Selamat datang di ...

21 Maret 2009

Bukan karena saya dekat dengan Bang Zalukhu kalau kemudian 3 posting terakhir blog ini menyinggung-nyinggung kasus saling kritiknya dengan Mualim sang Kritikus. Cuma memang harus diakui kalau kritik-kritik yang dilontarkan Bang Zal tajam sekali. Tak heran bila pihak-pihak yang dikritik jadi merah telinganya. Terakhir, saat kritik keras dilontarkan pada Joko Susilo, eh, koq malah yang menanggapi seorang blogger anonim ber-nick Mualim.

Mengamati sikap kritis Bang Zal dan Zalukhu.com, saya jadi ingat kisah sebuah surat kabar nasional bernama Indonesia Raya. Koran harian ini dikenal sebagai pers yang sangat kritis terhadap pemerintah saat itu. Hidup di dua orde kekuasaan (1949-1959 dan 1968-1974), Indonesia Raya dua kali dibredel akibat kekritisannya. Pembredelan kedua di jaman Presiden Soeharto kemudian menghabisi riwayat koran pimpinan Mochtar Lubis ini untuk selama-lamanya. Tinggallah nama Indonesia Raya hanya tinggal sejarah saja.


Sejak pertama kali terbit pada tanggal 29 Desember 1949, Indonesia Raya dikenal kritis, anti korupsi, anti penyelewengan, dan senantiasa memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah. Karena itu, Mochtar Lubis dan rekan-rekannya tak segan-segan mengungkap berbagai kasus korupsi dan skandal yang dilakukan pejabat tinggi negara. IR, demikian koran ini biasa disebut, pernah mengkritik layanan Komite Ramah Tamah yang disediakan pemerintah Orde Lama sewaktu menyelenggarakan KTT Asia-Afrika sebagai sebuah "prostitusi terselubung". Bahkan IR tak takut memberitakan pernikahan diam-diam antara Presiden Soekarno dengan Hartini.

Bisa ditebak, keberanian tanpa pandang bulu ini membuat petinggi Orde Lama gerah. Puncaknya, ketika Indonesia Raya memberitakan peristiwa 20 Desember 1956 secara besar-besaran, Mochtar Lubis ditahan dengan tuduhan mendukung gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera. IR-pun berhenti terbit.

Saat tongkat estafeta kekuasaan negara berpindah ke tangan Jenderal Soeharto, Mochtar Lubis kembali berupaya menghidupkan Indonesia Raya. Dengan susah-payah ijin kembali didapatkan dan IR terbit untuk kedua kalinya pada tanggal 30 Oktober 1968. Seolah sudah menjadi watak, sikap kritis IR terhadap perilaku negatif aparat pemerintahan kembali ditunjukkan dalam pemberitaannya. Sama seperti saat belum dibredel Presiden Soekarno, IR di masa Orde Baru juga kerap menurunkan laporan investigatif seputar penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolaan negara.

Kasus mega korupsi di tubuh Pertamina di tahun 70-an menjadi sorotan utama Indonesia Raya. IR dengan berani mengungkap hal ini ke publik sehingga memberikan tamparan keras pada muka Orde Baru. Kemudian ketika Presiden Soeharto membuka pintu investasi selebar-lebarnya bagi investor asing, khususnya investor Jepang, Mochtar Lubis, dkk. memberikan kritik keras. Dan saat peristiwa demo anarkis pada 15 Januari 1975 (Malari) meletus, IR menurunkan laporannya secara lengkap dan tuntas. Beberapa hari setelahnya, IR terus mengulas peristiwa tersebut dari berbagai perspektif. Entah mengapa, hal ini kemudian membuat pemerintah Orde Baru tidak senang sehingga IR dibredel (lagi). Surat Ijin Terbit Indonesia Raya dicabut oleh Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika tanggal 22 Januari 1974, atau tepat sepekan setelah Peristiwa Malari.

Tidak cukup sampai di sana. Setelah korannya dibredel, tiga pengasuh Indonesia Raya (Mochtar Lubis, Enggak Baha'udin, dan Kustiniyati Mochtar) juga ditangkap dan diinterogasi oleh aparat keamanan. Mereka dituduh mensponsori sejumlah rapat gelap dalam rangka mendiskreditkan pemerintah dengan menurunkan pemberitaan yang tendensius. Namun tuduhan tersebut tidak terbukti sehingga merekapun dibebaskan kembali.

