Selamat datang di ...

27 Maret 2009

Anda kenal Alfian Alfan, Arif Afandi atau Asef Umar Fakhruddin? Tidak jadi persoalan kalau Anda tidak mengenal mereka, atau bahkan baru kali ini tahu nama-nama tersebut. Kenapa? Jawabannya simpel saja, mereka penulis kolom di media cetak, sedangkan kita adalah blogger yang lebih akrab dengan media online.

Mereka adalah kolumnis-kolumnis terkenal di koran-koran nasional. Alfian Alfan sering menampilkan tulisannya di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dan media nasional lainnya. Arif Afandi adalah pentolan Jawa Pos dan tulisan-tulisannya kerap mewarnai halaman Jawa Pos serta seluruh media daerah di bawah jaringan JPNN. Begitu juga dengan Asef Umar Fakhruddin. Tulisannya sudah bertebaran di mana-mana, dan ia juga baru saja menerbitkan beberapa judul buku.


Kenapa saya menceritakan mereka?

Belum berapa lama ini saya terlibat satu diskusi seru dengan seorang penulis kolom ternama. Awalnya ia sering sekali menyarankan saya untuk menulis artikel di koran. Pertanyaan khasnya setiap bertemu saya adalah, "Sudah nulis, Kang?" Biasanya saya hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan itu. Kalaupun menjawab, saya akan bilang, "Mohon doanya, Kang." Nah, hari itu saya menjawab lain. "Sudah!" Kata saya. Dia lantas tanya lagi, "Nulis di mana?" Saya jawab, "Di blog." Dia tersenyum.

Pembicaraan kemudian melebar. Sampai pada saatnya dia mengeluarkan ucapan yang membuat telinga saya memerah. Apa katanya? "Saya dan teman-teman komunitas penulis itu sejak dulu tidak begitu tertarik dengan blog. Soalnya kalau blog itu kan asal tulis saja bisa dimuat, pasti dimuat. Beda dengan koran yang harus melalui proses redaksional." Intinya, ia ingin mengatakan kalau blog itu mutunya kalah dibanding media cetak. Itu artinya, secara tidak langsung ia ingin mengatakan kalau kolumnis seperti dia 'lebih berkualitas' dibanding blogger. Oh ya?

Ya, benar kalau ia bilang tulisan di koran telah melalui proses seleksi di meja redaksi. Ia juga benar ketika mengatakan kalau asal menulis saja sudah bisa dimuat di blog. Tapi ia salah besar ketika menyimpulkan kalau blog tidak sama baik dengan koran, dan blogger tidak sepandai kolumnis dalam hal menulis. Di titik ini ia telah mencampur-adukkan fakta dengan pendapat pribadi dan bingung dengan rangkaian logikanya sendiri sehingga menyebabkannya mengeluarkan kesimpulan yang tidak tepat. Ditambah lagi, ia juga tidak begitu akrab dengan blog dan komunitas blogger. Kloplah sudah.

Ada banyak alasan mengapa seseorang lebih suka menulis di blog ketimbang di koran. Alasan paling utama adalah ketidakmampuan penulis untuk mengontrol dan mengatur apa yang harus ia tulis ketika ingin menulis di koran. Setiap media memiliki kebijakan redaksional sendiri-sendiri mengenai naskah yang boleh dimuat. Untuk dapat menembus meja redaksi, penulis kolom harus bisa menyesuaikan diri dengan style yang diinginkan koran tersebut.

Selain itu, koran adalah media bisnis, jualannya adalah berita. Agar laku, sebuah media harus bisa mencium informasi apa yang sedang dibutuhkan masyarakat. Isu-isu apa saja yang tengah berkembang, itulah yang akan diangkat. Begitu juga dengan kolom opininya (yang ditulis oleh para kolumnis seperti saya sebutkan di atas). Hanya artikel dengan tema-tema 'aktual' saja yang akan lolos sampai ke halaman opini. Tapi arti 'aktual' di sini sudah berubah maknanya menjadi 'sesuai keinginan pasar' dan 'sesuai dengan mainstream'. Lihat saja saat peringatan Hari Raya Nyepi kemarin. Koran mana yang tidak menampilkan artikel bertema Nyepi?

Masih ada hubungannya dengan koran sebagai media bisnis, ketika Anda mengirim sebuah artikel ke satu media dan pada saat yang bersamaan seorang yang terkenal (tokoh masyarakat, akademisi, pakar, dll.) juga membuat artikel dengan tema yang sama dengan Anda, percayalah, redaksi akan lebih memilih artikel si tokoh tadi. Mengapa demikian? Maaf, nama Anda tidak cukup menjual. Redaksi tidak mau berjudi dengan menampilkan tulisan Anda yang bukan siapa-siapa, yang belum dikenal masyarakat luas. Mereka lebih memilih popularitas penulis sebagai daya tarik, sungguhpun mungkin tulisan Anda lebih baik.

