi, kalau follower tahu kita "memanfaatkan" mereka sebagai jalan mencari uang, saya rasa banyak yang berhenti jadi follower. Tidak jauh beda dengan seorang subsriber RSS feed saya yang berhenti berlangganan karena dia tidak mau menerima paid review yang saya tulis di blog ini.

Bagaimana menurut Anda? Silakan berbagi komentar...

Anda pengguna Twitter? Pernah dengar kalau dengan Twitter Anda bisa memperoleh uang tambahan? Tunggu dulu! Yang ingin saya bahas di sini bukan Twittad, yang menurut Mas Medhy memang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan meskipun tak sebesar program-program lain. Yang akan saya ceritakan di sini satu situs yang terhitung baru, dengan format periklanan yang juga terbilang baru. Malah sedikit nyeleneh kalau boleh saya berkomentar. :)

Situs yang saya maksud bernama Be a Magpie. "Convert your tweets into bling-bling", demikian slogan yang diusung situs ini. Dari slogan ini bisa ditangkap kalau Be a Magpie memanfaatkan tweet yang kita berikan pada follower. Jadi, berbeda dengan Twittad yang membayar sejumlah uang untuk memasang iklan di halaman profil Twitter Anda, Be a Magpie akan memberi sejumlah uang jika Anda mengijinkan situs ini mengirimi sejumlah pesan komersil pada follower Anda.

Pesan komersil dari Be a Magpie disesuaikan dengan keyword tertentu yang terkandung dalam tweet Anda. Hampir mirip dengan Google AdSense yang menyesuaikan isi iklan dengan kata kunci content blog/situs. Kemiripan yang lain lagi, advertiser juga mesti melalui proses lelang untuk dapat mengirimkan pesan komersil mereka. Pesan-pesan advertiser ini akan dikirim secara berkala, di mana Anda dapat menentukan sendiri rasionya. Standar rasio yang ditetapkan adalah 5:1, di mana setiap 5 tweet yang Anda kirimkan ke follower akan diselingi dengan 1 tweet komersil dari Be a Magpie. Semakin tinggi rasio yang Anda tentukan semakin besar pula bayaran yang akan Anda dapatkan.

Seara sederhana cara kerja Be a Magpie dapat dijelaskan begini. Pertama-tama tentu saja Anda harus mendaftar sebagai member Be a Magpie. Dengan mendaftarkan diri Anda berarti memberikan ijin pada Be a Magpie untuk mengirimkan pesan komersil pada follower Anda. Nah, setiap pesan komersil yang berhasil dikirim akan dikonversi menjadi sejumlah uang. Memang jumlahnya kecil alias recehan. Tapi kalau Anda punya banyak follower dan rajin melakukan tweet, rasanya hasilnya lumayanlah untuk tambah-tambah uang belanja. Hehehe...

Kalau ingin tahu seberapa banyak uang yang bisa Anda hasilkan setiap bulan dengan program ini, Be a magpie punya mesin penghitungnya. Tinggal masukkan username Twitter Anda dan biarkan Be a Magpie mengestimasi berapa uang yang dapat Anda hasilkan bersama mereka. Waktu saya iseng-iseng mencoba, ternyata hasilnya €3.75/bulan. Komisi dibayarkan melalui PayPal dalam mata uang euro (€) dengan minimal payout €50. Dengan jumlah follower yang saya miliki sekarang, minimal payout baru bisa saya capai lebih dari setahun lagi. :))

Anda tertarik? Nanti dulu! Satu hal yang mengganggu saya adalah masalah keamanan. Untuk dapat mengirimkan pesan komersil kepada follower kita, maka Be a Magpie akan meminta password Twitter kita. Hati-hati, meskipun mungkin Be a Magpie adalah sebuah perusahaan yang legal dan legitimate, kemungkinan terjadinya SCAM juga ada lho. Kalau itu terjadi berarti kita akan kehilangan account Twitter. Satu hal lagi, kalau follower tahu kita "memanfaatkan" mereka sebagai jalan mencari uang, saya rasa banyak yang berhenti jadi follower. Tidak jauh beda dengan seorang subsriber RSS feed saya yang berhenti berlangganan karena dia tidak mau menerima paid review yang saya tulis di blog ini.

Bagaimana menurut Anda? Silakan berbagi komentar...

24 November 2008

Waktu iseng-iseng blogwalking ke blog-blog berbahasa Inggris, saya temui satu blog milik orang India (alamat blognya lupa, asli!) yang menawarkan program bernama Link Show Off. Sudah ada yang tahu tentang situs satu ini? Kalau sudah tahu silakan langsung bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. Tapi kalau belum tahu mari kita pelajari sama-sama.

LinkShowOff.com adalah situs serupa Ask2Link, TLA, BackLinks ataupun TNX. Yap, ini adalah program text link ads. Jadi Anda akan dibayar untuk memajang iklan berupa teks link di blog. Untuk itu Link Show Off sudah menyediakan widget khusus seperti yang bisa dilihat di blog saya ini. Tepatnya di bawah banner KL yang bergambar Luna Maya. Di widget itulah link-link iklan advertiser bakal dipajang.

Bagaimana dengan bayarannya? Yang menarik, di Link Show Off Anda dapat menentukan sendiri berapa harga link-nya. Berapapun harga yang Anda inginkan boleh diajukan lho. Mau pasang harga $10/link/bulan boleh, mau $100/link/bulan juga boleh. Link Show Off hanya menentukan harga paling rendah yakni sebesar $1/bulan. Artinya Anda tidak boleh memberikan harga di bawah $1/link/bulan. So, tinggal pintar-pintar Anda deh menilai kualitas blog sendiri. Kalau merasa blog Anda pantas dihargai tinggi, beri saja harga setinggi-tingginya.

Pembayaran dilakukan melalui PayPal dengan minimum payout $10. Yang membuat lebih menarik lagi, sebagai broker Link Show Off hanya meminta share sebesar $3/payout. Jadi, setiap kali menerima pembayaran Anda akan dikenai potongan sebesar $3. Misalnya Anda memperoleh $15, maka jumlah bersih yang Anda terima adalah $12. Kalaupun Anda menghasilkan $100, potongannya tetap $3 juga. Bandingkan dengan TLA yang memberlakukan sistem bagi hasil fifty-fifty alias 50% dari pendapatan kita.