Nah, kalau sikap kritis Indonesia Raya terhadap pemerintah berakibat pembredelan dan penangkapan, kekritisan Bang Zal dalam Zalukhu.com juga menuai buah pahit. Kita tentu ingat bagaimana tertekannya Bang Zal menerima serangan-serangan yang dilakukan oleh orang-orang yang dikritiknya, sampai-sampai ia memutuskan berhenti dulu untuk sementara waktu selama sebulan demi me-refresh dirinya sendiri. Akankah kisah Zalukhu.com sama dengan nasib Indonesia Raya? Silakan jawab sendiri.


« Selanjutnya
Sebelumnya »

31 komentar:

  1. P E R T A M A X
    yang selalu mengikuti perkembangan ekonurhuda.com, tapi baru punya blog baru-baru ini....
    Salam kenal....

    BalasHapus
  2. hanya bisa menunggu kabar selanjutnya :)

    BalasHapus
  3. Kayaknya emang perlu ada si penengah yang bisa jadi perantara agar keduanya bisa damai mas. Dan saya berharap kamu bisa jadi duta blogger damai indonesia raya.

    BalasHapus
  4. halah..kalo blogger sekelas BangZal si ga ngefek sebenernya. Selama yang disuarakan itu sebuah kebenaran, tentu bukan suatu masalah.
    Menurut hemat saya (halah), kalau saya tersinggung saya akan mencoba instrospeksi diri dulu sebelum membuat statement. Iya kalo saya yang benar, kalo saya yang salah....
    (tak kiro BangZal dibredel juga MasEko hi..hi..)

    BalasHapus
  5. Setuju nih kek kata Firanza, Abang jd duta blogger damai Indonesia Raya..
    Hehehehehe...

    *Tring*

    BalasHapus
  6. kudu ada sosok2 yg kritis seperti zalukhu, toh apa yg dikritisi emang pantes dan itu untuk membuka mata bahwa "jangan mudah terbius dgn iklan2 bombastis" masak hanya dgn 3 langkah uda bs jadi kaya!!!

    BalasHapus
  7. tetaplah memperjuangkan kebenaran walaupun itu sulit.
    Se"perfect" apapun kejahatan ditutupi, pasti akan terkuak.

    Mereka adalah orang yang berpikir pendek dan tidak berpikir jangka panjang

    BalasHapus
  8. Semoga aja nggak berkahir seperti IR...

    BalasHapus
  9. Apakah ini berarti Bang Zal Akan DiTahan Juga??
    Trus siapa yang Nahan Bang Zal....??
    Hayoooo...jal piye nek ngono??

    BalasHapus
  10. @ Dwie: Mas Dwi yg dulu itukah? :p
    @ Yulius: Gak ada kabar lanjutan koq, Mas. :)
    @ Firanza: Apa? Saya? Yang bener aja, ah!
    @ Lowo: Hehehe, bener juga sih. Seharusnya gitu..
    @ Hellda: Walah, masa iya sih?
    @ Rian: Tapi emang kebanyakan orang suka yg cepet koq, bro.
    @ Cengeng-ngesan: Yup, setuju banget!
    @ Hangga Nuarta: Ya, mudah2an nggak. :D
    @ Blogger Dodol: Yg nahan terus siapa dunks? pake pasal apa nangkepnya orang dia gak nyebut nama seseorang secara eksplisit koq. :D
    @ Arikaka: Agree...

    BalasHapus
  11. moga jgn sampe kaya IR nanti nasibnya.. coz bagus bgt tuh blognya bang zal..

    BalasHapus
  12. opo tho iki rame2...
    ojo dho tukaran neh... 8-}

    BalasHapus
  13. silakan aja sih kalau si zalukhu mau bikin tulisan, tapi siap dong di kritik. ya kalau ga siap ya jangan cuma siap ngoceh tapi dioceh balik malah panas.

    sabagai blogger zalukhu menurut saya tidak pantas. dia mengajarkan permusuhan dan sesat sekali

    menyedihkan bila ada orang2 seperti ini lebih dari 10 orang parahnya banyak orang termakan oleh aura kebencian seorang putra kampung yang jelas2 nyaris porak poranda gara gara tsunami.

    tobat deh abang

    BalasHapus
  14. no comment, just vote for zalukhu and you, ekonurhuda

    BalasHapus
  15. ekonurhuda.com memang benar2 jadi berubah nie, salut nie sama mas eko yg udah menjadi jurnalis warga yg makin seep ajah beritanya.. jujur nie saya tau ada koran/majalah IR sejarahnya justru setelah baca disini.. hehe.. kyaknya rubrik2 sejarah dan motivasi kayak gini perlu diangkat lagi, biar saya makin tahu, dan Tahu lebih :D

    BalasHapus
  16. Wuik, kelihatannya tambah seru nih :D

    BalasHapus
  17. Mengkritik dengan "keras" mas zal udah biasa. Ada baiknya ditingkatkan lagi menjadi "cerdas" dan "bijak".