Cukup? Belum. Satu lagi kelemahan media cetak adalah keterbatasan halaman, baik oleh jumlah halaman yang sudah tetap maupun karena digusur iklan. Anda hanya boleh mengirim naskah sepanjang 4 halaman kwarto spasi ganda ke Kompas. Lebih dari itu, tulisan Anda kemungkinan besar diedit, dipotong. Tapi editor tidak akan mau bersusah-payah mengedit terlalu banyak. Kalau ada tulisan lain dengan tema sama tapi seusai dengan lebar halaman yang disediakan, tulisan Anda akan dibuang ke kotak sampah.

Menulis di media massa juga harus memiliki kesabaran ekstra. Anda mesti sabar menunggu kabar naskah yang dikirimkan, entah itu ditolak atau diterima. Padahal kalau tema yang Anda angkat sebuah topik tematik, begitu naskah sampai ke tangan editor bisa jadi isi tulisan tersebut sudah basi. Tambahan lagi, tidak cukup sekali-dua kali mengirim naskah untuk dapat melihat tulisan kita dimuat di koran. Seorang wartawan senior Kedaulatan Rakyat pernah bercerita kalau ia harus mengirim lebih dari 100 naskah sebelum bisa melihat karyanya dimuat di Intisari. Wow!

Bersyukurlah kita yang hidup di jaman internet ini, terlebih saat blog dan citizen journalism menjadi cara baru menyampaikan informasi kepada masyakarat luas. Karena itu, berbagai kemudahan yang dimiliki blog jangan lantas membuat kita selaku blogger berlaku seenaknya saja dalam menulis konten. Jangan biarkan kolumnis yang saya ceritakan tadi terus-terusan meremehkan blogger. Untuk itu, ayo kita ciptakan konten yang lebih berbobot. Tunjukkan bahwa blogger juga tak kalah piawai dengan kolumnis koran dalam soal tulis-menulis. Setuju?


« Selanjutnya
Sebelumnya »

39 komentar:

  1. setuju sama mas eko...underestimate pada blogger harus segera di hilangkan. Kebanyakan tulisan itu dinilai secara subjektif, bukan objektif. klw di media cetak subjektifitas itu hanya sebatas redaksi...belum tentu nilai subjektivitas dr redaksi itu baik, aplg klw redaksinya cuma 2-3 org. emanknya kredibilitas mereka sudah terjamin?sedangkan di blog byk yg menilai dan bisa langsung memberikan feedback terhadap ap yg kita tulis, sehingga kelihatan nilai dari tulisan kita.
    menulis itu bukan dilihat dari kualitas kertas dan tintanya, tp dari "suara" yg dimunculkan dari tulisan itu.
    masyarakat kita beranggapan klw yg dikoran itu pasti benar, padahal belum tentu..wartawan juga manusia

    BalasHapus
  2. Ayoo maju blogger Indonesia!!

    BalasHapus
  3. mari tingkatkan kualitas bukan sekadar kuantitas.....

    BalasHapus
  4. benar juga - kita sebagai citizen journalist hendaknya menulis isi blog yg bermutu

    biar ga dianggap remeh sama jornalist gaptek he he he

    BalasHapus
  5. Dan dikoran kita nggak bisa komentar 8-}
    Tapi udah lama juga nggak baca koran, biasanya kan detik.com

    BalasHapus
  6. Mmm..Saya setuju dengan pndapat Mas Eko..Walaupun saya msih baru dan msh banyak balajar, dan kontennya juga kbtulan masih hasil dari CoPas.."Tapi saya gak asal CoPas jg"..Saya mngambil berita-2 trsebut agar dapat d'baca oleh pncari berita lewat internet..Memang saya mengakui saya juga masih belajar dan berusaha jg untuk membuat isi konten yang lebih baik..

    Coba aj misalnya klo ad mhsiswa yg ingin mmbuat maklah/skripsi dan yg d'bahas tuh sesuatu yg dah jadul misalnya, gak mungkin nyari-2 koran ksana kemari..Iya klo dpet tuh koran..Coba kalo gak dapet..Apalagi klo butuh bnyak referensi..Hmmm...Mumet..

    Coba klo d'internet..dari mulai artikel jadul sampe yg terbaru tuh psti aja ada..Tinggal searching pasti yg muncul tuh artikel yg d'posting di Web atau Blog..Artikelnya pun Oke-Oke smua..Gak ada yg gak Oke..D'jamin bsa berjam-jam bacanya..He.he..

    Hiks..hiks..sory Mas klo komennya k'pnjangan..o(^_^)o

    Salam..