Satu hal lagi, Anda juga bebas menentukan ingin memajang berapa link dalam satu widget. Paling sedikit 5 link, dan paling banyak 20 link. Link advertiser akan terpasang selamanya di widget tersebut sampai ada link baru lagi yang masuk. Jadi, link paling baru akan secara otomatis berada di urutan paling atas di widget. Tapi meskipun terpasang selamanya, Anda tidak perlu khawatir akan kena penalti dari Google. Pasalnya semua iklan link di Link Show Off ber-tag nofollow. Kalau nofollow mau dipasang seumur hidup juga tidak masalah kan? :))

Ada program referalnya tidak? Tentu saja ada! Bila Anda mempromosikan Link Show Off pada member baru, maka Anda akan memperoleh bayaran sebesar $3 setiap referal Anda memperoleh $3 juga. Cukup menarik, bukan? Ayo gabung Link Show Off sekarang! Klik di sini bila Anda ingin menjadi referal saya! Tapi kalau Anda tidak mau jadi referal saya, silakan klik di sini! Cukup far kan? Hehehe...

Semoga bermanfaat.

Waktu iseng-iseng blogwalking ke blog-blog berbahasa Inggris, saya temui satu blog milik orang India (alamat blognya lupa, asli!) yang menawarkan program bernama Link Show Off. Sudah ada yang tahu tentang situs satu ini? Kalau sudah tahu silakan langsung bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. Tapi kalau belum tahu mari kita pelajari sama-sama.

LinkShowOff.com adalah situs serupa Ask2Link, TLA, BackLinks ataupun TNX. Yap, ini adalah program text link ads. Jadi Anda akan dibayar untuk memajang iklan berupa teks link di blog. Untuk itu Link Show Off sudah menyediakan widget khusus seperti yang bisa dilihat di blog saya ini. Tepatnya di bawah banner KL yang bergambar Luna Maya. Di widget itulah link-link iklan advertiser bakal dipajang.

Bagaimana dengan bayarannya? Yang menarik, di Link Show Off Anda dapat menentukan sendiri berapa harga link-nya. Berapapun harga yang Anda inginkan boleh diajukan lho. Mau pasang harga $10/link/bulan boleh, mau $100/link/bulan juga boleh. Link Show Off hanya menentukan harga paling rendah yakni sebesar $1/bulan. Artinya Anda tidak boleh memberikan harga di bawah $1/link/bulan. So, tinggal pintar-pintar Anda deh menilai kualitas blog sendiri. Kalau merasa blog Anda pantas dihargai tinggi, beri saja harga setinggi-tingginya.

Pembayaran dilakukan melalui PayPal dengan minimum payout $10. Yang membuat lebih menarik lagi, sebagai broker Link Show Off hanya meminta share sebesar $3/payout. Jadi, setiap kali menerima pembayaran Anda akan dikenai potongan sebesar $3. Misalnya Anda memperoleh $15, maka jumlah bersih yang Anda terima adalah $12. Kalaupun Anda menghasilkan $100, potongannya tetap $3 juga. Bandingkan dengan TLA yang memberlakukan sistem bagi hasil fifty-fifty alias 50% dari pendapatan kita.

Satu hal lagi, Anda juga bebas menentukan ingin memajang berapa link dalam satu widget. Paling sedikit 5 link, dan paling banyak 20 link. Link advertiser akan terpasang selamanya di widget tersebut sampai ada link baru lagi yang masuk. Jadi, link paling baru akan secara otomatis berada di urutan paling atas di widget. Tapi meskipun terpasang selamanya, Anda tidak perlu khawatir akan kena penalti dari Google. Pasalnya semua iklan link di Link Show Off ber-tag nofollow. Kalau nofollow mau dipasang seumur hidup juga tidak masalah kan? :))

Ada program referalnya tidak? Tentu saja ada! Bila Anda mempromosikan Link Show Off pada member baru, maka Anda akan memperoleh bayaran sebesar $3 setiap referal Anda memperoleh $3 juga. Cukup menarik, bukan? Ayo gabung Link Show Off sekarang! Klik di sini bila Anda ingin menjadi referal saya! Tapi kalau Anda tidak mau jadi referal saya, silakan klik di sini! Cukup far kan? Hehehe...

Semoga bermanfaat.

22 November 2008

Stevani Nepa, gadis semampai asal Manado, akhirnya keluar sebagai pemenang Miss Celebrity Indonesia 2008. Dalam acara grand final yang digelar di Balai Sarbini, Jakarta Pusat, Jumat (21/11) malam tadi, gadis manis yang akrab dipanggil Vani ini berhasil menyisihkan 25 finalis lain dari 11 daerah audisi. Atas kemenangannya ini Vani berhak atas hadiah utama berupa kontrak kerja senilai Rp 500 juta dari SCTV selaku penyelenggara acara yang baru pertama kali diadakan ini.

Selain menetapkan Stevani Nepa sebagai juara Miss Celebrity Indonesia 2008, dewan juri juga memberikan beberapa gelar lain bagi para finalis yang masuk babak 5 besar. Di antaranya gelar Miss Celebrity Fotogenic yang diraih W. Natasha Desiree asal Jakarta, Miss Celebrity Best Hair (Dian Puspa Rini, Bandung), Miss Celebrity Best Skin (Sandra Olga, Surabaya), Miss Celebrity Best Smile (Corry Restina Pamela, Jakarta), dan Miss Favorite (Defie Liriza, Kutai Kartanegara).

Kemeriahan malam grand final yang disiarkan langsung oleh SCTV ini dipandu Darius Sinathrya dan Hesti Purwadinata. Selain itu ada juga Teuku Wisnu dan Andhika Pratama yang juga merupakan pemandu acara Miss Celebrity in Action (MIA) yang ditayangkan SCTV sehari sebelumnya.

