Selamat datang di ...

30 Oktober 2009

Tetangga depan kos saya meninggal. Berhubung rumah duka terletak di tengah-tengah ruko, alhasil tak ada tetangga di kanan-kirinya. Rumah itu juga jauh dari kampung. Di depannya jalan raya plus deretan ruko, di samping timurnya jalan besar yang disambung dengan kampus Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa, sementara di belakangnya kompleks perkantoran walikota Jogja.


Karena posisinya yang jauh dari kampung itu tuan rumah bingung waktu mau membacakan tahlil dan yasin untuk almarhum. Alhasil, mereka minta bantuan pengurus kos tempat saya tinggal untuk mencarikan orang yang mau membacakan yasin. Pilihan tepat. Kos saya berisi lebih dari 50 orang, so separuh saja penghuni kos yang berangkat rasanya sudah lebih dari cukup.

Pucuk di cinta ulam tiba, teman-teman kos tidak keberatan membantu. Sebagian benar-benar ikhlas demi amal baik, tapi tak dipungkiri ada juga yang berorientasi perut. Maklum, anak kos. Hehehe... Dan berangkatlah rombongan Asrama al-Asyhar ke rumah duka. Malam pertama, yang berangkat hanya beberapa orang. Kebetulan saya juga tidak ikut karena "asyik" meng-install ulang komputer.

Nah, malam kedua saya baru bisa ikut karena kebetulan tidak ke mana-mana. So, berangkatlah saya dengan rombongan. Menurut teman-teman yang berangkat di malam pertama, jumlah peserta yasinan di malam kedua ini lebih banyak dari malam pertama. Saya tidak menanggapinya. Saya pikir kemarin teman-teman juga tidak bisa ikut karena ada kesibukan lain.

Setelah menyeberang Jl. Kusumanegara yang selalu ramai kendaraan, sampailah kami di rumah duka. Di luar dugaan saya, ternyata benar-benar hanya anak-anak kos kami saya yang membaca yasin. Awalnya saya pikir ada satu-dua orang kampung atau tetangga kanan-kiri si tuan rumah. Nyatanya, dari sekitar 16 orang yang ada malam itu, semuanya dari kos tempat saya tinggal. Hmmm...

Yasinan dan tahlil hanya memakan waktu kurang dari 30 menit. Kemudian, seperti biasa, dilanjutkan dengan acara makan-makan sambil ngobrol. Nah, menjelang waktu pulang terjadi keanehan, setidaknya menurut saya ini aneh karena belum pernah saya temui sebelumnya. Apa yang aneh? Salah seorang anggota rumah keluar lalu membagikan bingkisan berupa roti kotak berukuran besar. Ah, ini sih masih belum aneh. Yang bikin kening saya berkerut adalah sewaktu kami juga diberi amplop satu-satu. Tanpa perlu dijelaskan tentu teman-teman tahu apa isinya, bukan?

Ya, sesuai dugaan, ternyata isinya uang. Walah, koq begitu sih? Masa iya orang yasinan dibayar? Padahal saya yakin teman-teman tidak mengharapkan uang. Kalau mengharapkan makan gratis sih saya yakin iya. Hehehe... Nah, karena tahu yang ikut yasinan dapat makan gratis plus uang plus bingkisan, di malam ketiga yang datang jauh lebih banyak lagi. Perkiraan saya sih sekitar 25 orang. Edan!

Yang jadi pertanyaan saya sampai saat ini adalah, koq ada ya orang yasinan dikasih duit? Apa memang di Jogja hal seperti ini umum dilakukan? Bagaimana dengan daerah lain? Mungkin teman-teman bisa berbagi pengalaman.

NB: Foto ilustrasi diambil dari http://flickr.com/photos/27371861@N02/2552396735


« Selanjutnya
Sebelumnya »

33 komentar:

  1. ditemp[at saya ga' pernah karena ada RKM (rukun kematian muslim) yang mana anggotanya harus hadir diacara2 yang diadakan oleh RKm tsb, termasuk juga acara yasinan atau tahlilan seperti diatas.

    klo tempat lain ada yang membayar undangan karena memang kekurangan orang atau yang diundang itu biasanya orang tertentu seperti santri pondok pesantren

    BalasHapus
  2. baru kali ini mas saya mendengarnya :)
    tp sptnya seru juga klo di kasih uang :)

    BalasHapus
  3. klo di tempat saya di Ngawi, hal itu lumrah dilakukan, namun biasanya khusus santri-santrinya saja dan nominalnya pun hanya kecil, paling gedhe Rp. 5000,-

    BalasHapus
  4. saya juga pernah begitu.. pas itu saya sendiri juga bingung he..he,,

    BalasHapus
  5. Mungkin sekaligus sedekah Mas Ecko... :)

    BalasHapus
  6. Yah, kalo dikasih sih gapapa, asal bukan kita yang minta aja, itu baru ga bener. Selama kita tidak meminta, menurut saya sih sah-sah saja, Mungkin itu maksud baik dari anggota keluarga karena kita telah meluangkan waktu dan tenaga untuk yasinan.