    Peace.......!

    BalasHapus
  18. sekarang kan jaman keterbukaan, sapa pun boleh kritis, dan yang di kritik juga harus menyadari...

    BalasHapus
  19. @ hryh77: Mudah-mudahan tidak begitu. Sayang khan?
    @ Bongkeng: Sopo sing tukaran, Bos?
    @ Anonim: Pendapat Anda benar sekali, saya setuju itu. Tapi akan lebih baik lagi kalau Anda berkenan menunjukkan identitas, jadi mungkin bisa berdiskusi lebih lanjut. :D
    @ Nugraha: Hahaha, tengkyu, tengkyu...
    @ Badoer: Hmmm, pengennya sih gitu. Tapi koq tema2 blogging dan online earning masih menarik saja, jadi mungkin ya mix sajalah antara tema blogging online earning dengan tema lainnya yang lebih umum.
    @ Anton: Gak, sepertinya malah sudah berakhir koq.
    @ Luthfi: Ya, karena kalau kita asal keras orang jelas akan susah menerima. Mungkin ini pengaruh watak orang Nias yang keras ya? :D
    @ Pluto: Benar, tapi tentu ada etikanya dan mesti berdasarkan fakta-data yang otentik.

    BalasHapus
  20. vote buat bang zal karena dia ga pernah menuduh orang sembarangan dan pasti disertai dengan bukti2 yang akurat. Duh, udah kayag detektif aja nih hehe..

    Semangat terus yah.. Jujur kalau saya yang terus diserang balik oleh oknum2 penipu kayag gitu, mungkin saya dah milih pensiun..

    BalasHapus
  21. Wah, kok hampir barengan ya ide postingannya. Hari ini saya juga memposting topik tentang KRITIKAN. Inspirasinya juga dari postingan2 blogger terkenal yang berupa kritikan.

    Soal kritikan ala bang Zal, saya setuju dengan komentarnya Lutfi. Namun ada kalanya kita emang perlu keras. Namun alangkah lebih baik juga dikemas secara berimbang. Soal bakalan dibredel, wah, jangan lah :) Bang Zal itu aset yang sangat baik dan punya nilai manfaat untuk dunia blogging kita.

    Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi ya.

    BalasHapus
  22. Wah...dapat infoe sejarah nih dari mas eko


    skrg pun sudah byk kok mas koran yg agak mrip dgn IR, tp kemiripannya dalam hal investigasi yg lengkap dan lebih dalam, cuma bedanya klw IR menguak kejahatan dibalik kekuasaan penjabat, klw koran yg saya sebut td menguak kisah ponarisweet hasil pabrikan jombang, kisah selingkuh selebriti, dll...

    BalasHapus
  23. om ngikut alur ceritanya aja lah ko, seperti yang km bilang di komen om, biarlah tuhan yang membalas yang salah dan memenangkan yang benar :)

    BalasHapus
  24. banyak kontes yah sekarang
    byme

    BalasHapus
  25. biarlah waktu yg menjawabnya :)

    BalasHapus
  26. tapi saya setuju dengan om zal... kebenaran harus diungkapkan.. daripada ada korban korban berikutnya... hhhh

    BalasHapus
  27. @ Ferry: Kalo nuduh emang perlu pake bukti-bukti valid, Bro. Kalo gak namanya fitnah. :)
    @ Iskandaria: Bredel? Siapa juga yg bisa membredel blog? Orang blog penghina Nabi aja masih hidup sampe sekarang. :D
    @ Tutorial: Sekarang yg investigasinya bagus menurut saya Tempo, yg majalah lho ya. Kalo harian atau koran sih belum nemu tuh.
    @ Oom: Setuju, Om...
    @ Rozy: Yap, tunggu saja, waktu akan mengungkap semuanya.
    @ Ika: Ya, kalau bukan kita yg menyelamatkan dunia internet Indonesia, terus siapa lagi dunks?
    @ Rusa Bawean: :D

    BalasHapus
  28. daku duduk sambil menyimak yang mau lewat dulu deh om ecko abisnya bingung mau komentar apa.jadi liat kanca-kanca dulu ajah

    BalasHapus
  29. wah .... anda benar-benar membuka mata, penah juga kpincut dengan smuo.... hehehhehe tp gk jadi beli

    BalasHapus