Kontes talent scouting ini sendiri bertujuan untuk mencari aktris sinetron, presenter program infotainment dan musik, sekaligus juga model SCTV. Berbeda dengan ajang-ajang beauty pageant, pemenang Miss Celebrity Indonesia akan langsung diberi kontrak kerja oleh SCTV. Karena itu selama masa karantina setiap peserta diuji kebolehannya dalam bidang akting, membawakan acara (presenter), dan modelling yang sesuai dengan format acara hiburan yang ditayangkan SCTV selama ini. SCTV selaku penyelenggara juga menggandeng beberapa rumah produksi terkemuka seperti MD Entertaintment, Shandika, Indigo, dan Frame Ritz. Nama-nama tersebut memang pemasok acara-acara hiburan di SCTV.

Sementara itu komposisi dewan juri yang ditampilkan pada grand final tadi malam terbilang sangat lengkap. Terdiri dari sutradara top sekelas Deddy Mizwar dan Hanung Bramantyo, lalu fotografer jempolan Darwis Triadi, para bintang dunia hiburan yang sudah tidak asing lagi (Tamara Bleszynski, Nadine Chandrawinata, dan Anjasmara), psikolog/pakar kecantikan Kassandra, dan juga produser papan atas seperti Manoj Punjabi dan Duto Sulitiadi.

Akhirnya, selamat untuk Stevani Nepa sebagai pemenang Miss Celebrity Indonesia 2008! Selamat datang di dunia hiburan tanah air!

Catatan: Foto diambil dari Kompas.com

Stevani Nepa, gadis semampai asal Manado, akhirnya keluar sebagai pemenang Miss Celebrity Indonesia 2008. Dalam acara grand final yang digelar di Balai Sarbini, Jakarta Pusat, Jumat (21/11) malam tadi, gadis manis yang akrab dipanggil Vani ini berhasil menyisihkan 25 finalis lain dari 11 daerah audisi. Atas kemenangannya ini Vani berhak atas hadiah utama berupa kontrak kerja senilai Rp 500 juta dari SCTV selaku penyelenggara acara yang baru pertama kali diadakan ini.

Selain menetapkan Stevani Nepa sebagai juara Miss Celebrity Indonesia 2008, dewan juri juga memberikan beberapa gelar lain bagi para finalis yang masuk babak 5 besar. Di antaranya gelar Miss Celebrity Fotogenic yang diraih W. Natasha Desiree asal Jakarta, Miss Celebrity Best Hair (Dian Puspa Rini, Bandung), Miss Celebrity Best Skin (Sandra Olga, Surabaya), Miss Celebrity Best Smile (Corry Restina Pamela, Jakarta), dan Miss Favorite (Defie Liriza, Kutai Kartanegara).

Kemeriahan malam grand final yang disiarkan langsung oleh SCTV ini dipandu Darius Sinathrya dan Hesti Purwadinata. Selain itu ada juga Teuku Wisnu dan Andhika Pratama yang juga merupakan pemandu acara Miss Celebrity in Action (MIA) yang ditayangkan SCTV sehari sebelumnya.

Kontes talent scouting ini sendiri bertujuan untuk mencari aktris sinetron, presenter program infotainment dan musik, sekaligus juga model SCTV. Berbeda dengan ajang-ajang beauty pageant, pemenang Miss Celebrity Indonesia akan langsung diberi kontrak kerja oleh SCTV. Karena itu selama masa karantina setiap peserta diuji kebolehannya dalam bidang akting, membawakan acara (presenter), dan modelling yang sesuai dengan format acara hiburan yang ditayangkan SCTV selama ini. SCTV selaku penyelenggara juga menggandeng beberapa rumah produksi terkemuka seperti MD Entertaintment, Shandika, Indigo, dan Frame Ritz. Nama-nama tersebut memang pemasok acara-acara hiburan di SCTV.

Sementara itu komposisi dewan juri yang ditampilkan pada grand final tadi malam terbilang sangat lengkap. Terdiri dari sutradara top sekelas Deddy Mizwar dan Hanung Bramantyo, lalu fotografer jempolan Darwis Triadi, para bintang dunia hiburan yang sudah tidak asing lagi (Tamara Bleszynski, Nadine Chandrawinata, dan Anjasmara), psikolog/pakar kecantikan Kassandra, dan juga produser papan atas seperti Manoj Punjabi dan Duto Sulitiadi.

Akhirnya, selamat untuk Stevani Nepa sebagai pemenang Miss Celebrity Indonesia 2008! Selamat datang di dunia hiburan tanah air!

Catatan: Foto diambil dari Kompas.com

21 November 2008

Suatu saat Bro Mymoen sms saya dan bertanya tentang cara mencairkan cek Google AdSense. Walah, saya jadi tertawa geli membaca sms itu. Kenapa saya sampai tertawa geli? Karena saya masih termasuk kategori super duper newbie di Google AdSense. Bukankah saya pernah cerita kalau hanya bisa menghasilkan $20 lebih sedikit selama 6 bulan bergabung Google AdSense? Boro-boro mencairkan cek, dapat cek pertama dari Google saja masih merupakan mimpi besar bagi saya. :D

Program pay per click (PPC) memang masih belum dapat saya kuasai dengan baik. Padahal waktu mulai membuat blog dulu PPC adalah program yang pertama kali saya jalankan. Mulai dari Google AdSense (yang jadi motivasi awal saya membuat blog), Bidvertiser, sampai kemudian AdBrite, dan setelah itu menyusul PPC lokal seperti KlikSaya dan KumpulBlogger. Dari semua program tersebut, baru KlikSaya yang sampai saat ini memberikan 'hasil nyata'. Ya, bulan kemarin akhirnya saya terima kiriman sebesar Rp 60.000 sebagai penghasilan pertama dari KlikSaya sekaligus merupakan penghasilan pertama saya dari program PPC. Hmmm....

Nah, berkaca dari kelemahan tersebut saya lantas berkelana ke seluruh penjuru dunia internet untuk belajar PPC. Saya mencari blog atau situs yang dapat saya jadikan tempat untuk mempelajari program PPC lebih dalam lagi. Blognya Cosa Aranda yang dulu jadi jujugan saya setiap kali online langsung diobrak-abrik lagi. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mencari-cari artikel-artikel lamanya yang banyak mengupas tentang Google AdSense. Masih belum puas saya melanjutkan pencarian dengan memanfaatkan bantuan Mbah Google. Di tengah pencarian tersebut saya kemudian menemukan satu blog yang tampaknya cukup concern mengupas tentang PPC. Namanya KlikCPA.com, blog milik Mas Jerry yang juga seorang master affiliate.

