Selamat datang di ...

09 April 2008

Hari Jum'at (4/4) malam lalu saya kedatangan seorang tamu istimewa. Yak, teman seide dan seperjuangan semasa SMA di Jambi dulu tanpa disangka-sangka datang berkunjung ke Jogja. What a surprise! Jelas saja saya senang sekali menyambutnya karena dulu kami adalah teman sekelas di kelas 2, teman nge-band, sekaligus teman nge-gank. Setelah terakhir kali bertemu pas lebaran 3 tahun lalu, kamipun 'reuni'.

Banyak cerita yang kami urai dalam pertemuan hangat malam itu. Terpisah 3 tahun tanpa kabar berita jelas menyuguhkan cerita panjang tentang perjalanan hidup masing-masing. Tapi sial, belum sempat ngobrol banyak saya sudah jatuh mental duluan. Bayangkan saja, teman saya itu saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Keuangan salah satu departemen di Kabupaten Batang Hari, Jambi. Plus, ia juga tengah menyelesaikan studi S2 di sela-sela waktu kerjanya. Ia dapat dengan bangga menceritakan semua pencapaiannya itu kepada saya. Lha, saya sendiri apa????

Penyesalan memang selalu datang di akhir. Delapan tahun merantau ke Kota Pelajar saya belum bisa dikatakan sukses dari segi apapun. Kuliah saya masih belum kelar, padahal saya hanya mengambil studi D3! Kerjaan juga tidak ada, begitupun prestasi lain yang bisa dibanggakan. Selama ini saya merasa enjoy-enjoy saja dengan semua keadaan ini. Tapi setelah bertemu dengan sahabat lama seperti kemarin itulah baru saya kena batunya. :((


Saya mengawali perantauan di Jogja dengan status keren: mahasiswa undangan sebuah program pendidikan pariwisata setara D2. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai dunia pariwisata sama sekali. Tapi berhubung saat itu dunia pariwisata adalah jalan terbaik untuk meniti karir sekaligus mencari uang banyak, maka saya paksakan diri mengambil dan menyukai studi tersebut. Apalagi mau mengambil studi S1 saya tidak berani karena keuangan keluarga kurang mendukung waktu itu. So, saya nikmati saja pendidikan setara D2 yang ternyata menghadirkan banyak pengalaman seru bagi saya tersebut.

Masa-masa keemasan sebagai anak kebanggaan orang tua, bahkan juga kebanggaan keluarga besar orang tua, saya rasakan sepanjang pertengahan tahun 2001-2002. Waktu itu saya sudah menjadi guide alias pemandu wisata sembari kuliah. Kalau cuma membawa bule muter-muter Jogja, Prambanan, Borobudur saja saya sudah biasa. Saya juga pernah membawa bule Prancis satu bis besar ke Malang. What a great experience! Masalah uang jangan ditanya lagi. Hanya membawa tamu selama sehari saja saya sudah bisa mengantongi uang untuk kebutuhan 2 minggu. Lalu saya juga pernah merasakan betapa 'basah'nya pekerjaan sebagai bellboy di sebuah hotel berbintang empat. Tapi semua kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Satu kesalahpahaman dengan Bapak membuat saya frustasi tiada ujung dan membawa saya ke rimba kegelapan selama bertahun-tahun.

Ceritanya begini. Waktu itu saya lulus D2 tahun 2002. Setelah menimbang-nimbang untung-ruginya bagi masa depan, saya putuskan untuk mencoba peruntungan menjadi kru kapal pesiar. Rencana ke depannya saya tidak akan lama-lama melaut. Begitu memiliki tabungan lumayan, saya akan pulang dan membuka usaha sendiri sambil mengambil S1. Tapi rupanya orang tua saya tidak setuju. Saya diminta melanjutkan ke S1 terlebih dahulu baru boleh merencanakan mau kemana. Tentu saja saya ngotot. Dasar pemikiran saya sederhana saja. Masuk kuliah ataupun melamar sebagai kru kapal pesiar sama-sama membutuhkan uang. Tapi kalau yang pertama sifatnya konsumtif karena akan membutuhkan pengeluaran terus selama 3-4 tahun ke depan, sedangkan yang kedua malah akan menjadi sumber pemasukan plus pengalaman luar biasa. Lagipula adik saya baru saja lulus SMA dan harus melanjutkan ke jenjang kuliah juga. Masuk akal kan?

Dari perselisihan itu akhirnya saya malah hancur-hancuran. Ya, saya kuliah. Tapi keterpaksaan membuat saya malas-malasan. Padahal saya sudah memilih jurusan yang sangat saya sukai, yakni jurnalistik. Akhirnya, inilah saya sekarang. 5 tahun lebih kuliah D3 dan tidak lulus-lulus, pekerjaan tidak ada, prestasi lainpun nol besar. Alhasil, saat bertemu dengan teman yang sudah berpangkat Kabag saya jadi minder bukan kepalang. Terlebih begitu mendengar cerita kesuksesan teman-teman lain. Si itu sudah punya kebun sekian hektar, si anu sudah jadi bos dealer motor, si ini jadi pemasar MLM sukses, dst. Yah, dasar nasib....