    BalasHapus
  7. Setuju Mas... Banyak koq blogger yang jenius menulis... Nggak kalah deh dengan para kolumnis... :D

    Ayo terus tingkatkan kualitas tulisan kita!!! Hehehe...

    BalasHapus
  8. Ya iyalah jauh berbobot dengan koran ..soalnya mesti lewat redaksi san - sni..Dan yang nulis mungkin udah berapa kali nulis (mulai kecil sekolah ) bisa aj sampai kelar negeri untuk menjadi pnulis..ending .dapat duit..


    Blogger..saya nggak bisa nulis..di editor-ri sendiri..di tulis2 sendiri..bahasa sendiri (gaul,gokil )..kadang org lain nggak ngerti...endingnya bisa nulis..dapat duit..

    kolumnis=dapat nulis bagus blm tentu dapat duit
    blogger=dapat nulis (asal) dapat duit..

    Yang pasti saya plih blogger ..ngerti perasaan ..banyak dech..

    Tetap semangat mas...Ngeblog :D

    BalasHapus
  9. Ayoo maju blogger Indonesia!!


    tinggal copy aja.. hehe :D

    BalasHapus
  10. setujuuu paaak.. tapi hiks, tulisan2 saya ndak mutu je... ;p kebanyakan cuman curhat ngalor ngidul,,wkwkkwk ah biarlah, yang penting hepi bisa ngeblog...

    BalasHapus
  11. tetap semangat !! kitakan gak nulis macam2, terkadang kita bisa menjadi oposisi juga dalam mengkritik berbagai "hal" tentang negeri ini

    BalasHapus
  12. HIDUP Blogger Indonesia !!!!
    setuju dan setubuh dengan mas eko, kadang seseorang meremehkan sesuatu yg belum pernah ia kenal apalagi lakukan...

    BalasHapus
  13. Ayo blogger indonesia, kita buktikan pada kolumnis tersebut kalo blogger lebih berkualitas. Suatu saat mereka pasti akan berguru pada kita. Kalo yang di atas itu cuma kenal ama arif afandi aja, soalnya dia wakil walikota surabaya yang dulunya juga wartawan jawa pos

    BalasHapus
  14. setuju hidup blogger indonesia ! yang penting kalau nulis kepuasan tercapai halah kepuasan apaan yahhh :)

    BalasHapus
  15. wah parah juga tuh ko memandang blogger sebelah mata..ayooo majukan blogger indonesia *halah hehehe

    BalasHapus
  16. Untung tuh orang nggak ngomong dengan saya, kalau nulis dikoran ... nggak kepikiran ... mending nulis diblog sendiri jelekjelek milik sendiri daripada dia nulis "bagus" di koran orang lain

    BalasHapus
  17. aku bersyukur banget mas soal sejak kenal blog bisa membantu mendulang hasil hehehe *dasarnya matre*

    BalasHapus
  18. semoga segera saya bisa membuat tulisan yang bermutu. selama ini abal-abal semua sih :D
    makasih nasehatnya..kekekekke

    BalasHapus
  19. kemarin saya baca, media cetak sekarang kalah jauh dengan media2 lain seperti tv, hanya gara2 1 hal, internet! mereka yang melirik blog sebelah mata bakalan kena getahnya nanti..

    BalasHapus
  20. itu kan pendapat dia.. klu aku lihat sih... semuanya ada kualitas2 tersendiri yang membuat satu sisi jadi lebih baik.. apakah itu tulisan di blog ato di media cetak.. tidak semua jelek dan tidak semua bagus..:D

    BalasHapus
  21. Wii.. Memang mas eko ni Keren sekali,, Banyak penggemarnya.. :D

    BalasHapus
  22. Walahhhh...., membaca posting ini, "IDEKU" jadi berubah lagi buat menulis..., saya edit dulu Mas..

    BalasHapus
  23. betul mas.. dengan kata lain bahwa media cetak memberikan batasa2 yang kadang membunuh kreatifitas dan ide penulis sedangkan di blog penulis bebas berkarya. Namun poin terpenting adalah penilain alamiah berlangsung, jadi untulk para blogger yang asal tulis pasti ditinggal penggemar dan pengunjungnya

    BalasHapus
  24. hahah, biarin aja dulu mereka pada mau bilang apa mas eko..
    ntar kalo udah nyentuh blog dan nulis satu artikel..
    jangan salahin mas eko kalo ketagihan...

    BalasHapus
  25. bikin koran yang isinya posting blog aja kali ya :D

    BalasHapus
  26. Setujuaaaa Pak,
    Di koran anda tidak bisa berinteraksi dengan pembaca anda.
    Ada 'pro dan kontra' dalam memahami sebuah tulisan/karya dan di Koran gak ada kolom 'comment' seperti ini. wkwkwkwk.

    BalasHapus
  27. Setuju!!!