Dari nama domainnya saja kita bisa tahu blog tersebut mengulas seputar program-program affiliasi. Kalau saya tidak salah, CPA adalah singkatan dari Click Per Action. Yakni salah satu jenis program afiliasi yang membayar member affiliate-nya untuk setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang datang melalui link afiliasi member tersebut. Tindakan tersebut bisa berupa mengisi formulir, memberikan data-data tertentu, atau men-download produk yang disediakan advertiser. Hampir mirip-mirip sedikitlah dengan Click Per Lead (CPL). Kurang lebih seperti itulah yang saya pahami tentang CPA. Kalau keliru mohon dikoreksi ya?

Meski namanya Klik CPA, namun di blog ini kita juga bisa belajar banyak tentang PPC. Artikel-artikel tentang PPC dapat ditemukan di bawah kategori "Belajar PPC". Hmmm, tanpa tunggu lebih lama lagi sayapun langsung membongkar-bongkar kategori ini. Tidak sia-sia, dari sini saya memperoleh dua artikel menarik mengenai Google Trend dan bagaimana kita bisa memperoleh penghasilan dari fasilitas gratis yang diberikan oleh Google ini. Anda penasaran bagaimana caranya? Saya sebenarnya ingin sekali memberi bocoran, tapi takut malah jadi tidak jelas karena masih belum begitu paham soal ini. Jadi lebih baik Anda baca sendiri ulasannya di sini (bagian 1) dan di sini (bagian 2).

Karena dunia PPC sangat berkaitan erat dengan kata kunci alias keyword, KlikCPA.com juga memberikan satu topik khusus mengenai hal ini dalam kategori "Kata Kunci". Di sini kita dapat mempelajari bagaimana memilih keyword yang bagus dan bagaimana mengoptimalkan penghasilan dari setiap klik yang diperoleh dari kata kunci tersebut. Tidak itu saja, blog ini juga menyediakan kategori lain yang dinamai "Alat Bantu" untuk melengkapi pengetahun Anda seputar alat-alat bantu yang sebaiknya dipergunakan untuk meningkatkan penghasilan. Masih kurang? Kalau begitu kunjungi halaman ini. Ada paket bonus plugin senilai $147 lebih yang dapat Anda peroleh gratis hanya dengan satu syarat mudah.

Walah, tidak terasa sudah paragraf ketujuh! Sebenarnya masih banyak lagi yang mau saya sampaikan seputar pengalaman mencari tempat belajar PPC, utamanya lagi mengenai KlikCPA.com. Tapi sepertinya sudah terlalu panjang nih. Jadi, kalau Anda ingin tahu lebih banyak lagi mengenai apa-apa yang dibahas di KlikCPA.com, kunjungi sendiri saja blognya! Hehehe...

Suatu saat Bro Mymoen sms saya dan bertanya tentang cara mencairkan cek Google AdSense. Walah, saya jadi tertawa geli membaca sms itu. Kenapa saya sampai tertawa geli? Karena saya masih termasuk kategori super duper newbie di Google AdSense. Bukankah saya pernah cerita kalau hanya bisa menghasilkan $20 lebih sedikit selama 6 bulan bergabung Google AdSense? Boro-boro mencairkan cek, dapat cek pertama dari Google saja masih merupakan mimpi besar bagi saya. :D

Program pay per click (PPC) memang masih belum dapat saya kuasai dengan baik. Padahal waktu mulai membuat blog dulu PPC adalah program yang pertama kali saya jalankan. Mulai dari Google AdSense (yang jadi motivasi awal saya membuat blog), Bidvertiser, sampai kemudian AdBrite, dan setelah itu menyusul PPC lokal seperti KlikSaya dan KumpulBlogger. Dari semua program tersebut, baru KlikSaya yang sampai saat ini memberikan 'hasil nyata'. Ya, bulan kemarin akhirnya saya terima kiriman sebesar Rp 60.000 sebagai penghasilan pertama dari KlikSaya sekaligus merupakan penghasilan pertama saya dari program PPC. Hmmm....

Nah, berkaca dari kelemahan tersebut saya lantas berkelana ke seluruh penjuru dunia internet untuk belajar PPC. Saya mencari blog atau situs yang dapat saya jadikan tempat untuk mempelajari program PPC lebih dalam lagi. Blognya Cosa Aranda yang dulu jadi jujugan saya setiap kali online langsung diobrak-abrik lagi. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk mencari-cari artikel-artikel lamanya yang banyak mengupas tentang Google AdSense. Masih belum puas saya melanjutkan pencarian dengan memanfaatkan bantuan Mbah Google. Di tengah pencarian tersebut saya kemudian menemukan satu blog yang tampaknya cukup concern mengupas tentang PPC. Namanya KlikCPA.com, blog milik Mas Jerry yang juga seorang master affiliate.

Dari nama domainnya saja kita bisa tahu blog tersebut mengulas seputar program-program affiliasi. Kalau saya tidak salah, CPA adalah singkatan dari Click Per Action. Yakni salah satu jenis program afiliasi yang membayar member affiliate-nya untuk setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang datang melalui link afiliasi member tersebut. Tindakan tersebut bisa berupa mengisi formulir, memberikan data-data tertentu, atau men-download produk yang disediakan advertiser. Hampir mirip-mirip sedikitlah dengan Click Per Lead (CPL). Kurang lebih seperti itulah yang saya pahami tentang CPA. Kalau keliru mohon dikoreksi ya?

Meski namanya Klik CPA, namun di blog ini kita juga bisa belajar banyak tentang PPC. Artikel-artikel tentang PPC dapat ditemukan di bawah kategori "Belajar PPC". Hmmm, tanpa tunggu lebih lama lagi sayapun langsung membongkar-bongkar kategori ini. Tidak sia-sia, dari sini saya memperoleh dua artikel menarik mengenai Google Trend dan bagaimana kita bisa memperoleh penghasilan dari fasilitas gratis yang diberikan oleh Google ini. Anda penasaran bagaimana caranya? Saya sebenarnya ingin sekali memberi bocoran, tapi takut malah jadi tidak jelas karena masih belum begitu paham soal ini. Jadi lebih baik Anda baca sendiri ulasannya di sini (bagian 1) dan di sini (bagian 2).