« Selanjutnya
Sebelumnya »

9 komentar:

  1. Sabar bos, yang penting kamu ada Niat untuk menyelesaikan study. Saya juga seperti kamu ketika menyelesaikan S1 begitu lama, namun karena memang tekadku untuk menyelesaikannya ya selesai juga. Menurut saya sih jangan mau berubah karena melihat teman, tapi sebaiknya perubahan itu dari diri sendiri. Yakin deh D3 nya pasti bisa kelar. Saya doain ya.

    BalasHapus
  2. @ Zalukhu: Thanks a lot atas dukungannya, Bro. Iya, saya janji akan segera menyelesaikan D3 saya karena saya juga ingin menikmatai pendidikan sampai S2, bahkan S3.

    BalasHapus
  3. sabar aja Bro.. dunia ini berputar terus..nanti ada masanya kita di atas

    BalasHapus
  4. Wah mas Eko budak Jambi ya? Sama dong kalo gitu. Cuma bedanya saya masih perlu belajar banyak dari mas.Soal kuliahnya yang sabar aja mas, yang penting dapat menyelesaikannya dengan baik dan menjadi orang berguna juga mendapatkan kerja yang diimpikan.

    BalasHapus
  5. Sabar ya bos, nanti juga ada titik dimana semuanya jadi bagian terindah..... (Ciauuuu, omonganku :D)

    BalasHapus
  6. DON'T GIVE UP! God has a plan for everyone. Dari 2002 gue udah pernah masuk 4 universitas berbeda (terakhir unpad). Bisa bayangin waktu yang terbuang dengan pindah2 universitas itu. Tapi akhirnya gue bisa nyampe di penghujung kuliah gue dengan IPK 3,49. Yah mudah2an aja skripsi gue dapet A jadinya gue bisa masuk nilai minimal buat cumlaude 3,51.

    Emang sih temen2 gue di 3sakti pas ketemuan suka cerita ada yang kerja di sini, di situ, bla bla bla. Tapi tetep kuliah bukan jaminan. Walo gue belum punya gelar S1 kayak mereka penghasilan gue alhamdulillah jauh di atas mereka.

    Kalo boleh tau kuliahnya mandek dimana?

    Well, that's all for now. Just wanna say:

    They can say anything they want to say, try to bring you down. But don't you ever face the ground! Because you will rise steadily, sailing out of their reach!

    BalasHapus
  7. @ Hawee: Thanks, Bro. Iya, saya sedang mengusahakan agar bisa mencapai posisi itu. Amin...

    @ Putra Eka: Yep, sesama Jambi harus saling mendukung. Thanks ya dukungannya...

    @ Eenx: Thanks, semoga saat itu segera tiba. Amin...

    @ Indra Diky: Yes, you're right, Dude. Never and never give up, that's the only key to gain better and successful life. Thanks a lot...

    BalasHapus
  8. Saya juga punya masalah rada mirip, bahkan boleh dibilang rasanya sekarang semua jalan lagi buntu.Kuliah 2x ga ada yg lulus,ngurus blog dan belajar ini-itu yang terkait selama sekitar 1 tahun sampe skrg masih juga belum ada hasilnya,dll.

    Tapi saya slalu menyakinkan diri bahwa setiap orang punya jalannya masing2.Kita smua pernah nglakuin kesalahan besar, penyesalan itu perlu tp the show must go on.

    Saya juga minder dengan temen2 sy yg udah berhasil, tp rasa minder ini justru mencambuk saya:suatu saat nanti saya harus lebih berhasil dibanding mereka.

    Tiap orang punya masalah. Tp yang terpenting bukan seberapa besar masalahnya, melainkan bagaimana kita menghadapinya. Kalo salah langkah, kita akan tetap ditempat or even worse... tapi kalo kita jadiin ini pelajaran, jadi sebuah kisah yang benar2 ditanamkan dalam ingatan, Insya Allah kita pasti akan bisa berhasil.

    Setidaknya ya itulah yg saya yakini

    BalasHapus
  9. Ga masalah, sama-sama jogja, jadi pengusaha aja, biar ga sekolah pun ga apa-apa, yang penting tekad dan kemauan,,,,,jadi pengusaha pasti bisa.

    Setelah lulus kuliah mau apa? Sukses atau tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh pendidikannya. Soal uang bukan dari cari kerja aja, banyak jalan, bisa dagang kecil-kecilan, dari internet, buka toko, jadi agen, dsb......masih banyak jalan,,,saya juga sama dengan anda, masih ga punya apa-apa...usaha juga baru dari paid review...sama-sama bos...he..he...

    BalasHapus