    BalasHapus
  7. Masih2 daerah beda sih mas, tergantung jg ama si empunya rumah...dl waktu saya msh mondok di Jl Kaliurang Km 12, setiap tahlilan jg di kasih makan, pulangnya di kash bungkusan roti dan angpau...tp ngga semuanya c, hanya orang2 yg berduit lebih...di kampung halaman klaten jg gitu...kadang di kasih, seringnya c ngga...yg jelas kita ikut yasinan atau tahlil bukan ngincar duitnya...tp cari amal dan doa'in si almarhum

    BalasHapus
  8. menurut saya sih sah-sah saja kalau sang tuan rumah berniat untuk bersedekah dan pahalanya bagi sang almarhum.....

    BalasHapus
  9. @ Ihsan: Di Jogja juga ada sih, tapi berhubung almarhum rumahnya jauh dari kampung jadi gak ada yang mengurus kecuali keluarganya sendiri.
    @ Afwan: Seru sih seru, lumayan juga buat nambah2 uang saku. :D
    @ Tips: Wah, kalau di Jawa Timur emang lumrah ya?
    @ hryh77: Bingung nerimanya apa bingung koq uangnya cuma sedikit, hayo? :p
    @ hangga: Mungkin...
    @ Reza: Mudah2an begitu ya?
    @ Pentol: Setuju banget, Bro!
    @ Blog: Yap, yg penting yg ngasih ikhlas dan yg nerima yasinannya juga tulus, bukan karena ngincer amplop.

    BalasHapus
  10. yasinan ternyata masih ada juga di jaman moderen kek gini... tapi namanya adat susah dilepas..
    apalagi kita orang indonesia, kan sukanya nyang gratisan..

    mas eko koq ga pernah bahas ttng online earning lagi ? pindah ke wab lain ya ?

    BalasHapus
  11. Itu sih bukan dibayar mas, namanya itu sebagai ucapan terima kasih atas kerelaannya kita membantu mendo'akan orang yang meninggalo. Nggak adapat pahala untuk akhirat dapat pahala didunia ga pa2 deh wkwkwkwkwk... O ya, ditempat nenek saya juga kadang gitu,...

    BalasHapus
  12. Hihihihi... Pokoknya anggep saja itu pahala di dunia mas, :D

    BalasHapus
  13. kalo di desaku tahlilan dapat berkat apa gitu
    yang pasti ala kadarnya
    dan warga gak pernah mengharap apa2

    apalagi uang
    masaj iya udah kesusahan
    harus bayar uang lagi

    BalasHapus
  14. Lumayan... btw selamat ya.. dah dapet PR 2

    BalasHapus
  15. Saya juga pulang dari acara tahlilan tapi gak dibayar, he he he. Kalo menurut saya itu bukan tradisi, ada pepatah "siapa yang menanam maka dia yang menanam", saya rasa itu yang terjadi sama shohibul hajah.

    BalasHapus
  16. He he he slh nulis, siapa yang menanam dia yang memetik.

    BalasHapus
  17. Saya hanya berprasangka baik:IMAM TAHLILnya Mas Ecko yahhhh? Pastinya dapet lebih banyak donk :)

    Kalau menurut saya, bukan Yasinannya yang dibayar, Mas. Tapi lebih pada niat baik tuan rumah untuk berbagi rizki. Dan orang berbuat baik, bisa menggunakan media yang dipilih, termasuk uang. Penggunaan Kata "Bayar", konteksnya menjadi ada nuansa Jual-Beli di dalamnya. Kalau jual beli buku Surat Yasin di shopping center, mungkin. Tapi kata Bayar juga menjadi mungkin kalau konteksnya "Bayar Jasa" atas waktu luang sahabat-sahabat Asrama Al Azhar yang ikuti acara tersebut.

    Apa di Asrama Al Azhar juga suka digelar Yasinan?

    BalasHapus
  18. mungkin tujuan yang bersangkutan adalah bersedekah.