Karena dunia PPC sangat berkaitan erat dengan kata kunci alias keyword, KlikCPA.com juga memberikan satu topik khusus mengenai hal ini dalam kategori "Kata Kunci". Di sini kita dapat mempelajari bagaimana memilih keyword yang bagus dan bagaimana mengoptimalkan penghasilan dari setiap klik yang diperoleh dari kata kunci tersebut. Tidak itu saja, blog ini juga menyediakan kategori lain yang dinamai "Alat Bantu" untuk melengkapi pengetahun Anda seputar alat-alat bantu yang sebaiknya dipergunakan untuk meningkatkan penghasilan. Masih kurang? Kalau begitu kunjungi halaman ini. Ada paket bonus plugin senilai $147 lebih yang dapat Anda peroleh gratis hanya dengan satu syarat mudah.

Walah, tidak terasa sudah paragraf ketujuh! Sebenarnya masih banyak lagi yang mau saya sampaikan seputar pengalaman mencari tempat belajar PPC, utamanya lagi mengenai KlikCPA.com. Tapi sepertinya sudah terlalu panjang nih. Jadi, kalau Anda ingin tahu lebih banyak lagi mengenai apa-apa yang dibahas di KlikCPA.com, kunjungi sendiri saja blognya! Hehehe...

19 November 2008

Judulnya koq agak gimanaaa gitu ya? Hehehe... Tapi Anda yang biasa main di SponsoredReviews tentunya juga mengalami seperti apa yang akan saya tuangkan berikut ini. Jangan protes dulu lalu bilang "Ah, semua kan memang terkena imbas krisis!". Apa yang akan saya sampaikan adalah tentang sebuah "perubahan kecil" yang dilakukan oleh SponsoredReviews, salah satu broker paid review andalan saya. Bukan cuma perubahan lay out atau tampilan situs, namun berhubungan dengan sistem bidding.

Anda mulai penasaran apa yang saya maksud? Oke, let's get it started!

Kalau Anda perhatikan, ada satu perubahan mendasar yang dibuat SponsoredReviews di halaman bidding. Apa itu? Cara advertiser menentukan harga review. Entah sejak kapan perubahan itu terjadi, namun cara penentuan harga sudah berubah. Bila sebelumnya harga paling kecil adalah $5/review dan kita dapat bersih $3.25, maka sekarang tidak ada lagi harga minimal itu. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan gambar-gambar berikut ini.



Anta tahu bedanya? Ya, sangat jelas sekali! Dulu, setiap opportunity dihargai minimal $5. Kalau advertiser tidak mau membayar lebih dari $5, maka range harganya akan tertulis $5 - $5 atau keterangan yang tertulis "This advertiser is accepting bids between $5 - $5". Kalau advertiser memberikan harga antara $5 sampai dengan $50, maka yang tertulis adalah $5 - $50. Artinya, berapapun batas atas yang ditentukan oleh advertiser kita sebagai blogger dapat mengantongi setidaknya $3.25/review dari harga minimal yang diberikan ($5).

Sekarang? Hal ini telah berubah. Lihat saja bagaimana cara SponsoredReviews memberikan keterangan tentang harga yang boleh kita ajukan. Jika misalnya advertiser tidak mau membayar lebih dari $5, maka kalimatnya sekarang tertulis "This advertiser is accepting bids up to $5". Anda paham maksudnya? Tahu bedanya dengan sistem yang terdahulu? Kalau Anda belum paham apa bedanya, ketahuilah bahwa dengan sistem yang sekarang Anda "dipaksa" untuk mengajukan harga serendah-rendahnya agar dapat memperoleh job. Dulu, serendah-rendahnya harga sebuah review tidak akan pernah kurang dari $5. Sekarang Anda bahkan bisa mengajukan tawaran ke advertiser dengan nilai $0.5/review atau bahkan lebih rendah lagi.

Well, jujur harus saya katakan bahwa sistem bidding yang sekarang lebih menguntungkan advertiser. Namun saya bisa maklum koq. Bukannya sekarang Amerika Serikat sedang dihantam krisis hebat? Jadi tidak mengherankan kalau banyak perusahaan (termasuk pebisnis online) memangkas banyak biaya supaya dapat tetap eksis, salah satunya adalah dengan mengurangi biaya promosi. SponsoredReviews sebagai agen promosi online tampaknya membaca gejala ini, dan situs ini tidak mau kehilangan sumber income. Tahu bahwa advertiser-lah yang membuat bisnisnya terus berjalan, SponsoredReviews kemudian membuat perubahan yang sangat menguntungkan advertiser.

Bagaimana kita harus menyikapi hal ini? Terserah Anda. Yang jelas kita harus pintar-pintar melihat budget advertiser. Kalau advertiser hanya mau membayar tak lebih dari $5, Anda harus rela mengajukan tawaran lebih rendah dari itu agar dapat terus memperoleh job. Dan bersiap-siaplah. Suatu saat kita mungkin baru dapat menerima job review setelah menawar seharga $1 atau bahkan lebih rendah lagi! Wow..!

Perubahan ini membuat rencana saya untuk merevisi ebook SponsoredReviews jadi semakin bulat. Oya, kontes testimoni dan tips yang saya adakan dalam rangka persiapan revisi ebook tersebut juga masih berlaku lho. Ikutan ya?


Judulnya koq agak gimanaaa gitu ya? Hehehe... Tapi Anda yang biasa main di SponsoredReviews tentunya juga mengalami seperti apa yang akan saya tuangkan berikut ini. Jangan protes dulu lalu bilang "Ah, semua kan memang terkena imbas krisis!". Apa yang akan saya sampaikan adalah tentang sebuah "perubahan kecil" yang dilakukan oleh SponsoredReviews, salah satu broker paid review andalan saya. Bukan cuma perubahan lay out atau tampilan situs, namun berhubungan dengan sistem bidding.

Anda mulai penasaran apa yang saya maksud? Oke, let's get it started!