    Ini saatnya kita menunjukkan kepada para kolumnis bahwa tulisan2 para blogger ga kalah dibandingkan tulisan para kolumnis tersebut!

    BalasHapus
  28. Setuju 100000**%!
    Ga nyangka, orang2 yg sudah menulis tulisan sebanyak dan setenar itu belum berfikir seperti mas eko pikirkan. Secara tidak langsung saya lebih mengakui kecerdasan mas eko daripada mereka yg meremehkan tulisan blogger :D *sorry*

    BalasHapus
  29. hi.. hi.. hi.., kalau media pada rontok juga kayak diluaran, akhirnya kolumnis2 itu juga menjadi kolumnis media di internet. meskipun masih major stream sih :|

    BalasHapus
  30. Setuju dengan kesimpulannya mas. Saya sendiri termasuk yg sangat idealis kalo mau nulis di blog. Makanya, isi blog saya ga ada yg terkesan sebatas curhat tanpa makna..hehehe (kesannya ngeremehin yg suka curhat ngalor ngidul di blog yach).

    Yach, mungkin saja si kolumnis itu lagi apes, sehingga pas buka-buka blog, nemunya yg cuma ngasal bin nyampah doang :) Coba kalo dia nemu blog para blogger yg jago nulis, pasti bakalan terkagum-kagum kali ye :))

    Ulasan yg sangat berbobot mas.

    BalasHapus
  31. Lho???? Belum saya jawab yah? Waduh, maaf banget... Btw, memang tidak ada yg paling baik di antara keduanya koq. Artinya, masing2 itu punya kelebihan dan kekurangan. Dan yg jelas, kolumnis yang sering menulis di koran tidak lantas bisa bilang lebih tulisannya hebat daripada blogger. Kalo gitu, Taufik Hidayat lebih hebat daripada Alexandra Atmasubrata dunks??? Gak nyambung banget kan perbandingannya?

    BalasHapus
  32. untuk underestimate pada blog memang saya sangat tidak setuju... tapi untuk kepuasan saat tulisan kita dimuat (di media cetak) memang memiliki nilai tambah yang lebih bagi sisi psikologis kita dan saya pernah merasakannya kang, saat 2 tulisan saya dimuat di majalah Sabili saya merasakan kebanggaan serta kepuasaan tersendiri meskipun fee yang saya dapatkan tidak terlalu besar.

    Dan mohon maaf juga kang Eko, antara setuju dan tidak dengan lawan diskusi kang Eko saya cenderung pada sisi setuju, jika kita meninjau dari segi kualitasnya (terlepas dari editing redaksi dan faktor nama, gelar atau pakar) dimuatnya tulisan kita disuatu majalah sudah menunjukkan kualitas tersendiri hasil karya tulis kita, justru saya menilai antara kemauan "pasar" dan kebijakan redaksi ada satu tantangan tersendiri.

    Tapi tentu saja tidak menapikan jika kita menulis di blog tidak berkualitas. Berkualitas tidaknya saya rasa itu tergantung dan dikembalikan pada penilaian publik yang membaca dan mendapat manfaat (pengetahuan) dari apa yang kita tulis.

    BalasHapus
  33. Kalo menurut saya Blog juga bisa dijadikan tempat belajar menulis dan Latihan menulis.. Dan juga merupakan Wadah buat teman-teman yang Hobby menulis.. Hehehhee.. (Sok bijaksana Mode On)

    BalasHapus
  34. bener bgt mas, kita para blogger harus meningkatkan kualitas tulisan nih. tapi ada jg lo kolumnis yg punya blog. contohnya ya pak arif afandi itu. kl nulis buat koran kan hrs sesuai permintaan, lha untuk melampiaskan idealisme ya ngeblog :D . oia blognya pak arif disini arifafandi dot blogdetik dot com

    BalasHapus
  35. Wah, Parah banget tuh Kolumnis berani Meremehkan Blogger..... Kudu Di Ajarin Cara Nulis yg baik Tuh MAsEcko....

    BalasHapus
  36. wah pentolan Bali Blogger adalah seorang wartawan [lepas] Jawapost namun saya tidak melihat sifat itu pada dirinya. Bahkan memberikan pendidikan dan pengarahan pada blogger muda seperti saya

    BalasHapus
  37. kalau saya
    blog adalah tempat latihan u/ bisa menulis di koran
    :)

    kalo pak Afandi dia emang wartawan Jawa Pos. tapi karena sibuk sebagai wakil walikota Surabaya akhirnta beliau milih blog sebagai media tempat u/ tulisan2nya

    makanya komunitas blogger Surabaya menobatkan beliau sebagai bapak blogger Surabaya
    :)

    BalasHapus
  38. bagaimanapun juga, menulis di blog lebih leluasa

    BalasHapus