    BalasHapus
  19. hkhkhkhk... jangan heran atau aneh kang, saya mengalami kira2 tahun 1994 an dan itu mah sudah biasa dari dulu.. biasanya kalo ngasih uang itu ga langsung, tapi di sisipkan kedalam kotak makanan ( istilah kerennya BESEK ), isinya relatif ada yang 5000-10000, di atas itu.. duh ga tau deh.. nah.. pesan saya.. sedari dini anak atau adik kita di ajarkan mengaji dan bersosialisasi di lingkungan, ya agar ga kejadian seperti kasus di atas..

    BalasHapus
  20. yah emang budaya jawa kayak gini, di kampung halamanku pariaman g ada tuh yasinan

    BalasHapus
  21. Hahahaha...
    Jadi ketawa sendiri saya membacanya!

    Begitulah bila budaya konsumerisme sudah melanda umat, jadi jangan heran!

    BalasHapus
  22. Masya Allah.... Seperti itukah kehidupan di kota, saya tinggal di pinggiran bekasi ga gitu2 amat perasaan. Orang sekarang lebih mementingkan dirinya sendiri di banding besosial dengan sesama umat. Mengenaskan !!

    BalasHapus
  23. Wah...
    Udah gak ada syariatnya dibayar pula
    Wakwakwakwakwak...........
    ______________________________________________
    Tidak menolak kunjungan Anda ke blog saia yang lain di http://rizaherbal.wordpress.com/

    BalasHapus
  24. Yah, mulai komen ke 18 keliatan banget cuma baca judul blog trus komen, makanya pada ngawur gitu. payah, ah!!!! :p

    BalasHapus
  25. Niat baik tuan rumah untuk memberikan sejumlah uang tentu tidak perlu dipermasalahkan. Boleh jadi tuan rumah memberikan sejumlah uang sebagai pengganti transport mereka yang telah hadir atau boleh jadi juga meniatkannya untuk bersedekah kepada mereka yang hadir dengan niat pahala untuk almarhum atau boleh jadi juga bersedekah untuk diri sendiri kepada mereka yang hadir berhubung si tuan rumah tahu yang diundang adalah para mahasiswa.

    Intinya adalah tidak perlu mempermasalahkan pemberian uang dari tuan rumah, yang terpenting kita tidak pernah meminta dan jika seandainya kita diberi oleh mereka maka terima saja, karena hal tersebut akan menyenangkan hati tuan rumah dan itu adalah akhlak yang mulia. Jika kita tetap tidak mau uang tersebut tidak apa-apa, tetap terima dan kemudian sedekahkan lagi ke mereka yang lebih membutuhkan dibanding kita.

    BalasHapus
  26. Setuju dengan ja'far

    BalasHapus
  27. Wah...wah...wah... kalo gini gak ikhlas namanya, yang doa gak dapet apa2, yang punya hajat juga gak dapet apa2. mubadzir semua

    BalasHapus
  28. he..he..he...

    Baru dengar ni ada yang beginian,
    Klu sekiranya hal ini sudah menjadi tradisi/budaya disuatu daerah, hal ini bisa memberartkan sebagaian orang.

    Gimana ya klu yg meninggal itu keluarga miskin, klu nggak dikasi duit ntar malah dikatain sama tetangga, klu dikasi duitnya dari mana???

    Kekeluargaan itu sudah mulai pudar dari masyarakat kita...

    BalasHapus
  29. Saya tidak mengerti kalau yasinan seperti ini apakah nyampe tidak yah bacaaanya?

    BalasHapus
  30. memang benar sikap kegotong royongan masyarakat kota telah memudar dan memang sudah hampir hilang. seharusnya untuk hal seprti ini ada suatu kelompok paguyuban.
    tumbuhkan rasa persatuan dan jalin hubungan sosial yang baik, serta pertahankan adat-adat yang berlaku. ini slaah satu contoh memudarnya adat karena berkembangnya pikiran manusia hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi dan meninggalkan kebudayan yang seharusnya dijaga.

    bukankan yasinan atau apalah istilahnya (maaf saya bukan orang muslim) juga merupakan salah satu peningglan budaya dari leluhur kita dahulu?

    BalasHapus
  31. Tidak perlu dibayar, kalau sudah menjadi tradisi akan susah dihilangkan. Walaupun tujuannya baik, untuk bersedekah. hal ini memang tidak menjadi masalah bagi orang kaya, namun sangat menjadi masalah bagi orang miskin yang hanya karena tradisi akhirnya mereka berhutang. Belum lagi mereka sedang bersedih.

    Jadi sebaiknya dihilangkan saja tradisi ini. Jika ingin bersedekah, cari aja waktu yang lain.

    BalasHapus
  32. btw sebagai tradisi emang susah dihilangkan
    yang penting kita tidak meminta
    setuju dengan pendapat @jafar

    BalasHapus