Kalau Anda perhatikan, ada satu perubahan mendasar yang dibuat SponsoredReviews di halaman bidding. Apa itu? Cara advertiser menentukan harga review. Entah sejak kapan perubahan itu terjadi, namun cara penentuan harga sudah berubah. Bila sebelumnya harga paling kecil adalah $5/review dan kita dapat bersih $3.25, maka sekarang tidak ada lagi harga minimal itu. Untuk lebih jelasnya, coba Anda perhatikan gambar-gambar berikut ini.



Anta tahu bedanya? Ya, sangat jelas sekali! Dulu, setiap opportunity dihargai minimal $5. Kalau advertiser tidak mau membayar lebih dari $5, maka range harganya akan tertulis $5 - $5 atau keterangan yang tertulis "This advertiser is accepting bids between $5 - $5". Kalau advertiser memberikan harga antara $5 sampai dengan $50, maka yang tertulis adalah $5 - $50. Artinya, berapapun batas atas yang ditentukan oleh advertiser kita sebagai blogger dapat mengantongi setidaknya $3.25/review dari harga minimal yang diberikan ($5).

Sekarang? Hal ini telah berubah. Lihat saja bagaimana cara SponsoredReviews memberikan keterangan tentang harga yang boleh kita ajukan. Jika misalnya advertiser tidak mau membayar lebih dari $5, maka kalimatnya sekarang tertulis "This advertiser is accepting bids up to $5". Anda paham maksudnya? Tahu bedanya dengan sistem yang terdahulu? Kalau Anda belum paham apa bedanya, ketahuilah bahwa dengan sistem yang sekarang Anda "dipaksa" untuk mengajukan harga serendah-rendahnya agar dapat memperoleh job. Dulu, serendah-rendahnya harga sebuah review tidak akan pernah kurang dari $5. Sekarang Anda bahkan bisa mengajukan tawaran ke advertiser dengan nilai $0.5/review atau bahkan lebih rendah lagi.

Well, jujur harus saya katakan bahwa sistem bidding yang sekarang lebih menguntungkan advertiser. Namun saya bisa maklum koq. Bukannya sekarang Amerika Serikat sedang dihantam krisis hebat? Jadi tidak mengherankan kalau banyak perusahaan (termasuk pebisnis online) memangkas banyak biaya supaya dapat tetap eksis, salah satunya adalah dengan mengurangi biaya promosi. SponsoredReviews sebagai agen promosi online tampaknya membaca gejala ini, dan situs ini tidak mau kehilangan sumber income. Tahu bahwa advertiser-lah yang membuat bisnisnya terus berjalan, SponsoredReviews kemudian membuat perubahan yang sangat menguntungkan advertiser.

Bagaimana kita harus menyikapi hal ini? Terserah Anda. Yang jelas kita harus pintar-pintar melihat budget advertiser. Kalau advertiser hanya mau membayar tak lebih dari $5, Anda harus rela mengajukan tawaran lebih rendah dari itu agar dapat terus memperoleh job. Dan bersiap-siaplah. Suatu saat kita mungkin baru dapat menerima job review setelah menawar seharga $1 atau bahkan lebih rendah lagi! Wow..!

Perubahan ini membuat rencana saya untuk merevisi ebook SponsoredReviews jadi semakin bulat. Oya, kontes testimoni dan tips yang saya adakan dalam rangka persiapan revisi ebook tersebut juga masih berlaku lho. Ikutan ya?


15 November 2008

Saya keliru ketika kemarin mengatakan “tidak mungkin balik lagi ke akun Personal”. Mas Jerry langsung mengkoreksi perkataan saya di kolom komentar. Dan ternyata kita bisa koq melakukan downgrade alias balik lagi ke jenis akun sebelumnya. Dalam kasus ini dari akun Premier atau Business ke Personal. Caranya? Gampang sekali. Cukup masuk ke halaman Help dan kontak customer service atau bagian support PayPal dan bilang kalau kita berniat downgrade.

Hanya saja, seperti saya bilang di posting sebelumnya, kalau Anda memang serius ingin mencari duit di internet rasanya tidak perlu melakukan downgrade. Kenapa? Menggunakan akun Premier PayPal boleh dibilang merupakan syarat untuk serius dalam make money blogging/online money making. Anda tanya kenapa lagi? Ada banyak alasan, dan yang jelas dengan menggunakan akun Personal akan membuat Anda menerima banyak pembatasan (limitation/limit). Contohnya?

Dengan akun Personal, Anda akan dibatasi untuk menerima pembayaran dari kartu kredit/debit, baik jumlah pembayarannya maupun jumlah total uang yang dibayarkan. Ini tentu akan sangat merepotkan jika Anda berniat menjual sesuatu baik di blog, situs ataupun melalui eBay. Jika akun Personal Anda menerima pembayaran dari kartu kredit/debit, maka PayPal memberikan beberapa opsi:

(1) Menerima pembayaran dan dikenai sejumlah fee. Besar fee dapat dilihat dengan mengklik link “Fee” di bagian footer setiap halaman PayPal.
(2) Menerima pembayaran tersebut sekaligus meng-upgrade akun menjadi Premier atau Business.
(3) Menolak Pembayaran tersebut.

Tidak itu saja. Anda juga akan dikenai batasan dalam menerima segala jenis pembayaran dari eBay atau tombol-tombol pembayaran PayPal seperti tombol “buy now”, PayPal shopping chart, maupun subscription payment. PayPal bahkan memberlakukan pembatasan transaksi dengan limit sebesar $500 untuk pemegang akun di Amerika Serikat, Kanada, dan Britania Raya (Inggris, Wales, Skotlandia). Saya belum tahu apakah pembatasan ini juga berlaku untuk pemegang akun PayPal di luar ketiga kawasan tersebut. Kalau ada yang sudah tahu tolong bagi-bagi informasinya ya?

Satu hal penting yang harus dicatat adalah, Anda hanya dapat melakukan downgrade sekali saja selama menjadi member PayPal. Bila kemudian Anda meng- upgrade akun lagi setelah melakukan downgrade, maka akun Anda tidak dapat di-downgrade lagi. Bingung? Coba saya buat mudah.

Contohnya saya saja. Dulu saat pertama kali mendaftar saya memilih akun Personal. Namun karena iseng lantas saya upgrade menjadi Premier. Nah, misalnya saya melakukan downgrade dan balik lagi ke akun Personal, PayPal akan mengijinkannya. Namun ketika suatu saat saya berubah pikiran dan meng-upgrade akun saya menjadi Premier kembali, maka saya tidak akan bisa lagi melakukan downgrade (balik lagi menggunakan akun Personal) selamanya. Artinya, saya hanya bisa meng-upgrade ke akun Business atau tetap memakai akun Premier seterusnya.

Bagaimana? Anda yang pernah berniat men-downgrade akun Premier menjadi Personal seperti saya sepertinya harus pikir-pikir panjang lagi deh. Utamanya bila Anda ingin serius mencari duit di internet dengan berjualan produk.

Itu saja. Semoga bermanfaat!.

Saya keliru ketika kemarin mengatakan “tidak mungkin balik lagi ke akun Personal”. Mas Jerry langsung mengkoreksi perkataan saya di kolom komentar. Dan ternyata kita bisa koq melakukan downgrade alias balik lagi ke jenis akun sebelumnya. Dalam kasus ini dari akun Premier atau Business ke Personal. Caranya? Gampang sekali. Cukup masuk ke halaman Help dan kontak customer service atau bagian support PayPal dan bilang kalau kita berniat downgrade.

Hanya saja, seperti saya bilang di posting sebelumnya, kalau Anda memang serius ingin mencari duit di internet rasanya tidak perlu melakukan downgrade. Kenapa? Menggunakan akun Premier PayPal boleh dibilang merupakan syarat untuk serius dalam make money blogging/online money making. Anda tanya kenapa lagi? Ada banyak alasan, dan yang jelas dengan menggunakan akun Personal akan membuat Anda menerima banyak pembatasan (limitation/limit). Contohnya?

Dengan akun Personal, Anda akan dibatasi untuk menerima pembayaran dari kartu kredit/debit, baik jumlah pembayarannya maupun jumlah total uang yang dibayarkan. Ini tentu akan sangat merepotkan jika Anda berniat menjual sesuatu baik di blog, situs ataupun melalui eBay. Jika akun Personal Anda menerima pembayaran dari kartu kredit/debit, maka PayPal memberikan beberapa opsi:

(1) Menerima pembayaran dan dikenai sejumlah fee. Besar fee dapat dilihat dengan mengklik link “Fee” di bagian footer setiap halaman PayPal.
(2) Menerima pembayaran tersebut sekaligus meng-upgrade akun menjadi Premier atau Business.
(3) Menolak Pembayaran tersebut.

Tidak itu saja. Anda juga akan dikenai batasan dalam menerima segala jenis pembayaran dari eBay atau tombol-tombol pembayaran PayPal seperti tombol “buy now”, PayPal shopping chart, maupun subscription payment. PayPal bahkan memberlakukan pembatasan transaksi dengan limit sebesar $500 untuk pemegang akun di Amerika Serikat, Kanada, dan Britania Raya (Inggris, Wales, Skotlandia). Saya belum tahu apakah pembatasan ini juga berlaku untuk pemegang akun PayPal di luar ketiga kawasan tersebut. Kalau ada yang sudah tahu tolong bagi-bagi informasinya ya?

Satu hal penting yang harus dicatat adalah, Anda hanya dapat melakukan downgrade sekali saja selama menjadi member PayPal. Bila kemudian Anda meng- upgrade akun lagi setelah melakukan downgrade, maka akun Anda tidak dapat di-downgrade lagi. Bingung? Coba saya buat mudah.

Contohnya saya saja. Dulu saat pertama kali mendaftar saya memilih akun Personal. Namun karena iseng lantas saya upgrade menjadi Premier. Nah, misalnya saya melakukan downgrade dan balik lagi ke akun Personal, PayPal akan mengijinkannya. Namun ketika suatu saat saya berubah pikiran dan meng-upgrade akun saya menjadi Premier kembali, maka saya tidak akan bisa lagi melakukan downgrade (balik lagi menggunakan akun Personal) selamanya. Artinya, saya hanya bisa meng-upgrade ke akun Business atau tetap memakai akun Premier seterusnya.

Bagaimana? Anda yang pernah berniat men-downgrade akun Premier menjadi Personal seperti saya sepertinya harus pikir-pikir panjang lagi deh. Utamanya bila Anda ingin serius mencari duit di internet dengan berjualan produk.

Itu saja. Semoga bermanfaat!.

13 November 2008

Anda pernah menerima email dari PayPal yang berisi tawaran untuk meng-upgrade akun? Setiap pemegang akun PayPal pasti pernah menerimanya. Email seperti itulah yang beberapa bulan lalu menggoda saya untuk meng-upgrade akun dari Personal menjadi Premier. Seperti yang saya bilang di posting sebelumnya, alasan saya waktu itu hanya ingin tahu apa sih perbedaan akun Personal dengan Premier. Ternyata…

Haruskah kita meng-upgrade akun dari Personal menjadi Premier atau Business? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut Anda terlebih dulu harus menjawab pertanyaan yang ini: “Untuk apakah Anda memiliki akun PayPal?” Setelah menentukan tujuan dari kepemilikan akun PayPal, barulah kita dapat mempertimbangkan untuk meng-upgrade akun atau tidak. Daripada menyesal di kemudian hari, bukankah lebih baik dipikir-pikir dulu sekarang?

Btw, apa sih perbedaan antara akun Personal, Premier atau Business? Banyak. Dan yang jelas masing-masing jenis akun memiliki kelebihan dan kekurangan, semuanya tergantung pada tujuan awal Anda menggunakan PayPal. Secara garis besar, berikut saya sajikan kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis akun PayPal. Eh, tapi ini hanya yang Personal sama Premiere saja lho, soalnya yang Business saya juga masih belum tahu. Kalau ada di antara teman-teman yang paham mengenai masalah ini silakan tambahkan di kolom komentar. Atau rasanya bakal lebih baik kalau dituliskan dalam satu artikel dan saya posting di blog ini sebagai guest blogger.

Btw, silakan disimak kelebihan dan kekurangan akun Personal dan Premier di bawah ini jika Anda sedang mempertimbangkan untuk meng-upgrade akun.

Akun Personal
Plus: Anda tidak dikenai biaya sepeserpun saat menerima uang dari manapun.
Minus: Anda akan dikenai biaya saat menerima pembayaran dari kartu kredit atau kartu debit, dan itupun dibatasi. Di mana Anda hanya boleh menerima pembayaran dari kartu kredit/debit sebanyak 5 kali dalam waktu setahun. Plus, Anda juga dibatasi hanya boleh menerima pembayaran sejumlah total $500/bulan dari eBay, tool pembayaran PayPal (Buy Now, shopping chart, dll).
Kesimpulan: akun Personal tidak cocok bagi Anda yang hendak menjalankan bisnis online. Ingat, saya bilang bisnis online lho! Bedakan dengan program online earning seperti paid review atau text link ads. Tapi kalau hanya untuk menerima bonus atau komisi dari program-program online earning yang nilainya belum seberapa, rasanya akun Personal sudah cukup bagi Anda.

Akun Premier
Plus: Anda dapat melakukan penarikan dana tanpa batas. Anda juga dapat menerima pembayaran dari kartu kredit/debit tanpa batas dengan biaya jauh lebih kecil dibandingkan biaya yang dikenakan pada akun Personal.
Minus: Anda akan dikenai potongan saat menerima uang dari manapun.
Kesimpulan: Akun Premier sangat cocok bagi Anda yang menjalankan bisnis online dan sering melakukan transaksi penerimaan uang dalam jumlah besar dari kartu kredit/debit.

Bagaimana? Rasanya sudah cukup jelas ya perbedaan antara akun Personal dan Premier/Business. Kuncinya, kalau Anda sering menerima pembayaran dengan kartu kredit/debit dan dalam jumlah besar, segeralah upgrade akun PayPal Anda menjadi Premier atau Business sekalian. Tapi kalau hanya untuk menerima uang yang jumlahnya tidak terlalu besar plus jarang-jarang, akun Personal lebih dari cukup koq. Mudah, bukan?

Akhirnya, mudah-mudahan artikel sederhana ini dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan untuk meng-upgrade atau tetap memakai akun Personal. Bagi Anda yang sudah lebih dulu paham, bagi-bagi ilmunya dong...

Anda pernah menerima email dari PayPal yang berisi tawaran untuk meng-upgrade akun? Setiap pemegang akun PayPal pasti pernah menerimanya. Email seperti itulah yang beberapa bulan lalu menggoda saya untuk meng-upgrade akun dari Personal menjadi Premier. Seperti yang saya bilang di posting sebelumnya, alasan saya waktu itu hanya ingin tahu apa sih perbedaan akun Personal dengan Premier. Ternyata…

Haruskah kita meng-upgrade akun dari Personal menjadi Premier atau Business? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut Anda terlebih dulu harus menjawab pertanyaan yang ini: “Untuk apakah Anda memiliki akun PayPal?” Setelah menentukan tujuan dari kepemilikan akun PayPal, barulah kita dapat mempertimbangkan untuk meng-upgrade akun atau tidak. Daripada menyesal di kemudian hari, bukankah lebih baik dipikir-pikir dulu sekarang?

Btw, apa sih perbedaan antara akun Personal, Premier atau Business? Banyak. Dan yang jelas masing-masing jenis akun memiliki kelebihan dan kekurangan, semuanya tergantung pada tujuan awal Anda menggunakan PayPal. Secara garis besar, berikut saya sajikan kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis akun PayPal. Eh, tapi ini hanya yang Personal sama Premiere saja lho, soalnya yang Business saya juga masih belum tahu. Kalau ada di antara teman-teman yang paham mengenai masalah ini silakan tambahkan di kolom komentar. Atau rasanya bakal lebih baik kalau dituliskan dalam satu artikel dan saya posting di blog ini sebagai guest blogger.

Btw, silakan disimak kelebihan dan kekurangan akun Personal dan Premier di bawah ini jika Anda sedang mempertimbangkan untuk meng-upgrade akun.

Akun Personal
Plus: Anda tidak dikenai biaya sepeserpun saat menerima uang dari manapun.
Minus: Anda akan dikenai biaya saat menerima pembayaran dari kartu kredit atau kartu debit, dan itupun dibatasi. Di mana Anda hanya boleh menerima pembayaran dari kartu kredit/debit sebanyak 5 kali dalam waktu setahun. Plus, Anda juga dibatasi hanya boleh menerima pembayaran sejumlah total $500/bulan dari eBay, tool pembayaran PayPal (Buy Now, shopping chart, dll).
Kesimpulan: akun Personal tidak cocok bagi Anda yang hendak menjalankan bisnis online. Ingat, saya bilang bisnis online lho! Bedakan dengan program online earning seperti paid review atau text link ads. Tapi kalau hanya untuk menerima bonus atau komisi dari program-program online earning yang nilainya belum seberapa, rasanya akun Personal sudah cukup bagi Anda.

Akun Premier
Plus: Anda dapat melakukan penarikan dana tanpa batas. Anda juga dapat menerima pembayaran dari kartu kredit/debit tanpa batas dengan biaya jauh lebih kecil dibandingkan biaya yang dikenakan pada akun Personal.
Minus: Anda akan dikenai potongan saat menerima uang dari manapun.
Kesimpulan: Akun Premier sangat cocok bagi Anda yang menjalankan bisnis online dan sering melakukan transaksi penerimaan uang dalam jumlah besar dari kartu kredit/debit.

Bagaimana? Rasanya sudah cukup jelas ya perbedaan antara akun Personal dan Premier/Business. Kuncinya, kalau Anda sering menerima pembayaran dengan kartu kredit/debit dan dalam jumlah besar, segeralah upgrade akun PayPal Anda menjadi Premier atau Business sekalian. Tapi kalau hanya untuk menerima uang yang jumlahnya tidak terlalu besar plus jarang-jarang, akun Personal lebih dari cukup koq. Mudah, bukan?

Akhirnya, mudah-mudahan artikel sederhana ini dapat membantu Anda dalam mengambil keputusan untuk meng-upgrade atau tetap memakai akun Personal. Bagi Anda yang sudah lebih dulu paham, bagi-bagi ilmunya dong...